24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
in Ulas Buku
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Buku 'Coming Up For Air'

  • Judul: Menghirup Udara Segar
  • Judul Asli: Coming Up For Air
  • Penulis: George Orwell
  • Penerjemah: Berliani M. Nugraha
  • Tahun Terbit: 2021
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 320 Halaman

Dulu, saya sangat sering mendengarkan ulasan buku-buku dari para penulis klasik seperti Fyodor Dostoevsky atau Franz Kafka. Walau saya belum membaca karya mereka, ada konsep yang membuat saya tertarik, konsep yang saya sebut sebagai “kerumitan manusia dalam memahami dunia”.

Kerumitan itu “mungkin” menjadi ciri khas dari buku-buku klasik. Tak hanya sebatas mengenai diri sendiri, tapi juga terkait bagaimana dunia berjalan bahkan tanpa diri kita. Bagi saya sendiri, konsep-konsep tersebut yang membuat karya klasik menjadi menarik. Selain mengangkat topik “abstrak”, ada topik lain yang membuat saya menyukai karya klasik, yaitu bagaimana seorang penulis klasik menuliskan sistem sosial pada era tertentu.

Topik tersebut (untuk sekarang) saya rasa adalah keunggulan dari penulis asal Inggris yang namanya sudah sangat terkenal di kalangan pembaca. Eric Arthur Blair dengan nama pena George Orwell merupakan seorang sastrawan Inggris yang sudah menciptakan karya fiksi maupun non-fiksi. Karyanya yang paling terkenal adalah “Animal Farm” dan “1984”.

Tentunya, saya sangat familiar akan namanya dan dua karya tersohornya. Namun saya memilih untuk membaca karya Orwell yang lainnya, salah satunya buku yang akan kita bahas sekarang.

“Coming Up For Air” atau “Menghirup Udara Segar” adalah sebuah buku novel yang dicetak pertama kali di Inggris pada tahun 1939. Buku ini ditulis melalui sudut pandang orang pertama dari seorang karakter bernama George Bowling. George adalah seorang salesman asuransi berumur 45 tahun yang tinggal di pinggir kota bersama istri dan dua anaknya.

Dicekik oleh rutinitas yang membuatnya sesak, George memutuskan kembali ke desanya untuk mencari angin segar. Namun George malah dikejutkan dengan desanya yang berubah total dan aksi pengeboman oleh Angkatan Udara Inggris di langit tempat kelahirannya.

Buku ini mengambil tema nostalgia. Namun jangan berharap mendapatkan potongan masa lalu yang indah dalam buku ini. Orwell justru menuliskan potongan masa lalu yang terasa tak bisa direlakan—masa lalu yang awalnya terasa membosankan, namun menjadi menyakitkan pada masa tua dari George sendiri.

Pada babak II dari buku ini saja (buku ini terdiri dari IV babak), keseluruhannya membahas tentang masa lalu George di desanya—Lower Binfield. Semula dari kehidupannya sebagai anak dari seorang penjual benih, aktivitasnya memancing dengan geng kakaknya, pengalaman pertama kali ia bekerja dan berkencan,  pengalamannya menjadi tentara pada perang dunia I. Hingga pasca perang yang meruntuhkan hidup keluarganya dan dirinya secara perlahan.

Kalau kita perhatikan cover buku versi penerbit Gramedia, terdapat gambar ikan, air dan sampah terpampang jelas. Ternyata ini berkaitan dengan hobi memancing dari George. Masa kecil George di Lower Binfield memang dihabiskan untuk memancing sebelum ia menginjak umur 16 tahun.

Hobi memancing dari George adalah gambaran yang digunakan Orwell untuk memperlihatkan perubahan pada Lower Binfield yang diakibatkan oleh kapitalisme dan era pasca perang. Misalkan, bagaimana kolam ikan yang dulu sangat besar dan dalam di daerah  Upper Binfield, berubah total menjadi lubang besar yang terisi sampah dari perumahan kelas atas.  Menarik bukan?

Orwell menggunakan pengalaman sehari-hari dari karakternya untuk mengkritik situasi sosial pada era itu. Dan tidak hanya dari hobi George saja, banyak hal dari kegiatan sehari-hari George yang ditulis oleh Orwell untuk menyentil sistem dengan menggunakan monolog dari karakter utama.

Karena buku ini mengambil latar waktu abad ke-20 di Inggris, saya menjadi tahu terkait situasi di Inggris pada era tersebut. Tentunya, apa yang ditulis Orwell terkait situasi di Inggris pada masa itu ada yang di “dramatisir”. Kendati demikian situasi di buku ini sendiri membuat saya merasa bahwa dunia yang digambarkan Orwell bukan hanya berlatar waktu pada abad ke-20, tetapi juga masih terasa relevan hingga saat ini.

Ketika George dewasa menghampiri desa yang sudah ia tinggalkan selama 30 tahun, ia terasa seperti “hantu” di tempat kelahirannya sendiri. Orang-orang yang ia temui adalah orang asing yang mengisi Lower Binfield. Mereka pindah ke kota Lower Binfield, menggantikan hutan menjadi perumahan, bekerja, dan menghidupi ekonomi disana. Sekaligus “mengotori” tempat itu, menurut sudut pandang dari George.

Sebagai pembaca, saya merasakan ketakutan dan kegelisahan dari George. Saya merasa sendiri melihat kota yang sudah saya tinggali selama 17 tahun lamanya, semakin hari semakin berkembang dengan pusat perbelanjaan, pusat hiburan atau perusahan-perusahaan lainnya. Tentu ada rasa kegembiraan melihat pusat belanja dan perusahaan makanan sekarang ada dimana-mana, tapi ada rasa ketakutan juga.

Bagaimana jika saya merasa asing di kota saya sendiri? Bahkan saya belum menyempatkan waktu mengelilingi kota dan mencari tahu cerita-cerita unik dari kota ini. Namun perubahannya semakin banyak. Aktivitas konsumtif juga makin terasa. Dan pastinya, saya tak bisa menyalahkan kota saya, sebab ada sistem tak kasat mata yang memegang kendali atas semuanya.

Ini yang membuat saya merasa, karakter George Bowling tidak hanya sebatas karakter utama atau kegelisahan Orwell terkait modernitas, tapi justru George adalah manusia modern itu sendiri! Bagaimana dengan efisiensi yang sudah dihadirkan, manusia terasa monoton. Kebosanan yang dihilangkan untuk melakukan pekerjaan tiada akhir, atau memperkaya perusahaan yang bahkan secara tidak langsung menginjak kita.

Perginya George ke Lower Binfield adalah langkah akhir untuk membuatnya bebas, untuk menghirup udara segar dari kegelisahaan atas perang dunia dan hidupnya. Namun berakhir terjebak di dalam sistem yang membunuhnya secara perlahan.

Awalnya saya mengalami kebosanan saat membaca buku ini, sebab gaya penulisan yang penuh monolog dari George. Sampai di babak kedua-keempat saya makin mendapatkan kedalaman dalam membaca buku ini.

Seolah Orwell seperti ingin memberitahu saya, bahwa saya harus menyadari betapa membosankannya hidup terlebih dahulu, baru saya bisa menggali kehidupan lebih bermakna lagi.

Pada akhirnya, Coming Up for Air bukan sekadar cerita tentang nostalgia, melainkan refleksi tentang manusia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah. Sebuah pengingat bahwa terkadang, yang paling menakutkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kita tidak memiliki kendali atasnya.

Bagi pembaca yang tertarik pada refleksi tentang kehidupan, perubahan, dan kegelisahan manusia modern, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: Bukubuku terjemahanGeorge Orwellnovel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Next Post

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co