6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
in Ulas Musik
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik.

Lagu Brown Sugar (1971) karya The Rolling Stones merupakan salah satu contoh paling kontroversial tentang bagaimana musik populer beroperasi di wilayah abu-abu antara ekspresi artistik, kritik sosial, dan reproduksi kekerasan simbolik. Sejak dirilis, lagu ini menuai pujian karena energi rock and roll-nya, namun sekaligus kritik keras karena liriknya yang menyinggung perbudakan, eksploitasi seksual, dan rasisme.

Esai ini bertujuan membaca Brown Sugar melalui pendekatan hermeneutika, khususnya dengan memanfaatkan gagasan Paul Ricoeur tentang teks dan distansiasi makna, Hans-Georg Gadamer tentang kesadaran historis (wirkungsgeschichtliches Bewusstsein), serta Roland Barthes mengenai mitos dan representasi budaya. Dengan pendekatan ini, lagu tidak dipahami hanya sebagai produk niat pengarang, melainkan sebagai teks budaya yang terus ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah.

Latar Sejarah dan Produksi Budaya Lagu Brown Sugar

Brown Sugar ditulis oleh Mick Jagger pada tahun 1969 ketika The Rolling Stones berada di Australia, dan dirilis secara resmi pada 1971 dalam album Sticky Fingers. Periode ini merupakan masa pergolakan sosial di dunia Barat: gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat, kritik terhadap kolonialisme, serta meningkatnya kesadaran akan sejarah perbudakan dan rasisme struktural.

Lirik lagu secara eksplisit merujuk pada “kapal perbudukan” yang berlayar dari Afrika ke New Orleans, sebuah rute historis perdagangan budak Atlantik. Frasa-frasa seperti “Gold Coast slave ship bound for cotton fields” tidak dapat dilepaskan dari sejarah kekerasan kolonial yang melibatkan pemindahan paksa jutaan orang Afrika. Lirik lagu Brown Sugar sejak awal mengandung beban historis yang berat.

Namun, alih-alih menyajikan narasi empatik atau reflektif, lagu ini dibalut dalam irama rock yang enerjik dan sensual. Di sinilah muncul ketegangan utama: antara bentuk musikal yang merayakan kebebasan dan kesenangan, dengan isi lirik yang berakar pada penindasan dan eksploitasi.

Hermeneutika Teks Lagu: Distansiasi dan Ambiguitas Makna

Paul Ricoeur menekankan bahwa teks, setelah dilepaskan dari pengarangnya, mengalami distansiasi, ia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh niat awal pencipta (Ricoeur, Interpretation Theory, 1976). Dalam konteks Brown Sugar, pernyataan Mick Jagger bahwa lagu ini bersifat “provokatif” atau “ironis” tidak cukup untuk menutup kemungkinan tafsir yang berlawanan.

Frasa brown sugar dalam pembacaan hermeneutik berlapis dapat dimaknai sebagai: 1). metafora seksual, 2). representasi perempuan Afrika-Amerika, 3). simbol komodifikasi tubuh dalam sistem perbudakan, 4). atau mitos rasial yang direproduksi dalam budaya populer.

Ricoeur menyebut proses ini sebagai surplus of meaning, yakni kelebihan makna yang muncul dari interaksi antara teks dan pembaca. Dalam hal ini, pembaca kontemporer terutama yang memiliki kesadaran pascakolonial, cenderung membaca lagu ini sebagai reproduksi kekerasan simbolik, bukan sekadar kritik terhadapnya.

Gadamer dan Kesadaran Historis: Membaca dari Horizon Kekinian

Hans-Georg Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu bersifat historis dan terjadi melalui fusion of horizons, pertemuan antara horison masa lalu dan masa kini (Truth and Method, 1960). Pada era 1970-an, Brown Sugar mungkin diterima sebagai bentuk keberanian artistik yang menabrak tabu. Namun, dalam horison etika kontemporer, lagu ini dibaca dengan sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap isu rasisme dan eksploitasi seksual.

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

Keputusan The Rolling Stones pada tahun-tahun terakhir untuk jarang atau bahkan tidak lagi membawakan Brown Sugar dalam konser menunjukkan adanya pergeseran kesadaran historis. Ini bukan sekadar soal “sensor”, melainkan refleksi bahwa makna teks telah berubah seiring perubahan nilai sosial. Dalam perspektif Gadamerian, perubahan ini justru menegaskan bahwa karya seni hidup melalui dialog historis, bukan dalam kekakuan makna tunggal.

Fetisisme, Tubuh, dan Kekuasaan: Analisis Kritis Budaya

Lirik “just like a young girl” menghadirkan persoalan serius terkait fetisisme dan relasi kuasa. Dalam kerangka teori budaya, terutama yang dipengaruhi pemikiran feminis dan poskolonial, tubuh perempuan kulit hitam dalam sejarah perbudakan sering direduksi menjadi objek ekonomi dan seksual.

Roland Barthes dalam Mythologies (1957) menjelaskan bagaimana budaya populer menciptakan mitos, representasi yang tampak “alami” tetapi sebenarnya sarat ideologi. Brown Sugar berpotensi membangun mitos erotisasi tubuh perempuan kulit hitam, yang tanpa konteks kritis dapat mengaburkan kekerasan struktural yang melatarbelakanginya.

Dengan demikian, meskipun lagu ini mungkin dimaksudkan sebagai provokasi atau kritik sosial, bentuk penyampaiannya justru berisiko mengulang logika dominasi yang ingin dikritiknya. Di sinilah letak paradoks etis musik populer.

Musik Populer sebagai Ruang Etika dan Kontestasi Makna

Dalam kajian komunikasi budaya, musik populer tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara masyarakat mengingat sejarah. James Carey (1989) memandang komunikasi sebagai ritual, yakni proses mempertahankan realitas bersama. Brown Sugar dalam kerangka ini, berfungsi sebagai ritual budaya yang menghidupkan kembali sejarah perbudakan, namun dengan cara yang problematis.

Lagu ini menjadi contoh bagaimana seni dapat sekaligus membuka ruang refleksi dan melukai ingatan kolektif. Ia memaksa pendengarnya untuk bertanya: apakah kebebasan artistik cukup untuk membenarkan representasi yang menyakitkan? Ataukah seni justru memiliki tanggung jawab etis terhadap sejarah yang diangkatnya?

Penutup

Melalui pembacaan hermeneutik, Brown Sugar karya The Rolling Stones tampil sebagai teks budaya yang ambigu, penuh ketegangan antara kritik dan reproduksi kekerasan simbolik. Lagu ini tidak dapat direduksi hanya sebagai produk zamannya, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari horison etika masa kini.

Pendekatan Ricoeur membantu kita memahami kelebihan makna yang terus berkembang; Gadamer mengingatkan bahwa tafsir selalu bersifat historis; sementara Barthes membuka mata kita terhadap mitos yang bekerja di balik representasi populer. Dengan demikian, Brown Sugar menjadi studi kasus penting tentang bagaimana musik populer dapat mempengaruhi, menantang, sekaligus mempertanyakan nilai-nilai sosial.

Alih-alih menolak atau mengagungkan lagu ini secara simplistik, pembacaan akademik mendorong kita untuk menjadikannya bahan refleksi kritis tentang relasi antara seni, sejarah, dan tanggung jawab etis dalam budaya populer. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bung Karno dalam Puisi   

Next Post

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co