Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di depan Mentari Lovina & Kitchen, di kawasan wisata Lovina, Buleleng. Tapi hari itu pindah haluan ke bangunan sisi timur.
Alasannya karena langit mendung, angin laut lagi kencang-kencangnya, dan semua orang bersiap kalau hujan turun atau ombak tiba-tiba ngamuk. Eh, ternyata… kami kena prank cuaca.
Hujan yang ditunggu-tunggu nggak jadi datang. Matahari malah muncul dengan pede-nya. Cuma ya, ombak tetap tinggi, jadi ya sudahlah—pasar tetap lanjut di lokasi baru.
Aneh? Sedikit. Tapi justru di situ serunya. Para pedagang tetap buka lapak dengan santai, pengunjung tetap berdatangan, dan suasana hangat khas Pasar Intaran nggak luntur sedikit pun. Kayak bilang, “Ya sudahlah, hidup harus tetap jalan, bos.”
Nah, di tengah hiruk pikuk itu, ada satu kegiatan yang langsung bikin banyak orang merapat. Workshop membuat daluman.
Yang biasanya cuma kita minum segar-segar, kali ini diajak bikin sendiri. Dari nol. Dari daun. Bukan dari gelas plastik siap minum.
Workshop ini dipandu oleh Ibu Wayan Mariastini, yang sudah lama jualan es daluman di pasar. Gayanya santai, tapi jelas kelihatan kalau beliau sudah “master” di dunia per-daluman-an.
Begitu mulai, suasana langsung pecah. Peserta yang kebanyakan Gen Alpha dan Gen Z langsung dikasih tantangan utama. Meremas daun daluman alias ngulet.
Ternyata ngulet itu tidak semudah yang dibayangkan. Awalnya semua terlihat santai. Daun, air, wadah. That simple. Tapi begitu tangan mulai kerja, baru terasa.
Daun daluman itu harus diremas dengan tenaga. Bukan diremas manja. Harus serius, agak emosional bolehlah sedikit. Peserta mencoba bergiliran. Pakai sarung tangan tentunya, biar tetap higienis.
Dan di situlah mulai terdengar suara-suara.
“Eh, kok nggak keluar ya?”
“Ini harus sekuat apa sih?”
“Wah, lumayan capek juga!”
Beberapa mulai tertawa sendiri. Ada yang mulai serius. Ada juga yang seperti lagi balas dendam sama kehidupan—meremas daun dengan sepenuh hati.
Sampai ada yang nyeletuk, “Daripada nyagur timpal, mending ngulet daluman!” Celetukan itu, langsung disambut tawa.
Yang menarik, banyak peserta baru sadar kalau daluman itu prosesnya tidak sesimpel yang mereka kira.
Selama ini taunya tinggal beli, minum, selesai. Ternyata di balik segelas daluman, ada proses remas-meremas yang cukup menguras tenaga dan kesabaran. Berbeda dengan beberapa peserta dari desa yang sudah lebih familiar.
“Dulu sering lihat orang tua bikin,” kata salah satu dari mereka dengan santai. Aura “anak desa” langsung terasa beda. Lebih kalem, lebih paham ritmenya. Sementara yang lain masih sibuk mencari teknik terbaik buat ngulet tanpa menyerah di tengah jalan.
Setelah drama daun selesai, masuk ke sesi berikutnya, yaitu membuat santan. Kelihatannya simpel lagi. Parutan kelapa, air, diremas, disaring. Tapi tetap saja, ada seni di dalamnya.
Bu Wayan menjelaskan kalau kunci santan enak itu dari kelapa tua. Bukan yang setengah matang, bukan juga yang masih muda. Peserta pun mencoba. Diremas lagi. Disaring lagi.
Pokoknya pagi itu full aktivitas tangan. Santan yang sudah jadi kemudian dipanaskan pelan-pelan, ditambah daun pandan biar harum. Aromanya? Jangan ditanya. Langsung bikin suasana pasar semerbak harum santan.
Di tengah banyaknya minuman kekinian yang penuh topping dan nama-nama unik, daluman tetap punya tempat sendiri. Nggak ribet. Nggak banyak gaya. Tapi segar dan jujur.
Dan ternyata, dari daun, diremas, jadi gel alami. Tanpa drama bahan kimia berlebihan. Bahkan, kalau mau serius sedikit, daluman ini juga sering disebut punya kandungan antioksidan. Tapi tenang, di pasar hari itu nggak ada yang sibuk mikirin istilah ilmiah.
Yang penting segar, enak, dan sekarang lebih dihargai karena tahu prosesnya. Workshop ini memberikan pengalaman bagi peserta yang lebih banyak pelajar SMA.Dari yang awalnya cuma menonton, jadi ikut terlibat. Dari yang cuma minum, jadi tahu proses. Dari yang nggak kenal, jadi punya cerita.
Dan yang paling terasa adalah kebersamaan. Tawa, celetukan spontan, tangan pegal, sampai aroma pandan yang menguar pelan, semuanya jadi satu paket yang sulit dilupakan.
Pasar Intaran hari itu mungkin pindah tempat. Cuaca mungkin sempat nge-prank. Tapi konsistensi tetap jalan, suasana tetap hidup.
Dan daluman? Tetap ada di Pasar Intaran.
Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole





























