26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
in Ulas Musik
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik.

Lagu Brown Sugar (1971) karya The Rolling Stones merupakan salah satu contoh paling kontroversial tentang bagaimana musik populer beroperasi di wilayah abu-abu antara ekspresi artistik, kritik sosial, dan reproduksi kekerasan simbolik. Sejak dirilis, lagu ini menuai pujian karena energi rock and roll-nya, namun sekaligus kritik keras karena liriknya yang menyinggung perbudakan, eksploitasi seksual, dan rasisme.

Esai ini bertujuan membaca Brown Sugar melalui pendekatan hermeneutika, khususnya dengan memanfaatkan gagasan Paul Ricoeur tentang teks dan distansiasi makna, Hans-Georg Gadamer tentang kesadaran historis (wirkungsgeschichtliches Bewusstsein), serta Roland Barthes mengenai mitos dan representasi budaya. Dengan pendekatan ini, lagu tidak dipahami hanya sebagai produk niat pengarang, melainkan sebagai teks budaya yang terus ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah.

Latar Sejarah dan Produksi Budaya Lagu Brown Sugar

Brown Sugar ditulis oleh Mick Jagger pada tahun 1969 ketika The Rolling Stones berada di Australia, dan dirilis secara resmi pada 1971 dalam album Sticky Fingers. Periode ini merupakan masa pergolakan sosial di dunia Barat: gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat, kritik terhadap kolonialisme, serta meningkatnya kesadaran akan sejarah perbudakan dan rasisme struktural.

Lirik lagu secara eksplisit merujuk pada “kapal perbudukan” yang berlayar dari Afrika ke New Orleans, sebuah rute historis perdagangan budak Atlantik. Frasa-frasa seperti “Gold Coast slave ship bound for cotton fields” tidak dapat dilepaskan dari sejarah kekerasan kolonial yang melibatkan pemindahan paksa jutaan orang Afrika. Lirik lagu Brown Sugar sejak awal mengandung beban historis yang berat.

Namun, alih-alih menyajikan narasi empatik atau reflektif, lagu ini dibalut dalam irama rock yang enerjik dan sensual. Di sinilah muncul ketegangan utama: antara bentuk musikal yang merayakan kebebasan dan kesenangan, dengan isi lirik yang berakar pada penindasan dan eksploitasi.

Hermeneutika Teks Lagu: Distansiasi dan Ambiguitas Makna

Paul Ricoeur menekankan bahwa teks, setelah dilepaskan dari pengarangnya, mengalami distansiasi, ia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh niat awal pencipta (Ricoeur, Interpretation Theory, 1976). Dalam konteks Brown Sugar, pernyataan Mick Jagger bahwa lagu ini bersifat “provokatif” atau “ironis” tidak cukup untuk menutup kemungkinan tafsir yang berlawanan.

Frasa brown sugar dalam pembacaan hermeneutik berlapis dapat dimaknai sebagai: 1). metafora seksual, 2). representasi perempuan Afrika-Amerika, 3). simbol komodifikasi tubuh dalam sistem perbudakan, 4). atau mitos rasial yang direproduksi dalam budaya populer.

Ricoeur menyebut proses ini sebagai surplus of meaning, yakni kelebihan makna yang muncul dari interaksi antara teks dan pembaca. Dalam hal ini, pembaca kontemporer terutama yang memiliki kesadaran pascakolonial, cenderung membaca lagu ini sebagai reproduksi kekerasan simbolik, bukan sekadar kritik terhadapnya.

Gadamer dan Kesadaran Historis: Membaca dari Horizon Kekinian

Hans-Georg Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu bersifat historis dan terjadi melalui fusion of horizons, pertemuan antara horison masa lalu dan masa kini (Truth and Method, 1960). Pada era 1970-an, Brown Sugar mungkin diterima sebagai bentuk keberanian artistik yang menabrak tabu. Namun, dalam horison etika kontemporer, lagu ini dibaca dengan sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap isu rasisme dan eksploitasi seksual.

The Rolling Stones | Ilustrasi dibuat dengan AI

Keputusan The Rolling Stones pada tahun-tahun terakhir untuk jarang atau bahkan tidak lagi membawakan Brown Sugar dalam konser menunjukkan adanya pergeseran kesadaran historis. Ini bukan sekadar soal “sensor”, melainkan refleksi bahwa makna teks telah berubah seiring perubahan nilai sosial. Dalam perspektif Gadamerian, perubahan ini justru menegaskan bahwa karya seni hidup melalui dialog historis, bukan dalam kekakuan makna tunggal.

Fetisisme, Tubuh, dan Kekuasaan: Analisis Kritis Budaya

Lirik “just like a young girl” menghadirkan persoalan serius terkait fetisisme dan relasi kuasa. Dalam kerangka teori budaya, terutama yang dipengaruhi pemikiran feminis dan poskolonial, tubuh perempuan kulit hitam dalam sejarah perbudakan sering direduksi menjadi objek ekonomi dan seksual.

Roland Barthes dalam Mythologies (1957) menjelaskan bagaimana budaya populer menciptakan mitos, representasi yang tampak “alami” tetapi sebenarnya sarat ideologi. Brown Sugar berpotensi membangun mitos erotisasi tubuh perempuan kulit hitam, yang tanpa konteks kritis dapat mengaburkan kekerasan struktural yang melatarbelakanginya.

Dengan demikian, meskipun lagu ini mungkin dimaksudkan sebagai provokasi atau kritik sosial, bentuk penyampaiannya justru berisiko mengulang logika dominasi yang ingin dikritiknya. Di sinilah letak paradoks etis musik populer.

Musik Populer sebagai Ruang Etika dan Kontestasi Makna

Dalam kajian komunikasi budaya, musik populer tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara masyarakat mengingat sejarah. James Carey (1989) memandang komunikasi sebagai ritual, yakni proses mempertahankan realitas bersama. Brown Sugar dalam kerangka ini, berfungsi sebagai ritual budaya yang menghidupkan kembali sejarah perbudakan, namun dengan cara yang problematis.

Lagu ini menjadi contoh bagaimana seni dapat sekaligus membuka ruang refleksi dan melukai ingatan kolektif. Ia memaksa pendengarnya untuk bertanya: apakah kebebasan artistik cukup untuk membenarkan representasi yang menyakitkan? Ataukah seni justru memiliki tanggung jawab etis terhadap sejarah yang diangkatnya?

Penutup

Melalui pembacaan hermeneutik, Brown Sugar karya The Rolling Stones tampil sebagai teks budaya yang ambigu, penuh ketegangan antara kritik dan reproduksi kekerasan simbolik. Lagu ini tidak dapat direduksi hanya sebagai produk zamannya, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari horison etika masa kini.

Pendekatan Ricoeur membantu kita memahami kelebihan makna yang terus berkembang; Gadamer mengingatkan bahwa tafsir selalu bersifat historis; sementara Barthes membuka mata kita terhadap mitos yang bekerja di balik representasi populer. Dengan demikian, Brown Sugar menjadi studi kasus penting tentang bagaimana musik populer dapat mempengaruhi, menantang, sekaligus mempertanyakan nilai-nilai sosial.

Alih-alih menolak atau mengagungkan lagu ini secara simplistik, pembacaan akademik mendorong kita untuk menjadikannya bahan refleksi kritis tentang relasi antara seni, sejarah, dan tanggung jawab etis dalam budaya populer. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bung Karno dalam Puisi   

Next Post

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co