13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Yahya Umar by Yahya Umar
January 26, 2026
in Ulas Buku
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Acara bedah buku "Dokter Gila" di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

  • Judul Buku : Dokter Gila
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
  • Penerbit : Tatkala
  • Tahun : 2025

DOKTER seperti apa yang biasa dianggap memiliki gejala atau tepatnya tanda-tanda bisa disebut gila?

Adalah dokter yang tidur dan bermalam di ruangan pasien. Bercerita dengan penunggu pasien dan sesekali ngobrol dengan pasien.

Apa lagi? Adalah seorang dokter yang peduli kondisi ruangan pasien. Yang menilai bahwa tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni 16 pasien. Dalam pandangan dokter ini, meskipun obat yang diberikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi dalam ruangan semacam itu akan menghambat penyembuhan pasien.

Apa lagi?

Adalah dokter yang sarapan bersama para perawat dan pegawai rumah sakit. Menunya sama, dan bahkan dokter itu mengeluarkan uang sendiri untuk membelikan nasi bungkus untuk para perawat dan pegawai rumah sakit.

Apa lagi?

Adalah seorang dokter yang saat bertugas di rumah sakit tidak pernah menggunakan jas dokter. Ia hanya memakai kemeja lengan pendek, kaos berkrah bahkan hanya memakai t-shirt dan celana jeans. Kalau ditegur manajemen rumah sakit ia berkata, ”Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien, bukan untuk fashion show. Coba tanya pasien saya ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya”.

Apa lagi?

Adalah dokter yang ketika masuk ruangan pasien tidak langsung memeriksa pasien, tapi memeriksa kamar mandi pasien lebih dulu. Apakah bersih atau kotor. Kalau kamar mandi itu kotor minta untuk dibersihkan lebih dulu, baru memeriksa pasien. Sebab, dalam keyakinannya kamar mandi yang kotor berpengaruh pada proses penyembuhan pasien.

Yahya Umar (tengah) saat membedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Apa lagi?

Adalah dokter yang pagi-pagi datang ke dapur rumah sakit dan meminta seporsi makanan yang biasa diberikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Kemudian membagikan nasi bungkus yang dibeli di warung favorit masyarakat kota kepada juru masak. Ia ingin menyampaikan pesan lewat aksinya itu agar para juru masak meracik masakan yang enak untuk pasien. Baginya, orang sakit perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat sehingga makanan yang disajikan kepada pasien itu dilahap habis.

Itulah tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila seperti ditulis dr. Putu Arya Nugraha dalam buku kumpulan cerpennya “Dokter Gila”. Judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku ini.

Lalu, apakah ada lagi gejala atau tepatnya tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila? Ya ada.

Adalah seorang dokter yang jatuh cinta kepada sastra. Arya Nugraha adalah dokter yang jelas-jelas jatuh cinta kepada sastra. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah mengungkapkan kata-kata ‘gila’ seperti ini; “Seorang yang dokter yang ingin banyak dikunjungi pasien dalam prakteknya, ia harus menggauli sastra”.

Di abad 17, seorang notaris di Paris, Arouet menyebut kedua anaknya ‘sinting”. Gila. Yang pertama, tertarik kepada kepercayaan yang tak direstui gereja. Yang kedua, tertarik kepada kesusastraan. Bahkan yang kedua ini telah menulis saja begitu ia bisa menulis namanya sendiri. Dia adalah Voltaire. Karena jatuh cinta kepada sastra, Arouet menyebut Voltaire sebagai anak yang sinting.   

  • Klik untuk lihat info buku
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Membaca tanda-tanda dokter yang disebut gila seperti disampaikan dr. Arya Nugraha dalam cerpen “Dokter Gila”-nya tersebut sebenarnya bukan ‘gila’ seperti yang dipahami masyarakat umum. Kata ‘gila’ dalam cerpen itu lebih menggambarkan pemberontakan, protes dan upaya mengubah sesuatu. Karena pemberontakan, protes atau upaya mengubah sesuatu itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, atawa tidak lazim maka bolehlah disebut sebagai ‘cara gila’. Dokter yang melakukan pemberontakan, protes atau upaya mengubah keadaan itu bisa disebut ‘dokter gila’.    

Sebenarnya, dokter semacam itulah yang dibutuhkan masyarakat. Ia sebenarnya sosok yang waras, dokter yang benar-benar sebagai manusia.

Sebaliknya dalam cerpen “Dokter Gila”-nya, dr. Arya Nugraha seperti ingin menegaskan bahwa dokter yang ‘normal” itu sebenarnya mengidap segenap penyakit. Yakni dokter yang datang ke rumah sakit hanya untuk ‘bekerja’, sesuai SOP. Sesuai aturan yang dibuat juga oleh dokter yang normal.

Ia hanya sekadar bekerja, tak beda dengan robot mesin yang harus berjalan dan bekerja sesuai fungsinya. Tak lebih tak kurang. Kalau ada yang kurang, mesin tak berfungsi. Kalau ada yang lebih, mesin itu juga tak akan berfungsi. Dan, mesin tidak punya hati, tak punya jiwa. Tak punya perasaan. Itulah penyakit yang diidap dokter yang ‘normal’.

Dengan bekerja secara ‘normal’, memang tidak akan mengganggu sistem yang ada di rumah sakit. Apalagi jika sistem itu berlangsung cukup lama. Namun tak ada nilai lebih, tak ada kekhasan atau kelebihan yang diperoleh.

Kalau dr. Arya Nugraha, yang seorang dokter, sampai menulis cerpen “Dokter Gila”, artinya ada sesuatu dengan dokter yang ‘normal’. Rasa peduli pada lingkungan, rasa peduli pada situasi dan kondisi kerja, rasa peduli kepada kemanusiaan sepertinya kalah dengan kerja normal sesuai SOP. Mereka terjebak dalam keteraturan, rutinitas, rasio dan statistik. Ya seperti robot. Tak ada rasa empati. Bukankah itu sebuah penyakit juga? Sementara dokter gila yang dilukiskan dalam cerpen itu punya perasaan, punya rasa sedih, haru dan bahagia.

Dari kiri ke kanan, Gea (moderator), Made Adnyana Ole (pembedah), Yahya Umar (pembedah), dr. Lina Kamelia (pembedah) dan dr, Putu Arya Nugraha (penulis buku) dalam bedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Jadi, dokter gila seperti diceritakan dalam cerpen dr. Arya Nugraha tidak membutuhkan terapi. Justru dokter ‘normal’ yang harus disentuh oleh terapi. Dibangkitkan perasaannya, dihidupkan empatinya, salah satunya bisa dengan memintanya menggauli dan ‘meminum’ sastra, seperti dilakukan dr. Arya Nugraha. Terapi itu misalnya juga dengan membaca buku kumpulan cerpen “Dokter Gila” karya dr. Arya Nugraha ini.

Dalam cerpen-cerpen dalam buku dr. Arya Nugraha ini ada edukasi khas dokter Arya, dan ada kegetiran. Ada perbedaan mencolok cara dr. Arya Nugraha dalam menyampaikan edukasi antara ditujukan kepada dunia atau komunitanya (para dokter, petugas kesehatan, dan semacamnya) dan masyarakat umum.

Kepada komunitasnya, dr. Arya tampak menampaikan pesan yang begitu keras. Ya seperti dalam cerpen “Dokter Gila”. Sementara kepada warga atau masyarakat, dr. Arya memberikan edukasi yang lebh lembut atau halus, nyaris sebagai sindiran. Misalnya dalam cerpen “Sakit Gegaen Anak”, dan Sumi Gadis yang Dihamili Lembu.

Sementara tentang kegetiran hidup seorang dokter bisa dibaca dalam cerpennya “Sebuah Tas untuk Istri Dokter”, atau cerpen “Seorang Dokter yang tak Pernah Pulang”. [T]

Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukudokterKomunitas MahimaPutu Arya Nugraharesensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Next Post

‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

'Day-O': Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co