3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 23, 2026
in Esai
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi

DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang, perahu-perahu nelayan bersandar di bibir pantai, dan aroma garam bercampur dengan dupa dari beberapa pura di pesisir. Orang datang ke Serangan bukan untuk melihat proyek besar, melainkan untuk sembahyang, melaut, atau sekadar menikmati jeda dari hiruk-pikuk kota Denpasar.

Di pulau kecil itu berdiri Pura Sakenan, salah satu pura penting dalam sejarah spiritual Bali yang berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha. Dahulu, perjalanan menuju pura ini harus ditempuh dengan jukung, perahu kecil dari kayu, ketika air pasang. Ada rasa teduh dan kesunyian spiritual yang menjadi bagian dari pengalaman religius masyarakat Bali.

Namun zaman berubah. Pada era Orde Baru, reklamasi besar-besaran mengubah wajah Serangan. Pulau kecil itu diperluas berkali-kali lipat melalui proyek reklamasi yang dikelola PT Bali Turtle Island Development. Laut ditimbun, garis pantai berubah, dan ruang hidup masyarakat mulai bergeser.

Modernisasi datang membawa janji kesejahteraan. Tetapi seperti banyak kisah pembangunan di Bali, janji itu tidak pernah datang tanpa harga.

Reklamasi dan Hilangnya Ruang Kehidupan

Reklamasi selalu berbicara atas nama masa depan. Kata-kata seperti investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kawasan strategis menjadi bahasa utama. Tetapi jarang ada yang sungguh-sungguh mendengar bahasa laut, mangrove, nelayan, dan pura.

Pulau Serangan perlahan berubah menjadi ruang ekonomi baru. Sebagian masyarakat memang memperoleh peluang usaha, akses jalan membaik, dan infrastruktur berkembang. Namun di sisi lain, banyak nelayan mengeluhkan perubahan arus laut dan berkurangnya ruang tangkap ikan.

Mangrove yang dahulu menjadi pelindung alami pesisir mulai terdesak pembangunan. Padahal mangrove bukan sekadar pohon rawa. Ia adalah penahan abrasi, rumah biota laut, penyaring alami, bahkan pelindung Bali dari ancaman gelombang besar.

Yang sering terlupakan, perubahan ruang fisik juga mengubah ruang batin masyarakat. Bali bukan hanya pulau wisata. Ia adalah ruang simbolik tempat manusia, alam, dan spiritualitas saling terkait. Ketika pantai berubah menjadi properti, ketika laut dipadatkan demi proyek, maka sebenarnya ada sesuatu yang perlahan retak dalam kesadaran budaya Bali sendiri.

Beberapa pura kecil dan kawasan suci di sekitar Serangan ikut mengalami tekanan perubahan ruang. Jalur upacara berubah, akses tradisional bergeser, dan sebagian masyarakat merasa hubungan sakral antara pura dan laut tidak lagi sama seperti dahulu.

Ketika Politik Mulai Memasuki Laut

Polemik baru kembali menguat ketika DPRD Bali membentuk Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP). Investigasi pansus terhadap proyek BTID membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun seolah tertutup oleh narasi investasi dan pembangunan.

Sidang, inspeksi mendadak, dan perdebatan tentang mangrove serta tukar guling lahan menjadi konsumsi publik. Media sosial dipenuhi opini. Media massa mulai terbelah dalam framing masing-masing. Ada yang melihat pansus sebagai penyelamat lingkungan Bali, ada pula yang menganggap langkah itu mengganggu iklim investasi.

Di sinilah Serangan tidak lagi sekadar nama pulau. Ia menjadi simbol perebutan makna tentang Bali.

Sebagian elit politik tampil keras membela lingkungan dan adat. Sebagian lain berbicara tentang pentingnya kepastian hukum bagi investor. Semua terdengar masuk akal dari sudut masing-masing.

Namun masyarakat kecil sering tetap berada di titik yang sama: menonton perdebatan besar sambil memikirkan harga kebutuhan hidup, biaya sekolah, dan masa depan anak-anak mereka. Juga masalah banjir, kemacetan, sampah, bunuh diri, kriminalitas dan masalah  lainnya yang belum juga terselesaikan.

Ironisnya, Bali yang menghasilkan kekayaan besar dari pariwisata justru menghadapi paradoks sosial yang semakin nyata. Harga tanah melonjak, ruang hidup menyempit, dan generasi muda lokal makin sulit membeli tanah di daerahnya sendiri.

Bali Modern dan Krisis Kesadaran

Kasus Serangan sebenarnya bukan sekadar soal legalitas proyek atau konflik tata ruang. Ia memperlihatkan krisis yang lebih dalam: Bali modern sedang mengalami benturan antara pertumbuhan ekonomi dan kesadaran ekologis-spiritual.

Bali selama ini dikenal dunia karena filosofi harmoni. Tri Hita Karana sering dipromosikan dalam seminar internasional dan branding pariwisata. Tetapi dalam praktiknya, harmoni itu sering kalah oleh logika pasar. Tri Hita Karana malah dalam tataran praktis menjadi Tri Kita Bencana: Banjir, Macet, Sampah, karena tidak selarasnya kita dengan alam.

Alam mulai dihitung terutama sebagai aset ekonomi. Pantai menjadi komoditas visual. Kesunyian menjadi produk wisata. Bahkan spiritualitas kadang ikut dipaketkan menjadi industri pengalaman.

Padahal Bali dahulu memiliki batas-batas moral yang dijaga adat dan kesadaran kolektif. Tidak semua tempat bisa disentuh. Tidak semua ruang bisa diperdagangkan. Ada rasa malu spiritual ketika manusia terlalu rakus terhadap alam.

Kini batas itu semakin kabur.

Serangan menjadi cermin kecil dari kegelisahan besar Bali. Ketika mangrove diperdebatkan hanya sebagai angka hektare, ketika laut dilihat terutama sebagai peluang bisnis, dan ketika pura terhimpit pembangunan modern, maka yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, melainkan arah peradaban Bali itu sendiri.

Serangan Zaman yang Sesungguhnya

Pulau Serangan hari ini memang sedang berada dalam “serangan zaman”. Tetapi serangan itu sesungguhnya bukan hanya datang dari investor, proyek besar, atau elit politik.

Serangan terbesar mungkin datang dari cara berpikir manusia modern yang semakin kehilangan kemampuan merasa cukup.

Pembangunan sering dianggap identik dengan beton, reklamasi, dan ekspansi ekonomi. Padahal sebuah peradaban bisa runtuh bukan karena kekurangan pembangunan, tetapi karena kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan.

Mungkin Bali tetap membutuhkan investasi. Mungkin pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: pembangunan untuk siapa, dan sampai batas mana?

Karena bila laut rusak, mangrove hilang, ruang spiritual menyempit, dan masyarakat lokal makin tersingkir dari tanahnya sendiri, maka Bali perlahan hanya akan menjadi panggung indah tanpa jiwa.

Dan ketika itu terjadi, Serangan bukan lagi sekadar nama sebuah pulau kecil di selatan Bali. Ia menjadi simbol tentang bagaimana sebuah masyarakat perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah arus besar zaman. [T]

Tags: balipulau serangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Next Post

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co