27 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanda Merah di Paha

Chusmeru by Chusmeru
April 16, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat orang lain. Mita, begitu teman-teman memanggilnya, remaja yang kini tumbuh dewasa. Namui ia belum memiliki kekasih hati.

Bukan lantaran sombong. Mita tergolong gadis yang ramah dan periang. Kepada siapa pun Mita selalu bersikap bersahabat. Tak heran bila teman-temanya bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki. Suasana akan lebih seru jika perbincangan ada Mita di tengah mereka.

Bukan pula karena kesibukan Paramita Laksmi bekerja di perusahaan periklanan. Mita masih punya waktu luang di hari Sabtu dan Minggu untuk sekadar jalan-jalan atau belanja di mal. Seandainya ia memiliki kekasih tentu akan memanfaatkan waktu liburnya untuk berkencan. Mita memang sengaja menunda untuk memiliki kekasih. Sedangkan kedua kakak laki-lakinya sudah berumah tangga.

Paramita Laksmi masih belum berani menerima kehadiran laki-laki sebagai kekasih hati maupun suami. Ia masih menyimpan rasa takut pada dirinya sendiri. Bukan takut akan dikecewakan atau diselungkuhi suaminya. Ia takut pada misteri yang ada dalam dirinya. Ia cemas pada mitos yang ada pada tubuhnya.

Satu tanda merah terdapat di paha kanan bagian dalam kaki Mita. Ada yang menyebut tanda merah itu sebagai toh, yaitu tanda lahir yang melekat pada tubuh seseorang. Mita memiliki toh di paha kanan dalam, di dekat kemaluannya. Itu yang selalu mencemaskannya.

Sebenarnya Minta tidak begitu terganggu dengan tanda lahir berwarna merah itu. Ia tidak pernah merasakan gangguan tubuh apa pun. Tidak pernah merasa gatal atau panas di pahanya. Tanda lahir itu juga bentuknya tetap, bulatan kecil, tidak pernah membesar. Tetapi ia tetap gusar. Tanda lahir itu menyimpan mitos dan misteri.

Mita tidak pernah menceritakan kepada siapa pun tanda merah di pahanya itu. Hanya ayah dan ibunya serta kedua kakaknya yang tahu sejak bayi Mita mempunyai tanda merah itu. Mereka menyikapi tanda merah di paha Mita biasa-biasa saja. Itu adalah tanda lahir, dan banyak orang memiliki tanda lahir di tubuhnya, sebagaimana tahi lalat.

Meski begitu, Mita sering mendengar dan membaca perbincangan orang tentang tanda lahir merah di paha. Mitosnya, orang yang memiliki tanda lahir merah akan mengalami kesialan dalam hidupnya. Lebih menyeramkan lagi, Mita pernah mendengar mitos, wanita yang mempunyai tanda lahir merah di pahanya bila menikah suaminya akan meninggal dunia.

***

Tak sepenuhnya percaya pada mitos tanda merah di paha, Mita pernah menanyakan itu kepada kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Mita saling pandang. Mereka seolah menahan sesuatu yang berat untuk dikatakan kepada Mita.

“Itu tanda lahir, Mita. Tidak bisa dihilangkan,” hanya itu yang diucapkan ibu Mita.

“Tak usah percaya pada mitos atau cerita orang, Mita,” ujar ayah Mita menambahkan.

Paramita Laksmi hanya tertunduk mendengar jawaban kedua orang tuanya. Ia tahu betul, ada sesuatu yang dipendam ayah dan ibunya. Mita pun mencoba untuk tegar, tak percaya omongan orang tentang mitos tanda merah di paha.

Hingga suatu hari, Mita bertemu dengan Alejandro Hermawan, laki-laki tampan yang berprofesi sebagai asisten manajer perusahaan pertambangan. Diawali dengan perbincangan soal profil perusahaan tempat Alejandro Herwaman bekerja yang akan diiklankan di perusahaan Mita. Obrolan berlanjut menjadi obrolan ringan.

Alejandro Herwaman yang ingin dipanggil Ale saja itu berusaha menyingkap status Mita. Begitu pun Mita, ingin tahu lebih jauh tentang sosok Ale. Mereka sama-sama masih sendiri. Obrolan berlanjut saling memuji, saling bercanda, dan saling jatuh cinta. Mereka sepakat untuk mengisi hari-hari dengan selalu bersama.

Hari yang ditunggu Mita pun tiba. Ale mengungkapkan niatnya untuk melamar Mita. Tentu saja Mita tersenyum bahagia. Ia akan segera mengakhiri masa lajangnya. Menjadi istri laki-laki tampan yang penuh pesona, penuh prestasi; dan pastinya penuh kasih sayang.

Tidak menunggu begitu lama dari waktu lamaran, orang tua Ale dan orang tua Mita menyepakati hari pernikahan anak mereka. Akad nikah kedua mempelai berjalan lancar. Resepsi pernikahan pun cukup meriah. Kerabat dan keluarga besar Ale dan Mita datang memberi doa dan ucapan selamat.

Menjelang larut malam, hanya Ale dan Mita di kamar pengantin yang dihias dengan nuansa perpaduan warna pink dan biru. Mereka bersiap merengkuh malam yang begitu menggoda. Ale tak sabar melepas lajang. Mita pasrah menyerahkan mahkotanya. Mereka larut dalam dingin malam. Sesaat kemudian Ale tertegun melihat tanda merah di paha Mita.

“Ini apa, Mita?” tanya Ale sambil menunjuk tanda lahir berwarna merah milik Mita.

“Itu tanda lahir,” jawab Mita singkat.

Berbarengan dengan jawaban Mita, hujan turun di tengah malam. Tidak terlalu deras. Hujan pengantin baru, begitu orang menyebutnya. Namun perlahan terdengar suara lolongan anjing. Ale dan Mita terkejut. Suara lolongan anjing itu begitu panjang dan menyeramkan. Apalagi di tengah malam ketika mereka sedang melepas masa lajang.

Ale merinding mendengar lolongan anjing di tengah malam. Mita lebih merinding dan dicekam ketakutan. Ia heran mengapa ada suara anjing melolong di tengah hujan malam hari. Padahal sepengetahuan Mita tidak ada tetangganya yang memelihara anjing.

“Lalu suara anjing siapa itu?” tanya Mita dalam hati.

Suasana romantis tengah malam berubah menjadi mencekam. Ale dan Mita saling pandang, merinding, dan ketakutan. Mereka hanya menerka apa yang bisa mereka duga. Ale menduga itu anjing siluman yang ingin mengacaukan malam pertamanya. Mita merasa suara lolongan anjing itu pertanda buruk dalam pernikahannya. Ia terbayang kembali cerita orang tentang tanda merah di pahanya.

                                                                        ***

Sebulan sudah Ale dan Mita menjadi suami istri. Menjalani hidup berumah tangga selayaknya orang lain. Penuh tawa, kadang manja, sesekali merajuk. Sebelum berangkat kerja, Mita berusaha menjadi istri yang baik. Menyiapkan secangkir kopi buat Ale. Sedangkan Ale kembali disibukkan dengan jadwal kerja yang bakal menyita waktu mesranya bersama Mita.

“Lusa aku harus ke Kalimantan Timur. Ada proyek tambang yang perlu aku survei,” kata Ale di sela minum kopinya.

“Berapa lama di sana?” tanya Mita seolah berat ditinggal pergi suaminya.

“Sekitar tiga hari,” jawab Ale sambil menyeruput kopi.

Entah mengapa, ada rasa cemas dirasakan Mita. Baru sebulan ia menikmati hari-hari indah bersama Ale. Lusa suaminya akan tugas ke luar pulau. Bukan hanya rindu. Mita takut kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Mita mencoba bersikap rasional. Risiko mempunyai suami yang bekerja di perusahaan tambang, kapan pun ia harus siap sendirian di rumah.

Hari pertama ditinggal Ale kerja ke luar pulau, perasaan Mita biasa saja. Hanya rindu yang menggelayut. Hari kedua, rindu mulai tak terbendung. Meski Ale menyempatkan waktu untuk menelpon panggilan video, namun tak mampu memupus rasa kangen itu. Mita rindu belaian lembut tangan Ale di rambut. Rindu pada cerita lucu ketika Ale berdebar saat membaca akad nikah. Mita juga rindu membuatkan secangkir kopi buat Ale.

Hari ketiga, perasaan tak enak muncul. Pagi, siang, hingga sore hari Ale tak dapat dihubungi. Mita kirim pesan lewat ponsel, centang dua namun belum dibaca Ale. Ditelpon tak diangkat. Mita mulai cemas. Ada apa dengan suaminya? Apakah Ale sedang sangat sibuk? Apakah tak ada waktu sedetik pun untuk membuka dan membaca pesan Mita?

Malam selepas isya, Mita duduk di ruang tamu sambil memegang ponselnya. Berharap Ale menelpon. Gerimis turun. Suara tetes air hujan terdengar di dalam rumah. Tengah cemas tentang suaminya, Mita dikejutkan oleh suara lolongan anjing. Mita merinding. Dadanya berdebar. Rasa takut muncul. Suara lolongan anjing malam hari di tengah hujan gerimis mirip seperti kejadian malam pertamanya bersama Ale.

Mendadak telepon genggamnya berdering. Mita melihat nomor telepon yang masuk. Bukan nomor Ale. Ragu Mita untuk mengangkat. Takut nomor telepon modus penipuan. Namun Mita berpikir siapa tahu ada masalah dengan ponsel Ale sehingga pakai ponsel temannya. Mita mencoba mengangkat telepon itu.

“Selamat malam, ibu Mita. Maaf kami dari perusahaan, ingin mengabarkan bahwa bapak Ale mengalami musibah kecelakaan di lokasi tambang,” kata suara seorang laki-laki.

Mita terkulai lemas. Ia tak mampu berkata sepatah pun. Ketika laki-laki yang katanya dari perusahaan itu mengatakan bahwa nyawa Ale tak tertolong, Mita semakin terkulai. Air matanya deras mengalir dari kedua kelopak matanya. Suaminya meninggal di lokasi tambang. Laki-laki yang baru sebulan menemani hidupnya. Di luar rumah, gerimis masih turun; suara lolongan anjing semakin melengking, menyeramkan dan menyedihkan.

                                                                        ***

Paramita Laksmi masih menyisakan duka mendalam atas kepergian Alejandro Hermawan, suaminya. Begitu cepat Ale menghadap Sang Kuasa. Mita lantas mengaitkan kematian Ale dengan tanda merah di pahanya. Benarkah tanda merah di paha Mita membawa kesialan yang berujung meninggalnya Ale? Mita tak habis pikir.

Mita memandangi tanda merah di pahanya. Tidak ada yang salah dari tanda merah itu, pikirnya. Tanda itu sudah ada sejak Mita lahir. Kalau pun muncul mitos yang mengatakan tanda merah itu membawa kesialan, Mita tetap tak mau menyalahkan dirinya. Ia anggap Ale mungkin memang belum jodoh abadinya.

Sempat terpikir oleh Mita untuk tidak menikah lagi, selamanya. Namun ia cepat-cepat meralat pikirannya. Bukankah setiap orang layak untuk menikah bila usia telah mencukupi? Mita tak ingin mengingkari kodratnya. Ia juga ingin menepis mitos tentang tanda merah di pahanya.

Tidak ingin larut dalam kesedihan berkepanjangan, setelah lebih dari satu tahun Ale berpulang, Mita membuka kembali hatinya untuk seorang laki-laki. Kali ini ia menjalin hubungan asmara dengan Wira Arkandia, karyawan sebuah bank swasta. Orangnya pendiam. Tak seganteng Ale. Tapi Mita menyukainya. Wira Arkandia sangat sabar. Terpenting, Wira mau menerima Mita apa adanya, janda muda yang ditinggal mati suaminya.

Hubungan Wira Arkandia dan Paramita Laksmi berlanjut ke jenjang pelaminan. Mereka mengadakan resepsi yang sederhana, karena masih menyisakan sedikit kenangan sedih atas meninggalnya Ale, suami Mita sebelumnya. Meski sederhana, Wira dan Mita berharap rumah tangga mereka akan langgeng selamanya.

Suasana yang sama kembali terjadi. Mencekam dan menakutkan. Sesaat setelah mereka berlabuh di bahtera asmara, pertanyaan serupa dilontarkan Wira tentang tanda merah di paha kanan Mita.

“Mengapa ada tanda merah di pahamu, Mita?” tanya Wira di tengah upayanya mengatur napasnya yang sempat memacu tenaganya.

Mita terdiam sejenak. Bayangan masa lalu bersama Ale kembali muncul. Dan ia harus memberi jawaban yang sama kepada Wira.

“itu tanda lahir,” jawab Mita singkat, persis seperti jawaban yang ia berikan kepada Ale.

Gerimis malam pun tiba. Mita mulai cemas. Akankah kejadian setahun yang lalu akan datang lagi? Pertanyaan Mita terjawab. Terdengar suara lolongan anjing. Mita merinding. Wajahnya pucat. Wira membaca ketakutan Mita.

“Kenapa, Mita? Itu anjing siapa?” tanya Wira seperti curiga.

“Entahlah,”, jawab Mita menahan ketakutan.

Mita tidak ingin Wira terganggu dengan suara lolongan anjing di tengah malam. Lebih dari itu, Mita tidak ingin Wira sampai tahu lolongan anjing itu sebagai pertanda buruk yang akan menimpa mereka.

Namun malang tak dapat ditolak. Mita seolah mengulang cerita setahun yang lalu. Bahkan tidak sampai harus menunggu satu bulan hubungan Mita dan Wira. Genap satu minggu ia menjalin rumah tangga bersama Wira, kabar duka kembali diterimanya. Sama persis dengan kejadian yang menimpa Ale, suami pertama Mita.

Gerimis malam turun saat Wira masih belum pulang dari tempat kerjanya. Mita menduga Wira sedang kerja lembur. Terdengar suara lolongan anjing yang membuat Mita merinding. Dan tiba-tiba ponsel Mita berdering. Seorang rekan kerja Wira mengabarkan, Wira mengalami kecelakaan tunggal di jalan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Wira tidak dapat diselamatkan.  Meninggal di lokasi kejadian.

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Paramita Laksmi. Sedih yang sangat mendalam sudah pasti ia rasakan. Pasrah pada keadaan hanya dapat ia lakukan. Namun yang paling membuatnya tak mengerti, mengapa ia selalu kehilangan orang yang ia cintai dalam waktu yang begitu cepat. Benarkah semua karena tanda merah di pahanya? Mita sedih, meski tak mau menyalahkan diri sendiri.

                                                                        ***                                                                                   

Kepergian dua suami Mita secara berturut-turut menjadi perbincangan di keluarga besarnya. Juga di antara teman-teman kerjanya. Mita merasa setiap orang sedang meneropong dirinya. Ada yang bersimpati, ada pula yang mencoba memberi dukungan agar Mita tetap kuat.

Rembug keluarga besarnya mengisyaratkan bahwa kejadian yang menimpa Mita tak lepas dari tanda merah yang ada di pahanya. Meski semua itu sekadar mitos, namun meninggalnya Ale dan Wira lantas dikaitkan dengan tanda lahir yang ada di paha Mita.

Salah seorang paman Mita menyarankan agar Mita mencari jodoh yang sama, laki-laki yang juga memiliki tanda merah di paha. Mita terkejut. Saran yang menurutnya tak masuk akal. Bagaimana mungkin ia harus mencari laki-laki yang memiliki tanda merah yang sama. Apakah ia harus menanyakan satu per satu laki-laki yang mendekatinya? Menanyakan apakah ia juga punya tanda merah di pahanya? Bukankah itu justru akan membuat terkuak misteri yang ada pada dirinya?

Beruntung Mita punya rekan kerja yang sangat bersimpati padanya. Rekan kerjanya menyarankan Mita untuk berselancar di media sosial, siapa tahu ada laki-laki yang mengunggah pengalaman memiliki tanda merah di paha. Bukankah media sosial kini sering digunakan bukan hanya untuk pamer kemewahan, tetapi juga tempat orang-orang berkeluh-kesah?

Tanpa berpikir panjang Mita langsung menggunakan media sosialnya, mencari unggahan maupun video tentang tanda merah di paha. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Mita menemukan satu unggahan video dari seorang lelaki bernama Herlambang Prasetyo di satu media sosial. Laki-laki itu mencurahkan perasaannya tentang tanda merah di paha kanannya.

Herlambang Prasetyo sebagai pengusaha muda biro perjalanan mengaku kesulitan mendapatkan teman hidup ketika ia menceritakan kepada pacarnya tentang tanda merah di paha. Banyak yang menolak untuk menjadi istrinya, karena takut akan mendapat kesialan. Herlambang Prasetyo berharap dapat menemukan wanita yang memiliki tanda merah yang sama.

Saling berbalas pesan pun dilakukan antara Paramita Laksmi dengan Herlambang Prasetyo. Mereka saling mencurahkan isi hati. Keduanya memiliki tanda merah yang sama. Herlambang dan Mita mencoba saling memahami, saling bersimpati, dan seiring berjalannya waktu, mereka saling jatuh cinta. Mereka sepakat untuk menjalin hubungan lebih erat lagi, dalam satu ikatan perkawinan. Atas saran paman Mita, pernikahan mereka harus dilakukan di saat bulan purnama.

Resepsi pernikahan Mita yang ketiga kalinya diselenggarakan dengan sedikit meriah, karena Herlambang mengundang rekan-rekan mitra kerjanya. Mita pun kembali mengundang teman-teman kerjanya. Suasana resepsi pernikahan tampak meriah. Wajah ceria tampak pada Mita dan Herlambang. Malam cerah. Bulan bersinar terang. Tak ada gerimis yang turun. Tak ada suara lolongan anjing di tengah malam.

Setahun berlalu. Mita dan Herlambang dikaruniai seorang bayi perempuan. Cantik. Perpaduan antara Herlambang yang tampan dan Mita yang cantik. Mita sumringah gembira. Herlambang menimang bayi itu dengan penuh sayang. Namun sejenak mereka tertegun.

“Ada tanda merah di pahanya..,” ujar Mita dan Herlambang lirih.

Meski kemudian mereka tersenyum. Mita dan Herlambang saling pandang, memeluk erat anak kesayangan mereka. Sambil berpikir tentang apa yang harus diceritakan kepada anak mereka kelak. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Haluan Bali Tiga Setengah Abad Ke Depan: Terikat Kontrak Nominee

Next Post

Makassar yang Sempat Terabaikan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Bermain dengan Jin Tengah Malam

by Chusmeru
May 7, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

Read moreDetails
Next Post
Makassar yang Sempat Terabaikan

Makassar yang Sempat Terabaikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 
Tualang

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng
Khas

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

by I Wayan Artika
May 27, 2026
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja
Khas

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co