7 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 10, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 10 April 2026

Apakah ada kearifan leluhur Bali dalam memilah sampah?

Kakek saya (lahir 1901) mengajari saya memilah sampah sedari kecil. Ajaran ini merupakan praktik kuno dan umum dalam masyarakat Bali, dan kakek saya hanya mewariskannya kepada saya. Pemilahan sampah tradisional Bali adalah sebagai berikut:

1.⁠ ⁠Lemekan — Kategori ini mencakup sampah yang cepat terurai menjadi kompos, seperti daun di halaman atau “teba” (halaman belakang). Ini menjadi “lemekan” (pupuk alami) tanpa pengolahan khusus.

2.⁠ ⁠Sisan paon — Sampah dapur yang dipilah menjadi dua jenis: Sampah sayur dan buah (termasuk dalam kategori “lemekan”) dan sisa tulang daging atau ikan, yang diklasifikasikan sebagai “bangkaan.”

3.⁠ ⁠Bangkaan/Bangke — Bangkai, seperti tikus mati, kadal, hewan peliharaan, atau hewan liar. Semua ini dikuburkan. Dahulu, desa kami memiliki pemakaman khusus untuk hewan. Beberapa desa masih memiliki lokasi khusus untuk menguburkan hewan peliharaan atau hewan liar yang mati. Sisa tulang dan daging dari kategori “sisan paon” secara khusus dikuburkan di sini. Jadi, “bangkaan” memang dikuburkan.

4.⁠ ⁠Kekereng — Barang-barang yang dikenakan atau dibawa, seperti tas, ikat pinggang, dan topi—barang-barang yang melekat atau dikenakan di tubuh setiap hari. Jika barang-barang “kekereng” ini dibuang, harus dipisahkan dari sampah lain, dan dikuburkan secara khusus. Pamali (tabu) untuk membuang pakaian bekas sembarangan di sungai, dan dilarang mencampurnya dengan sampah lain. Pamali adalah konsep bahwa pelaku yang melanggar ini akan jatuh sakit atau mengalami kemalangan, baik segera maupun di masa depan.

5.⁠ ⁠Perabotan (Peralatan Rumah Tangga) — Membuang barang-barang rumah tangga bekas ke sungai adalah “pamali”. Setiap peralatan rumah tangga harus ditinggalkan di ‘teba’ (halaman belakang) sampai membusuk dengan sendirinya. Membuangnya ke laut, sungai, atau terutama danau, dan tempat-tempat lain adalah “pamali”. Apa pun yang telah dikenakan di tubuh kita atau digunakan membawa energi pemiliknya dan tidak boleh dibuang sembarangan.

Bagaimana dengan kantong plastik? Apakah itu termasuk ‘kekereng’ atau ‘perabotan’?

Berdasar pengalaman saya sebagai anak kecil yang tumbuh di pedesaan, kantong plastik digunakan kembali berkali-kali, dan setelah rusak, digulung dan disimpan di tempat khusus. Terkadang kami di desa menggulung semua kantong plastik bekas dan menjadikannya bola untuk bermain sepak bola. Ini termasuk dalam kategori ‘”kekereng”, terbuat dari bahan yang tidak dimaksudkan untuk ”lemekan”.

Leluhur kami di Bali Utara tidak hanya memilah sampah; bahkan kuburan pun dipilah. Di desa-desa Bali kuno, terdapat lahan atau tanah desa khusus untuk kuburan hewan. Terdapat pemakaman khusus untuk bayi disebut Sema Bajang (Bajangan), ada kuburan khusus untuk mereka yang meninggal secara “tidak normal,” dan setra/sema (pemakaman) umum untuk masyarakat umum. Masyarakat Bali Aga tidak mengkremasi jenazah atau membakar benda-benda yang dianggap mencemari udara. Mereka juga tidak membuang sampah ke sungai atau laut, yang mencemari air, karena hal ini dianggap “pamali” (tabu).

Mengenai apa yang boleh dibakar, lontar (manuskrip daun palem Bali) TATTWA WIT menjelaskan: Ketika Bhagawan Purbbhasomi dan Bhagawan Romacana melakukan ritual pemurnian bumi, beberapa bahan alami yang harus dibakar digunakan sebagai wewangian—“maka papanganan agni, samiddha utama, candhana, majegau, kelapa, dupa, titibakaken tengah kundha…” Hal-hal yang boleh dibakar termasuk kayu atau bahan-bahan wangi, terbatas pada cendana, majegau, dan dupa, untuk ibadah. Membakar apa pun selain untuk ibadah mengundang bhuta-kala—energi buruk dan penyakit.

Leluhur Bali memiliki dasar logika. Mereka memiliki wiweka (diskriminasi): Mereka memiliki kebiasaan memilah dan mampu membedakan. Jika Bali saat ini menghadapi krisis sampah dan tidak mengembangkan “logika pemilahan” ini, itu berarti keturunannya (orang Bali sekarang) tidak lagi memahami logika leluhur Bali.

Logika pemilahan ini juga harus digunakan untuk membedakan antara calon pemimpin Bali: mereka yang “bangkaan” (“manusia seperti bangkai”) dan mereka yang “lemekan” (memberi manfaat). Tanpa kemampuan untuk membedakan —antara “bangkaan” dan jatma tulus-ngayah (mengabdi tulus kepada sesama) — urusan lingkungan, sosial, dan spiritual di Bali tidak akan mampu menemukan pemimpin berkualitas baik —jatma pinilih.

“Logika pemilahan”, pengolahan, dan penanggapan terhadap masalah lingkungan di Bali, sangat perlu dikembangkan dalam masyarakat Bali, termasuk dalam mengatasi tantangan berbagai jenis sampah dan sampah modern lainnya, mulai dari daur ulang hingga pengubahannya menjadi energi terbarukan. Landasannya adalah ‘logika pemilahan dan pengolahan’, yang telah diwariskan dari leluhur Bali. Hal ini harus dipahami dan diimplementasikan di Bali untuk menuju masa depan yang lebih baik. [T]

Tags: balileluhurSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Next Post

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails
Next Post
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co