14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Reda Subagio by Reda Subagio
March 25, 2026
in Esai
Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BUNYI denting notifikasi perbankan di ponsel itu layaknya suara sangkakala yang membawa kabar gembira ke tengah padang pasir keletihan. Bagi jutaan manusia yang menghabiskan sepertiga hidupnya di balik meja kubikel atau di depan layar monitor, angka yang melonjak di saldo rekening itu bukan sekadar uang.

Ia adalah simbol kemenangan singkat, sebuah “tanda jasa” yang kita sebut Tunjangan Hari Raya (THR). Seketika, beban kerja berbulan-bulan, omelan atasan yang tak masuk akal, hingga tumpukan revisi yang mencekik seolah terangkat dari pundak. Kita merasa kaya, kita merasa berdaya, dan yang paling berbahaya, adalah, kita merasa telah merdeka.

Namun, kemerdekaan itu hanyalah sebuah ilusi yang dirancang dengan sangat rapi oleh sistem. Begitu THR mendarat, psikologi “balas dendam” mulai mengambil alih kesadaran. Kita yang selama sebelas bulan hidup dengan anggaran yang ketat, tiba-tiba merasa memiliki hak untuk menjadi raja dalam semalam.

Fenomena ini seringkali membuat kita lupa diri. Kita mulai membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial atau sekadar pamer di media sosial. Baju baru dengan merek ternama, gadget terbaru yang sebenarnya fiturnya sama saja dengan yang lama, hingga jamuan makan mewah yang harganya setara dengan gaji seminggu.

Kita menghambur-hamburkan keringat setahun hanya dalam hitungan hari, seolah-olah hari esok tidak akan pernah datang membawa tagihan. Lalu datanglah masa liburan hari raya. Dunia berubah menjadi panggung sandiwara yang indah dan penuh warna. Kita memesan tiket perjalanan dengan harga yang melonjak berkali lipat, menginap di hotel berbintang, dan menjamu keluarga besar dengan kemurahan hati yang meluap-luap.

Di bawah cahaya lampu kota yang gemerlap atau di tengah kehangatan ruang tamu di kampung halaman, kita tenggelam dalam tawa yang lepas. Kita benar-benar lupa pada deadline yang menunggu di kantor, kita lupa pada laporan bulanan yang belum tuntas, dan kita lupa pada wajah atasan yang seringkali menjadi tokoh antagonis dalam mimpi buruk kita.

Kesenangan itu terasa begitu nyata, padahal ia hanyalah sebuah “demo gratis” dari kehidupan yang kita dambakan namun tak pernah benar-benar kita miliki. Kita terjebak dalam euforia semu, merayakan kebebasan di atas fondasi finansial yang rapuh. Kita merasa seolah-olah inilah jati diri kita yang sebenarnya, sosok sukses yang punya kendali penuh atas nasibnya.

Padahal, kita hanyalah tamu di rumah mewah yang sewanya akan segera habis. Waktu adalah pencuri yang paling kejam, dan ia selalu bergerak lebih cepat saat kita sedang bahagia. Malam terakhir liburan selalu terasa lebih dingin dan sunyi. Saat koper mulai dikemas kembali dan bau pelumas mesin kantor mulai terbayang di benak, ada sebuah rasa sesak yang perlahan merayap di dada. Itulah momen ketika tabir fatamorgana itu tersingkap dengan kasar.

Kita tersadar bahwa saldo rekening telah menipis, bahkan mungkin sudah menyentuh batas bawah. Keriuhan hari raya menyisakan sunyi, dan dompet yang tadinya tebal kini hanya menyisakan struk belanja dan nota tagihan yang belum terbayar. Disinilah realita yang paling pahit menghantam; lingkaran setan itu dimulai.

Ketika tabungan ludes dan kebutuhan hidup pasca-lebaran tetap menagih, banyak dari kita yang terjepit dalam keputusasaan. Cicilan motor, sewa kontrakan, hingga biaya sekolah anak tidak bisa menunggu hingga gaji bulan depan turun. Dalam kondisi terdesak ini, harga diri seringkali harus digadaikan.

Kita terpaksa kembali ke hadapan sosok yang selama ini kita hindari, misalnya sang atasan atau pihak perusahaan—bukan untuk memberikan prestasi, melainkan untuk memohon pinjaman atau “kasbon”. Ironi yang luar biasa terjadi di sini. Kita meminjam uang dari sistem yang sebenarnya telah mengeksploitasi kita, hanya untuk bisa bertahan hidup agar bisa terus bekerja bagi mereka.

Utang itu menjadi rantai baru yang mengikat pergelangan kaki kita lebih erat pada kursi kantor. Kita yang tadinya merasa merdeka saat memegang THR, kini justru harus bertekuk lutut dan berjanji akan bekerja lebih keras demi melunasi pinjaman tersebut. Kita bukan lagi sekadar karyawan; kita telah secara sukarela memperpanjang kontrak perbudakan kita sendiri.

Esok paginya, dengan langkah berat, kita kembali mengenakan “seragam perang”. Kita duduk di balik meja yang sama, menatap layar monitor yang masih menyimpan sisa-sisa pekerjaan sebelum cuti. Di sanalah kita kembali pada identitas yang sesungguhnya, seorang budak korporat sejati. Kita kembali menukar waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesehatan kita demi angka-angka di neraca perusahaan yang keuntungannya tak pernah benar-benar kita rasakan.

Kita hanyalah roda gigi kecil yang bisa diganti kapan saja dalam mesin raksasa yang tidak akan pernah berhenti berputar. Kelelahan kita adalah bahan bakar bagi mereka, dan kesedihan kita adalah statistik yang tidak berarti. Namun, yang paling menyedihkan adalah bagaimana pikiran kita bekerja.

Di tengah tumpukan tugas yang mulai menggunung dan sisa utang yang menghantui, kita tidak merencanakan cara untuk keluar dari sistem ini. Sebaliknya, kita justru mulai menabung rindu. Kita mulai merajut kembali mimpi yang sama dan menghitung hari demi hari untuk satu tujuan yang jauh di ufuk sana, bertemu kembali dengan THR dan liburan singkat di tahun depan.

Begitulah cara kita bertahan hidup di era modern, dengan memelihara harapan pada kesenangan sementara yang semu, demi melupakan kenyataan bahwa kita terjebak dalam siklus yang tak pernah usai. Kita membeli kebahagiaan setahun sekali dengan harga seluruh kebebasan kita selama sisa tahun tersebut. Sebuah transaksi yang sangat merugikan, namun terus kita lakukan karena kita terlalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa dunia ini tidak memberikan ruang bagi mereka yang tidak punya “tuan”. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari rayaTHR
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

Next Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? ---Sebuah Persimpangan Peradaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co