24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
in Cerpen
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu dekat dengan dirinya. Menjadi satu. Menjadi satu dalam tubuhnya.

Luh Sunari kemudian menari. Gigi-giginya bergemeretak. Kakinya dihentak-hentakkan. Matanya setengah terpejam. Beberapa saat kemudian, gerak tarinya cepat. Setiap orang yang ada di hadapannya ditunjuk. Ia mengeluarkan kata-kata yang tidak dipahami orang.

Orang-orang hanya diam seperti tak terjadi apa-apa. Lalu, Luh Sunari lemas dan menggelepar di halaman pura. Orang lalu lalang takpeduli. Hujan turun. Tubuh Luh Sunari kehujanan. Basah kuyup. Lama sekali. Ia baru tersadar saat dingin menyusup ke tulang-tulangnya. Ia kemudian pulang dengan tubuh yang menggigil dan gigi bergemeretak. Kali ini bukan karena kerauhan, melainkan kedinginan.

Di rumah, Wayan Sasih sudah menunggu dengan wajah yang cemas. Saat dilihatnya Luh Sunari di halaman rumah, Wayan Sasih datang menjmput anak semata wayangnya itu.

“Ibu sudah mendengar dari tetangga. Kata mereka kamu kerauhan lagi. Sudahlah Luh. Hentikan kepura-puraan ini,” kata Wayan Sasih.

“Aku tidak mengerti apa yang ibu maksud. Kepura-puraan yang mana?”

“Tentang kerauhan itu. Seumur-umur, tak ada masyarakat rendahan seperti kita yang bisa kerauhan. Apalagi yang rauh adalah Ida Mas Mecaling atau apalah. Tidak mungkin Luh. Tidak mungkin. Kita bukanlah keturunan Jro. Jadi jangan permalukan diri dengan kepura-puraanan ini.”

Ibunya pergi ke dapur, lalu keluar membawa nampan kayu yang di atasnya tampak ada dua gelas sedang, piring aluminium yang sudah sedikit menghitam, juga botol kecil dengan penutup berbalut kain kasa kuning.

“Minumlah.” Ibunya menyerahkan gelas. Di dalamnya, batang sereh, kayu manis, dan gula aren diulek lalu dicampur dengan air mendidih.

Sunari dengan jelas dapat mencium bau sereh di dalamnya. Ia segera meminumnya. Manis gula aren masih melekat di langit-langit mulutnya. Ibunya selalu yakin, dengan meminum loloh itu Sunari akan mengantuk, lalu tidur dengan lelap meninggalkan semua kelehan mentalnya.

Setelah selesai dengan loloh itu, Sunari disuruh duduk tegak. Lalu ibunya berdiri di belakangnya. Sunari merasakan, tangan ibunya yang kasar memegang ubun-ubunnya. Bau minyak kelapa piing yang dikenalnya, dengan campuran sandat kering, bawang, dan adas, seketika menyeruak. Dipijitnya pelan kepala anaknya itu. “Sebentar lagi, sakit kepalamu pasti hilang.”

Luh Sunari menarik napas pelan. Ia hanya diam saja menikmati pijatan ibunya. Tubunya memang terasa nyaman dan tenang. Dadanya kini taklagi berdebar. Namun, ingatannya tentang kerauhan  tadi tetap melekat di pikirannya.

Sudah kesekian kali Sunari taksadarkan diri. Pertama adalah dua bulan lalu saat di pura dalem ada aci. Ketika pelinggih ida tedun, saat itulah Luh Sunari berdiri dan menari. Orang-orang terbelalak. Semula kaget.  Namun, setelah mengetahui bahwa itu adalah Luh Sunari, orang-orang diam takmemperhatikannya. Pecalang kemudian datang dan Luh Sunari dibawa ke jabaan pura.

Saat Luh Sunari sadar, ia lemas kemudian duduk di emperan warung. Orang orang yang melihatnya memberi tatapan hina. “Mimih, panak bebinjat, tidak tahu malu.” Beberapa yang lain menirukan suara melengkingnya saat ia kerahuan tadi.

Luh Sunari diam. Kata-kata seperti itu sudah lama ia dengar. Semenjak ia bisa mengingat, semenjak ia bisa memahami bahwa ia terlahir tanpa bapak.

“Me, apa tidak sebaiknya kita melukat? Orang lain yang kerauhan, pasti akan melukat agar hal buruk bisa hilang. Lalu, Iluh akan ngayah di Pura Dalem,” kata Luh Sunari menatap ibunya yang masih memijit kepalanya.

“Luh, hanya keturunan jro yang mungkin mendapat wahyu begitu. Kita bukan siapa-siapa. Tidak ada keturunan Jro Dalem atau Jro Desa. Kita hanya penyakap Luh.”

“Aku tidak membuat-buat Me. Aku tidak tahu mengapa jadi begini.”

“Jika begitu, itu artinya kamu sakit.”

“Aku tak merasakan sakit apa-apa.”

“Kalau begitu akhiri saja. Menjadilah Luh Sunari yang dulu, yang tekun ngayah  di pura. Jangan melakukan hal yang macam-mcam.”

“Mengapa tidak mungkin, Me? Bukankah ketaatan sebagai pengayah akan meninggikan derajat kita? Mungkin ini cara-cara Ida Batara meninggikan derajatku Me, derajat Meme juga.”

“Jangan mengkhayal Luh. Jangan.”

“Jro Dalem saja, yang dulunya adalah seorang penjudi, pemabuk, bahkan seperti cerita yang kudengar pernah dipenjara karena narkoba, sekarang bisa menjadi Jro Dalem.”

“Diam Luh, apa yang kau katakana itu?” Wajah Wayan Sasih memerah memendam marah, tetapi suaranya sengaja dikecilkan. “Kamu sudah sangat lancang. Mereka adalah keturunan Jro. Kita siapa? Ibu adalah aib di desa ini. Kamu lahir dari rahim seorang ibu pembawa leteh desa, Luh. Sadar. Sadar. Akhri semua ini.”

“Apa yang harus kuakhiri sedangkan aku takpernah memulai apa-apa, Me.”

Wayan Sasih taklagi meladeni perdebatan itu. Ia pergi menuju dapur dan memasak air hangat. Mengingat kembali cibiran tetangga tentang Luh Sunari yang berlagak seperti Jro Tapakan membuat kepalanya pusing. Kemudian terhuyung dan jatuh tepat dimulut pintu dapur. Beruntung sigap Luh Sunari memegang ibunya sehingga kepala ibunya tak sampai terbentur. Dengan tenang Luh Sunari membawa ibunya ke kamar. Di kamar kini gantian Luh Sunari yang memijat tengkuk ibunya. Sunari melihat wajahnya ibunya yang letih. Dua puluh tahun merawat anak seorang diri, lalu memberikan kehidupan yang layak, tentu adalah keletihan yang teramat sangat. Wajah ibunya yang pucat itu diusap-usap. Dalam mulutnya, dilapalkan harapan-harapan agar ibunya sehat dan bahagia.

Wajah ibunya yang semula pucat kini berangsur segar. Wayan Sasih merasa tubuhnya bugar, merasa sangat sehat, lebih sehat dari sebelumnya. Ia membuka matanya. Dilihatnya wajah Sunari yang putih itu bercahaya. Rambut anaknya yang biasanya kusut itu kini tergerai panjang bergelombang, hitam dan berkilat.

“Obat apa yang kamu berikan Luh?”

Luh Sunari tidak menjawab. Tangannya memegang kening ibunya. Komat-komat Luh Sunari merapalkan rasa syukur karena ibunya telah siuman. Berkali-kali, berkali-kali ucapan terima kasih itu ia kumandangakan, pelan. Dengan bahasa biasa, selayaknya ia berterima kasih pada ibunya, sahabat-sahabatnya, atau orang lain yang pernah menolongnya. Namun, samar-samar di telinga ibunya, setiap ucapan Sunari terdengar serupa mantra. Mantra yang begitu dalam sehingga desir angin pun ikut mengiringinya.

Desir angin itu mendatangkan kesejukan bagi tubuh Wayan Sasih. Mantra yang ia dengar dari anaknya serupa nyanyian masa kecil yang meninabobokan. Ia merasakan matanya berat, lalu tertidur. Tidur itulah yang membawanya ke masa lalu.

Suatu malam di Pura Dalem saat Wayan Sasih ngayah membersihkan areal pura dari sampah sisa canang dan plastik. Di sana ia membersihkan areal pura hingga larut malam. Sadar tentang pesanan canang untuk dibawa besoknya belum selesai, ia mepamit. Saat pulang itulah seorang laki-laki membuntutinya. Di jalan yang begitu sepi. Tiba-tiba saja laki-laki itu menyergapnya dan menyeretnya ke semak-semak. Wayan Sasih, berhari-hari merasakan rasa takut yang mendalam. Dengus lelaki itu masih jelas di telinganya.

Rasa sakit kemudian bertambah saat mengetahui dirinya hamil, tanpa suami. Keinginan-keinginan mengakhiri hidup menghampirinya setiap malam; ketakutan-ketakutan akan hidup anaknya di kemudian hari mendatanginya selalu. Beruntung, ayahnya sabar. Dengan ihklas ayahnya menerima segala kekurangan itu. Ayahnya hadir menguatkan. Kehamilan itu dirawat dengan sepenuh hati. Saban malam, di serambi rumahnya, di bawah binar bulan, Wayan Sasih duduk di sebelah ayahnya yang sedang mekidung. Kidung itu ia yakini sebagai doa untuk anaknya, juga obat bagi ketakutan-ketakutan yang ia lalui. Ia baru akan tidur saat kidung selesai dinyanyikan dan ayahnya memberinya loloh kecemcem gula aren atau loloh kayu manis dengan campuran telur ayam kampung. Kata ayahnya ketika itu, loloh ini bisa meningkatkan kecerdasan janin, juga memperkuat kandungannya.

Ia kemudian hamil, lalu melahirkan. Seperti ketakutannya dahulu, warga menganggapnya leteh sehingga  Wayan Sasih tidak lagi diizinkan ngayah di pura.

Setelah melahirkan, Wayan Sasih tinggal di rumah pengasingan di tepi hutan bersama ayahnya. Luh Sunari lalu beranjak dewasa. Karena kerjanya yang cekatan dalam membuat banten, juga kemahiran menari dan mekidung, Luh Sunari diterima menjadi pengayah di pura, ditugaskan oleh Jro Dalem membersihkan areal pura dalem. Masa lalunya sebagai anak babinjat, terlahir dari rahim ibu tanpa suami,  diabaikan orang-orang.

Luh Sunari sangat telaten menjadi pengayah di pura: rajin membersihkan areal pura, telaten membuat sesajen, pintar dalam menari, dan berbakat saat mekidung. Pura jadi bersih karenanya. Saat Luh Sunari menari, orang-orang berkerumun ingin menontonya. Begitupun saat Luh Sari mekidung, orang-orang yang datang sembahyang di pura seperti terhinoptis mendengar lengkingan suaranya.  Namun, nasib kemudian berkata lain. Semenjak Luh Sunari sering kerauhan, banyak masyarakat yang merasa risih dengan keberadaan Luh Sunari. Maka, bersepakatlah para tetua pura agar Luh Sunari berhenti ngayah di pura.

Wayan Sasih bangun dari tidurnya. Segala ingatan masa lalu yang masuk ke mimpinya sirna. Luh Sunari masih duduk memijat kakinya. Ada perasaan haru melihat anaknya, yang sudah berpuluh tahun memendam rasa sakit atas perundungan penduduk desa. Beruntung, tak seklaipun anak semata wayangnya itu bertanya tentang sosok bapaknya. Sebab, dia sendiripun taktahu siapa sebenrnya sosok ayah dari anaknya itu.

Wayan Sasih tersenyum. Tubuhnya sangat segar, seperti tidur berhari-hari. Nyeri di sekujur tubuhnya yang selama ini ia rasakan, entah kenapa seperti sirna. Ia taklagi merasakan radang lutut yang menyiksanya selama ini.

“Sunari! Sunari!” Suara orang-orang memanggil terdengar dari halaman rumahnya.

Wayan Sasih keluar diikuti Luh Sunari.

“Jro Dalem ingin Luh Sunari datang ke pura, jadi pengayah lagi.” Kata utusan Jro Dalem itu.

Sudah hampir sebulan Luh Sunari berhenti ngayah di Pura Dalem. Namun, entah mengapa Jro Dalem merasa hanya sesajen yang dibuat oleh Sunari yang paling lengkap. Jro Dalem juga merasa persembahyangan belum khusyuk apabila belum ada kidung yang mengiringi. Kidung itu haruslah dinyanyikan oleh Luh Sunari.

“Tidak mau.” Luh Sunari menolak.

Namun, utusan itu berkata dengan sedikit memaksa. Juga ancaman-ancaman terhadap ibunya. Akhirnya, Luh Sunari bersedia.

Saat itu tilem. Sore sudah temaram. Sebentar lagi malam akan pekat. Masyarakat sudah siap sembahyang. Namun, persembahyangan belum mulai. Jro Dalem akan memulai saat Luh Sunari datang dan duduk di sebelahnya menyiapkan sesajen yang diperlukan.

Saat Luh Sunari datang. Orang-orang memandanginya dengan wajah penuh penghinaan.  Orang-orang bercakap-cakap tentang Luh Sunari. Saat itulah Jro Dalem menggerakkan gentanya. Denting menggema. Orang-orang diam, dalam posisi siap untuk sembahyang.

Luh Sunari mendekati Jro Dalem. Suara genta semakin terdengar nyaring. Begitu tiba di sebelah Jro Dalem, Luh Sunari menari. Orang-orang yang semula siap untuk sembahyang, berbarengan mendehem dan mencibir. Namun cibiran mereka seketika berhenti saat Jro Dalem juga ikut menari. “Ning, mai Ning, ” kata Jro Dalem seraya tanganya dibentangkan menyambut Luh Sunari. Luh Sunari mendekat sambil terus menari.

Jro Dalem terus menari sambil menyanyikan lagu, lagu yang asing, serupa mantra, tak ada yang memahami, kecuali Luh Sunari. Nyanyian itu adalah tangis Jro Dalem tentang penyesalannya telah menelantarkan Luh Sunari, buah dari kebiadabannya malam itu.

Melihat mata Jro Dalem yang berkaca-kaca penuh penyesalan, Luh Sunari juga menyanyi, nyaring dan lembut serupa sunari sebagai jawaban bahwa ia sudah memaafkannya. [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Next Post

Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co