4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 23, 2026
in Esai
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi

DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang, perahu-perahu nelayan bersandar di bibir pantai, dan aroma garam bercampur dengan dupa dari beberapa pura di pesisir. Orang datang ke Serangan bukan untuk melihat proyek besar, melainkan untuk sembahyang, melaut, atau sekadar menikmati jeda dari hiruk-pikuk kota Denpasar.

Di pulau kecil itu berdiri Pura Sakenan, salah satu pura penting dalam sejarah spiritual Bali yang berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha. Dahulu, perjalanan menuju pura ini harus ditempuh dengan jukung, perahu kecil dari kayu, ketika air pasang. Ada rasa teduh dan kesunyian spiritual yang menjadi bagian dari pengalaman religius masyarakat Bali.

Namun zaman berubah. Pada era Orde Baru, reklamasi besar-besaran mengubah wajah Serangan. Pulau kecil itu diperluas berkali-kali lipat melalui proyek reklamasi yang dikelola PT Bali Turtle Island Development. Laut ditimbun, garis pantai berubah, dan ruang hidup masyarakat mulai bergeser.

Modernisasi datang membawa janji kesejahteraan. Tetapi seperti banyak kisah pembangunan di Bali, janji itu tidak pernah datang tanpa harga.

Reklamasi dan Hilangnya Ruang Kehidupan

Reklamasi selalu berbicara atas nama masa depan. Kata-kata seperti investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kawasan strategis menjadi bahasa utama. Tetapi jarang ada yang sungguh-sungguh mendengar bahasa laut, mangrove, nelayan, dan pura.

Pulau Serangan perlahan berubah menjadi ruang ekonomi baru. Sebagian masyarakat memang memperoleh peluang usaha, akses jalan membaik, dan infrastruktur berkembang. Namun di sisi lain, banyak nelayan mengeluhkan perubahan arus laut dan berkurangnya ruang tangkap ikan.

Mangrove yang dahulu menjadi pelindung alami pesisir mulai terdesak pembangunan. Padahal mangrove bukan sekadar pohon rawa. Ia adalah penahan abrasi, rumah biota laut, penyaring alami, bahkan pelindung Bali dari ancaman gelombang besar.

Yang sering terlupakan, perubahan ruang fisik juga mengubah ruang batin masyarakat. Bali bukan hanya pulau wisata. Ia adalah ruang simbolik tempat manusia, alam, dan spiritualitas saling terkait. Ketika pantai berubah menjadi properti, ketika laut dipadatkan demi proyek, maka sebenarnya ada sesuatu yang perlahan retak dalam kesadaran budaya Bali sendiri.

Beberapa pura kecil dan kawasan suci di sekitar Serangan ikut mengalami tekanan perubahan ruang. Jalur upacara berubah, akses tradisional bergeser, dan sebagian masyarakat merasa hubungan sakral antara pura dan laut tidak lagi sama seperti dahulu.

Ketika Politik Mulai Memasuki Laut

Polemik baru kembali menguat ketika DPRD Bali membentuk Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP). Investigasi pansus terhadap proyek BTID membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun seolah tertutup oleh narasi investasi dan pembangunan.

Sidang, inspeksi mendadak, dan perdebatan tentang mangrove serta tukar guling lahan menjadi konsumsi publik. Media sosial dipenuhi opini. Media massa mulai terbelah dalam framing masing-masing. Ada yang melihat pansus sebagai penyelamat lingkungan Bali, ada pula yang menganggap langkah itu mengganggu iklim investasi.

Di sinilah Serangan tidak lagi sekadar nama pulau. Ia menjadi simbol perebutan makna tentang Bali.

Sebagian elit politik tampil keras membela lingkungan dan adat. Sebagian lain berbicara tentang pentingnya kepastian hukum bagi investor. Semua terdengar masuk akal dari sudut masing-masing.

Namun masyarakat kecil sering tetap berada di titik yang sama: menonton perdebatan besar sambil memikirkan harga kebutuhan hidup, biaya sekolah, dan masa depan anak-anak mereka. Juga masalah banjir, kemacetan, sampah, bunuh diri, kriminalitas dan masalah  lainnya yang belum juga terselesaikan.

Ironisnya, Bali yang menghasilkan kekayaan besar dari pariwisata justru menghadapi paradoks sosial yang semakin nyata. Harga tanah melonjak, ruang hidup menyempit, dan generasi muda lokal makin sulit membeli tanah di daerahnya sendiri.

Bali Modern dan Krisis Kesadaran

Kasus Serangan sebenarnya bukan sekadar soal legalitas proyek atau konflik tata ruang. Ia memperlihatkan krisis yang lebih dalam: Bali modern sedang mengalami benturan antara pertumbuhan ekonomi dan kesadaran ekologis-spiritual.

Bali selama ini dikenal dunia karena filosofi harmoni. Tri Hita Karana sering dipromosikan dalam seminar internasional dan branding pariwisata. Tetapi dalam praktiknya, harmoni itu sering kalah oleh logika pasar. Tri Hita Karana malah dalam tataran praktis menjadi Tri Kita Bencana: Banjir, Macet, Sampah, karena tidak selarasnya kita dengan alam.

Alam mulai dihitung terutama sebagai aset ekonomi. Pantai menjadi komoditas visual. Kesunyian menjadi produk wisata. Bahkan spiritualitas kadang ikut dipaketkan menjadi industri pengalaman.

Padahal Bali dahulu memiliki batas-batas moral yang dijaga adat dan kesadaran kolektif. Tidak semua tempat bisa disentuh. Tidak semua ruang bisa diperdagangkan. Ada rasa malu spiritual ketika manusia terlalu rakus terhadap alam.

Kini batas itu semakin kabur.

Serangan menjadi cermin kecil dari kegelisahan besar Bali. Ketika mangrove diperdebatkan hanya sebagai angka hektare, ketika laut dilihat terutama sebagai peluang bisnis, dan ketika pura terhimpit pembangunan modern, maka yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, melainkan arah peradaban Bali itu sendiri.

Serangan Zaman yang Sesungguhnya

Pulau Serangan hari ini memang sedang berada dalam “serangan zaman”. Tetapi serangan itu sesungguhnya bukan hanya datang dari investor, proyek besar, atau elit politik.

Serangan terbesar mungkin datang dari cara berpikir manusia modern yang semakin kehilangan kemampuan merasa cukup.

Pembangunan sering dianggap identik dengan beton, reklamasi, dan ekspansi ekonomi. Padahal sebuah peradaban bisa runtuh bukan karena kekurangan pembangunan, tetapi karena kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan.

Mungkin Bali tetap membutuhkan investasi. Mungkin pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: pembangunan untuk siapa, dan sampai batas mana?

Karena bila laut rusak, mangrove hilang, ruang spiritual menyempit, dan masyarakat lokal makin tersingkir dari tanahnya sendiri, maka Bali perlahan hanya akan menjadi panggung indah tanpa jiwa.

Dan ketika itu terjadi, Serangan bukan lagi sekadar nama sebuah pulau kecil di selatan Bali. Ia menjadi simbol tentang bagaimana sebuah masyarakat perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah arus besar zaman. [T]

Tags: balipulau serangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Next Post

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co