24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Putu Lina Kamelia by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
in Ulas Buku
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Lina Kamelia (tengah) | Foto: Komunitas Mahima

  • Judul Buku : Dokter Gila
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
  • Penerbit : Tatkala
  • Tahun : 2025

RUMAH itu mungil saja. Kesan pertama saya, unik sekaligus asri. Tanaman bersulur dan peneduh berebut tempat berbagi memberi oksigen. Letaknya yang di pinggir laut memberi aroma segar nan sehat. Sebagai seorang fraghead, saya dapati hidung saya tergelitik sesekali oleh lean, fresh, airy khas aroma laut. So refreshing but warm at the same time. 

Saat menjejakkan kaki di Rumah Belajar Komunitas Mahima, suasana ramai dan hangat menyambut saya. Mereka, para undangan bedah buku, nampaknya excited. Om Ole (Made Adnyana Ole) dan nyonya, Bu Sonia (Kadek Sonia Piscayanti), wanita menarik dengan dres batik coklat elegan, si empunya rumah sekaligus sanggar literasi ini menyalami saya dengan ramah.

Kami mengobrol di bangk-bangku kayu sambil menunggu para hadirin. Sesekali saya melepaskan pandangan menyapu ruangan nuansa rustic di depan saya. Ratusan buku berjajar rapi. Saya merasa pasti Bu Sonia-lah yang punya ide menata interior senyaman ini. Atau mungkin saya salah, jangan-jangan justru Om Ole yang eksentrik itu yang menata kediamannya asyik begini? Ah, nanti saya tanyakan.

Para tetamu yang hadir berasal dari berbagai latar belakang. Mahasiswa, sastrawan, bahkan masyarakat umum yang jelas mereka tentunya punya ketertarikan pada event literasi seperti ini.

Suatu kehormatan bagi saya, wanita jelita, jelang lima puluh tahun, seorang ibu rumah tangga tanpa memiliki karya sastra apapun, yang selama ini hanya sekali dua kali mencoba menuangkan isi pikiran yang kebetulan lewat dalam bentuk tulisan di media sosial, duduk manis menjadi “ahli bedah” buku ke-7 sahabat saya. Ia, seorang dokter ahli macam-macam. Mulai dari dokter spesialis penyakit dalam, penulis, filantrofis, ketua ormas, aktivis kemanusiaan pula. Jika saya coba sebut satu-satu, CV beliau yang menyilaukan itu, rasanya tidak akan cukup satu halaman.  

Acara dibuka dengan potong tumpeng, tanda syukur terhadap awal usaha baru mereka si empunya rumah unik, Toko Buku Anima. Syukurlah, Bu Sonia akhirnya membuka toko buku di Singaraja, yang saya yakin, sebagian besar masyarakatnya haus akan kemudahan pemenuhan kebutuhan literasi. Buku-buku yang saya lihat tertata rapi di-display kebanyakan buku-buku fiksi berupa novel, kumpulan cerita pendek dan puisi dari penulis dan sastrawan yang tentunya sudah wellknown di dunia kekusastraan Indonesia.

Buku-buku Dokter Arya (Putu Arya Nugraha), the star of the day, juga terpampang rapi mengisi  rak-rak yang dipenuhi buku menarik. Hmm…saya jadi ingat impian masa kecil untuk menjadi penulis dan memampang buku saya di rak toko buku. Semoga suatu saat kesempatan itu menghampiri saya.

Saat ini, Pak Bro Arya, mencoba mengeksplorasi kelihaiannya berimajinasi dengan menerbitkan kumpulan cerita pendek dengan judul bombastis, Dokter Gila. Tentunya, pemilihan judul tersebut tidak lepas dari masukan tangan dingin Om Ole, yang berkontribusi besar dalam penerbitan tulisan-tulisan beliau melalui Mahima.  

Di hadapan sekitar 50 orang hadirin, kami duduk santai saling memberi ruang bagi perspektif dalam kepala kami tentang buku kumpulan cerpen (kumcer) Dokter Gila Gia, seorang anthropologist bersuara renyah menjadi moderator pada sesi ini. Nampak wajah-wajah yang saya kenal hadir, tentu saja, karena mereka adalah para dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha, tempat saya dan Dokter Arya mengajar, notabene mereka adalah murid-murid kami.

Beberapa sejawat dokter serta paramedis juga hadir dengan antusias. Event invitation memang terbuka untuk umum. Mungkin karena yang menulis adalah seorang dokter sehingga ada keingintahuan mereka untuk mengikuti acara ini.

Saya tidak sendirian duduk di depan sebagai pembedah. Pak, Mas, eh… apa ya sebutan untuk jurnalis murah senyum di sebelah saya ini. Pak Yahya Umar, jurnalis yang juga sastrawan yang sudah malang melintang di dunia persilatan kesusastraan Indonesia. Kabarnya beliau juga sudah merilis beberapa novel fiksi. Om Ole sendiri, editor buku ini, membuka bincang-bicang seru kami dengan menyampaikan alasan mengapa beliau memilih cerpen Dokter Gila sebagai judul buku.

Judulnya, menurut saya cukup anti-mainstream. Demikian juga pemilihan warna cerah (corn yellow) dengan ukuran dan tipe font yang mencolok, tentunya memiliki alasan non-jurnalistik. Sebuah buku, jika sudah diterbitkan maka ia sudah menjadi komoditas, sehingga dari sisi marketing hal-hal ini memang mendukung.

Buku kumcer ini tipis saja menurut saya. Terdiri dari 192 halaman dengan 16 cerpen dengan berbagai tema. Saat membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, saya sebagai seorang teman yang cukup sering membaca tulisan beliau sejak menulis buku pertamanya, cukup familiar dengan pemilihan diksi, alur pikir, pun gaya bahasa yang dipilihnya. Dengan pengalamannya berkecimpung dalam dunia medis selama 2 dekade lebih, tentunya banyak pengalaman unik yang dimiliki oleh Dokter Arya yang memang piawai dalam meramu berbagai tulisan popular.

Berbagai pengalaman dalam menangani pasien disulap olehnya menjadi beberapa cerpen yang dimuat di buku ini. Demikian pula pengalaman sejawat lain yang juga ia gubah menjadi cerpen. Pengalaman pribadi di kampung halaman, pun saat mengabdikan diri di luar Pulau Bali ia ulik menjadi cerita yang menarik. Tidak hanya berhenti sampai disana, daya khayal dengan back up literasi mumpuni terkait isu sosial serta fenomena ekstrateresterial ia coba tuangkan dalam beberapa cerpen dalam buku ini.

Saya menyebutnya sebagai suatu langkah yang cukup extraordinary mengingat latar belakang beliau yang seorang dokter. Seorang dokter menjadi penulis cerpen saja adalah hal yang tidak biasa, terlebih lagi cerpen dengan tema-tema unik di luar tema medis. Tentunya membuat buku ini memiliki nilai lebih.

Dengan tema yang cukup wide range ini menunjukkan keberaniannya dalam mencoba hal-hal baru tentunya dengan latar belakang literasi serta common knowledge terhadap isu-isu terbaru yang relevan dengan pembaca saat ini. Namun lagi-lagi ada sedikit hal yang perlu saya garisbawahi terkait relevansi peristiwa, latar dengan penokohan pada beberapa cerpen nampak cukup absurd di mata saya.

Mengingat setiap buku sebenarnya, bagaimana pun, akan memiliki pangsa pasar tersendiri berbasis kelompok umur. Saya juga masih belum sempat menanyakan apakah penikmat buku ini yang diharapkan adalah para remaja gen Z atau gen X bahkan boomer? Walaupun, sekali lagi, buku apapun dapat dinikmati oleh pembaca tanpa batasan umur. Yang penting bisa baca dan berminat, monggo! Begitu idealnya.

  • Klik untuk lihat info buku
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Cerpen ke-10 di buku ini yang justru menarik perhatian saya. Tas untuk Istri Dokter, demikian judulnya. Dilihat dari latar belakang penulis yang seorang dokter, tentunya penulis akan mudah menyelipkan suasana maupun berbagai terminologi medis sebagai bumbu pemanis cerita. Cerita tentang Dokter Nugie yang flamboyant, memiliki soft skill mumpuni dalam menjalin komunikasi dengan klien, cepat tanggap memberi respon setiap pesan yang masuk lewat Whatsapp, termasuk pesan dari Shinta, wanita muda yang telah bersuami, high social status, charming (entah kenapa saya langsung membayangkan Dian Sastro sempurna sebagai tokoh Shinta). Ada cinta yang tidak tersurat dalam cerpen itu, namun samar-samar dilekatkan pada sosok Shinta, yang mencintai Dokter Nugie.

Jika Pak Yahya atau Om Ole berhasil diyakinkan oleh penulis bahwa tokoh Shinta memendam perasaan cinta membara pada Dokter Nugie namun tak sebaliknya, tidak demikian dengan saya. Penokohan Dokter Nugie amat ambigu menurut saya. Di satu sisi ia digambarkan lelaki flamboyant (suatu istilah yang menggambarkan suatu kepribadian yang attractive, showy, confident).

Sebagai perempuan, saya tak menemukan itu pada sosok Dokter Nugie, paling tidak, mungkin hanya 50 persen saja ke-flamboyant-an itu tercermin padanya. Ia digambarkan tidak menyukai acara-acara party, menggunakan sepatu converse lama dan celana jeans. Saya lebih setuju bahwa Dokter Nugie merupakan sosok konvensional, old fashion, mungkin introvert. Jika pun Neng Shinta digambarkan tertarik pada dokter introvert ini, justru mungkin penulis perlu menggali sisi menarik lain darinya. Percakapan yang mendalam dan tidak biasa mungkin. Atau gesture yang flawlessly attractive. Istilah orang Bali, melik.

Namun, pada cerpen ini, percakapan mereka tidak menunjukkan ada cinta terpendam membara dari sisi si perempuan. Cukup datar. Tertarik, iya. Saya melihat penulis belum sepenuhnya berhasil membangun percikan rasa cinta terpendam itu dalam interaksi mereka. Justru kesan yang saya tangkap, Dokter Nugie merasa ia memiliki secret admirer yang -dia pikir- mencintai dia, padahal tak terkonfirmasi dalam percakapan manapun. Tak ada kedalaman perasaan di setiap percakapan antara Shinta dan Nugie. Justru harap-harap cemas itu nampak pada sikap yang dibangun Nugie pada setiap kesempatan pertemuan dengan Shinta. Seorang wanita, yang telah  jatuh hati pada seorang pria, semokondo apapun pria itu,  ia akan berubah menjadi Miss Marple (tokoh detektif wanita kesukaan saya). Ia akan mencari tahu dimana dokter Nugie tinggal, hobinya apa, makanan dan minuman kesukaannya apa.

Jadi sangat janggal jika Shinta digambarkan tak tahu menahu bahwa istri sang dokter tidak ada. Dalam kecermatan logika seorang wanita dengan status sosial tinggi dan mungkin well educated serta mampu mengelola emosi dengan baik (Shinta tidak norak, terbukti ia tidak chitchat terlalu sering dengan Nugie), dengan mudah logika kita akan menuntun ke suatu pertanyaan logis. Kok bisa wanita seperti itu tidak tahu situasi rumah tangga sang dokter? Ini keabsurd-an yang pertama.

Kemudian, apakah penulis ingin membuat hubungan tersebut menjadi semacam parasocial relationship? Ini juga tidak jelas. Shinta tampaknya tak setergila-gila itu. Penulis tidak memberi ruang mengeksplorasi perasaan Nugie pada Shinta. Selalu dan selalu tentang Shinta yang sedemikian rupa memendam perasaan cinta pada Nugie dengan memberi hadiah tas untuk istri Nugie, mendahului mengirim message beberapa kali, mengundang Nugie datang ke acara di rumahnya. Namun lagi-lagi, semuanya dalam batas kewajaran.

Penulis tidak menggambarkan percakapan flirty di sana. Normatif saja, kecuali undangan ke rumahnya yang sedikit agak memaksa. Hanya itu. Penderitaan batin Shinta karena memendam rasa juga tidak dieksplorasi. Padahal kita semua tahu, it’s hurt to love someone we can’t have! Rasanya hal tersebut tidak saya dapatkan. Karakter Nugie di mata saya kok justru menjadi agak NPD. Terlalu overproud berkesimpulanbahwa perempun itu mencintai dia dari hal-hal datar normatif. Padahal jikalau saja Mas Bro penulis mau membuatnya lebih getir dan puitis mungkin akan manis sekali hubungan kedua insan itu.

Percakapan mendalam tentang hati yang mungkin terpaut kadang-kadang lebih memberi sentuhan romantis ketimbang penggambaran adanya kata-kata lugas tentang cinta atau sentuhan fisik. Atau mungkin saja beliau hanya ingin menyampaikan pesan implisit bahwa membina hubungan dokter-pasien itu adalah hal rumit yang seharusnya memang  selalu dimaknai dan direspon oleh dokter secara profesional dan dingin.

  • BACA JUGA:
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Suatu prosa memang menjadi menarik dengan alur yang tidak biasa dan memberi ledakan emosi pada pembaca jika penulis berhasil menutupnya dengan unpredictable plot twist. Pada cerpen ini, memberi plot twist yang dramatis merupakan tujuan penulis. Klimaks dengan penutup yang getir, bahwa sang istri sudah tiada, bahwa tas itu merupakan hadiah yang tak mungkin tersampaikan dan bahwa ada remaja putra kelas dua SMP yang berhasil menambah vibes getir dan pilu suasana.

Seorang duda menarik, dokter, single parent. Ia dan (mungkin) cinta yang besar pada mendiang istrinya. Lagi-lagi absurditas menggelitik saya untuk mengomentari. Nugie bisa saja menyampaikan fakta itu sejak awal. Namun ia memilih menyampaikannya dengan pola-pola dramatis namun manipulatif (bagaimana tidak, dari semua perasaan yang bergulat dalam benak Shinta, terutama mungkin rasa bersalah yang ia rasakan sebagai wanita). Memberi hadiah pada seseorang yang berarti namun telah tiada tentunya akan mengorek luka orang bersangkutan. Ngapain coba Nugie melakukan itu, padahal dengan mudah ia bisa langsung menyampaikan sejak awal pada Shinta.

Ya, tentu saja agar cerpen tersebut menjadi menarik. Bukankah memang itu yang diharapkan dari sebuah cerpen? Dramatisasi. Semakin dramatis semakin nice. Dalam konteks ini saya sependapat dan berpikir bahwa trik ini berhasil. Saran saya, cerpen ini sebaiknya dibuat menjadi novel sehingga setiap rasa dan perasaan serta interaksi antar karakter lebih mendalam.

Walaupun buku ini adalah debutnya dalam penulisan cerpen namun menurut saya, beliau berhasil menciptakan berbagai wisata perasaan dalam tiap cerita yang ditawarkan. Optimisme, harapan, humanisme terselip pada beberapa cerita. Demikian pula kegalauan, rasa hampa, dan lagi-lagi getir pada cerpen lainnya. Rahim Yang Kelu akan membawa kita pada nuansa latar belakang adat Bali yang kental dengan pilihan tokoh otentik. Konflik internal tokoh utama maupun antar tokoh mampu dihadirkan dengan dramatis.

Penulis berusaha menghadirkan konflik dalam kultur budaya Bali yang mengakar, tabu, sangat terasa namun sering tidak mudah untuk dibicarakan, patriarchy-minded perspective dan misogyny. Entah terinspirasi dari Tarian Bumi karya Oka Rusmini, saya merasa sedikit deja-vu dengan tema-tema demikian.

Lagi-lagi kenyinyiran saya sebagai perempuan terusik dengan gaya lelaki mendeskripsikan tubuh wanita. Bukan karena ia menggambarkan kedua payudara Dayu Inten yang ranum mendamba, atau lekuk tubuh wanita Bali tulen yang padat berisi (paling tidak, itu yang saya bayangkan dari penggambaran sosok Dayu Inten, the main character. Ada satu kalimat yang menggelitik saya. Kira-kira begini, …ia memandangi organ bagian bawah perutnya, bagian yang suci.

Waduh, kesucian suatu organ tubuh tertentu seorang manusia ditentukan oleh apa? Jika ada yang suci tentunya ada yang kurang suci bahkan tidak suci. Hehehe, just kidding. Tentunya diksi-diksi semacam itu memang diperlukan oleh seorang penulis untuk mendramatisir situasi yang coba dibangun dalam suatu fiksi. Kalau datar-datar saja tentunya kurang greget.

Membaca buku ini seperti mengajak saya berpetualang ke masa remaja, di tahun 90-an. Sebagai pecinta cerpen popular saat itu tentunya masa remaja saya akrab dengan Lupus, tokoh remaja fenomenal besutan Hilman Hariwijaya, Roy, si remaja bad-boy (secara penampilan) besutan Gol A Gong. Lelaki muda bercelana jeans belel dengan sneaker usang. Ia nampak menginspirasi tokoh-tokoh rekaan Dokter Arya dalam buku ini. Sebut saja Dokter Nugie, atau tokoh Dokter Gila yang dipilih dengan cerdik sebagai judul kumcer ini.

Tentunya referensi outfit tampilan tokoh utama itu tidak lepas dari background penulis yang tergolong GenX. Kami akrab dengan Levi’s, Converse, Doc Mart, Ossella, dan segudang merk outfit yang menunjukkan apakah kita tergolong anak gaul atau tidak pada jamannya (catat ya, akrab bukan berarti memiliki, hanya menyaksikan iklan barang-barang tersebut dari majalah Mode atau Hai pun, sudah membuat kami, remaja saat itu, merasa akrab dengan harapan untuk dapat membelinya).

Memori akan masa muda pun mau tak mau terbawa kembali di cerpen lain. Sebuah kisah cinta agak lain, antara seorang remaja tanggung dengan alien. Dengan menghadirkan Britney Spears, world beauty pop icon pada jamannya, tentunya akan membawa kenangan masa remaja pembaca setua kami ini mengelana. Terbayang oleh saya Britney Spears, dengan rambut blonde berkepang dua dengan mata bulat, menampakkan pusarnya yang seksi aduhai, meliuk-liuk sensual lengkap dengan rok mini dalam single Baby One More Time. Lagu sejuta umat kami waktu itu.

Ahaiii…di kalangan GenX siapa yang tak tahu Britney Spears? Tapi jika penulis ingin membawa alur cerita di masa kini (mengingat dalam cerpen itu, hubungan dua insan antar planet dihubungkan dengan smartphone canggih kekinian, menilik waktu, mungkin lebih cucok bagi pembaca GenZ, jika tokoh itu adalah Taylor Swift, Beyonce atau Rihanna. Tapi tentunya kembali pada preferensi penulis. Sak karepe penulis, sih.

Romansa berbau ekstrateresterial ini juga merupakan salah satu cerpen berkarakter kuat di buku ini. Perlu pengalaman literasi astronomi yang memadai agar seorang penulis dapat membuat suatu fiksi dengan nuansa cosmic-science fiction. Bagi saya, beliau cukup berhasil mencuil hati pecinta genre tersebut. Dengan flawless istilah kosmik diselipkannya dalam diskusi mesra kedua insan. Hasilnya, taraaaa… sebuah cerpen yang harus membuat saya bolak balik mengkonfirmasi beberapa informasi dalam cerpen itu pada beberapa sumber terkait dengan ketepatan terminologi yang ia gunakan. Bukan karena tak percaya pada kapabilitas penulis terhadap pengetahuan yang bukan bidangnya, akan tetapi lebih kepada kekaguman saya terhadap kelihaiannya meramu cerita tematik yang cukup fantastis.

Cerpen lain yang menyita perhatian saya, mungkin akan sama dengan pembaca lainnya. Judulnya sudah unik. Seorang Pemetik Cengkeh dan Pelacur yang Penuh Perhatian. Pemilihan judul yang nyastra. Demikian pula jalinan kisah “unrequited love” si pemetik cengkeh dengan Mbak Nur. Di mata Mbak Nur, segala perhatian yang ia berikan untuk pelanggan tubuhnya adalah jualan sehingga menghasilkan hubungan yang sekedar transaksional. Namun dalam kalbu si pengguna jasa, ia tak hanya menikmati ledakan seksual di sana. Pergumulannya bukan semata untuk mendapat kenikmatan badaniah. Sang pelanggan mungkin salah menafsirkan layanan ekstra berupa perhatian kecil dari Mbak Nur yang ia terjemahkan sendiri mungkin sebagai rasa sayang dua insan saling mencintai dan memperhatikan.

Nengah Sadra, si pemetik cengkeh nan polos itu terjebak dalam kenaifannya sendiri. Mbak Nur, si penjual jasa, tidak hanya menunggunya, ia juga menunggu nengah-nengah lain yang membawa uang banyak dalam setiap transaksi mereka. Ia juga tentunya memberi perhatian yang sama kepada mereka. Jika suatu saat ia pergi begitu saja, maka itu tak mengherankan karena baper tak seharusnya ada dalam model transaksi tersebut. Ke-GR-an membawa kegetiran. Love hurts, and it hurts so bad. Saya terpukaudengan cara penulis menggambarkan sudut kamar, lorong-lorong gang, warung remang-remang lokalisasi seolah nyata dalam narasi yang diciptakannya. He nailed it!

Cerpen-cerpen lain memiliki cerita dan keunikannya sendiri. Baik itu dari pemilihan setting atau pun alur yang meloncat-loncat. Beberapa memberi tema medis khas, gambaran seorang dokter ideal dan humanis yang mungkin, nyaris hanya ada di angan. Semacam utopis dalam dunia kedokteran yang saat ini mungkin sudah banyak mengalami down grade. Tokoh itu nyata dirindukan penulis pada cerpen Dokter Gila, atau pada cerpen yang mirip memoir beliau saat sebagai pegawai tidak tetap (PTT) di Kalimantan Timur, Dokter yang Tak Pernah Pulang.

Di sini pun ia berhasil bermain-main dalam antropologi sosial budaya dengan menyematkan begitu banyak istilah bahasa suku Dayak Kenyah. Ia paham melakukan pelafalan pada setiap kalimat dalam bahasa Dayak bercampur Bahasa Indonesia di cerpen tersebut. Ini tentu saja bukan persoalan mudah. Dibutuhkan pemahaman yang cukup agar seorang yang bukan suku bersangkutan menggunakan bahasa dan budaya dari sukunya dengan tepat. Agar tak ada cultural appropriation yang bisa disalahpahami pembaca nantinya. Sekali lagi, sebagai seorang pengamat cerpen dadakan amatir, saya sangat mengapresiasi usaha beliau.

Membuat suatu cerita fiksi mungkin bukan hal yang sulit bagi setiap penulis profesional maupun amatir. Namun membuat cerita itu masuk akal tanpa membuat pembacanya mengernyitkan dahi adalah hal yang beda lagi. Insight seluas samudera dan kemampuan untuk menyampaikan narasi secara articulate merupakan keniscayaan bagi penyampai informasi dalam bentuk fiksi/non-fiksi agar mendapat kepercayaan dan menyentuh hati pembacanya. Hal itu tentunya merupakan hasil latihan bertahun-tahun, jika tidak mau saya bilang bahwa ini adalah inner talent.

Dalam konteks ini, menurut pandangan saya, Mas bro Arya berhasil mendeliver dengan mulus. Bagi saya keunikan pada tema-tema yang beragam, kekuatan narasi untuk menyampaikan misi mulia bagaimana sebuah profesi seharusnya dijalankan merupakan keberhasilan pada debutnya sebagai penulis cerpen. Ada banyak pesan yang ingin disampaikan penulis melalui romansa dokter-pasien, pekerja seks -pelanggan, kerigidan budaya, dan tentu saja satu hal yang selalu ingin diselipkan dari tulisannya di buku itu. Humanity is the most beautiful way to face life, neither winning nor losing. Jika ada hal lain yang saya ingin saya tambahkan pula, bukan karena beliau teman saya (trying my best as objective as possible), this book is worth buying! [T]

Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026

Penulis: Lina Kamelia
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku cerpenCerpendokterDokter Arya NugrahaKomunitas Mahima
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyoal Gosip: Evolusi Menguak Fungsi Paling Rahasia Manusia

Next Post

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

Putu Lina Kamelia

Putu Lina Kamelia

Luh Putu Lina Kamelia, atau dengan happy bisa dipanggil Lina atau Putu Lina. Penyuka puisi dan berbagai genre tulisan sejak kecil. Kegemarannya terhadap buku sama hebatnya dengan kecintaannya terhadap musik dan menyanyi. Ia yang selalu bangga menjadi wanita biasa ini sehari-hari, mengisi waktu luang (menurutnya) sebagai dokter spesialis neurologi di RSUD Kabupaten Buleleng, tempat kerja yang merupakan ‘dream come true’ baginya. Di waktu luang lainnya, dengan senang hati ia mengajar, menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Undiksha. Keinginan terbesarnya untuk berbagi informasi tentang healthy life style, kesehatan secara holistik maupun tingkah polah manusia dari perspektif neurosains menghantarkannya untuk menekuni lagi hobi lama yang terpendam selama belasan tahun yaitu, menulis. Wanita pemuja Rumi dan Maya Angelou ini selalu meyakini bahwa selayaknya wanita dapat menerima dan mencintai diri sendiri dahulu kemudian menularkan kecintaan itu pada orang lain. “Falling in love with your ownself first then spreading the love and taking care of others!”

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co