25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 25, 2026
in Esai
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP tahun, menjelang Lebaran, dapur-dapur di Indonesia berubah menjadi ruang produksi yang tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga makna. Salah satu simbol paling kuat dari momen ini adalah opor ayam; hidangan sederhana berbahan dasar santan dan rempah yang hampir selalu hadir di meja hari raya. Di balik aroma gurihnya, opor ayam menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah medium komunikasi sosial, alat relasi publik yang organik, dan jembatan yang menghubungkan individu dengan komunitasnya.

Lebaran, dengan segala ritualnya, sebenarnya adalah fenomena komunikasi terbesar yang terjadi secara serempak dalam masyarakat Indonesia. Opor ayam tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama ketupat, sambal goreng ati, dan kerupuk, dalam satu komposisi yang terasa utuh. Namun yang lebih penting dari itu, opor ayam hampir selalu dibuat dalam jumlah besar, jauh melebihi kebutuhan satu keluarga inti.

Di sinilah kita mulai melihat logika komunikasi bekerja. Memasak dalam jumlah besar bukan hanya soal tradisi atau antisipasi tamu, tetapi juga bentuk kesiapan untuk berbagi. Ada asumsi sosial yang tidak tertulis: bahwa Lebaran adalah waktu ketika batas-batas privat menjadi lebih cair, ketika rumah terbuka, dan ketika makanan menjadi bahasa universal untuk menyambut siapa pun.

Dalam perspektif hubungan masyarakat atau public relations, apa yang terjadi di momen ini sebenarnya mencerminkan prinsip dasar komunikasi yang efektif: membangun kedekatan emosional melalui tindakan yang nyata. Tidak ada siaran pers, tidak ada kampanye digital, tetapi pesan yang disampaikan jauh lebih kuat. Ketika seseorang menyajikan opor ayam kepada tamu, ia tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keterbukaan, penerimaan, dan penghormatan.

Ini adalah komunikasi non-verbal yang sangat kaya makna, dan justru karena kesederhanaannya, ia menjadi lebih autentik. Lebaran juga memperlihatkan bagaimana jaringan komunikasi dalam masyarakat bekerja secara horizontal. Tidak ada satu pusat kendali yang mengatur bagaimana orang harus bersilaturahmi, kapan harus berkunjung, atau apa yang harus disajikan. Secara kolektif, masyarakat mengikuti pola yang hampir seragam.

Orang-orang saling mengunjungi, membawa makanan, bertukar cerita, dan memperbarui hubungan yang mungkin sempat renggang. Ini adalah bentuk komunikasi yang terdesentralisasi, tetapi sangat efektif dalam menjaga kohesi sosial. Dalam konteks komunitas, opor ayam menjadi semacam “alat diplomasi” yang halus. Ia hadir dalam momen-momen ketika kata-kata mungkin terasa kaku atau tidak cukup.

Misalnya, dalam situasi ketika dua orang memiliki sejarah konflik, kunjungan Lebaran dengan membawa atau menyajikan makanan bisa menjadi cara untuk membuka kembali komunikasi tanpa harus langsung membahas masalah yang ada. Makanan, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium yang menurunkan ketegangan dan menciptakan ruang aman untuk interaksi. Menariknya, praktik ini tidak hanya terjadi di dalam keluarga atau lingkaran pertemanan dekat, tetapi juga meluas ke tingkat komunitas yang lebih besar.

Di banyak daerah, kita bisa melihat bagaimana tetangga saling bertukar hidangan, bahkan tanpa hubungan yang terlalu dekat sebelumnya. Ada semacam norma sosial yang mendorong orang untuk ikut serta dalam arus komunikasi ini. Tidak ikut serta bisa dianggap sebagai bentuk penarikan diri dari komunitas. Dengan kata lain, Lebaran menciptakan tekanan sosial yang positif untuk berpartisipasi dalam komunikasi kolektif.

Jika kita melihatnya lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi yang paling efektif sering kali tidak dirancang secara formal. Ia tumbuh dari kebiasaan, dari nilai-nilai yang diwariskan, dan dari praktik yang diulang dari generasi ke generasi. Opor ayam, dalam hal ini, bukan hanya resep masakan, tetapi juga “kode budaya” yang dipahami bersama. Ketika seseorang menyajikannya, ia secara otomatis masuk ke dalam sistem makna yang sudah disepakati oleh masyarakat.

Dalam dunia public relations modern, banyak organisasi berusaha keras untuk menciptakan engagement dengan audiensnya. Mereka menggunakan berbagai strategi, mulai dari storytelling hingga aktivasi digital, untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Namun, apa yang terjadi saat Lebaran menunjukkan bahwa engagement yang paling kuat justru datang dari interaksi yang tulus dan berbasis pengalaman bersama.

Tidak ada algoritma yang mengatur siapa yang harus dikunjungi atau bagaimana percakapan harus berlangsung. Semua terjadi secara alami, tetapi hasilnya sangat nyata: hubungan yang diperbarui, kepercayaan yang diperkuat, dan rasa kebersamaan yang dipulihkan. Lebaran juga menjadi momen di mana identitas kolektif diperkuat melalui komunikasi. Ketika orang-orang mengenakan pakaian terbaik mereka, saling mengucapkan maaf, dan duduk bersama menikmati hidangan yang sama, mereka sedang menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar.

Opor ayam, dalam konteks ini, menjadi simbol keseragaman yang tidak memaksa. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi menyediakan titik temu yang bisa dinikmati bersama. Di balik semua kehangatan ini, ada juga dinamika yang menarik untuk diperhatikan. Tidak semua komunikasi berjalan mulus. Ada kalanya percakapan menjadi canggung, ada pertanyaan-pertanyaan yang terasa sensitif, dan ada ekspektasi sosial yang bisa menimbulkan tekanan.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membaca situasi dan menyesuaikan diri. Dalam banyak kasus, kehadiran makanan seperti opor ayam membantu meredam ketegangan ini, memberikan jeda, dan mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih netral.

Fenomena Lebaran juga menunjukkan bahwa komunikasi memiliki dimensi waktu yang penting. Banyak hubungan yang mungkin tidak terjaga sepanjang tahun, tetapi “diaktifkan kembali” saat hari raya. Ini menciptakan semacam ritme sosial, di mana komunikasi tidak harus berlangsung terus-menerus untuk tetap bermakna. Yang penting adalah adanya momen-momen kunci yang digunakan untuk memperbarui hubungan. Dalam hal ini, Lebaran berfungsi sebagai “checkpoint” sosial yang sangat efektif.

Jika kita menarik pelajaran dari semua ini, ada beberapa hal yang bisa dipahami tentang komunikasi dan hubungan masyarakat. Pertama, bahwa medium komunikasi tidak selalu harus berupa kata-kata. Tindakan sederhana seperti memasak dan berbagi makanan bisa menjadi pesan yang sangat kuat. Kedua, bahwa komunitas memainkan peran penting dalam membentuk pola komunikasi.

Individu tidak berkomunikasi dalam ruang hampa; mereka selalu menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar. Ketiga, bahwa keaslian adalah kunci. Komunikasi yang terasa dipaksakan atau terlalu dirancang sering kali justru kehilangan daya tariknya. Opor ayam, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan bahwa komunikasi yang paling efektif adalah yang mampu menyentuh sisi manusiawi kita. Ia tidak membutuhkan teknologi canggih atau strategi yang rumit.

Ia hanya membutuhkan niat untuk berbagi, untuk membuka diri, dan untuk hadir bagi orang lain. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital tetapi sering kali terasa terfragmentasi secara sosial, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Lebaran bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengelola hubungan mereka. Ia adalah momen ketika komunikasi mencapai puncaknya, tidak dalam bentuk yang spektakuler, tetapi dalam gestur-gestur kecil yang penuh makna.

Opor ayam hanyalah salah satu simbol dari proses ini, tetapi ia cukup untuk menunjukkan bahwa di balik setiap tradisi, selalu ada logika komunikasi yang bekerja. Dan mungkin, justru karena ia tidak disadari sebagai “strategi”, praktik ini menjadi begitu efektif. Orang tidak merasa sedang “berkomunikasi” dalam arti formal, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang paling alami.

Mereka memasak, menyajikan, berbagi, dan dalam proses itu, mereka membangun kembali jembatan-jembatan yang mungkin sempat rapuh. Di situlah letak kekuatan sebenarnya dari Lebaran sebagai fenomena komunikasi: ia bekerja tanpa harus terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Dalam sepiring opor ayam, kita menemukan lebih dari sekadar rasa. Kita menemukan cara masyarakat berbicara tanpa kata, cara mereka menjaga hubungan tanpa paksaan, dan cara mereka merayakan kebersamaan tanpa perlu dirancang. Itu adalah pelajaran public relations yang paling jujur, bahwa komunikasi terbaik bukan yang paling keras terdengar, tetapi yang paling dalam dirasakan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerLebaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Next Post

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co