29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
in Ulas Musik
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik.

Lagu Brown Sugar (1971) karya The Rolling Stones merupakan salah satu contoh paling kontroversial tentang bagaimana musik populer beroperasi di wilayah abu-abu antara ekspresi artistik, kritik sosial, dan reproduksi kekerasan simbolik. Sejak dirilis, lagu ini menuai pujian karena energi rock and roll-nya, namun sekaligus kritik keras karena liriknya yang menyinggung perbudakan, eksploitasi seksual, dan rasisme.

Esai ini bertujuan membaca Brown Sugar melalui pendekatan hermeneutika, khususnya dengan memanfaatkan gagasan Paul Ricoeur tentang teks dan distansiasi makna, Hans-Georg Gadamer tentang kesadaran historis (wirkungsgeschichtliches Bewusstsein), serta Roland Barthes mengenai mitos dan representasi budaya. Dengan pendekatan ini, lagu tidak dipahami hanya sebagai produk niat pengarang, melainkan sebagai teks budaya yang terus ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah.

Latar Sejarah dan Produksi Budaya Lagu Brown Sugar

Brown Sugar ditulis oleh Mick Jagger pada tahun 1969 ketika The Rolling Stones berada di Australia, dan dirilis secara resmi pada 1971 dalam album Sticky Fingers. Periode ini merupakan masa pergolakan sosial di dunia Barat: gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat, kritik terhadap kolonialisme, serta meningkatnya kesadaran akan sejarah perbudakan dan rasisme struktural.

Lirik lagu secara eksplisit merujuk pada “kapal perbudukan” yang berlayar dari Afrika ke New Orleans, sebuah rute historis perdagangan budak Atlantik. Frasa-frasa seperti “Gold Coast slave ship bound for cotton fields” tidak dapat dilepaskan dari sejarah kekerasan kolonial yang melibatkan pemindahan paksa jutaan orang Afrika. Lirik lagu Brown Sugar sejak awal mengandung beban historis yang berat.

Namun, alih-alih menyajikan narasi empatik atau reflektif, lagu ini dibalut dalam irama rock yang enerjik dan sensual. Di sinilah muncul ketegangan utama: antara bentuk musikal yang merayakan kebebasan dan kesenangan, dengan isi lirik yang berakar pada penindasan dan eksploitasi.

Hermeneutika Teks Lagu: Distansiasi dan Ambiguitas Makna

Paul Ricoeur menekankan bahwa teks, setelah dilepaskan dari pengarangnya, mengalami distansiasi, ia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh niat awal pencipta (Ricoeur, Interpretation Theory, 1976). Dalam konteks Brown Sugar, pernyataan Mick Jagger bahwa lagu ini bersifat “provokatif” atau “ironis” tidak cukup untuk menutup kemungkinan tafsir yang berlawanan.

Frasa brown sugar dalam pembacaan hermeneutik berlapis dapat dimaknai sebagai: 1). metafora seksual, 2). representasi perempuan Afrika-Amerika, 3). simbol komodifikasi tubuh dalam sistem perbudakan, 4). atau mitos rasial yang direproduksi dalam budaya populer.

Ricoeur menyebut proses ini sebagai surplus of meaning, yakni kelebihan makna yang muncul dari interaksi antara teks dan pembaca. Dalam hal ini, pembaca kontemporer terutama yang memiliki kesadaran pascakolonial, cenderung membaca lagu ini sebagai reproduksi kekerasan simbolik, bukan sekadar kritik terhadapnya.

Gadamer dan Kesadaran Historis: Membaca dari Horizon Kekinian

Hans-Georg Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu bersifat historis dan terjadi melalui fusion of horizons, pertemuan antara horison masa lalu dan masa kini (Truth and Method, 1960). Pada era 1970-an, Brown Sugar mungkin diterima sebagai bentuk keberanian artistik yang menabrak tabu. Namun, dalam horison etika kontemporer, lagu ini dibaca dengan sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap isu rasisme dan eksploitasi seksual.

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

Keputusan The Rolling Stones pada tahun-tahun terakhir untuk jarang atau bahkan tidak lagi membawakan Brown Sugar dalam konser menunjukkan adanya pergeseran kesadaran historis. Ini bukan sekadar soal “sensor”, melainkan refleksi bahwa makna teks telah berubah seiring perubahan nilai sosial. Dalam perspektif Gadamerian, perubahan ini justru menegaskan bahwa karya seni hidup melalui dialog historis, bukan dalam kekakuan makna tunggal.

Fetisisme, Tubuh, dan Kekuasaan: Analisis Kritis Budaya

Lirik “just like a young girl” menghadirkan persoalan serius terkait fetisisme dan relasi kuasa. Dalam kerangka teori budaya, terutama yang dipengaruhi pemikiran feminis dan poskolonial, tubuh perempuan kulit hitam dalam sejarah perbudakan sering direduksi menjadi objek ekonomi dan seksual.

Roland Barthes dalam Mythologies (1957) menjelaskan bagaimana budaya populer menciptakan mitos, representasi yang tampak “alami” tetapi sebenarnya sarat ideologi. Brown Sugar berpotensi membangun mitos erotisasi tubuh perempuan kulit hitam, yang tanpa konteks kritis dapat mengaburkan kekerasan struktural yang melatarbelakanginya.

Dengan demikian, meskipun lagu ini mungkin dimaksudkan sebagai provokasi atau kritik sosial, bentuk penyampaiannya justru berisiko mengulang logika dominasi yang ingin dikritiknya. Di sinilah letak paradoks etis musik populer.

Musik Populer sebagai Ruang Etika dan Kontestasi Makna

Dalam kajian komunikasi budaya, musik populer tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara masyarakat mengingat sejarah. James Carey (1989) memandang komunikasi sebagai ritual, yakni proses mempertahankan realitas bersama. Brown Sugar dalam kerangka ini, berfungsi sebagai ritual budaya yang menghidupkan kembali sejarah perbudakan, namun dengan cara yang problematis.

Lagu ini menjadi contoh bagaimana seni dapat sekaligus membuka ruang refleksi dan melukai ingatan kolektif. Ia memaksa pendengarnya untuk bertanya: apakah kebebasan artistik cukup untuk membenarkan representasi yang menyakitkan? Ataukah seni justru memiliki tanggung jawab etis terhadap sejarah yang diangkatnya?

Penutup

Melalui pembacaan hermeneutik, Brown Sugar karya The Rolling Stones tampil sebagai teks budaya yang ambigu, penuh ketegangan antara kritik dan reproduksi kekerasan simbolik. Lagu ini tidak dapat direduksi hanya sebagai produk zamannya, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari horison etika masa kini.

Pendekatan Ricoeur membantu kita memahami kelebihan makna yang terus berkembang; Gadamer mengingatkan bahwa tafsir selalu bersifat historis; sementara Barthes membuka mata kita terhadap mitos yang bekerja di balik representasi populer. Dengan demikian, Brown Sugar menjadi studi kasus penting tentang bagaimana musik populer dapat mempengaruhi, menantang, sekaligus mempertanyakan nilai-nilai sosial.

Alih-alih menolak atau mengagungkan lagu ini secara simplistik, pembacaan akademik mendorong kita untuk menjadikannya bahan refleksi kritis tentang relasi antara seni, sejarah, dan tanggung jawab etis dalam budaya populer. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bung Karno dalam Puisi   

Next Post

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co