25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 4, 2026
in Esai
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia. Ada amplop dengan perangko bergambar burung, bunga, juga tokoh-tokoh yang dulu terasa asing bagi anak kecil di Bali seperti saya. Tulisan tangan di tiap surat berbeda-beda. Ada yang rapi seperti huruf cetak, yang miring dan tergesa-gesa. Dan, ada pula yang tintanya mulai pudar, nyaris tak terbaca.

Saya membuka satu per satu surat itu seperti membuka kembali masa kecil sendiri. Dulu, sejak sekolah dasar, saya punya hobi korespondensi atau surat-menyurat. Saya memiliki banyak sahabat pena dari berbagai kota di Indonesia. Ada juga dari luar negeri. Saya lupa bagaimana awalnya. Mungkin dari rubrik majalah anak-anak, mungkin juga dari alamat yang dibagikan teman. Yang saya ingat, setiap pulang sekolah, saya sering menunggu tukang pos lewat di depan rumah.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menerima surat pada masa itu. Rasanya berbeda dengan notifikasi telepon genggam hari ini. Surat datang bersama waktu tunggu. Kadang seminggu, dua minggu, bahkan sebulan. Namun justru karena penantian itu, surat terasa lebih berarti.

Saya membaca surat berkali-kali. Menghafal nama pengirimnya. Membayangkan kota tempat ia tinggal, dan bagaimana wajah orang yang menulis huruf-huruf itu. Pada masa ketika internet belum akrab bagi anak-anak sekolah dasar, surat membuat dunia terasa lebih luas. Agaknya dari sana keterampilan menulis saya mulai diasah secara perlahan.

Korespondensi terlihat sederhana, bahkan mungkin sepele bagi generasi sekarang. Namun diam-diam ia melatih banyak hal. Ia mengajarkan seseorang menyusun pikiran, memilih kata, menceritakan pengalaman, juga menerjemahkan perasaan ke dalam tulisan. Ketika menulis surat, seseorang belajar berbicara tanpa suara.

Saya sering berpikir, masihkah hal semacam itu diajarkan di sekolah-sekolah hari ini? Atau jangan-jangan ia telah lama hilang, tergantikan oleh layar percakapan digital yang serba cepat.

Di sekolah dulu, pelajaran menulis surat pribadi masih dianggap penting. Guru meminta kami menulis surat kepada teman, keluarga, atau tokoh tertentu. Kami belajar menulis alamat pada amplop. Belajar membedakan surat resmi dan surat pribadi. Belajar bagaimana membuka percakapan dengan sopan, belajar bagaimana menutup surat dengan hangat.

Mungkin saat itu kami tidak sadar bahwa semua itu sesungguhnya adalah latihan literasi. Hari ini, teknologi memang berkembang jauh lebih modern. Anak-anak sekolah bisa berkomunikasi dalam hitungan detik. Pesan dikirim tanpa perangko. Tanpa amplop, dan arus menunggu tukang pos. Dunia terasa jauh lebih cepat.

Namun ada sesuatu yang perlahan ikut hilang dalam kecepatan itu. Saya sering menerima pesan singkat yang hanya berisi satu huruf: “P”. Entah sejak kapan budaya itu menjadi lazim. Huruf tunggal itu bisa berarti banyak hal. Permisi. Ping. Panggil. Atau sekadar tanda seseorang ingin memulai percakapan tanpa tahu bagaimana membuka kalimat dengan utuh.

Kadang saya membayangkan, betapa jauhnya jarak antara sepucuk surat beberapa halaman dengan satu huruf “P”. Bukan berarti generasi sekarang malas. Mereka hanya tumbuh dalam budaya komunikasi yang berbeda. Dunia digital mendorong manusia berbicara lebih cepat, singkat, dan praktis. Sayangnya, tidak semua hal bisa disampaikan dengan baik dalam komunikasi yang serba dipadatkan.

Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengirim ratusan pesan dalam sehari, tetapi semakin sulit menjelaskan isi hati sendiri. Padahal kemampuan menulis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk lewat kebiasaan. Lewat latihan yang terus-menerus, dan keberanian menuangkan pikiran secara utuh.

Karena itu, kemampuan seseorang dalam menulis sering kali terlihat bahkan dari pesan singkat yang ia kirim. Cara menyusun kalimat, memilih kata, menggunakan tanda baca, hingga cara menyampaikan maksud memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir. Menulis bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah cara manusia menata isi kepala.

Dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, saya semakin sering menemukan ironi itu. Banyak orang berpendidikan tinggi, bahkan mahasiswa, masih kesulitan menjelaskan sesuatu secara runtut lewat tulisan. Pesan-pesan yang dikirim kadang meloncat-loncat, tanpa struktur, dan tanpa konteks yang jelas. Tidak sedikit yang menulis seperti sedang terburu-buru mengejar sesuatu.

Barangkali karena memang dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Media sosial membuat semua orang ingin segera merespons. Segera berkomentar, membalas, dan segera viral. Dalam suasana seperti itu, kemampuan merenung perlahan menjadi barang mewah.

Padahal menulis surat dulu justru mengajarkan kebalikannya. Surat membuat seseorang berpikir sebelum berbicara. Sebab sekali surat dikirim, ia tidak bisa diedit seperti pesan digital masa kini. Karena itu orang lebih hati-hati memilih kata, lebih sabar menyusun kalimat. Selain itu, lebih sungguh-sungguh menjelaskan maksud.

Mungkin itu pula sebabnya surat terasa lebih manusiawi. Tulisan tangan menyimpan emosi yang tak selalu bisa dijelaskan teknologi. Dari bentuk huruf saja, kadang kita bisa menebak suasana hati seseorang. Ada tulisan yang tampak ceria, gugup, ada yang seperti ditulis sambil menangis. Bahkan coretan kecil dan bekas tinta sering terasa lebih hidup dibanding ribuan emoji.

Saya masih ingat bagaimana dulu beberapa surat disemprot parfum tipis-tipis oleh pengirimnya. Hal sederhana seperti itu kini nyaris tak ditemukan lagi. Komunikasi digital memang membuat segalanya mudah, tetapi sering kehilangan jejak personal.

Bahkan rasa rindu hari ini terasa berbeda. Dulu, kerinduan membutuhkan waktu. Orang menunggu balasan surat dengan sabar. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Ada ruang kosong yang membuat perasaan tumbuh perlahan. Sekarang, pesan yang tak dibalas beberapa menit saja bisa membuat orang gelisah.

Mungkin teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi sekaligus mengurangi kemampuan manusia menikmati jeda.

Saya teringat ibu angkat saya yang dulu juga memiliki sahabat pena dari Australia bernama Shelly. Mereka saling berkirim surat selama bertahun-tahun. Dari hubungan yang awalnya hanya tulisan di atas kertas, tumbuh persahabatan lintas negara yang nyata. Surat menjadi jembatan budaya, juga jembatan kemanusiaan.

Hari ini, dunia memang terasa lebih dekat lewat internet. Namun kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan emosional.

Kita mungkin memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar mendalam. Karena itu saya merasa korespondensi sesungguhnya bukan cuma soal surat-menyurat. Ia adalah latihan memahami manusia lain. Ketika menulis surat, seseorang belajar membayangkan perasaan penerimanya. Belajar memilih kata agar tidak melukai. Belajar menyampaikan cerita dengan utuh.

Bukankah itu juga inti dari pendidikan? Sayangnya, sekolah hari ini tampaknya lebih sibuk mengejar kemampuan teknis dibanding kemampuan mengolah rasa dan pikiran. Anak-anak diajarkan menggunakan teknologi sejak dini, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana menyampaikan isi hati dengan baik.

Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku atau mendapat nilai bagus di kelas bahasa Indonesia. Literasi juga menyangkut kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Dan salah satu latihan paling sederhana untuk itu pernah bernama surat-menyurat.

Saya tidak sedang mengajak generasi sekarang kembali hidup tanpa teknologi. Itu mustahil. Dunia memang berubah. Teknologi membawa banyak kemudahan yang tidak bisa ditolak. Saya sendiri menggunakan telepon pintar setiap hari. Mengirim pesan, membaca berita, bekerja lewat internet.

Namun di tengah semua kemudahan itu, saya kira kita tetap perlu mempertanyakan satu hal penting: apakah manusia modern masih benar-benar mampu berbicara satu sama lain secara utuh? Atau jangan-jangan kita hanya semakin mahir mengirim sinyal-sinyal pendek tanpa makna mendalam. Mungkin karena itu saya masih menyimpan surat-surat lama tersebut sampai hari ini. Bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa pernah ada masa ketika manusia meluangkan waktu cukup panjang hanya untuk berkata, “Apa kabar”. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan terburu-buru, pertanyaan sederhana itu justru semakin sulit dituliskan dengan sungguh-sungguh. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasakorespondensimenulissurat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

Next Post

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co