5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 4, 2026
in Esai
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia. Ada amplop dengan perangko bergambar burung, bunga, juga tokoh-tokoh yang dulu terasa asing bagi anak kecil di Bali seperti saya. Tulisan tangan di tiap surat berbeda-beda. Ada yang rapi seperti huruf cetak, yang miring dan tergesa-gesa. Dan, ada pula yang tintanya mulai pudar, nyaris tak terbaca.

Saya membuka satu per satu surat itu seperti membuka kembali masa kecil sendiri. Dulu, sejak sekolah dasar, saya punya hobi korespondensi atau surat-menyurat. Saya memiliki banyak sahabat pena dari berbagai kota di Indonesia. Ada juga dari luar negeri. Saya lupa bagaimana awalnya. Mungkin dari rubrik majalah anak-anak, mungkin juga dari alamat yang dibagikan teman. Yang saya ingat, setiap pulang sekolah, saya sering menunggu tukang pos lewat di depan rumah.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menerima surat pada masa itu. Rasanya berbeda dengan notifikasi telepon genggam hari ini. Surat datang bersama waktu tunggu. Kadang seminggu, dua minggu, bahkan sebulan. Namun justru karena penantian itu, surat terasa lebih berarti.

Saya membaca surat berkali-kali. Menghafal nama pengirimnya. Membayangkan kota tempat ia tinggal, dan bagaimana wajah orang yang menulis huruf-huruf itu. Pada masa ketika internet belum akrab bagi anak-anak sekolah dasar, surat membuat dunia terasa lebih luas. Agaknya dari sana keterampilan menulis saya mulai diasah secara perlahan.

Korespondensi terlihat sederhana, bahkan mungkin sepele bagi generasi sekarang. Namun diam-diam ia melatih banyak hal. Ia mengajarkan seseorang menyusun pikiran, memilih kata, menceritakan pengalaman, juga menerjemahkan perasaan ke dalam tulisan. Ketika menulis surat, seseorang belajar berbicara tanpa suara.

Saya sering berpikir, masihkah hal semacam itu diajarkan di sekolah-sekolah hari ini? Atau jangan-jangan ia telah lama hilang, tergantikan oleh layar percakapan digital yang serba cepat.

Di sekolah dulu, pelajaran menulis surat pribadi masih dianggap penting. Guru meminta kami menulis surat kepada teman, keluarga, atau tokoh tertentu. Kami belajar menulis alamat pada amplop. Belajar membedakan surat resmi dan surat pribadi. Belajar bagaimana membuka percakapan dengan sopan, belajar bagaimana menutup surat dengan hangat.

Mungkin saat itu kami tidak sadar bahwa semua itu sesungguhnya adalah latihan literasi. Hari ini, teknologi memang berkembang jauh lebih modern. Anak-anak sekolah bisa berkomunikasi dalam hitungan detik. Pesan dikirim tanpa perangko. Tanpa amplop, dan arus menunggu tukang pos. Dunia terasa jauh lebih cepat.

Namun ada sesuatu yang perlahan ikut hilang dalam kecepatan itu. Saya sering menerima pesan singkat yang hanya berisi satu huruf: “P”. Entah sejak kapan budaya itu menjadi lazim. Huruf tunggal itu bisa berarti banyak hal. Permisi. Ping. Panggil. Atau sekadar tanda seseorang ingin memulai percakapan tanpa tahu bagaimana membuka kalimat dengan utuh.

Kadang saya membayangkan, betapa jauhnya jarak antara sepucuk surat beberapa halaman dengan satu huruf “P”. Bukan berarti generasi sekarang malas. Mereka hanya tumbuh dalam budaya komunikasi yang berbeda. Dunia digital mendorong manusia berbicara lebih cepat, singkat, dan praktis. Sayangnya, tidak semua hal bisa disampaikan dengan baik dalam komunikasi yang serba dipadatkan.

Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengirim ratusan pesan dalam sehari, tetapi semakin sulit menjelaskan isi hati sendiri. Padahal kemampuan menulis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk lewat kebiasaan. Lewat latihan yang terus-menerus, dan keberanian menuangkan pikiran secara utuh.

Karena itu, kemampuan seseorang dalam menulis sering kali terlihat bahkan dari pesan singkat yang ia kirim. Cara menyusun kalimat, memilih kata, menggunakan tanda baca, hingga cara menyampaikan maksud memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir. Menulis bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah cara manusia menata isi kepala.

Dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, saya semakin sering menemukan ironi itu. Banyak orang berpendidikan tinggi, bahkan mahasiswa, masih kesulitan menjelaskan sesuatu secara runtut lewat tulisan. Pesan-pesan yang dikirim kadang meloncat-loncat, tanpa struktur, dan tanpa konteks yang jelas. Tidak sedikit yang menulis seperti sedang terburu-buru mengejar sesuatu.

Barangkali karena memang dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Media sosial membuat semua orang ingin segera merespons. Segera berkomentar, membalas, dan segera viral. Dalam suasana seperti itu, kemampuan merenung perlahan menjadi barang mewah.

Padahal menulis surat dulu justru mengajarkan kebalikannya. Surat membuat seseorang berpikir sebelum berbicara. Sebab sekali surat dikirim, ia tidak bisa diedit seperti pesan digital masa kini. Karena itu orang lebih hati-hati memilih kata, lebih sabar menyusun kalimat. Selain itu, lebih sungguh-sungguh menjelaskan maksud.

Mungkin itu pula sebabnya surat terasa lebih manusiawi. Tulisan tangan menyimpan emosi yang tak selalu bisa dijelaskan teknologi. Dari bentuk huruf saja, kadang kita bisa menebak suasana hati seseorang. Ada tulisan yang tampak ceria, gugup, ada yang seperti ditulis sambil menangis. Bahkan coretan kecil dan bekas tinta sering terasa lebih hidup dibanding ribuan emoji.

Saya masih ingat bagaimana dulu beberapa surat disemprot parfum tipis-tipis oleh pengirimnya. Hal sederhana seperti itu kini nyaris tak ditemukan lagi. Komunikasi digital memang membuat segalanya mudah, tetapi sering kehilangan jejak personal.

Bahkan rasa rindu hari ini terasa berbeda. Dulu, kerinduan membutuhkan waktu. Orang menunggu balasan surat dengan sabar. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Ada ruang kosong yang membuat perasaan tumbuh perlahan. Sekarang, pesan yang tak dibalas beberapa menit saja bisa membuat orang gelisah.

Mungkin teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi sekaligus mengurangi kemampuan manusia menikmati jeda.

Saya teringat ibu angkat saya yang dulu juga memiliki sahabat pena dari Australia bernama Shelly. Mereka saling berkirim surat selama bertahun-tahun. Dari hubungan yang awalnya hanya tulisan di atas kertas, tumbuh persahabatan lintas negara yang nyata. Surat menjadi jembatan budaya, juga jembatan kemanusiaan.

Hari ini, dunia memang terasa lebih dekat lewat internet. Namun kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan emosional.

Kita mungkin memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar mendalam. Karena itu saya merasa korespondensi sesungguhnya bukan cuma soal surat-menyurat. Ia adalah latihan memahami manusia lain. Ketika menulis surat, seseorang belajar membayangkan perasaan penerimanya. Belajar memilih kata agar tidak melukai. Belajar menyampaikan cerita dengan utuh.

Bukankah itu juga inti dari pendidikan? Sayangnya, sekolah hari ini tampaknya lebih sibuk mengejar kemampuan teknis dibanding kemampuan mengolah rasa dan pikiran. Anak-anak diajarkan menggunakan teknologi sejak dini, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana menyampaikan isi hati dengan baik.

Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku atau mendapat nilai bagus di kelas bahasa Indonesia. Literasi juga menyangkut kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Dan salah satu latihan paling sederhana untuk itu pernah bernama surat-menyurat.

Saya tidak sedang mengajak generasi sekarang kembali hidup tanpa teknologi. Itu mustahil. Dunia memang berubah. Teknologi membawa banyak kemudahan yang tidak bisa ditolak. Saya sendiri menggunakan telepon pintar setiap hari. Mengirim pesan, membaca berita, bekerja lewat internet.

Namun di tengah semua kemudahan itu, saya kira kita tetap perlu mempertanyakan satu hal penting: apakah manusia modern masih benar-benar mampu berbicara satu sama lain secara utuh? Atau jangan-jangan kita hanya semakin mahir mengirim sinyal-sinyal pendek tanpa makna mendalam. Mungkin karena itu saya masih menyimpan surat-surat lama tersebut sampai hari ini. Bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa pernah ada masa ketika manusia meluangkan waktu cukup panjang hanya untuk berkata, “Apa kabar”. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan terburu-buru, pertanyaan sederhana itu justru semakin sulit dituliskan dengan sungguh-sungguh. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasakorespondensimenulissurat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

Next Post

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co