28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 5, 2026
in Esai
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin

Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ketika banyak ilmuwan memandang manusia hanya sebagai kumpulan reaksi biologis dan sistem komputasi, Penrose justru mempertanyakan keyakinan itu. Baginya, kesadaran manusia tidak sesederhana mesin yang memproses data.

Dalam dunia modern yang semakin memuja kecerdasan buatan, algoritma, dan otomasi, pandangan Penrose terasa seperti suara yang mengingatkan bahwa manusia memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar kalkulasi. Ia melihat ada sesuatu dalam kesadaran yang tidak dapat direduksi menjadi logika mekanis.

Melalui karya-karyanya seperti The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind, Penrose mencoba menunjukkan bahwa kemampuan manusia memahami kebenaran memiliki sifat yang melampaui komputer biasa. Mesin mungkin dapat menghitung lebih cepat, tetapi belum tentu mampu “menyadari” makna dari apa yang dihitung.

Pandangan ini menarik karena di tengah kemajuan teknologi, manusia justru menghadapi krisis makna. Banyak orang memiliki akses informasi luar biasa, tetapi kehilangan kedalaman kesadaran. Penrose seolah mengingatkan bahwa rasio maupun nalar belum tentu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam filsafat, terutama sejak René Descartes dan era Pencerahan, rasio dianggap alat utama mencapai kebenaran. Namun banyak pemikir kemudian mengkritik dominasi rasio murni, termasuk Roger Penrose, karena manusia juga memiliki intuisi, pengalaman batin, dan kesadaran yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika formal.

Gödel, Kesadaran, dan Batas Rasionalitas

Salah satu dasar pemikiran Penrose berasal dari Teorema Ketidaklengkapan Gödel. Teori ini menyatakan bahwa dalam sistem matematika tertentu selalu ada kebenaran yang tidak dapat dibuktikan hanya dari aturan sistem itu sendiri.

Penrose menggunakan gagasan tersebut untuk mengkritik keyakinan bahwa pikiran manusia hanyalah algoritma. Jika otak sekadar komputer biologis, maka manusia seharusnya tidak dapat melampaui batas sistem formalnya. Namun kenyataannya, manusia sering mampu “melihat” kebenaran secara intuitif bahkan sebelum mampu membuktikannya secara logis.

Di sini Penrose membawa sains memasuki wilayah filsafat. Ia mempertanyakan: dari mana datangnya intuisi? Mengapa manusia dapat mengalami inspirasi mendadak? Mengapa kesadaran mampu memahami keindahan matematika?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya telah lama menjadi renungan spiritual dan filosofis. Dalam banyak tradisi Timur, kesadaran dipandang bukan sekadar produk otak, melainkan bagian dari realitas yang lebih luas. Penrose tidak berbicara dalam bahasa mistik, tetapi arah refleksinya membuka ruang dialog antara sains dan spiritualitas.

Ia tidak menolak rasionalitas, namun menunjukkan bahwa rasionalitas memiliki batas. Di luar batas itu terdapat wilayah misteri yang belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan modern.

Lubang Hitam dan Kesunyian Kosmos

Selain meneliti kesadaran, Penrose juga terkenal karena kontribusinya pada teori relativitas dan lubang hitam bersama Stephen Hawking. Mereka menunjukkan bahwa jika relativitas Einstein benar, maka alam semesta memiliki singularitas—titik ekstrem di mana hukum fisika seperti runtuh.

Bagi banyak orang, kosmologi hanyalah angka dan persamaan. Namun bagi Penrose, alam semesta menyimpan keindahan matematis yang hampir artistik. Ia percaya hukum-hukum alam bukan kebetulan semata, melainkan memiliki keteraturan mendalam.

Ketika melihat gambar galaksi, lubang hitam, atau struktur ruang-waktu, Penrose tidak hanya melihat benda fisik, tetapi juga pola geometris yang luar biasa elegan. Dalam pandangannya, matematika bukan sekadar alat manusia, melainkan bahasa fundamental realitas.

Di sini muncul nuansa reflektif yang menarik. Semakin jauh manusia mempelajari alam semesta, semakin besar kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang sangat luas. Pengetahuan modern ternyata tidak selalu menghasilkan kesombongan; kadang justru melahirkan kerendahan hati.

Penrose termasuk ilmuwan yang masih memiliki rasa takjub terhadap misteri eksistensi. Sikap ini mulai jarang ditemukan di tengah budaya modern yang sering merasa mampu menjelaskan segalanya.

Orch-OR dan Misteri Jiwa

Salah satu gagasan paling kontroversial Penrose adalah teori Orch-OR yang dikembangkan bersama Stuart Hameroff. Teori ini menyatakan bahwa kesadaran mungkin muncul dari proses kuantum di dalam mikrotubulus sel otak.

Walaupun teori ini masih diperdebatkan, daya tariknya sangat besar karena mencoba menjelaskan kesadaran sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas listrik saraf biasa. Jika benar ada proses kuantum dalam kesadaran, maka manusia mungkin terhubung dengan struktur dasar realitas semesta.

Pandangan ini mengingatkan banyak orang pada gagasan spiritual kuno bahwa manusia adalah mikrokosmos dari alam raya. Dalam tradisi Timur, tubuh sering dipandang sebagai miniatur kosmos. Penrose memang tidak sedang mengajarkan agama, tetapi teorinya secara tidak langsung membuka kemungkinan bahwa kesadaran memiliki dimensi universal.

Di era modern, manusia sering terjebak melihat diri hanya sebagai tubuh biologis. Akibatnya hidup menjadi sangat materialistik. Kesuksesan diukur sebatas kepemilikan dan konsumsi. Namun Penrose mengajak manusia kembali bertanya: apakah kesadaran hanyalah reaksi kimia? Apakah cinta, intuisi, dan pengalaman batin hanya ilusi neuron?

Pertanyaan itu penting karena cara manusia memahami kesadaran akan memengaruhi arah peradaban. Jika manusia melihat dirinya sekadar mesin biologis, maka kehidupan mudah kehilangan kesucian.

Penrose dan Masa Depan Spiritualitas Sains

Roger Penrose menunjukkan bahwa sains sejati tidak selalu menutup pintu misteri. Justru semakin dalam seseorang memahami realitas, semakin terlihat bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Di tengah konflik antara kaum materialis dan spiritualis, Penrose hadir sebagai jembatan yang unik. Ia tetap berpijak pada matematika dan fisika ketat, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa kesadaran menyimpan rahasia besar yang belum terpecahkan.

Pendekatan seperti ini penting bagi masa depan manusia. Dunia modern membutuhkan sains, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan. Teknologi tanpa kesadaran dapat berubah menjadi ancaman. AI dapat membantu manusia, tetapi tidak otomatis memberi makna hidup.

Penrose mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang menyadari. Kesadaran itulah yang membuat manusia mampu mengalami cinta, keheningan, belas kasih, dan pencarian makna.

Barangkali pada akhirnya, pencarian ilmiah Penrose bukan hanya tentang fisika atau matematika, tetapi tentang usaha memahami siapa manusia sebenarnya. Dan semakin manusia masuk ke kedalaman kesadaran, semakin tampak bahwa semesta tidak hanya terdiri dari materi, tetapi juga misteri.

Pancakosha, Hawkins, dan Resonansi Holistik Penrose–Capra

Pemikiran Penrose menjadi semakin kaya ketika dibaca berdampingan dengan konsep Pancakosha dalam Vedanta, peta kesadaran David R. Hawkins, serta pandangan holistik Fritjof Capra. Ketiganya berasal dari jalur berbeda—fisika matematis, psikologi spiritual, dan teori sistem—namun memiliki titik temu: kritik terhadap paradigma materialisme mekanistik yang memandang manusia hanya sebagai mesin biologis.

Dalam konsep Pancakosha, manusia dipahami memiliki lima lapisan eksistensi: annamaya kosha (tubuh fisik), pranamaya kosha (energi vital), manomaya kosha (pikiran dan emosi), vijnanamaya kosha (intuisi dan kebijaksanaan), serta anandamaya kosha (kesadaran  murni atau kebahagiaan abadi). Struktur ini memperlihatkan bahwa kesadaran manusia bersifat bertingkat dan multidimensional. Tubuh hanyalah lapisan paling luar.

Ketika Penrose mempertanyakan apakah kesadaran sekadar hasil komputasi neuron, ia sebenarnya sedang memasuki wilayah yang dalam filsafat Timur telah lama dijelajahi. Teori Orch-OR yang dikembangkannya bersama Stuart Hameroff mencoba menjelaskan kemungkinan adanya proses kuantum subtil di otak manusia. Walaupun masih kontroversial, teori itu menunjukkan bahwa kesadaran mungkin tidak dapat dijelaskan hanya melalui mekanisme material biasa.

Di sinilah pemikiran Penrose terasa selaras dengan The Tao of Physics karya Capra. Dalam buku tersebut, Capra menunjukkan adanya kemiripan antara fisika modern dan mistisisme Timur. Dunia tidak lagi dipandang sebagai kumpulan benda terpisah, melainkan jaringan relasi energi yang saling terhubung. Fisika kuantum menghancurkan pandangan mekanistik Newtonian yang terlalu kaku.

Capra melihat alam semesta sebagai “web of life”, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Penrose, walaupun lebih matematis dan hati-hati, juga melihat adanya keteraturan mendalam dalam realitas kosmos. Keduanya sama-sama menolak reduksi realitas menjadi sekadar materi padat tanpa dimensi kesadaran. Perbedaannya, Capra lebih eksplisit mengaitkan sains dengan spiritualitas Timur, sedangkan Penrose tetap bergerak melalui pendekatan matematis dan fisika teoritis.

Pada tingkat manomaya kosha, manusia masih hidup dalam dualitas ego, emosi, dan ketakutan. Banyak kemajuan teknologi lahir dari lapisan ini—cemerlang secara intelektual tetapi sering miskin kebijaksanaan. Penrose mengingatkan bahwa kecerdasan komputasional belum tentu melahirkan kesadaran sejati. Pandangan ini sejalan dengan kritik Hawkins terhadap masyarakat modern yang sering memuja intelek namun kehilangan kualitas batin.

Dalam Power vs. Force, Hawkins menjelaskan tingkat kesadaran manusia mulai dari rasa malu, takut, marah, hingga cinta, damai, dan pencerahan. Semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin manusia mampu melihat keterhubungan kehidupan. Kesadaran rendah cenderung melihat dunia secara terpisah dan kompetitif, sedangkan kesadaran tinggi melihat harmoni dan kesatuan.

Di titik ini terlihat hubungan menarik antara Hawkins dan Capra. Jika Hawkins berbicara tentang evolusi kesadaran manusia, maka Capra berbicara tentang evolusi cara pandang terhadap alam semesta. Keduanya menuju paradigma holistik. Penrose pun, melalui pencariannya tentang kesadaran dan kosmos, tampak bergerak ke arah yang sama meskipun menggunakan bahasa sains ketat.

Dalam tradisi Vedanta, vijnanamaya kosha adalah lapisan kebijaksanaan intuitif yang melampaui pikiran rasional biasa. Banyak ilmuwan besar sebenarnya bekerja bukan hanya melalui logika linear, tetapi juga intuisi mendalam. Penrose sendiri sering berbicara tentang keindahan matematika dan kemampuan manusia “melihat” kebenaran secara intuitif. Hal ini mengingatkan bahwa kesadaran manusia memiliki dimensi kreatif yang belum mampu direplikasi AI sepenuhnya.

Lapisan tertinggi, anandamaya kosha, adalah kesadaran kebahagiaan dan kesatuan. Dalam pengalaman ini, manusia tidak lagi merasa terpisah dari semesta. Pandangan Capra tentang interconnectedness, Hawkins tentang level kesadaran tinggi, dan refleksi Penrose mengenai misteri kosmos semuanya mengarah pada intuisi yang mirip: realitas pada dasarnya bersifat menyatu.

Inilah tantangan besar peradaban modern. Sains berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran manusia belum berkembang seimbang. Teknologi memberi kekuatan luar biasa, namun tanpa evolusi kesadaran, kekuatan itu mudah berubah menjadi krisis ekologis, perang, dan alienasi spiritual, ketika manusia merasa terpisah dari dirinya sendiri, dari orang lain, dari alam, atau dari makna hidupnya.

Karena itu, dialog antara Penrose, Capra, Hawkins, dan filsafat Vedanta menjadi penting bagi masa depan. Mereka mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar konsumen materi atau mesin biologis, melainkan bagian dari kesadaran kosmik yang lebih luas. Di titik inilah sains dan spiritualitas tidak lagi dipandang sebagai musuh, tetapi dua jalan berbeda menuju pemahaman tentang misteri kehidupan.[T]

Tags: fisikailmu fisikaNobelRoger Penrose
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Next Post

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co