15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 5, 2026
in Esai
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin

Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ketika banyak ilmuwan memandang manusia hanya sebagai kumpulan reaksi biologis dan sistem komputasi, Penrose justru mempertanyakan keyakinan itu. Baginya, kesadaran manusia tidak sesederhana mesin yang memproses data.

Dalam dunia modern yang semakin memuja kecerdasan buatan, algoritma, dan otomasi, pandangan Penrose terasa seperti suara yang mengingatkan bahwa manusia memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar kalkulasi. Ia melihat ada sesuatu dalam kesadaran yang tidak dapat direduksi menjadi logika mekanis.

Melalui karya-karyanya seperti The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind, Penrose mencoba menunjukkan bahwa kemampuan manusia memahami kebenaran memiliki sifat yang melampaui komputer biasa. Mesin mungkin dapat menghitung lebih cepat, tetapi belum tentu mampu “menyadari” makna dari apa yang dihitung.

Pandangan ini menarik karena di tengah kemajuan teknologi, manusia justru menghadapi krisis makna. Banyak orang memiliki akses informasi luar biasa, tetapi kehilangan kedalaman kesadaran. Penrose seolah mengingatkan bahwa rasio maupun nalar belum tentu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam filsafat, terutama sejak René Descartes dan era Pencerahan, rasio dianggap alat utama mencapai kebenaran. Namun banyak pemikir kemudian mengkritik dominasi rasio murni, termasuk Roger Penrose, karena manusia juga memiliki intuisi, pengalaman batin, dan kesadaran yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika formal.

Gödel, Kesadaran, dan Batas Rasionalitas

Salah satu dasar pemikiran Penrose berasal dari Teorema Ketidaklengkapan Gödel. Teori ini menyatakan bahwa dalam sistem matematika tertentu selalu ada kebenaran yang tidak dapat dibuktikan hanya dari aturan sistem itu sendiri.

Penrose menggunakan gagasan tersebut untuk mengkritik keyakinan bahwa pikiran manusia hanyalah algoritma. Jika otak sekadar komputer biologis, maka manusia seharusnya tidak dapat melampaui batas sistem formalnya. Namun kenyataannya, manusia sering mampu “melihat” kebenaran secara intuitif bahkan sebelum mampu membuktikannya secara logis.

Di sini Penrose membawa sains memasuki wilayah filsafat. Ia mempertanyakan: dari mana datangnya intuisi? Mengapa manusia dapat mengalami inspirasi mendadak? Mengapa kesadaran mampu memahami keindahan matematika?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya telah lama menjadi renungan spiritual dan filosofis. Dalam banyak tradisi Timur, kesadaran dipandang bukan sekadar produk otak, melainkan bagian dari realitas yang lebih luas. Penrose tidak berbicara dalam bahasa mistik, tetapi arah refleksinya membuka ruang dialog antara sains dan spiritualitas.

Ia tidak menolak rasionalitas, namun menunjukkan bahwa rasionalitas memiliki batas. Di luar batas itu terdapat wilayah misteri yang belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan modern.

Lubang Hitam dan Kesunyian Kosmos

Selain meneliti kesadaran, Penrose juga terkenal karena kontribusinya pada teori relativitas dan lubang hitam bersama Stephen Hawking. Mereka menunjukkan bahwa jika relativitas Einstein benar, maka alam semesta memiliki singularitas—titik ekstrem di mana hukum fisika seperti runtuh.

Bagi banyak orang, kosmologi hanyalah angka dan persamaan. Namun bagi Penrose, alam semesta menyimpan keindahan matematis yang hampir artistik. Ia percaya hukum-hukum alam bukan kebetulan semata, melainkan memiliki keteraturan mendalam.

Ketika melihat gambar galaksi, lubang hitam, atau struktur ruang-waktu, Penrose tidak hanya melihat benda fisik, tetapi juga pola geometris yang luar biasa elegan. Dalam pandangannya, matematika bukan sekadar alat manusia, melainkan bahasa fundamental realitas.

Di sini muncul nuansa reflektif yang menarik. Semakin jauh manusia mempelajari alam semesta, semakin besar kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang sangat luas. Pengetahuan modern ternyata tidak selalu menghasilkan kesombongan; kadang justru melahirkan kerendahan hati.

Penrose termasuk ilmuwan yang masih memiliki rasa takjub terhadap misteri eksistensi. Sikap ini mulai jarang ditemukan di tengah budaya modern yang sering merasa mampu menjelaskan segalanya.

Orch-OR dan Misteri Jiwa

Salah satu gagasan paling kontroversial Penrose adalah teori Orch-OR yang dikembangkan bersama Stuart Hameroff. Teori ini menyatakan bahwa kesadaran mungkin muncul dari proses kuantum di dalam mikrotubulus sel otak.

Walaupun teori ini masih diperdebatkan, daya tariknya sangat besar karena mencoba menjelaskan kesadaran sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas listrik saraf biasa. Jika benar ada proses kuantum dalam kesadaran, maka manusia mungkin terhubung dengan struktur dasar realitas semesta.

Pandangan ini mengingatkan banyak orang pada gagasan spiritual kuno bahwa manusia adalah mikrokosmos dari alam raya. Dalam tradisi Timur, tubuh sering dipandang sebagai miniatur kosmos. Penrose memang tidak sedang mengajarkan agama, tetapi teorinya secara tidak langsung membuka kemungkinan bahwa kesadaran memiliki dimensi universal.

Di era modern, manusia sering terjebak melihat diri hanya sebagai tubuh biologis. Akibatnya hidup menjadi sangat materialistik. Kesuksesan diukur sebatas kepemilikan dan konsumsi. Namun Penrose mengajak manusia kembali bertanya: apakah kesadaran hanyalah reaksi kimia? Apakah cinta, intuisi, dan pengalaman batin hanya ilusi neuron?

Pertanyaan itu penting karena cara manusia memahami kesadaran akan memengaruhi arah peradaban. Jika manusia melihat dirinya sekadar mesin biologis, maka kehidupan mudah kehilangan kesucian.

Penrose dan Masa Depan Spiritualitas Sains

Roger Penrose menunjukkan bahwa sains sejati tidak selalu menutup pintu misteri. Justru semakin dalam seseorang memahami realitas, semakin terlihat bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Di tengah konflik antara kaum materialis dan spiritualis, Penrose hadir sebagai jembatan yang unik. Ia tetap berpijak pada matematika dan fisika ketat, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa kesadaran menyimpan rahasia besar yang belum terpecahkan.

Pendekatan seperti ini penting bagi masa depan manusia. Dunia modern membutuhkan sains, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan. Teknologi tanpa kesadaran dapat berubah menjadi ancaman. AI dapat membantu manusia, tetapi tidak otomatis memberi makna hidup.

Penrose mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang menyadari. Kesadaran itulah yang membuat manusia mampu mengalami cinta, keheningan, belas kasih, dan pencarian makna.

Barangkali pada akhirnya, pencarian ilmiah Penrose bukan hanya tentang fisika atau matematika, tetapi tentang usaha memahami siapa manusia sebenarnya. Dan semakin manusia masuk ke kedalaman kesadaran, semakin tampak bahwa semesta tidak hanya terdiri dari materi, tetapi juga misteri.

Pancakosha, Hawkins, dan Resonansi Holistik Penrose–Capra

Pemikiran Penrose menjadi semakin kaya ketika dibaca berdampingan dengan konsep Pancakosha dalam Vedanta, peta kesadaran David R. Hawkins, serta pandangan holistik Fritjof Capra. Ketiganya berasal dari jalur berbeda—fisika matematis, psikologi spiritual, dan teori sistem—namun memiliki titik temu: kritik terhadap paradigma materialisme mekanistik yang memandang manusia hanya sebagai mesin biologis.

Dalam konsep Pancakosha, manusia dipahami memiliki lima lapisan eksistensi: annamaya kosha (tubuh fisik), pranamaya kosha (energi vital), manomaya kosha (pikiran dan emosi), vijnanamaya kosha (intuisi dan kebijaksanaan), serta anandamaya kosha (kesadaran  murni atau kebahagiaan abadi). Struktur ini memperlihatkan bahwa kesadaran manusia bersifat bertingkat dan multidimensional. Tubuh hanyalah lapisan paling luar.

Ketika Penrose mempertanyakan apakah kesadaran sekadar hasil komputasi neuron, ia sebenarnya sedang memasuki wilayah yang dalam filsafat Timur telah lama dijelajahi. Teori Orch-OR yang dikembangkannya bersama Stuart Hameroff mencoba menjelaskan kemungkinan adanya proses kuantum subtil di otak manusia. Walaupun masih kontroversial, teori itu menunjukkan bahwa kesadaran mungkin tidak dapat dijelaskan hanya melalui mekanisme material biasa.

Di sinilah pemikiran Penrose terasa selaras dengan The Tao of Physics karya Capra. Dalam buku tersebut, Capra menunjukkan adanya kemiripan antara fisika modern dan mistisisme Timur. Dunia tidak lagi dipandang sebagai kumpulan benda terpisah, melainkan jaringan relasi energi yang saling terhubung. Fisika kuantum menghancurkan pandangan mekanistik Newtonian yang terlalu kaku.

Capra melihat alam semesta sebagai “web of life”, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Penrose, walaupun lebih matematis dan hati-hati, juga melihat adanya keteraturan mendalam dalam realitas kosmos. Keduanya sama-sama menolak reduksi realitas menjadi sekadar materi padat tanpa dimensi kesadaran. Perbedaannya, Capra lebih eksplisit mengaitkan sains dengan spiritualitas Timur, sedangkan Penrose tetap bergerak melalui pendekatan matematis dan fisika teoritis.

Pada tingkat manomaya kosha, manusia masih hidup dalam dualitas ego, emosi, dan ketakutan. Banyak kemajuan teknologi lahir dari lapisan ini—cemerlang secara intelektual tetapi sering miskin kebijaksanaan. Penrose mengingatkan bahwa kecerdasan komputasional belum tentu melahirkan kesadaran sejati. Pandangan ini sejalan dengan kritik Hawkins terhadap masyarakat modern yang sering memuja intelek namun kehilangan kualitas batin.

Dalam Power vs. Force, Hawkins menjelaskan tingkat kesadaran manusia mulai dari rasa malu, takut, marah, hingga cinta, damai, dan pencerahan. Semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin manusia mampu melihat keterhubungan kehidupan. Kesadaran rendah cenderung melihat dunia secara terpisah dan kompetitif, sedangkan kesadaran tinggi melihat harmoni dan kesatuan.

Di titik ini terlihat hubungan menarik antara Hawkins dan Capra. Jika Hawkins berbicara tentang evolusi kesadaran manusia, maka Capra berbicara tentang evolusi cara pandang terhadap alam semesta. Keduanya menuju paradigma holistik. Penrose pun, melalui pencariannya tentang kesadaran dan kosmos, tampak bergerak ke arah yang sama meskipun menggunakan bahasa sains ketat.

Dalam tradisi Vedanta, vijnanamaya kosha adalah lapisan kebijaksanaan intuitif yang melampaui pikiran rasional biasa. Banyak ilmuwan besar sebenarnya bekerja bukan hanya melalui logika linear, tetapi juga intuisi mendalam. Penrose sendiri sering berbicara tentang keindahan matematika dan kemampuan manusia “melihat” kebenaran secara intuitif. Hal ini mengingatkan bahwa kesadaran manusia memiliki dimensi kreatif yang belum mampu direplikasi AI sepenuhnya.

Lapisan tertinggi, anandamaya kosha, adalah kesadaran kebahagiaan dan kesatuan. Dalam pengalaman ini, manusia tidak lagi merasa terpisah dari semesta. Pandangan Capra tentang interconnectedness, Hawkins tentang level kesadaran tinggi, dan refleksi Penrose mengenai misteri kosmos semuanya mengarah pada intuisi yang mirip: realitas pada dasarnya bersifat menyatu.

Inilah tantangan besar peradaban modern. Sains berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran manusia belum berkembang seimbang. Teknologi memberi kekuatan luar biasa, namun tanpa evolusi kesadaran, kekuatan itu mudah berubah menjadi krisis ekologis, perang, dan alienasi spiritual, ketika manusia merasa terpisah dari dirinya sendiri, dari orang lain, dari alam, atau dari makna hidupnya.

Karena itu, dialog antara Penrose, Capra, Hawkins, dan filsafat Vedanta menjadi penting bagi masa depan. Mereka mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar konsumen materi atau mesin biologis, melainkan bagian dari kesadaran kosmik yang lebih luas. Di titik inilah sains dan spiritualitas tidak lagi dipandang sebagai musuh, tetapi dua jalan berbeda menuju pemahaman tentang misteri kehidupan.[T]

Tags: fisikailmu fisikaNobelRoger Penrose
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Next Post

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co