3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
May 23, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Vito Prasetyo

Di Kampung Rawa

di pagi yang memagut embun selatan
jejak-jejak kaki tua terbenam pelan
antara pasir lembut dan bisikan angin
kutemukan nyanyian yang nyaris padam
dari lidah gelombang dan desir kenangan

pohon pinus berdiri setengah miring
menggigil, menatap bibir tembok yang kusam
dan dari kejauhan, anak-anak memahat topeng
dari cerita leluhur yang tinggal dalam debu
tersemat di dinding waktu yang mulai beruban

seekor burung camar melintasi ufuk
membawa serpihan suara dari masa lalu
gamelan tak lagi bergema di Kampung Rawa
hanya dengung mesin dan riuh asap polusi
yang menari di bawah payung matahari

aku melangkah, telanjang kaki
menyusun kembali arti kampung halaman
antara ladang cabai yang ditinggal musim
dan laut biru yang perlahan kelam
menyimpan doa-doa yang tak sempat tumbuh

di tanah Kampung Rawa,
jejakku menyapa jejakmu
mungkin nanti, bila alam masih bersabar
kita akan pulang dalam lagu yang tak lagi didendangkan
dan menari bersama
dalam damai yang tak tergerus waktu

2026

Nyanyian Rimba

di bawah bulan yang tampak seperti
lentera duka para leluhur,
aku menyaksikan hutan itu
yang dulu bernapas bagai gamelan hidup
kini berdiri sebagai biara luka
tanpa doa, tanpa nada

asap membumbung dari tanah-tanah adat
seperti roh-roh suku rimba pedalaman
yang diusir dari tubuh mereka sendiri,
menangis dalam bahasa
yang hanya dimengerti burung-burung
dan telah lama pergi berkalang tanah

di sebuah sungai yang mengalir ke jantung malam,
air berubah menjadi kain kafan hitam
membawa kisah-kisah usang
yang tercabik
ditebang-dan-dibakar,
menyeretnya jauh ke muara
tempat laut pun ikut berkabung

dari kejauhan,
bayangan-bayangan tanpa wajah
memakan akar-akar doa
mengunyah sunyi,
meneguk cahaya

dan hutan,
yang dulu memeluk tanah-tanah ini
dengan harum lumut dan hujan
kini berbaring sebagai mayat rimba
menatap langit dengan mata kosong
yang pernah kita sebut: rumah!

Singosari, 2026

Nyala Api

dari diam, aku belajar menjadi kata
dari sunyi, aku belajar menjadi puisi
dan dari gelap, aku belajar menjadi nyala api
dari luka, aku belajar mencintai tanpa rasa sakit
dari reruntuhan, aku belajar berdiri sebagai debu

aku berdoa dengan sumpah, beriman pada keraguan
aku menyala untuk mengerti kehancuran
hidup sebagai kematian yang menolak selesai

sebab di jantung malam, terang dilahirkan bukan sebagai nyala
tetapi percikan cahaya yang sempurnakan doa

Malang, 2026

Serupa Moksa

seperti napas yang membeku di ruang sempit
tak ada cahaya seruncing matahari
ia bukan sekadar kata,
melainkan waktu yang mengeras
di sekitar napas yang belum sempat memilih hidup
ia berayun pelan,
begitu dekat dengan nadi
mengukur denyut jantung
seperti algojo yang sabar dan hafal ritme ketakutan
aroma itu tak pernah berhenti tumbuh,
memanjang dari dapur yang lapar,
dari lantai yang dingin,
menyusuri lorong malam menuju semesta mimpimu
yang tiris dan berbau debu
di sana,
ia menyelinap ke dalam tidur
menggantungkan bayangan
di atas kepala seorang makhluk kecil
yang belajar diam sebelum belajar bicara
kata-kata selalu datang terlambat,
telah pecah sejak di dada
terlepas satu per satu
seperti tulang kecil yang patah tanpa suara
tidak ada teriakan,
hanya sunyi yang menggigil dingin
dari napas pendek
yang diajarkan dunia
dan terlalu dini menjadi metafora

Singosari, 2026

Arwah Mata Angin

aku mencari mata angin
ke dalam tubuh batu
yang semula sempat menjadi angin,
lalu engkau datang membawa pesan
ia telah menjadi arwah

ketika badai angin tidak lagi serupa musim,
waktu berputar terbalik, memuntahkan senyap
angin meluruh jadi kelam
batu-batu menjadi bisu
dan aku,
mencari suara dalam jejak-jejak bayang

di sini, kita hanya makna yang terlupakan
di balik dinding angin yang telah lupa berbisik
bukan hampa, bukan kosong
tapi sebuah ruang yang melawan dirinya sendiri
seperti arwah yang menuntut penjelasan dari kesunyian

kau dan aku adalah gelombang,
terperangkap di antara dua ruang
berpendar, pecah, menjadi kepingan-kepingan
yang tak saling bersentuhan
batu itu menyimpan angin
bukan dalam bentuknya
tapi dalam ketiadaannya

badai tidak lagi mengenal musim
seperti cinta yang menolak bentuk
menjadi kita, menjadi tanpa wujud
seperti suara yang menghilang di tengah malam

Singosari, 2026

Sebelum Kata

di retaknya ruang batin,
kata tumbuh tanpa sebutan
bukan untuk pulang,
hanya singgah sebagai makna di luka yang diam

waktu menyusut, metafora pun terbuka
dalam denyut yang ingin tetap ada

sunyi tak pernah pergi, hanya dilewati
sebagai jembatan tipis
dari luka ke napas yang belum selesai

Singosari, 2026

Aku Pulang

aku pulang, kepada puisi yang kehilangan kata-kata
setelah museum ingatan serupa barang bekas
luka-luka digantung di dinding waktu,
namamu terpaku pada engsel pintu yang enggan tertutup sempurna

engkau mungkin masih ingat
ketika di penghujung kemarau,
dedaunan tidak lagi menyisakan semerbak aroma
hanya tersisa debu, yang menempel tebal
pada napas yang dulu bernyanyi untuk langit

aku berjalan melewati bayang-bayang
yang tumbuh dari kakiku sendiri
mencari makna dalam gema langkah yang tak pernah dijawab bumi
segalanya jadi asing—seperti cinta yang lupa bentuknya
atau doa yang dikembalikan oleh langit tanpa pesan balasan

di lorong sunyi itu,
kupungut kembali diriku yang tercecer dalam fragmen kematian
mata yang pernah melihatmu sebagai pusat semesta
tangan yang terbiasa menulis namamu pada tepi jendela
dan dadaku yang kosong
seperti gereja tua tempat Tuhan tidak lagi tinggal

barangkali, ini bukan tentang pulang
melainkan tentang menyadari bahwa rumah
adalah ilusi yang dibangun dari kenangan retak
bahwa mencintaimu adalah upaya memeluk angin
hangat sesaat, lalu lenyap ke langit yang tidak pernah sama

aku pulang, tapi tidak untuk tinggal
aku pulang untuk mengubur jejak
dengan lukisan yang kupahat dari sunyi
di bawah pohon yang tak lagi mengenali musim

dan di sana,
di titik paling sunyi dari diriku
aku mendengar namamu
bukan sebagai seseorang
tapi gema dari sebuah kehilangan yang paling sabar

Malang, 2026

.

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Next Post

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails
Next Post
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co