2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 10, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 10 April 2026

Apakah ada kearifan leluhur Bali dalam memilah sampah?

Kakek saya (lahir 1901) mengajari saya memilah sampah sedari kecil. Ajaran ini merupakan praktik kuno dan umum dalam masyarakat Bali, dan kakek saya hanya mewariskannya kepada saya. Pemilahan sampah tradisional Bali adalah sebagai berikut:

1.⁠ ⁠Lemekan — Kategori ini mencakup sampah yang cepat terurai menjadi kompos, seperti daun di halaman atau “teba” (halaman belakang). Ini menjadi “lemekan” (pupuk alami) tanpa pengolahan khusus.

2.⁠ ⁠Sisan paon — Sampah dapur yang dipilah menjadi dua jenis: Sampah sayur dan buah (termasuk dalam kategori “lemekan”) dan sisa tulang daging atau ikan, yang diklasifikasikan sebagai “bangkaan.”

3.⁠ ⁠Bangkaan/Bangke — Bangkai, seperti tikus mati, kadal, hewan peliharaan, atau hewan liar. Semua ini dikuburkan. Dahulu, desa kami memiliki pemakaman khusus untuk hewan. Beberapa desa masih memiliki lokasi khusus untuk menguburkan hewan peliharaan atau hewan liar yang mati. Sisa tulang dan daging dari kategori “sisan paon” secara khusus dikuburkan di sini. Jadi, “bangkaan” memang dikuburkan.

4.⁠ ⁠Kekereng — Barang-barang yang dikenakan atau dibawa, seperti tas, ikat pinggang, dan topi—barang-barang yang melekat atau dikenakan di tubuh setiap hari. Jika barang-barang “kekereng” ini dibuang, harus dipisahkan dari sampah lain, dan dikuburkan secara khusus. Pamali (tabu) untuk membuang pakaian bekas sembarangan di sungai, dan dilarang mencampurnya dengan sampah lain. Pamali adalah konsep bahwa pelaku yang melanggar ini akan jatuh sakit atau mengalami kemalangan, baik segera maupun di masa depan.

5.⁠ ⁠Perabotan (Peralatan Rumah Tangga) — Membuang barang-barang rumah tangga bekas ke sungai adalah “pamali”. Setiap peralatan rumah tangga harus ditinggalkan di ‘teba’ (halaman belakang) sampai membusuk dengan sendirinya. Membuangnya ke laut, sungai, atau terutama danau, dan tempat-tempat lain adalah “pamali”. Apa pun yang telah dikenakan di tubuh kita atau digunakan membawa energi pemiliknya dan tidak boleh dibuang sembarangan.

Bagaimana dengan kantong plastik? Apakah itu termasuk ‘kekereng’ atau ‘perabotan’?

Berdasar pengalaman saya sebagai anak kecil yang tumbuh di pedesaan, kantong plastik digunakan kembali berkali-kali, dan setelah rusak, digulung dan disimpan di tempat khusus. Terkadang kami di desa menggulung semua kantong plastik bekas dan menjadikannya bola untuk bermain sepak bola. Ini termasuk dalam kategori ‘”kekereng”, terbuat dari bahan yang tidak dimaksudkan untuk ”lemekan”.

Leluhur kami di Bali Utara tidak hanya memilah sampah; bahkan kuburan pun dipilah. Di desa-desa Bali kuno, terdapat lahan atau tanah desa khusus untuk kuburan hewan. Terdapat pemakaman khusus untuk bayi disebut Sema Bajang (Bajangan), ada kuburan khusus untuk mereka yang meninggal secara “tidak normal,” dan setra/sema (pemakaman) umum untuk masyarakat umum. Masyarakat Bali Aga tidak mengkremasi jenazah atau membakar benda-benda yang dianggap mencemari udara. Mereka juga tidak membuang sampah ke sungai atau laut, yang mencemari air, karena hal ini dianggap “pamali” (tabu).

Mengenai apa yang boleh dibakar, lontar (manuskrip daun palem Bali) TATTWA WIT menjelaskan: Ketika Bhagawan Purbbhasomi dan Bhagawan Romacana melakukan ritual pemurnian bumi, beberapa bahan alami yang harus dibakar digunakan sebagai wewangian—“maka papanganan agni, samiddha utama, candhana, majegau, kelapa, dupa, titibakaken tengah kundha…” Hal-hal yang boleh dibakar termasuk kayu atau bahan-bahan wangi, terbatas pada cendana, majegau, dan dupa, untuk ibadah. Membakar apa pun selain untuk ibadah mengundang bhuta-kala—energi buruk dan penyakit.

Leluhur Bali memiliki dasar logika. Mereka memiliki wiweka (diskriminasi): Mereka memiliki kebiasaan memilah dan mampu membedakan. Jika Bali saat ini menghadapi krisis sampah dan tidak mengembangkan “logika pemilahan” ini, itu berarti keturunannya (orang Bali sekarang) tidak lagi memahami logika leluhur Bali.

Logika pemilahan ini juga harus digunakan untuk membedakan antara calon pemimpin Bali: mereka yang “bangkaan” (“manusia seperti bangkai”) dan mereka yang “lemekan” (memberi manfaat). Tanpa kemampuan untuk membedakan —antara “bangkaan” dan jatma tulus-ngayah (mengabdi tulus kepada sesama) — urusan lingkungan, sosial, dan spiritual di Bali tidak akan mampu menemukan pemimpin berkualitas baik —jatma pinilih.

“Logika pemilahan”, pengolahan, dan penanggapan terhadap masalah lingkungan di Bali, sangat perlu dikembangkan dalam masyarakat Bali, termasuk dalam mengatasi tantangan berbagai jenis sampah dan sampah modern lainnya, mulai dari daur ulang hingga pengubahannya menjadi energi terbarukan. Landasannya adalah ‘logika pemilahan dan pengolahan’, yang telah diwariskan dari leluhur Bali. Hal ini harus dipahami dan diimplementasikan di Bali untuk menuju masa depan yang lebih baik. [T]

Tags: balileluhurSampahsampah plastik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Next Post

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co