27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makassar yang Sempat Terabaikan

Moch. Ferdi Al Qadri by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
in Ulas Buku
Makassar yang Sempat Terabaikan

Buku Makasssar Nol Kilometer

  • Judul: Makasssar Nol Kilometer
  • Penulis: Anwar J. Rahman, dkk.
  • Penerbit: Tanahindie Press
  • Tahun: 2014
  • Halaman: xviii + 255

MAKASSAR-NYA satu, tapi cara pandang terhadapnya bisa banyak. Bisa pakai kacamata sejarah, bisa dalam angka-angka statistik, bisa lewat jalur dagang. Bisa semua. Itu sebabnya buku-buku mengenai Makassar terus terbit. Seperti tak ada habisnya.

Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, yang memakai pola ketahanan nasional untuk “mendekati” Makassar, menerbitkan Profil Propinsi Republik Indonesia: Sulawesi Selatan pada tahun 1992. Gubernur saat itu, Zainal Basrie Palaguna, mengharapkan agar buku itu membantu para pemilik modal lebih mengerti tentang “potensi” Sulawesi Selatan (yang mana Makassar adalah pusatnya). Sehingga dapat “memacu percepatan pembangunan.”

Buku yang dibubuhi kata sambutan dari Presiden Soeharto itu disusun “dari atas”, diterbitkan berpamrih agar orang-orang yang punya banyak uang, yang digitnya lebih dari tujuh, bersedia menanam modal “di bawah”. Buku turut menderaskan arus pembangunan.

Janji Makassar

Kalau ada buku yang merangkum Makassar dalam garis besar, maka ada juga buku yang memotretnya sepenggal demi sepenggal. Buku itu diberi judul Makassar Nol Kilometer, diterbitkan Tanahindie Press pada 2014. Buku memuat kumpulan tulisan penulis dari Makassar.

Mereka menulis dengan jujur, apa adanya, tanpa teori muluk-muluk. Makassar yang tertulis adalah Makassar yang menjadi alamat tukang becak yang berkeringat seharian dan penjual ikan yang berkali-kali pasarnya dipindahkan pemerintah daerah. Juga cerita dari para pemilik warung coto, serta pengusaha iklan yang ramai orderan di masa kampanye pemilu.

Makassar, sang metropolis, adalah kota yang “menyala” selama 24/7. Makassar adalah lampu bohlam yang bersinar terang, “menjanjikan” kehangatan dan kehidupan kepada banyak orang yang datang mengerubunginya seperti laron yang beterbangan.

Empat Pintu Masuk Makassar

Makassar Nol Kilometer terbagi dalam empat “kamar”, dengan “penghuni” yang berbeda-beda, sejak “Pengawal Pasukan Ramang” di udik sampai “Balada Kafe-kafe Pantai Losari” di hilir. Bhinneka Tunggal Ika, kata guru Pendidikan Pancasila.

Pertama, komunitas. KBBI mendefinisikan lema komunitas sebagai “kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban”. Ada tujuh tulisan di dalamnya. Salah satu yang mencolok adalah “Kehidupan Payabo Santaria” garapan Rizal Suaib.

Payabo berarti pemulung dalam bahasa Makassar. Rizal Suaib menulis sesuatu yang agak mengejutkan: “Profesi sebagai payabo dianggap demikian menjanjikan, jika dilihat dari segi pendapatan. Karenanya jenis pekerjaan seperti ini di Santaria ternyata diwariskan, entah ke saudara, sepupu ataupun teman yang datang dari kampung dan tidak punya pekerjaan.”

Semenjanjikan-menjanjikannya hasil ma’yabo (memulung), mendaki ke puncak kelas ekonomi tetap mustahil, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Satu media daring bahkan baru-baru ini (19 Maret 2026) merilis berita menyangkut meningkatnya jumlah payabo yang tidur di becaknya di pinggir jalan raya. Siapa sanggup memutus rantai kemiskinan yang membelenggu mereka, dari generasi ke generasi?

Kedua, kuliner. Makassar adalah surganya jajanan. Mau yang diseduh, ada sarabba. Mau yang digoreng, ada jalangkote. Yang segar di bawah terik matahari, ada es poteng. Yang cocok menemani begadang kerja skripsi, ada songkolo’.

Sejumlah jajanan tadi termasuk yang khas Makassar. Kemiripan dengan kuliner dari daerah lain tidak lebih dari “kemiripan” saja. Misalnya, sarabba merupakan “varian” wedang jahe yang ditambahi gula aren dan santan. Sedang jalangkote umum disebut pastel di pulau-pulau di seberang Sulawesi. Mencicipi keduanya dalam satu kesempatan adalah cara mudah membedakan keduanya.

Kuliner bagi Makassar ibarat jantung, memompa “darah” kehidupan ke seluruh penjuru kota. Setiap yang bermulut boleh makan yang mereka suka, sesuai selera dan kesanggupan. Yang pasti, jalangkote adalah jajanan sejuta umat. Di mana-mana ada jalangkote; dijual satuan bagi mereka yang mau makan di pinggir jalan, serta disajikan kepada para pejabat yang rapat di gedung-gedung pemerintahan.

Ketiga, fenomena. Bab ini yang paling banyak “makan” kertas. Jumlahnya 16 tulisan, digarap sembilan penulis. Ketiga penyunting buku pun ikut urun tulisan. Anwar J. Rachman menulis “Bukan Sirkus Bukan Sihir”, “Kisah Semut Biru Makassar”, dan “Monas pun Ada di Makassar”, M. Aan Mansyur dengan “Seperti Musa Membelah Laut Merah” dan “Mei, Sepupunya, dan Lelaki Bersorban”, lalu Nurhadi Simorok dalam “Passiara Kota”.

Para penulis lainnya adalah Nur Chaerul (“Garring Apai Nona: Adakah Lagu Membumi Setelahnya?”, “Raksasa Tua yang Hampir Mati”, dan “Liku Hidup Pemain Elekton”),  Wahyu Chandra (“Makassar di Gamasi, Gamasi di Makassar” dan “Puang-puang dalam Birokrasi”), juga Rizal Suaib (“Berburu Cakar di Makassar”).

Sisanya oleh M. Nur Abdurrahman (“Bukan Kutub Utara, Bukan Kutub Selatan” dan “Bahasa Prokem di Makassar”), Irawan Amiruddin (“Busur, Papporo, dan Ramadan”), serta Ilham Halimsyah (“Memotren Pernikahan di Makassar”).

Keempat, ruang. Kalau ketiga bab tadi berisi pengisahan keseharian orang-orang (di) Makassar, maka bab penggenapan ini mengkhususkan dirinya pada ruang-ruang kehidupan yang membangun sebuah kota raya bernama Makassar. Hadirnya bab ini sekaligus menggenapi definisi Makassar, “luar-dalam”.

Bahwa ke-Makassar-an dibentuk oleh orang-orangnya adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tetapi, di lain sisi, pun harus diakui bahwa corak pemikiran, pandangan hidup, juga keadaan mental orang-orang yang menentukan ke-Makassar-an itu sangat ditentukan oleh “dialog” setiap detik mereka dengan lingkungan sekitarnya.

Manusia tidak bakal mampu melakukan “di situ langit dijunjung” bila jelas “di mana bumi dipijak”. Sedang mayat saja punya tempat merebahkan badan, apalagi manusia yang perjuangan banting-tulang dalam hidup. Manusia Makassar, sebut saja begitu, adalah manusia yang pantang berputus asa, termasuk terhadap lingkungan yang berubah semakin cepat, dari hari ke hari.

Adakah Kesempatan ke Makassar?

Jawaban ada dua: mungkin iya atau bisa jadi tidak. Bagi yang pernah lahir dan hidup di Makassar tapi raga telah jauh berkelana, buku ini adalah sebuah nostalgia. Sebut saja album kenangan. Setiap halamannya adalah panggilan terhadap apa-apa yang telanjur tertimbun di dasar ingatan.

Sedang bagi pembacanya yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di Kota Daeng, menghirup asap ikan bakar dekat pantai Losari, ataupun terjebak tawuran remaja di bulan ramadan, buku ini adalah tiket tamasya imajinatif. Dikatakan imajinatif sebab pengertian yang masuk ke benak pembaca tidak mengambil bentuk konkret seperti melihat Makassar di gawai. Perbedaan pengalaman pembacaan ini tidak perlu ditandingkan, sebab keduanya dapat saling melengkapi, seperti lengkapnya depan dan belakang selembar uang rupiah.

Nah, di antara dua kalangan itu, ada orang-orang (di) Makassar, yang menanggung tugas abadi dari Tuhan. Nirwan Ahmad Arsuka meriwayatkan tugas ini dalam pengantarnya: “memulung dan menyelamatkan sejumlah hal yang berbau Makassar, yang kini mulai terserak diabaikan oleh arus perubahan zaman.”[]

Penulis: Moch. Ferdi Al Qadri
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuMakassar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanda Merah di Paha

Next Post

Glosarium Krisis Sampah Bali

Moch. Ferdi Al Qadri

Moch. Ferdi Al Qadri

Interaksi Bookstore Mamuju. IG: @ferdi_alqadri

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Glosarium Krisis Sampah Bali

Glosarium Krisis Sampah Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co