23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Polanco S. Achri by Polanco S. Achri
April 11, 2026
in Cerpen
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan

I.

Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak bisa disentuh, tak bisa tersentuh. Jam berdering! Ibu sadar akan keadaan; dan melihat ke sebuah arah, lalu memanggil Zet. Zet terbangun dari semacam lamunan. Mereka pun berbincang—

Kamu harus jadi anak yang bisa melampaui Ibu, Nak; harus jadi orang sukses, ternama, dan dianggap oleh masyarakat semua.

Saya tak ingin melampaui siapa pun, Bu, jawab Zet tertunduk. Dan kalaupun saya ingin melampaui, saya hanya ingin melampaui diri sendiri; melampaui diri yang ada di masa lalu, kini, dan nanti.

Apa kamu yakin dengan melampaui diri sendiri bisa membuat sukses dan dianggap oleh masyarakat yang selama ini membuang kita?

Saya tidak tahu, Bu, dan belum benar-benar ingin tahu. Namun, apa dengan melampaui Ibu, saya bisa menjadi orang yang lebih baik?

Sebab itulah kamu harus bekerja keras! ucap Ibu tegas. Kamu mesti membuktikan pada orang-orang yang mengucilkan dan membuang kita.

Namun, Bu, bukankah semua itu hanya anggapan mereka?

Kamu memang harus banyak belajar dan bekerja keras, Nak. Ah, betapa ucapanmu itu penuh dengan kenaifan dan sesuatu yang kamu sendiri tidak memahaminya.

Mengapa saya harus melampaui Ibu? ucap Zet lirih. Saya merasa Ibu sudah baik, sudah sangat baik, sudah jadi manusia yang lebih manusia dibanding mereka yang mengecilkan Ibu—

Karena itu, sambar Ibu dengan menggebu, kamu harus bekerja keras…!

Apa cukup dengan bekerja keras, Bu?

Kamu harus belajar; sebab kerja keras saja belum bisa, hanya dianggap seolah-olah ada.

Apakah Ibu takut disebut ibu yang gagal?

Orangtua akan dianggap berhasil, jika bisa menjadikan anaknya lebih baik dari dirinya. Namun, Ibu tahu, Ibu memang sudah dianggap manusia gagal, yang hanya bisa menghasilkan manusia-manusia gagal.

Mengapa Ibu begitu peduli dengan anggapan mereka, anggapan orang yang nyatanya membuang Ibu? Mengapa Ibu masih memedulikan mereka?

Ibu terlalu lemah untuk menemukan jawaban tanyamu, Nak. Jadi, kamu harus bekerja keras! Kamu harus menemukan jawaban, dan membuat mereka mengajukan tanya kepada diri mereka sendiri, tanya mengapa mereka mengucilkan kita.

Ibu bukan manusia gagal! ucap Z sambil menatap dalam. Saya akan bekerja keras; akan belajar dengan giat dari pengalaman dan sejarah. Jujur, saya tak peduli dengan anggapan orang lain, Bu, apalagi dengan anggapan orang-orang yang tak menanggap kita—yang menganggap kita hanya seolah-olah ada. Saya tak peduli! Yang saya pedulikan adalah Ibu; hanya Ibu. Saya tak mau Ibu bersedih, sebab kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan saya. Saya berjanji, Bu. Saya berjanji…

II.

Tokoh-tokoh khayal muncul tiba-tiba, mendekati Zet; mereka seolah teman-teman yang sudah dekat. Dan Zet merasa dekat dengan mereka. Mereka berbicara masa depan dan harapan—

Lagi-lagi berbohong…, ucap salah satu dari mereka.

Memang sudah berapa banyak? sahut yang lain.

Banyak…? Tentu saja hanya satu!

Ibu?

Bodoh! Tentu saja bukan.

Lalu?

Ya sudah tentu, dan pasti—

Diri sendiri!

Mereka tertawa, menertawakan Zet!

Apa maksud kalian? bentak Zet. Aku tidak berbohong!

Lihat, kan, dia baru saja berbohong.

Menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.

Kalau aku berbohong memang kenapa? sahut Zet. Apa peduli kalian?

Kami tidak peduli.

Untuk apa kami peduli.

Salah satu di antara mereka menyahut:

Kebohongan tak bisa membohongi siapa pun, Zet—

Kecuali, dirinya sendiri, sahut yang lain lagi. Kecuali diri sendiri.

Mereka kembali tertawa bersama; sedang Zet terdiam.

Apa kamu masih ingat soal bahasa nomer 23? ucap salah satu.

Tentang puisi, ya?

Iya.

Kalau tidak salah bunyinya—

Hidup hanya menunda kekalahan…

Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Apa maksud kalian? ucap Zet lekas.

Entahlah.

Waktu ujian kamu jawab apa memang?

Bodoh! Ujiannya itu hapalan. Jadi, tak ada tuntutan memahami puisi.

Betapa kering hati manusia sekarang…

Apa maksud kalian? ucap Zet mengejar. Aku tidak mengerti sama sekali.

Kenapa kamu berbohong? ucap salah satu dari mereka lagi. Bukankah kenyataannya kamu hanya membohongi diri sendiri?

Hanya membohongi diri sendiri—

Dan membohongi diri sendiri itu sangat sakit.

Aku hanya ingin membuat Ibu bahagia, sahut Zet lirih.

Apa bisa membuat bahagia dengan kebohongan?

Entahlah, sahut yang lain ketus.

Ada dua macam kebohongan, ucap salah satu di antara mereka dengan nada bijak. Yang pertama, untuk menutupi kebenaran; dan satu lagi, untuk kepentingan masa depan.

Ucapan orang hebat, ya?

Iya, tapi aku lupa dari siapa…

Apa kebohongan Zet termasuk kategori kedua? sahut salah satu di antara mereka.

Bisa jadi. Namun, apa baik memberi kebahagiaan lewat kebohongan?

Aku tidak berbohong! sentak Zet geram. Aku akan bekerja keras dan giat belajar untuk membahagiakan Ibu.

Meski pada akhirnya menyerah?

Zet menunduk—

Memang kenapa kamu mau membahagiakan ibumu?

Untuk membahagiakan Ibu, ucap Zet lirih, aku tak membutuhkan alasan apa pun.

Tanpa alasan?

Beberapa hal tidak membutuhkan alasan, ya, kan? sahut yang lain membela.

Tapi, apa untungnya bagimu?

Aku ingin membalas budi, jawab Zet.

Kamu yakin bisa membalas budi?

Aku dengar kebaikan seorang ibu tak bisa dibalas dengan apa pun.

Jika ibumu bukan ibumu, apa kamu mau membuatnya bahagia?

Aku…, ucap Zet terbata. Aku…

Sudahlah.

Aku yakin, niatmu itu baik; tapi aku juga pernah dengar—

Kalau tak salah, kebahagiaan ibu adalah saat bisa melihat anaknnya bahagia.

Apa dengan membuat ibumu bahagia, Zet, kamu bisa berbahagia?

Aku…, aku…, aku…, ucap Zet makin terbata. Akan berusaha keras dan rajin belajar! Aku akan menemukan jawabannya!

Belajar. Bekerja keras. Kenapa kamu mau melakukan itu di dunia yang membencimu?

Aku ingin membuktikan pada mereka! ucap Zet.

Bukankah kamu tidak peduli?

Aku ingin membuktikan pada Ibu, ucap Z pelan—

Membuktikan bahwa di dunia yang penuh kekalahan ini tak ada kebahagiaan?

Tidak ada kebahagiaan di dunia ini, sahut yang lain sambil tertawa.

Hanya ilusi! tambah yang lain lagi.

Aku akan bekerja keras! sahut Zet memotong. Aku akan menemukannya; dan kalaupun memang tak ada, aku akan menciptakannya! Aku akan tetap berusaha; meskipun, hasilnya nol; meskipun, hasilnya tak ada. Aku akan berusaha menemu kebahagiaan untukku dan Ibu!

Ya, kami percaya. Kami percaya.

Bukankah manusia itu adalah makhluk aneh? Ah, maksudku unik?

Sangat unik. Sangat-sangat unik.

Manusia sangat unik, sahut yang lain cekikikan. Unik, karena mereka adalah makhluk yang sangat biasa, benar-benar biasa.

Manusia itu terdiri dari…

Kenangan. Dan harapan!

Mungkin, karena itu, kamu masih mau berusaha, ya, kan? sahut sosok yang pertama.

Meski kekalahan dan kegagalan ada, tapi kamu masih memiliki harapan.

Tapi, aku takut, sahut Zet pelan.

Kamu tak boleh takut, Teman.

Kamu harus kuat, Zet.

Sebab apa-apa yang muncul dari kelemahan itu adalah kejahatan.

Ucapan orang hebat lagi, ya? sahut yang lain.

Barangkali. Aku lebih suka menyebutnya sebagai pemikir gila.

Kamu harus jadi orang kuat! sahut yang lain memotong.

Jadi tentara.

Jadi Power Ranger.

Jadi Ultraman!

Bodoh, sentak yang pertama. Dia harus jadi manusia!

Menjadi perempuan kuat.

Seperti Maria?

Lebih! Dia harus jadi dirinya sendiri!

Sudahlah, sahut yang lain lagi. Lebih baik, kita bermain petak umet saja.

Aku lelah, ucap Zet. Aku ingin tidur.

Tokoh-tokoh itu berbaris rapi, menyanyikan lagu penghantar tidur. Zet meringkuk dan perlahan terlelap dalam… [T]

(2017—2026)

Penulis: Polanco S. Achri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

Next Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Polanco S. Achri

Polanco S. Achri

Lahir dan tinggal di Yogyakarta. Ia menulis cerita, naskah drama, dan esai-esai seni dan sastra. Selain menulis, kadang ia jadi sutradara teater dan film dokumenter; juga kurator seni ruoa. Ia bisa dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan Instagram: polanco_achri.

Related Posts

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co