24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Reda Subagio by Reda Subagio
March 25, 2026
in Esai
Fatamorgana Hari Raya: Antara Euforia THR dan Belenggu Realita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BUNYI denting notifikasi perbankan di ponsel itu layaknya suara sangkakala yang membawa kabar gembira ke tengah padang pasir keletihan. Bagi jutaan manusia yang menghabiskan sepertiga hidupnya di balik meja kubikel atau di depan layar monitor, angka yang melonjak di saldo rekening itu bukan sekadar uang.

Ia adalah simbol kemenangan singkat, sebuah “tanda jasa” yang kita sebut Tunjangan Hari Raya (THR). Seketika, beban kerja berbulan-bulan, omelan atasan yang tak masuk akal, hingga tumpukan revisi yang mencekik seolah terangkat dari pundak. Kita merasa kaya, kita merasa berdaya, dan yang paling berbahaya, adalah, kita merasa telah merdeka.

Namun, kemerdekaan itu hanyalah sebuah ilusi yang dirancang dengan sangat rapi oleh sistem. Begitu THR mendarat, psikologi “balas dendam” mulai mengambil alih kesadaran. Kita yang selama sebelas bulan hidup dengan anggaran yang ketat, tiba-tiba merasa memiliki hak untuk menjadi raja dalam semalam.

Fenomena ini seringkali membuat kita lupa diri. Kita mulai membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial atau sekadar pamer di media sosial. Baju baru dengan merek ternama, gadget terbaru yang sebenarnya fiturnya sama saja dengan yang lama, hingga jamuan makan mewah yang harganya setara dengan gaji seminggu.

Kita menghambur-hamburkan keringat setahun hanya dalam hitungan hari, seolah-olah hari esok tidak akan pernah datang membawa tagihan. Lalu datanglah masa liburan hari raya. Dunia berubah menjadi panggung sandiwara yang indah dan penuh warna. Kita memesan tiket perjalanan dengan harga yang melonjak berkali lipat, menginap di hotel berbintang, dan menjamu keluarga besar dengan kemurahan hati yang meluap-luap.

Di bawah cahaya lampu kota yang gemerlap atau di tengah kehangatan ruang tamu di kampung halaman, kita tenggelam dalam tawa yang lepas. Kita benar-benar lupa pada deadline yang menunggu di kantor, kita lupa pada laporan bulanan yang belum tuntas, dan kita lupa pada wajah atasan yang seringkali menjadi tokoh antagonis dalam mimpi buruk kita.

Kesenangan itu terasa begitu nyata, padahal ia hanyalah sebuah “demo gratis” dari kehidupan yang kita dambakan namun tak pernah benar-benar kita miliki. Kita terjebak dalam euforia semu, merayakan kebebasan di atas fondasi finansial yang rapuh. Kita merasa seolah-olah inilah jati diri kita yang sebenarnya, sosok sukses yang punya kendali penuh atas nasibnya.

Padahal, kita hanyalah tamu di rumah mewah yang sewanya akan segera habis. Waktu adalah pencuri yang paling kejam, dan ia selalu bergerak lebih cepat saat kita sedang bahagia. Malam terakhir liburan selalu terasa lebih dingin dan sunyi. Saat koper mulai dikemas kembali dan bau pelumas mesin kantor mulai terbayang di benak, ada sebuah rasa sesak yang perlahan merayap di dada. Itulah momen ketika tabir fatamorgana itu tersingkap dengan kasar.

Kita tersadar bahwa saldo rekening telah menipis, bahkan mungkin sudah menyentuh batas bawah. Keriuhan hari raya menyisakan sunyi, dan dompet yang tadinya tebal kini hanya menyisakan struk belanja dan nota tagihan yang belum terbayar. Disinilah realita yang paling pahit menghantam; lingkaran setan itu dimulai.

Ketika tabungan ludes dan kebutuhan hidup pasca-lebaran tetap menagih, banyak dari kita yang terjepit dalam keputusasaan. Cicilan motor, sewa kontrakan, hingga biaya sekolah anak tidak bisa menunggu hingga gaji bulan depan turun. Dalam kondisi terdesak ini, harga diri seringkali harus digadaikan.

Kita terpaksa kembali ke hadapan sosok yang selama ini kita hindari, misalnya sang atasan atau pihak perusahaan—bukan untuk memberikan prestasi, melainkan untuk memohon pinjaman atau “kasbon”. Ironi yang luar biasa terjadi di sini. Kita meminjam uang dari sistem yang sebenarnya telah mengeksploitasi kita, hanya untuk bisa bertahan hidup agar bisa terus bekerja bagi mereka.

Utang itu menjadi rantai baru yang mengikat pergelangan kaki kita lebih erat pada kursi kantor. Kita yang tadinya merasa merdeka saat memegang THR, kini justru harus bertekuk lutut dan berjanji akan bekerja lebih keras demi melunasi pinjaman tersebut. Kita bukan lagi sekadar karyawan; kita telah secara sukarela memperpanjang kontrak perbudakan kita sendiri.

Esok paginya, dengan langkah berat, kita kembali mengenakan “seragam perang”. Kita duduk di balik meja yang sama, menatap layar monitor yang masih menyimpan sisa-sisa pekerjaan sebelum cuti. Di sanalah kita kembali pada identitas yang sesungguhnya, seorang budak korporat sejati. Kita kembali menukar waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesehatan kita demi angka-angka di neraca perusahaan yang keuntungannya tak pernah benar-benar kita rasakan.

Kita hanyalah roda gigi kecil yang bisa diganti kapan saja dalam mesin raksasa yang tidak akan pernah berhenti berputar. Kelelahan kita adalah bahan bakar bagi mereka, dan kesedihan kita adalah statistik yang tidak berarti. Namun, yang paling menyedihkan adalah bagaimana pikiran kita bekerja.

Di tengah tumpukan tugas yang mulai menggunung dan sisa utang yang menghantui, kita tidak merencanakan cara untuk keluar dari sistem ini. Sebaliknya, kita justru mulai menabung rindu. Kita mulai merajut kembali mimpi yang sama dan menghitung hari demi hari untuk satu tujuan yang jauh di ufuk sana, bertemu kembali dengan THR dan liburan singkat di tahun depan.

Begitulah cara kita bertahan hidup di era modern, dengan memelihara harapan pada kesenangan sementara yang semu, demi melupakan kenyataan bahwa kita terjebak dalam siklus yang tak pernah usai. Kita membeli kebahagiaan setahun sekali dengan harga seluruh kebebasan kita selama sisa tahun tersebut. Sebuah transaksi yang sangat merugikan, namun terus kita lakukan karena kita terlalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa dunia ini tidak memberikan ruang bagi mereka yang tidak punya “tuan”. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari rayaTHR
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

Next Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? ---Sebuah Persimpangan Peradaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co