12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Yahya Umar by Yahya Umar
January 26, 2026
in Ulas Buku
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Acara bedah buku "Dokter Gila" di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

  • Judul Buku : Dokter Gila
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
  • Penerbit : Tatkala
  • Tahun : 2025

DOKTER seperti apa yang biasa dianggap memiliki gejala atau tepatnya tanda-tanda bisa disebut gila?

Adalah dokter yang tidur dan bermalam di ruangan pasien. Bercerita dengan penunggu pasien dan sesekali ngobrol dengan pasien.

Apa lagi? Adalah seorang dokter yang peduli kondisi ruangan pasien. Yang menilai bahwa tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni 16 pasien. Dalam pandangan dokter ini, meskipun obat yang diberikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi dalam ruangan semacam itu akan menghambat penyembuhan pasien.

Apa lagi?

Adalah dokter yang sarapan bersama para perawat dan pegawai rumah sakit. Menunya sama, dan bahkan dokter itu mengeluarkan uang sendiri untuk membelikan nasi bungkus untuk para perawat dan pegawai rumah sakit.

Apa lagi?

Adalah seorang dokter yang saat bertugas di rumah sakit tidak pernah menggunakan jas dokter. Ia hanya memakai kemeja lengan pendek, kaos berkrah bahkan hanya memakai t-shirt dan celana jeans. Kalau ditegur manajemen rumah sakit ia berkata, ”Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien, bukan untuk fashion show. Coba tanya pasien saya ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya”.

Apa lagi?

Adalah dokter yang ketika masuk ruangan pasien tidak langsung memeriksa pasien, tapi memeriksa kamar mandi pasien lebih dulu. Apakah bersih atau kotor. Kalau kamar mandi itu kotor minta untuk dibersihkan lebih dulu, baru memeriksa pasien. Sebab, dalam keyakinannya kamar mandi yang kotor berpengaruh pada proses penyembuhan pasien.

Yahya Umar (tengah) saat membedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Apa lagi?

Adalah dokter yang pagi-pagi datang ke dapur rumah sakit dan meminta seporsi makanan yang biasa diberikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Kemudian membagikan nasi bungkus yang dibeli di warung favorit masyarakat kota kepada juru masak. Ia ingin menyampaikan pesan lewat aksinya itu agar para juru masak meracik masakan yang enak untuk pasien. Baginya, orang sakit perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat sehingga makanan yang disajikan kepada pasien itu dilahap habis.

Itulah tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila seperti ditulis dr. Putu Arya Nugraha dalam buku kumpulan cerpennya “Dokter Gila”. Judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku ini.

Lalu, apakah ada lagi gejala atau tepatnya tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila? Ya ada.

Adalah seorang dokter yang jatuh cinta kepada sastra. Arya Nugraha adalah dokter yang jelas-jelas jatuh cinta kepada sastra. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah mengungkapkan kata-kata ‘gila’ seperti ini; “Seorang yang dokter yang ingin banyak dikunjungi pasien dalam prakteknya, ia harus menggauli sastra”.

Di abad 17, seorang notaris di Paris, Arouet menyebut kedua anaknya ‘sinting”. Gila. Yang pertama, tertarik kepada kepercayaan yang tak direstui gereja. Yang kedua, tertarik kepada kesusastraan. Bahkan yang kedua ini telah menulis saja begitu ia bisa menulis namanya sendiri. Dia adalah Voltaire. Karena jatuh cinta kepada sastra, Arouet menyebut Voltaire sebagai anak yang sinting.   

  • Klik untuk lihat info buku
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Membaca tanda-tanda dokter yang disebut gila seperti disampaikan dr. Arya Nugraha dalam cerpen “Dokter Gila”-nya tersebut sebenarnya bukan ‘gila’ seperti yang dipahami masyarakat umum. Kata ‘gila’ dalam cerpen itu lebih menggambarkan pemberontakan, protes dan upaya mengubah sesuatu. Karena pemberontakan, protes atau upaya mengubah sesuatu itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, atawa tidak lazim maka bolehlah disebut sebagai ‘cara gila’. Dokter yang melakukan pemberontakan, protes atau upaya mengubah keadaan itu bisa disebut ‘dokter gila’.    

Sebenarnya, dokter semacam itulah yang dibutuhkan masyarakat. Ia sebenarnya sosok yang waras, dokter yang benar-benar sebagai manusia.

Sebaliknya dalam cerpen “Dokter Gila”-nya, dr. Arya Nugraha seperti ingin menegaskan bahwa dokter yang ‘normal” itu sebenarnya mengidap segenap penyakit. Yakni dokter yang datang ke rumah sakit hanya untuk ‘bekerja’, sesuai SOP. Sesuai aturan yang dibuat juga oleh dokter yang normal.

Ia hanya sekadar bekerja, tak beda dengan robot mesin yang harus berjalan dan bekerja sesuai fungsinya. Tak lebih tak kurang. Kalau ada yang kurang, mesin tak berfungsi. Kalau ada yang lebih, mesin itu juga tak akan berfungsi. Dan, mesin tidak punya hati, tak punya jiwa. Tak punya perasaan. Itulah penyakit yang diidap dokter yang ‘normal’.

Dengan bekerja secara ‘normal’, memang tidak akan mengganggu sistem yang ada di rumah sakit. Apalagi jika sistem itu berlangsung cukup lama. Namun tak ada nilai lebih, tak ada kekhasan atau kelebihan yang diperoleh.

Kalau dr. Arya Nugraha, yang seorang dokter, sampai menulis cerpen “Dokter Gila”, artinya ada sesuatu dengan dokter yang ‘normal’. Rasa peduli pada lingkungan, rasa peduli pada situasi dan kondisi kerja, rasa peduli kepada kemanusiaan sepertinya kalah dengan kerja normal sesuai SOP. Mereka terjebak dalam keteraturan, rutinitas, rasio dan statistik. Ya seperti robot. Tak ada rasa empati. Bukankah itu sebuah penyakit juga? Sementara dokter gila yang dilukiskan dalam cerpen itu punya perasaan, punya rasa sedih, haru dan bahagia.

Dari kiri ke kanan, Gea (moderator), Made Adnyana Ole (pembedah), Yahya Umar (pembedah), dr. Lina Kamelia (pembedah) dan dr, Putu Arya Nugraha (penulis buku) dalam bedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Jadi, dokter gila seperti diceritakan dalam cerpen dr. Arya Nugraha tidak membutuhkan terapi. Justru dokter ‘normal’ yang harus disentuh oleh terapi. Dibangkitkan perasaannya, dihidupkan empatinya, salah satunya bisa dengan memintanya menggauli dan ‘meminum’ sastra, seperti dilakukan dr. Arya Nugraha. Terapi itu misalnya juga dengan membaca buku kumpulan cerpen “Dokter Gila” karya dr. Arya Nugraha ini.

Dalam cerpen-cerpen dalam buku dr. Arya Nugraha ini ada edukasi khas dokter Arya, dan ada kegetiran. Ada perbedaan mencolok cara dr. Arya Nugraha dalam menyampaikan edukasi antara ditujukan kepada dunia atau komunitanya (para dokter, petugas kesehatan, dan semacamnya) dan masyarakat umum.

Kepada komunitasnya, dr. Arya tampak menampaikan pesan yang begitu keras. Ya seperti dalam cerpen “Dokter Gila”. Sementara kepada warga atau masyarakat, dr. Arya memberikan edukasi yang lebh lembut atau halus, nyaris sebagai sindiran. Misalnya dalam cerpen “Sakit Gegaen Anak”, dan Sumi Gadis yang Dihamili Lembu.

Sementara tentang kegetiran hidup seorang dokter bisa dibaca dalam cerpennya “Sebuah Tas untuk Istri Dokter”, atau cerpen “Seorang Dokter yang tak Pernah Pulang”. [T]

Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukudokterKomunitas MahimaPutu Arya Nugraharesensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Next Post

‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails
Next Post
‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

'Day-O': Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co