6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi di bidang seni, mulai dari S1, S2, hingga S3.

Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk belajar, meneliti, mencipta, mengajar, dan menjaga keberlangsungan kebudayaan. Mereka yang menghabiskan puluhan tahun bergelut dalam praktik seni dengan keyakinan bahwa ilmu, pengalaman, dan dedikasi akan mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat.

Namun kenyataan yang kami hadapi sering kali jauh berbeda dari harapan.

Banyak dari kami yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak sedikit yang menganggur, bekerja serabutan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena kami tidak memiliki kemampuan atau pendidikan, melainkan karena bidang yang kami tekuni sering kali dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang penting. Seni dipuji dalam pidato, dipamerkan dalam festival, dibanggakan sebagai identitas bangsa, tetapi para pelaku seninya justru sering kali hidup dalam kesulitan.

Sebagai seniman, kami tidak hanya menciptakan karya. Kami melakukan riset, membaca teori, memahami sejarah, melakukan eksperimen, dan mengembangkan berbagai gagasan yang lahir dari proses intelektual yang panjang.

Karya yang terlihat sederhana di mata sebagian orang bisa jadi merupakan hasil pemikiran dan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun yang sering terjadi adalah karya tersebut dihargai sangat rendah, ditawar tanpa rasa hormat, atau bahkan diminta secara cuma-cuma atas nama “dukungan”, “kolaborasi”, atau alasan-alasan lain yang tidak pernah diminta kepada profesi-profesi lain.

Tidak sedikit seniman yang pernah mendengar kalimat seperti, “Kan cuma gambar,” “Kan cuma pertunjukan,” “Kan cuma hobi,” atau “Nanti dapat exposure.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa rendahnya penghargaan terhadap kerja seni di masyarakat kita.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa banyak orang menikmati hasil karya seni setiap hari tanpa menyadari keberadaan para penciptanya. Mereka menikmati musik, film, desain, ilustrasi, pertunjukan, karya rupa, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Namun ketika berbicara tentang kesejahteraan seniman, persoalan itu sering dianggap tidak penting.

Kami seolah hanya dibutuhkan ketika diperlukan untuk mempercantik panggung.

Ketika ada festival, pameran, perayaan, peluncuran program, acara resmi, atau momentum tertentu, seniman dipanggil untuk mengisi ruang-ruang tersebut. Seni digunakan untuk menciptakan suasana, membangun citra, dan menunjukkan kekayaan budaya. Namun setelah acara selesai, lampu dipadamkan, dan para tamu pulang, senimannya kembali menghadapi kenyataan yang sama: mencari cara agar bisa tetap hidup dan berkarya.

Inilah ironi yang selama ini jarang dibicarakan secara jujur.

Negeri ini sering berbicara tentang pentingnya kebudayaan. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang kaya akan seni dan tradisi. Kita senang memamerkan kebudayaan kepada dunia internasional. Kita menjadikan seni sebagai simbol identitas nasional. Namun pada saat yang sama, banyak pelaku seni yang justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah bangsa mengaku mencintai kebudayaannya jika para penjaga kebudayaan itu sendiri hidup dalam ketidakpastian?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan kebudayaan jika banyak lulusan seni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya?

Apa gunanya mendorong generasi muda untuk belajar seni hingga jenjang tertinggi jika setelah lulus mereka justru dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu dan keahlian mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk berkembang?

Banyak program yang diklaim sebagai upaya pembangunan dan pembukaan lapangan kerja. Banyak proyek yang diluncurkan dengan berbagai istilah modern dan slogan yang terdengar menjanjikan. Namun sering kali program-program tersebut tidak benar-benar menyentuh kebutuhan para seniman dan pekerja budaya. Yang terlihat justru pembangunan yang lebih berorientasi pada pencitraan, seremoni, dan proyek-proyek yang menghasilkan kebanggaan sesaat, sementara persoalan kesejahteraan pelaku seni tetap berada di pinggir pembahasan.

Kami melihat bagaimana banyak sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang dianggap prestisius, sementara para seniman yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pendidikan dan praktik seni harus berjuang sendiri agar tetap bertahan.

Padahal seni bukan sekadar hiburan.

Seni adalah cara sebuah bangsa berpikir tentang dirinya sendiri. Seni adalah ruang kritik, refleksi, pendidikan, dan kemanusiaan. Seni merekam sejarah, merawat identitas, dan membangun kesadaran sosial. Seni bukan pelengkap pembangunan. Seni adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.

Ironisnya, ketika berbicara tentang profesi lain, masyarakat memahami bahwa keahlian harus dihargai. Dokter dihargai karena ilmunya. Insinyur dihargai karena keahliannya. Akademisi dihargai karena pengetahuannya. Tetapi ketika seorang seniman meminta penghargaan yang layak atas karya dan pengalamannya, masih banyak yang menganggapnya berlebihan.

Mengapa? Apakah karena karya seni tidak selalu berbentuk angka?Apakah karena manfaat seni tidak selalu bisa dihitung dengan statistik ekonomi?Ataukah karena selama ini masyarakat telah terbiasa menikmati seni tanpa pernah benar-benar memikirkan kehidupan para penciptanya?

Yang kami tuntut sebenarnya sangat sederhana. Kami tidak meminta kemewahan. Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami tidak meminta untuk dipuja. Kami hanya meminta agar profesi seniman diperlakukan dengan hormat. Kami meminta agar pendidikan seni tidak dianggap sebagai jalan buntu. Kami meminta agar pengalaman puluhan tahun dalam praktik seni memiliki nilai yang diakui. Kami meminta agar karya yang lahir dari proses panjang tidak terus-menerus diremehkan.

Kami ingin hidup layak dari profesi yang telah kami tekuni sepanjang hidup.

Karena sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi seniman. Yang salah adalah sistem yang terus-menerus menempatkan seni sebagai sesuatu yang penting secara simbolik tetapi tidak penting secara nyata. Yang salah adalah ketika kebudayaan dijadikan slogan, sementara para pelaku kebudayaan dibiarkan berjuang sendirian.

Sudah terlalu lama seniman diajarkan untuk bertahan hidup hanya dengan idealisme. Seolah-olah kecintaan terhadap seni harus dibayar dengan kemiskinan. Seolah-olah pengabdian terhadap kebudayaan harus diterima sebagai alasan untuk hidup dalam ketidakpastian.

Tidak ada profesi lain yang secara terus-menerus diminta berkorban seperti itu. Dan karena itulah, suara ini perlu disampaikan. Bukan untuk mengeluh. Bukan untuk mencari belas kasihan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap karya yang dinikmati masyarakat, ada manusia yang bekerja, berpikir, belajar, dan berjuang.

Ada seniman yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga nyala kebudayaan agar tidak padam. Jika keadaan ini terus dibiarkan, jangan heran jika semakin banyak seniman yang memilih meninggalkan profesinya. Jangan heran jika generasi muda mulai ragu menempuh pendidikan seni karena melihat masa depan yang tidak menjanjikan. Jangan heran jika ruang-ruang budaya perlahan kehilangan kehidupan karena mereka yang seharusnya menjaganya tidak lagi mampu bertahan.

Sebab yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah krisis kreativitas. Seniman Indonesia tidak kekurangan kreativitas, gagasan, atau kemampuan. Yang sedang kita hadapi adalah krisis penghargaan.

Dan ketika sebuah bangsa gagal menghargai para senimannya, sesungguhnya bangsa itu sedang perlahan kehilangan salah satu bagian terpenting dari jiwanya sendiri. Karena kebudayaan tidak pernah hidup dari gedung-gedung megah, slogan-slogan indah, atau acara-acara seremonial semata.

Kebudayaan hidup dari manusia-manusia yang menciptakannya.

Dan hari ini, banyak dari manusia-manusia itu sedang berteriak dalam diam. Mereka adalah para seniman berpendidikan, para praktisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni, yang terus berkarya meski sering diabaikan, diremehkan, dan dilupakan.

Sudah saatnya suara mereka didengar. Sudah saatnya penghargaan terhadap seni diwujudkan bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata yang memungkinkan para seniman hidup dengan martabat yang layak. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghargai orang-orang yang menjaga jiwa dan kebudayaannya. [T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

Next Post

Bung Karno dalam Puisi   

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno dalam Puisi   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co