4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 4, 2026
in Esai
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia. Ada amplop dengan perangko bergambar burung, bunga, juga tokoh-tokoh yang dulu terasa asing bagi anak kecil di Bali seperti saya. Tulisan tangan di tiap surat berbeda-beda. Ada yang rapi seperti huruf cetak, yang miring dan tergesa-gesa. Dan, ada pula yang tintanya mulai pudar, nyaris tak terbaca.

Saya membuka satu per satu surat itu seperti membuka kembali masa kecil sendiri. Dulu, sejak sekolah dasar, saya punya hobi korespondensi atau surat-menyurat. Saya memiliki banyak sahabat pena dari berbagai kota di Indonesia. Ada juga dari luar negeri. Saya lupa bagaimana awalnya. Mungkin dari rubrik majalah anak-anak, mungkin juga dari alamat yang dibagikan teman. Yang saya ingat, setiap pulang sekolah, saya sering menunggu tukang pos lewat di depan rumah.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menerima surat pada masa itu. Rasanya berbeda dengan notifikasi telepon genggam hari ini. Surat datang bersama waktu tunggu. Kadang seminggu, dua minggu, bahkan sebulan. Namun justru karena penantian itu, surat terasa lebih berarti.

Saya membaca surat berkali-kali. Menghafal nama pengirimnya. Membayangkan kota tempat ia tinggal, dan bagaimana wajah orang yang menulis huruf-huruf itu. Pada masa ketika internet belum akrab bagi anak-anak sekolah dasar, surat membuat dunia terasa lebih luas. Agaknya dari sana keterampilan menulis saya mulai diasah secara perlahan.

Korespondensi terlihat sederhana, bahkan mungkin sepele bagi generasi sekarang. Namun diam-diam ia melatih banyak hal. Ia mengajarkan seseorang menyusun pikiran, memilih kata, menceritakan pengalaman, juga menerjemahkan perasaan ke dalam tulisan. Ketika menulis surat, seseorang belajar berbicara tanpa suara.

Saya sering berpikir, masihkah hal semacam itu diajarkan di sekolah-sekolah hari ini? Atau jangan-jangan ia telah lama hilang, tergantikan oleh layar percakapan digital yang serba cepat.

Di sekolah dulu, pelajaran menulis surat pribadi masih dianggap penting. Guru meminta kami menulis surat kepada teman, keluarga, atau tokoh tertentu. Kami belajar menulis alamat pada amplop. Belajar membedakan surat resmi dan surat pribadi. Belajar bagaimana membuka percakapan dengan sopan, belajar bagaimana menutup surat dengan hangat.

Mungkin saat itu kami tidak sadar bahwa semua itu sesungguhnya adalah latihan literasi. Hari ini, teknologi memang berkembang jauh lebih modern. Anak-anak sekolah bisa berkomunikasi dalam hitungan detik. Pesan dikirim tanpa perangko. Tanpa amplop, dan arus menunggu tukang pos. Dunia terasa jauh lebih cepat.

Namun ada sesuatu yang perlahan ikut hilang dalam kecepatan itu. Saya sering menerima pesan singkat yang hanya berisi satu huruf: “P”. Entah sejak kapan budaya itu menjadi lazim. Huruf tunggal itu bisa berarti banyak hal. Permisi. Ping. Panggil. Atau sekadar tanda seseorang ingin memulai percakapan tanpa tahu bagaimana membuka kalimat dengan utuh.

Kadang saya membayangkan, betapa jauhnya jarak antara sepucuk surat beberapa halaman dengan satu huruf “P”. Bukan berarti generasi sekarang malas. Mereka hanya tumbuh dalam budaya komunikasi yang berbeda. Dunia digital mendorong manusia berbicara lebih cepat, singkat, dan praktis. Sayangnya, tidak semua hal bisa disampaikan dengan baik dalam komunikasi yang serba dipadatkan.

Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengirim ratusan pesan dalam sehari, tetapi semakin sulit menjelaskan isi hati sendiri. Padahal kemampuan menulis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk lewat kebiasaan. Lewat latihan yang terus-menerus, dan keberanian menuangkan pikiran secara utuh.

Karena itu, kemampuan seseorang dalam menulis sering kali terlihat bahkan dari pesan singkat yang ia kirim. Cara menyusun kalimat, memilih kata, menggunakan tanda baca, hingga cara menyampaikan maksud memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir. Menulis bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah cara manusia menata isi kepala.

Dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, saya semakin sering menemukan ironi itu. Banyak orang berpendidikan tinggi, bahkan mahasiswa, masih kesulitan menjelaskan sesuatu secara runtut lewat tulisan. Pesan-pesan yang dikirim kadang meloncat-loncat, tanpa struktur, dan tanpa konteks yang jelas. Tidak sedikit yang menulis seperti sedang terburu-buru mengejar sesuatu.

Barangkali karena memang dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Media sosial membuat semua orang ingin segera merespons. Segera berkomentar, membalas, dan segera viral. Dalam suasana seperti itu, kemampuan merenung perlahan menjadi barang mewah.

Padahal menulis surat dulu justru mengajarkan kebalikannya. Surat membuat seseorang berpikir sebelum berbicara. Sebab sekali surat dikirim, ia tidak bisa diedit seperti pesan digital masa kini. Karena itu orang lebih hati-hati memilih kata, lebih sabar menyusun kalimat. Selain itu, lebih sungguh-sungguh menjelaskan maksud.

Mungkin itu pula sebabnya surat terasa lebih manusiawi. Tulisan tangan menyimpan emosi yang tak selalu bisa dijelaskan teknologi. Dari bentuk huruf saja, kadang kita bisa menebak suasana hati seseorang. Ada tulisan yang tampak ceria, gugup, ada yang seperti ditulis sambil menangis. Bahkan coretan kecil dan bekas tinta sering terasa lebih hidup dibanding ribuan emoji.

Saya masih ingat bagaimana dulu beberapa surat disemprot parfum tipis-tipis oleh pengirimnya. Hal sederhana seperti itu kini nyaris tak ditemukan lagi. Komunikasi digital memang membuat segalanya mudah, tetapi sering kehilangan jejak personal.

Bahkan rasa rindu hari ini terasa berbeda. Dulu, kerinduan membutuhkan waktu. Orang menunggu balasan surat dengan sabar. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Ada ruang kosong yang membuat perasaan tumbuh perlahan. Sekarang, pesan yang tak dibalas beberapa menit saja bisa membuat orang gelisah.

Mungkin teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi sekaligus mengurangi kemampuan manusia menikmati jeda.

Saya teringat ibu angkat saya yang dulu juga memiliki sahabat pena dari Australia bernama Shelly. Mereka saling berkirim surat selama bertahun-tahun. Dari hubungan yang awalnya hanya tulisan di atas kertas, tumbuh persahabatan lintas negara yang nyata. Surat menjadi jembatan budaya, juga jembatan kemanusiaan.

Hari ini, dunia memang terasa lebih dekat lewat internet. Namun kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan emosional.

Kita mungkin memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar mendalam. Karena itu saya merasa korespondensi sesungguhnya bukan cuma soal surat-menyurat. Ia adalah latihan memahami manusia lain. Ketika menulis surat, seseorang belajar membayangkan perasaan penerimanya. Belajar memilih kata agar tidak melukai. Belajar menyampaikan cerita dengan utuh.

Bukankah itu juga inti dari pendidikan? Sayangnya, sekolah hari ini tampaknya lebih sibuk mengejar kemampuan teknis dibanding kemampuan mengolah rasa dan pikiran. Anak-anak diajarkan menggunakan teknologi sejak dini, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana menyampaikan isi hati dengan baik.

Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku atau mendapat nilai bagus di kelas bahasa Indonesia. Literasi juga menyangkut kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Dan salah satu latihan paling sederhana untuk itu pernah bernama surat-menyurat.

Saya tidak sedang mengajak generasi sekarang kembali hidup tanpa teknologi. Itu mustahil. Dunia memang berubah. Teknologi membawa banyak kemudahan yang tidak bisa ditolak. Saya sendiri menggunakan telepon pintar setiap hari. Mengirim pesan, membaca berita, bekerja lewat internet.

Namun di tengah semua kemudahan itu, saya kira kita tetap perlu mempertanyakan satu hal penting: apakah manusia modern masih benar-benar mampu berbicara satu sama lain secara utuh? Atau jangan-jangan kita hanya semakin mahir mengirim sinyal-sinyal pendek tanpa makna mendalam. Mungkin karena itu saya masih menyimpan surat-surat lama tersebut sampai hari ini. Bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa pernah ada masa ketika manusia meluangkan waktu cukup panjang hanya untuk berkata, “Apa kabar”. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan terburu-buru, pertanyaan sederhana itu justru semakin sulit dituliskan dengan sungguh-sungguh. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasakorespondensimenulissurat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

Next Post

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co