5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Chusmeru by Chusmeru
June 5, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan nuansa mitologi. Pemimpin di desa adalah orang-orang yang ketiban ndaru untuk menjadi kepala desa.

Ketiban ndaru merupakan ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya mendapatkan keberuntungan luar biasa, berkah besar, atau kebahagiaan tak terkira secara tiba-tiba. Ndaru sendiri merupakan cahaya langit yang dipercaya sebagai wahyu atau pertanda akan datangnya keberuntungan atau jabatan. Maka, saat pemilihan kepala desa masyarakat Jawa zaman dahulu akan tirakat di luar rumah pada malam hari untuk menunggu cahaya langit yang jatuh ke rumah calon kepala desa.

Sosok pemimpin selalu mengikuti konteks zaman, budaya, dan geopolitik Nusantara. Pola-pola pemimpin pun menunjukkan keragaman. Banyak tokoh di masa lalu yang memimpin dengan wibawa moral, seperti kiai, ulama, maupun raja. Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro dianggap sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan dan kepercayaan sebagai sosok yang mampu menjaga nilai moral.

Sebelum kemerdekaan, Indonesia memiliki pemimpin pejuang lapangan. Sebutlah Panglima Besar Jenderal Soedirman yang lahir dari medan pertempuran. Hidup bersama rakyat, bergerilya, dan tidur di hutan menjadikan Jenderal Soedirman sebagai pemimpin yang memiliki empati senasib sepenanggungan dengan rakyat.

Pola pemimpin kharismatik dimiliki Presiden Soekarno. Selain memiliki kekuatan retorika, Soekarno juga mampu mempersatukan rakyat dengan visi besarnya. Ia dianggap sebagai figur “ayah” oleh rakyat. Nama besarnya hingga kini tak lekang oleh waktu.

Memasuki Orde Baru, Indonesia memiliki Soeharto, pemimpin dengan pola otoriter paternalistik. Presiden adalah “bapak” yang tahu segalanya. Karena itu rakyat harus selalu tunduk dan patuh. Gelar “Bapak Pembangunan” mengukuhkannya sebagai pemimpin paternalistik; dekat dengan rakyat secara simbolik, tetapi jarak kekuasaan begitu jauh.

Pemimpin Pascareformasi

Setelah reformasi 1998 hingga sekarang, pemimpin Indonesia, baik di pusat maupun daerah, mengikuti pola elektoral sentris, transaksional berbiaya tinggi, personalisasi intutusi, minim keteladanan namun kuat pencitraan, dan produk media sosial.

Legitimasi pemimpin bukan datang dari ndaru atau wibawa moral, namun dari hasil pemilu lima tahunan. Hasilnya adalah pemimpin elektabilitas. Senjatanya adalah citra, survei, dan media sosial. Biaya kampanye yang begitu besar membuat calon pemimpin membutuhkan modal dari sponsor maupun oligarki. Maka tak heran bila banyak kebijakan pemimpin yang bermuara pada relasi balas budi proyek maupun jabatan.

Partai tumbuh banyak, namun acapkali dijadikan kendaraan politik bagi orang-orang yang ingin tampil sebagai pemimpin. Orientasi pemimpin tetap figuristik, menjual gestur dan gimmick. Gayanya merakyat, blusukan ke pemukiman kumuh, dan makan di warteg agar dianggap dekat dengan rakyat. Inspirasinya adalah pemimpin kharismatik yang merasa senasib dengan rakyat, namun kemasannya lebih dekat dengan konten media sosial.

Pemimpin kekinian ingin dianggap negarawan, berbicara visi jangka panjang dengan berbasis data. Namun kekuasaannya akan melemah tanpa koalisi yang kuat dan persepsi publik yang mendukung. Maka pemimpin pascareformasi adalah orang-orang yang bermain drama demi algoritma, sehingga tak jarang pemimpin menjadi konten kreator agar viral dan banjir dukungan.

Panggung Adigang, Adigung, Adiguna

Pemimpin yang lahir dari hasil pemilihan umum yang demokratis tidak serta merta akan bersikap demokratis dan merakyat. Hasrat berkuasa kerap membuat seorang pemimpin bersikap tidak adil dan cenderung congkak. Kekuasaan dapat membuat pemimpin merasa segalanya di panggung politik; sebagai penulis naskah, sutradara, pemain, dan sekaligus produser.

Tak heran bila kekuasaan menjadi panggung adigang, adigung, dan adiguna. Rakyat yang memberinya mandat tak mampu berbuat banyak, lantaran hanya dapat menonton para pemimpin bermain di atas panggung. Andai pun protes, rakyat akan dianggap sebagai penonton yang tak cerdas, penonton tak bijak, dan penonton yang tak paham jalan cerita.

Indikasi arogansi pemimpin maupun penguasa bukan barang baru. Pada awal abad ke-18 Susuhunan Pakubuwana IV sudah menulis dalam Serat Wulangreh tentang ajaran moral Jawa yang mengingatkan manusia untuk tidak sombong atas kekuatan, kekuasaan, dan kecerdasan yang dimiliki. Ajaran moral untuk anak cucu itu agar menjauhi sikap arogan, yaitu adigang, adigung, adiguna.

Adigang diibaratkan seperti kidang atau rusa, mengandalkan kelincahan atau kecepatan larinya (Wawan Susetya, 2007). Jika dimaknai lebih jauh, pemimpin seperti ini adalah seorang yang mengandalkan dan bangga pada kedudukan politiknya sehingga meremehkan orang lain, termasuk menyepelekan rakyat yang dipimpinnya.

Secara visual pemimpin adigang dapat dilihat dari penampilannya. Gaya bicaranya menggebu-gebu, suaranya lantang, dadanya membusung, tangannya lebih sering mengepal, jari tangan selalu menunjuk, dan berbicara sambil menggebrak podium di hadapan rakyatnya. Merasa paling benar. Tak mau disalahkan. Jika dikritik rakyat, muncul amarahnya.

Adigung diibaratkan seperti liman (gajah) yang mengandalkan tinggi besarnya. Pemimpin yang adigung akan mengandalkan nama besar, kekuasaan, maupun kepandainnya. Pemimpin semacam ini selalu meremehkan dan menganggap lemah orang lain. Rakyat tak dianggap memiliki pengetahuan apa pun, karena hanya dialah yang merasa tahu segalanya.

Orang yang memiliki sikap adiguna digambarkan seperti sawer atau ular, yaitu mengandalkan bisanya yang beracun dan mematikan. Seorang pemimpin diharapkan tidak mengandalkan kekuasaannya untuk membungkam suara kritis dari rakyatnya. Jangan sampai kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya justru digunakan untuk membunuh kreativitas serta kebebasan berpendapat rakyatnya (Chusmeru, 2023).

Kini politik, kekuasaan, dan bisnis acap menjadi panggung adigang, adigung, adiguna bagi banyak orang. Pemimpin yang adigang merasa sok kuat karena punya jabatan, senjata, maupun dukungan massa. Pemimpin seperti ini tidak segan-segan untuk mengerahkan preman maupun buzzer untuk menyerang pengkritik kebijakan. Kekuatan hukum dan opini digital dipakai untuk membungkam, serta menghindari dialog.

Ancaman dan unjuk kekuatan adalah ciri pemimpin adigang. Mirisnya, ini dilakukan tanpa rasa bersalah oleh pemimpin itu. Dalam kunjungan kerjanya ke Sekolah Rakyat di Nganjuk, Jawa Timur, Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo mengamuk dengan mengeluarkan ancaman kepada anak buahnya yang kinerjanya dianggap buruk dengan mengatakan:”Kalau nggak suka dengan Pak Presiden Prabowo Subianto, keluar dari ASN! Berhenti jadi ASN!”. Dengan pongah ia juga berkata, kalau saat ini usianya masih 20 tahunan, dia sudah akan menonjok anak buahnya itu (detikJatim, 12/4/2026).

Menyombongkan kebesaran, gelar, nama keluarga, atau status sosial adalah ciri pemimpin yang adigung. Nyaris sama dengan rezim Orde Baru di mana karpet merah diberikan kepada  anak dan kroni penguasa yang otomatis dapat jabatan strategis di BUMN maupun berbagai proyek. Pemimpin di pusat maupun daerah berada dalam lingkaran dinasti politik yang mengandalkan kedekatan keluarga tanpa rekam jejak yang jelas.

Panggung politik juga diwarnai pemimpin yang adiguna, merasa paling pintar dan paling mengerti data. Bila ada rakyat yang kritis dan bertanya, ia akan mengatakan: “rakyat nggak paham kebijakan kompleks”. Saat rakyat protes lantaran pajak yang tinggi dan pemerintah yang banyak utang, pemimpin adiguna akan berujar: “netizen nggak paham fiskal”.

Setiap hari rakyat menonton pemimpin yang adigang, adigung, adiguna. Padahal Lao Tzu mengingatkan, pemimpin terbaik, rakyatnya hampir tak merasa dipimpin, pemimpin yang tak terlihat. Sayangnya, di era digital ini pemimpin justru mediagenik. Berbalas kritik dengan rakyatnya melalui media. Maka, pemimpin pun menjadi tontonan, bukan tuntunan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kepemimpinankomunikasipemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

Next Post

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails
Next Post
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co