23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Yahya Umar by Yahya Umar
January 26, 2026
in Ulas Buku
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Acara bedah buku "Dokter Gila" di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

  • Judul Buku : Dokter Gila
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
  • Penerbit : Tatkala
  • Tahun : 2025

DOKTER seperti apa yang biasa dianggap memiliki gejala atau tepatnya tanda-tanda bisa disebut gila?

Adalah dokter yang tidur dan bermalam di ruangan pasien. Bercerita dengan penunggu pasien dan sesekali ngobrol dengan pasien.

Apa lagi? Adalah seorang dokter yang peduli kondisi ruangan pasien. Yang menilai bahwa tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni 16 pasien. Dalam pandangan dokter ini, meskipun obat yang diberikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi dalam ruangan semacam itu akan menghambat penyembuhan pasien.

Apa lagi?

Adalah dokter yang sarapan bersama para perawat dan pegawai rumah sakit. Menunya sama, dan bahkan dokter itu mengeluarkan uang sendiri untuk membelikan nasi bungkus untuk para perawat dan pegawai rumah sakit.

Apa lagi?

Adalah seorang dokter yang saat bertugas di rumah sakit tidak pernah menggunakan jas dokter. Ia hanya memakai kemeja lengan pendek, kaos berkrah bahkan hanya memakai t-shirt dan celana jeans. Kalau ditegur manajemen rumah sakit ia berkata, ”Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien, bukan untuk fashion show. Coba tanya pasien saya ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya”.

Apa lagi?

Adalah dokter yang ketika masuk ruangan pasien tidak langsung memeriksa pasien, tapi memeriksa kamar mandi pasien lebih dulu. Apakah bersih atau kotor. Kalau kamar mandi itu kotor minta untuk dibersihkan lebih dulu, baru memeriksa pasien. Sebab, dalam keyakinannya kamar mandi yang kotor berpengaruh pada proses penyembuhan pasien.

Yahya Umar (tengah) saat membedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Apa lagi?

Adalah dokter yang pagi-pagi datang ke dapur rumah sakit dan meminta seporsi makanan yang biasa diberikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Kemudian membagikan nasi bungkus yang dibeli di warung favorit masyarakat kota kepada juru masak. Ia ingin menyampaikan pesan lewat aksinya itu agar para juru masak meracik masakan yang enak untuk pasien. Baginya, orang sakit perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat sehingga makanan yang disajikan kepada pasien itu dilahap habis.

Itulah tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila seperti ditulis dr. Putu Arya Nugraha dalam buku kumpulan cerpennya “Dokter Gila”. Judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku ini.

Lalu, apakah ada lagi gejala atau tepatnya tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila? Ya ada.

Adalah seorang dokter yang jatuh cinta kepada sastra. Arya Nugraha adalah dokter yang jelas-jelas jatuh cinta kepada sastra. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah mengungkapkan kata-kata ‘gila’ seperti ini; “Seorang yang dokter yang ingin banyak dikunjungi pasien dalam prakteknya, ia harus menggauli sastra”.

Di abad 17, seorang notaris di Paris, Arouet menyebut kedua anaknya ‘sinting”. Gila. Yang pertama, tertarik kepada kepercayaan yang tak direstui gereja. Yang kedua, tertarik kepada kesusastraan. Bahkan yang kedua ini telah menulis saja begitu ia bisa menulis namanya sendiri. Dia adalah Voltaire. Karena jatuh cinta kepada sastra, Arouet menyebut Voltaire sebagai anak yang sinting.   

  • Klik untuk lihat info buku
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Membaca tanda-tanda dokter yang disebut gila seperti disampaikan dr. Arya Nugraha dalam cerpen “Dokter Gila”-nya tersebut sebenarnya bukan ‘gila’ seperti yang dipahami masyarakat umum. Kata ‘gila’ dalam cerpen itu lebih menggambarkan pemberontakan, protes dan upaya mengubah sesuatu. Karena pemberontakan, protes atau upaya mengubah sesuatu itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, atawa tidak lazim maka bolehlah disebut sebagai ‘cara gila’. Dokter yang melakukan pemberontakan, protes atau upaya mengubah keadaan itu bisa disebut ‘dokter gila’.    

Sebenarnya, dokter semacam itulah yang dibutuhkan masyarakat. Ia sebenarnya sosok yang waras, dokter yang benar-benar sebagai manusia.

Sebaliknya dalam cerpen “Dokter Gila”-nya, dr. Arya Nugraha seperti ingin menegaskan bahwa dokter yang ‘normal” itu sebenarnya mengidap segenap penyakit. Yakni dokter yang datang ke rumah sakit hanya untuk ‘bekerja’, sesuai SOP. Sesuai aturan yang dibuat juga oleh dokter yang normal.

Ia hanya sekadar bekerja, tak beda dengan robot mesin yang harus berjalan dan bekerja sesuai fungsinya. Tak lebih tak kurang. Kalau ada yang kurang, mesin tak berfungsi. Kalau ada yang lebih, mesin itu juga tak akan berfungsi. Dan, mesin tidak punya hati, tak punya jiwa. Tak punya perasaan. Itulah penyakit yang diidap dokter yang ‘normal’.

Dengan bekerja secara ‘normal’, memang tidak akan mengganggu sistem yang ada di rumah sakit. Apalagi jika sistem itu berlangsung cukup lama. Namun tak ada nilai lebih, tak ada kekhasan atau kelebihan yang diperoleh.

Kalau dr. Arya Nugraha, yang seorang dokter, sampai menulis cerpen “Dokter Gila”, artinya ada sesuatu dengan dokter yang ‘normal’. Rasa peduli pada lingkungan, rasa peduli pada situasi dan kondisi kerja, rasa peduli kepada kemanusiaan sepertinya kalah dengan kerja normal sesuai SOP. Mereka terjebak dalam keteraturan, rutinitas, rasio dan statistik. Ya seperti robot. Tak ada rasa empati. Bukankah itu sebuah penyakit juga? Sementara dokter gila yang dilukiskan dalam cerpen itu punya perasaan, punya rasa sedih, haru dan bahagia.

Dari kiri ke kanan, Gea (moderator), Made Adnyana Ole (pembedah), Yahya Umar (pembedah), dr. Lina Kamelia (pembedah) dan dr, Putu Arya Nugraha (penulis buku) dalam bedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Jadi, dokter gila seperti diceritakan dalam cerpen dr. Arya Nugraha tidak membutuhkan terapi. Justru dokter ‘normal’ yang harus disentuh oleh terapi. Dibangkitkan perasaannya, dihidupkan empatinya, salah satunya bisa dengan memintanya menggauli dan ‘meminum’ sastra, seperti dilakukan dr. Arya Nugraha. Terapi itu misalnya juga dengan membaca buku kumpulan cerpen “Dokter Gila” karya dr. Arya Nugraha ini.

Dalam cerpen-cerpen dalam buku dr. Arya Nugraha ini ada edukasi khas dokter Arya, dan ada kegetiran. Ada perbedaan mencolok cara dr. Arya Nugraha dalam menyampaikan edukasi antara ditujukan kepada dunia atau komunitanya (para dokter, petugas kesehatan, dan semacamnya) dan masyarakat umum.

Kepada komunitasnya, dr. Arya tampak menampaikan pesan yang begitu keras. Ya seperti dalam cerpen “Dokter Gila”. Sementara kepada warga atau masyarakat, dr. Arya memberikan edukasi yang lebh lembut atau halus, nyaris sebagai sindiran. Misalnya dalam cerpen “Sakit Gegaen Anak”, dan Sumi Gadis yang Dihamili Lembu.

Sementara tentang kegetiran hidup seorang dokter bisa dibaca dalam cerpennya “Sebuah Tas untuk Istri Dokter”, atau cerpen “Seorang Dokter yang tak Pernah Pulang”. [T]

Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukudokterKomunitas MahimaPutu Arya Nugraharesensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Next Post

‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

'Day-O': Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co