5 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno dalam Puisi   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
in Esai
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenonjol bakat seninya. Bung Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.Bung Karno tidak hanyamacan podium yang berani menggebrak meja di forum-forum dunia terhormat, tetapi juga memiliki hati yang lembut. Jangankan Malaysia, yang bertetangga berani di-gamal-kan “Ganyang  Malaysia” saat konfrontasi Indonesia Malaysia. Amerika dan Inggris pun dilucuti. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” kata Bung Karno mahaberani.

Gus Dur, Presiden ke-4 RI juga memiliki selera humor tingkat tinggi. Dalam satu pesawat dari lawatan ke luar negeri, berdialoglah Gus Dur dengan Romo. Kata Romo, “Gus,    sambil menawarkan daging babi. Daging paling enak sedunia”.

“Maaf, saya Muslim tidak makan daging babi.” Gus Dur menjawab..

Giliran Gus Dur sampai Bandara Soekarno- Hatta dijemput oleh istrinya. “Romo, ini istri saya sudah menjemput. Istri Romo mana?” tanya Gus Dur.

“Maaf, Gus. Aku tidak punya istri, Gus,” jawab Romo.

“Aduh…  itu daging paling enak sedunia, Romo!” jawab Gus Dur sambil lalu.

SBY juga punya cita rasa seni yang tinggi. Selain menulis syair lagu,  menyanyi, dan melukis, ia juga memiliki istri dengan bakat seni fotografi. Setiap kali kunjungan ke mana saja, lebih-lebih saat mendampingi suami membuka Pesta Kesenian Bali (PKB), Ani Yudonono selalu membidikkan lensa kamera. Untuk mendokumentasikan karya-karyanya, SBY juga memiliki Museum di Blitar. Seorang pemimpin dengan naluri seni dapat mengorkestrasi tugas-tugas kepemimpinannya menjadi variatif dan menggairahkan.

 Namun demikian, kesenimanan Bung Karno melampaui kesenimanan Gus Dur dan SBY. Bung Karno selain penulis naskah Toneel (drama, teater), ia juga sutradara, manajer, dan produser sekaligus penyair. Kesenimanan  Bung Karno memang lengkap. Puisi karya Bung Karno terkenal adalah ”Aku Melihat Indonesia” ditulis sekitar 1930 – 1940-an. Jika memperhatikan secara historis, produktivitas Bung Karno dalam berkesenian pada dekade itu, ia berada pada masa tahanan Penjara Belanda. Namun, tahanan baginya bukan mematikan ide, melainkan menghidupkan ide dengan membayangkan Indonesia ke depan. Bayangan itu, terpatri dalam puisi dan tercurah dalam toneel yang diteaterkan. Teater baginya adalah jalan menusuk lawan (penjajah) dengan mengalihwahanakan cerita daerah dalam pentas. Hanya orang berkecerdasan di atas rata-rata  yang mampu untuk pekerjaan demikian di tengah tekanan dalam pengasingan.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” termuat dalam buku  Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno terbit pertama 2002 oleh Penerbit Yayasan Seni dan Budaya Gema Patriot, Jakarta. Buku ini suntingan Maman S. Tegeg.  Menurutnya, secara khusus petikan pidato Bung Karno sering dideklamasikan sebagai dasar menjadikan Kumpulan Puisi. “Saat orang terhanyut oleh pidato Bung Karno yang berapi-api, ada segelintir orang yang menikmatinya sebagai deklamasi puisi. Barangkali karena itulah, buku ini ada. Salam puisi”.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” mengingatkan saya pada buku Komunitas Terbayang (Imagined Communities) dari Benedict Anderson yang berintikan sebuah bangsa sebagai komunitas yang dibangun secara sosial, dengan anggota-anggotanya merasa terhubung meski tidak saling kenal secara langsung. Dalam konteks Indonesia, komunitas terbayang itu adalah entitas bangsa yang terdiri atas puluhan ribu pulau dengan keanekaragamannya.

Jikalau aku berdiri di Pantai Ngliyep
Aku mendengar laut Hindia bergelora
Membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Begitu seterusnya Bung Karno membayangkan alam (sawah, gunung, laut), budaya daerah (lagu merdu Batak, Pangkur Palaran), flora fauna (pohon ditiup angin, burung perkutut, menghirup udara). Semua itu adalah reflika Indonesia. Bait terakhir dari puisi “Aku Melihat Indonesia”  Bung Karno menutup dengan harapan anak-anak yang ingin Merdeka :

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
Di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia.

Dalam buku itu Bung Karno juga mengkritik lahirnya Politikus Salon. Puisinya diberi judul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” berisi kritik  pada politikus yang tidak faham dengan kerjanya :

Janganlah jadi politikus salon!
Lebih dari separo
Politisi kita adalah politisi salon
Yang mengenal Marhaen
Hanya dari sebutan saja

Kritik Bung Karno tentang Politikus Salon ternyata mendahului politik citra yang dibayangkan  jauh sebelum Pemilu Langsung.  Kini pencitraan politik sangatlah kental bahkan melampaui kenyataan yang disebut hiperealitas. Politik siluman model inilah yang disebut simulacra. Dunia penuh simulasi. Simulasinya juga berbayar mahal. Tanpa bayaran siapa mau datang. Kompak kadang bergantung pada isi kompek.  Lain simulasinya, lain faktanya. Inilah yang melahirkan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Ibarat ijazah mesti bisa dibedakan yang identik dengan yang orisinal.

Apa yang disebut Bung Karno sebagai Politikus Salon mengingatkan saya pada “Sajak Palsu”-nya Agus R. Sarjono yang berisi kritik pedas kepada dunia Pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh kepura-puraan. Mochtar Lubis menyebutnya munafik sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. “Selamat Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu ucap anak sekolah dengan sapaan palsu”. Bahkan kepalsuan demi kepalsuan dibungkus dengan ayat-ayat suci agama  yang bermetamorfosisis menjadi ayat-ayat setan. Dalam konteks Hindu inilah yang disebut sebagai kecenderungan keraksasaan daripada  kedewataan. 

Boleh jadi, dengan darah Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, membuat Bung Karno dekat dengan Bali yang Hindu. Kutipan sloka Hindu pun menyelinap dalam pidatonya, seperti Satyam Eva Jayate, yang disandingkan dengan konsep berdikari secara ekonomi. Slogan ini dijadikan corong oleh PDIP dalam berbagai kegiatan Partai.

Begitulah Bung Karno pidatonya lantang berapi-api sering terselip kata yang puitis sehingga cuplikan pidatonya pun dideklamasikan anak-anak sekolah. Karena dideklamasikan, Bung Karno hidup dalam puisi. Karena gizi batinnyalah, Bung Karno merasuk ke hati rakyat yang dipimpinnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kaula – Gusti. Jika di dalam Alinea kedua Pembukaan UUD 1945, diterakan dengan pernyataan : …mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pinta gerbang kemerdekaan Negara Indonesia…”, maka penghuni halaman rumah  hingga kamar Indonesia sesungguhnya sudah disiapkan makanan batin bergizi oleh Si Bung :  Puisi pembakar semangat keteladanan. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bung KarnoPuisiSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Next Post

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 5, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 4, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co