25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
in Ulas Buku
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Buku 'Coming Up For Air'

  • Judul: Menghirup Udara Segar
  • Judul Asli: Coming Up For Air
  • Penulis: George Orwell
  • Penerjemah: Berliani M. Nugraha
  • Tahun Terbit: 2021
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 320 Halaman

Dulu, saya sangat sering mendengarkan ulasan buku-buku dari para penulis klasik seperti Fyodor Dostoevsky atau Franz Kafka. Walau saya belum membaca karya mereka, ada konsep yang membuat saya tertarik, konsep yang saya sebut sebagai “kerumitan manusia dalam memahami dunia”.

Kerumitan itu “mungkin” menjadi ciri khas dari buku-buku klasik. Tak hanya sebatas mengenai diri sendiri, tapi juga terkait bagaimana dunia berjalan bahkan tanpa diri kita. Bagi saya sendiri, konsep-konsep tersebut yang membuat karya klasik menjadi menarik. Selain mengangkat topik “abstrak”, ada topik lain yang membuat saya menyukai karya klasik, yaitu bagaimana seorang penulis klasik menuliskan sistem sosial pada era tertentu.

Topik tersebut (untuk sekarang) saya rasa adalah keunggulan dari penulis asal Inggris yang namanya sudah sangat terkenal di kalangan pembaca. Eric Arthur Blair dengan nama pena George Orwell merupakan seorang sastrawan Inggris yang sudah menciptakan karya fiksi maupun non-fiksi. Karyanya yang paling terkenal adalah “Animal Farm” dan “1984”.

Tentunya, saya sangat familiar akan namanya dan dua karya tersohornya. Namun saya memilih untuk membaca karya Orwell yang lainnya, salah satunya buku yang akan kita bahas sekarang.

“Coming Up For Air” atau “Menghirup Udara Segar” adalah sebuah buku novel yang dicetak pertama kali di Inggris pada tahun 1939. Buku ini ditulis melalui sudut pandang orang pertama dari seorang karakter bernama George Bowling. George adalah seorang salesman asuransi berumur 45 tahun yang tinggal di pinggir kota bersama istri dan dua anaknya.

Dicekik oleh rutinitas yang membuatnya sesak, George memutuskan kembali ke desanya untuk mencari angin segar. Namun George malah dikejutkan dengan desanya yang berubah total dan aksi pengeboman oleh Angkatan Udara Inggris di langit tempat kelahirannya.

Buku ini mengambil tema nostalgia. Namun jangan berharap mendapatkan potongan masa lalu yang indah dalam buku ini. Orwell justru menuliskan potongan masa lalu yang terasa tak bisa direlakan—masa lalu yang awalnya terasa membosankan, namun menjadi menyakitkan pada masa tua dari George sendiri.

Pada babak II dari buku ini saja (buku ini terdiri dari IV babak), keseluruhannya membahas tentang masa lalu George di desanya—Lower Binfield. Semula dari kehidupannya sebagai anak dari seorang penjual benih, aktivitasnya memancing dengan geng kakaknya, pengalaman pertama kali ia bekerja dan berkencan,  pengalamannya menjadi tentara pada perang dunia I. Hingga pasca perang yang meruntuhkan hidup keluarganya dan dirinya secara perlahan.

Kalau kita perhatikan cover buku versi penerbit Gramedia, terdapat gambar ikan, air dan sampah terpampang jelas. Ternyata ini berkaitan dengan hobi memancing dari George. Masa kecil George di Lower Binfield memang dihabiskan untuk memancing sebelum ia menginjak umur 16 tahun.

Hobi memancing dari George adalah gambaran yang digunakan Orwell untuk memperlihatkan perubahan pada Lower Binfield yang diakibatkan oleh kapitalisme dan era pasca perang. Misalkan, bagaimana kolam ikan yang dulu sangat besar dan dalam di daerah  Upper Binfield, berubah total menjadi lubang besar yang terisi sampah dari perumahan kelas atas.  Menarik bukan?

Orwell menggunakan pengalaman sehari-hari dari karakternya untuk mengkritik situasi sosial pada era itu. Dan tidak hanya dari hobi George saja, banyak hal dari kegiatan sehari-hari George yang ditulis oleh Orwell untuk menyentil sistem dengan menggunakan monolog dari karakter utama.

Karena buku ini mengambil latar waktu abad ke-20 di Inggris, saya menjadi tahu terkait situasi di Inggris pada era tersebut. Tentunya, apa yang ditulis Orwell terkait situasi di Inggris pada masa itu ada yang di “dramatisir”. Kendati demikian situasi di buku ini sendiri membuat saya merasa bahwa dunia yang digambarkan Orwell bukan hanya berlatar waktu pada abad ke-20, tetapi juga masih terasa relevan hingga saat ini.

Ketika George dewasa menghampiri desa yang sudah ia tinggalkan selama 30 tahun, ia terasa seperti “hantu” di tempat kelahirannya sendiri. Orang-orang yang ia temui adalah orang asing yang mengisi Lower Binfield. Mereka pindah ke kota Lower Binfield, menggantikan hutan menjadi perumahan, bekerja, dan menghidupi ekonomi disana. Sekaligus “mengotori” tempat itu, menurut sudut pandang dari George.

Sebagai pembaca, saya merasakan ketakutan dan kegelisahan dari George. Saya merasa sendiri melihat kota yang sudah saya tinggali selama 17 tahun lamanya, semakin hari semakin berkembang dengan pusat perbelanjaan, pusat hiburan atau perusahan-perusahaan lainnya. Tentu ada rasa kegembiraan melihat pusat belanja dan perusahaan makanan sekarang ada dimana-mana, tapi ada rasa ketakutan juga.

Bagaimana jika saya merasa asing di kota saya sendiri? Bahkan saya belum menyempatkan waktu mengelilingi kota dan mencari tahu cerita-cerita unik dari kota ini. Namun perubahannya semakin banyak. Aktivitas konsumtif juga makin terasa. Dan pastinya, saya tak bisa menyalahkan kota saya, sebab ada sistem tak kasat mata yang memegang kendali atas semuanya.

Ini yang membuat saya merasa, karakter George Bowling tidak hanya sebatas karakter utama atau kegelisahan Orwell terkait modernitas, tapi justru George adalah manusia modern itu sendiri! Bagaimana dengan efisiensi yang sudah dihadirkan, manusia terasa monoton. Kebosanan yang dihilangkan untuk melakukan pekerjaan tiada akhir, atau memperkaya perusahaan yang bahkan secara tidak langsung menginjak kita.

Perginya George ke Lower Binfield adalah langkah akhir untuk membuatnya bebas, untuk menghirup udara segar dari kegelisahaan atas perang dunia dan hidupnya. Namun berakhir terjebak di dalam sistem yang membunuhnya secara perlahan.

Awalnya saya mengalami kebosanan saat membaca buku ini, sebab gaya penulisan yang penuh monolog dari George. Sampai di babak kedua-keempat saya makin mendapatkan kedalaman dalam membaca buku ini.

Seolah Orwell seperti ingin memberitahu saya, bahwa saya harus menyadari betapa membosankannya hidup terlebih dahulu, baru saya bisa menggali kehidupan lebih bermakna lagi.

Pada akhirnya, Coming Up for Air bukan sekadar cerita tentang nostalgia, melainkan refleksi tentang manusia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah. Sebuah pengingat bahwa terkadang, yang paling menakutkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kita tidak memiliki kendali atasnya.

Bagi pembaca yang tertarik pada refleksi tentang kehidupan, perubahan, dan kegelisahan manusia modern, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: Bukubuku terjemahanGeorge Orwellnovel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Next Post

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co