7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Chusmeru by Chusmeru
June 5, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan nuansa mitologi. Pemimpin di desa adalah orang-orang yang ketiban ndaru untuk menjadi kepala desa.

Ketiban ndaru merupakan ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya mendapatkan keberuntungan luar biasa, berkah besar, atau kebahagiaan tak terkira secara tiba-tiba. Ndaru sendiri merupakan cahaya langit yang dipercaya sebagai wahyu atau pertanda akan datangnya keberuntungan atau jabatan. Maka, saat pemilihan kepala desa masyarakat Jawa zaman dahulu akan tirakat di luar rumah pada malam hari untuk menunggu cahaya langit yang jatuh ke rumah calon kepala desa.

Sosok pemimpin selalu mengikuti konteks zaman, budaya, dan geopolitik Nusantara. Pola-pola pemimpin pun menunjukkan keragaman. Banyak tokoh di masa lalu yang memimpin dengan wibawa moral, seperti kiai, ulama, maupun raja. Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro dianggap sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan dan kepercayaan sebagai sosok yang mampu menjaga nilai moral.

Sebelum kemerdekaan, Indonesia memiliki pemimpin pejuang lapangan. Sebutlah Panglima Besar Jenderal Soedirman yang lahir dari medan pertempuran. Hidup bersama rakyat, bergerilya, dan tidur di hutan menjadikan Jenderal Soedirman sebagai pemimpin yang memiliki empati senasib sepenanggungan dengan rakyat.

Pola pemimpin kharismatik dimiliki Presiden Soekarno. Selain memiliki kekuatan retorika, Soekarno juga mampu mempersatukan rakyat dengan visi besarnya. Ia dianggap sebagai figur “ayah” oleh rakyat. Nama besarnya hingga kini tak lekang oleh waktu.

Memasuki Orde Baru, Indonesia memiliki Soeharto, pemimpin dengan pola otoriter paternalistik. Presiden adalah “bapak” yang tahu segalanya. Karena itu rakyat harus selalu tunduk dan patuh. Gelar “Bapak Pembangunan” mengukuhkannya sebagai pemimpin paternalistik; dekat dengan rakyat secara simbolik, tetapi jarak kekuasaan begitu jauh.

Pemimpin Pascareformasi

Setelah reformasi 1998 hingga sekarang, pemimpin Indonesia, baik di pusat maupun daerah, mengikuti pola elektoral sentris, transaksional berbiaya tinggi, personalisasi intutusi, minim keteladanan namun kuat pencitraan, dan produk media sosial.

Legitimasi pemimpin bukan datang dari ndaru atau wibawa moral, namun dari hasil pemilu lima tahunan. Hasilnya adalah pemimpin elektabilitas. Senjatanya adalah citra, survei, dan media sosial. Biaya kampanye yang begitu besar membuat calon pemimpin membutuhkan modal dari sponsor maupun oligarki. Maka tak heran bila banyak kebijakan pemimpin yang bermuara pada relasi balas budi proyek maupun jabatan.

Partai tumbuh banyak, namun acapkali dijadikan kendaraan politik bagi orang-orang yang ingin tampil sebagai pemimpin. Orientasi pemimpin tetap figuristik, menjual gestur dan gimmick. Gayanya merakyat, blusukan ke pemukiman kumuh, dan makan di warteg agar dianggap dekat dengan rakyat. Inspirasinya adalah pemimpin kharismatik yang merasa senasib dengan rakyat, namun kemasannya lebih dekat dengan konten media sosial.

Pemimpin kekinian ingin dianggap negarawan, berbicara visi jangka panjang dengan berbasis data. Namun kekuasaannya akan melemah tanpa koalisi yang kuat dan persepsi publik yang mendukung. Maka pemimpin pascareformasi adalah orang-orang yang bermain drama demi algoritma, sehingga tak jarang pemimpin menjadi konten kreator agar viral dan banjir dukungan.

Panggung Adigang, Adigung, Adiguna

Pemimpin yang lahir dari hasil pemilihan umum yang demokratis tidak serta merta akan bersikap demokratis dan merakyat. Hasrat berkuasa kerap membuat seorang pemimpin bersikap tidak adil dan cenderung congkak. Kekuasaan dapat membuat pemimpin merasa segalanya di panggung politik; sebagai penulis naskah, sutradara, pemain, dan sekaligus produser.

Tak heran bila kekuasaan menjadi panggung adigang, adigung, dan adiguna. Rakyat yang memberinya mandat tak mampu berbuat banyak, lantaran hanya dapat menonton para pemimpin bermain di atas panggung. Andai pun protes, rakyat akan dianggap sebagai penonton yang tak cerdas, penonton tak bijak, dan penonton yang tak paham jalan cerita.

Indikasi arogansi pemimpin maupun penguasa bukan barang baru. Pada awal abad ke-18 Susuhunan Pakubuwana IV sudah menulis dalam Serat Wulangreh tentang ajaran moral Jawa yang mengingatkan manusia untuk tidak sombong atas kekuatan, kekuasaan, dan kecerdasan yang dimiliki. Ajaran moral untuk anak cucu itu agar menjauhi sikap arogan, yaitu adigang, adigung, adiguna.

Adigang diibaratkan seperti kidang atau rusa, mengandalkan kelincahan atau kecepatan larinya (Wawan Susetya, 2007). Jika dimaknai lebih jauh, pemimpin seperti ini adalah seorang yang mengandalkan dan bangga pada kedudukan politiknya sehingga meremehkan orang lain, termasuk menyepelekan rakyat yang dipimpinnya.

Secara visual pemimpin adigang dapat dilihat dari penampilannya. Gaya bicaranya menggebu-gebu, suaranya lantang, dadanya membusung, tangannya lebih sering mengepal, jari tangan selalu menunjuk, dan berbicara sambil menggebrak podium di hadapan rakyatnya. Merasa paling benar. Tak mau disalahkan. Jika dikritik rakyat, muncul amarahnya.

Adigung diibaratkan seperti liman (gajah) yang mengandalkan tinggi besarnya. Pemimpin yang adigung akan mengandalkan nama besar, kekuasaan, maupun kepandainnya. Pemimpin semacam ini selalu meremehkan dan menganggap lemah orang lain. Rakyat tak dianggap memiliki pengetahuan apa pun, karena hanya dialah yang merasa tahu segalanya.

Orang yang memiliki sikap adiguna digambarkan seperti sawer atau ular, yaitu mengandalkan bisanya yang beracun dan mematikan. Seorang pemimpin diharapkan tidak mengandalkan kekuasaannya untuk membungkam suara kritis dari rakyatnya. Jangan sampai kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya justru digunakan untuk membunuh kreativitas serta kebebasan berpendapat rakyatnya (Chusmeru, 2023).

Kini politik, kekuasaan, dan bisnis acap menjadi panggung adigang, adigung, adiguna bagi banyak orang. Pemimpin yang adigang merasa sok kuat karena punya jabatan, senjata, maupun dukungan massa. Pemimpin seperti ini tidak segan-segan untuk mengerahkan preman maupun buzzer untuk menyerang pengkritik kebijakan. Kekuatan hukum dan opini digital dipakai untuk membungkam, serta menghindari dialog.

Ancaman dan unjuk kekuatan adalah ciri pemimpin adigang. Mirisnya, ini dilakukan tanpa rasa bersalah oleh pemimpin itu. Dalam kunjungan kerjanya ke Sekolah Rakyat di Nganjuk, Jawa Timur, Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo mengamuk dengan mengeluarkan ancaman kepada anak buahnya yang kinerjanya dianggap buruk dengan mengatakan:”Kalau nggak suka dengan Pak Presiden Prabowo Subianto, keluar dari ASN! Berhenti jadi ASN!”. Dengan pongah ia juga berkata, kalau saat ini usianya masih 20 tahunan, dia sudah akan menonjok anak buahnya itu (detikJatim, 12/4/2026).

Menyombongkan kebesaran, gelar, nama keluarga, atau status sosial adalah ciri pemimpin yang adigung. Nyaris sama dengan rezim Orde Baru di mana karpet merah diberikan kepada  anak dan kroni penguasa yang otomatis dapat jabatan strategis di BUMN maupun berbagai proyek. Pemimpin di pusat maupun daerah berada dalam lingkaran dinasti politik yang mengandalkan kedekatan keluarga tanpa rekam jejak yang jelas.

Panggung politik juga diwarnai pemimpin yang adiguna, merasa paling pintar dan paling mengerti data. Bila ada rakyat yang kritis dan bertanya, ia akan mengatakan: “rakyat nggak paham kebijakan kompleks”. Saat rakyat protes lantaran pajak yang tinggi dan pemerintah yang banyak utang, pemimpin adiguna akan berujar: “netizen nggak paham fiskal”.

Setiap hari rakyat menonton pemimpin yang adigang, adigung, adiguna. Padahal Lao Tzu mengingatkan, pemimpin terbaik, rakyatnya hampir tak merasa dipimpin, pemimpin yang tak terlihat. Sayangnya, di era digital ini pemimpin justru mediagenik. Berbalas kritik dengan rakyatnya melalui media. Maka, pemimpin pun menjadi tontonan, bukan tuntunan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kepemimpinankomunikasipemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

Next Post

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co