Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api itu berputar-putar. Juga roh-roh yang sedang mengalami siksaan, para algojo penyiksa, pengurus neraka, alat-alat penyiksaan, dan seisi neraka ikut diterbangkan dan digulung angin. Teriakan-teriakan dan benturan benda-benda, dan kobaran api menciptakan nada-nada aneh, seperti sebuah usaha untuk membuat nada absurd.
Neraka dilanda puting beliung pada Minggu pagi, pukul 07.12 waktu manusia. Tak ada tanda-tanda akan munculnya angin ini. Neraka berjalan seperti biasa hari itu dan semuanya sepertinya akan baik-baik saja. Beberapa roh berdosa baru didatangkan dari dunia dan ada sebagian dari mereka telah selesai disidang secara maraton atas segala dosa-dosa yang dibuatnya di dunia. Beberapa menyangkal, namun roh-roh itu tak bisa mengelak saat hakim memutar video dari hard disk tentang kejahatan yang dilakukannya di dunia. Memang selama ini, setiap gerakan manusia di dunia dipantau dengan alat perekam video dan videonya disimpan dalam sebuah hard disk berukuran besar dan diisi nama di bagian luarnya agar tak tertukar. Rekaman itulah yang digunakan sebagai bukti yang tak bisa disangkal oleh para roh. Mau tak mau, semua menerima vonis itu.
Barisan roh yang menunggu untuk disidang dan penjatuhan vonis hukuman sangatlah panjang. Begitu banyak kematian hari itu di dunia. Kebanyakan roh datang dari negeri selatan yang kebetulan baru saja dilanda banjir bandang dan longsor setelah hujan tak henti-hentinya turun selama lima hari. Saat hakim neraka akan memukulkan palu untuk memvonis bersalah roh seorang juragan sawit dari negeri selatan yang tertimbun longsor, angin tiba-tiba datang, menyambar dengan cepatnya, palu di tangan hakim lepas dan ikut tergulung, termasuk hakim dan roh-roh yang menunggu vonis.
Kekacauan dengan segera merebak di seluruh penjuru neraka. Angin bercampur api yang berputar itu bergerak sangat cepat, petir menyambar-nyambar di sampingnya dengan suaranya yang menggelegar. Angin itu terus berputar-putar di neraka sepanjang hari selama sepuluh hari, berkeliling, kembali menuju titik awal, lalu berkeliling lagi. Tak ada benda-benda atau roh yang diam, semuanya berputar-putar bersama angin. Beberapa roh muntah karena pusing, dan muntahannya tak sempat jatuh ke dasar neraka, karena langsung disambar angin.
Setiap benda yang tersentuh angin bercampur api langsung terbakar dan berputar. Untunglah roh tahan api, sehingga tak terbakar. Hanya terasa panas saja di badan dan itu makanan harian bagi mereka yang tengah menerima siksaan. Api besar membara di seluruh penjuru neraka. Tak ada yang bisa terselamatkan, dan tak ada yang mampu menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Di hari terakhir, saat angin benar-benar padam dan hilang, roh-roh bertumpuk di dasar neraka. Mereka merasakan pusing yang hebat hingga tak kuasa untuk beranjak. Bahkan roh paling atas yang menindih roh-roh lainnya tak kuasa untuk bergerak. Di antara mereka juga tertindih hakim neraka, para algojo penyiksa, pengurus neraka, meja hakim yang gosong, catatan kejahatan yang terbakar, hard disk eksternal dengan kapasitas bertera-terabyte yang berisi rekaman kejahatan roh di dunia yang juga menghitam. Sebuah benda mirip kuali besar tempat api berkobar-kobar dan roh direbus juga terbalik. Apinya mengecil dan nyaris padam.
Seorang algojo mencoba menyadarkan diri dari rasa pusing hebat dan ingin menyelamatkan api agar tak mati. Baru bisa berdiri, langsung ambruk dan muntah. Ia tak hilang akal, merangkaklah menuju tempat api. Beberapa potongan benda yang bisa terbakar ditumpuknya hingga api kembali menyala. Butuh dua sampai lima hari agar semua sadar dari rasa pusing dan mual akibat putaran angin puting beliung itu. Neraka jadi penuh bau muntahan dan benda gosong. Semua hanya tinggal puing-puing dan beberapa telah jadi abu. Setelah semua sadar, raja neraka yang melakukan perjalanan dinas ke sorga dan telah kembali, dan tentu saja selamat dari amukan angin ini segera menggelar rapat darurat. Hasil rapat: neraka ditutup sementara sampai perbaikan tuntas. Sebagai gantinya, roh-roh yang baru datang dari bumi diungsikan ke surga, tak peduli ia berbuat baik atau jahat.
Untuk pembangunan kembali neraka yang porak-poranda, digelarlah gotong royong dengan melibatkan roh-roh dan semua penghuni neraka. Untuk pekerjaan ini, mereka dibebaskan dari hukuman selama neraka belum beres. Langkah pertama dari gotong royong ini adalah mengembalikan kuali besar tempat merebus roh ke posisi semula. Saking besarnya, semua roh harus berjuang keras. Tali tambang dipasang, dikatrol pada tiang-tiang besar agar kuali itu bisa tengadah. Teriakan saling menyemangati terdengar di antara mereka.
“Satu… dua… tiga… Tarikkk…!”
“Tarik…!”
“Tarik lagi! Tarik!”
“Sedikit lagi.”
“Tarik lebih kuat lagi.”
“Ayo tarik…”
“Tarik…”
“Iyaaaaa…”
Kuali besar berhasil ditengadahkan dan semua roh bersorak sambil tepuk tangan. Setelah tengadah, api yang kecil diperbesar oleh algojo penyiksa. Selesai dengan urusan kuali, kini roh-roh di neraka harus membangun neraka kembali seperti semula. Bangunan-bangunan yang roboh mau pun terbakar harus segera dibangun. Termasuk ruang sidang untuk vonis hukuman para roh, ruang tunggu, dan lainnya. Kaki meja yang patah dipaku, taman-taman ditata. Tak ada yang diam, semua bekerja keras.
Demi kelancaran bahan bangunan, yang harus segera dibereskan adalah persimpangan antara surga dan neraka. Terkhusus untuk jalan ke neraka yang rusak parah dan jembatannya putus. Selain karena kerusakan, akses ke neraka yang putus juga jadi alasan roh yang baru langsung diungsikan ke surga. Untunglah waktu itu raja neraka yang pulang dari kunjungan kerja ke surga naik kuda api terbang sehingga bisa melewati jembatan yang roboh. Roh-roh di neraka harus mengangkat batu-batu besar bersama para algojo dan pengurus neraka. Agar pekerjaan lebih mudah, mereka membuat barisan panjang, dan batu dikirim lewat barisan itu satu per satu. Roh yang lihai membangun saat masih di dunia bertugas membuat konstruksi. Di neraka kini, semua keahlian dalam bidang arsitektur, seni, dan ilmu hitung jadi sangat berguna.
Setelah menyelesaikan pembangunan jembatan dalam sebulan, penghuni neraka membangun gedung, dimulai dari gapura, ruang persidangan, ruang tunggu, rumah-rumah para algojo dan pengurus neraka dan bangunan lainnya. Berhari-hari, mereka saling membantu tanpa digaji. Berbulan-bulan mereka menguras tenaga. Berton-ton gelondongan kayu diangkut dari sorga dengan kereta yang ditarik kuda bersayap. Sesampainya di neraka, kayu itu dibelah sesuai kebutuhan. Sepanjang hari suara kapak, gergaji, pahat, dan palu menjadi semacam hiburan bagi mereka. Di sela-sela pekerjaannya, roh-roh yang punya keahlian menari, menyanyi, atau bermain sandiwara akan menawarkan hiburan yang cukup untuk menghapus rasa lelah mereka. Raja neraka dan semua pengurus termasuk algojo kadang ikut menonton di antara mereka, tertawa jika ada yang dirasa lucu.
Setelah gotong royong selama tiga tahun, pekerjaan perbaikan neraka usai. Sekali lagi, roh-roh bergotong royong membersihkan sisa pembangunan hingga jalanan menjadi licin, tak ada sisa cipratan cat atau bekas potongan kayu. Dengan selesainya pembangunan, neraka dibuka kembali secara normal, tentunya setelah dilakukan peresmian oleh raja neraka dengan pengguntingan pita di depan gapura yang turut disaksikan raja surga. Semua pengurus dan algojo bersorak atas peresmian itu, kecuali para roh. Begitu pita dipotong, terdengar suara dari pengeras suara yang memaksa para roh berkumpul di halaman. Semua roh berbaris tanpa berani menolak. Pimpinan algojo memberikan pengarahan, roh-roh yang sebelumnya sudah divonis dan tengah menjalani penyiksaan diwajibkan untuk kembali ke tempat penyiksaan masing-masing. Ancaman ditebar jika ada yang tak manut atau ketahuan berbohong. Di bawah ancaman, roh-roh itu menuju tempat penyiksaan, ada yang masuk ke dalam kuali besar yang apinya terus berkobar-kobar dan mendidih. Beberapa ada yang masuk ke bawah batu besar dan tubuhnya dijepit di sana. Yang lain menuju ke tiang gantungan, digantung dengan posisi kepala di bawah, seekor tikus terus menggigit tali, jika lepas, di bawah telah menunggu pisau tajam yang runcing menghadap ke atas.
Pengumuman juga ditujukan bagi roh yang sebelum puting beliung tengah antre untuk disidang, termasuk roh juragan kelapa sawit yang harus mengikuti persidangan ulang. Mereka berkumpul di ruang transit untuk menunggu antrian sidang. Beberapa pengurus neraka juga diutus untuk memanggil roh yang diungsikan ke surga untuk segera menjalani pemeriksaan dosa yang diperbuat saat jadi manusia di dunia. Jika terbukti tak melakukan dosa, mereka dikembalikan ke surga, jika banyak dosa, pantaslah mereka dilempar ke neraka.
Hakim neraka duduk di meja persidangan dan palu berada di sampingnya, jaksa dan saksi juga ada di sana. Mereka melakukan sidang perdana secara maraton pasca kehancuran neraka. Roh pertama, juragan kelapa sawit, duduk di kursi pesakitan. Banyak dosa yang ia lakukan saat hidup, termasuk menjadi penyebab banjir besar karena mengubah lima belas hektar hutan jadi kebun sawit, meracun warga yang menolak, sampai pada kongkalikong dengan bupati dan kementerian kehutanan untuk memuluskan rencananya. Ketika ditanya, roh juragan kelapa sawit melakukan pembelaan. Ia mengaku tak pernah melakukan kejahatan di dunia, malahan kebun sawitnya membantu banyak orang mendapat pekerjaan, termasuk menyerap para sarjana yang menganggur. Seperti biasa, jurus pamungkas dikeluarkan, video tentang kejahatan mereka yang tersimpan dalam hard disk pun diputar agar roh itu tak bisa menyangkal perbuatannya.
Pemutaran video gagal, hard disk itu rusak akibat terbakar saat bencana puting beliung. Hakim dan jaksa neraka saling lirik. [T]
Denpasar, April – Mei 2026
Penulis: Supartika
Editor: Adnyana Ole




























