5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
in Cerpen
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu dekat dengan dirinya. Menjadi satu. Menjadi satu dalam tubuhnya.

Luh Sunari kemudian menari. Gigi-giginya bergemeretak. Kakinya dihentak-hentakkan. Matanya setengah terpejam. Beberapa saat kemudian, gerak tarinya cepat. Setiap orang yang ada di hadapannya ditunjuk. Ia mengeluarkan kata-kata yang tidak dipahami orang.

Orang-orang hanya diam seperti tak terjadi apa-apa. Lalu, Luh Sunari lemas dan menggelepar di halaman pura. Orang lalu lalang takpeduli. Hujan turun. Tubuh Luh Sunari kehujanan. Basah kuyup. Lama sekali. Ia baru tersadar saat dingin menyusup ke tulang-tulangnya. Ia kemudian pulang dengan tubuh yang menggigil dan gigi bergemeretak. Kali ini bukan karena kerauhan, melainkan kedinginan.

Di rumah, Wayan Sasih sudah menunggu dengan wajah yang cemas. Saat dilihatnya Luh Sunari di halaman rumah, Wayan Sasih datang menjmput anak semata wayangnya itu.

“Ibu sudah mendengar dari tetangga. Kata mereka kamu kerauhan lagi. Sudahlah Luh. Hentikan kepura-puraan ini,” kata Wayan Sasih.

“Aku tidak mengerti apa yang ibu maksud. Kepura-puraan yang mana?”

“Tentang kerauhan itu. Seumur-umur, tak ada masyarakat rendahan seperti kita yang bisa kerauhan. Apalagi yang rauh adalah Ida Mas Mecaling atau apalah. Tidak mungkin Luh. Tidak mungkin. Kita bukanlah keturunan Jro. Jadi jangan permalukan diri dengan kepura-puraanan ini.”

Ibunya pergi ke dapur, lalu keluar membawa nampan kayu yang di atasnya tampak ada dua gelas sedang, piring aluminium yang sudah sedikit menghitam, juga botol kecil dengan penutup berbalut kain kasa kuning.

“Minumlah.” Ibunya menyerahkan gelas. Di dalamnya, batang sereh, kayu manis, dan gula aren diulek lalu dicampur dengan air mendidih.

Sunari dengan jelas dapat mencium bau sereh di dalamnya. Ia segera meminumnya. Manis gula aren masih melekat di langit-langit mulutnya. Ibunya selalu yakin, dengan meminum loloh itu Sunari akan mengantuk, lalu tidur dengan lelap meninggalkan semua kelehan mentalnya.

Setelah selesai dengan loloh itu, Sunari disuruh duduk tegak. Lalu ibunya berdiri di belakangnya. Sunari merasakan, tangan ibunya yang kasar memegang ubun-ubunnya. Bau minyak kelapa piing yang dikenalnya, dengan campuran sandat kering, bawang, dan adas, seketika menyeruak. Dipijitnya pelan kepala anaknya itu. “Sebentar lagi, sakit kepalamu pasti hilang.”

Luh Sunari menarik napas pelan. Ia hanya diam saja menikmati pijatan ibunya. Tubunya memang terasa nyaman dan tenang. Dadanya kini taklagi berdebar. Namun, ingatannya tentang kerauhan  tadi tetap melekat di pikirannya.

Sudah kesekian kali Sunari taksadarkan diri. Pertama adalah dua bulan lalu saat di pura dalem ada aci. Ketika pelinggih ida tedun, saat itulah Luh Sunari berdiri dan menari. Orang-orang terbelalak. Semula kaget.  Namun, setelah mengetahui bahwa itu adalah Luh Sunari, orang-orang diam takmemperhatikannya. Pecalang kemudian datang dan Luh Sunari dibawa ke jabaan pura.

Saat Luh Sunari sadar, ia lemas kemudian duduk di emperan warung. Orang orang yang melihatnya memberi tatapan hina. “Mimih, panak bebinjat, tidak tahu malu.” Beberapa yang lain menirukan suara melengkingnya saat ia kerahuan tadi.

Luh Sunari diam. Kata-kata seperti itu sudah lama ia dengar. Semenjak ia bisa mengingat, semenjak ia bisa memahami bahwa ia terlahir tanpa bapak.

“Me, apa tidak sebaiknya kita melukat? Orang lain yang kerauhan, pasti akan melukat agar hal buruk bisa hilang. Lalu, Iluh akan ngayah di Pura Dalem,” kata Luh Sunari menatap ibunya yang masih memijit kepalanya.

“Luh, hanya keturunan jro yang mungkin mendapat wahyu begitu. Kita bukan siapa-siapa. Tidak ada keturunan Jro Dalem atau Jro Desa. Kita hanya penyakap Luh.”

“Aku tidak membuat-buat Me. Aku tidak tahu mengapa jadi begini.”

“Jika begitu, itu artinya kamu sakit.”

“Aku tak merasakan sakit apa-apa.”

“Kalau begitu akhiri saja. Menjadilah Luh Sunari yang dulu, yang tekun ngayah  di pura. Jangan melakukan hal yang macam-mcam.”

“Mengapa tidak mungkin, Me? Bukankah ketaatan sebagai pengayah akan meninggikan derajat kita? Mungkin ini cara-cara Ida Batara meninggikan derajatku Me, derajat Meme juga.”

“Jangan mengkhayal Luh. Jangan.”

“Jro Dalem saja, yang dulunya adalah seorang penjudi, pemabuk, bahkan seperti cerita yang kudengar pernah dipenjara karena narkoba, sekarang bisa menjadi Jro Dalem.”

“Diam Luh, apa yang kau katakana itu?” Wajah Wayan Sasih memerah memendam marah, tetapi suaranya sengaja dikecilkan. “Kamu sudah sangat lancang. Mereka adalah keturunan Jro. Kita siapa? Ibu adalah aib di desa ini. Kamu lahir dari rahim seorang ibu pembawa leteh desa, Luh. Sadar. Sadar. Akhri semua ini.”

“Apa yang harus kuakhiri sedangkan aku takpernah memulai apa-apa, Me.”

Wayan Sasih taklagi meladeni perdebatan itu. Ia pergi menuju dapur dan memasak air hangat. Mengingat kembali cibiran tetangga tentang Luh Sunari yang berlagak seperti Jro Tapakan membuat kepalanya pusing. Kemudian terhuyung dan jatuh tepat dimulut pintu dapur. Beruntung sigap Luh Sunari memegang ibunya sehingga kepala ibunya tak sampai terbentur. Dengan tenang Luh Sunari membawa ibunya ke kamar. Di kamar kini gantian Luh Sunari yang memijat tengkuk ibunya. Sunari melihat wajahnya ibunya yang letih. Dua puluh tahun merawat anak seorang diri, lalu memberikan kehidupan yang layak, tentu adalah keletihan yang teramat sangat. Wajah ibunya yang pucat itu diusap-usap. Dalam mulutnya, dilapalkan harapan-harapan agar ibunya sehat dan bahagia.

Wajah ibunya yang semula pucat kini berangsur segar. Wayan Sasih merasa tubuhnya bugar, merasa sangat sehat, lebih sehat dari sebelumnya. Ia membuka matanya. Dilihatnya wajah Sunari yang putih itu bercahaya. Rambut anaknya yang biasanya kusut itu kini tergerai panjang bergelombang, hitam dan berkilat.

“Obat apa yang kamu berikan Luh?”

Luh Sunari tidak menjawab. Tangannya memegang kening ibunya. Komat-komat Luh Sunari merapalkan rasa syukur karena ibunya telah siuman. Berkali-kali, berkali-kali ucapan terima kasih itu ia kumandangakan, pelan. Dengan bahasa biasa, selayaknya ia berterima kasih pada ibunya, sahabat-sahabatnya, atau orang lain yang pernah menolongnya. Namun, samar-samar di telinga ibunya, setiap ucapan Sunari terdengar serupa mantra. Mantra yang begitu dalam sehingga desir angin pun ikut mengiringinya.

Desir angin itu mendatangkan kesejukan bagi tubuh Wayan Sasih. Mantra yang ia dengar dari anaknya serupa nyanyian masa kecil yang meninabobokan. Ia merasakan matanya berat, lalu tertidur. Tidur itulah yang membawanya ke masa lalu.

Suatu malam di Pura Dalem saat Wayan Sasih ngayah membersihkan areal pura dari sampah sisa canang dan plastik. Di sana ia membersihkan areal pura hingga larut malam. Sadar tentang pesanan canang untuk dibawa besoknya belum selesai, ia mepamit. Saat pulang itulah seorang laki-laki membuntutinya. Di jalan yang begitu sepi. Tiba-tiba saja laki-laki itu menyergapnya dan menyeretnya ke semak-semak. Wayan Sasih, berhari-hari merasakan rasa takut yang mendalam. Dengus lelaki itu masih jelas di telinganya.

Rasa sakit kemudian bertambah saat mengetahui dirinya hamil, tanpa suami. Keinginan-keinginan mengakhiri hidup menghampirinya setiap malam; ketakutan-ketakutan akan hidup anaknya di kemudian hari mendatanginya selalu. Beruntung, ayahnya sabar. Dengan ihklas ayahnya menerima segala kekurangan itu. Ayahnya hadir menguatkan. Kehamilan itu dirawat dengan sepenuh hati. Saban malam, di serambi rumahnya, di bawah binar bulan, Wayan Sasih duduk di sebelah ayahnya yang sedang mekidung. Kidung itu ia yakini sebagai doa untuk anaknya, juga obat bagi ketakutan-ketakutan yang ia lalui. Ia baru akan tidur saat kidung selesai dinyanyikan dan ayahnya memberinya loloh kecemcem gula aren atau loloh kayu manis dengan campuran telur ayam kampung. Kata ayahnya ketika itu, loloh ini bisa meningkatkan kecerdasan janin, juga memperkuat kandungannya.

Ia kemudian hamil, lalu melahirkan. Seperti ketakutannya dahulu, warga menganggapnya leteh sehingga  Wayan Sasih tidak lagi diizinkan ngayah di pura.

Setelah melahirkan, Wayan Sasih tinggal di rumah pengasingan di tepi hutan bersama ayahnya. Luh Sunari lalu beranjak dewasa. Karena kerjanya yang cekatan dalam membuat banten, juga kemahiran menari dan mekidung, Luh Sunari diterima menjadi pengayah di pura, ditugaskan oleh Jro Dalem membersihkan areal pura dalem. Masa lalunya sebagai anak babinjat, terlahir dari rahim ibu tanpa suami,  diabaikan orang-orang.

Luh Sunari sangat telaten menjadi pengayah di pura: rajin membersihkan areal pura, telaten membuat sesajen, pintar dalam menari, dan berbakat saat mekidung. Pura jadi bersih karenanya. Saat Luh Sunari menari, orang-orang berkerumun ingin menontonya. Begitupun saat Luh Sari mekidung, orang-orang yang datang sembahyang di pura seperti terhinoptis mendengar lengkingan suaranya.  Namun, nasib kemudian berkata lain. Semenjak Luh Sunari sering kerauhan, banyak masyarakat yang merasa risih dengan keberadaan Luh Sunari. Maka, bersepakatlah para tetua pura agar Luh Sunari berhenti ngayah di pura.

Wayan Sasih bangun dari tidurnya. Segala ingatan masa lalu yang masuk ke mimpinya sirna. Luh Sunari masih duduk memijat kakinya. Ada perasaan haru melihat anaknya, yang sudah berpuluh tahun memendam rasa sakit atas perundungan penduduk desa. Beruntung, tak seklaipun anak semata wayangnya itu bertanya tentang sosok bapaknya. Sebab, dia sendiripun taktahu siapa sebenrnya sosok ayah dari anaknya itu.

Wayan Sasih tersenyum. Tubuhnya sangat segar, seperti tidur berhari-hari. Nyeri di sekujur tubuhnya yang selama ini ia rasakan, entah kenapa seperti sirna. Ia taklagi merasakan radang lutut yang menyiksanya selama ini.

“Sunari! Sunari!” Suara orang-orang memanggil terdengar dari halaman rumahnya.

Wayan Sasih keluar diikuti Luh Sunari.

“Jro Dalem ingin Luh Sunari datang ke pura, jadi pengayah lagi.” Kata utusan Jro Dalem itu.

Sudah hampir sebulan Luh Sunari berhenti ngayah di Pura Dalem. Namun, entah mengapa Jro Dalem merasa hanya sesajen yang dibuat oleh Sunari yang paling lengkap. Jro Dalem juga merasa persembahyangan belum khusyuk apabila belum ada kidung yang mengiringi. Kidung itu haruslah dinyanyikan oleh Luh Sunari.

“Tidak mau.” Luh Sunari menolak.

Namun, utusan itu berkata dengan sedikit memaksa. Juga ancaman-ancaman terhadap ibunya. Akhirnya, Luh Sunari bersedia.

Saat itu tilem. Sore sudah temaram. Sebentar lagi malam akan pekat. Masyarakat sudah siap sembahyang. Namun, persembahyangan belum mulai. Jro Dalem akan memulai saat Luh Sunari datang dan duduk di sebelahnya menyiapkan sesajen yang diperlukan.

Saat Luh Sunari datang. Orang-orang memandanginya dengan wajah penuh penghinaan.  Orang-orang bercakap-cakap tentang Luh Sunari. Saat itulah Jro Dalem menggerakkan gentanya. Denting menggema. Orang-orang diam, dalam posisi siap untuk sembahyang.

Luh Sunari mendekati Jro Dalem. Suara genta semakin terdengar nyaring. Begitu tiba di sebelah Jro Dalem, Luh Sunari menari. Orang-orang yang semula siap untuk sembahyang, berbarengan mendehem dan mencibir. Namun cibiran mereka seketika berhenti saat Jro Dalem juga ikut menari. “Ning, mai Ning, ” kata Jro Dalem seraya tanganya dibentangkan menyambut Luh Sunari. Luh Sunari mendekat sambil terus menari.

Jro Dalem terus menari sambil menyanyikan lagu, lagu yang asing, serupa mantra, tak ada yang memahami, kecuali Luh Sunari. Nyanyian itu adalah tangis Jro Dalem tentang penyesalannya telah menelantarkan Luh Sunari, buah dari kebiadabannya malam itu.

Melihat mata Jro Dalem yang berkaca-kaca penuh penyesalan, Luh Sunari juga menyanyi, nyaring dan lembut serupa sunari sebagai jawaban bahwa ia sudah memaafkannya. [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Next Post

Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co