4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata dunia eksotis, spiritual, sekaligus rapuh. Ketika wacana menjadikan Bali sebagai pusat depo bahan bakar minyak (BBM) nasional mengemuka melibatkan peran strategis Pertamina maka yang dipertaruhkan bukan hanya tata ruang, melainkan arah peradaban pulau ini: apakah tetap menjadi destinasi wisata kelas dunia atau bergeser menjadi simpul logistik energi berbasis fosil.

Menurut hemat penulis, ironi Bali hari ini tidak bisa lagi dibaca sebagai fenomena biasa. Rakyat Bali pulau yang selama ini dikenal santun, patuh, dan nyaris tak pernah berisik dalam percaturan politik nasional. Namun justru di situlah persoalannya: kepatuhan kerap dibalas dengan kebijakan yang abai terhadap daya dukung ekologis, keadilan pembangunan, dan masa depan Bali sendiri.

Bagi penulis, Bali bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup—tempat bertemunya budaya, spiritualitas, dan ekonomi yang bertumpu pada kepercayaan global. Selama puluhan tahun, Bali menjadi wajah Indonesia di mata dunia melalui sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sebelum pandemi, sektor ini merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar nasional, dengan Bali sebagai episentrum utama (BPS, 2019–2023).

Sejak dekade 1970-an, Bali secara sistematis dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Kawasan seperti Kuta, Ubud, dan Nusa Dua menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi berbasis jasa. Pariwisata menyumbang mayoritas pendapatan daerah, membuka lapangan kerja, dan mendorong pembangunan infrastruktur.

Namun demikian, menurut penulis, keberhasilan tersebut justru melahirkan paradoks yang kian nyata. Ketergantungan tinggi terhadap pariwisata mempercepat tekanan ekologis mulai dari krisis air bersih, persoalan sampah, kemacetan, hingga alih fungsi lahan sawah yang dilindungi tak terkendali. Banjir september 2025 yang melanda denpasar dan badung, mencirikan bagaimana masif nya pembangunan fasitilitas pariwisata yang merusak DAS Sungai Ayung, karena justru laku dijual untuk turis. Kesadaran itu tak cukup menjadi pembelajaran bagaimana seharusnya membangun tetapi tetap merawat dan menjaga daya dukung lingkungan..

Dalam situasi yang dapat disebut sebagai “kelelahan ekologis” ini,  Depo LNG untuk memenuhi green energi bagi Bali, sekarang muncul wacana menjadikan Bali sebagai lokasi pembangunan depo BBM berskala besar bukan sekadar kebijakan pembangunan, melainkan keputusan yang berpotensi memperdalam krisis yang sudah ada.

Rasionalitas Energi dan Risiko Ekologis

Pemerintah berdalih bahwa pembangunan depo BBM di Bali memiliki rasionalitas kuat. Secara geografis, Bali berada di jalur distribusi energi kawasan timur Indonesia. Kehadiran depo dapat meningkatkan ketahanan energi, mempercepat distribusi, serta mengurangi beban logistik dari pusat-pusat energi di Jawa.

Namun rasionalitas ini tidak bebas biaya. Industri energi fosil membawa risiko inheren: tumpahan minyak, pencemaran laut, serta potensi bencana industri. Bagi Bali, yang ekonominya bertumpu pada citra alam bersih dan budaya sakral, risiko ini bersifat eksistensial. Satu insiden saja dapat merusak reputasi global yang dibangun puluhan tahun.

Bali Bukan Ruang Kosong: Suara Penolakan

Penolakan terhadap rencana ini mengemuka dari berbagai kalangan. 

Ketua Persadha Nusantara Provinsi Bali, I Ketut Sae Tanju, menegaskan bahwa Bali bukan tempat yang tepat untuk proyek berisiko tinggi seperti ini. Ia mengingatkan bahwa Bali adalah ruang hidup yang sarat nilai adat, budaya, dan spiritual, sehingga tidak bisa dipahami hanya melalui pendekatan teknokratis (pernyataan publik, 2026).Pandangan ini diperkuat oleh ekonom dan mantan anggota MPR RI utusan daerah Bali (1999–2004), Jro Gde Sudibya. Ia mengingatkan bahwa dengan luas wilayah sekitar 5.536–5.590 km² dan jumlah penduduk sekitar 4,47 juta jiwa (BPS Bali, 2024), Bali sudah berada dalam tekanan ruang yang sangat tinggi.“Jangan lagi ‘direcoki’ dengan proyek yang melahap gumi Bali,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut kondisi Bali saat ini sebagai “benyah latig” kerusakan lingkungan yang sudah pada titik kritis. 

Data jurnalisme Kompas mencatat konversi lahan pertanian di Bali mencapai sekitar 2.300 hektare per tahun (Kompas, 2023). Jika tren ini berlanjut, maka dalam satu dekade ke depan sistem irigasi tradisional Subak yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO sejak 2012—terancam punah.

Menurut penulis, masyarakat Bali hidup dalam kerangka nilai Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Industrialisasi energi berbasis fosil berpotensi bertabrakan dengan prinsip tersebut. 

Penolakan masyarakat bukanlah bentuk resistensi irasional, melainkan refleksi nilai yang telah teruji lintas zaman.

Di sisi lain, dimensi geopolitik juga tak bisa diabaikan. Infrastruktur energi berskala besar merupakan objek vital yang rentan menjadi sasaran dalam konflik militer modern. Dalam konteks ini, kekhawatiran bahwa Bali dapat menjadi target strategis bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berlebihan.

Pada intinya, menurut pendapat penulis, dikotomi “wisata vs depo BBM” adalah jebakan berpikir. Bali tidak harus menolak pembangunan, tetapi berhak menentukan arah pembangunan yang selaras dengan karakter dan daya dukungnya. Jika dia merusak apalagi menghancurkan Bali, apakah masyarakat Bali tetep diem?

Di tengah tren global menuju dekarbonisasi, Bali justru memiliki peluang menjadi pionir energi terbarukan—melalui pengembangan energi surya, transportasi listrik, dan konsep green tourism.Menjadikan Bali sebagai pusat depo BBM nasional mungkin menawarkan keuntungan jangka pendek dalam kerangka ketahanan energi. Namun biaya jangka panjangnya baik ekologis, sosial, maupun reputasional berpotensi jauh lebih besar.

Menurut penulis, pilihan ini pada akhirnya adalah soal arah peradaban: apakah Indonesia ingin Bali tetap menjadi simbol harmoni dunia, atau menjadikannya bagian dari rantai industri energi yang perlahan ditinggalkan zaman.

Jika masa depan adalah hijau dan berkelanjutan, maka Bali seharusnya berada di garis depan bukan di persimpangan yang mundur ke belakang.

Rahayu. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Next Post

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

'Coming Up For Air', Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co