SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda, kali pertama berenang di pantai, kali pertama tampil diatas panggung, kali pertama mengutarakan cinta pada lawan jenis hingga kali pertama berkeluarga. Semua kumpulan kesalahan pada pengalaman pertama akan mengajari kita untuk jadi lebih baik pada kali kedua dan seterusnya. Namun ada yang berbeda pada hal satu ini. Seolah-olah kita menaruh ekspektasi besar pada diri sendiri dan tidak mentoleransi kesalahan pada pengalaman pertama ini. Benar, itu adalah pengalaman pertama menjadi orang tua.
Memang, tak semua hal memiliki bobot resiko yang sama. Jatuh bersepeda mungkin hanya memberi luka kecil pada tubuh. Gagal tampil maksimal di atas panggung mungkin hanya menyisakan rasa malu pada diri sendiri. Ditolak Wanita saat menyatakan rasa suka pertama kali mungkin memberikan rasa sesal dikemudian hari. Tapi bagaimana jika gagal menjadi orang tua? Ini mungkin jadi dosa yang tak akan termaafkan. Kesalahan tersebut tak hanya akan menimpa diri kita, tapi juga berdampak pada buah hati kita.
Beberapa orang percaya bahwa tugas sebagai orang tua adalah tanggung jawab yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada kita. Sebuah tanggung jawab moral yang membedakannya dari tanggung jawab lainnya. Hal ini menjadikan pengalaman pertama menjadi orang tua adalah pengalaman yang tak boleh salah bahkan sedetikpun. Tak boleh salah memberikan nutrisi, tak boleh keliru mengajarkan sopan santun, etika dan adab serta tak boleh gagal membantu segala kebutuhan akademik.
Sebegitu banyak beban dari pengalaman pertama menjadi orang tua. Padahal menurut keyakinan saya, pengalaman menjadi orang tua sama halnya dengan pengalaman-pengalaman dalam hidup lainnya. Memang benar, bebannya jauh lebih besar daripada pengalaman lainnya. Namun, seringnya ada satu hal yang luput dari kita manakala kita akan atau sudah menjadi orang tua. Sebuah ruang untuk kita berbuat salah. Kita dan pasangan kita sama-sama belajar dari pengalaman pertama menjadi orang tua. Ruang belajar yang sama dan ruang salah yang sama. Ruang-ruang ini yang secara tak sadar kita coba hilangkan dari diri sendiri karena hanyut dalam ekspektasi tinggi atas peran menjadi sosok bapak dan ibu.
Padahal sangat tidak apa-apa kalau kamu mungkin terkadang tak bisa membersihkan kotoran bayimu. Bahwa tidak apa-apa kalau kamu pernah terlalu longgar dalam menerapkan disiplin pada anakmu. Bahwa tak apa-apa juga kalau kamu tidak bisa menyekolahkan buah hatimu di sekolah yang menurutmu sangat favorit itu.
Satu hal yang menurut saya penting, di antara banyak kegagalan-kegagalan itu anakmu masih bisa tersenyum gembira, ia masih ada di sana menyapamu sebagai pengingat bahwa kalian (kamu dan pasanganmu) telah menjadi orang tua terbaik versi dirimu sendiri baginya. Sebagaimana anakmu yang pernah berbuat salah, kamu pun sebagai orang tua sangat wajar jika berbuat salah. Belajar memaafkan diri sendiri adalah penting untuk kita lakukan setiap hari selama hidup ini. Memaafkan adalah bentuk lain dari menghargai pengalaman pertama. [T]
Penulis: Nata Kusuma
Editor: Adnyana Ole


























