15 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
in Ulas Musik
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik.

Lagu Brown Sugar (1971) karya The Rolling Stones merupakan salah satu contoh paling kontroversial tentang bagaimana musik populer beroperasi di wilayah abu-abu antara ekspresi artistik, kritik sosial, dan reproduksi kekerasan simbolik. Sejak dirilis, lagu ini menuai pujian karena energi rock and roll-nya, namun sekaligus kritik keras karena liriknya yang menyinggung perbudakan, eksploitasi seksual, dan rasisme.

Esai ini bertujuan membaca Brown Sugar melalui pendekatan hermeneutika, khususnya dengan memanfaatkan gagasan Paul Ricoeur tentang teks dan distansiasi makna, Hans-Georg Gadamer tentang kesadaran historis (wirkungsgeschichtliches Bewusstsein), serta Roland Barthes mengenai mitos dan representasi budaya. Dengan pendekatan ini, lagu tidak dipahami hanya sebagai produk niat pengarang, melainkan sebagai teks budaya yang terus ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah.

Latar Sejarah dan Produksi Budaya Lagu Brown Sugar

Brown Sugar ditulis oleh Mick Jagger pada tahun 1969 ketika The Rolling Stones berada di Australia, dan dirilis secara resmi pada 1971 dalam album Sticky Fingers. Periode ini merupakan masa pergolakan sosial di dunia Barat: gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat, kritik terhadap kolonialisme, serta meningkatnya kesadaran akan sejarah perbudakan dan rasisme struktural.

Lirik lagu secara eksplisit merujuk pada “kapal perbudukan” yang berlayar dari Afrika ke New Orleans, sebuah rute historis perdagangan budak Atlantik. Frasa-frasa seperti “Gold Coast slave ship bound for cotton fields” tidak dapat dilepaskan dari sejarah kekerasan kolonial yang melibatkan pemindahan paksa jutaan orang Afrika. Lirik lagu Brown Sugar sejak awal mengandung beban historis yang berat.

Namun, alih-alih menyajikan narasi empatik atau reflektif, lagu ini dibalut dalam irama rock yang enerjik dan sensual. Di sinilah muncul ketegangan utama: antara bentuk musikal yang merayakan kebebasan dan kesenangan, dengan isi lirik yang berakar pada penindasan dan eksploitasi.

Hermeneutika Teks Lagu: Distansiasi dan Ambiguitas Makna

Paul Ricoeur menekankan bahwa teks, setelah dilepaskan dari pengarangnya, mengalami distansiasi, ia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh niat awal pencipta (Ricoeur, Interpretation Theory, 1976). Dalam konteks Brown Sugar, pernyataan Mick Jagger bahwa lagu ini bersifat “provokatif” atau “ironis” tidak cukup untuk menutup kemungkinan tafsir yang berlawanan.

Frasa brown sugar dalam pembacaan hermeneutik berlapis dapat dimaknai sebagai: 1). metafora seksual, 2). representasi perempuan Afrika-Amerika, 3). simbol komodifikasi tubuh dalam sistem perbudakan, 4). atau mitos rasial yang direproduksi dalam budaya populer.

Ricoeur menyebut proses ini sebagai surplus of meaning, yakni kelebihan makna yang muncul dari interaksi antara teks dan pembaca. Dalam hal ini, pembaca kontemporer terutama yang memiliki kesadaran pascakolonial, cenderung membaca lagu ini sebagai reproduksi kekerasan simbolik, bukan sekadar kritik terhadapnya.

Gadamer dan Kesadaran Historis: Membaca dari Horizon Kekinian

Hans-Georg Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu bersifat historis dan terjadi melalui fusion of horizons, pertemuan antara horison masa lalu dan masa kini (Truth and Method, 1960). Pada era 1970-an, Brown Sugar mungkin diterima sebagai bentuk keberanian artistik yang menabrak tabu. Namun, dalam horison etika kontemporer, lagu ini dibaca dengan sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap isu rasisme dan eksploitasi seksual.

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

Keputusan The Rolling Stones pada tahun-tahun terakhir untuk jarang atau bahkan tidak lagi membawakan Brown Sugar dalam konser menunjukkan adanya pergeseran kesadaran historis. Ini bukan sekadar soal “sensor”, melainkan refleksi bahwa makna teks telah berubah seiring perubahan nilai sosial. Dalam perspektif Gadamerian, perubahan ini justru menegaskan bahwa karya seni hidup melalui dialog historis, bukan dalam kekakuan makna tunggal.

Fetisisme, Tubuh, dan Kekuasaan: Analisis Kritis Budaya

Lirik “just like a young girl” menghadirkan persoalan serius terkait fetisisme dan relasi kuasa. Dalam kerangka teori budaya, terutama yang dipengaruhi pemikiran feminis dan poskolonial, tubuh perempuan kulit hitam dalam sejarah perbudakan sering direduksi menjadi objek ekonomi dan seksual.

Roland Barthes dalam Mythologies (1957) menjelaskan bagaimana budaya populer menciptakan mitos, representasi yang tampak “alami” tetapi sebenarnya sarat ideologi. Brown Sugar berpotensi membangun mitos erotisasi tubuh perempuan kulit hitam, yang tanpa konteks kritis dapat mengaburkan kekerasan struktural yang melatarbelakanginya.

Dengan demikian, meskipun lagu ini mungkin dimaksudkan sebagai provokasi atau kritik sosial, bentuk penyampaiannya justru berisiko mengulang logika dominasi yang ingin dikritiknya. Di sinilah letak paradoks etis musik populer.

Musik Populer sebagai Ruang Etika dan Kontestasi Makna

Dalam kajian komunikasi budaya, musik populer tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara masyarakat mengingat sejarah. James Carey (1989) memandang komunikasi sebagai ritual, yakni proses mempertahankan realitas bersama. Brown Sugar dalam kerangka ini, berfungsi sebagai ritual budaya yang menghidupkan kembali sejarah perbudakan, namun dengan cara yang problematis.

Lagu ini menjadi contoh bagaimana seni dapat sekaligus membuka ruang refleksi dan melukai ingatan kolektif. Ia memaksa pendengarnya untuk bertanya: apakah kebebasan artistik cukup untuk membenarkan representasi yang menyakitkan? Ataukah seni justru memiliki tanggung jawab etis terhadap sejarah yang diangkatnya?

Penutup

Melalui pembacaan hermeneutik, Brown Sugar karya The Rolling Stones tampil sebagai teks budaya yang ambigu, penuh ketegangan antara kritik dan reproduksi kekerasan simbolik. Lagu ini tidak dapat direduksi hanya sebagai produk zamannya, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari horison etika masa kini.

Pendekatan Ricoeur membantu kita memahami kelebihan makna yang terus berkembang; Gadamer mengingatkan bahwa tafsir selalu bersifat historis; sementara Barthes membuka mata kita terhadap mitos yang bekerja di balik representasi populer. Dengan demikian, Brown Sugar menjadi studi kasus penting tentang bagaimana musik populer dapat mempengaruhi, menantang, sekaligus mempertanyakan nilai-nilai sosial.

Alih-alih menolak atau mengagungkan lagu ini secara simplistik, pembacaan akademik mendorong kita untuk menjadikannya bahan refleksi kritis tentang relasi antara seni, sejarah, dan tanggung jawab etis dalam budaya populer. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bung Karno dalam Puisi   

Next Post

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia
Panggung

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi
Panggung

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Dari Duta SMA ke Duta Besar
Esai

Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026
Tualang

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan
Panggung

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co