- Judul: Makasssar Nol Kilometer
- Penulis: Anwar J. Rahman, dkk.
- Penerbit: Tanahindie Press
- Tahun: 2014
- Halaman: xviii + 255
MAKASSAR-NYA satu, tapi cara pandang terhadapnya bisa banyak. Bisa pakai kacamata sejarah, bisa dalam angka-angka statistik, bisa lewat jalur dagang. Bisa semua. Itu sebabnya buku-buku mengenai Makassar terus terbit. Seperti tak ada habisnya.
Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, yang memakai pola ketahanan nasional untuk “mendekati” Makassar, menerbitkan Profil Propinsi Republik Indonesia: Sulawesi Selatan pada tahun 1992. Gubernur saat itu, Zainal Basrie Palaguna, mengharapkan agar buku itu membantu para pemilik modal lebih mengerti tentang “potensi” Sulawesi Selatan (yang mana Makassar adalah pusatnya). Sehingga dapat “memacu percepatan pembangunan.”
Buku yang dibubuhi kata sambutan dari Presiden Soeharto itu disusun “dari atas”, diterbitkan berpamrih agar orang-orang yang punya banyak uang, yang digitnya lebih dari tujuh, bersedia menanam modal “di bawah”. Buku turut menderaskan arus pembangunan.
Janji Makassar
Kalau ada buku yang merangkum Makassar dalam garis besar, maka ada juga buku yang memotretnya sepenggal demi sepenggal. Buku itu diberi judul Makassar Nol Kilometer, diterbitkan Tanahindie Press pada 2014. Buku memuat kumpulan tulisan penulis dari Makassar.
Mereka menulis dengan jujur, apa adanya, tanpa teori muluk-muluk. Makassar yang tertulis adalah Makassar yang menjadi alamat tukang becak yang berkeringat seharian dan penjual ikan yang berkali-kali pasarnya dipindahkan pemerintah daerah. Juga cerita dari para pemilik warung coto, serta pengusaha iklan yang ramai orderan di masa kampanye pemilu.
Makassar, sang metropolis, adalah kota yang “menyala” selama 24/7. Makassar adalah lampu bohlam yang bersinar terang, “menjanjikan” kehangatan dan kehidupan kepada banyak orang yang datang mengerubunginya seperti laron yang beterbangan.
Empat Pintu Masuk Makassar
Makassar Nol Kilometer terbagi dalam empat “kamar”, dengan “penghuni” yang berbeda-beda, sejak “Pengawal Pasukan Ramang” di udik sampai “Balada Kafe-kafe Pantai Losari” di hilir. Bhinneka Tunggal Ika, kata guru Pendidikan Pancasila.
Pertama, komunitas. KBBI mendefinisikan lema komunitas sebagai “kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban”. Ada tujuh tulisan di dalamnya. Salah satu yang mencolok adalah “Kehidupan Payabo Santaria” garapan Rizal Suaib.
Payabo berarti pemulung dalam bahasa Makassar. Rizal Suaib menulis sesuatu yang agak mengejutkan: “Profesi sebagai payabo dianggap demikian menjanjikan, jika dilihat dari segi pendapatan. Karenanya jenis pekerjaan seperti ini di Santaria ternyata diwariskan, entah ke saudara, sepupu ataupun teman yang datang dari kampung dan tidak punya pekerjaan.”
Semenjanjikan-menjanjikannya hasil ma’yabo (memulung), mendaki ke puncak kelas ekonomi tetap mustahil, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Satu media daring bahkan baru-baru ini (19 Maret 2026) merilis berita menyangkut meningkatnya jumlah payabo yang tidur di becaknya di pinggir jalan raya. Siapa sanggup memutus rantai kemiskinan yang membelenggu mereka, dari generasi ke generasi?
Kedua, kuliner. Makassar adalah surganya jajanan. Mau yang diseduh, ada sarabba. Mau yang digoreng, ada jalangkote. Yang segar di bawah terik matahari, ada es poteng. Yang cocok menemani begadang kerja skripsi, ada songkolo’.
Sejumlah jajanan tadi termasuk yang khas Makassar. Kemiripan dengan kuliner dari daerah lain tidak lebih dari “kemiripan” saja. Misalnya, sarabba merupakan “varian” wedang jahe yang ditambahi gula aren dan santan. Sedang jalangkote umum disebut pastel di pulau-pulau di seberang Sulawesi. Mencicipi keduanya dalam satu kesempatan adalah cara mudah membedakan keduanya.
Kuliner bagi Makassar ibarat jantung, memompa “darah” kehidupan ke seluruh penjuru kota. Setiap yang bermulut boleh makan yang mereka suka, sesuai selera dan kesanggupan. Yang pasti, jalangkote adalah jajanan sejuta umat. Di mana-mana ada jalangkote; dijual satuan bagi mereka yang mau makan di pinggir jalan, serta disajikan kepada para pejabat yang rapat di gedung-gedung pemerintahan.
Ketiga, fenomena. Bab ini yang paling banyak “makan” kertas. Jumlahnya 16 tulisan, digarap sembilan penulis. Ketiga penyunting buku pun ikut urun tulisan. Anwar J. Rachman menulis “Bukan Sirkus Bukan Sihir”, “Kisah Semut Biru Makassar”, dan “Monas pun Ada di Makassar”, M. Aan Mansyur dengan “Seperti Musa Membelah Laut Merah” dan “Mei, Sepupunya, dan Lelaki Bersorban”, lalu Nurhadi Simorok dalam “Passiara Kota”.
Para penulis lainnya adalah Nur Chaerul (“Garring Apai Nona: Adakah Lagu Membumi Setelahnya?”, “Raksasa Tua yang Hampir Mati”, dan “Liku Hidup Pemain Elekton”), Wahyu Chandra (“Makassar di Gamasi, Gamasi di Makassar” dan “Puang-puang dalam Birokrasi”), juga Rizal Suaib (“Berburu Cakar di Makassar”).
Sisanya oleh M. Nur Abdurrahman (“Bukan Kutub Utara, Bukan Kutub Selatan” dan “Bahasa Prokem di Makassar”), Irawan Amiruddin (“Busur, Papporo, dan Ramadan”), serta Ilham Halimsyah (“Memotren Pernikahan di Makassar”).
Keempat, ruang. Kalau ketiga bab tadi berisi pengisahan keseharian orang-orang (di) Makassar, maka bab penggenapan ini mengkhususkan dirinya pada ruang-ruang kehidupan yang membangun sebuah kota raya bernama Makassar. Hadirnya bab ini sekaligus menggenapi definisi Makassar, “luar-dalam”.
Bahwa ke-Makassar-an dibentuk oleh orang-orangnya adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tetapi, di lain sisi, pun harus diakui bahwa corak pemikiran, pandangan hidup, juga keadaan mental orang-orang yang menentukan ke-Makassar-an itu sangat ditentukan oleh “dialog” setiap detik mereka dengan lingkungan sekitarnya.
Manusia tidak bakal mampu melakukan “di situ langit dijunjung” bila jelas “di mana bumi dipijak”. Sedang mayat saja punya tempat merebahkan badan, apalagi manusia yang perjuangan banting-tulang dalam hidup. Manusia Makassar, sebut saja begitu, adalah manusia yang pantang berputus asa, termasuk terhadap lingkungan yang berubah semakin cepat, dari hari ke hari.
Adakah Kesempatan ke Makassar?
Jawaban ada dua: mungkin iya atau bisa jadi tidak. Bagi yang pernah lahir dan hidup di Makassar tapi raga telah jauh berkelana, buku ini adalah sebuah nostalgia. Sebut saja album kenangan. Setiap halamannya adalah panggilan terhadap apa-apa yang telanjur tertimbun di dasar ingatan.
Sedang bagi pembacanya yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di Kota Daeng, menghirup asap ikan bakar dekat pantai Losari, ataupun terjebak tawuran remaja di bulan ramadan, buku ini adalah tiket tamasya imajinatif. Dikatakan imajinatif sebab pengertian yang masuk ke benak pembaca tidak mengambil bentuk konkret seperti melihat Makassar di gawai. Perbedaan pengalaman pembacaan ini tidak perlu ditandingkan, sebab keduanya dapat saling melengkapi, seperti lengkapnya depan dan belakang selembar uang rupiah.
Nah, di antara dua kalangan itu, ada orang-orang (di) Makassar, yang menanggung tugas abadi dari Tuhan. Nirwan Ahmad Arsuka meriwayatkan tugas ini dalam pengantarnya: “memulung dan menyelamatkan sejumlah hal yang berbau Makassar, yang kini mulai terserak diabaikan oleh arus perubahan zaman.”[]
Penulis: Moch. Ferdi Al Qadri
Editor: Adnyana Ole





























