26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 5, 2026
in Esai
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin

Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ketika banyak ilmuwan memandang manusia hanya sebagai kumpulan reaksi biologis dan sistem komputasi, Penrose justru mempertanyakan keyakinan itu. Baginya, kesadaran manusia tidak sesederhana mesin yang memproses data.

Dalam dunia modern yang semakin memuja kecerdasan buatan, algoritma, dan otomasi, pandangan Penrose terasa seperti suara yang mengingatkan bahwa manusia memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar kalkulasi. Ia melihat ada sesuatu dalam kesadaran yang tidak dapat direduksi menjadi logika mekanis.

Melalui karya-karyanya seperti The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind, Penrose mencoba menunjukkan bahwa kemampuan manusia memahami kebenaran memiliki sifat yang melampaui komputer biasa. Mesin mungkin dapat menghitung lebih cepat, tetapi belum tentu mampu “menyadari” makna dari apa yang dihitung.

Pandangan ini menarik karena di tengah kemajuan teknologi, manusia justru menghadapi krisis makna. Banyak orang memiliki akses informasi luar biasa, tetapi kehilangan kedalaman kesadaran. Penrose seolah mengingatkan bahwa rasio maupun nalar belum tentu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam filsafat, terutama sejak René Descartes dan era Pencerahan, rasio dianggap alat utama mencapai kebenaran. Namun banyak pemikir kemudian mengkritik dominasi rasio murni, termasuk Roger Penrose, karena manusia juga memiliki intuisi, pengalaman batin, dan kesadaran yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika formal.

Gödel, Kesadaran, dan Batas Rasionalitas

Salah satu dasar pemikiran Penrose berasal dari Teorema Ketidaklengkapan Gödel. Teori ini menyatakan bahwa dalam sistem matematika tertentu selalu ada kebenaran yang tidak dapat dibuktikan hanya dari aturan sistem itu sendiri.

Penrose menggunakan gagasan tersebut untuk mengkritik keyakinan bahwa pikiran manusia hanyalah algoritma. Jika otak sekadar komputer biologis, maka manusia seharusnya tidak dapat melampaui batas sistem formalnya. Namun kenyataannya, manusia sering mampu “melihat” kebenaran secara intuitif bahkan sebelum mampu membuktikannya secara logis.

Di sini Penrose membawa sains memasuki wilayah filsafat. Ia mempertanyakan: dari mana datangnya intuisi? Mengapa manusia dapat mengalami inspirasi mendadak? Mengapa kesadaran mampu memahami keindahan matematika?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya telah lama menjadi renungan spiritual dan filosofis. Dalam banyak tradisi Timur, kesadaran dipandang bukan sekadar produk otak, melainkan bagian dari realitas yang lebih luas. Penrose tidak berbicara dalam bahasa mistik, tetapi arah refleksinya membuka ruang dialog antara sains dan spiritualitas.

Ia tidak menolak rasionalitas, namun menunjukkan bahwa rasionalitas memiliki batas. Di luar batas itu terdapat wilayah misteri yang belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan modern.

Lubang Hitam dan Kesunyian Kosmos

Selain meneliti kesadaran, Penrose juga terkenal karena kontribusinya pada teori relativitas dan lubang hitam bersama Stephen Hawking. Mereka menunjukkan bahwa jika relativitas Einstein benar, maka alam semesta memiliki singularitas—titik ekstrem di mana hukum fisika seperti runtuh.

Bagi banyak orang, kosmologi hanyalah angka dan persamaan. Namun bagi Penrose, alam semesta menyimpan keindahan matematis yang hampir artistik. Ia percaya hukum-hukum alam bukan kebetulan semata, melainkan memiliki keteraturan mendalam.

Ketika melihat gambar galaksi, lubang hitam, atau struktur ruang-waktu, Penrose tidak hanya melihat benda fisik, tetapi juga pola geometris yang luar biasa elegan. Dalam pandangannya, matematika bukan sekadar alat manusia, melainkan bahasa fundamental realitas.

Di sini muncul nuansa reflektif yang menarik. Semakin jauh manusia mempelajari alam semesta, semakin besar kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang sangat luas. Pengetahuan modern ternyata tidak selalu menghasilkan kesombongan; kadang justru melahirkan kerendahan hati.

Penrose termasuk ilmuwan yang masih memiliki rasa takjub terhadap misteri eksistensi. Sikap ini mulai jarang ditemukan di tengah budaya modern yang sering merasa mampu menjelaskan segalanya.

Orch-OR dan Misteri Jiwa

Salah satu gagasan paling kontroversial Penrose adalah teori Orch-OR yang dikembangkan bersama Stuart Hameroff. Teori ini menyatakan bahwa kesadaran mungkin muncul dari proses kuantum di dalam mikrotubulus sel otak.

Walaupun teori ini masih diperdebatkan, daya tariknya sangat besar karena mencoba menjelaskan kesadaran sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas listrik saraf biasa. Jika benar ada proses kuantum dalam kesadaran, maka manusia mungkin terhubung dengan struktur dasar realitas semesta.

Pandangan ini mengingatkan banyak orang pada gagasan spiritual kuno bahwa manusia adalah mikrokosmos dari alam raya. Dalam tradisi Timur, tubuh sering dipandang sebagai miniatur kosmos. Penrose memang tidak sedang mengajarkan agama, tetapi teorinya secara tidak langsung membuka kemungkinan bahwa kesadaran memiliki dimensi universal.

Di era modern, manusia sering terjebak melihat diri hanya sebagai tubuh biologis. Akibatnya hidup menjadi sangat materialistik. Kesuksesan diukur sebatas kepemilikan dan konsumsi. Namun Penrose mengajak manusia kembali bertanya: apakah kesadaran hanyalah reaksi kimia? Apakah cinta, intuisi, dan pengalaman batin hanya ilusi neuron?

Pertanyaan itu penting karena cara manusia memahami kesadaran akan memengaruhi arah peradaban. Jika manusia melihat dirinya sekadar mesin biologis, maka kehidupan mudah kehilangan kesucian.

Penrose dan Masa Depan Spiritualitas Sains

Roger Penrose menunjukkan bahwa sains sejati tidak selalu menutup pintu misteri. Justru semakin dalam seseorang memahami realitas, semakin terlihat bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Di tengah konflik antara kaum materialis dan spiritualis, Penrose hadir sebagai jembatan yang unik. Ia tetap berpijak pada matematika dan fisika ketat, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa kesadaran menyimpan rahasia besar yang belum terpecahkan.

Pendekatan seperti ini penting bagi masa depan manusia. Dunia modern membutuhkan sains, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan. Teknologi tanpa kesadaran dapat berubah menjadi ancaman. AI dapat membantu manusia, tetapi tidak otomatis memberi makna hidup.

Penrose mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang menyadari. Kesadaran itulah yang membuat manusia mampu mengalami cinta, keheningan, belas kasih, dan pencarian makna.

Barangkali pada akhirnya, pencarian ilmiah Penrose bukan hanya tentang fisika atau matematika, tetapi tentang usaha memahami siapa manusia sebenarnya. Dan semakin manusia masuk ke kedalaman kesadaran, semakin tampak bahwa semesta tidak hanya terdiri dari materi, tetapi juga misteri.

Pancakosha, Hawkins, dan Resonansi Holistik Penrose–Capra

Pemikiran Penrose menjadi semakin kaya ketika dibaca berdampingan dengan konsep Pancakosha dalam Vedanta, peta kesadaran David R. Hawkins, serta pandangan holistik Fritjof Capra. Ketiganya berasal dari jalur berbeda—fisika matematis, psikologi spiritual, dan teori sistem—namun memiliki titik temu: kritik terhadap paradigma materialisme mekanistik yang memandang manusia hanya sebagai mesin biologis.

Dalam konsep Pancakosha, manusia dipahami memiliki lima lapisan eksistensi: annamaya kosha (tubuh fisik), pranamaya kosha (energi vital), manomaya kosha (pikiran dan emosi), vijnanamaya kosha (intuisi dan kebijaksanaan), serta anandamaya kosha (kesadaran  murni atau kebahagiaan abadi). Struktur ini memperlihatkan bahwa kesadaran manusia bersifat bertingkat dan multidimensional. Tubuh hanyalah lapisan paling luar.

Ketika Penrose mempertanyakan apakah kesadaran sekadar hasil komputasi neuron, ia sebenarnya sedang memasuki wilayah yang dalam filsafat Timur telah lama dijelajahi. Teori Orch-OR yang dikembangkannya bersama Stuart Hameroff mencoba menjelaskan kemungkinan adanya proses kuantum subtil di otak manusia. Walaupun masih kontroversial, teori itu menunjukkan bahwa kesadaran mungkin tidak dapat dijelaskan hanya melalui mekanisme material biasa.

Di sinilah pemikiran Penrose terasa selaras dengan The Tao of Physics karya Capra. Dalam buku tersebut, Capra menunjukkan adanya kemiripan antara fisika modern dan mistisisme Timur. Dunia tidak lagi dipandang sebagai kumpulan benda terpisah, melainkan jaringan relasi energi yang saling terhubung. Fisika kuantum menghancurkan pandangan mekanistik Newtonian yang terlalu kaku.

Capra melihat alam semesta sebagai “web of life”, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Penrose, walaupun lebih matematis dan hati-hati, juga melihat adanya keteraturan mendalam dalam realitas kosmos. Keduanya sama-sama menolak reduksi realitas menjadi sekadar materi padat tanpa dimensi kesadaran. Perbedaannya, Capra lebih eksplisit mengaitkan sains dengan spiritualitas Timur, sedangkan Penrose tetap bergerak melalui pendekatan matematis dan fisika teoritis.

Pada tingkat manomaya kosha, manusia masih hidup dalam dualitas ego, emosi, dan ketakutan. Banyak kemajuan teknologi lahir dari lapisan ini—cemerlang secara intelektual tetapi sering miskin kebijaksanaan. Penrose mengingatkan bahwa kecerdasan komputasional belum tentu melahirkan kesadaran sejati. Pandangan ini sejalan dengan kritik Hawkins terhadap masyarakat modern yang sering memuja intelek namun kehilangan kualitas batin.

Dalam Power vs. Force, Hawkins menjelaskan tingkat kesadaran manusia mulai dari rasa malu, takut, marah, hingga cinta, damai, dan pencerahan. Semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin manusia mampu melihat keterhubungan kehidupan. Kesadaran rendah cenderung melihat dunia secara terpisah dan kompetitif, sedangkan kesadaran tinggi melihat harmoni dan kesatuan.

Di titik ini terlihat hubungan menarik antara Hawkins dan Capra. Jika Hawkins berbicara tentang evolusi kesadaran manusia, maka Capra berbicara tentang evolusi cara pandang terhadap alam semesta. Keduanya menuju paradigma holistik. Penrose pun, melalui pencariannya tentang kesadaran dan kosmos, tampak bergerak ke arah yang sama meskipun menggunakan bahasa sains ketat.

Dalam tradisi Vedanta, vijnanamaya kosha adalah lapisan kebijaksanaan intuitif yang melampaui pikiran rasional biasa. Banyak ilmuwan besar sebenarnya bekerja bukan hanya melalui logika linear, tetapi juga intuisi mendalam. Penrose sendiri sering berbicara tentang keindahan matematika dan kemampuan manusia “melihat” kebenaran secara intuitif. Hal ini mengingatkan bahwa kesadaran manusia memiliki dimensi kreatif yang belum mampu direplikasi AI sepenuhnya.

Lapisan tertinggi, anandamaya kosha, adalah kesadaran kebahagiaan dan kesatuan. Dalam pengalaman ini, manusia tidak lagi merasa terpisah dari semesta. Pandangan Capra tentang interconnectedness, Hawkins tentang level kesadaran tinggi, dan refleksi Penrose mengenai misteri kosmos semuanya mengarah pada intuisi yang mirip: realitas pada dasarnya bersifat menyatu.

Inilah tantangan besar peradaban modern. Sains berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran manusia belum berkembang seimbang. Teknologi memberi kekuatan luar biasa, namun tanpa evolusi kesadaran, kekuatan itu mudah berubah menjadi krisis ekologis, perang, dan alienasi spiritual, ketika manusia merasa terpisah dari dirinya sendiri, dari orang lain, dari alam, atau dari makna hidupnya.

Karena itu, dialog antara Penrose, Capra, Hawkins, dan filsafat Vedanta menjadi penting bagi masa depan. Mereka mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar konsumen materi atau mesin biologis, melainkan bagian dari kesadaran kosmik yang lebih luas. Di titik inilah sains dan spiritualitas tidak lagi dipandang sebagai musuh, tetapi dua jalan berbeda menuju pemahaman tentang misteri kehidupan.[T]

Tags: fisikailmu fisikaNobelRoger Penrose
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Next Post

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co