26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno dalam Puisi   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
in Esai
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenonjol bakat seninya. Bung Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.Bung Karno tidak hanyamacan podium yang berani menggebrak meja di forum-forum dunia terhormat, tetapi juga memiliki hati yang lembut. Jangankan Malaysia, yang bertetangga berani di-gamal-kan “Ganyang  Malaysia” saat konfrontasi Indonesia Malaysia. Amerika dan Inggris pun dilucuti. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” kata Bung Karno mahaberani.

Gus Dur, Presiden ke-4 RI juga memiliki selera humor tingkat tinggi. Dalam satu pesawat dari lawatan ke luar negeri, berdialoglah Gus Dur dengan Romo. Kata Romo, “Gus,    sambil menawarkan daging babi. Daging paling enak sedunia”.

“Maaf, saya Muslim tidak makan daging babi.” Gus Dur menjawab..

Giliran Gus Dur sampai Bandara Soekarno- Hatta dijemput oleh istrinya. “Romo, ini istri saya sudah menjemput. Istri Romo mana?” tanya Gus Dur.

“Maaf, Gus. Aku tidak punya istri, Gus,” jawab Romo.

“Aduh…  itu daging paling enak sedunia, Romo!” jawab Gus Dur sambil lalu.

SBY juga punya cita rasa seni yang tinggi. Selain menulis syair lagu,  menyanyi, dan melukis, ia juga memiliki istri dengan bakat seni fotografi. Setiap kali kunjungan ke mana saja, lebih-lebih saat mendampingi suami membuka Pesta Kesenian Bali (PKB), Ani Yudonono selalu membidikkan lensa kamera. Untuk mendokumentasikan karya-karyanya, SBY juga memiliki Museum di Blitar. Seorang pemimpin dengan naluri seni dapat mengorkestrasi tugas-tugas kepemimpinannya menjadi variatif dan menggairahkan.

 Namun demikian, kesenimanan Bung Karno melampaui kesenimanan Gus Dur dan SBY. Bung Karno selain penulis naskah Toneel (drama, teater), ia juga sutradara, manajer, dan produser sekaligus penyair. Kesenimanan  Bung Karno memang lengkap. Puisi karya Bung Karno terkenal adalah ”Aku Melihat Indonesia” ditulis sekitar 1930 – 1940-an. Jika memperhatikan secara historis, produktivitas Bung Karno dalam berkesenian pada dekade itu, ia berada pada masa tahanan Penjara Belanda. Namun, tahanan baginya bukan mematikan ide, melainkan menghidupkan ide dengan membayangkan Indonesia ke depan. Bayangan itu, terpatri dalam puisi dan tercurah dalam toneel yang diteaterkan. Teater baginya adalah jalan menusuk lawan (penjajah) dengan mengalihwahanakan cerita daerah dalam pentas. Hanya orang berkecerdasan di atas rata-rata  yang mampu untuk pekerjaan demikian di tengah tekanan dalam pengasingan.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” termuat dalam buku  Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno terbit pertama 2002 oleh Penerbit Yayasan Seni dan Budaya Gema Patriot, Jakarta. Buku ini suntingan Maman S. Tegeg.  Menurutnya, secara khusus petikan pidato Bung Karno sering dideklamasikan sebagai dasar menjadikan Kumpulan Puisi. “Saat orang terhanyut oleh pidato Bung Karno yang berapi-api, ada segelintir orang yang menikmatinya sebagai deklamasi puisi. Barangkali karena itulah, buku ini ada. Salam puisi”.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” mengingatkan saya pada buku Komunitas Terbayang (Imagined Communities) dari Benedict Anderson yang berintikan sebuah bangsa sebagai komunitas yang dibangun secara sosial, dengan anggota-anggotanya merasa terhubung meski tidak saling kenal secara langsung. Dalam konteks Indonesia, komunitas terbayang itu adalah entitas bangsa yang terdiri atas puluhan ribu pulau dengan keanekaragamannya.

Jikalau aku berdiri di Pantai Ngliyep
Aku mendengar laut Hindia bergelora
Membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Begitu seterusnya Bung Karno membayangkan alam (sawah, gunung, laut), budaya daerah (lagu merdu Batak, Pangkur Palaran), flora fauna (pohon ditiup angin, burung perkutut, menghirup udara). Semua itu adalah reflika Indonesia. Bait terakhir dari puisi “Aku Melihat Indonesia”  Bung Karno menutup dengan harapan anak-anak yang ingin Merdeka :

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
Di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia.

Dalam buku itu Bung Karno juga mengkritik lahirnya Politikus Salon. Puisinya diberi judul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” berisi kritik  pada politikus yang tidak faham dengan kerjanya :

Janganlah jadi politikus salon!
Lebih dari separo
Politisi kita adalah politisi salon
Yang mengenal Marhaen
Hanya dari sebutan saja

Kritik Bung Karno tentang Politikus Salon ternyata mendahului politik citra yang dibayangkan  jauh sebelum Pemilu Langsung.  Kini pencitraan politik sangatlah kental bahkan melampaui kenyataan yang disebut hiperealitas. Politik siluman model inilah yang disebut simulacra. Dunia penuh simulasi. Simulasinya juga berbayar mahal. Tanpa bayaran siapa mau datang. Kompak kadang bergantung pada isi kompek.  Lain simulasinya, lain faktanya. Inilah yang melahirkan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Ibarat ijazah mesti bisa dibedakan yang identik dengan yang orisinal.

Apa yang disebut Bung Karno sebagai Politikus Salon mengingatkan saya pada “Sajak Palsu”-nya Agus R. Sarjono yang berisi kritik pedas kepada dunia Pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh kepura-puraan. Mochtar Lubis menyebutnya munafik sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. “Selamat Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu ucap anak sekolah dengan sapaan palsu”. Bahkan kepalsuan demi kepalsuan dibungkus dengan ayat-ayat suci agama  yang bermetamorfosisis menjadi ayat-ayat setan. Dalam konteks Hindu inilah yang disebut sebagai kecenderungan keraksasaan daripada  kedewataan. 

Boleh jadi, dengan darah Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, membuat Bung Karno dekat dengan Bali yang Hindu. Kutipan sloka Hindu pun menyelinap dalam pidatonya, seperti Satyam Eva Jayate, yang disandingkan dengan konsep berdikari secara ekonomi. Slogan ini dijadikan corong oleh PDIP dalam berbagai kegiatan Partai.

Begitulah Bung Karno pidatonya lantang berapi-api sering terselip kata yang puitis sehingga cuplikan pidatonya pun dideklamasikan anak-anak sekolah. Karena dideklamasikan, Bung Karno hidup dalam puisi. Karena gizi batinnyalah, Bung Karno merasuk ke hati rakyat yang dipimpinnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kaula – Gusti. Jika di dalam Alinea kedua Pembukaan UUD 1945, diterakan dengan pernyataan : …mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pinta gerbang kemerdekaan Negara Indonesia…”, maka penghuni halaman rumah  hingga kamar Indonesia sesungguhnya sudah disiapkan makanan batin bergizi oleh Si Bung :  Puisi pembakar semangat keteladanan. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bung KarnoPuisiSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Next Post

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails
Next Post
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co