15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata dunia eksotis, spiritual, sekaligus rapuh. Ketika wacana menjadikan Bali sebagai pusat depo bahan bakar minyak (BBM) nasional mengemuka melibatkan peran strategis Pertamina maka yang dipertaruhkan bukan hanya tata ruang, melainkan arah peradaban pulau ini: apakah tetap menjadi destinasi wisata kelas dunia atau bergeser menjadi simpul logistik energi berbasis fosil.

Menurut hemat penulis, ironi Bali hari ini tidak bisa lagi dibaca sebagai fenomena biasa. Rakyat Bali pulau yang selama ini dikenal santun, patuh, dan nyaris tak pernah berisik dalam percaturan politik nasional. Namun justru di situlah persoalannya: kepatuhan kerap dibalas dengan kebijakan yang abai terhadap daya dukung ekologis, keadilan pembangunan, dan masa depan Bali sendiri.

Bagi penulis, Bali bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup—tempat bertemunya budaya, spiritualitas, dan ekonomi yang bertumpu pada kepercayaan global. Selama puluhan tahun, Bali menjadi wajah Indonesia di mata dunia melalui sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sebelum pandemi, sektor ini merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar nasional, dengan Bali sebagai episentrum utama (BPS, 2019–2023).

Sejak dekade 1970-an, Bali secara sistematis dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Kawasan seperti Kuta, Ubud, dan Nusa Dua menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi berbasis jasa. Pariwisata menyumbang mayoritas pendapatan daerah, membuka lapangan kerja, dan mendorong pembangunan infrastruktur.

Namun demikian, menurut penulis, keberhasilan tersebut justru melahirkan paradoks yang kian nyata. Ketergantungan tinggi terhadap pariwisata mempercepat tekanan ekologis mulai dari krisis air bersih, persoalan sampah, kemacetan, hingga alih fungsi lahan sawah yang dilindungi tak terkendali. Banjir september 2025 yang melanda denpasar dan badung, mencirikan bagaimana masif nya pembangunan fasitilitas pariwisata yang merusak DAS Sungai Ayung, karena justru laku dijual untuk turis. Kesadaran itu tak cukup menjadi pembelajaran bagaimana seharusnya membangun tetapi tetap merawat dan menjaga daya dukung lingkungan..

Dalam situasi yang dapat disebut sebagai “kelelahan ekologis” ini,  Depo LNG untuk memenuhi green energi bagi Bali, sekarang muncul wacana menjadikan Bali sebagai lokasi pembangunan depo BBM berskala besar bukan sekadar kebijakan pembangunan, melainkan keputusan yang berpotensi memperdalam krisis yang sudah ada.

Rasionalitas Energi dan Risiko Ekologis

Pemerintah berdalih bahwa pembangunan depo BBM di Bali memiliki rasionalitas kuat. Secara geografis, Bali berada di jalur distribusi energi kawasan timur Indonesia. Kehadiran depo dapat meningkatkan ketahanan energi, mempercepat distribusi, serta mengurangi beban logistik dari pusat-pusat energi di Jawa.

Namun rasionalitas ini tidak bebas biaya. Industri energi fosil membawa risiko inheren: tumpahan minyak, pencemaran laut, serta potensi bencana industri. Bagi Bali, yang ekonominya bertumpu pada citra alam bersih dan budaya sakral, risiko ini bersifat eksistensial. Satu insiden saja dapat merusak reputasi global yang dibangun puluhan tahun.

Bali Bukan Ruang Kosong: Suara Penolakan

Penolakan terhadap rencana ini mengemuka dari berbagai kalangan. 

Ketua Persadha Nusantara Provinsi Bali, I Ketut Sae Tanju, menegaskan bahwa Bali bukan tempat yang tepat untuk proyek berisiko tinggi seperti ini. Ia mengingatkan bahwa Bali adalah ruang hidup yang sarat nilai adat, budaya, dan spiritual, sehingga tidak bisa dipahami hanya melalui pendekatan teknokratis (pernyataan publik, 2026).Pandangan ini diperkuat oleh ekonom dan mantan anggota MPR RI utusan daerah Bali (1999–2004), Jro Gde Sudibya. Ia mengingatkan bahwa dengan luas wilayah sekitar 5.536–5.590 km² dan jumlah penduduk sekitar 4,47 juta jiwa (BPS Bali, 2024), Bali sudah berada dalam tekanan ruang yang sangat tinggi.“Jangan lagi ‘direcoki’ dengan proyek yang melahap gumi Bali,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut kondisi Bali saat ini sebagai “benyah latig” kerusakan lingkungan yang sudah pada titik kritis. 

Data jurnalisme Kompas mencatat konversi lahan pertanian di Bali mencapai sekitar 2.300 hektare per tahun (Kompas, 2023). Jika tren ini berlanjut, maka dalam satu dekade ke depan sistem irigasi tradisional Subak yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO sejak 2012—terancam punah.

Menurut penulis, masyarakat Bali hidup dalam kerangka nilai Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Industrialisasi energi berbasis fosil berpotensi bertabrakan dengan prinsip tersebut. 

Penolakan masyarakat bukanlah bentuk resistensi irasional, melainkan refleksi nilai yang telah teruji lintas zaman.

Di sisi lain, dimensi geopolitik juga tak bisa diabaikan. Infrastruktur energi berskala besar merupakan objek vital yang rentan menjadi sasaran dalam konflik militer modern. Dalam konteks ini, kekhawatiran bahwa Bali dapat menjadi target strategis bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berlebihan.

Pada intinya, menurut pendapat penulis, dikotomi “wisata vs depo BBM” adalah jebakan berpikir. Bali tidak harus menolak pembangunan, tetapi berhak menentukan arah pembangunan yang selaras dengan karakter dan daya dukungnya. Jika dia merusak apalagi menghancurkan Bali, apakah masyarakat Bali tetep diem?

Di tengah tren global menuju dekarbonisasi, Bali justru memiliki peluang menjadi pionir energi terbarukan—melalui pengembangan energi surya, transportasi listrik, dan konsep green tourism.Menjadikan Bali sebagai pusat depo BBM nasional mungkin menawarkan keuntungan jangka pendek dalam kerangka ketahanan energi. Namun biaya jangka panjangnya baik ekologis, sosial, maupun reputasional berpotensi jauh lebih besar.

Menurut penulis, pilihan ini pada akhirnya adalah soal arah peradaban: apakah Indonesia ingin Bali tetap menjadi simbol harmoni dunia, atau menjadikannya bagian dari rantai industri energi yang perlahan ditinggalkan zaman.

Jika masa depan adalah hijau dan berkelanjutan, maka Bali seharusnya berada di garis depan bukan di persimpangan yang mundur ke belakang.

Rahayu. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Next Post

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

'Coming Up For Air', Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co