11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

Dian Suryantini by Dian Suryantini
March 13, 2026
in Ulas Buku
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

Dian Suryantini (penulis) saat mengulas buku Puisi 'Anak-anak Luka di Dunia Maya' Karya Yahya Umar di Komunitas Mahima | Foto: Komunitas Mahima/Radha

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau laporan resmi seperti yang dilakukan jurnalistik. Namun melalui metafora, simbol, dan bahasa puitik, sastra mampu memotret realitas yang kadang lebih dalam daripada berita. Hal inilah yang terasa kuat dalam buku kumpulan puisi Anak-anak Luka di Dunia Maya karya Yahya Umar, seorang wartawan senior yang juga dikenal sebagai sastrawan.

Saya bukan ahli puisi. Bukan juga penulis puisi. Tetapi saya mencoba membaca puisi-puisi dari Yahya Umar dari kacamata jurnalistik. Puisi bisa dibaca seperti seorang wartawan membaca peristiwa. Mencari tokoh, konteks, pesan dan realitas sosial yang tersembunyi dibalik kata-kata puitis.

Kumpulan puisi ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial yang tajam terhadap kehidupan manusia di tengah perubahan zaman—terutama perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital, pariwisata, serta dinamika budaya Bali. Dalam buku ini ada 98 judul puisi yang digarap sejak 1997. Melalui sejumlah puisi yang sarat metafora, Yahya Umar seperti menyajikan reportase batin tentang berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat.

Sebagai seorang wartawan, Yahya Umar memiliki kebiasaan melihat dunia dengan mata yang peka terhadap peristiwa. Pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik tampaknya membentuk cara pandangnya dalam menulis puisi. Banyak larik dalam buku ini terasa seperti catatan observasi sosial. Bukan sekadar ungkapan emosi, tetapi juga refleksi terhadap realitas yang sedang terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, bagi saya, buku ini menarik dibaca melalui pendekatan yang menggabungkan sastra dan perspektif jurnalistik.

Puisi yang menjadi judul buku, Anak-anak Luka di Dunia Maya, merupakan salah satu karya yang paling kuat dalam kumpulan ini. Puisi tersebut menggambarkan kegelisahan terhadap kehidupan generasi muda yang tumbuh di tengah dunia digital. Dalam puisi itu, anak-anak digambarkan memasuki ruang maya dengan penuh harapan dan imajinasi, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi berbagai ancaman yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Larik pembuka yang menyebut cerita duka di tanah bunda memberikan kesan bahwa tragedi yang digambarkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Penyair seolah ingin mengatakan bahwa persoalan yang dialami anak-anak di dunia digital terjadi di lingkungan kita sendiri. Tanah bunda dapat dimaknai sebagai masyarakat, bangsa, atau ruang sosial tempat anak-anak tumbuh dan berkembang.

Dalam puisi tersebut, dunia digital digambarkan sebagai ruang yang memikat sekaligus berbahaya. Anak-anak menari, melukis mimpi, memeluk aplikasi, sebuah gambaran yang menunjukkan kedekatan generasi muda dengan teknologi. Namun kedekatan itu tidak selalu membawa kebahagiaan. Penyair kemudian menghadirkan metafora yang tajam. Aplikasi yang dipeluk anak-anak ternyata penuh duri.

Melalui metafora itu, Yahya Umar menggambarkan berbagai risiko yang muncul dalam kehidupan digital—mulai dari perundungan di media sosial, tekanan psikologis akibat komentar negatif, hingga konten digital yang dapat merusak kesehatan mental. Puisi ini tidak menyebutkan istilah teknis seperti cyberbullying atau tekanan algoritma, tetapi gambaran puitiknya cukup jelas untuk menunjukkan fenomena tersebut.

Metafora lain yang sangat kuat muncul dalam larik bara-bara kata menerkam mata. Kalimat ini menggambarkan bagaimana kata-kata di dunia digital dapat menjadi senjata yang menyakitkan. Komentar kasar, ujaran kebencian, atau perundungan di media sosial dapat melukai seseorang tanpa harus ada kontak fisik. Kata-kata berubah menjadi bara yang membakar.

  • INFO BUKU:
Anak-anak Luka di Dunia Maya — Sekumpulan Puisi

Puncak dari metafora luka digital itu muncul pada larik darah digital menikam mental. Ungkapan ini menunjukkan bahwa luka yang terjadi di dunia maya tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi mampu menembus sisi paling dalam dari diri seseorang. Bagi anak-anak yang masih berada dalam proses pembentukan identitas, tekanan di dunia digital bisa meninggalkan dampak psikologis yang sangat dalam.

Menariknya, puisi tersebut tidak hanya menyalahkan teknologi. Penyair juga menyiratkan bahwa luka yang dialami anak-anak merupakan bagian dari persoalan sosial yang lebih luas. Pengulangan frasa cerita duka di tanah bunda menunjukkan bahwa masalah ini berkaitan dengan lingkungan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, puisi tersebut dapat dibaca sebagai kritik terhadap kurangnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi era digital. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial mungkin belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan dan literasi digital yang cukup bagi anak-anak. Akibatnya, mereka harus menghadapi dunia maya dengan bekal yang terbatas.

Dengan cara ini, Yahya Umar menghadirkan puisi yang tidak hanya emosional, tetapi juga reflektif. Ia mengajak pembaca untuk melihat bahwa dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang sosial yang memiliki dampak nyata terhadap kehidupan manusia.

Selain membahas kehidupan digital, buku ini juga menyoroti perubahan lanskap alam dan budaya, terutama di Bali. Salah satu puisi yang menarik dalam hal ini adalah Candidasa. Puisi tersebut dapat dibaca sebagai catatan puitik tentang perubahan sebuah kawasan wisata.

Dalam puisi itu, penyair membuka dengan larik ku catat syair kecemasan yang dinyanyikan angin Candidasa. Kalimat ini menunjukkan posisi penyair sebagai pengamat yang mencatat perubahan. Kata mencatat, mengingatkan pada praktik jurnalistik. Seorang wartawan merekam peristiwa dan menghadirkannya kepada publik.

Angin yang menyanyikan kecemasan dapat dimaknai sebagai tanda-tanda alam yang memberi pesan tentang perubahan yang sedang terjadi. Candidasa, yang dahulu dikenal sebagai kawasan pantai yang tenang dan alami, kini mengalami berbagai transformasi akibat perkembangan pariwisata.

Metafora alam yang digunakan dalam puisi ini memperlihatkan kegelisahan penyair terhadap perubahan tersebut. Alam digambarkan sedang berduka. Pasir berduka, alam mengeram luka. Bahasa puitik ini mengandung pesan yang jelas tentang tekanan yang dialami lingkungan.

Larik yang paling kuat muncul pada bagian akhir puisi, hijau daun kelapa yang menjelma rumah-rumah penginapan. Gambaran ini menyiratkan perubahan lanskap yang drastis. Pohon kelapa yang dahulu menjadi bagian dari keindahan alam perlahan digantikan oleh bangunan penginapan dan fasilitas pariwisata.

Melalui puisi ini, Yahya Umar tidak menolak pariwisata secara langsung. Namun ia mengajak pembaca untuk merenungkan dampak pembangunan terhadap alam dan identitas sebuah tempat. Candidasa yang dahulu sunyi dan alami kini menghadapi perubahan yang mungkin tidak sepenuhnya membawa kebaikan.

Dalam buku ini juga terdapat puisi yang bersifat reflektif terhadap tokoh-tokoh budaya Bali. Salah satunya adalah puisi berjudul AA Panji Tisna. Puisi ini menghadirkan dialog batin antara penyair dengan seorang tokoh sastra yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah kesusastraan Bali.

Dalam puisi tersebut, penyair menggambarkan upaya untuk menyawakan sukma. Ungkapan ini menunjukkan keinginan untuk menyatukan jiwa atau pemikiran dengan tokoh yang dikaguminya. Penyair seolah mencoba masuk ke dalam ruang gagasan yang pernah dibangun oleh tokoh tersebut.

Ruang itu digambarkan sebagai tempat bersemedi ide-ide. Dalam ruang imajiner itulah penyair membaca, merasakan, dan memahami gagasan yang pernah lahir dari pemikiran sang tokoh. Proses ini menciptakan hubungan intelektual lintas waktu antara penyair dan figur budaya yang dihormatinya.

Puisi ini juga menggambarkan kerinduan terhadap ketajaman pemikiran tokoh tersebut. Cahaya batin yang disebut dalam puisi dapat dimaknai sebagai kejernihan pandangan dan kedalaman pemikiran yang dimiliki seorang sastrawan besar. Bagi penyair, pemikiran itu masih hidup dan terus mengusik pikiran generasi masa kini.

Dengan cara ini, Yahya Umar menunjukkan bahwa warisan intelektual tidak pernah benar-benar hilang. Ide-ide yang pernah ditulis dalam karya sastra dapat terus hidup dan memengaruhi generasi berikutnya.

Salah satu kekuatan utama buku Anak-anak Luka di Dunia Maya adalah kemampuannya menjembatani dunia sastra dan jurnalistik. Sebagai wartawan, Yahya Umar terbiasa melihat realitas sosial dengan pendekatan observasi. Sebagai penyair, ia mengolah realitas itu menjadi bahasa yang simbolik dan metaforis.

Persilangan ini membuat puisi-puisinya terasa seperti reportase puitik. Yahya Umar tidak menyampaikan fakta secara langsung, tetapi menghadirkan realitas melalui citraan yang kuat. Pembaca diajak merasakan suasana, memahami kegelisahan, dan merenungkan makna di balik peristiwa yang digambarkan.

Puisi tidak hanya berbicara tentang perasaan pribadi, tetapi juga tentang kondisi masyarakat. Yahya Umar memanfaatkan bahasa sastra untuk menyoroti berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan kontemporer.

Tema besar yang terasa dominan dalam buku ini adalah kegelisahan terhadap perubahan zaman. Teknologi digital, perkembangan pariwisata, romantisme dan perubahan budaya menjadi latar yang terus muncul dalam berbagai puisi.

Namun penyair tidak menuliskannya dalam bentuk kritik yang keras. Ia memilih pendekatan yang lebih halus, melalui metafora alam dan citraan simbolik. Cara ini membuat pesan sosial dalam puisinya terasa lebih reflektif daripada konfrontatif.

Dalam konteks ini, puisi-puisi Yahya Umar dapat dipahami sebagai upaya untuk mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan kepekaan terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Dunia digital yang tampak modern dan memikat, misalnya, tetap menyimpan potensi luka jika tidak dihadapi dengan bijak.

Demikian pula dengan pembangunan pariwisata yang membawa kemajuan ekonomi, tetapi juga berpotensi mengubah wajah alam dan budaya jika tidak dikelola secara seimbang.

Buku Anak-anak Luka di Dunia Maya karya Yahya Umar merupakan kumpulan puisi yang menghadirkan refleksi sosial yang kuat tentang kehidupan manusia di era modern. Melalui bahasa yang sederhana namun sarat metafora, penyair memotret berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat—mulai dari kehidupan anak-anak di dunia digital hingga perubahan lanskap alam akibat pariwisata.

Pengalaman Yahya Umar sebagai wartawan memberi warna tersendiri pada puisi-puisinya. Banyak larik terasa seperti catatan observasi terhadap realitas sosial. Namun catatan itu tidak disajikan dalam bentuk laporan berita, melainkan dalam bahasa puitik yang penuh simbol.

Dengan cara ini, buku ini berhasil menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium refleksi sosial yang kuat. Puisi tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang kegelisahan zaman.

Pada akhirnya, Anak-anak Luka di Dunia Maya mengajak pembaca untuk melihat kembali dunia di sekitar mereka—baik dunia nyata maupun dunia digital. Di balik layar gawai, di balik gemerlap pariwisata, dan di balik perubahan zaman, selalu ada manusia yang merasakan dampaknya.

Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam suara batin yang mengajak masyarakat untuk tetap peka, tetap peduli, dan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang terus bergerak maju. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ulasan ini disampaikan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima dengan sub acara peluncuran dan bedah buku Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ karya Yahya Umar di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja, 11 Maret 2026
Tags: buku puisibuku tatkalaKomunitas MahimaPuisiSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya

Next Post

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co