30 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makassar yang Sempat Terabaikan

Moch. Ferdi Al Qadri by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
in Ulas Buku
Makassar yang Sempat Terabaikan

Buku Makasssar Nol Kilometer

  • Judul: Makasssar Nol Kilometer
  • Penulis: Anwar J. Rahman, dkk.
  • Penerbit: Tanahindie Press
  • Tahun: 2014
  • Halaman: xviii + 255

MAKASSAR-NYA satu, tapi cara pandang terhadapnya bisa banyak. Bisa pakai kacamata sejarah, bisa dalam angka-angka statistik, bisa lewat jalur dagang. Bisa semua. Itu sebabnya buku-buku mengenai Makassar terus terbit. Seperti tak ada habisnya.

Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, yang memakai pola ketahanan nasional untuk “mendekati” Makassar, menerbitkan Profil Propinsi Republik Indonesia: Sulawesi Selatan pada tahun 1992. Gubernur saat itu, Zainal Basrie Palaguna, mengharapkan agar buku itu membantu para pemilik modal lebih mengerti tentang “potensi” Sulawesi Selatan (yang mana Makassar adalah pusatnya). Sehingga dapat “memacu percepatan pembangunan.”

Buku yang dibubuhi kata sambutan dari Presiden Soeharto itu disusun “dari atas”, diterbitkan berpamrih agar orang-orang yang punya banyak uang, yang digitnya lebih dari tujuh, bersedia menanam modal “di bawah”. Buku turut menderaskan arus pembangunan.

Janji Makassar

Kalau ada buku yang merangkum Makassar dalam garis besar, maka ada juga buku yang memotretnya sepenggal demi sepenggal. Buku itu diberi judul Makassar Nol Kilometer, diterbitkan Tanahindie Press pada 2014. Buku memuat kumpulan tulisan penulis dari Makassar.

Mereka menulis dengan jujur, apa adanya, tanpa teori muluk-muluk. Makassar yang tertulis adalah Makassar yang menjadi alamat tukang becak yang berkeringat seharian dan penjual ikan yang berkali-kali pasarnya dipindahkan pemerintah daerah. Juga cerita dari para pemilik warung coto, serta pengusaha iklan yang ramai orderan di masa kampanye pemilu.

Makassar, sang metropolis, adalah kota yang “menyala” selama 24/7. Makassar adalah lampu bohlam yang bersinar terang, “menjanjikan” kehangatan dan kehidupan kepada banyak orang yang datang mengerubunginya seperti laron yang beterbangan.

Empat Pintu Masuk Makassar

Makassar Nol Kilometer terbagi dalam empat “kamar”, dengan “penghuni” yang berbeda-beda, sejak “Pengawal Pasukan Ramang” di udik sampai “Balada Kafe-kafe Pantai Losari” di hilir. Bhinneka Tunggal Ika, kata guru Pendidikan Pancasila.

Pertama, komunitas. KBBI mendefinisikan lema komunitas sebagai “kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban”. Ada tujuh tulisan di dalamnya. Salah satu yang mencolok adalah “Kehidupan Payabo Santaria” garapan Rizal Suaib.

Payabo berarti pemulung dalam bahasa Makassar. Rizal Suaib menulis sesuatu yang agak mengejutkan: “Profesi sebagai payabo dianggap demikian menjanjikan, jika dilihat dari segi pendapatan. Karenanya jenis pekerjaan seperti ini di Santaria ternyata diwariskan, entah ke saudara, sepupu ataupun teman yang datang dari kampung dan tidak punya pekerjaan.”

Semenjanjikan-menjanjikannya hasil ma’yabo (memulung), mendaki ke puncak kelas ekonomi tetap mustahil, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Satu media daring bahkan baru-baru ini (19 Maret 2026) merilis berita menyangkut meningkatnya jumlah payabo yang tidur di becaknya di pinggir jalan raya. Siapa sanggup memutus rantai kemiskinan yang membelenggu mereka, dari generasi ke generasi?

Kedua, kuliner. Makassar adalah surganya jajanan. Mau yang diseduh, ada sarabba. Mau yang digoreng, ada jalangkote. Yang segar di bawah terik matahari, ada es poteng. Yang cocok menemani begadang kerja skripsi, ada songkolo’.

Sejumlah jajanan tadi termasuk yang khas Makassar. Kemiripan dengan kuliner dari daerah lain tidak lebih dari “kemiripan” saja. Misalnya, sarabba merupakan “varian” wedang jahe yang ditambahi gula aren dan santan. Sedang jalangkote umum disebut pastel di pulau-pulau di seberang Sulawesi. Mencicipi keduanya dalam satu kesempatan adalah cara mudah membedakan keduanya.

Kuliner bagi Makassar ibarat jantung, memompa “darah” kehidupan ke seluruh penjuru kota. Setiap yang bermulut boleh makan yang mereka suka, sesuai selera dan kesanggupan. Yang pasti, jalangkote adalah jajanan sejuta umat. Di mana-mana ada jalangkote; dijual satuan bagi mereka yang mau makan di pinggir jalan, serta disajikan kepada para pejabat yang rapat di gedung-gedung pemerintahan.

Ketiga, fenomena. Bab ini yang paling banyak “makan” kertas. Jumlahnya 16 tulisan, digarap sembilan penulis. Ketiga penyunting buku pun ikut urun tulisan. Anwar J. Rachman menulis “Bukan Sirkus Bukan Sihir”, “Kisah Semut Biru Makassar”, dan “Monas pun Ada di Makassar”, M. Aan Mansyur dengan “Seperti Musa Membelah Laut Merah” dan “Mei, Sepupunya, dan Lelaki Bersorban”, lalu Nurhadi Simorok dalam “Passiara Kota”.

Para penulis lainnya adalah Nur Chaerul (“Garring Apai Nona: Adakah Lagu Membumi Setelahnya?”, “Raksasa Tua yang Hampir Mati”, dan “Liku Hidup Pemain Elekton”),  Wahyu Chandra (“Makassar di Gamasi, Gamasi di Makassar” dan “Puang-puang dalam Birokrasi”), juga Rizal Suaib (“Berburu Cakar di Makassar”).

Sisanya oleh M. Nur Abdurrahman (“Bukan Kutub Utara, Bukan Kutub Selatan” dan “Bahasa Prokem di Makassar”), Irawan Amiruddin (“Busur, Papporo, dan Ramadan”), serta Ilham Halimsyah (“Memotren Pernikahan di Makassar”).

Keempat, ruang. Kalau ketiga bab tadi berisi pengisahan keseharian orang-orang (di) Makassar, maka bab penggenapan ini mengkhususkan dirinya pada ruang-ruang kehidupan yang membangun sebuah kota raya bernama Makassar. Hadirnya bab ini sekaligus menggenapi definisi Makassar, “luar-dalam”.

Bahwa ke-Makassar-an dibentuk oleh orang-orangnya adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tetapi, di lain sisi, pun harus diakui bahwa corak pemikiran, pandangan hidup, juga keadaan mental orang-orang yang menentukan ke-Makassar-an itu sangat ditentukan oleh “dialog” setiap detik mereka dengan lingkungan sekitarnya.

Manusia tidak bakal mampu melakukan “di situ langit dijunjung” bila jelas “di mana bumi dipijak”. Sedang mayat saja punya tempat merebahkan badan, apalagi manusia yang perjuangan banting-tulang dalam hidup. Manusia Makassar, sebut saja begitu, adalah manusia yang pantang berputus asa, termasuk terhadap lingkungan yang berubah semakin cepat, dari hari ke hari.

Adakah Kesempatan ke Makassar?

Jawaban ada dua: mungkin iya atau bisa jadi tidak. Bagi yang pernah lahir dan hidup di Makassar tapi raga telah jauh berkelana, buku ini adalah sebuah nostalgia. Sebut saja album kenangan. Setiap halamannya adalah panggilan terhadap apa-apa yang telanjur tertimbun di dasar ingatan.

Sedang bagi pembacanya yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di Kota Daeng, menghirup asap ikan bakar dekat pantai Losari, ataupun terjebak tawuran remaja di bulan ramadan, buku ini adalah tiket tamasya imajinatif. Dikatakan imajinatif sebab pengertian yang masuk ke benak pembaca tidak mengambil bentuk konkret seperti melihat Makassar di gawai. Perbedaan pengalaman pembacaan ini tidak perlu ditandingkan, sebab keduanya dapat saling melengkapi, seperti lengkapnya depan dan belakang selembar uang rupiah.

Nah, di antara dua kalangan itu, ada orang-orang (di) Makassar, yang menanggung tugas abadi dari Tuhan. Nirwan Ahmad Arsuka meriwayatkan tugas ini dalam pengantarnya: “memulung dan menyelamatkan sejumlah hal yang berbau Makassar, yang kini mulai terserak diabaikan oleh arus perubahan zaman.”[]

Penulis: Moch. Ferdi Al Qadri
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuMakassar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanda Merah di Paha

Next Post

Glosarium Krisis Sampah Bali

Moch. Ferdi Al Qadri

Moch. Ferdi Al Qadri

Interaksi Bookstore Mamuju. IG: @ferdi_alqadri

Related Posts

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails
Next Post
Glosarium Krisis Sampah Bali

Glosarium Krisis Sampah Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia
Panggung

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
Mereka Menunggu di Setia Darma 
Tualang

Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!
Gaya

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah...

by tatkala
May 29, 2026
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI
Esai

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co