4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Iwan Setiawan by Iwan Setiawan
March 28, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Iwan Setiawan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN

  • Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga

di rambutnya, senja tersesat seperti burung yang lupa pulang
cahaya tembaga berjalan perlahan
di antara gelombang malam yang belum lahir
angin berhenti di sana
seperti pengembara yang menemukan mata air
aku melihat matahari kecil tidur di bahunya
dan dunia tiba-tiba menjadi sunyi
seolah waktu menahan napasnya sendiri
rambut itu bergerak pelan
seperti laut yang sedang bermimpi
setiap helainya menyimpan rahasia langit
setiap bayangnya seperti pintu menuju musim lain
barangkali senja tidak pernah benar-benar pergi
ia hanya bersembunyi di kepala seorang perempuan
yang berjalan pelan melewati hari
membawa cahaya yang terlalu lembut untuk dipahami dunia
dan sejak saat itu aku mengerti
mengapa langit selalu memerah
ketika ia menoleh sedikit saja

Padang, 2026

MALAM YANG DIAM-DIAM TINGGAL DI DALAM MATANYA

  • Lea Kathe Ritonga

di matanya malam tinggal tanpa suara
ia tidak datang seperti badai, hanya duduk perlahan
di kedalaman yang tidak bisa dijangkau cahaya
aku melihat bintang-bintang kecil bernapas di sana
Seperti ikan yang berenang di laut yang terlalu sunyi
tatapannya panjang
seolah membawa perjalanan yang belum selesai
angin yang lewat di wajahnya tiba-tiba menjadi lebih pelan
seperti takut mengganggu rahasia
yang sedang tidur di dalam pandangannya
kadang aku merasa malam belajar menjadi tenang
dari matanya
sebab tidak ada gelap yang benar-benar gelap
ketika cahaya tinggal diam di dalamnya
dan setiap kali ia memandang jauh langit terasa lebih luas
seolah seluruh alam sedang bersembunyi
di dalam dua mata yang menyimpan malam
dengan begitu lembut

Padang, 2026

PEREMPUAN YANG MENYEMBUNYIKAN LAUT DI DADANYA

di dalam dadanya ada laut yang tidak pernah disebut peta
ombak tumbuh perlahan
di kedalaman yang bahkan angin tidak pahami
ketika ia berjalan aku mendengar suara air yang jauh
seperti pantai yang memanggil bulan
dadanya sunyi, namun di dalam sunyi itu
pasang dan surut terus terjadi
kadang matanya menjadi pantai
kadang napasnya menjadi badai kecil
orang-orang hanya melihat senyumnya
yang lembut seperti cahaya pagi
mereka tidak tahu bahwa di balik tulang rusuknya
ombak sedang menabrak karang
malam sering datang kepadanya
membawa langit yang penuh bintang
dan laut itu diam-diam memantulkan semuanya
seolah dada seorang perempuan
adalah samudra yang terlalu luas
tempat rindu berenang
tanpa pernah benar-benar sampai

Padang, 2026

KETIKA ANGIN BELAJAR BERDOA DI BAHU SEORANG PEREMPUAN

suatu sore angin berhenti di bahunya
ia datang dari jauh
membawa debu perjalanan dan suara pohon yang letih
namun ketika menyentuh bahu itu
angin tiba-tiba menjadi lembut
seperti seseorang yang baru saja menemukan rumah
rambutnya bergerak pelan
seperti tirai yang membuka rahasia langit
daun-daun berbisik, langit menundukkan cahaya
dan angin tinggal lebih lama dari biasanya
di sana, di bahu seorang perempuan
ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan bumi
tentang diam, tentang keheningan yang hangat
tentang doa yang tidak memerlukan kata
angin berputar perlahan
seperti tasbih yang bergerak tanpa tangan
dan sejak hari itu setiap kali perempuan itu berjalan
udara di sekitarnya berubah
menjadi doa yang lembut yang tidak terdengar
namun membuat dunia sedikit lebih tenang

Padang, 2026

DOA YANG TUMBUH DI TAMAN KESEPIAN

di dalam kesunyiannya
ada taman yang tidak diketahui siapa pun
tidak ada gerbang, tidak ada jalan batu
hanya rumput waktu
yang tumbuh pelan di antara napasnya
perempuan itu sering datang ke sana
pada malam yang panjang
ia duduk di bawah langit yang rendah
membawa rindu yang belum selesai
di tangannya tidak ada kitab
namun di dadanya doa tumbuh seperti bunga liar
satu demi satu kelopaknya terbuka dalam diam
angin yang lewat menjadi saksi
bahwa doa tidak selalu berupa kata
kadang ia hanya air mata yang jatuh perlahan
kadang ia hanya napas
yang bergetar di antara dada dan langit
dan taman itu semakin luas
dipenuhi bunga yang tidak bernama
bunga-bunga yang lahir dari kesepian yang sabar

Padang, 2026

PEREMPUAN PENENUN BADAI

  • Kepada Kakakku Lea Kathe Ritonga-

di matamu malam tidak benar-benar selesai
ia hanya bersembunyi di sela-sela cahaya
yang pura-pura tenang
aku melihat angin terlipat seperti kain tua
di pangkuan jiwamu
kau menenun badai dengan jarum kesabaran
dari benang-benang luka yang pernah mencoba menenggelamkan namamu
langit pernah jatuh di bahumu aku tahu itu
sebab ada bayang petir yang masih tinggal di kedalaman matamu
namun kau tidak berteriak kau hanya duduk seperti penenun purba
yang mengubah kemarahan angin menjadi selimut sunyi
orang-orang melihat senyummu
seperti jendela kecil yang terbuka sebentar
mereka tidak tahu di belakangnya laut hitam sedang tidur
dan kau perempuan yang tenang itu
telah belajar bagaimana menjahit petir
menjadi garis halus di dalam takdir

Padang, 2026

Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Next Post

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Iwan Setiawan

Iwan Setiawan

Lahir di Kota bumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Penyair dengan karya-karya bernapas sufistik dan melankolis yang menempatkan puisi sebagai ziarah batin, doa, dan perenungan atas iman, sejarah, serta penderitaan manusia. Puisinya dimuat di berbagai media daring dan cetak, serta terkumpul dalam buku Sang Pencari Cinta dan Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera pada 2017.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co