Di Kampung Rawa
di pagi yang memagut embun selatan
jejak-jejak kaki tua terbenam pelan
antara pasir lembut dan bisikan angin
kutemukan nyanyian yang nyaris padam
dari lidah gelombang dan desir kenangan
pohon pinus berdiri setengah miring
menggigil, menatap bibir tembok yang kusam
dan dari kejauhan, anak-anak memahat topeng
dari cerita leluhur yang tinggal dalam debu
tersemat di dinding waktu yang mulai beruban
seekor burung camar melintasi ufuk
membawa serpihan suara dari masa lalu
gamelan tak lagi bergema di Kampung Rawa
hanya dengung mesin dan riuh asap polusi
yang menari di bawah payung matahari
aku melangkah, telanjang kaki
menyusun kembali arti kampung halaman
antara ladang cabai yang ditinggal musim
dan laut biru yang perlahan kelam
menyimpan doa-doa yang tak sempat tumbuh
di tanah Kampung Rawa,
jejakku menyapa jejakmu
mungkin nanti, bila alam masih bersabar
kita akan pulang dalam lagu yang tak lagi didendangkan
dan menari bersama
dalam damai yang tak tergerus waktu
2026
Nyanyian Rimba
di bawah bulan yang tampak seperti
lentera duka para leluhur,
aku menyaksikan hutan itu
yang dulu bernapas bagai gamelan hidup
kini berdiri sebagai biara luka
tanpa doa, tanpa nada
asap membumbung dari tanah-tanah adat
seperti roh-roh suku rimba pedalaman
yang diusir dari tubuh mereka sendiri,
menangis dalam bahasa
yang hanya dimengerti burung-burung
dan telah lama pergi berkalang tanah
di sebuah sungai yang mengalir ke jantung malam,
air berubah menjadi kain kafan hitam
membawa kisah-kisah usang
yang tercabik
ditebang-dan-dibakar,
menyeretnya jauh ke muara
tempat laut pun ikut berkabung
dari kejauhan,
bayangan-bayangan tanpa wajah
memakan akar-akar doa
mengunyah sunyi,
meneguk cahaya
dan hutan,
yang dulu memeluk tanah-tanah ini
dengan harum lumut dan hujan
kini berbaring sebagai mayat rimba
menatap langit dengan mata kosong
yang pernah kita sebut: rumah!
Singosari, 2026
Nyala Api
dari diam, aku belajar menjadi kata
dari sunyi, aku belajar menjadi puisi
dan dari gelap, aku belajar menjadi nyala api
dari luka, aku belajar mencintai tanpa rasa sakit
dari reruntuhan, aku belajar berdiri sebagai debu
aku berdoa dengan sumpah, beriman pada keraguan
aku menyala untuk mengerti kehancuran
hidup sebagai kematian yang menolak selesai
sebab di jantung malam, terang dilahirkan bukan sebagai nyala
tetapi percikan cahaya yang sempurnakan doa
Malang, 2026
Serupa Moksa
seperti napas yang membeku di ruang sempit
tak ada cahaya seruncing matahari
ia bukan sekadar kata,
melainkan waktu yang mengeras
di sekitar napas yang belum sempat memilih hidup
ia berayun pelan,
begitu dekat dengan nadi
mengukur denyut jantung
seperti algojo yang sabar dan hafal ritme ketakutan
aroma itu tak pernah berhenti tumbuh,
memanjang dari dapur yang lapar,
dari lantai yang dingin,
menyusuri lorong malam menuju semesta mimpimu
yang tiris dan berbau debu
di sana,
ia menyelinap ke dalam tidur
menggantungkan bayangan
di atas kepala seorang makhluk kecil
yang belajar diam sebelum belajar bicara
kata-kata selalu datang terlambat,
telah pecah sejak di dada
terlepas satu per satu
seperti tulang kecil yang patah tanpa suara
tidak ada teriakan,
hanya sunyi yang menggigil dingin
dari napas pendek
yang diajarkan dunia
dan terlalu dini menjadi metafora
Singosari, 2026
Arwah Mata Angin
aku mencari mata angin
ke dalam tubuh batu
yang semula sempat menjadi angin,
lalu engkau datang membawa pesan
ia telah menjadi arwah
ketika badai angin tidak lagi serupa musim,
waktu berputar terbalik, memuntahkan senyap
angin meluruh jadi kelam
batu-batu menjadi bisu
dan aku,
mencari suara dalam jejak-jejak bayang
di sini, kita hanya makna yang terlupakan
di balik dinding angin yang telah lupa berbisik
bukan hampa, bukan kosong
tapi sebuah ruang yang melawan dirinya sendiri
seperti arwah yang menuntut penjelasan dari kesunyian
kau dan aku adalah gelombang,
terperangkap di antara dua ruang
berpendar, pecah, menjadi kepingan-kepingan
yang tak saling bersentuhan
batu itu menyimpan angin
bukan dalam bentuknya
tapi dalam ketiadaannya
badai tidak lagi mengenal musim
seperti cinta yang menolak bentuk
menjadi kita, menjadi tanpa wujud
seperti suara yang menghilang di tengah malam
Singosari, 2026
Sebelum Kata
di retaknya ruang batin,
kata tumbuh tanpa sebutan
bukan untuk pulang,
hanya singgah sebagai makna di luka yang diam
waktu menyusut, metafora pun terbuka
dalam denyut yang ingin tetap ada
sunyi tak pernah pergi, hanya dilewati
sebagai jembatan tipis
dari luka ke napas yang belum selesai
Singosari, 2026
Aku Pulang
aku pulang, kepada puisi yang kehilangan kata-kata
setelah museum ingatan serupa barang bekas
luka-luka digantung di dinding waktu,
namamu terpaku pada engsel pintu yang enggan tertutup sempurna
engkau mungkin masih ingat
ketika di penghujung kemarau,
dedaunan tidak lagi menyisakan semerbak aroma
hanya tersisa debu, yang menempel tebal
pada napas yang dulu bernyanyi untuk langit
aku berjalan melewati bayang-bayang
yang tumbuh dari kakiku sendiri
mencari makna dalam gema langkah yang tak pernah dijawab bumi
segalanya jadi asing—seperti cinta yang lupa bentuknya
atau doa yang dikembalikan oleh langit tanpa pesan balasan
di lorong sunyi itu,
kupungut kembali diriku yang tercecer dalam fragmen kematian
mata yang pernah melihatmu sebagai pusat semesta
tangan yang terbiasa menulis namamu pada tepi jendela
dan dadaku yang kosong
seperti gereja tua tempat Tuhan tidak lagi tinggal
barangkali, ini bukan tentang pulang
melainkan tentang menyadari bahwa rumah
adalah ilusi yang dibangun dari kenangan retak
bahwa mencintaimu adalah upaya memeluk angin
hangat sesaat, lalu lenyap ke langit yang tidak pernah sama
aku pulang, tapi tidak untuk tinggal
aku pulang untuk mengubur jejak
dengan lukisan yang kupahat dari sunyi
di bawah pohon yang tak lagi mengenali musim
dan di sana,
di titik paling sunyi dari diriku
aku mendengar namamu
bukan sebagai seseorang
tapi gema dari sebuah kehilangan yang paling sabar
Malang, 2026
.
Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole





























