TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat orang lain. Mita, begitu teman-teman memanggilnya, remaja yang kini tumbuh dewasa. Namui ia belum memiliki kekasih hati.
Bukan lantaran sombong. Mita tergolong gadis yang ramah dan periang. Kepada siapa pun Mita selalu bersikap bersahabat. Tak heran bila teman-temanya bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki. Suasana akan lebih seru jika perbincangan ada Mita di tengah mereka.
Bukan pula karena kesibukan Paramita Laksmi bekerja di perusahaan periklanan. Mita masih punya waktu luang di hari Sabtu dan Minggu untuk sekadar jalan-jalan atau belanja di mal. Seandainya ia memiliki kekasih tentu akan memanfaatkan waktu liburnya untuk berkencan. Mita memang sengaja menunda untuk memiliki kekasih. Sedangkan kedua kakak laki-lakinya sudah berumah tangga.
Paramita Laksmi masih belum berani menerima kehadiran laki-laki sebagai kekasih hati maupun suami. Ia masih menyimpan rasa takut pada dirinya sendiri. Bukan takut akan dikecewakan atau diselungkuhi suaminya. Ia takut pada misteri yang ada dalam dirinya. Ia cemas pada mitos yang ada pada tubuhnya.
Satu tanda merah terdapat di paha kanan bagian dalam kaki Mita. Ada yang menyebut tanda merah itu sebagai toh, yaitu tanda lahir yang melekat pada tubuh seseorang. Mita memiliki toh di paha kanan dalam, di dekat kemaluannya. Itu yang selalu mencemaskannya.
Sebenarnya Minta tidak begitu terganggu dengan tanda lahir berwarna merah itu. Ia tidak pernah merasakan gangguan tubuh apa pun. Tidak pernah merasa gatal atau panas di pahanya. Tanda lahir itu juga bentuknya tetap, bulatan kecil, tidak pernah membesar. Tetapi ia tetap gusar. Tanda lahir itu menyimpan mitos dan misteri.
Mita tidak pernah menceritakan kepada siapa pun tanda merah di pahanya itu. Hanya ayah dan ibunya serta kedua kakaknya yang tahu sejak bayi Mita mempunyai tanda merah itu. Mereka menyikapi tanda merah di paha Mita biasa-biasa saja. Itu adalah tanda lahir, dan banyak orang memiliki tanda lahir di tubuhnya, sebagaimana tahi lalat.
Meski begitu, Mita sering mendengar dan membaca perbincangan orang tentang tanda lahir merah di paha. Mitosnya, orang yang memiliki tanda lahir merah akan mengalami kesialan dalam hidupnya. Lebih menyeramkan lagi, Mita pernah mendengar mitos, wanita yang mempunyai tanda lahir merah di pahanya bila menikah suaminya akan meninggal dunia.
***
Tak sepenuhnya percaya pada mitos tanda merah di paha, Mita pernah menanyakan itu kepada kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Mita saling pandang. Mereka seolah menahan sesuatu yang berat untuk dikatakan kepada Mita.
“Itu tanda lahir, Mita. Tidak bisa dihilangkan,” hanya itu yang diucapkan ibu Mita.
“Tak usah percaya pada mitos atau cerita orang, Mita,” ujar ayah Mita menambahkan.
Paramita Laksmi hanya tertunduk mendengar jawaban kedua orang tuanya. Ia tahu betul, ada sesuatu yang dipendam ayah dan ibunya. Mita pun mencoba untuk tegar, tak percaya omongan orang tentang mitos tanda merah di paha.
Hingga suatu hari, Mita bertemu dengan Alejandro Hermawan, laki-laki tampan yang berprofesi sebagai asisten manajer perusahaan pertambangan. Diawali dengan perbincangan soal profil perusahaan tempat Alejandro Herwaman bekerja yang akan diiklankan di perusahaan Mita. Obrolan berlanjut menjadi obrolan ringan.
Alejandro Herwaman yang ingin dipanggil Ale saja itu berusaha menyingkap status Mita. Begitu pun Mita, ingin tahu lebih jauh tentang sosok Ale. Mereka sama-sama masih sendiri. Obrolan berlanjut saling memuji, saling bercanda, dan saling jatuh cinta. Mereka sepakat untuk mengisi hari-hari dengan selalu bersama.
Hari yang ditunggu Mita pun tiba. Ale mengungkapkan niatnya untuk melamar Mita. Tentu saja Mita tersenyum bahagia. Ia akan segera mengakhiri masa lajangnya. Menjadi istri laki-laki tampan yang penuh pesona, penuh prestasi; dan pastinya penuh kasih sayang.
Tidak menunggu begitu lama dari waktu lamaran, orang tua Ale dan orang tua Mita menyepakati hari pernikahan anak mereka. Akad nikah kedua mempelai berjalan lancar. Resepsi pernikahan pun cukup meriah. Kerabat dan keluarga besar Ale dan Mita datang memberi doa dan ucapan selamat.
Menjelang larut malam, hanya Ale dan Mita di kamar pengantin yang dihias dengan nuansa perpaduan warna pink dan biru. Mereka bersiap merengkuh malam yang begitu menggoda. Ale tak sabar melepas lajang. Mita pasrah menyerahkan mahkotanya. Mereka larut dalam dingin malam. Sesaat kemudian Ale tertegun melihat tanda merah di paha Mita.
“Ini apa, Mita?” tanya Ale sambil menunjuk tanda lahir berwarna merah milik Mita.
“Itu tanda lahir,” jawab Mita singkat.
Berbarengan dengan jawaban Mita, hujan turun di tengah malam. Tidak terlalu deras. Hujan pengantin baru, begitu orang menyebutnya. Namun perlahan terdengar suara lolongan anjing. Ale dan Mita terkejut. Suara lolongan anjing itu begitu panjang dan menyeramkan. Apalagi di tengah malam ketika mereka sedang melepas masa lajang.
Ale merinding mendengar lolongan anjing di tengah malam. Mita lebih merinding dan dicekam ketakutan. Ia heran mengapa ada suara anjing melolong di tengah hujan malam hari. Padahal sepengetahuan Mita tidak ada tetangganya yang memelihara anjing.
“Lalu suara anjing siapa itu?” tanya Mita dalam hati.
Suasana romantis tengah malam berubah menjadi mencekam. Ale dan Mita saling pandang, merinding, dan ketakutan. Mereka hanya menerka apa yang bisa mereka duga. Ale menduga itu anjing siluman yang ingin mengacaukan malam pertamanya. Mita merasa suara lolongan anjing itu pertanda buruk dalam pernikahannya. Ia terbayang kembali cerita orang tentang tanda merah di pahanya.
***
Sebulan sudah Ale dan Mita menjadi suami istri. Menjalani hidup berumah tangga selayaknya orang lain. Penuh tawa, kadang manja, sesekali merajuk. Sebelum berangkat kerja, Mita berusaha menjadi istri yang baik. Menyiapkan secangkir kopi buat Ale. Sedangkan Ale kembali disibukkan dengan jadwal kerja yang bakal menyita waktu mesranya bersama Mita.
“Lusa aku harus ke Kalimantan Timur. Ada proyek tambang yang perlu aku survei,” kata Ale di sela minum kopinya.
“Berapa lama di sana?” tanya Mita seolah berat ditinggal pergi suaminya.
“Sekitar tiga hari,” jawab Ale sambil menyeruput kopi.
Entah mengapa, ada rasa cemas dirasakan Mita. Baru sebulan ia menikmati hari-hari indah bersama Ale. Lusa suaminya akan tugas ke luar pulau. Bukan hanya rindu. Mita takut kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Mita mencoba bersikap rasional. Risiko mempunyai suami yang bekerja di perusahaan tambang, kapan pun ia harus siap sendirian di rumah.
Hari pertama ditinggal Ale kerja ke luar pulau, perasaan Mita biasa saja. Hanya rindu yang menggelayut. Hari kedua, rindu mulai tak terbendung. Meski Ale menyempatkan waktu untuk menelpon panggilan video, namun tak mampu memupus rasa kangen itu. Mita rindu belaian lembut tangan Ale di rambut. Rindu pada cerita lucu ketika Ale berdebar saat membaca akad nikah. Mita juga rindu membuatkan secangkir kopi buat Ale.
Hari ketiga, perasaan tak enak muncul. Pagi, siang, hingga sore hari Ale tak dapat dihubungi. Mita kirim pesan lewat ponsel, centang dua namun belum dibaca Ale. Ditelpon tak diangkat. Mita mulai cemas. Ada apa dengan suaminya? Apakah Ale sedang sangat sibuk? Apakah tak ada waktu sedetik pun untuk membuka dan membaca pesan Mita?
Malam selepas isya, Mita duduk di ruang tamu sambil memegang ponselnya. Berharap Ale menelpon. Gerimis turun. Suara tetes air hujan terdengar di dalam rumah. Tengah cemas tentang suaminya, Mita dikejutkan oleh suara lolongan anjing. Mita merinding. Dadanya berdebar. Rasa takut muncul. Suara lolongan anjing malam hari di tengah hujan gerimis mirip seperti kejadian malam pertamanya bersama Ale.
Mendadak telepon genggamnya berdering. Mita melihat nomor telepon yang masuk. Bukan nomor Ale. Ragu Mita untuk mengangkat. Takut nomor telepon modus penipuan. Namun Mita berpikir siapa tahu ada masalah dengan ponsel Ale sehingga pakai ponsel temannya. Mita mencoba mengangkat telepon itu.
“Selamat malam, ibu Mita. Maaf kami dari perusahaan, ingin mengabarkan bahwa bapak Ale mengalami musibah kecelakaan di lokasi tambang,” kata suara seorang laki-laki.
Mita terkulai lemas. Ia tak mampu berkata sepatah pun. Ketika laki-laki yang katanya dari perusahaan itu mengatakan bahwa nyawa Ale tak tertolong, Mita semakin terkulai. Air matanya deras mengalir dari kedua kelopak matanya. Suaminya meninggal di lokasi tambang. Laki-laki yang baru sebulan menemani hidupnya. Di luar rumah, gerimis masih turun; suara lolongan anjing semakin melengking, menyeramkan dan menyedihkan.
***
Paramita Laksmi masih menyisakan duka mendalam atas kepergian Alejandro Hermawan, suaminya. Begitu cepat Ale menghadap Sang Kuasa. Mita lantas mengaitkan kematian Ale dengan tanda merah di pahanya. Benarkah tanda merah di paha Mita membawa kesialan yang berujung meninggalnya Ale? Mita tak habis pikir.
Mita memandangi tanda merah di pahanya. Tidak ada yang salah dari tanda merah itu, pikirnya. Tanda itu sudah ada sejak Mita lahir. Kalau pun muncul mitos yang mengatakan tanda merah itu membawa kesialan, Mita tetap tak mau menyalahkan dirinya. Ia anggap Ale mungkin memang belum jodoh abadinya.
Sempat terpikir oleh Mita untuk tidak menikah lagi, selamanya. Namun ia cepat-cepat meralat pikirannya. Bukankah setiap orang layak untuk menikah bila usia telah mencukupi? Mita tak ingin mengingkari kodratnya. Ia juga ingin menepis mitos tentang tanda merah di pahanya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan berkepanjangan, setelah lebih dari satu tahun Ale berpulang, Mita membuka kembali hatinya untuk seorang laki-laki. Kali ini ia menjalin hubungan asmara dengan Wira Arkandia, karyawan sebuah bank swasta. Orangnya pendiam. Tak seganteng Ale. Tapi Mita menyukainya. Wira Arkandia sangat sabar. Terpenting, Wira mau menerima Mita apa adanya, janda muda yang ditinggal mati suaminya.
Hubungan Wira Arkandia dan Paramita Laksmi berlanjut ke jenjang pelaminan. Mereka mengadakan resepsi yang sederhana, karena masih menyisakan sedikit kenangan sedih atas meninggalnya Ale, suami Mita sebelumnya. Meski sederhana, Wira dan Mita berharap rumah tangga mereka akan langgeng selamanya.
Suasana yang sama kembali terjadi. Mencekam dan menakutkan. Sesaat setelah mereka berlabuh di bahtera asmara, pertanyaan serupa dilontarkan Wira tentang tanda merah di paha kanan Mita.
“Mengapa ada tanda merah di pahamu, Mita?” tanya Wira di tengah upayanya mengatur napasnya yang sempat memacu tenaganya.
Mita terdiam sejenak. Bayangan masa lalu bersama Ale kembali muncul. Dan ia harus memberi jawaban yang sama kepada Wira.
“itu tanda lahir,” jawab Mita singkat, persis seperti jawaban yang ia berikan kepada Ale.
Gerimis malam pun tiba. Mita mulai cemas. Akankah kejadian setahun yang lalu akan datang lagi? Pertanyaan Mita terjawab. Terdengar suara lolongan anjing. Mita merinding. Wajahnya pucat. Wira membaca ketakutan Mita.
“Kenapa, Mita? Itu anjing siapa?” tanya Wira seperti curiga.
“Entahlah,”, jawab Mita menahan ketakutan.
Mita tidak ingin Wira terganggu dengan suara lolongan anjing di tengah malam. Lebih dari itu, Mita tidak ingin Wira sampai tahu lolongan anjing itu sebagai pertanda buruk yang akan menimpa mereka.
Namun malang tak dapat ditolak. Mita seolah mengulang cerita setahun yang lalu. Bahkan tidak sampai harus menunggu satu bulan hubungan Mita dan Wira. Genap satu minggu ia menjalin rumah tangga bersama Wira, kabar duka kembali diterimanya. Sama persis dengan kejadian yang menimpa Ale, suami pertama Mita.
Gerimis malam turun saat Wira masih belum pulang dari tempat kerjanya. Mita menduga Wira sedang kerja lembur. Terdengar suara lolongan anjing yang membuat Mita merinding. Dan tiba-tiba ponsel Mita berdering. Seorang rekan kerja Wira mengabarkan, Wira mengalami kecelakaan tunggal di jalan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Wira tidak dapat diselamatkan. Meninggal di lokasi kejadian.
Berbagai perasaan berkecamuk di hati Paramita Laksmi. Sedih yang sangat mendalam sudah pasti ia rasakan. Pasrah pada keadaan hanya dapat ia lakukan. Namun yang paling membuatnya tak mengerti, mengapa ia selalu kehilangan orang yang ia cintai dalam waktu yang begitu cepat. Benarkah semua karena tanda merah di pahanya? Mita sedih, meski tak mau menyalahkan diri sendiri.
***
Kepergian dua suami Mita secara berturut-turut menjadi perbincangan di keluarga besarnya. Juga di antara teman-teman kerjanya. Mita merasa setiap orang sedang meneropong dirinya. Ada yang bersimpati, ada pula yang mencoba memberi dukungan agar Mita tetap kuat.
Rembug keluarga besarnya mengisyaratkan bahwa kejadian yang menimpa Mita tak lepas dari tanda merah yang ada di pahanya. Meski semua itu sekadar mitos, namun meninggalnya Ale dan Wira lantas dikaitkan dengan tanda lahir yang ada di paha Mita.
Salah seorang paman Mita menyarankan agar Mita mencari jodoh yang sama, laki-laki yang juga memiliki tanda merah di paha. Mita terkejut. Saran yang menurutnya tak masuk akal. Bagaimana mungkin ia harus mencari laki-laki yang memiliki tanda merah yang sama. Apakah ia harus menanyakan satu per satu laki-laki yang mendekatinya? Menanyakan apakah ia juga punya tanda merah di pahanya? Bukankah itu justru akan membuat terkuak misteri yang ada pada dirinya?
Beruntung Mita punya rekan kerja yang sangat bersimpati padanya. Rekan kerjanya menyarankan Mita untuk berselancar di media sosial, siapa tahu ada laki-laki yang mengunggah pengalaman memiliki tanda merah di paha. Bukankah media sosial kini sering digunakan bukan hanya untuk pamer kemewahan, tetapi juga tempat orang-orang berkeluh-kesah?
Tanpa berpikir panjang Mita langsung menggunakan media sosialnya, mencari unggahan maupun video tentang tanda merah di paha. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Mita menemukan satu unggahan video dari seorang lelaki bernama Herlambang Prasetyo di satu media sosial. Laki-laki itu mencurahkan perasaannya tentang tanda merah di paha kanannya.
Herlambang Prasetyo sebagai pengusaha muda biro perjalanan mengaku kesulitan mendapatkan teman hidup ketika ia menceritakan kepada pacarnya tentang tanda merah di paha. Banyak yang menolak untuk menjadi istrinya, karena takut akan mendapat kesialan. Herlambang Prasetyo berharap dapat menemukan wanita yang memiliki tanda merah yang sama.
Saling berbalas pesan pun dilakukan antara Paramita Laksmi dengan Herlambang Prasetyo. Mereka saling mencurahkan isi hati. Keduanya memiliki tanda merah yang sama. Herlambang dan Mita mencoba saling memahami, saling bersimpati, dan seiring berjalannya waktu, mereka saling jatuh cinta. Mereka sepakat untuk menjalin hubungan lebih erat lagi, dalam satu ikatan perkawinan. Atas saran paman Mita, pernikahan mereka harus dilakukan di saat bulan purnama.
Resepsi pernikahan Mita yang ketiga kalinya diselenggarakan dengan sedikit meriah, karena Herlambang mengundang rekan-rekan mitra kerjanya. Mita pun kembali mengundang teman-teman kerjanya. Suasana resepsi pernikahan tampak meriah. Wajah ceria tampak pada Mita dan Herlambang. Malam cerah. Bulan bersinar terang. Tak ada gerimis yang turun. Tak ada suara lolongan anjing di tengah malam.
Setahun berlalu. Mita dan Herlambang dikaruniai seorang bayi perempuan. Cantik. Perpaduan antara Herlambang yang tampan dan Mita yang cantik. Mita sumringah gembira. Herlambang menimang bayi itu dengan penuh sayang. Namun sejenak mereka tertegun.
“Ada tanda merah di pahanya..,” ujar Mita dan Herlambang lirih.
Meski kemudian mereka tersenyum. Mita dan Herlambang saling pandang, memeluk erat anak kesayangan mereka. Sambil berpikir tentang apa yang harus diceritakan kepada anak mereka kelak. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole





























