26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 5, 2026
in Esai
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin

Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ketika banyak ilmuwan memandang manusia hanya sebagai kumpulan reaksi biologis dan sistem komputasi, Penrose justru mempertanyakan keyakinan itu. Baginya, kesadaran manusia tidak sesederhana mesin yang memproses data.

Dalam dunia modern yang semakin memuja kecerdasan buatan, algoritma, dan otomasi, pandangan Penrose terasa seperti suara yang mengingatkan bahwa manusia memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar kalkulasi. Ia melihat ada sesuatu dalam kesadaran yang tidak dapat direduksi menjadi logika mekanis.

Melalui karya-karyanya seperti The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind, Penrose mencoba menunjukkan bahwa kemampuan manusia memahami kebenaran memiliki sifat yang melampaui komputer biasa. Mesin mungkin dapat menghitung lebih cepat, tetapi belum tentu mampu “menyadari” makna dari apa yang dihitung.

Pandangan ini menarik karena di tengah kemajuan teknologi, manusia justru menghadapi krisis makna. Banyak orang memiliki akses informasi luar biasa, tetapi kehilangan kedalaman kesadaran. Penrose seolah mengingatkan bahwa rasio maupun nalar belum tentu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam filsafat, terutama sejak René Descartes dan era Pencerahan, rasio dianggap alat utama mencapai kebenaran. Namun banyak pemikir kemudian mengkritik dominasi rasio murni, termasuk Roger Penrose, karena manusia juga memiliki intuisi, pengalaman batin, dan kesadaran yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika formal.

Gödel, Kesadaran, dan Batas Rasionalitas

Salah satu dasar pemikiran Penrose berasal dari Teorema Ketidaklengkapan Gödel. Teori ini menyatakan bahwa dalam sistem matematika tertentu selalu ada kebenaran yang tidak dapat dibuktikan hanya dari aturan sistem itu sendiri.

Penrose menggunakan gagasan tersebut untuk mengkritik keyakinan bahwa pikiran manusia hanyalah algoritma. Jika otak sekadar komputer biologis, maka manusia seharusnya tidak dapat melampaui batas sistem formalnya. Namun kenyataannya, manusia sering mampu “melihat” kebenaran secara intuitif bahkan sebelum mampu membuktikannya secara logis.

Di sini Penrose membawa sains memasuki wilayah filsafat. Ia mempertanyakan: dari mana datangnya intuisi? Mengapa manusia dapat mengalami inspirasi mendadak? Mengapa kesadaran mampu memahami keindahan matematika?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya telah lama menjadi renungan spiritual dan filosofis. Dalam banyak tradisi Timur, kesadaran dipandang bukan sekadar produk otak, melainkan bagian dari realitas yang lebih luas. Penrose tidak berbicara dalam bahasa mistik, tetapi arah refleksinya membuka ruang dialog antara sains dan spiritualitas.

Ia tidak menolak rasionalitas, namun menunjukkan bahwa rasionalitas memiliki batas. Di luar batas itu terdapat wilayah misteri yang belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan modern.

Lubang Hitam dan Kesunyian Kosmos

Selain meneliti kesadaran, Penrose juga terkenal karena kontribusinya pada teori relativitas dan lubang hitam bersama Stephen Hawking. Mereka menunjukkan bahwa jika relativitas Einstein benar, maka alam semesta memiliki singularitas—titik ekstrem di mana hukum fisika seperti runtuh.

Bagi banyak orang, kosmologi hanyalah angka dan persamaan. Namun bagi Penrose, alam semesta menyimpan keindahan matematis yang hampir artistik. Ia percaya hukum-hukum alam bukan kebetulan semata, melainkan memiliki keteraturan mendalam.

Ketika melihat gambar galaksi, lubang hitam, atau struktur ruang-waktu, Penrose tidak hanya melihat benda fisik, tetapi juga pola geometris yang luar biasa elegan. Dalam pandangannya, matematika bukan sekadar alat manusia, melainkan bahasa fundamental realitas.

Di sini muncul nuansa reflektif yang menarik. Semakin jauh manusia mempelajari alam semesta, semakin besar kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang sangat luas. Pengetahuan modern ternyata tidak selalu menghasilkan kesombongan; kadang justru melahirkan kerendahan hati.

Penrose termasuk ilmuwan yang masih memiliki rasa takjub terhadap misteri eksistensi. Sikap ini mulai jarang ditemukan di tengah budaya modern yang sering merasa mampu menjelaskan segalanya.

Orch-OR dan Misteri Jiwa

Salah satu gagasan paling kontroversial Penrose adalah teori Orch-OR yang dikembangkan bersama Stuart Hameroff. Teori ini menyatakan bahwa kesadaran mungkin muncul dari proses kuantum di dalam mikrotubulus sel otak.

Walaupun teori ini masih diperdebatkan, daya tariknya sangat besar karena mencoba menjelaskan kesadaran sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas listrik saraf biasa. Jika benar ada proses kuantum dalam kesadaran, maka manusia mungkin terhubung dengan struktur dasar realitas semesta.

Pandangan ini mengingatkan banyak orang pada gagasan spiritual kuno bahwa manusia adalah mikrokosmos dari alam raya. Dalam tradisi Timur, tubuh sering dipandang sebagai miniatur kosmos. Penrose memang tidak sedang mengajarkan agama, tetapi teorinya secara tidak langsung membuka kemungkinan bahwa kesadaran memiliki dimensi universal.

Di era modern, manusia sering terjebak melihat diri hanya sebagai tubuh biologis. Akibatnya hidup menjadi sangat materialistik. Kesuksesan diukur sebatas kepemilikan dan konsumsi. Namun Penrose mengajak manusia kembali bertanya: apakah kesadaran hanyalah reaksi kimia? Apakah cinta, intuisi, dan pengalaman batin hanya ilusi neuron?

Pertanyaan itu penting karena cara manusia memahami kesadaran akan memengaruhi arah peradaban. Jika manusia melihat dirinya sekadar mesin biologis, maka kehidupan mudah kehilangan kesucian.

Penrose dan Masa Depan Spiritualitas Sains

Roger Penrose menunjukkan bahwa sains sejati tidak selalu menutup pintu misteri. Justru semakin dalam seseorang memahami realitas, semakin terlihat bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Di tengah konflik antara kaum materialis dan spiritualis, Penrose hadir sebagai jembatan yang unik. Ia tetap berpijak pada matematika dan fisika ketat, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa kesadaran menyimpan rahasia besar yang belum terpecahkan.

Pendekatan seperti ini penting bagi masa depan manusia. Dunia modern membutuhkan sains, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan. Teknologi tanpa kesadaran dapat berubah menjadi ancaman. AI dapat membantu manusia, tetapi tidak otomatis memberi makna hidup.

Penrose mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang menyadari. Kesadaran itulah yang membuat manusia mampu mengalami cinta, keheningan, belas kasih, dan pencarian makna.

Barangkali pada akhirnya, pencarian ilmiah Penrose bukan hanya tentang fisika atau matematika, tetapi tentang usaha memahami siapa manusia sebenarnya. Dan semakin manusia masuk ke kedalaman kesadaran, semakin tampak bahwa semesta tidak hanya terdiri dari materi, tetapi juga misteri.

Pancakosha, Hawkins, dan Resonansi Holistik Penrose–Capra

Pemikiran Penrose menjadi semakin kaya ketika dibaca berdampingan dengan konsep Pancakosha dalam Vedanta, peta kesadaran David R. Hawkins, serta pandangan holistik Fritjof Capra. Ketiganya berasal dari jalur berbeda—fisika matematis, psikologi spiritual, dan teori sistem—namun memiliki titik temu: kritik terhadap paradigma materialisme mekanistik yang memandang manusia hanya sebagai mesin biologis.

Dalam konsep Pancakosha, manusia dipahami memiliki lima lapisan eksistensi: annamaya kosha (tubuh fisik), pranamaya kosha (energi vital), manomaya kosha (pikiran dan emosi), vijnanamaya kosha (intuisi dan kebijaksanaan), serta anandamaya kosha (kesadaran  murni atau kebahagiaan abadi). Struktur ini memperlihatkan bahwa kesadaran manusia bersifat bertingkat dan multidimensional. Tubuh hanyalah lapisan paling luar.

Ketika Penrose mempertanyakan apakah kesadaran sekadar hasil komputasi neuron, ia sebenarnya sedang memasuki wilayah yang dalam filsafat Timur telah lama dijelajahi. Teori Orch-OR yang dikembangkannya bersama Stuart Hameroff mencoba menjelaskan kemungkinan adanya proses kuantum subtil di otak manusia. Walaupun masih kontroversial, teori itu menunjukkan bahwa kesadaran mungkin tidak dapat dijelaskan hanya melalui mekanisme material biasa.

Di sinilah pemikiran Penrose terasa selaras dengan The Tao of Physics karya Capra. Dalam buku tersebut, Capra menunjukkan adanya kemiripan antara fisika modern dan mistisisme Timur. Dunia tidak lagi dipandang sebagai kumpulan benda terpisah, melainkan jaringan relasi energi yang saling terhubung. Fisika kuantum menghancurkan pandangan mekanistik Newtonian yang terlalu kaku.

Capra melihat alam semesta sebagai “web of life”, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Penrose, walaupun lebih matematis dan hati-hati, juga melihat adanya keteraturan mendalam dalam realitas kosmos. Keduanya sama-sama menolak reduksi realitas menjadi sekadar materi padat tanpa dimensi kesadaran. Perbedaannya, Capra lebih eksplisit mengaitkan sains dengan spiritualitas Timur, sedangkan Penrose tetap bergerak melalui pendekatan matematis dan fisika teoritis.

Pada tingkat manomaya kosha, manusia masih hidup dalam dualitas ego, emosi, dan ketakutan. Banyak kemajuan teknologi lahir dari lapisan ini—cemerlang secara intelektual tetapi sering miskin kebijaksanaan. Penrose mengingatkan bahwa kecerdasan komputasional belum tentu melahirkan kesadaran sejati. Pandangan ini sejalan dengan kritik Hawkins terhadap masyarakat modern yang sering memuja intelek namun kehilangan kualitas batin.

Dalam Power vs. Force, Hawkins menjelaskan tingkat kesadaran manusia mulai dari rasa malu, takut, marah, hingga cinta, damai, dan pencerahan. Semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin manusia mampu melihat keterhubungan kehidupan. Kesadaran rendah cenderung melihat dunia secara terpisah dan kompetitif, sedangkan kesadaran tinggi melihat harmoni dan kesatuan.

Di titik ini terlihat hubungan menarik antara Hawkins dan Capra. Jika Hawkins berbicara tentang evolusi kesadaran manusia, maka Capra berbicara tentang evolusi cara pandang terhadap alam semesta. Keduanya menuju paradigma holistik. Penrose pun, melalui pencariannya tentang kesadaran dan kosmos, tampak bergerak ke arah yang sama meskipun menggunakan bahasa sains ketat.

Dalam tradisi Vedanta, vijnanamaya kosha adalah lapisan kebijaksanaan intuitif yang melampaui pikiran rasional biasa. Banyak ilmuwan besar sebenarnya bekerja bukan hanya melalui logika linear, tetapi juga intuisi mendalam. Penrose sendiri sering berbicara tentang keindahan matematika dan kemampuan manusia “melihat” kebenaran secara intuitif. Hal ini mengingatkan bahwa kesadaran manusia memiliki dimensi kreatif yang belum mampu direplikasi AI sepenuhnya.

Lapisan tertinggi, anandamaya kosha, adalah kesadaran kebahagiaan dan kesatuan. Dalam pengalaman ini, manusia tidak lagi merasa terpisah dari semesta. Pandangan Capra tentang interconnectedness, Hawkins tentang level kesadaran tinggi, dan refleksi Penrose mengenai misteri kosmos semuanya mengarah pada intuisi yang mirip: realitas pada dasarnya bersifat menyatu.

Inilah tantangan besar peradaban modern. Sains berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran manusia belum berkembang seimbang. Teknologi memberi kekuatan luar biasa, namun tanpa evolusi kesadaran, kekuatan itu mudah berubah menjadi krisis ekologis, perang, dan alienasi spiritual, ketika manusia merasa terpisah dari dirinya sendiri, dari orang lain, dari alam, atau dari makna hidupnya.

Karena itu, dialog antara Penrose, Capra, Hawkins, dan filsafat Vedanta menjadi penting bagi masa depan. Mereka mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar konsumen materi atau mesin biologis, melainkan bagian dari kesadaran kosmik yang lebih luas. Di titik inilah sains dan spiritualitas tidak lagi dipandang sebagai musuh, tetapi dua jalan berbeda menuju pemahaman tentang misteri kehidupan.[T]

Tags: fisikailmu fisikaNobelRoger Penrose
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Next Post

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co