14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 23, 2026
in Esai
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi

DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang, perahu-perahu nelayan bersandar di bibir pantai, dan aroma garam bercampur dengan dupa dari beberapa pura di pesisir. Orang datang ke Serangan bukan untuk melihat proyek besar, melainkan untuk sembahyang, melaut, atau sekadar menikmati jeda dari hiruk-pikuk kota Denpasar.

Di pulau kecil itu berdiri Pura Sakenan, salah satu pura penting dalam sejarah spiritual Bali yang berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha. Dahulu, perjalanan menuju pura ini harus ditempuh dengan jukung, perahu kecil dari kayu, ketika air pasang. Ada rasa teduh dan kesunyian spiritual yang menjadi bagian dari pengalaman religius masyarakat Bali.

Namun zaman berubah. Pada era Orde Baru, reklamasi besar-besaran mengubah wajah Serangan. Pulau kecil itu diperluas berkali-kali lipat melalui proyek reklamasi yang dikelola PT Bali Turtle Island Development. Laut ditimbun, garis pantai berubah, dan ruang hidup masyarakat mulai bergeser.

Modernisasi datang membawa janji kesejahteraan. Tetapi seperti banyak kisah pembangunan di Bali, janji itu tidak pernah datang tanpa harga.

Reklamasi dan Hilangnya Ruang Kehidupan

Reklamasi selalu berbicara atas nama masa depan. Kata-kata seperti investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kawasan strategis menjadi bahasa utama. Tetapi jarang ada yang sungguh-sungguh mendengar bahasa laut, mangrove, nelayan, dan pura.

Pulau Serangan perlahan berubah menjadi ruang ekonomi baru. Sebagian masyarakat memang memperoleh peluang usaha, akses jalan membaik, dan infrastruktur berkembang. Namun di sisi lain, banyak nelayan mengeluhkan perubahan arus laut dan berkurangnya ruang tangkap ikan.

Mangrove yang dahulu menjadi pelindung alami pesisir mulai terdesak pembangunan. Padahal mangrove bukan sekadar pohon rawa. Ia adalah penahan abrasi, rumah biota laut, penyaring alami, bahkan pelindung Bali dari ancaman gelombang besar.

Yang sering terlupakan, perubahan ruang fisik juga mengubah ruang batin masyarakat. Bali bukan hanya pulau wisata. Ia adalah ruang simbolik tempat manusia, alam, dan spiritualitas saling terkait. Ketika pantai berubah menjadi properti, ketika laut dipadatkan demi proyek, maka sebenarnya ada sesuatu yang perlahan retak dalam kesadaran budaya Bali sendiri.

Beberapa pura kecil dan kawasan suci di sekitar Serangan ikut mengalami tekanan perubahan ruang. Jalur upacara berubah, akses tradisional bergeser, dan sebagian masyarakat merasa hubungan sakral antara pura dan laut tidak lagi sama seperti dahulu.

Ketika Politik Mulai Memasuki Laut

Polemik baru kembali menguat ketika DPRD Bali membentuk Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP). Investigasi pansus terhadap proyek BTID membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun seolah tertutup oleh narasi investasi dan pembangunan.

Sidang, inspeksi mendadak, dan perdebatan tentang mangrove serta tukar guling lahan menjadi konsumsi publik. Media sosial dipenuhi opini. Media massa mulai terbelah dalam framing masing-masing. Ada yang melihat pansus sebagai penyelamat lingkungan Bali, ada pula yang menganggap langkah itu mengganggu iklim investasi.

Di sinilah Serangan tidak lagi sekadar nama pulau. Ia menjadi simbol perebutan makna tentang Bali.

Sebagian elit politik tampil keras membela lingkungan dan adat. Sebagian lain berbicara tentang pentingnya kepastian hukum bagi investor. Semua terdengar masuk akal dari sudut masing-masing.

Namun masyarakat kecil sering tetap berada di titik yang sama: menonton perdebatan besar sambil memikirkan harga kebutuhan hidup, biaya sekolah, dan masa depan anak-anak mereka. Juga masalah banjir, kemacetan, sampah, bunuh diri, kriminalitas dan masalah  lainnya yang belum juga terselesaikan.

Ironisnya, Bali yang menghasilkan kekayaan besar dari pariwisata justru menghadapi paradoks sosial yang semakin nyata. Harga tanah melonjak, ruang hidup menyempit, dan generasi muda lokal makin sulit membeli tanah di daerahnya sendiri.

Bali Modern dan Krisis Kesadaran

Kasus Serangan sebenarnya bukan sekadar soal legalitas proyek atau konflik tata ruang. Ia memperlihatkan krisis yang lebih dalam: Bali modern sedang mengalami benturan antara pertumbuhan ekonomi dan kesadaran ekologis-spiritual.

Bali selama ini dikenal dunia karena filosofi harmoni. Tri Hita Karana sering dipromosikan dalam seminar internasional dan branding pariwisata. Tetapi dalam praktiknya, harmoni itu sering kalah oleh logika pasar. Tri Hita Karana malah dalam tataran praktis menjadi Tri Kita Bencana: Banjir, Macet, Sampah, karena tidak selarasnya kita dengan alam.

Alam mulai dihitung terutama sebagai aset ekonomi. Pantai menjadi komoditas visual. Kesunyian menjadi produk wisata. Bahkan spiritualitas kadang ikut dipaketkan menjadi industri pengalaman.

Padahal Bali dahulu memiliki batas-batas moral yang dijaga adat dan kesadaran kolektif. Tidak semua tempat bisa disentuh. Tidak semua ruang bisa diperdagangkan. Ada rasa malu spiritual ketika manusia terlalu rakus terhadap alam.

Kini batas itu semakin kabur.

Serangan menjadi cermin kecil dari kegelisahan besar Bali. Ketika mangrove diperdebatkan hanya sebagai angka hektare, ketika laut dilihat terutama sebagai peluang bisnis, dan ketika pura terhimpit pembangunan modern, maka yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, melainkan arah peradaban Bali itu sendiri.

Serangan Zaman yang Sesungguhnya

Pulau Serangan hari ini memang sedang berada dalam “serangan zaman”. Tetapi serangan itu sesungguhnya bukan hanya datang dari investor, proyek besar, atau elit politik.

Serangan terbesar mungkin datang dari cara berpikir manusia modern yang semakin kehilangan kemampuan merasa cukup.

Pembangunan sering dianggap identik dengan beton, reklamasi, dan ekspansi ekonomi. Padahal sebuah peradaban bisa runtuh bukan karena kekurangan pembangunan, tetapi karena kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan.

Mungkin Bali tetap membutuhkan investasi. Mungkin pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: pembangunan untuk siapa, dan sampai batas mana?

Karena bila laut rusak, mangrove hilang, ruang spiritual menyempit, dan masyarakat lokal makin tersingkir dari tanahnya sendiri, maka Bali perlahan hanya akan menjadi panggung indah tanpa jiwa.

Dan ketika itu terjadi, Serangan bukan lagi sekadar nama sebuah pulau kecil di selatan Bali. Ia menjadi simbol tentang bagaimana sebuah masyarakat perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah arus besar zaman. [T]

Tags: balipulau serangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

Next Post

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co