4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
in Ulas Buku
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Buku 'Coming Up For Air'

  • Judul: Menghirup Udara Segar
  • Judul Asli: Coming Up For Air
  • Penulis: George Orwell
  • Penerjemah: Berliani M. Nugraha
  • Tahun Terbit: 2021
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 320 Halaman

Dulu, saya sangat sering mendengarkan ulasan buku-buku dari para penulis klasik seperti Fyodor Dostoevsky atau Franz Kafka. Walau saya belum membaca karya mereka, ada konsep yang membuat saya tertarik, konsep yang saya sebut sebagai “kerumitan manusia dalam memahami dunia”.

Kerumitan itu “mungkin” menjadi ciri khas dari buku-buku klasik. Tak hanya sebatas mengenai diri sendiri, tapi juga terkait bagaimana dunia berjalan bahkan tanpa diri kita. Bagi saya sendiri, konsep-konsep tersebut yang membuat karya klasik menjadi menarik. Selain mengangkat topik “abstrak”, ada topik lain yang membuat saya menyukai karya klasik, yaitu bagaimana seorang penulis klasik menuliskan sistem sosial pada era tertentu.

Topik tersebut (untuk sekarang) saya rasa adalah keunggulan dari penulis asal Inggris yang namanya sudah sangat terkenal di kalangan pembaca. Eric Arthur Blair dengan nama pena George Orwell merupakan seorang sastrawan Inggris yang sudah menciptakan karya fiksi maupun non-fiksi. Karyanya yang paling terkenal adalah “Animal Farm” dan “1984”.

Tentunya, saya sangat familiar akan namanya dan dua karya tersohornya. Namun saya memilih untuk membaca karya Orwell yang lainnya, salah satunya buku yang akan kita bahas sekarang.

“Coming Up For Air” atau “Menghirup Udara Segar” adalah sebuah buku novel yang dicetak pertama kali di Inggris pada tahun 1939. Buku ini ditulis melalui sudut pandang orang pertama dari seorang karakter bernama George Bowling. George adalah seorang salesman asuransi berumur 45 tahun yang tinggal di pinggir kota bersama istri dan dua anaknya.

Dicekik oleh rutinitas yang membuatnya sesak, George memutuskan kembali ke desanya untuk mencari angin segar. Namun George malah dikejutkan dengan desanya yang berubah total dan aksi pengeboman oleh Angkatan Udara Inggris di langit tempat kelahirannya.

Buku ini mengambil tema nostalgia. Namun jangan berharap mendapatkan potongan masa lalu yang indah dalam buku ini. Orwell justru menuliskan potongan masa lalu yang terasa tak bisa direlakan—masa lalu yang awalnya terasa membosankan, namun menjadi menyakitkan pada masa tua dari George sendiri.

Pada babak II dari buku ini saja (buku ini terdiri dari IV babak), keseluruhannya membahas tentang masa lalu George di desanya—Lower Binfield. Semula dari kehidupannya sebagai anak dari seorang penjual benih, aktivitasnya memancing dengan geng kakaknya, pengalaman pertama kali ia bekerja dan berkencan,  pengalamannya menjadi tentara pada perang dunia I. Hingga pasca perang yang meruntuhkan hidup keluarganya dan dirinya secara perlahan.

Kalau kita perhatikan cover buku versi penerbit Gramedia, terdapat gambar ikan, air dan sampah terpampang jelas. Ternyata ini berkaitan dengan hobi memancing dari George. Masa kecil George di Lower Binfield memang dihabiskan untuk memancing sebelum ia menginjak umur 16 tahun.

Hobi memancing dari George adalah gambaran yang digunakan Orwell untuk memperlihatkan perubahan pada Lower Binfield yang diakibatkan oleh kapitalisme dan era pasca perang. Misalkan, bagaimana kolam ikan yang dulu sangat besar dan dalam di daerah  Upper Binfield, berubah total menjadi lubang besar yang terisi sampah dari perumahan kelas atas.  Menarik bukan?

Orwell menggunakan pengalaman sehari-hari dari karakternya untuk mengkritik situasi sosial pada era itu. Dan tidak hanya dari hobi George saja, banyak hal dari kegiatan sehari-hari George yang ditulis oleh Orwell untuk menyentil sistem dengan menggunakan monolog dari karakter utama.

Karena buku ini mengambil latar waktu abad ke-20 di Inggris, saya menjadi tahu terkait situasi di Inggris pada era tersebut. Tentunya, apa yang ditulis Orwell terkait situasi di Inggris pada masa itu ada yang di “dramatisir”. Kendati demikian situasi di buku ini sendiri membuat saya merasa bahwa dunia yang digambarkan Orwell bukan hanya berlatar waktu pada abad ke-20, tetapi juga masih terasa relevan hingga saat ini.

Ketika George dewasa menghampiri desa yang sudah ia tinggalkan selama 30 tahun, ia terasa seperti “hantu” di tempat kelahirannya sendiri. Orang-orang yang ia temui adalah orang asing yang mengisi Lower Binfield. Mereka pindah ke kota Lower Binfield, menggantikan hutan menjadi perumahan, bekerja, dan menghidupi ekonomi disana. Sekaligus “mengotori” tempat itu, menurut sudut pandang dari George.

Sebagai pembaca, saya merasakan ketakutan dan kegelisahan dari George. Saya merasa sendiri melihat kota yang sudah saya tinggali selama 17 tahun lamanya, semakin hari semakin berkembang dengan pusat perbelanjaan, pusat hiburan atau perusahan-perusahaan lainnya. Tentu ada rasa kegembiraan melihat pusat belanja dan perusahaan makanan sekarang ada dimana-mana, tapi ada rasa ketakutan juga.

Bagaimana jika saya merasa asing di kota saya sendiri? Bahkan saya belum menyempatkan waktu mengelilingi kota dan mencari tahu cerita-cerita unik dari kota ini. Namun perubahannya semakin banyak. Aktivitas konsumtif juga makin terasa. Dan pastinya, saya tak bisa menyalahkan kota saya, sebab ada sistem tak kasat mata yang memegang kendali atas semuanya.

Ini yang membuat saya merasa, karakter George Bowling tidak hanya sebatas karakter utama atau kegelisahan Orwell terkait modernitas, tapi justru George adalah manusia modern itu sendiri! Bagaimana dengan efisiensi yang sudah dihadirkan, manusia terasa monoton. Kebosanan yang dihilangkan untuk melakukan pekerjaan tiada akhir, atau memperkaya perusahaan yang bahkan secara tidak langsung menginjak kita.

Perginya George ke Lower Binfield adalah langkah akhir untuk membuatnya bebas, untuk menghirup udara segar dari kegelisahaan atas perang dunia dan hidupnya. Namun berakhir terjebak di dalam sistem yang membunuhnya secara perlahan.

Awalnya saya mengalami kebosanan saat membaca buku ini, sebab gaya penulisan yang penuh monolog dari George. Sampai di babak kedua-keempat saya makin mendapatkan kedalaman dalam membaca buku ini.

Seolah Orwell seperti ingin memberitahu saya, bahwa saya harus menyadari betapa membosankannya hidup terlebih dahulu, baru saya bisa menggali kehidupan lebih bermakna lagi.

Pada akhirnya, Coming Up for Air bukan sekadar cerita tentang nostalgia, melainkan refleksi tentang manusia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah. Sebuah pengingat bahwa terkadang, yang paling menakutkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kita tidak memiliki kendali atasnya.

Bagi pembaca yang tertarik pada refleksi tentang kehidupan, perubahan, dan kegelisahan manusia modern, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: Bukubuku terjemahanGeorge Orwellnovel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Next Post

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co