25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

Made Sugianto by Made Sugianto
April 12, 2026
in Cerpen
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra Inggris, ia mengirim lamaran sebagai guru abdi di SMP Jaya Kumara. Ia diterima di sekolah itu karena kebetulan kekurangan guru bahasa Inggris. Upahnya tak seberapa, hanya dua ratus ribu rupiah per bulan, namun semangatnya menyala seperti matahari yang perlahan naik. Ia tidak pernah mempersoalkan pendapatan yang diterima setiap bulannya. Menjadi guru adalah panggilan hati. Ia lakoni dengan lascarya. Ia tidak pernah silau oleh status pegawai negeri sipil. Baginya tanpa rasa syukur, sebesar apa pun pendapatan tetap merasa kurang. Buktinya banyak oknum guru pegawai negeri sipil masih menggerutu walau sudah dapat tambahan sertifikasi.

Di sekolah, Kadek Arya dicintai para siswanya. Ia pintar mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Jika ia terlambat masuk kelas, maka dijemput oleh siswanya. Sementara guru lainnya yang terlambat masuk kelas tidak pernah dijemput siswa. Apalagi kalau ada guru yang kurang disukai absen mengajar, malah disyukuri seolah itu berkah. Memberi mereka kesempatan bercanda riang di kelas. Kepala sekolah mengetahui kondisi itu. Beberapa kali saat upacara bendera hari Senin, kepala sekolah memuji Kadek Arya. Guru abdi penuh dedikasi dan dijadikan teladan oleh para siswa. Kepala sekolah meminta guru lainnya mencontoh Kadek Arya.  

Kadek Arya menjadi guru karena panggilan hati. Harapan ke depan, pemerintah membuka lowongan CPNS ataupun PPPK. Ia percaya, pemerintahan yang baru bersih dari praktik calo PNS. Ia pernah mendengar kabar, banyak oknum pakai pelicin agar lulus dengan status pegawai negeri sipil. Ada yang berjalan mulus, tak sedikit pula frustasi karena uangnya menguap disikat calo. Tanah sawah lenyap, pekerjaan pun tak dapat. Ia juga pernah mendengar kabar ada yang berani nyogok puluhan juta rupiah untuk mendapatkan status pegawai kontrak.

Kadek Arya mencari pekerjaan dengan mengadu kemampuan. Walaupun guru abdi dipandang sebelah mata, ia bangga menjalani pekerjaan sebagai pengajar. Dicintai para siswa membuatnya makin mendedikasikan keilmuannya untuk diabdikan. Cita-citanya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sekolah ia merasakan surga, namun saat pulang ke rumah, ada perbedaan mencolok yang ia rasakan. Istrinya kerap dilanda cemburu karena ia berkawan dengan gadis-gadis cantik. Kehidupannya hampir tidak pernah tanpa keributan di pagi hari. Istri ngomel-ngomel karena tidak ada uang dapur. Pendapatan dua ratus ribu rupiah tiap bulan selalu jadi topik utama. Manalah cukup untuk membiayai rumah tangga. Uang pulsa satu bulan pun tidak menutupi. Mana buat bayar listrik, bayar tagihan air. Beras harus ada setiap hari. Topik itu selalu meluncur deras dari mulut istrinya. Kadek Arya selalu mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Sesekali ia meladeni jika istri menuntutnya tidak melanjutkan pengabdian di sekolah.

“Percuma jago bahasa Inggris jika tidak mampu mendapatkan penghasilan yang layak. Tuh contoh Putu Merta, ia menjadi pemandu wisata, gajinya luar biasa,” cerocos istrinya.

Darah Kadek Arya sering mendidih jika dibandingkan dengan Putu Merta, lelaki yang gagal mendapatkan istrinya semasa gadis. Namun, seberapa besar pun keinginan melawan, tetap diredam. Ia memaklumi istrinya yang menuntut pendapatan layak.

“Seragammu necis seperti katibangbung,” ujar istrinya sambil melirik tajam pada kemeja berwarna khaki yang ia pakai. “Mentereng, namun penghasilanmu tidak ada apa-apanya.”

Beruntung Kadek Arya selalu mampu menghadirkan jawaban menyejukkan, meskipun perkataan istrinya kadang terasa sepat. Dari bibirnya tetap mengalir keteduhan yang meluluhkan emosi pasangan hidupnya. Ia selalu berkata bahwa tak ada pekerjaan yang lebih membahagiakan selain profesi yang benar-benar dicintai. Segala sesuatu baginya seperti gunung di kejauhan. Tampak indah, namun menyimpan tebing terjal ketika didekati. Ada yang memuji profesi pemandu wisata asing sebagai pekerjaan dengan hasil paling menggiurkan. Realita di lapangan tak seindah cerita yang didengar. Ada rombongan wisatawan yang bahkan lebih sering menghitung receh daripada menikmati perjalanan. Istrinya tersenyum mendengar itu.

“Bli memang jago meluluhlantakkanku. Bli memang banyak kekurangan, tapi kuakui punya kelebihan,” saut istrinya dengan nada setengah manja, setengah kesal, sementara ujung jarinya mencubit lengan suaminya.

Setelah perang berakhir senyum, Kadek Arya berangkat ke sekolah dengan perasaan bahagia. Senyum istri di pagi hari membakar semangatnya memberikan pelajaran terbaik kepada siswanya. Motor bebek tua tunggangannya meluncur mulus di jalanan desa. Benar kata tetua, sukacita berangkat kerja dari rumah, sesampai di tempat kerja kebahagiaan itu turut serta. Permasalahan rumah tangga tidak terbawa hingga ke sekolah. Ia bisa menempatkan permasalahan yang dihadapi sesuai porsinya. Itu mungkin yang menyebabkan murid-muridnya suka dengannya. Tak jarang, para siswa menceritakan tentang dirinya kepada orang tua mereka. Dilabeli guru pintar. Mendengar sanjung puji dari anak-anak, para orang tua menyarankan les bahasa Inggris di tempat Kadek Arya. Atas desakan orang tua siswa, ia buka les bahasa Inggris di rumah.  

Les bahasa Inggris Kadek Arya sungguh unik. Ia memakai kata pengantar bahasa Bali. Harapannya bahasa Ibu tidak punah. Baginya penting melestarikan bahasa Ibu, mengutamakan bahasa Indonesia, dan menguasai bahasa asing. Sesungguhnya ia malu menerima bayaran les. Niatnya tulus agar anak-anak menguasai bahasa asing. Modal awal untuk mencari kerja kelak ketika mereka dewasa. Agar misi sosialnya tetap jalan, ia tetap membuka kursus bahasa Inggris gratis yang dilaksanakan setiap minggu di balai banjar.

Sepak terjang Kadek Arya sebagai guru abdi dan mengajar les bahasa Inggris gratis bagi anak-anak di kampung mendapat perhatian dari ketua dewan. Pimpinan legislatif itu kagum melihat Kadek Arya mampu mengumpulkan anak-anak hingga pemuda untuk belajar bahasa Inggris di balai banjar. Ada keinginannya menjanjikan guru abdi itu sebagai pegawai negeri sipil. Maka ia menyuruh sopir pribadinya menjemput Kadek Arya. Tak lama kemudian, guru abdi itu tiba di kediaman Ketut Ar, sang ketua dewan.

Ada firasat buruk menjalar di perasaan Kadek Arya. Banyak tanya mengganggu pikirannya. Ada apa gerangan ketua dewan ingin ngobrol dengannya. Sangat mendadak. Apalagi sebelumnya tidak pernah basa-basi walau mereka satu kampung. Ketut Ar mempersilakan Kadek Arya duduk. Ia mengaku iba dengan status tamunya sebagai guru abdi. Pendapatan tak seberapa, pengeluaran sudah pasti, besar pasak daripada tiang. Ia menjanjikan status pegawai negeri sipil. “Aku suka melihat kemampuanmu mengumpulkan pemuda di balai banjar. Aku sangat bangga,” kata Ketut Ar.

Bagi Ketut Ar, secara politik, siapa pun yang mampu mempersatukan pemuda dalam satu kegiatan adalah orang hebat. Sudah belasan tahun pemuda di kampung berlawanan prinsip. Setiap ada kegiatan di balai banjar, sering terjadi keributan. Mereka tidak akur walaupun mereka satu kampung. “Aku punya kuasa dan jabatan, namun tidak sehebat kamu mempersatukan pemuda. Aku salut,” pujinya.

Ketut Ar mengaku sudah sering turun ke banjar-banjar saat reses. Selalu menyisipkan pesan agar mereka bersatu. Namun, imbauannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Maka, ia ingin memanfaatkan jasa Kadek Arya agar para pemuda bersatu. Tidak lagi terbelah hanya gara-gara beda banjar. Ia secara khusus minta tolong Kadek Arya menyisipkan pesan-pesan persatuan saat mengajar les di balai banjar.

“Anda mau jadi pegawai negeri?” ketua dewan melontarkan pertanyaan.

Kadek Arya menjawab dengan anggukan kepala. Ketut Ar menyampaikan syaratnya. Arahkan para pemuda-pemudi itu mencoblos gambar dirinya pada pemilihan umum yang akan datang. Ia berkisah, sudah tiga periode tembus ke DPRD kabupaten, namun suara pemilih pemula sangat rendah. Ia menyebut tabiat para pemuda di kampung brengsek. Terima uang, namun tak mau mencoblos gambar dirinya di tempat pemungutan suara. Berbeda dengan generasi tua, selalu manut dengan perintah. Dalam benaknya, jika pemuda-pemudi di kampung mendukungnya, pastilah perjalanannya mulus menuju kursi legislatif di provinsi. Melaju ke provinsi, perolehan suara pun harus meningkat.  

Mendengar permintaan khusus ketua dewan, Kadek Arya merasa kena jebak. Ia mengaku mengumpulkan para pemuda di balai banjar karena ketulusan. Mentransfer ilmu bahasa Inggris secara gratis. Harapannya, para pemuda tulang punggung bangsa menguasai bahasa asing. Apalagi di dunia kerja mensyaratkan menguasai bahasa asing dan teknologi.

“Kamu jago bahasa Inggris mengapa tidak mencari pekerjaan layak? Mestinya kamu kerja di kapal pesiar agar menghasilkan dolar!” perkataan ketua dewan menghujam perasaan.

Kadek Arya sadar pimpinan legislatif itu tersinggung dengan jawabannya. Detak jantungnya lebih cepat dari kondisi normal. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran.

“Mumpung Aku punya kuasa, kuberikan kamu SK pegawai kontrak. Modal awal untukmu ke jenjang PNS. Sekarang pun Aku bisa perintahkan bupati buatkan SK buatmu!”

Kadek Arya tersentak mendengar ucapan ketua dewan. Ia tahu nada bahasa itu penuh kemarahan. Namun, ia harus tegas. Tidak bisa mengarahkan para pemuda memilih Ketut Ar. Para pemuda harus bebas merdeka sesuai jargon pemilu, langsung umum bebas rahasia. Ia masih merangkai kata agar menjadi kalimat bijak dan tak menyinggung perasaan lawan bicaranya. Berbicara dengan Ketut Ar harus hati-hati. Memantik ketersinggungan adalah tanda bahaya. Preman bayaran pasti dikerahkan untuk membalaskan sakit hati. Semenjak Ketut Ar mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, ketenangan desa terusik. Pemuda terpecah dan sering terjadi kegaduhan. Semua itu ulah Ketut Ar yang mengerahkan preman bayaran.

Kadek Arya bahagia dengan status guru abdi. Mimpi menjadi PNS dikubur dalam-dalam, apalagi dengan perantara bantuan ketua dewan. Ia ingin merdeka, tidak terbelenggu balas jasa. Ia menjawab dengan tegas. Ketua dewan meninggalkan ruang tamu tanpa komentar. Sopir pribadi lekas mengantar Kadek Arya pulang.

***

Suasana sekolah berbeda. Tak ada keceriaan di wajah kepala sekolah. Ia yang senantiasa meluncurkan sanjung puji setiap upacara hari Senin, kini tidak ada lagi. Guru berprestasi selama satu pekan tidak mendapatkan reward. Pun, guru yang melanggar tidak mendapatkan sanksi. Semua berubah. Perubahan itu menjadi tanda tanya besar bagi keluarga besar sekolah, tak terkecuali Kadek Arya. Guru lainnya pun bertanya-tanya, namun mereka tidak punya nyali menanyakan langsung kepada kepala sekolah.

Bel pulang sekolah sudah berdentang. Kadek Arya merapikan bahan ajarnya sebelum ditinggalkan pulang. Para siswa bergerombol pulang. Ada yang naik angkot yang disiapkan gratis oleh pemerintah, ada pula yang dijemput orang tuanya. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang guru, Kadek Arya dikejutkan oleh kepala sekolah yang memanggil namanya. Kepala sekolah memintanya menghadap.

Tampak mendung di wajah kepala sekolah. Kadek Arya duduk dengan gelisah. Kepala sekolah juga tak kunjung berbicara. Suasana begitu kaku. Terlihat mata kepala sekolah berkaca-kaca. 

“Bapak bangga denganmu, Dek,” katanya pendek.

Perkataan kepala sekolah seperti tercekat. Ada yang mengganjal kerongkongan sehingga kata-kata tak lancar keluar. Kadek Arya sabar menunggu perkataan pimpinannya. Perasaannya tidak menentu. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga kepala sekolah memanggilnya. Kepala sekolah memandang Kadek Arya lekat.

“Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!” katanya berat dan bergetar. [T]

Catatan

  • Bli =kakak
  • Katibangbung = kumbang daun
  • Lascarya = tulus ikhlas
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

Next Post

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

Made Sugianto

Made Sugianto

Lelaki sibuk. Selain sebagai penulis Sastra Bali Modern, juga mengelola penerbit indie Pustaka Ekspresi. Juga mengelola Majalah Ekspresi. Lama bekerja tetap sebagai wartawan di Nusa Bali, sebelum memutuskan rehat setelah ia dipilih menjadi Perbekel (Kepala Desa) di kampungnya di Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co