24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
March 25, 2026
in Esai
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP tahun, menjelang Lebaran, dapur-dapur di Indonesia berubah menjadi ruang produksi yang tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga makna. Salah satu simbol paling kuat dari momen ini adalah opor ayam; hidangan sederhana berbahan dasar santan dan rempah yang hampir selalu hadir di meja hari raya. Di balik aroma gurihnya, opor ayam menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah medium komunikasi sosial, alat relasi publik yang organik, dan jembatan yang menghubungkan individu dengan komunitasnya.

Lebaran, dengan segala ritualnya, sebenarnya adalah fenomena komunikasi terbesar yang terjadi secara serempak dalam masyarakat Indonesia. Opor ayam tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama ketupat, sambal goreng ati, dan kerupuk, dalam satu komposisi yang terasa utuh. Namun yang lebih penting dari itu, opor ayam hampir selalu dibuat dalam jumlah besar, jauh melebihi kebutuhan satu keluarga inti.

Di sinilah kita mulai melihat logika komunikasi bekerja. Memasak dalam jumlah besar bukan hanya soal tradisi atau antisipasi tamu, tetapi juga bentuk kesiapan untuk berbagi. Ada asumsi sosial yang tidak tertulis: bahwa Lebaran adalah waktu ketika batas-batas privat menjadi lebih cair, ketika rumah terbuka, dan ketika makanan menjadi bahasa universal untuk menyambut siapa pun.

Dalam perspektif hubungan masyarakat atau public relations, apa yang terjadi di momen ini sebenarnya mencerminkan prinsip dasar komunikasi yang efektif: membangun kedekatan emosional melalui tindakan yang nyata. Tidak ada siaran pers, tidak ada kampanye digital, tetapi pesan yang disampaikan jauh lebih kuat. Ketika seseorang menyajikan opor ayam kepada tamu, ia tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keterbukaan, penerimaan, dan penghormatan.

Ini adalah komunikasi non-verbal yang sangat kaya makna, dan justru karena kesederhanaannya, ia menjadi lebih autentik. Lebaran juga memperlihatkan bagaimana jaringan komunikasi dalam masyarakat bekerja secara horizontal. Tidak ada satu pusat kendali yang mengatur bagaimana orang harus bersilaturahmi, kapan harus berkunjung, atau apa yang harus disajikan. Secara kolektif, masyarakat mengikuti pola yang hampir seragam.

Orang-orang saling mengunjungi, membawa makanan, bertukar cerita, dan memperbarui hubungan yang mungkin sempat renggang. Ini adalah bentuk komunikasi yang terdesentralisasi, tetapi sangat efektif dalam menjaga kohesi sosial. Dalam konteks komunitas, opor ayam menjadi semacam “alat diplomasi” yang halus. Ia hadir dalam momen-momen ketika kata-kata mungkin terasa kaku atau tidak cukup.

Misalnya, dalam situasi ketika dua orang memiliki sejarah konflik, kunjungan Lebaran dengan membawa atau menyajikan makanan bisa menjadi cara untuk membuka kembali komunikasi tanpa harus langsung membahas masalah yang ada. Makanan, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium yang menurunkan ketegangan dan menciptakan ruang aman untuk interaksi. Menariknya, praktik ini tidak hanya terjadi di dalam keluarga atau lingkaran pertemanan dekat, tetapi juga meluas ke tingkat komunitas yang lebih besar.

Di banyak daerah, kita bisa melihat bagaimana tetangga saling bertukar hidangan, bahkan tanpa hubungan yang terlalu dekat sebelumnya. Ada semacam norma sosial yang mendorong orang untuk ikut serta dalam arus komunikasi ini. Tidak ikut serta bisa dianggap sebagai bentuk penarikan diri dari komunitas. Dengan kata lain, Lebaran menciptakan tekanan sosial yang positif untuk berpartisipasi dalam komunikasi kolektif.

Jika kita melihatnya lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi yang paling efektif sering kali tidak dirancang secara formal. Ia tumbuh dari kebiasaan, dari nilai-nilai yang diwariskan, dan dari praktik yang diulang dari generasi ke generasi. Opor ayam, dalam hal ini, bukan hanya resep masakan, tetapi juga “kode budaya” yang dipahami bersama. Ketika seseorang menyajikannya, ia secara otomatis masuk ke dalam sistem makna yang sudah disepakati oleh masyarakat.

Dalam dunia public relations modern, banyak organisasi berusaha keras untuk menciptakan engagement dengan audiensnya. Mereka menggunakan berbagai strategi, mulai dari storytelling hingga aktivasi digital, untuk membangun hubungan yang lebih dekat. Namun, apa yang terjadi saat Lebaran menunjukkan bahwa engagement yang paling kuat justru datang dari interaksi yang tulus dan berbasis pengalaman bersama.

Tidak ada algoritma yang mengatur siapa yang harus dikunjungi atau bagaimana percakapan harus berlangsung. Semua terjadi secara alami, tetapi hasilnya sangat nyata: hubungan yang diperbarui, kepercayaan yang diperkuat, dan rasa kebersamaan yang dipulihkan. Lebaran juga menjadi momen di mana identitas kolektif diperkuat melalui komunikasi. Ketika orang-orang mengenakan pakaian terbaik mereka, saling mengucapkan maaf, dan duduk bersama menikmati hidangan yang sama, mereka sedang menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar.

Opor ayam, dalam konteks ini, menjadi simbol keseragaman yang tidak memaksa. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi menyediakan titik temu yang bisa dinikmati bersama. Di balik semua kehangatan ini, ada juga dinamika yang menarik untuk diperhatikan. Tidak semua komunikasi berjalan mulus. Ada kalanya percakapan menjadi canggung, ada pertanyaan-pertanyaan yang terasa sensitif, dan ada ekspektasi sosial yang bisa menimbulkan tekanan.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membaca situasi dan menyesuaikan diri. Dalam banyak kasus, kehadiran makanan seperti opor ayam membantu meredam ketegangan ini, memberikan jeda, dan mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih netral.

Fenomena Lebaran juga menunjukkan bahwa komunikasi memiliki dimensi waktu yang penting. Banyak hubungan yang mungkin tidak terjaga sepanjang tahun, tetapi “diaktifkan kembali” saat hari raya. Ini menciptakan semacam ritme sosial, di mana komunikasi tidak harus berlangsung terus-menerus untuk tetap bermakna. Yang penting adalah adanya momen-momen kunci yang digunakan untuk memperbarui hubungan. Dalam hal ini, Lebaran berfungsi sebagai “checkpoint” sosial yang sangat efektif.

Jika kita menarik pelajaran dari semua ini, ada beberapa hal yang bisa dipahami tentang komunikasi dan hubungan masyarakat. Pertama, bahwa medium komunikasi tidak selalu harus berupa kata-kata. Tindakan sederhana seperti memasak dan berbagi makanan bisa menjadi pesan yang sangat kuat. Kedua, bahwa komunitas memainkan peran penting dalam membentuk pola komunikasi.

Individu tidak berkomunikasi dalam ruang hampa; mereka selalu menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar. Ketiga, bahwa keaslian adalah kunci. Komunikasi yang terasa dipaksakan atau terlalu dirancang sering kali justru kehilangan daya tariknya. Opor ayam, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan bahwa komunikasi yang paling efektif adalah yang mampu menyentuh sisi manusiawi kita. Ia tidak membutuhkan teknologi canggih atau strategi yang rumit.

Ia hanya membutuhkan niat untuk berbagi, untuk membuka diri, dan untuk hadir bagi orang lain. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital tetapi sering kali terasa terfragmentasi secara sosial, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Lebaran bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengelola hubungan mereka. Ia adalah momen ketika komunikasi mencapai puncaknya, tidak dalam bentuk yang spektakuler, tetapi dalam gestur-gestur kecil yang penuh makna.

Opor ayam hanyalah salah satu simbol dari proses ini, tetapi ia cukup untuk menunjukkan bahwa di balik setiap tradisi, selalu ada logika komunikasi yang bekerja. Dan mungkin, justru karena ia tidak disadari sebagai “strategi”, praktik ini menjadi begitu efektif. Orang tidak merasa sedang “berkomunikasi” dalam arti formal, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang paling alami.

Mereka memasak, menyajikan, berbagi, dan dalam proses itu, mereka membangun kembali jembatan-jembatan yang mungkin sempat rapuh. Di situlah letak kekuatan sebenarnya dari Lebaran sebagai fenomena komunikasi: ia bekerja tanpa harus terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Dalam sepiring opor ayam, kita menemukan lebih dari sekadar rasa. Kita menemukan cara masyarakat berbicara tanpa kata, cara mereka menjaga hubungan tanpa paksaan, dan cara mereka merayakan kebersamaan tanpa perlu dirancang. Itu adalah pelajaran public relations yang paling jujur, bahwa komunikasi terbaik bukan yang paling keras terdengar, tetapi yang paling dalam dirasakan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerLebaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Next Post

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Bupati Sutjidra: Napak Tilas Ki Barak Panji Sakti,  Sarana Edukasi Sejarah Bagi Generasi Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co