DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka 1948 tahun 2026. Karya ini lahir dari tangan-tangan anggota STT Eka Budhi, yang mengusung tema, “LOBHA: Kala Api Keserakahan dan Cahaya Dharma”.
Sejak awal, ogoh-ogoh ini tidak dimaksudkan sekadar menjadi sosok raksasa yang memukau secara visual. Ia dirancang sebagai narasi yang hidup. Sebuah peringatan yang ditampilkan dalam bentuk yang tak mudah dilupakan.
Sosok yang dihadirkan adalah representasi Lobha, salah satu bagian dari Sad Ripu ─ enam musuh dalam diri manusia. Dalam ajaran Hindu, Sad Ripu menggambarkan kelemahan batin yang jika dibiarkan, dapat menjerumuskan manusia ke dalam kehancuran. Lobha atau keserakahan, menjadi pusat perhatian dalam karya ini.
Secara visual, Lobha diwujudkan sebagai raksasa dengan anatomi mengerikan. Tubuhnya besar dan dipenuhi noda yang seolah merekam jejak dosa. Wajahnya buas, mata melotot, gigi bertaring, mulut terbuka lebar ─ sebuah ekspresi yang tidak hanya menunjukkan amarah, tetapi juga kelaparan yang tak pernah terpuaskan.

Di tangannya, ia menggenggam api Anala ─ api yang tak pernah kenyang. Simbol ini menjadi inti dari keseluruhan pesan. Api tersebut bukan sekadar elemen visual, melainkan metafora dari hasrat manusia yang terus membesar. Semakin dipenuhi, semakin ia membara. Logika dilahap, rasa syukur hangus, dan nurani perlahan memudar.
“Api itu kami jadikan simbol bahwa keserakahan tidak pernah benar-benar bisa dipuaskan. Semakin dikejar, justru semakin menguasai manusia. Itu yang ingin kami ingatkan melalui ogoh-ogoh ini,” ujar I Komang Arik Setiawan selaku Ketua STT Eka Budhi.
Di bawah kakinya, terhampar tumpukan tulang-belulang. Ia tidak hanya berdiri, tetapi menginjak. Menjadikan sisa-sisa itu sebagai monumen bisu atas eksploitasi keji terhadap sesama dan perusakan alam demi ambisi yang tak terkendali. Tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Melalui simbolisme ini, ogoh-ogoh Lobha berbicara tentang realitas yang dekat dengan kehidupan manusia masa kini. Ambisi tanpa batas telah membelenggu pikiran dan mengaburkan jiwa. Keserakahan tidak lagi sekadar konsep, melainkan menjelma dalam tindakan nyata: korupsi, eksploitasi, dan gaya hidup konsumtif yang melampaui kebutuhan.
Melalui visualisasi dramatis ini, masyarakat diajak melakukan Mulat Sarira ─ introspeksi diri. Sebuah proses untuk menengok ke dalam, menyadari bahwa Lobha bukan hanya milik sosok raksasa itu, tetapi juga bagian dari diri manusia.
“Kami tidak hanya ingin membuat ogoh-ogoh yang terlihat kuat secara visual, tetapi juga punya makna yang bisa direnungkan,” lanjut Komang Arik.
Pesan moralnya mengalir jelas. Pengendalian diri menjadi langkah pertama: memadamkan api hedonisme dan menolak segala bentuk kecurangan, termasuk korupsi, demi keuntungan pribadi. Dari titik inilah keserakahan sering berakar.

Kemudian, pentingnya menemukan rasa cukup. Dalam dunia yang terus mendorong manusia untuk mengejar lebih, rasa cukup justru menjadi kunci keseimbangan. Ia menjaga manusia tetap berpijak, tidak terjerumus dalam pusaran keinginan yang tak berujung.
Pesan berikutnya mengarah pada bakti kepada Pertiwi. Alam tidak diciptakan untuk dieksploitasi tanpa batas. Sebaliknya, ia adalah ruang hidup yang harus dijaga dengan penuh kasih. Dalam konteks krisis lingkungan yang kian nyata, pesan ini terasa semakin mendesak.
Pada akhirnya, keseluruhan narasi ini bermuara pada satu pemahaman: kehidupan yang seimbang tidak lahir dari pemuasan nafsu tanpa batas, melainkan dari keberhasilan menundukkan Sad Ripu.
Ogoh-ogoh Lobha menjadi cermin yang jujur, bahkan terasa keras tentang kondisi manusia. Ia mengingatkan bahwa di balik kemajuan dan ambisi, selalu ada potensi kehancuran jika keserakahan dibiarkan tumbuh tanpa kendali.
Ketika api keserakahan mampu dipadamkan melalui disiplin diri, kegelapan batin perlahan berubah menjadi cahaya. Dari sana lahir kasih sayang yang menjadi dasar jalan Dharma.
Dan ketika ogoh-ogoh ini diarak pada malam pengerupukan, lalu dibakar hingga menjadi abu, yang dilebur bukan hanya wujud fisiknya. Lebih dari itu, ia menjadi simbol harapan: agar Lobha dalam diri manusia ikut lenyap, memberi ruang bagi kehidupan yang lebih seimbang, berkelanjutan, dan penuh kebijaksanaan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























