buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan
I.
Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak bisa disentuh, tak bisa tersentuh. Jam berdering! Ibu sadar akan keadaan; dan melihat ke sebuah arah, lalu memanggil Zet. Zet terbangun dari semacam lamunan. Mereka pun berbincang—
Kamu harus jadi anak yang bisa melampaui Ibu, Nak; harus jadi orang sukses, ternama, dan dianggap oleh masyarakat semua.
Saya tak ingin melampaui siapa pun, Bu, jawab Zet tertunduk. Dan kalaupun saya ingin melampaui, saya hanya ingin melampaui diri sendiri; melampaui diri yang ada di masa lalu, kini, dan nanti.
Apa kamu yakin dengan melampaui diri sendiri bisa membuat sukses dan dianggap oleh masyarakat yang selama ini membuang kita?
Saya tidak tahu, Bu, dan belum benar-benar ingin tahu. Namun, apa dengan melampaui Ibu, saya bisa menjadi orang yang lebih baik?
Sebab itulah kamu harus bekerja keras! ucap Ibu tegas. Kamu mesti membuktikan pada orang-orang yang mengucilkan dan membuang kita.
Namun, Bu, bukankah semua itu hanya anggapan mereka?
Kamu memang harus banyak belajar dan bekerja keras, Nak. Ah, betapa ucapanmu itu penuh dengan kenaifan dan sesuatu yang kamu sendiri tidak memahaminya.
Mengapa saya harus melampaui Ibu? ucap Zet lirih. Saya merasa Ibu sudah baik, sudah sangat baik, sudah jadi manusia yang lebih manusia dibanding mereka yang mengecilkan Ibu—
Karena itu, sambar Ibu dengan menggebu, kamu harus bekerja keras…!
Apa cukup dengan bekerja keras, Bu?
Kamu harus belajar; sebab kerja keras saja belum bisa, hanya dianggap seolah-olah ada.
Apakah Ibu takut disebut ibu yang gagal?
Orangtua akan dianggap berhasil, jika bisa menjadikan anaknya lebih baik dari dirinya. Namun, Ibu tahu, Ibu memang sudah dianggap manusia gagal, yang hanya bisa menghasilkan manusia-manusia gagal.
Mengapa Ibu begitu peduli dengan anggapan mereka, anggapan orang yang nyatanya membuang Ibu? Mengapa Ibu masih memedulikan mereka?
Ibu terlalu lemah untuk menemukan jawaban tanyamu, Nak. Jadi, kamu harus bekerja keras! Kamu harus menemukan jawaban, dan membuat mereka mengajukan tanya kepada diri mereka sendiri, tanya mengapa mereka mengucilkan kita.
Ibu bukan manusia gagal! ucap Z sambil menatap dalam. Saya akan bekerja keras; akan belajar dengan giat dari pengalaman dan sejarah. Jujur, saya tak peduli dengan anggapan orang lain, Bu, apalagi dengan anggapan orang-orang yang tak menanggap kita—yang menganggap kita hanya seolah-olah ada. Saya tak peduli! Yang saya pedulikan adalah Ibu; hanya Ibu. Saya tak mau Ibu bersedih, sebab kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan saya. Saya berjanji, Bu. Saya berjanji…
II.
Tokoh-tokoh khayal muncul tiba-tiba, mendekati Zet; mereka seolah teman-teman yang sudah dekat. Dan Zet merasa dekat dengan mereka. Mereka berbicara masa depan dan harapan—
Lagi-lagi berbohong…, ucap salah satu dari mereka.
Memang sudah berapa banyak? sahut yang lain.
Banyak…? Tentu saja hanya satu!
Ibu?
Bodoh! Tentu saja bukan.
Lalu?
Ya sudah tentu, dan pasti—
Diri sendiri!
Mereka tertawa, menertawakan Zet!
Apa maksud kalian? bentak Zet. Aku tidak berbohong!
Lihat, kan, dia baru saja berbohong.
Menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.
Kalau aku berbohong memang kenapa? sahut Zet. Apa peduli kalian?
Kami tidak peduli.
Untuk apa kami peduli.
Salah satu di antara mereka menyahut:
Kebohongan tak bisa membohongi siapa pun, Zet—
Kecuali, dirinya sendiri, sahut yang lain lagi. Kecuali diri sendiri.
Mereka kembali tertawa bersama; sedang Zet terdiam.
Apa kamu masih ingat soal bahasa nomer 23? ucap salah satu.
Tentang puisi, ya?
Iya.
Kalau tidak salah bunyinya—
Hidup hanya menunda kekalahan…
Sebelum pada akhirnya kita menyerah.
Apa maksud kalian? ucap Zet lekas.
Entahlah.
Waktu ujian kamu jawab apa memang?
Bodoh! Ujiannya itu hapalan. Jadi, tak ada tuntutan memahami puisi.
Betapa kering hati manusia sekarang…
Apa maksud kalian? ucap Zet mengejar. Aku tidak mengerti sama sekali.
Kenapa kamu berbohong? ucap salah satu dari mereka lagi. Bukankah kenyataannya kamu hanya membohongi diri sendiri?
Hanya membohongi diri sendiri—
Dan membohongi diri sendiri itu sangat sakit.
Aku hanya ingin membuat Ibu bahagia, sahut Zet lirih.
Apa bisa membuat bahagia dengan kebohongan?
Entahlah, sahut yang lain ketus.
Ada dua macam kebohongan, ucap salah satu di antara mereka dengan nada bijak. Yang pertama, untuk menutupi kebenaran; dan satu lagi, untuk kepentingan masa depan.
Ucapan orang hebat, ya?
Iya, tapi aku lupa dari siapa…
Apa kebohongan Zet termasuk kategori kedua? sahut salah satu di antara mereka.
Bisa jadi. Namun, apa baik memberi kebahagiaan lewat kebohongan?
Aku tidak berbohong! sentak Zet geram. Aku akan bekerja keras dan giat belajar untuk membahagiakan Ibu.
Meski pada akhirnya menyerah?
Zet menunduk—
Memang kenapa kamu mau membahagiakan ibumu?
Untuk membahagiakan Ibu, ucap Zet lirih, aku tak membutuhkan alasan apa pun.
Tanpa alasan?
Beberapa hal tidak membutuhkan alasan, ya, kan? sahut yang lain membela.
Tapi, apa untungnya bagimu?
Aku ingin membalas budi, jawab Zet.
Kamu yakin bisa membalas budi?
Aku dengar kebaikan seorang ibu tak bisa dibalas dengan apa pun.
Jika ibumu bukan ibumu, apa kamu mau membuatnya bahagia?
Aku…, ucap Zet terbata. Aku…
Sudahlah.
Aku yakin, niatmu itu baik; tapi aku juga pernah dengar—
Kalau tak salah, kebahagiaan ibu adalah saat bisa melihat anaknnya bahagia.
Apa dengan membuat ibumu bahagia, Zet, kamu bisa berbahagia?
Aku…, aku…, aku…, ucap Zet makin terbata. Akan berusaha keras dan rajin belajar! Aku akan menemukan jawabannya!
Belajar. Bekerja keras. Kenapa kamu mau melakukan itu di dunia yang membencimu?
Aku ingin membuktikan pada mereka! ucap Zet.
Bukankah kamu tidak peduli?
Aku ingin membuktikan pada Ibu, ucap Z pelan—
Membuktikan bahwa di dunia yang penuh kekalahan ini tak ada kebahagiaan?
Tidak ada kebahagiaan di dunia ini, sahut yang lain sambil tertawa.
Hanya ilusi! tambah yang lain lagi.
Aku akan bekerja keras! sahut Zet memotong. Aku akan menemukannya; dan kalaupun memang tak ada, aku akan menciptakannya! Aku akan tetap berusaha; meskipun, hasilnya nol; meskipun, hasilnya tak ada. Aku akan berusaha menemu kebahagiaan untukku dan Ibu!
Ya, kami percaya. Kami percaya.
Bukankah manusia itu adalah makhluk aneh? Ah, maksudku unik?
Sangat unik. Sangat-sangat unik.
Manusia sangat unik, sahut yang lain cekikikan. Unik, karena mereka adalah makhluk yang sangat biasa, benar-benar biasa.
Manusia itu terdiri dari…
Kenangan. Dan harapan!
Mungkin, karena itu, kamu masih mau berusaha, ya, kan? sahut sosok yang pertama.
Meski kekalahan dan kegagalan ada, tapi kamu masih memiliki harapan.
Tapi, aku takut, sahut Zet pelan.
Kamu tak boleh takut, Teman.
Kamu harus kuat, Zet.
Sebab apa-apa yang muncul dari kelemahan itu adalah kejahatan.
Ucapan orang hebat lagi, ya? sahut yang lain.
Barangkali. Aku lebih suka menyebutnya sebagai pemikir gila.
Kamu harus jadi orang kuat! sahut yang lain memotong.
Jadi tentara.
Jadi Power Ranger.
Jadi Ultraman!
Bodoh, sentak yang pertama. Dia harus jadi manusia!
Menjadi perempuan kuat.
Seperti Maria?
Lebih! Dia harus jadi dirinya sendiri!
Sudahlah, sahut yang lain lagi. Lebih baik, kita bermain petak umet saja.
Aku lelah, ucap Zet. Aku ingin tidur.
Tokoh-tokoh itu berbaris rapi, menyanyikan lagu penghantar tidur. Zet meringkuk dan perlahan terlelap dalam… [T]
(2017—2026)
Penulis: Polanco S. Achri
Editor: Adnyana Ole





























