29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi di bidang seni, mulai dari S1, S2, hingga S3.

Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk belajar, meneliti, mencipta, mengajar, dan menjaga keberlangsungan kebudayaan. Mereka yang menghabiskan puluhan tahun bergelut dalam praktik seni dengan keyakinan bahwa ilmu, pengalaman, dan dedikasi akan mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat.

Namun kenyataan yang kami hadapi sering kali jauh berbeda dari harapan.

Banyak dari kami yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak sedikit yang menganggur, bekerja serabutan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena kami tidak memiliki kemampuan atau pendidikan, melainkan karena bidang yang kami tekuni sering kali dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang penting. Seni dipuji dalam pidato, dipamerkan dalam festival, dibanggakan sebagai identitas bangsa, tetapi para pelaku seninya justru sering kali hidup dalam kesulitan.

Sebagai seniman, kami tidak hanya menciptakan karya. Kami melakukan riset, membaca teori, memahami sejarah, melakukan eksperimen, dan mengembangkan berbagai gagasan yang lahir dari proses intelektual yang panjang.

Karya yang terlihat sederhana di mata sebagian orang bisa jadi merupakan hasil pemikiran dan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun yang sering terjadi adalah karya tersebut dihargai sangat rendah, ditawar tanpa rasa hormat, atau bahkan diminta secara cuma-cuma atas nama “dukungan”, “kolaborasi”, atau alasan-alasan lain yang tidak pernah diminta kepada profesi-profesi lain.

Tidak sedikit seniman yang pernah mendengar kalimat seperti, “Kan cuma gambar,” “Kan cuma pertunjukan,” “Kan cuma hobi,” atau “Nanti dapat exposure.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa rendahnya penghargaan terhadap kerja seni di masyarakat kita.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa banyak orang menikmati hasil karya seni setiap hari tanpa menyadari keberadaan para penciptanya. Mereka menikmati musik, film, desain, ilustrasi, pertunjukan, karya rupa, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Namun ketika berbicara tentang kesejahteraan seniman, persoalan itu sering dianggap tidak penting.

Kami seolah hanya dibutuhkan ketika diperlukan untuk mempercantik panggung.

Ketika ada festival, pameran, perayaan, peluncuran program, acara resmi, atau momentum tertentu, seniman dipanggil untuk mengisi ruang-ruang tersebut. Seni digunakan untuk menciptakan suasana, membangun citra, dan menunjukkan kekayaan budaya. Namun setelah acara selesai, lampu dipadamkan, dan para tamu pulang, senimannya kembali menghadapi kenyataan yang sama: mencari cara agar bisa tetap hidup dan berkarya.

Inilah ironi yang selama ini jarang dibicarakan secara jujur.

Negeri ini sering berbicara tentang pentingnya kebudayaan. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang kaya akan seni dan tradisi. Kita senang memamerkan kebudayaan kepada dunia internasional. Kita menjadikan seni sebagai simbol identitas nasional. Namun pada saat yang sama, banyak pelaku seni yang justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah bangsa mengaku mencintai kebudayaannya jika para penjaga kebudayaan itu sendiri hidup dalam ketidakpastian?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan kebudayaan jika banyak lulusan seni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya?

Apa gunanya mendorong generasi muda untuk belajar seni hingga jenjang tertinggi jika setelah lulus mereka justru dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu dan keahlian mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk berkembang?

Banyak program yang diklaim sebagai upaya pembangunan dan pembukaan lapangan kerja. Banyak proyek yang diluncurkan dengan berbagai istilah modern dan slogan yang terdengar menjanjikan. Namun sering kali program-program tersebut tidak benar-benar menyentuh kebutuhan para seniman dan pekerja budaya. Yang terlihat justru pembangunan yang lebih berorientasi pada pencitraan, seremoni, dan proyek-proyek yang menghasilkan kebanggaan sesaat, sementara persoalan kesejahteraan pelaku seni tetap berada di pinggir pembahasan.

Kami melihat bagaimana banyak sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang dianggap prestisius, sementara para seniman yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pendidikan dan praktik seni harus berjuang sendiri agar tetap bertahan.

Padahal seni bukan sekadar hiburan.

Seni adalah cara sebuah bangsa berpikir tentang dirinya sendiri. Seni adalah ruang kritik, refleksi, pendidikan, dan kemanusiaan. Seni merekam sejarah, merawat identitas, dan membangun kesadaran sosial. Seni bukan pelengkap pembangunan. Seni adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.

Ironisnya, ketika berbicara tentang profesi lain, masyarakat memahami bahwa keahlian harus dihargai. Dokter dihargai karena ilmunya. Insinyur dihargai karena keahliannya. Akademisi dihargai karena pengetahuannya. Tetapi ketika seorang seniman meminta penghargaan yang layak atas karya dan pengalamannya, masih banyak yang menganggapnya berlebihan.

Mengapa? Apakah karena karya seni tidak selalu berbentuk angka?Apakah karena manfaat seni tidak selalu bisa dihitung dengan statistik ekonomi?Ataukah karena selama ini masyarakat telah terbiasa menikmati seni tanpa pernah benar-benar memikirkan kehidupan para penciptanya?

Yang kami tuntut sebenarnya sangat sederhana. Kami tidak meminta kemewahan. Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami tidak meminta untuk dipuja. Kami hanya meminta agar profesi seniman diperlakukan dengan hormat. Kami meminta agar pendidikan seni tidak dianggap sebagai jalan buntu. Kami meminta agar pengalaman puluhan tahun dalam praktik seni memiliki nilai yang diakui. Kami meminta agar karya yang lahir dari proses panjang tidak terus-menerus diremehkan.

Kami ingin hidup layak dari profesi yang telah kami tekuni sepanjang hidup.

Karena sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi seniman. Yang salah adalah sistem yang terus-menerus menempatkan seni sebagai sesuatu yang penting secara simbolik tetapi tidak penting secara nyata. Yang salah adalah ketika kebudayaan dijadikan slogan, sementara para pelaku kebudayaan dibiarkan berjuang sendirian.

Sudah terlalu lama seniman diajarkan untuk bertahan hidup hanya dengan idealisme. Seolah-olah kecintaan terhadap seni harus dibayar dengan kemiskinan. Seolah-olah pengabdian terhadap kebudayaan harus diterima sebagai alasan untuk hidup dalam ketidakpastian.

Tidak ada profesi lain yang secara terus-menerus diminta berkorban seperti itu. Dan karena itulah, suara ini perlu disampaikan. Bukan untuk mengeluh. Bukan untuk mencari belas kasihan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap karya yang dinikmati masyarakat, ada manusia yang bekerja, berpikir, belajar, dan berjuang.

Ada seniman yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga nyala kebudayaan agar tidak padam. Jika keadaan ini terus dibiarkan, jangan heran jika semakin banyak seniman yang memilih meninggalkan profesinya. Jangan heran jika generasi muda mulai ragu menempuh pendidikan seni karena melihat masa depan yang tidak menjanjikan. Jangan heran jika ruang-ruang budaya perlahan kehilangan kehidupan karena mereka yang seharusnya menjaganya tidak lagi mampu bertahan.

Sebab yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah krisis kreativitas. Seniman Indonesia tidak kekurangan kreativitas, gagasan, atau kemampuan. Yang sedang kita hadapi adalah krisis penghargaan.

Dan ketika sebuah bangsa gagal menghargai para senimannya, sesungguhnya bangsa itu sedang perlahan kehilangan salah satu bagian terpenting dari jiwanya sendiri. Karena kebudayaan tidak pernah hidup dari gedung-gedung megah, slogan-slogan indah, atau acara-acara seremonial semata.

Kebudayaan hidup dari manusia-manusia yang menciptakannya.

Dan hari ini, banyak dari manusia-manusia itu sedang berteriak dalam diam. Mereka adalah para seniman berpendidikan, para praktisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni, yang terus berkarya meski sering diabaikan, diremehkan, dan dilupakan.

Sudah saatnya suara mereka didengar. Sudah saatnya penghargaan terhadap seni diwujudkan bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata yang memungkinkan para seniman hidup dengan martabat yang layak. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghargai orang-orang yang menjaga jiwa dan kebudayaannya. [T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

Next Post

Bung Karno dalam Puisi   

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno dalam Puisi   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co