14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 4, 2026
in Esai
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia. Ada amplop dengan perangko bergambar burung, bunga, juga tokoh-tokoh yang dulu terasa asing bagi anak kecil di Bali seperti saya. Tulisan tangan di tiap surat berbeda-beda. Ada yang rapi seperti huruf cetak, yang miring dan tergesa-gesa. Dan, ada pula yang tintanya mulai pudar, nyaris tak terbaca.

Saya membuka satu per satu surat itu seperti membuka kembali masa kecil sendiri. Dulu, sejak sekolah dasar, saya punya hobi korespondensi atau surat-menyurat. Saya memiliki banyak sahabat pena dari berbagai kota di Indonesia. Ada juga dari luar negeri. Saya lupa bagaimana awalnya. Mungkin dari rubrik majalah anak-anak, mungkin juga dari alamat yang dibagikan teman. Yang saya ingat, setiap pulang sekolah, saya sering menunggu tukang pos lewat di depan rumah.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menerima surat pada masa itu. Rasanya berbeda dengan notifikasi telepon genggam hari ini. Surat datang bersama waktu tunggu. Kadang seminggu, dua minggu, bahkan sebulan. Namun justru karena penantian itu, surat terasa lebih berarti.

Saya membaca surat berkali-kali. Menghafal nama pengirimnya. Membayangkan kota tempat ia tinggal, dan bagaimana wajah orang yang menulis huruf-huruf itu. Pada masa ketika internet belum akrab bagi anak-anak sekolah dasar, surat membuat dunia terasa lebih luas. Agaknya dari sana keterampilan menulis saya mulai diasah secara perlahan.

Korespondensi terlihat sederhana, bahkan mungkin sepele bagi generasi sekarang. Namun diam-diam ia melatih banyak hal. Ia mengajarkan seseorang menyusun pikiran, memilih kata, menceritakan pengalaman, juga menerjemahkan perasaan ke dalam tulisan. Ketika menulis surat, seseorang belajar berbicara tanpa suara.

Saya sering berpikir, masihkah hal semacam itu diajarkan di sekolah-sekolah hari ini? Atau jangan-jangan ia telah lama hilang, tergantikan oleh layar percakapan digital yang serba cepat.

Di sekolah dulu, pelajaran menulis surat pribadi masih dianggap penting. Guru meminta kami menulis surat kepada teman, keluarga, atau tokoh tertentu. Kami belajar menulis alamat pada amplop. Belajar membedakan surat resmi dan surat pribadi. Belajar bagaimana membuka percakapan dengan sopan, belajar bagaimana menutup surat dengan hangat.

Mungkin saat itu kami tidak sadar bahwa semua itu sesungguhnya adalah latihan literasi. Hari ini, teknologi memang berkembang jauh lebih modern. Anak-anak sekolah bisa berkomunikasi dalam hitungan detik. Pesan dikirim tanpa perangko. Tanpa amplop, dan arus menunggu tukang pos. Dunia terasa jauh lebih cepat.

Namun ada sesuatu yang perlahan ikut hilang dalam kecepatan itu. Saya sering menerima pesan singkat yang hanya berisi satu huruf: “P”. Entah sejak kapan budaya itu menjadi lazim. Huruf tunggal itu bisa berarti banyak hal. Permisi. Ping. Panggil. Atau sekadar tanda seseorang ingin memulai percakapan tanpa tahu bagaimana membuka kalimat dengan utuh.

Kadang saya membayangkan, betapa jauhnya jarak antara sepucuk surat beberapa halaman dengan satu huruf “P”. Bukan berarti generasi sekarang malas. Mereka hanya tumbuh dalam budaya komunikasi yang berbeda. Dunia digital mendorong manusia berbicara lebih cepat, singkat, dan praktis. Sayangnya, tidak semua hal bisa disampaikan dengan baik dalam komunikasi yang serba dipadatkan.

Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengirim ratusan pesan dalam sehari, tetapi semakin sulit menjelaskan isi hati sendiri. Padahal kemampuan menulis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk lewat kebiasaan. Lewat latihan yang terus-menerus, dan keberanian menuangkan pikiran secara utuh.

Karena itu, kemampuan seseorang dalam menulis sering kali terlihat bahkan dari pesan singkat yang ia kirim. Cara menyusun kalimat, memilih kata, menggunakan tanda baca, hingga cara menyampaikan maksud memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir. Menulis bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah cara manusia menata isi kepala.

Dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, saya semakin sering menemukan ironi itu. Banyak orang berpendidikan tinggi, bahkan mahasiswa, masih kesulitan menjelaskan sesuatu secara runtut lewat tulisan. Pesan-pesan yang dikirim kadang meloncat-loncat, tanpa struktur, dan tanpa konteks yang jelas. Tidak sedikit yang menulis seperti sedang terburu-buru mengejar sesuatu.

Barangkali karena memang dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Media sosial membuat semua orang ingin segera merespons. Segera berkomentar, membalas, dan segera viral. Dalam suasana seperti itu, kemampuan merenung perlahan menjadi barang mewah.

Padahal menulis surat dulu justru mengajarkan kebalikannya. Surat membuat seseorang berpikir sebelum berbicara. Sebab sekali surat dikirim, ia tidak bisa diedit seperti pesan digital masa kini. Karena itu orang lebih hati-hati memilih kata, lebih sabar menyusun kalimat. Selain itu, lebih sungguh-sungguh menjelaskan maksud.

Mungkin itu pula sebabnya surat terasa lebih manusiawi. Tulisan tangan menyimpan emosi yang tak selalu bisa dijelaskan teknologi. Dari bentuk huruf saja, kadang kita bisa menebak suasana hati seseorang. Ada tulisan yang tampak ceria, gugup, ada yang seperti ditulis sambil menangis. Bahkan coretan kecil dan bekas tinta sering terasa lebih hidup dibanding ribuan emoji.

Saya masih ingat bagaimana dulu beberapa surat disemprot parfum tipis-tipis oleh pengirimnya. Hal sederhana seperti itu kini nyaris tak ditemukan lagi. Komunikasi digital memang membuat segalanya mudah, tetapi sering kehilangan jejak personal.

Bahkan rasa rindu hari ini terasa berbeda. Dulu, kerinduan membutuhkan waktu. Orang menunggu balasan surat dengan sabar. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Ada ruang kosong yang membuat perasaan tumbuh perlahan. Sekarang, pesan yang tak dibalas beberapa menit saja bisa membuat orang gelisah.

Mungkin teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi sekaligus mengurangi kemampuan manusia menikmati jeda.

Saya teringat ibu angkat saya yang dulu juga memiliki sahabat pena dari Australia bernama Shelly. Mereka saling berkirim surat selama bertahun-tahun. Dari hubungan yang awalnya hanya tulisan di atas kertas, tumbuh persahabatan lintas negara yang nyata. Surat menjadi jembatan budaya, juga jembatan kemanusiaan.

Hari ini, dunia memang terasa lebih dekat lewat internet. Namun kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan emosional.

Kita mungkin memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar mendalam. Karena itu saya merasa korespondensi sesungguhnya bukan cuma soal surat-menyurat. Ia adalah latihan memahami manusia lain. Ketika menulis surat, seseorang belajar membayangkan perasaan penerimanya. Belajar memilih kata agar tidak melukai. Belajar menyampaikan cerita dengan utuh.

Bukankah itu juga inti dari pendidikan? Sayangnya, sekolah hari ini tampaknya lebih sibuk mengejar kemampuan teknis dibanding kemampuan mengolah rasa dan pikiran. Anak-anak diajarkan menggunakan teknologi sejak dini, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana menyampaikan isi hati dengan baik.

Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku atau mendapat nilai bagus di kelas bahasa Indonesia. Literasi juga menyangkut kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Dan salah satu latihan paling sederhana untuk itu pernah bernama surat-menyurat.

Saya tidak sedang mengajak generasi sekarang kembali hidup tanpa teknologi. Itu mustahil. Dunia memang berubah. Teknologi membawa banyak kemudahan yang tidak bisa ditolak. Saya sendiri menggunakan telepon pintar setiap hari. Mengirim pesan, membaca berita, bekerja lewat internet.

Namun di tengah semua kemudahan itu, saya kira kita tetap perlu mempertanyakan satu hal penting: apakah manusia modern masih benar-benar mampu berbicara satu sama lain secara utuh? Atau jangan-jangan kita hanya semakin mahir mengirim sinyal-sinyal pendek tanpa makna mendalam. Mungkin karena itu saya masih menyimpan surat-surat lama tersebut sampai hari ini. Bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa pernah ada masa ketika manusia meluangkan waktu cukup panjang hanya untuk berkata, “Apa kabar”. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan terburu-buru, pertanyaan sederhana itu justru semakin sulit dituliskan dengan sungguh-sungguh. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasakorespondensimenulissurat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

Next Post

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co