17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi di bidang seni, mulai dari S1, S2, hingga S3.

Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk belajar, meneliti, mencipta, mengajar, dan menjaga keberlangsungan kebudayaan. Mereka yang menghabiskan puluhan tahun bergelut dalam praktik seni dengan keyakinan bahwa ilmu, pengalaman, dan dedikasi akan mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat.

Namun kenyataan yang kami hadapi sering kali jauh berbeda dari harapan.

Banyak dari kami yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak sedikit yang menganggur, bekerja serabutan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena kami tidak memiliki kemampuan atau pendidikan, melainkan karena bidang yang kami tekuni sering kali dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang penting. Seni dipuji dalam pidato, dipamerkan dalam festival, dibanggakan sebagai identitas bangsa, tetapi para pelaku seninya justru sering kali hidup dalam kesulitan.

Sebagai seniman, kami tidak hanya menciptakan karya. Kami melakukan riset, membaca teori, memahami sejarah, melakukan eksperimen, dan mengembangkan berbagai gagasan yang lahir dari proses intelektual yang panjang.

Karya yang terlihat sederhana di mata sebagian orang bisa jadi merupakan hasil pemikiran dan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun yang sering terjadi adalah karya tersebut dihargai sangat rendah, ditawar tanpa rasa hormat, atau bahkan diminta secara cuma-cuma atas nama “dukungan”, “kolaborasi”, atau alasan-alasan lain yang tidak pernah diminta kepada profesi-profesi lain.

Tidak sedikit seniman yang pernah mendengar kalimat seperti, “Kan cuma gambar,” “Kan cuma pertunjukan,” “Kan cuma hobi,” atau “Nanti dapat exposure.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa rendahnya penghargaan terhadap kerja seni di masyarakat kita.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa banyak orang menikmati hasil karya seni setiap hari tanpa menyadari keberadaan para penciptanya. Mereka menikmati musik, film, desain, ilustrasi, pertunjukan, karya rupa, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Namun ketika berbicara tentang kesejahteraan seniman, persoalan itu sering dianggap tidak penting.

Kami seolah hanya dibutuhkan ketika diperlukan untuk mempercantik panggung.

Ketika ada festival, pameran, perayaan, peluncuran program, acara resmi, atau momentum tertentu, seniman dipanggil untuk mengisi ruang-ruang tersebut. Seni digunakan untuk menciptakan suasana, membangun citra, dan menunjukkan kekayaan budaya. Namun setelah acara selesai, lampu dipadamkan, dan para tamu pulang, senimannya kembali menghadapi kenyataan yang sama: mencari cara agar bisa tetap hidup dan berkarya.

Inilah ironi yang selama ini jarang dibicarakan secara jujur.

Negeri ini sering berbicara tentang pentingnya kebudayaan. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang kaya akan seni dan tradisi. Kita senang memamerkan kebudayaan kepada dunia internasional. Kita menjadikan seni sebagai simbol identitas nasional. Namun pada saat yang sama, banyak pelaku seni yang justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah bangsa mengaku mencintai kebudayaannya jika para penjaga kebudayaan itu sendiri hidup dalam ketidakpastian?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan kebudayaan jika banyak lulusan seni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya?

Apa gunanya mendorong generasi muda untuk belajar seni hingga jenjang tertinggi jika setelah lulus mereka justru dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu dan keahlian mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk berkembang?

Banyak program yang diklaim sebagai upaya pembangunan dan pembukaan lapangan kerja. Banyak proyek yang diluncurkan dengan berbagai istilah modern dan slogan yang terdengar menjanjikan. Namun sering kali program-program tersebut tidak benar-benar menyentuh kebutuhan para seniman dan pekerja budaya. Yang terlihat justru pembangunan yang lebih berorientasi pada pencitraan, seremoni, dan proyek-proyek yang menghasilkan kebanggaan sesaat, sementara persoalan kesejahteraan pelaku seni tetap berada di pinggir pembahasan.

Kami melihat bagaimana banyak sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang dianggap prestisius, sementara para seniman yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pendidikan dan praktik seni harus berjuang sendiri agar tetap bertahan.

Padahal seni bukan sekadar hiburan.

Seni adalah cara sebuah bangsa berpikir tentang dirinya sendiri. Seni adalah ruang kritik, refleksi, pendidikan, dan kemanusiaan. Seni merekam sejarah, merawat identitas, dan membangun kesadaran sosial. Seni bukan pelengkap pembangunan. Seni adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.

Ironisnya, ketika berbicara tentang profesi lain, masyarakat memahami bahwa keahlian harus dihargai. Dokter dihargai karena ilmunya. Insinyur dihargai karena keahliannya. Akademisi dihargai karena pengetahuannya. Tetapi ketika seorang seniman meminta penghargaan yang layak atas karya dan pengalamannya, masih banyak yang menganggapnya berlebihan.

Mengapa? Apakah karena karya seni tidak selalu berbentuk angka?Apakah karena manfaat seni tidak selalu bisa dihitung dengan statistik ekonomi?Ataukah karena selama ini masyarakat telah terbiasa menikmati seni tanpa pernah benar-benar memikirkan kehidupan para penciptanya?

Yang kami tuntut sebenarnya sangat sederhana. Kami tidak meminta kemewahan. Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami tidak meminta untuk dipuja. Kami hanya meminta agar profesi seniman diperlakukan dengan hormat. Kami meminta agar pendidikan seni tidak dianggap sebagai jalan buntu. Kami meminta agar pengalaman puluhan tahun dalam praktik seni memiliki nilai yang diakui. Kami meminta agar karya yang lahir dari proses panjang tidak terus-menerus diremehkan.

Kami ingin hidup layak dari profesi yang telah kami tekuni sepanjang hidup.

Karena sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi seniman. Yang salah adalah sistem yang terus-menerus menempatkan seni sebagai sesuatu yang penting secara simbolik tetapi tidak penting secara nyata. Yang salah adalah ketika kebudayaan dijadikan slogan, sementara para pelaku kebudayaan dibiarkan berjuang sendirian.

Sudah terlalu lama seniman diajarkan untuk bertahan hidup hanya dengan idealisme. Seolah-olah kecintaan terhadap seni harus dibayar dengan kemiskinan. Seolah-olah pengabdian terhadap kebudayaan harus diterima sebagai alasan untuk hidup dalam ketidakpastian.

Tidak ada profesi lain yang secara terus-menerus diminta berkorban seperti itu. Dan karena itulah, suara ini perlu disampaikan. Bukan untuk mengeluh. Bukan untuk mencari belas kasihan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap karya yang dinikmati masyarakat, ada manusia yang bekerja, berpikir, belajar, dan berjuang.

Ada seniman yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga nyala kebudayaan agar tidak padam. Jika keadaan ini terus dibiarkan, jangan heran jika semakin banyak seniman yang memilih meninggalkan profesinya. Jangan heran jika generasi muda mulai ragu menempuh pendidikan seni karena melihat masa depan yang tidak menjanjikan. Jangan heran jika ruang-ruang budaya perlahan kehilangan kehidupan karena mereka yang seharusnya menjaganya tidak lagi mampu bertahan.

Sebab yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah krisis kreativitas. Seniman Indonesia tidak kekurangan kreativitas, gagasan, atau kemampuan. Yang sedang kita hadapi adalah krisis penghargaan.

Dan ketika sebuah bangsa gagal menghargai para senimannya, sesungguhnya bangsa itu sedang perlahan kehilangan salah satu bagian terpenting dari jiwanya sendiri. Karena kebudayaan tidak pernah hidup dari gedung-gedung megah, slogan-slogan indah, atau acara-acara seremonial semata.

Kebudayaan hidup dari manusia-manusia yang menciptakannya.

Dan hari ini, banyak dari manusia-manusia itu sedang berteriak dalam diam. Mereka adalah para seniman berpendidikan, para praktisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni, yang terus berkarya meski sering diabaikan, diremehkan, dan dilupakan.

Sudah saatnya suara mereka didengar. Sudah saatnya penghargaan terhadap seni diwujudkan bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata yang memungkinkan para seniman hidup dengan martabat yang layak. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghargai orang-orang yang menjaga jiwa dan kebudayaannya. [T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

Next Post

Bung Karno dalam Puisi   

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno dalam Puisi   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co