16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Chusmeru by Chusmeru
June 5, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan nuansa mitologi. Pemimpin di desa adalah orang-orang yang ketiban ndaru untuk menjadi kepala desa.

Ketiban ndaru merupakan ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya mendapatkan keberuntungan luar biasa, berkah besar, atau kebahagiaan tak terkira secara tiba-tiba. Ndaru sendiri merupakan cahaya langit yang dipercaya sebagai wahyu atau pertanda akan datangnya keberuntungan atau jabatan. Maka, saat pemilihan kepala desa masyarakat Jawa zaman dahulu akan tirakat di luar rumah pada malam hari untuk menunggu cahaya langit yang jatuh ke rumah calon kepala desa.

Sosok pemimpin selalu mengikuti konteks zaman, budaya, dan geopolitik Nusantara. Pola-pola pemimpin pun menunjukkan keragaman. Banyak tokoh di masa lalu yang memimpin dengan wibawa moral, seperti kiai, ulama, maupun raja. Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro dianggap sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan dan kepercayaan sebagai sosok yang mampu menjaga nilai moral.

Sebelum kemerdekaan, Indonesia memiliki pemimpin pejuang lapangan. Sebutlah Panglima Besar Jenderal Soedirman yang lahir dari medan pertempuran. Hidup bersama rakyat, bergerilya, dan tidur di hutan menjadikan Jenderal Soedirman sebagai pemimpin yang memiliki empati senasib sepenanggungan dengan rakyat.

Pola pemimpin kharismatik dimiliki Presiden Soekarno. Selain memiliki kekuatan retorika, Soekarno juga mampu mempersatukan rakyat dengan visi besarnya. Ia dianggap sebagai figur “ayah” oleh rakyat. Nama besarnya hingga kini tak lekang oleh waktu.

Memasuki Orde Baru, Indonesia memiliki Soeharto, pemimpin dengan pola otoriter paternalistik. Presiden adalah “bapak” yang tahu segalanya. Karena itu rakyat harus selalu tunduk dan patuh. Gelar “Bapak Pembangunan” mengukuhkannya sebagai pemimpin paternalistik; dekat dengan rakyat secara simbolik, tetapi jarak kekuasaan begitu jauh.

Pemimpin Pascareformasi

Setelah reformasi 1998 hingga sekarang, pemimpin Indonesia, baik di pusat maupun daerah, mengikuti pola elektoral sentris, transaksional berbiaya tinggi, personalisasi intutusi, minim keteladanan namun kuat pencitraan, dan produk media sosial.

Legitimasi pemimpin bukan datang dari ndaru atau wibawa moral, namun dari hasil pemilu lima tahunan. Hasilnya adalah pemimpin elektabilitas. Senjatanya adalah citra, survei, dan media sosial. Biaya kampanye yang begitu besar membuat calon pemimpin membutuhkan modal dari sponsor maupun oligarki. Maka tak heran bila banyak kebijakan pemimpin yang bermuara pada relasi balas budi proyek maupun jabatan.

Partai tumbuh banyak, namun acapkali dijadikan kendaraan politik bagi orang-orang yang ingin tampil sebagai pemimpin. Orientasi pemimpin tetap figuristik, menjual gestur dan gimmick. Gayanya merakyat, blusukan ke pemukiman kumuh, dan makan di warteg agar dianggap dekat dengan rakyat. Inspirasinya adalah pemimpin kharismatik yang merasa senasib dengan rakyat, namun kemasannya lebih dekat dengan konten media sosial.

Pemimpin kekinian ingin dianggap negarawan, berbicara visi jangka panjang dengan berbasis data. Namun kekuasaannya akan melemah tanpa koalisi yang kuat dan persepsi publik yang mendukung. Maka pemimpin pascareformasi adalah orang-orang yang bermain drama demi algoritma, sehingga tak jarang pemimpin menjadi konten kreator agar viral dan banjir dukungan.

Panggung Adigang, Adigung, Adiguna

Pemimpin yang lahir dari hasil pemilihan umum yang demokratis tidak serta merta akan bersikap demokratis dan merakyat. Hasrat berkuasa kerap membuat seorang pemimpin bersikap tidak adil dan cenderung congkak. Kekuasaan dapat membuat pemimpin merasa segalanya di panggung politik; sebagai penulis naskah, sutradara, pemain, dan sekaligus produser.

Tak heran bila kekuasaan menjadi panggung adigang, adigung, dan adiguna. Rakyat yang memberinya mandat tak mampu berbuat banyak, lantaran hanya dapat menonton para pemimpin bermain di atas panggung. Andai pun protes, rakyat akan dianggap sebagai penonton yang tak cerdas, penonton tak bijak, dan penonton yang tak paham jalan cerita.

Indikasi arogansi pemimpin maupun penguasa bukan barang baru. Pada awal abad ke-18 Susuhunan Pakubuwana IV sudah menulis dalam Serat Wulangreh tentang ajaran moral Jawa yang mengingatkan manusia untuk tidak sombong atas kekuatan, kekuasaan, dan kecerdasan yang dimiliki. Ajaran moral untuk anak cucu itu agar menjauhi sikap arogan, yaitu adigang, adigung, adiguna.

Adigang diibaratkan seperti kidang atau rusa, mengandalkan kelincahan atau kecepatan larinya (Wawan Susetya, 2007). Jika dimaknai lebih jauh, pemimpin seperti ini adalah seorang yang mengandalkan dan bangga pada kedudukan politiknya sehingga meremehkan orang lain, termasuk menyepelekan rakyat yang dipimpinnya.

Secara visual pemimpin adigang dapat dilihat dari penampilannya. Gaya bicaranya menggebu-gebu, suaranya lantang, dadanya membusung, tangannya lebih sering mengepal, jari tangan selalu menunjuk, dan berbicara sambil menggebrak podium di hadapan rakyatnya. Merasa paling benar. Tak mau disalahkan. Jika dikritik rakyat, muncul amarahnya.

Adigung diibaratkan seperti liman (gajah) yang mengandalkan tinggi besarnya. Pemimpin yang adigung akan mengandalkan nama besar, kekuasaan, maupun kepandainnya. Pemimpin semacam ini selalu meremehkan dan menganggap lemah orang lain. Rakyat tak dianggap memiliki pengetahuan apa pun, karena hanya dialah yang merasa tahu segalanya.

Orang yang memiliki sikap adiguna digambarkan seperti sawer atau ular, yaitu mengandalkan bisanya yang beracun dan mematikan. Seorang pemimpin diharapkan tidak mengandalkan kekuasaannya untuk membungkam suara kritis dari rakyatnya. Jangan sampai kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya justru digunakan untuk membunuh kreativitas serta kebebasan berpendapat rakyatnya (Chusmeru, 2023).

Kini politik, kekuasaan, dan bisnis acap menjadi panggung adigang, adigung, adiguna bagi banyak orang. Pemimpin yang adigang merasa sok kuat karena punya jabatan, senjata, maupun dukungan massa. Pemimpin seperti ini tidak segan-segan untuk mengerahkan preman maupun buzzer untuk menyerang pengkritik kebijakan. Kekuatan hukum dan opini digital dipakai untuk membungkam, serta menghindari dialog.

Ancaman dan unjuk kekuatan adalah ciri pemimpin adigang. Mirisnya, ini dilakukan tanpa rasa bersalah oleh pemimpin itu. Dalam kunjungan kerjanya ke Sekolah Rakyat di Nganjuk, Jawa Timur, Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo mengamuk dengan mengeluarkan ancaman kepada anak buahnya yang kinerjanya dianggap buruk dengan mengatakan:”Kalau nggak suka dengan Pak Presiden Prabowo Subianto, keluar dari ASN! Berhenti jadi ASN!”. Dengan pongah ia juga berkata, kalau saat ini usianya masih 20 tahunan, dia sudah akan menonjok anak buahnya itu (detikJatim, 12/4/2026).

Menyombongkan kebesaran, gelar, nama keluarga, atau status sosial adalah ciri pemimpin yang adigung. Nyaris sama dengan rezim Orde Baru di mana karpet merah diberikan kepada  anak dan kroni penguasa yang otomatis dapat jabatan strategis di BUMN maupun berbagai proyek. Pemimpin di pusat maupun daerah berada dalam lingkaran dinasti politik yang mengandalkan kedekatan keluarga tanpa rekam jejak yang jelas.

Panggung politik juga diwarnai pemimpin yang adiguna, merasa paling pintar dan paling mengerti data. Bila ada rakyat yang kritis dan bertanya, ia akan mengatakan: “rakyat nggak paham kebijakan kompleks”. Saat rakyat protes lantaran pajak yang tinggi dan pemerintah yang banyak utang, pemimpin adiguna akan berujar: “netizen nggak paham fiskal”.

Setiap hari rakyat menonton pemimpin yang adigang, adigung, adiguna. Padahal Lao Tzu mengingatkan, pemimpin terbaik, rakyatnya hampir tak merasa dipimpin, pemimpin yang tak terlihat. Sayangnya, di era digital ini pemimpin justru mediagenik. Berbalas kritik dengan rakyatnya melalui media. Maka, pemimpin pun menjadi tontonan, bukan tuntunan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kepemimpinankomunikasipemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

Next Post

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co