3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
May 23, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Vito Prasetyo

Di Kampung Rawa

di pagi yang memagut embun selatan
jejak-jejak kaki tua terbenam pelan
antara pasir lembut dan bisikan angin
kutemukan nyanyian yang nyaris padam
dari lidah gelombang dan desir kenangan

pohon pinus berdiri setengah miring
menggigil, menatap bibir tembok yang kusam
dan dari kejauhan, anak-anak memahat topeng
dari cerita leluhur yang tinggal dalam debu
tersemat di dinding waktu yang mulai beruban

seekor burung camar melintasi ufuk
membawa serpihan suara dari masa lalu
gamelan tak lagi bergema di Kampung Rawa
hanya dengung mesin dan riuh asap polusi
yang menari di bawah payung matahari

aku melangkah, telanjang kaki
menyusun kembali arti kampung halaman
antara ladang cabai yang ditinggal musim
dan laut biru yang perlahan kelam
menyimpan doa-doa yang tak sempat tumbuh

di tanah Kampung Rawa,
jejakku menyapa jejakmu
mungkin nanti, bila alam masih bersabar
kita akan pulang dalam lagu yang tak lagi didendangkan
dan menari bersama
dalam damai yang tak tergerus waktu

2026

Nyanyian Rimba

di bawah bulan yang tampak seperti
lentera duka para leluhur,
aku menyaksikan hutan itu
yang dulu bernapas bagai gamelan hidup
kini berdiri sebagai biara luka
tanpa doa, tanpa nada

asap membumbung dari tanah-tanah adat
seperti roh-roh suku rimba pedalaman
yang diusir dari tubuh mereka sendiri,
menangis dalam bahasa
yang hanya dimengerti burung-burung
dan telah lama pergi berkalang tanah

di sebuah sungai yang mengalir ke jantung malam,
air berubah menjadi kain kafan hitam
membawa kisah-kisah usang
yang tercabik
ditebang-dan-dibakar,
menyeretnya jauh ke muara
tempat laut pun ikut berkabung

dari kejauhan,
bayangan-bayangan tanpa wajah
memakan akar-akar doa
mengunyah sunyi,
meneguk cahaya

dan hutan,
yang dulu memeluk tanah-tanah ini
dengan harum lumut dan hujan
kini berbaring sebagai mayat rimba
menatap langit dengan mata kosong
yang pernah kita sebut: rumah!

Singosari, 2026

Nyala Api

dari diam, aku belajar menjadi kata
dari sunyi, aku belajar menjadi puisi
dan dari gelap, aku belajar menjadi nyala api
dari luka, aku belajar mencintai tanpa rasa sakit
dari reruntuhan, aku belajar berdiri sebagai debu

aku berdoa dengan sumpah, beriman pada keraguan
aku menyala untuk mengerti kehancuran
hidup sebagai kematian yang menolak selesai

sebab di jantung malam, terang dilahirkan bukan sebagai nyala
tetapi percikan cahaya yang sempurnakan doa

Malang, 2026

Serupa Moksa

seperti napas yang membeku di ruang sempit
tak ada cahaya seruncing matahari
ia bukan sekadar kata,
melainkan waktu yang mengeras
di sekitar napas yang belum sempat memilih hidup
ia berayun pelan,
begitu dekat dengan nadi
mengukur denyut jantung
seperti algojo yang sabar dan hafal ritme ketakutan
aroma itu tak pernah berhenti tumbuh,
memanjang dari dapur yang lapar,
dari lantai yang dingin,
menyusuri lorong malam menuju semesta mimpimu
yang tiris dan berbau debu
di sana,
ia menyelinap ke dalam tidur
menggantungkan bayangan
di atas kepala seorang makhluk kecil
yang belajar diam sebelum belajar bicara
kata-kata selalu datang terlambat,
telah pecah sejak di dada
terlepas satu per satu
seperti tulang kecil yang patah tanpa suara
tidak ada teriakan,
hanya sunyi yang menggigil dingin
dari napas pendek
yang diajarkan dunia
dan terlalu dini menjadi metafora

Singosari, 2026

Arwah Mata Angin

aku mencari mata angin
ke dalam tubuh batu
yang semula sempat menjadi angin,
lalu engkau datang membawa pesan
ia telah menjadi arwah

ketika badai angin tidak lagi serupa musim,
waktu berputar terbalik, memuntahkan senyap
angin meluruh jadi kelam
batu-batu menjadi bisu
dan aku,
mencari suara dalam jejak-jejak bayang

di sini, kita hanya makna yang terlupakan
di balik dinding angin yang telah lupa berbisik
bukan hampa, bukan kosong
tapi sebuah ruang yang melawan dirinya sendiri
seperti arwah yang menuntut penjelasan dari kesunyian

kau dan aku adalah gelombang,
terperangkap di antara dua ruang
berpendar, pecah, menjadi kepingan-kepingan
yang tak saling bersentuhan
batu itu menyimpan angin
bukan dalam bentuknya
tapi dalam ketiadaannya

badai tidak lagi mengenal musim
seperti cinta yang menolak bentuk
menjadi kita, menjadi tanpa wujud
seperti suara yang menghilang di tengah malam

Singosari, 2026

Sebelum Kata

di retaknya ruang batin,
kata tumbuh tanpa sebutan
bukan untuk pulang,
hanya singgah sebagai makna di luka yang diam

waktu menyusut, metafora pun terbuka
dalam denyut yang ingin tetap ada

sunyi tak pernah pergi, hanya dilewati
sebagai jembatan tipis
dari luka ke napas yang belum selesai

Singosari, 2026

Aku Pulang

aku pulang, kepada puisi yang kehilangan kata-kata
setelah museum ingatan serupa barang bekas
luka-luka digantung di dinding waktu,
namamu terpaku pada engsel pintu yang enggan tertutup sempurna

engkau mungkin masih ingat
ketika di penghujung kemarau,
dedaunan tidak lagi menyisakan semerbak aroma
hanya tersisa debu, yang menempel tebal
pada napas yang dulu bernyanyi untuk langit

aku berjalan melewati bayang-bayang
yang tumbuh dari kakiku sendiri
mencari makna dalam gema langkah yang tak pernah dijawab bumi
segalanya jadi asing—seperti cinta yang lupa bentuknya
atau doa yang dikembalikan oleh langit tanpa pesan balasan

di lorong sunyi itu,
kupungut kembali diriku yang tercecer dalam fragmen kematian
mata yang pernah melihatmu sebagai pusat semesta
tangan yang terbiasa menulis namamu pada tepi jendela
dan dadaku yang kosong
seperti gereja tua tempat Tuhan tidak lagi tinggal

barangkali, ini bukan tentang pulang
melainkan tentang menyadari bahwa rumah
adalah ilusi yang dibangun dari kenangan retak
bahwa mencintaimu adalah upaya memeluk angin
hangat sesaat, lalu lenyap ke langit yang tidak pernah sama

aku pulang, tapi tidak untuk tinggal
aku pulang untuk mengubur jejak
dengan lukisan yang kupahat dari sunyi
di bawah pohon yang tak lagi mengenali musim

dan di sana,
di titik paling sunyi dari diriku
aku mendengar namamu
bukan sebagai seseorang
tapi gema dari sebuah kehilangan yang paling sabar

Malang, 2026

.

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Next Post

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co