TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI
Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahku
Demi janji-janji yang pernah kita pahat
Di bongkah batu gunung olives
Tahukah engkau, sayangku
Perjalanan panjang ke Jerusalem amat menyesakkan
Debu-debu yang memedihkan mata
Kerikil-kerikil tajam yang melukakan
Dari tangisanku yang telah kering dibawa bahang gurun
Tatkala aku melepaskan lelah di bawah bayang-bayang sepohon tamar
Dalam samar dan keliru fatamorgana di kaki langit
Aku melihat engkau melambai di bawah rindang pohon zaitun
Sayang aku mungkin tidak akan sampai di Getsemani
Karena waktu sedang menghunuskan pedang kematian
Dan Malaikatul Maut menatap hayatku dengan nyala matanya
Sayang, usaplah luka-luka di tubuhku
Dan maaf andai darahku memercik di bajumu
Hidup tak pernah indah seperti yang pernah kita selalu bayangkan
Dan ia tak semudah meneguk air anggur dan memamah sepotong roti
Bahkan ia lebih menyakitkan daripada menuju Golgota
Sesayup gema adzan dari menara Al-aqsa
Aku mendengar bisikmu dibawa angin
“Eli Eli lama sabakhtani..”
Sayang, ijinkan aku mencintaimu pada hela nafas terakhirku
Boyolali 26
SAJAK CINTA UNTUK SESEORANG
Ada waktunya cinta tak perlu pun kata-kata indah untuk diungkapkan
Apabila diam itu sudah cukup mengisyaratkannya
Sebagaimana unggun api mengisyaratkan keberadaannya dengan kepul asapnya
Mengertilah
Ia bagai cahaya yang menerbitkan bentuk dan rupa pada bayang-bayang
Meskipun ia tak diungkapkan
Dan bayang-bayang tak perlu sesempurna objek asalnya, cukuplah ia bersederhana dengan cahaya yang samar-samar
Maka aku memilih untuk mencintai dengan cara paling sederhana
Pada setiap musim ada daun yang akan luruh
Dan bercambah, saling bergantian untuk meranumkan pohon
Meskipun kita tak selalu abadi seperti putaran arloji waktu
Tetapi kita ingin hidup dalam nama cinta yang tak pernah mati
Biarpun suatu ketika nanti nafas kita hanya tinggal harum kamboja di kuburan
Kusimpan sepimu jauh di dasar sanubari terdalam
Terpendam dalam kelam diammu
Karena aku mengerti
Engkau adalah cahaya yang tersaput gelap yang hitam
Menanti bias dari sumber
Cahaya segala cahaya
Boyolali 26
SUATU KETIKA
Jangan engkau tanya
Mengapa aku enggan mengutip sepi
Yang terselip di antara batu dan lumut
Karena seperti selalu
Engkau tak pernah memahami bahasa diam
Biarlah waktu meranumkan sepi menjadi doa
Agar kabus yang singgah mengapungkannya ke langit Tuhan
Meskipun engkau memang tak ingin memahaminya
Boyolali 26
TENTANG AIRMATA
Usah bertanya tentang airmatamu
Yang menetes di ujung senja kemarin
Karena aku telah memupuk jernihnya
Menjadi sekuntum bulan yang berkembang
Pada saat malam pertama
Menyapu warna gelapnya di ujung benua dan lautan
Boyolali 26
.
Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole





























