15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 25, 2026
in Esai
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP tahun, menjelang Lebaran, dapur-dapur di Indonesia berubah menjadi ruang produksi yang tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga makna. Salah satu simbol paling kuat dari momen ini adalah opor ayam; hidangan sederhana berbahan dasar santan dan rempah yang hampir selalu hadir di meja hari raya. Di balik aroma gurihnya, opor ayam menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah medium komunikasi sosial, alat relasi publik yang organik, dan jembatan yang menghubungkan individu dengan komunitasnya.

Lebaran, dengan segala ritualnya, sebenarnya adalah fenomena komunikasi terbesar yang terjadi secara serempak dalam masyarakat Indonesia. Opor ayam tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama ketupat, sambal goreng ati, dan kerupuk, dalam satu komposisi yang terasa utuh. Namun yang lebih penting dari itu, opor ayam hampir selalu dibuat dalam jumlah besar, jauh melebihi kebutuhan satu keluarga inti.

Di sinilah kita mulai melihat logika komunikasi bekerja. Memasak dalam jumlah besar bukan hanya soal tradisi atau antisipasi tamu, tetapi juga bentuk kesiapan untuk berbagi. Ada asumsi sosial yang tidak tertulis: bahwa Lebaran adalah waktu ketika batas-batas privat menjadi lebih cair, ketika rumah terbuka, dan ketika makanan menjadi bahasa universal untuk menyambut siapa pun.

Dalam perspektif hubungan masyarakat atau public relations, apa yang terjadi di momen ini sebenarnya mencerminkan prinsip dasar komunikasi yang efektif: membangun kedekatan emosional melalui tindakan yang nyata. Tidak ada siaran pers, tidak ada kampanye digital, tetapi pesan yang disampaikan jauh lebih kuat. Ketika seseorang menyajikan opor ayam kepada tamu, ia tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keterbukaan, penerimaan, dan penghormatan.

Ini adalah komunikasi non-verbal yang sangat kaya makna, dan justru karena kesederhanaannya, ia menjadi lebih autentik. Lebaran juga memperlihatkan bagaimana jaringan komunikasi dalam masyarakat bekerja secara horizontal. Tidak ada satu pusat kendali yang mengatur bagaimana orang harus bersilaturahmi, kapan harus berkunjung, atau apa yang harus disajikan. Secara kolektif, masyarakat mengikuti pola yang hampir seragam.

Orang-orang saling mengunjungi, membawa makanan, bertukar cerita, dan memperbarui hubungan yang mungkin sempat renggang. Ini adalah bentuk komunikasi yang terdesentralisasi, tetapi sangat efektif dalam menjaga kohesi sosial. Dalam konteks komunitas, opor ayam menjadi semacam “alat diplomasi” yang halus. Ia hadir dalam momen-momen ketika kata-kata mungkin terasa kaku atau tidak cukup.

Misalnya, dalam situasi ketika dua orang memiliki sejarah konflik, kunjungan Lebaran dengan membawa atau menyajikan makanan bisa menjadi cara untuk membuka kembali komunikasi tanpa harus langsung membahas masalah yang ada. Makanan, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium yang menurunkan ketegangan dan menciptakan ruang aman untuk interaksi. Menariknya, praktik ini tidak hanya terjadi di dalam keluarga atau lingkaran pertemanan dekat, tetapi juga meluas ke tingkat komunitas yang lebih besar.

Di banyak daerah, kita bisa melihat bagaimana tetangga saling bertukar hidangan, bahkan tanpa hubungan yang terlalu dekat sebelumnya. Ada semacam norma sosial yang mendorong orang untuk ikut serta dalam arus komunikasi ini. Tidak ikut serta bisa dianggap sebagai bentuk penarikan diri dari komunitas. Dengan kata lain, Lebaran menciptakan tekanan sosial yang positif untuk berpartisipasi dalam komunikasi kolektif.

Jika kita melihatnya lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi yang paling efektif sering kali tidak dirancang secara formal. Ia tumbuh dari kebiasaan, dari nilai-nilai yang diwariskan, dan dari praktik yang diulang dari generasi ke generasi. Opor ayam, dalam hal ini, bukan hanya resep masakan, tetapi juga “kode budaya” yang dipahami bersama. Ketika seseorang menyajikannya, ia secara otomatis masuk ke dalam sistem makna yang sudah disepakati oleh masyarakat.

Dalam dunia public relations modern, banyak organisasi berusaha keras untuk menciptakan engagement dengan audiensnya. Mereka menggunakan berbagai strategi, mulai dari storytelling hingga aktivasi digital, untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Namun, apa yang terjadi saat Lebaran menunjukkan bahwa engagement yang paling kuat justru datang dari interaksi yang tulus dan berbasis pengalaman bersama.

Tidak ada algoritma yang mengatur siapa yang harus dikunjungi atau bagaimana percakapan harus berlangsung. Semua terjadi secara alami, tetapi hasilnya sangat nyata: hubungan yang diperbarui, kepercayaan yang diperkuat, dan rasa kebersamaan yang dipulihkan. Lebaran juga menjadi momen di mana identitas kolektif diperkuat melalui komunikasi. Ketika orang-orang mengenakan pakaian terbaik mereka, saling mengucapkan maaf, dan duduk bersama menikmati hidangan yang sama, mereka sedang menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar.

Opor ayam, dalam konteks ini, menjadi simbol keseragaman yang tidak memaksa. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi menyediakan titik temu yang bisa dinikmati bersama. Di balik semua kehangatan ini, ada juga dinamika yang menarik untuk diperhatikan. Tidak semua komunikasi berjalan mulus. Ada kalanya percakapan menjadi canggung, ada pertanyaan-pertanyaan yang terasa sensitif, dan ada ekspektasi sosial yang bisa menimbulkan tekanan.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membaca situasi dan menyesuaikan diri. Dalam banyak kasus, kehadiran makanan seperti opor ayam membantu meredam ketegangan ini, memberikan jeda, dan mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih netral.

Fenomena Lebaran juga menunjukkan bahwa komunikasi memiliki dimensi waktu yang penting. Banyak hubungan yang mungkin tidak terjaga sepanjang tahun, tetapi “diaktifkan kembali” saat hari raya. Ini menciptakan semacam ritme sosial, di mana komunikasi tidak harus berlangsung terus-menerus untuk tetap bermakna. Yang penting adalah adanya momen-momen kunci yang digunakan untuk memperbarui hubungan. Dalam hal ini, Lebaran berfungsi sebagai “checkpoint” sosial yang sangat efektif.

Jika kita menarik pelajaran dari semua ini, ada beberapa hal yang bisa dipahami tentang komunikasi dan hubungan masyarakat. Pertama, bahwa medium komunikasi tidak selalu harus berupa kata-kata. Tindakan sederhana seperti memasak dan berbagi makanan bisa menjadi pesan yang sangat kuat. Kedua, bahwa komunitas memainkan peran penting dalam membentuk pola komunikasi.

Individu tidak berkomunikasi dalam ruang hampa; mereka selalu menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar. Ketiga, bahwa keaslian adalah kunci. Komunikasi yang terasa dipaksakan atau terlalu dirancang sering kali justru kehilangan daya tariknya. Opor ayam, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan bahwa komunikasi yang paling efektif adalah yang mampu menyentuh sisi manusiawi kita. Ia tidak membutuhkan teknologi canggih atau strategi yang rumit.

Ia hanya membutuhkan niat untuk berbagi, untuk membuka diri, dan untuk hadir bagi orang lain. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital tetapi sering kali terasa terfragmentasi secara sosial, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Lebaran bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengelola hubungan mereka. Ia adalah momen ketika komunikasi mencapai puncaknya, tidak dalam bentuk yang spektakuler, tetapi dalam gestur-gestur kecil yang penuh makna.

Opor ayam hanyalah salah satu simbol dari proses ini, tetapi ia cukup untuk menunjukkan bahwa di balik setiap tradisi, selalu ada logika komunikasi yang bekerja. Dan mungkin, justru karena ia tidak disadari sebagai “strategi”, praktik ini menjadi begitu efektif. Orang tidak merasa sedang “berkomunikasi” dalam arti formal, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang paling alami.

Mereka memasak, menyajikan, berbagi, dan dalam proses itu, mereka membangun kembali jembatan-jembatan yang mungkin sempat rapuh. Di situlah letak kekuatan sebenarnya dari Lebaran sebagai fenomena komunikasi: ia bekerja tanpa harus terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Dalam sepiring opor ayam, kita menemukan lebih dari sekadar rasa. Kita menemukan cara masyarakat berbicara tanpa kata, cara mereka menjaga hubungan tanpa paksaan, dan cara mereka merayakan kebersamaan tanpa perlu dirancang. Itu adalah pelajaran public relations yang paling jujur, bahwa komunikasi terbaik bukan yang paling keras terdengar, tetapi yang paling dalam dirasakan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerLebaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Next Post

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co