25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

Dian Suryantini by Dian Suryantini
March 13, 2026
in Ulas Buku
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

Dian Suryantini (penulis) saat mengulas buku Puisi 'Anak-anak Luka di Dunia Maya' Karya Yahya Umar di Komunitas Mahima | Foto: Komunitas Mahima/Radha

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau laporan resmi seperti yang dilakukan jurnalistik. Namun melalui metafora, simbol, dan bahasa puitik, sastra mampu memotret realitas yang kadang lebih dalam daripada berita. Hal inilah yang terasa kuat dalam buku kumpulan puisi Anak-anak Luka di Dunia Maya karya Yahya Umar, seorang wartawan senior yang juga dikenal sebagai sastrawan.

Saya bukan ahli puisi. Bukan juga penulis puisi. Tetapi saya mencoba membaca puisi-puisi dari Yahya Umar dari kacamata jurnalistik. Puisi bisa dibaca seperti seorang wartawan membaca peristiwa. Mencari tokoh, konteks, pesan dan realitas sosial yang tersembunyi dibalik kata-kata puitis.

Kumpulan puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial yang tajam terhadap kehidupan manusia di tengah perubahan zaman—terutama perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital, pariwisata, serta dinamika budaya Bali. Dalam buku ini ada 98 judul puisi yang digarap sejak 1997. Melalui sejumlah puisi yang sarat metafora, Yahya Umar seperti menyajikan reportase batin tentang berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat.

Sebagai seorang wartawan, Yahya Umar memiliki kebiasaan melihat dunia dengan mata yang peka terhadap peristiwa. Pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik tampaknya membentuk cara pandangnya dalam menulis puisi. Banyak larik dalam buku ini terasa seperti catatan observasi sosial. Bukan sekadar ungkapan emosi, tetapi juga refleksi terhadap realitas yang sedang terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, bagi saya, buku ini menarik dibaca melalui pendekatan yang menggabungkan sastra dan perspektif jurnalistik.

Puisi yang menjadi judul buku, Anak-anak Luka di Dunia Maya, merupakan salah satu karya yang paling kuat dalam kumpulan ini. Puisi tersebut menggambarkan kegelisahan terhadap kehidupan generasi muda yang tumbuh di tengah dunia digital. Dalam puisi itu, anak-anak digambarkan memasuki ruang maya dengan penuh harapan dan imajinasi, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi berbagai ancaman yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Larik pembuka yang menyebut cerita duka di tanah bunda memberikan kesan bahwa tragedi yang digambarkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Penyair seolah ingin mengatakan bahwa persoalan yang dialami anak-anak di dunia digital terjadi di lingkungan kita sendiri. Tanah bunda dapat dimaknai sebagai masyarakat, bangsa, atau ruang sosial tempat anak-anak tumbuh dan berkembang.

Dalam puisi tersebut, dunia digital digambarkan sebagai ruang yang memikat sekaligus berbahaya. Anak-anak menari, melukis mimpi, memeluk aplikasi, sebuah gambaran yang menunjukkan kedekatan generasi muda dengan teknologi. Namun kedekatan itu tidak selalu membawa kebahagiaan. Penyair kemudian menghadirkan metafora yang tajam. Aplikasi yang dipeluk anak-anak ternyata penuh duri.

Melalui metafora itu, Yahya Umar menggambarkan berbagai risiko yang muncul dalam kehidupan digital—mulai dari perundungan di media sosial, tekanan psikologis akibat komentar negatif, hingga konten digital yang dapat merusak kesehatan mental. Puisi ini tidak menyebutkan istilah teknis seperti cyberbullying atau tekanan algoritma, tetapi gambaran puitiknya cukup jelas untuk menunjukkan fenomena tersebut.

Metafora lain yang sangat kuat muncul dalam larik bara-bara kata menerkam mata. Kalimat ini menggambarkan bagaimana kata-kata di dunia digital dapat menjadi senjata yang menyakitkan. Komentar kasar, ujaran kebencian, atau perundungan di media sosial dapat melukai seseorang tanpa harus ada kontak fisik. Kata-kata berubah menjadi bara yang membakar.

  • INFO BUKU:
Anak-anak Luka di Dunia Maya — Sekumpulan Puisi

Puncak dari metafora luka digital itu muncul pada larik darah digital menikam mental. Ungkapan ini menunjukkan bahwa luka yang terjadi di dunia maya tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi mampu menembus sisi paling dalam dari diri seseorang. Bagi anak-anak yang masih berada dalam proses pembentukan identitas, tekanan di dunia digital bisa meninggalkan dampak psikologis yang sangat dalam.

Menariknya, puisi tersebut tidak hanya menyalahkan teknologi. Penyair juga menyiratkan bahwa luka yang dialami anak-anak merupakan bagian dari persoalan sosial yang lebih luas. Pengulangan frasa cerita duka di tanah bunda menunjukkan bahwa masalah ini berkaitan dengan lingkungan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, puisi tersebut dapat dibaca sebagai kritik terhadap kurangnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi era digital. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial mungkin belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan dan literasi digital yang cukup bagi anak-anak. Akibatnya, mereka harus menghadapi dunia maya dengan bekal yang terbatas.

Dengan cara ini, Yahya Umar menghadirkan puisi yang tidak hanya emosional, tetapi juga reflektif. Ia mengajak pembaca untuk melihat bahwa dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang sosial yang memiliki dampak nyata terhadap kehidupan manusia.

Selain membahas kehidupan digital, buku ini juga menyoroti perubahan lanskap alam dan budaya, terutama di Bali. Salah satu puisi yang menarik dalam hal ini adalah Candidasa. Puisi tersebut dapat dibaca sebagai catatan puitik tentang perubahan sebuah kawasan wisata.

Dalam puisi itu, penyair membuka dengan larik ku catat syair kecemasan yang dinyanyikan angin Candidasa. Kalimat ini menunjukkan posisi penyair sebagai pengamat yang mencatat perubahan. Kata mencatat, mengingatkan pada praktik jurnalistik. Seorang wartawan merekam peristiwa dan menghadirkannya kepada publik.

Angin yang menyanyikan kecemasan dapat dimaknai sebagai tanda-tanda alam yang memberi pesan tentang perubahan yang sedang terjadi. Candidasa, yang dahulu dikenal sebagai kawasan pantai yang tenang dan alami, kini mengalami berbagai transformasi akibat perkembangan pariwisata.

Metafora alam yang digunakan dalam puisi ini memperlihatkan kegelisahan penyair terhadap perubahan tersebut. Alam digambarkan sedang berduka. Pasir berduka, alam mengeram luka. Bahasa puitik ini mengandung pesan yang jelas tentang tekanan yang dialami lingkungan.

Larik yang paling kuat muncul pada bagian akhir puisi, hijau daun kelapa yang menjelma rumah-rumah penginapan. Gambaran ini menyiratkan perubahan lanskap yang drastis. Pohon kelapa yang dahulu menjadi bagian dari keindahan alam perlahan digantikan oleh bangunan penginapan dan fasilitas pariwisata.

Melalui puisi ini, Yahya Umar tidak menolak pariwisata secara langsung. Namun ia mengajak pembaca untuk merenungkan dampak pembangunan terhadap alam dan identitas sebuah tempat. Candidasa yang dahulu sunyi dan alami kini menghadapi perubahan yang mungkin tidak sepenuhnya membawa kebaikan.

Dalam buku ini juga terdapat puisi yang bersifat reflektif terhadap tokoh-tokoh budaya Bali. Salah satunya adalah puisi berjudul AA Panji Tisna. Puisi ini menghadirkan dialog batin antara penyair dengan seorang tokoh sastra yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah kesusastraan Bali.

Dalam puisi tersebut, penyair menggambarkan upaya untuk menyawakan sukma. Ungkapan ini menunjukkan keinginan untuk menyatukan jiwa atau pemikiran dengan tokoh yang dikaguminya. Penyair seolah mencoba masuk ke dalam ruang gagasan yang pernah dibangun oleh tokoh tersebut.

Ruang itu digambarkan sebagai tempat bersemedi ide-ide. Dalam ruang imajiner itulah penyair membaca, merasakan, dan memahami gagasan yang pernah lahir dari pemikiran sang tokoh. Proses ini menciptakan hubungan intelektual lintas waktu antara penyair dan figur budaya yang dihormatinya.

Puisi ini juga menggambarkan kerinduan terhadap ketajaman pemikiran tokoh tersebut. Cahaya batin yang disebut dalam puisi dapat dimaknai sebagai kejernihan pandangan dan kedalaman pemikiran yang dimiliki seorang sastrawan besar. Bagi penyair, pemikiran itu masih hidup dan terus mengusik pikiran generasi masa kini.

Dengan cara ini, Yahya Umar menunjukkan bahwa warisan intelektual tidak pernah benar-benar hilang. Ide-ide yang pernah ditulis dalam karya sastra dapat terus hidup dan memengaruhi generasi berikutnya.

Salah satu kekuatan utama buku Anak-anak Luka di Dunia Maya adalah kemampuannya menjembatani dunia sastra dan jurnalistik. Sebagai wartawan, Yahya Umar terbiasa melihat realitas sosial dengan pendekatan observasi. Sebagai penyair, ia mengolah realitas itu menjadi bahasa yang simbolik dan metaforis.

Persilangan ini membuat puisi-puisinya terasa seperti reportase puitik. Yahya Umar tidak menyampaikan fakta secara langsung, tetapi menghadirkan realitas melalui citraan yang kuat. Pembaca diajak merasakan suasana, memahami kegelisahan, dan merenungkan makna di balik peristiwa yang digambarkan.

Puisi tidak hanya berbicara tentang perasaan pribadi, tetapi juga tentang kondisi masyarakat. Yahya Umar memanfaatkan bahasa sastra untuk menyoroti berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan kontemporer.

Tema besar yang terasa dominan dalam buku ini adalah kegelisahan terhadap perubahan zaman. Teknologi digital, perkembangan pariwisata, romantisme dan perubahan budaya menjadi latar yang terus muncul dalam berbagai puisi.

Namun penyair tidak menuliskannya dalam bentuk kritik yang keras. Ia memilih pendekatan yang lebih halus, melalui metafora alam dan citraan simbolik. Cara ini membuat pesan sosial dalam puisinya terasa lebih reflektif daripada konfrontatif.

Dalam konteks ini, puisi-puisi Yahya Umar dapat dipahami sebagai upaya untuk mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Dunia digital yang tampak modern dan memikat, misalnya, tetap menyimpan potensi luka jika tidak dihadapi dengan bijak.

Demikian pula dengan pembangunan pariwisata yang membawa kemajuan ekonomi, tetapi juga berpotensi mengubah wajah alam dan budaya jika tidak dikelola secara seimbang.

Buku Anak-anak Luka di Dunia Maya karya Yahya Umar merupakan kumpulan puisi yang menghadirkan refleksi sosial yang kuat tentang kehidupan manusia di era modern. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat metafora, penyair memotret berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat—mulai dari kehidupan anak-anak di dunia digital hingga perubahan lanskap alam akibat pariwisata.

Pengalaman Yahya Umar sebagai wartawan memberi warna tersendiri pada puisi-puisinya. Banyak larik terasa seperti catatan observasi terhadap realitas sosial. Namun catatan itu tidak disajikan dalam bentuk laporan berita, melainkan dalam bahasa puitik yang penuh simbol.

Dengan cara ini, buku ini berhasil menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium refleksi sosial yang kuat. Puisi tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang kegelisahan zaman.

Pada akhirnya, Anak-anak Luka di Dunia Maya mengajak pembaca untuk melihat kembali dunia di sekitar mereka—baik dunia nyata maupun dunia digital. Di balik layar gawai, di balik gemerlap pariwisata, dan di balik perubahan zaman, selalu ada manusia yang merasakan dampaknya.

Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam suara batin yang mengajak masyarakat untuk tetap peka, tetap peduli, dan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang terus bergerak maju. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ulasan ini disampaikan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima dengan sub acara peluncuran dan bedah buku Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ karya Yahya Umar di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja, 11 Maret 2026
Tags: buku puisibuku tatkalaKomunitas MahimaPuisiSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya

Next Post

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co