13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makassar yang Sempat Terabaikan

Moch. Ferdi Al Qadri by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
in Ulas Buku
Makassar yang Sempat Terabaikan

Buku Makasssar Nol Kilometer

  • Judul: Makasssar Nol Kilometer
  • Penulis: Anwar J. Rahman, dkk.
  • Penerbit: Tanahindie Press
  • Tahun: 2014
  • Halaman: xviii + 255

MAKASSAR-NYA satu, tapi cara pandang terhadapnya bisa banyak. Bisa pakai kacamata sejarah, bisa dalam angka-angka statistik, bisa lewat jalur dagang. Bisa semua. Itu sebabnya buku-buku mengenai Makassar terus terbit. Seperti tak ada habisnya.

Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, yang memakai pola ketahanan nasional untuk “mendekati” Makassar, menerbitkan Profil Propinsi Republik Indonesia: Sulawesi Selatan pada tahun 1992. Gubernur saat itu, Zainal Basrie Palaguna, mengharapkan agar buku itu membantu para pemilik modal lebih mengerti tentang “potensi” Sulawesi Selatan (yang mana Makassar adalah pusatnya). Sehingga dapat “memacu percepatan pembangunan.”

Buku yang dibubuhi kata sambutan dari Presiden Soeharto itu disusun “dari atas”, diterbitkan berpamrih agar orang-orang yang punya banyak uang, yang digitnya lebih dari tujuh, bersedia menanam modal “di bawah”. Buku turut menderaskan arus pembangunan.

Janji Makassar

Kalau ada buku yang merangkum Makassar dalam garis besar, maka ada juga buku yang memotretnya sepenggal demi sepenggal. Buku itu diberi judul Makassar Nol Kilometer, diterbitkan Tanahindie Press pada 2014. Buku memuat kumpulan tulisan penulis dari Makassar.

Mereka menulis dengan jujur, apa adanya, tanpa teori muluk-muluk. Makassar yang tertulis adalah Makassar yang menjadi alamat tukang becak yang berkeringat seharian dan penjual ikan yang berkali-kali pasarnya dipindahkan pemerintah daerah. Juga cerita dari para pemilik warung coto, serta pengusaha iklan yang ramai orderan di masa kampanye pemilu.

Makassar, sang metropolis, adalah kota yang “menyala” selama 24/7. Makassar adalah lampu bohlam yang bersinar terang, “menjanjikan” kehangatan dan kehidupan kepada banyak orang yang datang mengerubunginya seperti laron yang beterbangan.

Empat Pintu Masuk Makassar

Makassar Nol Kilometer terbagi dalam empat “kamar”, dengan “penghuni” yang berbeda-beda, sejak “Pengawal Pasukan Ramang” di udik sampai “Balada Kafe-kafe Pantai Losari” di hilir. Bhinneka Tunggal Ika, kata guru Pendidikan Pancasila.

Pertama, komunitas. KBBI mendefinisikan lema komunitas sebagai “kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban”. Ada tujuh tulisan di dalamnya. Salah satu yang mencolok adalah “Kehidupan Payabo Santaria” garapan Rizal Suaib.

Payabo berarti pemulung dalam bahasa Makassar. Rizal Suaib menulis sesuatu yang agak mengejutkan: “Profesi sebagai payabo dianggap demikian menjanjikan, jika dilihat dari segi pendapatan. Karenanya jenis pekerjaan seperti ini di Santaria ternyata diwariskan, entah ke saudara, sepupu ataupun teman yang datang dari kampung dan tidak punya pekerjaan.”

Semenjanjikan-menjanjikannya hasil ma’yabo (memulung), mendaki ke puncak kelas ekonomi tetap mustahil, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Satu media daring bahkan baru-baru ini (19 Maret 2026) merilis berita menyangkut meningkatnya jumlah payabo yang tidur di becaknya di pinggir jalan raya. Siapa sanggup memutus rantai kemiskinan yang membelenggu mereka, dari generasi ke generasi?

Kedua, kuliner. Makassar adalah surganya jajanan. Mau yang diseduh, ada sarabba. Mau yang digoreng, ada jalangkote. Yang segar di bawah terik matahari, ada es poteng. Yang cocok menemani begadang kerja skripsi, ada songkolo’.

Sejumlah jajanan tadi termasuk yang khas Makassar. Kemiripan dengan kuliner dari daerah lain tidak lebih dari “kemiripan” saja. Misalnya, sarabba merupakan “varian” wedang jahe yang ditambahi gula aren dan santan. Sedang jalangkote umum disebut pastel di pulau-pulau di seberang Sulawesi. Mencicipi keduanya dalam satu kesempatan adalah cara mudah membedakan keduanya.

Kuliner bagi Makassar ibarat jantung, memompa “darah” kehidupan ke seluruh penjuru kota. Setiap yang bermulut boleh makan yang mereka suka, sesuai selera dan kesanggupan. Yang pasti, jalangkote adalah jajanan sejuta umat. Di mana-mana ada jalangkote; dijual satuan bagi mereka yang mau makan di pinggir jalan, serta disajikan kepada para pejabat yang rapat di gedung-gedung pemerintahan.

Ketiga, fenomena. Bab ini yang paling banyak “makan” kertas. Jumlahnya 16 tulisan, digarap sembilan penulis. Ketiga penyunting buku pun ikut urun tulisan. Anwar J. Rachman menulis “Bukan Sirkus Bukan Sihir”, “Kisah Semut Biru Makassar”, dan “Monas pun Ada di Makassar”, M. Aan Mansyur dengan “Seperti Musa Membelah Laut Merah” dan “Mei, Sepupunya, dan Lelaki Bersorban”, lalu Nurhadi Simorok dalam “Passiara Kota”.

Para penulis lainnya adalah Nur Chaerul (“Garring Apai Nona: Adakah Lagu Membumi Setelahnya?”, “Raksasa Tua yang Hampir Mati”, dan “Liku Hidup Pemain Elekton”),  Wahyu Chandra (“Makassar di Gamasi, Gamasi di Makassar” dan “Puang-puang dalam Birokrasi”), juga Rizal Suaib (“Berburu Cakar di Makassar”).

Sisanya oleh M. Nur Abdurrahman (“Bukan Kutub Utara, Bukan Kutub Selatan” dan “Bahasa Prokem di Makassar”), Irawan Amiruddin (“Busur, Papporo, dan Ramadan”), serta Ilham Halimsyah (“Memotren Pernikahan di Makassar”).

Keempat, ruang. Kalau ketiga bab tadi berisi pengisahan keseharian orang-orang (di) Makassar, maka bab penggenapan ini mengkhususkan dirinya pada ruang-ruang kehidupan yang membangun sebuah kota raya bernama Makassar. Hadirnya bab ini sekaligus menggenapi definisi Makassar, “luar-dalam”.

Bahwa ke-Makassar-an dibentuk oleh orang-orangnya adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tetapi, di lain sisi, pun harus diakui bahwa corak pemikiran, pandangan hidup, juga keadaan mental orang-orang yang menentukan ke-Makassar-an itu sangat ditentukan oleh “dialog” setiap detik mereka dengan lingkungan sekitarnya.

Manusia tidak bakal mampu melakukan “di situ langit dijunjung” bila jelas “di mana bumi dipijak”. Sedang mayat saja punya tempat merebahkan badan, apalagi manusia yang perjuangan banting-tulang dalam hidup. Manusia Makassar, sebut saja begitu, adalah manusia yang pantang berputus asa, termasuk terhadap lingkungan yang berubah semakin cepat, dari hari ke hari.

Adakah Kesempatan ke Makassar?

Jawaban ada dua: mungkin iya atau bisa jadi tidak. Bagi yang pernah lahir dan hidup di Makassar tapi raga telah jauh berkelana, buku ini adalah sebuah nostalgia. Sebut saja album kenangan. Setiap halamannya adalah panggilan terhadap apa-apa yang telanjur tertimbun di dasar ingatan.

Sedang bagi pembacanya yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di Kota Daeng, menghirup asap ikan bakar dekat pantai Losari, ataupun terjebak tawuran remaja di bulan ramadan, buku ini adalah tiket tamasya imajinatif. Dikatakan imajinatif sebab pengertian yang masuk ke benak pembaca tidak mengambil bentuk konkret seperti melihat Makassar di gawai. Perbedaan pengalaman pembacaan ini tidak perlu ditandingkan, sebab keduanya dapat saling melengkapi, seperti lengkapnya depan dan belakang selembar uang rupiah.

Nah, di antara dua kalangan itu, ada orang-orang (di) Makassar, yang menanggung tugas abadi dari Tuhan. Nirwan Ahmad Arsuka meriwayatkan tugas ini dalam pengantarnya: “memulung dan menyelamatkan sejumlah hal yang berbau Makassar, yang kini mulai terserak diabaikan oleh arus perubahan zaman.”[]

Penulis: Moch. Ferdi Al Qadri
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuMakassar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanda Merah di Paha

Next Post

Glosarium Krisis Sampah Bali

Moch. Ferdi Al Qadri

Moch. Ferdi Al Qadri

Interaksi Bookstore Mamuju. IG: @ferdi_alqadri

Related Posts

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails
Next Post
Glosarium Krisis Sampah Bali

Glosarium Krisis Sampah Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co