BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenonjol bakat seninya. Bung Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.Bung Karno tidak hanyamacan podium yang berani menggebrak meja di forum-forum dunia terhormat, tetapi juga memiliki hati yang lembut. Jangankan Malaysia, yang bertetangga berani di-gamal-kan “Ganyang Malaysia” saat konfrontasi Indonesia Malaysia. Amerika dan Inggris pun dilucuti. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” kata Bung Karno mahaberani.
Gus Dur, Presiden ke-4 RI juga memiliki selera humor tingkat tinggi. Dalam satu pesawat dari lawatan ke luar negeri, berdialoglah Gus Dur dengan Romo. Kata Romo, “Gus, sambil menawarkan daging babi. Daging paling enak sedunia”.
“Maaf, saya Muslim tidak makan daging babi.” Gus Dur menjawab..
Giliran Gus Dur sampai Bandara Soekarno- Hatta dijemput oleh istrinya. “Romo, ini istri saya sudah menjemput. Istri Romo mana?” tanya Gus Dur.
“Maaf, Gus. Aku tidak punya istri, Gus,” jawab Romo.
“Aduh… itu daging paling enak sedunia, Romo!” jawab Gus Dur sambil lalu.
SBY juga punya cita rasa seni yang tinggi. Selain menulis syair lagu, menyanyi, dan melukis, ia juga memiliki istri dengan bakat seni fotografi. Setiap kali kunjungan ke mana saja, lebih-lebih saat mendampingi suami membuka Pesta Kesenian Bali (PKB), Ani Yudonono selalu membidikkan lensa kamera. Untuk mendokumentasikan karya-karyanya, SBY juga memiliki Museum di Blitar. Seorang pemimpin dengan naluri seni dapat mengorkestrasi tugas-tugas kepemimpinannya menjadi variatif dan menggairahkan.
Namun demikian, kesenimanan Bung Karno melampaui kesenimanan Gus Dur dan SBY. Bung Karno selain penulis naskah Toneel (drama, teater), ia juga sutradara, manajer, dan produser sekaligus penyair. Kesenimanan Bung Karno memang lengkap. Puisi karya Bung Karno terkenal adalah ”Aku Melihat Indonesia” ditulis sekitar 1930 – 1940-an. Jika memperhatikan secara historis, produktivitas Bung Karno dalam berkesenian pada dekade itu, ia berada pada masa tahanan Penjara Belanda. Namun, tahanan baginya bukan mematikan ide, melainkan menghidupkan ide dengan membayangkan Indonesia ke depan. Bayangan itu, terpatri dalam puisi dan tercurah dalam toneel yang diteaterkan. Teater baginya adalah jalan menusuk lawan (penjajah) dengan mengalihwahanakan cerita daerah dalam pentas. Hanya orang berkecerdasan di atas rata-rata yang mampu untuk pekerjaan demikian di tengah tekanan dalam pengasingan.
Puisi “Aku Melihat Indonesia” termuat dalam buku Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno terbit pertama 2002 oleh Penerbit Yayasan Seni dan Budaya Gema Patriot, Jakarta. Buku ini suntingan Maman S. Tegeg. Menurutnya, secara khusus petikan pidato Bung Karno sering dideklamasikan sebagai dasar menjadikan Kumpulan Puisi. “Saat orang terhanyut oleh pidato Bung Karno yang berapi-api, ada segelintir orang yang menikmatinya sebagai deklamasi puisi. Barangkali karena itulah, buku ini ada. Salam puisi”.
Puisi “Aku Melihat Indonesia” mengingatkan saya pada buku Komunitas Terbayang (Imagined Communities) dari Benedict Anderson yang berintikan sebuah bangsa sebagai komunitas yang dibangun secara sosial, dengan anggota-anggotanya merasa terhubung meski tidak saling kenal secara langsung. Dalam konteks Indonesia, komunitas terbayang itu adalah entitas bangsa yang terdiri atas puluhan ribu pulau dengan keanekaragamannya.
Jikalau aku berdiri di Pantai Ngliyep
Aku mendengar laut Hindia bergelora
Membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia
Begitu seterusnya Bung Karno membayangkan alam (sawah, gunung, laut), budaya daerah (lagu merdu Batak, Pangkur Palaran), flora fauna (pohon ditiup angin, burung perkutut, menghirup udara). Semua itu adalah reflika Indonesia. Bait terakhir dari puisi “Aku Melihat Indonesia” Bung Karno menutup dengan harapan anak-anak yang ingin Merdeka :
Jikalau aku melihat wajah anak-anak
Di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia.
Dalam buku itu Bung Karno juga mengkritik lahirnya Politikus Salon. Puisinya diberi judul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” berisi kritik pada politikus yang tidak faham dengan kerjanya :
Janganlah jadi politikus salon!
Lebih dari separo
Politisi kita adalah politisi salon
Yang mengenal Marhaen
Hanya dari sebutan saja
Kritik Bung Karno tentang Politikus Salon ternyata mendahului politik citra yang dibayangkan jauh sebelum Pemilu Langsung. Kini pencitraan politik sangatlah kental bahkan melampaui kenyataan yang disebut hiperealitas. Politik siluman model inilah yang disebut simulacra. Dunia penuh simulasi. Simulasinya juga berbayar mahal. Tanpa bayaran siapa mau datang. Kompak kadang bergantung pada isi kompek. Lain simulasinya, lain faktanya. Inilah yang melahirkan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Ibarat ijazah mesti bisa dibedakan yang identik dengan yang orisinal.
Apa yang disebut Bung Karno sebagai Politikus Salon mengingatkan saya pada “Sajak Palsu”-nya Agus R. Sarjono yang berisi kritik pedas kepada dunia Pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh kepura-puraan. Mochtar Lubis menyebutnya munafik sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. “Selamat Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu ucap anak sekolah dengan sapaan palsu”. Bahkan kepalsuan demi kepalsuan dibungkus dengan ayat-ayat suci agama yang bermetamorfosisis menjadi ayat-ayat setan. Dalam konteks Hindu inilah yang disebut sebagai kecenderungan keraksasaan daripada kedewataan.
Boleh jadi, dengan darah Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, membuat Bung Karno dekat dengan Bali yang Hindu. Kutipan sloka Hindu pun menyelinap dalam pidatonya, seperti Satyam Eva Jayate, yang disandingkan dengan konsep berdikari secara ekonomi. Slogan ini dijadikan corong oleh PDIP dalam berbagai kegiatan Partai.
Begitulah Bung Karno pidatonya lantang berapi-api sering terselip kata yang puitis sehingga cuplikan pidatonya pun dideklamasikan anak-anak sekolah. Karena dideklamasikan, Bung Karno hidup dalam puisi. Karena gizi batinnyalah, Bung Karno merasuk ke hati rakyat yang dipimpinnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kaula – Gusti. Jika di dalam Alinea kedua Pembukaan UUD 1945, diterakan dengan pernyataan : …mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pinta gerbang kemerdekaan Negara Indonesia…”, maka penghuni halaman rumah hingga kamar Indonesia sesungguhnya sudah disiapkan makanan batin bergizi oleh Si Bung : Puisi pembakar semangat keteladanan. [T]
Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole






























