4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Iwan Setiawan by Iwan Setiawan
March 28, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Iwan Setiawan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN

  • Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga

di rambutnya, senja tersesat seperti burung yang lupa pulang
cahaya tembaga berjalan perlahan
di antara gelombang malam yang belum lahir
angin berhenti di sana
seperti pengembara yang menemukan mata air
aku melihat matahari kecil tidur di bahunya
dan dunia tiba-tiba menjadi sunyi
seolah waktu menahan napasnya sendiri
rambut itu bergerak pelan
seperti laut yang sedang bermimpi
setiap helainya menyimpan rahasia langit
setiap bayangnya seperti pintu menuju musim lain
barangkali senja tidak pernah benar-benar pergi
ia hanya bersembunyi di kepala seorang perempuan
yang berjalan pelan melewati hari
membawa cahaya yang terlalu lembut untuk dipahami dunia
dan sejak saat itu aku mengerti
mengapa langit selalu memerah
ketika ia menoleh sedikit saja

Padang, 2026

MALAM YANG DIAM-DIAM TINGGAL DI DALAM MATANYA

  • Lea Kathe Ritonga

di matanya malam tinggal tanpa suara
ia tidak datang seperti badai, hanya duduk perlahan
di kedalaman yang tidak bisa dijangkau cahaya
aku melihat bintang-bintang kecil bernapas di sana
Seperti ikan yang berenang di laut yang terlalu sunyi
tatapannya panjang
seolah membawa perjalanan yang belum selesai
angin yang lewat di wajahnya tiba-tiba menjadi lebih pelan
seperti takut mengganggu rahasia
yang sedang tidur di dalam pandangannya
kadang aku merasa malam belajar menjadi tenang
dari matanya
sebab tidak ada gelap yang benar-benar gelap
ketika cahaya tinggal diam di dalamnya
dan setiap kali ia memandang jauh langit terasa lebih luas
seolah seluruh alam sedang bersembunyi
di dalam dua mata yang menyimpan malam
dengan begitu lembut

Padang, 2026

PEREMPUAN YANG MENYEMBUNYIKAN LAUT DI DADANYA

di dalam dadanya ada laut yang tidak pernah disebut peta
ombak tumbuh perlahan
di kedalaman yang bahkan angin tidak pahami
ketika ia berjalan aku mendengar suara air yang jauh
seperti pantai yang memanggil bulan
dadanya sunyi, namun di dalam sunyi itu
pasang dan surut terus terjadi
kadang matanya menjadi pantai
kadang napasnya menjadi badai kecil
orang-orang hanya melihat senyumnya
yang lembut seperti cahaya pagi
mereka tidak tahu bahwa di balik tulang rusuknya
ombak sedang menabrak karang
malam sering datang kepadanya
membawa langit yang penuh bintang
dan laut itu diam-diam memantulkan semuanya
seolah dada seorang perempuan
adalah samudra yang terlalu luas
tempat rindu berenang
tanpa pernah benar-benar sampai

Padang, 2026

KETIKA ANGIN BELAJAR BERDOA DI BAHU SEORANG PEREMPUAN

suatu sore angin berhenti di bahunya
ia datang dari jauh
membawa debu perjalanan dan suara pohon yang letih
namun ketika menyentuh bahu itu
angin tiba-tiba menjadi lembut
seperti seseorang yang baru saja menemukan rumah
rambutnya bergerak pelan
seperti tirai yang membuka rahasia langit
daun-daun berbisik, langit menundukkan cahaya
dan angin tinggal lebih lama dari biasanya
di sana, di bahu seorang perempuan
ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan bumi
tentang diam, tentang keheningan yang hangat
tentang doa yang tidak memerlukan kata
angin berputar perlahan
seperti tasbih yang bergerak tanpa tangan
dan sejak hari itu setiap kali perempuan itu berjalan
udara di sekitarnya berubah
menjadi doa yang lembut yang tidak terdengar
namun membuat dunia sedikit lebih tenang

Padang, 2026

DOA YANG TUMBUH DI TAMAN KESEPIAN

di dalam kesunyiannya
ada taman yang tidak diketahui siapa pun
tidak ada gerbang, tidak ada jalan batu
hanya rumput waktu
yang tumbuh pelan di antara napasnya
perempuan itu sering datang ke sana
pada malam yang panjang
ia duduk di bawah langit yang rendah
membawa rindu yang belum selesai
di tangannya tidak ada kitab
namun di dadanya doa tumbuh seperti bunga liar
satu demi satu kelopaknya terbuka dalam diam
angin yang lewat menjadi saksi
bahwa doa tidak selalu berupa kata
kadang ia hanya air mata yang jatuh perlahan
kadang ia hanya napas
yang bergetar di antara dada dan langit
dan taman itu semakin luas
dipenuhi bunga yang tidak bernama
bunga-bunga yang lahir dari kesepian yang sabar

Padang, 2026

PEREMPUAN PENENUN BADAI

  • Kepada Kakakku Lea Kathe Ritonga-

di matamu malam tidak benar-benar selesai
ia hanya bersembunyi di sela-sela cahaya
yang pura-pura tenang
aku melihat angin terlipat seperti kain tua
di pangkuan jiwamu
kau menenun badai dengan jarum kesabaran
dari benang-benang luka yang pernah mencoba menenggelamkan namamu
langit pernah jatuh di bahumu aku tahu itu
sebab ada bayang petir yang masih tinggal di kedalaman matamu
namun kau tidak berteriak kau hanya duduk seperti penenun purba
yang mengubah kemarahan angin menjadi selimut sunyi
orang-orang melihat senyummu
seperti jendela kecil yang terbuka sebentar
mereka tidak tahu di belakangnya laut hitam sedang tidur
dan kau perempuan yang tenang itu
telah belajar bagaimana menjahit petir
menjadi garis halus di dalam takdir

Padang, 2026

Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Next Post

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Iwan Setiawan

Iwan Setiawan

Lahir di Kota bumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Penyair dengan karya-karya bernapas sufistik dan melankolis yang menempatkan puisi sebagai ziarah batin, doa, dan perenungan atas iman, sejarah, serta penderitaan manusia. Puisinya dimuat di berbagai media daring dan cetak, serta terkumpul dalam buku Sang Pencari Cinta dan Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera pada 2017.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co