4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 25, 2026
in Esai
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP tahun, menjelang Lebaran, dapur-dapur di Indonesia berubah menjadi ruang produksi yang tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga makna. Salah satu simbol paling kuat dari momen ini adalah opor ayam; hidangan sederhana berbahan dasar santan dan rempah yang hampir selalu hadir di meja hari raya. Di balik aroma gurihnya, opor ayam menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah medium komunikasi sosial, alat relasi publik yang organik, dan jembatan yang menghubungkan individu dengan komunitasnya.

Lebaran, dengan segala ritualnya, sebenarnya adalah fenomena komunikasi terbesar yang terjadi secara serempak dalam masyarakat Indonesia. Opor ayam tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama ketupat, sambal goreng ati, dan kerupuk, dalam satu komposisi yang terasa utuh. Namun yang lebih penting dari itu, opor ayam hampir selalu dibuat dalam jumlah besar, jauh melebihi kebutuhan satu keluarga inti.

Di sinilah kita mulai melihat logika komunikasi bekerja. Memasak dalam jumlah besar bukan hanya soal tradisi atau antisipasi tamu, tetapi juga bentuk kesiapan untuk berbagi. Ada asumsi sosial yang tidak tertulis: bahwa Lebaran adalah waktu ketika batas-batas privat menjadi lebih cair, ketika rumah terbuka, dan ketika makanan menjadi bahasa universal untuk menyambut siapa pun.

Dalam perspektif hubungan masyarakat atau public relations, apa yang terjadi di momen ini sebenarnya mencerminkan prinsip dasar komunikasi yang efektif: membangun kedekatan emosional melalui tindakan yang nyata. Tidak ada siaran pers, tidak ada kampanye digital, tetapi pesan yang disampaikan jauh lebih kuat. Ketika seseorang menyajikan opor ayam kepada tamu, ia tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keterbukaan, penerimaan, dan penghormatan.

Ini adalah komunikasi non-verbal yang sangat kaya makna, dan justru karena kesederhanaannya, ia menjadi lebih autentik. Lebaran juga memperlihatkan bagaimana jaringan komunikasi dalam masyarakat bekerja secara horizontal. Tidak ada satu pusat kendali yang mengatur bagaimana orang harus bersilaturahmi, kapan harus berkunjung, atau apa yang harus disajikan. Secara kolektif, masyarakat mengikuti pola yang hampir seragam.

Orang-orang saling mengunjungi, membawa makanan, bertukar cerita, dan memperbarui hubungan yang mungkin sempat renggang. Ini adalah bentuk komunikasi yang terdesentralisasi, tetapi sangat efektif dalam menjaga kohesi sosial. Dalam konteks komunitas, opor ayam menjadi semacam “alat diplomasi” yang halus. Ia hadir dalam momen-momen ketika kata-kata mungkin terasa kaku atau tidak cukup.

Misalnya, dalam situasi ketika dua orang memiliki sejarah konflik, kunjungan Lebaran dengan membawa atau menyajikan makanan bisa menjadi cara untuk membuka kembali komunikasi tanpa harus langsung membahas masalah yang ada. Makanan, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium yang menurunkan ketegangan dan menciptakan ruang aman untuk interaksi. Menariknya, praktik ini tidak hanya terjadi di dalam keluarga atau lingkaran pertemanan dekat, tetapi juga meluas ke tingkat komunitas yang lebih besar.

Di banyak daerah, kita bisa melihat bagaimana tetangga saling bertukar hidangan, bahkan tanpa hubungan yang terlalu dekat sebelumnya. Ada semacam norma sosial yang mendorong orang untuk ikut serta dalam arus komunikasi ini. Tidak ikut serta bisa dianggap sebagai bentuk penarikan diri dari komunitas. Dengan kata lain, Lebaran menciptakan tekanan sosial yang positif untuk berpartisipasi dalam komunikasi kolektif.

Jika kita melihatnya lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi yang paling efektif sering kali tidak dirancang secara formal. Ia tumbuh dari kebiasaan, dari nilai-nilai yang diwariskan, dan dari praktik yang diulang dari generasi ke generasi. Opor ayam, dalam hal ini, bukan hanya resep masakan, tetapi juga “kode budaya” yang dipahami bersama. Ketika seseorang menyajikannya, ia secara otomatis masuk ke dalam sistem makna yang sudah disepakati oleh masyarakat.

Dalam dunia public relations modern, banyak organisasi berusaha keras untuk menciptakan engagement dengan audiensnya. Mereka menggunakan berbagai strategi, mulai dari storytelling hingga aktivasi digital, untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Namun, apa yang terjadi saat Lebaran menunjukkan bahwa engagement yang paling kuat justru datang dari interaksi yang tulus dan berbasis pengalaman bersama.

Tidak ada algoritma yang mengatur siapa yang harus dikunjungi atau bagaimana percakapan harus berlangsung. Semua terjadi secara alami, tetapi hasilnya sangat nyata: hubungan yang diperbarui, kepercayaan yang diperkuat, dan rasa kebersamaan yang dipulihkan. Lebaran juga menjadi momen di mana identitas kolektif diperkuat melalui komunikasi. Ketika orang-orang mengenakan pakaian terbaik mereka, saling mengucapkan maaf, dan duduk bersama menikmati hidangan yang sama, mereka sedang menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar.

Opor ayam, dalam konteks ini, menjadi simbol keseragaman yang tidak memaksa. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi menyediakan titik temu yang bisa dinikmati bersama. Di balik semua kehangatan ini, ada juga dinamika yang menarik untuk diperhatikan. Tidak semua komunikasi berjalan mulus. Ada kalanya percakapan menjadi canggung, ada pertanyaan-pertanyaan yang terasa sensitif, dan ada ekspektasi sosial yang bisa menimbulkan tekanan.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membaca situasi dan menyesuaikan diri. Dalam banyak kasus, kehadiran makanan seperti opor ayam membantu meredam ketegangan ini, memberikan jeda, dan mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih netral.

Fenomena Lebaran juga menunjukkan bahwa komunikasi memiliki dimensi waktu yang penting. Banyak hubungan yang mungkin tidak terjaga sepanjang tahun, tetapi “diaktifkan kembali” saat hari raya. Ini menciptakan semacam ritme sosial, di mana komunikasi tidak harus berlangsung terus-menerus untuk tetap bermakna. Yang penting adalah adanya momen-momen kunci yang digunakan untuk memperbarui hubungan. Dalam hal ini, Lebaran berfungsi sebagai “checkpoint” sosial yang sangat efektif.

Jika kita menarik pelajaran dari semua ini, ada beberapa hal yang bisa dipahami tentang komunikasi dan hubungan masyarakat. Pertama, bahwa medium komunikasi tidak selalu harus berupa kata-kata. Tindakan sederhana seperti memasak dan berbagi makanan bisa menjadi pesan yang sangat kuat. Kedua, bahwa komunitas memainkan peran penting dalam membentuk pola komunikasi.

Individu tidak berkomunikasi dalam ruang hampa; mereka selalu menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar. Ketiga, bahwa keaslian adalah kunci. Komunikasi yang terasa dipaksakan atau terlalu dirancang sering kali justru kehilangan daya tariknya. Opor ayam, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan bahwa komunikasi yang paling efektif adalah yang mampu menyentuh sisi manusiawi kita. Ia tidak membutuhkan teknologi canggih atau strategi yang rumit.

Ia hanya membutuhkan niat untuk berbagi, untuk membuka diri, dan untuk hadir bagi orang lain. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital tetapi sering kali terasa terfragmentasi secara sosial, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Lebaran bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengelola hubungan mereka. Ia adalah momen ketika komunikasi mencapai puncaknya, tidak dalam bentuk yang spektakuler, tetapi dalam gestur-gestur kecil yang penuh makna.

Opor ayam hanyalah salah satu simbol dari proses ini, tetapi ia cukup untuk menunjukkan bahwa di balik setiap tradisi, selalu ada logika komunikasi yang bekerja. Dan mungkin, justru karena ia tidak disadari sebagai “strategi”, praktik ini menjadi begitu efektif. Orang tidak merasa sedang “berkomunikasi” dalam arti formal, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang paling alami.

Mereka memasak, menyajikan, berbagi, dan dalam proses itu, mereka membangun kembali jembatan-jembatan yang mungkin sempat rapuh. Di situlah letak kekuatan sebenarnya dari Lebaran sebagai fenomena komunikasi: ia bekerja tanpa harus terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Dalam sepiring opor ayam, kita menemukan lebih dari sekadar rasa. Kita menemukan cara masyarakat berbicara tanpa kata, cara mereka menjaga hubungan tanpa paksaan, dan cara mereka merayakan kebersamaan tanpa perlu dirancang. Itu adalah pelajaran public relations yang paling jujur, bahwa komunikasi terbaik bukan yang paling keras terdengar, tetapi yang paling dalam dirasakan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerLebaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Next Post

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co