4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 14, 2026
in Esai
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai

Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentukan oleh takdir, ataukah manusia memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri? Pertanyaan ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari filsafat Yunani, ajaran agama-agama besar, hingga ilmu pengetahuan modern.

Di satu sisi, kita melihat banyak hal yang tampaknya sudah ditentukan. Tidak seorang pun memilih untuk lahir dari orang tua tertentu, di negara tertentu, dengan kondisi fisik tertentu. Semua itu datang tanpa diminta. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana dua orang yang lahir dalam kondisi hampir sama dapat menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Yang satu menjadi pemimpin, yang lain menjadi pecundang. Yang satu tumbuh menjadi pribadi bijaksana, yang lain terjebak dalam kemarahan dan kebencian.

Di sinilah muncul perdebatan antara takdir dan kehendak bebas (free will). Sebagian orang melihat hidup sebagai rangkaian peristiwa yang telah ditentukan. Sebagian lainnya percaya bahwa manusia adalah pencipta nasibnya sendiri.

Namun, mungkin persoalannya bukan memilih salah satu di antara keduanya. Takdir dan kehendak bebas bukanlah musuh. Keduanya justru saling melengkapi dalam proses pertumbuhan manusia.

Perspektif ini menjadi lebih menarik ketika dilihat melalui konsep Pancakosha dalam Sanatana Dharma dan Peta Kesadaran David Hawkins.

Takdir sebagai Bahan Baku Kehidupan

Saya teringat sebuah analogi sederhana tentang sepotong kayu. Kayu jati memiliki sifat yang berbeda dengan kayu kamper atau mahoni. Seratnya berbeda, kekuatannya berbeda, aromanya berbeda. Ia tidak memilih menjadi kayu jati atau kayu kamper. Itulah kodratnya.

Demikian pula manusia.

Setiap orang lahir membawa “bahan baku” yang berbeda-beda. Ada yang lahir dengan tubuh sehat, ada yang lahir dengan keterbatasan fisik. Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan, ada yang lahir dalam kemiskinan. Ada yang dianugerahi kecerdasan tinggi, ada yang harus bekerja keras untuk mencapai hal yang sama.

Dalam perspektif Hindu, kondisi-kondisi ini sering dipahami sebagai bagian dari hukum karma. Takdir bukanlah hukuman dari Tuhan, melainkan konsekuensi dari rangkaian sebab-akibat yang panjang.

Melalui lensa Pancakosha, takdir terutama tampak pada lapisan Annamaya Kosha, tubuh fisik, dan sebagian pada Pranamaya Kosha, lapisan energi. Kita tidak memilih tubuh yang kita miliki, tetapi tubuh itulah kendaraan yang diberikan kepada kita.

Dalam bahasa sederhana, takdir adalah titik awal, bukan titik akhir.

Masalahnya, banyak orang mengira bahwa titik awal adalah keseluruhan cerita. Ketika mengalami kesulitan, mereka merasa menjadi korban keadaan. Mereka melihat hidup sebagai sesuatu yang menimpa mereka, bukan sesuatu yang dapat mereka tanggapi secara kreatif.

Di sinilah pentingnya memahami kehendak bebas.

Kehendak Bebas: Kemampuan Memberi Makna pada Takdir

Kehendak bebas bukanlah kemampuan untuk mengubah semua keadaan. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk memilih respons terhadap keadaan.

Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah mengatakan bahwa kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikap terhadap situasi yang tidak dapat diubah.

Pandangan ini sangat dekat dengan ajaran para Stoik dan juga filsafat Timur.

Kembali kepada analogi kayu. Kayu jati mungkin tidak dapat memilih menjadi cendana. Namun kayu jati masih dapat menjadi meja yang indah, ukiran yang bernilai seni tinggi, atau sekadar kayu bakar. Potensinya sama, hasil akhirnya berbeda.

Di sinilah kehendak bebas bekerja.

Dalam Pancakosha, kehendak bebas mulai berkembang kuat pada Manomaya Kosha dan terutama Vijnanamaya Kosha. Pada lapisan pikiran dan emosi, manusia mulai memiliki kemampuan untuk merefleksikan dirinya. Pada lapisan kebijaksanaan, manusia mampu melihat konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat.

Dengan kata lain, kehendak bebas bukan sekadar kebebasan memilih apa yang disukai ego. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk bertindak secara sadar.

Semakin sadar seseorang, semakin besar kebebasannya.

Sebaliknya, semakin tidak sadar seseorang, semakin ia dikendalikan oleh kebiasaan, ketakutan, kemarahan, dan dorongan-dorongan bawah sadar yang sebenarnya bukan hasil pilihannya.

Peta Kesadaran Hawkins: Dari Korban Takdir Menuju Tanggung Jawab

David Hawkins memberikan perspektif menarik melalui Peta Kesadaran yang terkenal.

Menurut Hawkins, tingkat kesadaran manusia bergerak dari level rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, ketakutan, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, cinta, damai, hingga pencerahan.

Pada tingkat kesadaran rendah, manusia cenderung melihat dirinya sebagai korban takdir.

Segala sesuatu dianggap berasal dari luar dirinya. Kegagalan selalu disebabkan oleh orang lain. Kesulitan hidup dianggap sebagai ketidakadilan nasib. Hidup dipenuhi keluhan dan penolakan.

Dalam kondisi ini, free will sesungguhnya sangat terbatas. Seseorang merasa bebas, tetapi sebenarnya sedang digerakkan oleh rasa takut, kebencian, iri hati, atau keinginan untuk berkuasa.

Perubahan besar terjadi pada level Keberanian (200).

Pada titik ini manusia mulai mengambil tanggung jawab atas hidupnya. Ia berhenti menyalahkan keadaan. Ia mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”

Ketika mencapai level Penerimaan (350), seseorang menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya, tetapi respons terhadap semua hal selalu berada dalam wilayah kebebasannya.

Pada level Cinta (500) dan Damai (600), pertentangan antara takdir dan kehendak bebas mulai mencair. Hidup tidak lagi dipandang sebagai arena pertarungan antara diri dan dunia. Setiap peristiwa menjadi kesempatan belajar dan bertumbuh.

Dalam bahasa spiritual, seseorang mulai melihat bahwa kehidupan memiliki kecerdasan yang lebih besar daripada ego individual.

Peran Guru dan Kesadaran dalam Mengolah Takdir

Dalam analogi kayu, terdapat satu unsur penting yang sering terlupakan: pemahat.

Kayu yang sama dapat menghasilkan karya yang berbeda tergantung pada siapa yang mengolahnya. Dalam kehidupan spiritual, pemahat ini dapat dianalogikan sebagai seorang Sadguru.

Sadguru tidak mengubah kayu jati menjadi kayu kamper. Ia tidak menghapus takdir seseorang. Yang dilakukan adalah membantu melihat potensi tertinggi yang tersembunyi dalam diri murid.

Banyak orang hidup hanya pada lapisan Annamaya Kosha dan Manomaya Kosha. Mereka sibuk dengan tubuh, emosi, dan pikiran. Akibatnya mereka mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Peran guru adalah membantu seseorang memasuki Vijnanamaya Kosha, lapisan kebijaksanaan. Dari sana ia mulai melihat pola-pola hidupnya dengan lebih jernih.

Dalam perspektif Hawkins, guru membantu menaikkan tingkat kesadaran seseorang sehingga ia tidak lagi bereaksi secara otomatis terhadap kehidupan.

Takdir yang dahulu tampak sebagai beban mulai dipahami sebagai pelajaran.

Penderitaan yang dahulu dianggap hukuman mulai dipahami sebagai kesempatan pertumbuhan.

Kegagalan yang dahulu dianggap akhir perjalanan mulai dipahami sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Pada titik ini, kehidupan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan sesuatu yang harus dipahami.

Ketika Takdir dan Kehendak Bebas Bertemu

Pada akhirnya, takdir dan kehendak bebas bukanlah dua kutub yang saling bertentangan.

Takdir adalah bahan baku kehidupan. Kehendak bebas adalah kemampuan mengolah bahan baku tersebut. Kesadaran adalah kualitas pengolahannya.

Semakin rendah kesadaran seseorang, semakin ia merasa hidupnya ditentukan oleh nasib. Semakin tinggi kesadarannya, semakin ia menyadari bahwa setiap peristiwa dapat menjadi sarana pertumbuhan.

Dalam Pancakosha, perjalanan spiritual adalah perjalanan dari identifikasi dengan tubuh menuju kesadaran yang lebih luas hingga mencapai Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini, pertentangan antara takdir dan kehendak bebas mulai menghilang.

Demikian pula dalam Peta Kesadaran Hawkins. Pada tingkat Damai dan Pencerahan, manusia tidak lagi sibuk mempertahankan kehendak ego. Ia menemukan keselarasan dengan arus kehidupan yang lebih besar.

Inilah makna terdalam dari kebebasan. Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk menjadi diri yang sejati. Bukan kebebasan melawan takdir, melainkan kebebasan untuk mewujudkan potensi tertinggi yang terkandung di dalam takdir itu sendiri.

Seperti sepotong kayu di tangan pemahat agung, kehidupan setiap manusia menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang belum terwujud. Takdir menyediakan kayunya. Kehendak bebas menyediakan kesediaan untuk dibentuk. Kesadaran menentukan keindahan hasil akhirnya. Dan di sanalah perjalanan manusia menemukan maknanya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hawkinskebebasanpancakoshatakdir
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Next Post

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 4, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co