24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
in Ulas Buku
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

Novel Laut Bercerita

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang refleksi kemanusiaan. Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2017, novel ini mengangkat tragedi penghilangan paksa aktivis menjelang runtuhnya rezim Soeharto pada era Orde Baru. Melalui kisah yang puitis sekaligus menyayat, Leila menyusun narasi tentang ingatan yang tidak pernah selesai, kehilangan yang tidak pernah menemukan kepastian, serta perlawanan yang terus hidup dalam ruang batin manusia.

Novel ini tidak sekadar berbicara tentang peristiwa politik, tetapi juga tentang bagaimana sejarah meninggalkan trauma kolektif bagi keluarga korban, sahabat, serta generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang ketidakadilan. Laut Bercerita menjadikan manusia sebagai pusat narasi, bukan sekadar angka statistik korban kekerasan negara. Leila memindahkan diskursus sejarah dari ruang arsip ke ruang emosi, dari laporan fakta menuju kesaksian batin.

Ingatan sebagai Ruang Perjuangan

Tema ingatan menjadi fondasi utama novel ini. Tokoh utama, Biru Laut, hadir sebagai suara yang mewakili generasi aktivis mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi. Ia bukan hanya karakter fiksi, melainkan representasi dari banyak pemuda yang pernah berdiri melawan ketidakadilan negara. Melalui sudut pandang Laut, pembaca diajak menyelami ruang batin seorang aktivis, ketakutan yang disembunyikan, keberanian yang dipaksakan, serta keyakinan bahwa perubahan hanya mungkin terjadi melalui perlawanan.

Ingatan dalam novel ini tidak hadir sebagai kilas balik romantik, melainkan sebagai beban yang terus hidup. Kenangan tentang diskusi bawah tanah, pengejaran aparat, penyiksaan, hingga hilangnya kawan seperjuangan menjadi fragmen-fragmen yang membentuk kesadaran tokoh. Ingatan menjadi bukti bahwa kekerasan pernah terjadi dan tidak boleh dihapus oleh waktu ataupun kekuasaan.

Leila menulis ingatan sebagai bentuk perlawanan terhadap pelupaan yang sering kali diproduksi oleh negara. Dalam banyak rezim otoriter, kekuasaan tidak hanya mengontrol tindakan warganya, tetapi juga berupaya menghapus memori kolektif tentang kejahatan yang dilakukan. Dengan demikian, mengingat menjadi tindakan politis. Mengingat berarti menolak tunduk pada narasi resmi yang memanipulasi sejarah.

Pada bagian ini, Laut Bercerita menunjukkan kekuatan sastra sebagai penjaga memori. Novel berfungsi sebagai arsip emosional yang menyimpan pengalaman korban ketika dokumen negara memilih bungkam. Ingatan yang dituliskan menjadi semacam monumen tak kasatmata bagi mereka yang dihilangkan.

Kehilangan yang Tak Pernah Usai

Jika ingatan adalah api yang terus menyala, maka kehilangan adalah abu yang tak pernah benar-benar dingin. Paruh kedua novel beralih pada perspektif keluarga korban, terutama Asmara Jati, adik Laut. Perubahan sudut pandang ini memperluas makna tragedi, korban penghilangan paksa bukan hanya mereka yang lenyap secara fisik, tetapi juga keluarga yang ditinggalkan dalam ketidakpastian abadi.

Kehilangan dalam Laut Bercerita bukanlah kehilangan biasa yang memiliki titik akhir berupa pemakaman atau kepastian kematian. Keluarga korban hidup dalam ruang liminal antara harapan dan keputusasaan. Mereka tidak dapat sepenuhnya berduka karena selalu ada kemungkinan bahwa orang yang hilang masih hidup. Namun, mereka juga tidak mampu melanjutkan hidup dengan tenang karena ketidakpastian tersebut menjadi luka terbuka.

Leila menggambarkan rasa kehilangan ini dengan detail emosional yang halus. Aktivitas sehari-hari keluarga menjadi ruang sunyi yang menyimpan kesedihan, kursi makan yang kosong, kamar yang tetap dirapikan, serta doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Kehidupan berjalan, tetapi waktu terasa beku. Inilah tragedi psikologis yang jarang disorot dalam catatan sejarah formal.

Melalui kisah keluarga Laut, pembaca diajak memahami bahwa kekerasan negara memiliki dampak multidimensional. Ia merampas masa depan korban sekaligus menghancurkan ketenangan batin keluarga. Kehilangan menjadi pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Novel ini juga menyingkap bagaimana negara sering kali gagal memberikan keadilan bagi keluarga korban. Proses pencarian kebenaran yang berbelit, birokrasi yang dingin, serta sikap aparat yang tidak empatik memperpanjang penderitaan. Kehilangan yang seharusnya menjadi urusan personal berubah menjadi persoalan politik yang tak terselesaikan.

Perlawanan sebagai Martabat Kemanusiaan

Di tengah ingatan yang menyakitkan dan kehilangan yang tak berujung, Laut Bercerita menghadirkan perlawanan sebagai bentuk paling luhur dari martabat manusia. Perlawanan dalam novel ini tidak selalu berupa aksi demonstrasi besar atau bentrokan fisik dengan aparat. Perlawanan hadir dalam bentuk yang lebih sunyi namun bermakna, keberanian menyimpan dokumen, kesetiaan menunggu kabar orang hilang, serta tekad keluarga korban untuk terus menuntut keadilan.

Tokoh-tokoh dalam novel menunjukkan bahwa perlawanan adalah sikap mental untuk tidak menyerah pada ketidakadilan. Laut dan kawan-kawannya melawan melalui gagasan dan gerakan mahasiswa. Sementara itu, keluarga korban melawan melalui keteguhan mempertahankan ingatan dan menolak berdamai dengan lupa.

Leila menggambarkan bahwa kekuasaan yang represif dapat memenjarakan tubuh, tetapi tidak mampu sepenuhnya membungkam nurani manusia. Dalam situasi paling gelap, harapan tetap menyala melalui solidaritas dan cinta keluarga. Perlawanan menjadi bukti bahwa kemanusiaan tidak pernah sepenuhnya dikalahkan oleh kekerasan.

Novel ini juga menunjukkan bahwa perlawanan memiliki harga yang mahal. Para aktivis harus menghadapi penyiksaan, pengkhianatan, hingga kematian. Namun, pengorbanan tersebut tidak digambarkan secara heroik berlebihan. Leila menampilkannya secara manusiawi, aktivis yang rindu rumah, takut disiksa, tetapi tetap memilih bertahan karena keyakinan moral.

Perlawanan dalam Laut Bercerita bukanlah romantisasi perjuangan, melainkan refleksi tentang pilihan etis manusia ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Pembaca diajak memahami bahwa diam juga merupakan sikap politik, dan memilih bersuara sering kali berarti mempertaruhkan keselamatan diri.

Struktur Naratif dan Kekuatan Emosional

Secara struktural, Laut Bercerita dibangun dengan alur yang terbagi menjadi dua perspektif utama, korban dan keluarga korban. Pembagian ini menciptakan pengalaman membaca yang emosional sekaligus reflektif. Bagian pertama penuh ketegangan dan atmosfer mencekam, sedangkan bagian kedua menghadirkan kesunyian yang menyayat.

Gaya bahasa Leila puitis namun tidak berlebihan. Ia mampu memadukan detail faktual dengan metafora yang menyentuh, sehingga peristiwa politik terasa dekat secara emosional. Deskripsi penyiksaan tidak ditampilkan secara vulgar, tetapi cukup kuat untuk menghadirkan empati pembaca.

Penggunaan sudut pandang orang pertama membuat narasi terasa intim. Pembaca seakan-akan mendengar kesaksian langsung dari korban. Kedekatan emosional ini memperkuat pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan.

Simbol laut dalam novel memiliki makna filosofis yang mendalam. Laut melambangkan keluasan ingatan, kedalaman luka, sekaligus misteri kehilangan. Seperti laut yang menyimpan banyak rahasia, tragedi sejarah juga menyimpan kisah-kisah yang belum terungkap.

Konteks Sosial-Politik dan Relevansi

Meski berbentuk fiksi, Laut Bercerita memiliki akar kuat dalam realitas sejarah Indonesia. Tragedi penghilangan paksa aktivis menjelang reformasi 1998 menjadi latar yang nyata. Novel ini mengingatkan pembaca bahwa demokrasi yang dinikmati hari ini dibangun di atas pengorbanan banyak orang.

Relevansi novel tetap terasa hingga kini. Isu pelanggaran HAM, impunitas aparat, serta perjuangan keluarga korban masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berfungsi sebagai refleksi masa lalu, tetapi juga kritik terhadap kondisi sosial-politik kontemporer.

Bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung era represif tersebut, novel ini menjadi jendela sejarah yang emosional. Ia menghadirkan pembelajaran bahwa kebebasan sipil tidak hadir secara Cuma-Cuma, melainkan melalui perjuangan panjang.

Kesimpulan

Laut Bercerita adalah karya sastra yang menjadikan ingatan sebagai senjata melawan lupa, kehilangan sebagai luka kolektif bangsa, dan perlawanan sebagai bentuk tertinggi martabat manusia. Leila S. Chudori berhasil meramu tragedi sejarah menjadi narasi kemanusiaan yang menyentuh sekaligus menggugah kesadaran politik.

Novel ini menegaskan bahwa sastra memiliki kekuatan untuk merawat memori kolektif, menyuarakan korban yang dibungkam, serta mengingatkan generasi penerus tentang pentingnya keadilan. Membaca Laut Bercerita bukan hanya pengalaman estetis, tetapi juga perjalanan etis untuk memahami arti keberanian, cinta keluarga, dan harga sebuah kebebasan.

Pada akhirnya, novel ini mengajarkan bahwa mereka yang dihilangkan mungkin lenyap secara fisik, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Ingatan menjaga mereka tetap hidup, dan selama ingatan itu dirawat, perlawanan tidak akan pernah padam. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: Leila S. ChudorinovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Peluru Terakhir

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Peluru Terakhir

Puisi-puisi Komang Sujana | Peluru Terakhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co