27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

Made Adnyana by Made Adnyana
May 6, 2026
in Ulas Film
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

Film 'Michael' | Photo by Courtesy of Lionsgate/Courtesy of Lionsgate - ©️ 2026 Lionsgate

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba membongkar kontroversi atau sisi gelapnya. Bohemian Rhapsody tentang Freddie Mercury, misalnya, lebih condong menjadi perayaan ketimbang pengadilan. Begitu pula Bob Marley: One Love yang menghadirkan sosok Bob Marley dalam bingkai yang hangat dan inspiratif, meski tak sepenuhnya menyentuh seluruh sisi kehidupannya.

Di jalur yang sama, Michael—film biografi tentang Michael Jackson—datang dengan pilihan yang serupa: merayakan perjalanan, bukan menguliti kontroversi. Sejak awal, ekspektasi terhadap film ini memang tinggi. Bukan hanya karena besarnya nama Michael Jackson sebagai The King of Pop, tetapi juga karena kompleksitas hidupnya yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan—bahkan setelah ia tiada.

Antusiasme itu pun terasa saat film ini tayang perdana akhir bulan lalu. Saya termasuk yang menantikan, sekaligus penasaran: sejauh mana film ini berani melangkah? Jawabannya ternyata cukup jelas—dan bagi sebagian orang, mungkin mengecewakan. Alih-alih menyusuri seluruh lapisan hidup Michael, film ini memilih satu jalur: karier musiknya. Dari masa awal bersama Jackson 5, hingga fase ketika ia mulai berdiri sendiri sebagai ikon global, film ini berhenti pada titik ketika identitas musikal Michael telah menemukan bentuknya.

Sebuah keputusan yang, di satu sisi, terasa aman; di sisi lain, justru menjadi sumber kritik. Sejumlah pengamat menilai Michael tidak jujur. Mereka menyebut film ini hanya menampilkan satu sisi, yakni sisi gemilang yang penuh prestasi. Sementara itu, berbagai kontroversi yang selama ini melekat pada nama Michael—mulai dari perubahan fisik hingga tuduhan pelecehan—tidak mendapat ruang yang berarti, bahkan nyaris diabaikan.

Kritik semacam ini bisa dipahami. Publik, terutama generasi yang tumbuh bersama arus informasi yang lebih terbuka, cenderung menginginkan gambaran yang utuh—bukan sekadar narasi yang dipoles. Namun di titik ini, penting untuk melihat Michael bukan sebagai dokumen investigatif, melainkan sebagai pilihan naratif.

Film biografi sesungguhnya tak pernah mengemban kewajiban untuk menceritakan segalanya. Ia adalah hasil dari keputusan penulis skenario bahkan lebih kuasa sang sutrafara, apa yang ingin ditampilkan, dan apa yang sengaja ditinggalkan. Dalam hal ini, Antoine Fuqua sebagai sutradara tampaknya memilih pendekatan yang lebih humanis dan selektif. Terlepas dari berbagai spekulasi—termasuk kabar bahwa film ini “terlalu aman”—Michael tetap berdiri sebagai karya yang sadar akan sudut pandangnya. Dan justru di situlah kekuatannya.

Film ‘Michael’ | Photo by Courtesy of Lionsgate/Courtesy of Lionsgate – ©️ 2026 Lionsgate

Michael tidak terjebak dalam kontroversi yang tak berujung, melainkan mengajak penonton kembali pada satu hal yang membuat Michael Jackson menjadi legenda, yakni musiknya. Lagu-lagu yang mengiringi perjalanan – I’ll Be There,  Never Can Say Goodbye, Ben, Don’t Stop ‘Til You Get Enough, Billie Jean, Thriller, dan ditutup Bad — bukan sekadar nostalgia bagi para penggemar (mungkin juga pembencinya?), tetapi juga penanda fase—bagaimana seorang anak yang tumbuh dalam tekanan berubah menjadi ikon yang berupaya mendefinisikan zamannya.

Dalam hal ini. penampilan Jaafar Jackson sebagai Michael Jackson menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Ia tidak sekadar meniru, tetapi menghadirkan kembali gestur, energi, dan bahkan aura yang begitu lekat dengan sosok aslinya. Dalam beberapa momen, batas antara representasi dan realitas terasa menipis. Namun lebih dari itu, sisi paling menarik dari film ini justru terletak pada pendekatannya yang humanis.

Film ‘Michael’ | Photo by Courtesy of Lionsgate/Courtesy of Lionsgate – ©️ 2026 Lionsgate

Di balik gemerlap panggung dan sorotan dunia, Michael menyelipkan potret seorang anak yang kehilangan masa kecilnya. Seorang anak yang tumbuh dalam disiplin keras, jauh dari kebebasan bermain, bahkan dari kehangatan relasi yang sederhana. Dari sini, sejumlah potongan puzzle kehidupan Michael terasa menemukan konteksnya: kedekatannya dengan anak-anak, ketertarikannya pada dunia fantasi, hingga berbagai pilihan hidup yang kerap dianggap “aneh”. Sekali lagi, film ini tidak menjelaskan semuanya tentang Michael Jackson, dan mungkin memang tidak berniat untuk itu. Tapi ia memberi cukup ruang bagi penonton untuk merasakan, bukan sekadar menilai.

Nah, bagi mereka yang datang dengan harapan menemukan “kebenaran tersembunyi”, Michael barangkali terasa kurang memuaskan. Film ini tidak membongkar suara-suara minor tentang king of pop, tidak menghakimi, dan tidak pula mencoba menyeimbangkan seluruh sisi. Ia memilih berdiri di satu titik, sebagai satu cperayaan.

Ketika karya seni dipahami sebagai hasil interpretasi akan satu hal, jelas ini bukan kelemahan —melainkan sikap pembuatnya. Di tengah arus film biografi yang kerap terjebak antara glorifikasi dan sensasionalisme, Michael mengambil jalan yang lebih sederhana, menghadirkan kembali seorang seniman melalui karyanya. Terlalu naif mengatakan, ia memang tidak lengkap, tetapi cukup untuk mengingatkan mengapa nama Michael Jackson pernah—dan mungkin akan selalu—begitu besar.

Film ‘Michael’ | Photo by Courtesy of Lionsgate/Courtesy of Lionsgate – ©️ 2026 Lionsgate

Pada akhirnya, seperti kalimat penutup pada layar yang terasa menggantung namun jujur: kisah itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya diceritakan dari sudut yang berbeda. And history continued… [T]

Penulis: Made Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmMichael JacksonmusikUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Next Post

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

Pameran 'Roots & Routes': Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co