5 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi di bidang seni, mulai dari S1, S2, hingga S3.

Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk belajar, meneliti, mencipta, mengajar, dan menjaga keberlangsungan kebudayaan. Mereka yang menghabiskan puluhan tahun bergelut dalam praktik seni dengan keyakinan bahwa ilmu, pengalaman, dan dedikasi akan mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat.

Namun kenyataan yang kami hadapi sering kali jauh berbeda dari harapan.

Banyak dari kami yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak sedikit yang menganggur, bekerja serabutan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena kami tidak memiliki kemampuan atau pendidikan, melainkan karena bidang yang kami tekuni sering kali dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang penting. Seni dipuji dalam pidato, dipamerkan dalam festival, dibanggakan sebagai identitas bangsa, tetapi para pelaku seninya justru sering kali hidup dalam kesulitan.

Sebagai seniman, kami tidak hanya menciptakan karya. Kami melakukan riset, membaca teori, memahami sejarah, melakukan eksperimen, dan mengembangkan berbagai gagasan yang lahir dari proses intelektual yang panjang.

Karya yang terlihat sederhana di mata sebagian orang bisa jadi merupakan hasil pemikiran dan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun yang sering terjadi adalah karya tersebut dihargai sangat rendah, ditawar tanpa rasa hormat, atau bahkan diminta secara cuma-cuma atas nama “dukungan”, “kolaborasi”, atau alasan-alasan lain yang tidak pernah diminta kepada profesi-profesi lain.

Tidak sedikit seniman yang pernah mendengar kalimat seperti, “Kan cuma gambar,” “Kan cuma pertunjukan,” “Kan cuma hobi,” atau “Nanti dapat exposure.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa rendahnya penghargaan terhadap kerja seni di masyarakat kita.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa banyak orang menikmati hasil karya seni setiap hari tanpa menyadari keberadaan para penciptanya. Mereka menikmati musik, film, desain, ilustrasi, pertunjukan, karya rupa, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Namun ketika berbicara tentang kesejahteraan seniman, persoalan itu sering dianggap tidak penting.

Kami seolah hanya dibutuhkan ketika diperlukan untuk mempercantik panggung.

Ketika ada festival, pameran, perayaan, peluncuran program, acara resmi, atau momentum tertentu, seniman dipanggil untuk mengisi ruang-ruang tersebut. Seni digunakan untuk menciptakan suasana, membangun citra, dan menunjukkan kekayaan budaya. Namun setelah acara selesai, lampu dipadamkan, dan para tamu pulang, senimannya kembali menghadapi kenyataan yang sama: mencari cara agar bisa tetap hidup dan berkarya.

Inilah ironi yang selama ini jarang dibicarakan secara jujur.

Negeri ini sering berbicara tentang pentingnya kebudayaan. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang kaya akan seni dan tradisi. Kita senang memamerkan kebudayaan kepada dunia internasional. Kita menjadikan seni sebagai simbol identitas nasional. Namun pada saat yang sama, banyak pelaku seni yang justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah bangsa mengaku mencintai kebudayaannya jika para penjaga kebudayaan itu sendiri hidup dalam ketidakpastian?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan kebudayaan jika banyak lulusan seni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya?

Apa gunanya mendorong generasi muda untuk belajar seni hingga jenjang tertinggi jika setelah lulus mereka justru dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu dan keahlian mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk berkembang?

Banyak program yang diklaim sebagai upaya pembangunan dan pembukaan lapangan kerja. Banyak proyek yang diluncurkan dengan berbagai istilah modern dan slogan yang terdengar menjanjikan. Namun sering kali program-program tersebut tidak benar-benar menyentuh kebutuhan para seniman dan pekerja budaya. Yang terlihat justru pembangunan yang lebih berorientasi pada pencitraan, seremoni, dan proyek-proyek yang menghasilkan kebanggaan sesaat, sementara persoalan kesejahteraan pelaku seni tetap berada di pinggir pembahasan.

Kami melihat bagaimana banyak sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang dianggap prestisius, sementara para seniman yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pendidikan dan praktik seni harus berjuang sendiri agar tetap bertahan.

Padahal seni bukan sekadar hiburan.

Seni adalah cara sebuah bangsa berpikir tentang dirinya sendiri. Seni adalah ruang kritik, refleksi, pendidikan, dan kemanusiaan. Seni merekam sejarah, merawat identitas, dan membangun kesadaran sosial. Seni bukan pelengkap pembangunan. Seni adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.

Ironisnya, ketika berbicara tentang profesi lain, masyarakat memahami bahwa keahlian harus dihargai. Dokter dihargai karena ilmunya. Insinyur dihargai karena keahliannya. Akademisi dihargai karena pengetahuannya. Tetapi ketika seorang seniman meminta penghargaan yang layak atas karya dan pengalamannya, masih banyak yang menganggapnya berlebihan.

Mengapa? Apakah karena karya seni tidak selalu berbentuk angka?Apakah karena manfaat seni tidak selalu bisa dihitung dengan statistik ekonomi?Ataukah karena selama ini masyarakat telah terbiasa menikmati seni tanpa pernah benar-benar memikirkan kehidupan para penciptanya?

Yang kami tuntut sebenarnya sangat sederhana. Kami tidak meminta kemewahan. Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami tidak meminta untuk dipuja. Kami hanya meminta agar profesi seniman diperlakukan dengan hormat. Kami meminta agar pendidikan seni tidak dianggap sebagai jalan buntu. Kami meminta agar pengalaman puluhan tahun dalam praktik seni memiliki nilai yang diakui. Kami meminta agar karya yang lahir dari proses panjang tidak terus-menerus diremehkan.

Kami ingin hidup layak dari profesi yang telah kami tekuni sepanjang hidup.

Karena sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi seniman. Yang salah adalah sistem yang terus-menerus menempatkan seni sebagai sesuatu yang penting secara simbolik tetapi tidak penting secara nyata. Yang salah adalah ketika kebudayaan dijadikan slogan, sementara para pelaku kebudayaan dibiarkan berjuang sendirian.

Sudah terlalu lama seniman diajarkan untuk bertahan hidup hanya dengan idealisme. Seolah-olah kecintaan terhadap seni harus dibayar dengan kemiskinan. Seolah-olah pengabdian terhadap kebudayaan harus diterima sebagai alasan untuk hidup dalam ketidakpastian.

Tidak ada profesi lain yang secara terus-menerus diminta berkorban seperti itu. Dan karena itulah, suara ini perlu disampaikan. Bukan untuk mengeluh. Bukan untuk mencari belas kasihan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap karya yang dinikmati masyarakat, ada manusia yang bekerja, berpikir, belajar, dan berjuang.

Ada seniman yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga nyala kebudayaan agar tidak padam. Jika keadaan ini terus dibiarkan, jangan heran jika semakin banyak seniman yang memilih meninggalkan profesinya. Jangan heran jika generasi muda mulai ragu menempuh pendidikan seni karena melihat masa depan yang tidak menjanjikan. Jangan heran jika ruang-ruang budaya perlahan kehilangan kehidupan karena mereka yang seharusnya menjaganya tidak lagi mampu bertahan.

Sebab yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah krisis kreativitas. Seniman Indonesia tidak kekurangan kreativitas, gagasan, atau kemampuan. Yang sedang kita hadapi adalah krisis penghargaan.

Dan ketika sebuah bangsa gagal menghargai para senimannya, sesungguhnya bangsa itu sedang perlahan kehilangan salah satu bagian terpenting dari jiwanya sendiri. Karena kebudayaan tidak pernah hidup dari gedung-gedung megah, slogan-slogan indah, atau acara-acara seremonial semata.

Kebudayaan hidup dari manusia-manusia yang menciptakannya.

Dan hari ini, banyak dari manusia-manusia itu sedang berteriak dalam diam. Mereka adalah para seniman berpendidikan, para praktisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni, yang terus berkarya meski sering diabaikan, diremehkan, dan dilupakan.

Sudah saatnya suara mereka didengar. Sudah saatnya penghargaan terhadap seni diwujudkan bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata yang memungkinkan para seniman hidup dengan martabat yang layak. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghargai orang-orang yang menjaga jiwa dan kebudayaannya. [T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

Next Post

Bung Karno dalam Puisi   

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno dalam Puisi   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 4, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co