2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Yahya Umar by Yahya Umar
January 26, 2026
in Ulas Buku
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Acara bedah buku "Dokter Gila" di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

  • Judul Buku : Dokter Gila
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
  • Penerbit : Tatkala
  • Tahun : 2025

DOKTER seperti apa yang biasa dianggap memiliki gejala atau tepatnya tanda-tanda bisa disebut gila?

Adalah dokter yang tidur dan bermalam di ruangan pasien. Bercerita dengan penunggu pasien dan sesekali ngobrol dengan pasien.

Apa lagi? Adalah seorang dokter yang peduli kondisi ruangan pasien. Yang menilai bahwa tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni 16 pasien. Dalam pandangan dokter ini, meskipun obat yang diberikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi dalam ruangan semacam itu akan menghambat penyembuhan pasien.

Apa lagi?

Adalah dokter yang sarapan bersama para perawat dan pegawai rumah sakit. Menunya sama, dan bahkan dokter itu mengeluarkan uang sendiri untuk membelikan nasi bungkus untuk para perawat dan pegawai rumah sakit.

Apa lagi?

Adalah seorang dokter yang saat bertugas di rumah sakit tidak pernah menggunakan jas dokter. Ia hanya memakai kemeja lengan pendek, kaos berkrah bahkan hanya memakai t-shirt dan celana jeans. Kalau ditegur manajemen rumah sakit ia berkata, ”Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien, bukan untuk fashion show. Coba tanya pasien saya ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya”.

Apa lagi?

Adalah dokter yang ketika masuk ruangan pasien tidak langsung memeriksa pasien, tapi memeriksa kamar mandi pasien lebih dulu. Apakah bersih atau kotor. Kalau kamar mandi itu kotor minta untuk dibersihkan lebih dulu, baru memeriksa pasien. Sebab, dalam keyakinannya kamar mandi yang kotor berpengaruh pada proses penyembuhan pasien.

Yahya Umar (tengah) saat membedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Apa lagi?

Adalah dokter yang pagi-pagi datang ke dapur rumah sakit dan meminta seporsi makanan yang biasa diberikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Kemudian membagikan nasi bungkus yang dibeli di warung favorit masyarakat kota kepada juru masak. Ia ingin menyampaikan pesan lewat aksinya itu agar para juru masak meracik masakan yang enak untuk pasien. Baginya, orang sakit perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat sehingga makanan yang disajikan kepada pasien itu dilahap habis.

Itulah tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila seperti ditulis dr. Putu Arya Nugraha dalam buku kumpulan cerpennya “Dokter Gila”. Judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku ini.

Lalu, apakah ada lagi gejala atau tepatnya tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila? Ya ada.

Adalah seorang dokter yang jatuh cinta kepada sastra. Arya Nugraha adalah dokter yang jelas-jelas jatuh cinta kepada sastra. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah mengungkapkan kata-kata ‘gila’ seperti ini; “Seorang yang dokter yang ingin banyak dikunjungi pasien dalam prakteknya, ia harus menggauli sastra”.

Di abad 17, seorang notaris di Paris, Arouet menyebut kedua anaknya ‘sinting”. Gila. Yang pertama, tertarik kepada kepercayaan yang tak direstui gereja. Yang kedua, tertarik kepada kesusastraan. Bahkan yang kedua ini telah menulis saja begitu ia bisa menulis namanya sendiri. Dia adalah Voltaire. Karena jatuh cinta kepada sastra, Arouet menyebut Voltaire sebagai anak yang sinting.   

  • Klik untuk lihat info buku
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Membaca tanda-tanda dokter yang disebut gila seperti disampaikan dr. Arya Nugraha dalam cerpen “Dokter Gila”-nya tersebut sebenarnya bukan ‘gila’ seperti yang dipahami masyarakat umum. Kata ‘gila’ dalam cerpen itu lebih menggambarkan pemberontakan, protes dan upaya mengubah sesuatu. Karena pemberontakan, protes atau upaya mengubah sesuatu itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, atawa tidak lazim maka bolehlah disebut sebagai ‘cara gila’. Dokter yang melakukan pemberontakan, protes atau upaya mengubah keadaan itu bisa disebut ‘dokter gila’.    

Sebenarnya, dokter semacam itulah yang dibutuhkan masyarakat. Ia sebenarnya sosok yang waras, dokter yang benar-benar sebagai manusia.

Sebaliknya dalam cerpen “Dokter Gila”-nya, dr. Arya Nugraha seperti ingin menegaskan bahwa dokter yang ‘normal” itu sebenarnya mengidap segenap penyakit. Yakni dokter yang datang ke rumah sakit hanya untuk ‘bekerja’, sesuai SOP. Sesuai aturan yang dibuat juga oleh dokter yang normal.

Ia hanya sekadar bekerja, tak beda dengan robot mesin yang harus berjalan dan bekerja sesuai fungsinya. Tak lebih tak kurang. Kalau ada yang kurang, mesin tak berfungsi. Kalau ada yang lebih, mesin itu juga tak akan berfungsi. Dan, mesin tidak punya hati, tak punya jiwa. Tak punya perasaan. Itulah penyakit yang diidap dokter yang ‘normal’.

Dengan bekerja secara ‘normal’, memang tidak akan mengganggu sistem yang ada di rumah sakit. Apalagi jika sistem itu berlangsung cukup lama. Namun tak ada nilai lebih, tak ada kekhasan atau kelebihan yang diperoleh.

Kalau dr. Arya Nugraha, yang seorang dokter, sampai menulis cerpen “Dokter Gila”, artinya ada sesuatu dengan dokter yang ‘normal’. Rasa peduli pada lingkungan, rasa peduli pada situasi dan kondisi kerja, rasa peduli kepada kemanusiaan sepertinya kalah dengan kerja normal sesuai SOP. Mereka terjebak dalam keteraturan, rutinitas, rasio dan statistik. Ya seperti robot. Tak ada rasa empati. Bukankah itu sebuah penyakit juga? Sementara dokter gila yang dilukiskan dalam cerpen itu punya perasaan, punya rasa sedih, haru dan bahagia.

Dari kiri ke kanan, Gea (moderator), Made Adnyana Ole (pembedah), Yahya Umar (pembedah), dr. Lina Kamelia (pembedah) dan dr, Putu Arya Nugraha (penulis buku) dalam bedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Jadi, dokter gila seperti diceritakan dalam cerpen dr. Arya Nugraha tidak membutuhkan terapi. Justru dokter ‘normal’ yang harus disentuh oleh terapi. Dibangkitkan perasaannya, dihidupkan empatinya, salah satunya bisa dengan memintanya menggauli dan ‘meminum’ sastra, seperti dilakukan dr. Arya Nugraha. Terapi itu misalnya juga dengan membaca buku kumpulan cerpen “Dokter Gila” karya dr. Arya Nugraha ini.

Dalam cerpen-cerpen dalam buku dr. Arya Nugraha ini ada edukasi khas dokter Arya, dan ada kegetiran. Ada perbedaan mencolok cara dr. Arya Nugraha dalam menyampaikan edukasi antara ditujukan kepada dunia atau komunitanya (para dokter, petugas kesehatan, dan semacamnya) dan masyarakat umum.

Kepada komunitasnya, dr. Arya tampak menampaikan pesan yang begitu keras. Ya seperti dalam cerpen “Dokter Gila”. Sementara kepada warga atau masyarakat, dr. Arya memberikan edukasi yang lebh lembut atau halus, nyaris sebagai sindiran. Misalnya dalam cerpen “Sakit Gegaen Anak”, dan Sumi Gadis yang Dihamili Lembu.

Sementara tentang kegetiran hidup seorang dokter bisa dibaca dalam cerpennya “Sebuah Tas untuk Istri Dokter”, atau cerpen “Seorang Dokter yang tak Pernah Pulang”. [T]

Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukudokterKomunitas MahimaPutu Arya Nugraharesensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Next Post

‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

'Day-O': Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co