29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno dalam Puisi   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
in Esai
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenonjol bakat seninya. Bung Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.Bung Karno tidak hanyamacan podium yang berani menggebrak meja di forum-forum dunia terhormat, tetapi juga memiliki hati yang lembut. Jangankan Malaysia, yang bertetangga berani di-gamal-kan “Ganyang  Malaysia” saat konfrontasi Indonesia Malaysia. Amerika dan Inggris pun dilucuti. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” kata Bung Karno mahaberani.

Gus Dur, Presiden ke-4 RI juga memiliki selera humor tingkat tinggi. Dalam satu pesawat dari lawatan ke luar negeri, berdialoglah Gus Dur dengan Romo. Kata Romo, “Gus,    sambil menawarkan daging babi. Daging paling enak sedunia”.

“Maaf, saya Muslim tidak makan daging babi.” Gus Dur menjawab..

Giliran Gus Dur sampai Bandara Soekarno- Hatta dijemput oleh istrinya. “Romo, ini istri saya sudah menjemput. Istri Romo mana?” tanya Gus Dur.

“Maaf, Gus. Aku tidak punya istri, Gus,” jawab Romo.

“Aduh…  itu daging paling enak sedunia, Romo!” jawab Gus Dur sambil lalu.

SBY juga punya cita rasa seni yang tinggi. Selain menulis syair lagu,  menyanyi, dan melukis, ia juga memiliki istri dengan bakat seni fotografi. Setiap kali kunjungan ke mana saja, lebih-lebih saat mendampingi suami membuka Pesta Kesenian Bali (PKB), Ani Yudonono selalu membidikkan lensa kamera. Untuk mendokumentasikan karya-karyanya, SBY juga memiliki Museum di Blitar. Seorang pemimpin dengan naluri seni dapat mengorkestrasi tugas-tugas kepemimpinannya menjadi variatif dan menggairahkan.

 Namun demikian, kesenimanan Bung Karno melampaui kesenimanan Gus Dur dan SBY. Bung Karno selain penulis naskah Toneel (drama, teater), ia juga sutradara, manajer, dan produser sekaligus penyair. Kesenimanan  Bung Karno memang lengkap. Puisi karya Bung Karno terkenal adalah ”Aku Melihat Indonesia” ditulis sekitar 1930 – 1940-an. Jika memperhatikan secara historis, produktivitas Bung Karno dalam berkesenian pada dekade itu, ia berada pada masa tahanan Penjara Belanda. Namun, tahanan baginya bukan mematikan ide, melainkan menghidupkan ide dengan membayangkan Indonesia ke depan. Bayangan itu, terpatri dalam puisi dan tercurah dalam toneel yang diteaterkan. Teater baginya adalah jalan menusuk lawan (penjajah) dengan mengalihwahanakan cerita daerah dalam pentas. Hanya orang berkecerdasan di atas rata-rata  yang mampu untuk pekerjaan demikian di tengah tekanan dalam pengasingan.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” termuat dalam buku  Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno terbit pertama 2002 oleh Penerbit Yayasan Seni dan Budaya Gema Patriot, Jakarta. Buku ini suntingan Maman S. Tegeg.  Menurutnya, secara khusus petikan pidato Bung Karno sering dideklamasikan sebagai dasar menjadikan Kumpulan Puisi. “Saat orang terhanyut oleh pidato Bung Karno yang berapi-api, ada segelintir orang yang menikmatinya sebagai deklamasi puisi. Barangkali karena itulah, buku ini ada. Salam puisi”.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” mengingatkan saya pada buku Komunitas Terbayang (Imagined Communities) dari Benedict Anderson yang berintikan sebuah bangsa sebagai komunitas yang dibangun secara sosial, dengan anggota-anggotanya merasa terhubung meski tidak saling kenal secara langsung. Dalam konteks Indonesia, komunitas terbayang itu adalah entitas bangsa yang terdiri atas puluhan ribu pulau dengan keanekaragamannya.

Jikalau aku berdiri di Pantai Ngliyep
Aku mendengar laut Hindia bergelora
Membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Begitu seterusnya Bung Karno membayangkan alam (sawah, gunung, laut), budaya daerah (lagu merdu Batak, Pangkur Palaran), flora fauna (pohon ditiup angin, burung perkutut, menghirup udara). Semua itu adalah reflika Indonesia. Bait terakhir dari puisi “Aku Melihat Indonesia”  Bung Karno menutup dengan harapan anak-anak yang ingin Merdeka :

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
Di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia.

Dalam buku itu Bung Karno juga mengkritik lahirnya Politikus Salon. Puisinya diberi judul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” berisi kritik  pada politikus yang tidak faham dengan kerjanya :

Janganlah jadi politikus salon!
Lebih dari separo
Politisi kita adalah politisi salon
Yang mengenal Marhaen
Hanya dari sebutan saja

Kritik Bung Karno tentang Politikus Salon ternyata mendahului politik citra yang dibayangkan  jauh sebelum Pemilu Langsung.  Kini pencitraan politik sangatlah kental bahkan melampaui kenyataan yang disebut hiperealitas. Politik siluman model inilah yang disebut simulacra. Dunia penuh simulasi. Simulasinya juga berbayar mahal. Tanpa bayaran siapa mau datang. Kompak kadang bergantung pada isi kompek.  Lain simulasinya, lain faktanya. Inilah yang melahirkan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Ibarat ijazah mesti bisa dibedakan yang identik dengan yang orisinal.

Apa yang disebut Bung Karno sebagai Politikus Salon mengingatkan saya pada “Sajak Palsu”-nya Agus R. Sarjono yang berisi kritik pedas kepada dunia Pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh kepura-puraan. Mochtar Lubis menyebutnya munafik sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. “Selamat Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu ucap anak sekolah dengan sapaan palsu”. Bahkan kepalsuan demi kepalsuan dibungkus dengan ayat-ayat suci agama  yang bermetamorfosisis menjadi ayat-ayat setan. Dalam konteks Hindu inilah yang disebut sebagai kecenderungan keraksasaan daripada  kedewataan. 

Boleh jadi, dengan darah Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, membuat Bung Karno dekat dengan Bali yang Hindu. Kutipan sloka Hindu pun menyelinap dalam pidatonya, seperti Satyam Eva Jayate, yang disandingkan dengan konsep berdikari secara ekonomi. Slogan ini dijadikan corong oleh PDIP dalam berbagai kegiatan Partai.

Begitulah Bung Karno pidatonya lantang berapi-api sering terselip kata yang puitis sehingga cuplikan pidatonya pun dideklamasikan anak-anak sekolah. Karena dideklamasikan, Bung Karno hidup dalam puisi. Karena gizi batinnyalah, Bung Karno merasuk ke hati rakyat yang dipimpinnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kaula – Gusti. Jika di dalam Alinea kedua Pembukaan UUD 1945, diterakan dengan pernyataan : …mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pinta gerbang kemerdekaan Negara Indonesia…”, maka penghuni halaman rumah  hingga kamar Indonesia sesungguhnya sudah disiapkan makanan batin bergizi oleh Si Bung :  Puisi pembakar semangat keteladanan. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bung KarnoPuisiSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Next Post

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co