26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
in Esai
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya dipenuhi mahasiswa yang sibuk membandingkan buku, guru yang mencari referensi, dan pembaca yang larut menelusuri rak demi rak. Tak jarang seseorang datang dengan niat membeli satu buku, tetapi pulang membawa tiga atau empat judul sekaligus.

Kini suasananya berbeda. Rak-rak buku masih berdiri rapi. Sampul-sampul baru masih dipajang di etalase depan. Namun pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Kasir tampak lebih sering menunggu daripada melayani. Beberapa sudut yang dulu ramai kini terasa lengang. Kesunyian perlahan menggantikan keramaian yang dahulu menjadi ciri khasnya. Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya: benarkah masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan buku?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dalam beberapa tahun terakhir sejumlah jaringan toko buku nasional menutup sejumlah gerainya akibat perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian menutup cabang. Sebagian mengecilkan ruang usaha. Sebagian lagi menyerah setelah bertahun-tahun berusaha bertahan menghadapi perubahan zaman.

Banyak orang kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah rendahnya minat baca masyarakat. Generasi muda dianggap malas membaca. Mereka dituduh lebih senang menatap layar ponsel daripada membuka halaman buku. Membaca dianggap kalah menarik dibanding menggulir media sosial selama berjam-jam.

Perhatian yang Diperebutkan

Akan tetapi, data terbaru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 poin, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 66,77 poin. Pada saat yang sama, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga naik menjadi 73,52 poin. Data ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak sesederhana tuduhan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Sebaliknya, akses terhadap bahan bacaan dan aktivitas membaca justru menunjukkan tren yang membaik.

Pada saat yang sama, ruang digital semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total penduduk. Selain itu, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial yang aktif pada awal 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa besar porsi kehidupan masyarakat yang kini berlangsung di ruang digital. Buku tidak lagi bersaing dengan sesama buku, melainkan dengan arus konten yang hadir tanpa henti di layar gawai.

Bayangkan seorang mahasiswa yang baru bangun pagi lalu membuka telepon genggamnya. Belum sempat berpikir, ia sudah disambut berita, video pendek, promosi produk, meme, gosip selebritas, kutipan motivasi, hingga tren terbaru yang datang silih berganti. Informasi mengalir begitu deras tanpa memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Akibatnya, membaca sepuluh halaman buku sering terasa lebih berat daripada menonton seratus video pendek.

Bukan tersebab generasi muda tidak cerdas. Bukan pula gegara mereka membenci buku. Melainkan karena perhatian mereka setiap hari diperebutkan oleh begitu banyak hal. Di sinilah senyatanya letak persoalan yang sedang kita hadapi. Kita bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita mengalami ledakan informasi. Yang semakin langka adalah kemampuan untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.

Era digital telah melahirkan kebiasaan membaca cepat tetapi miskin kedalaman. Orang membaca judul tanpa membaca isi. Orang membagikan kutipan tanpa memahami konteksnya. Orang merasa mengetahui banyak hal hanya karena menyimpan ratusan artikel PDF di laptopnya, meskipun sebagian besar tidak pernah selesai dibaca. Pengetahuan perlahan berubah menjadi koleksi, bukan pemahaman.

Fenomena yang sama juga terjadi di banyak perguruan tinggi. Sejumlah kampus mulai beralih ke perpustakaan digital. Ribuan buku elektronik, jurnal ilmiah, dan basis data internasional kini dapat diakses dari mana saja. Dari sisi efisiensi, perubahan ini tentu merupakan kemajuan. Mahasiswa tidak perlu lagi datang ke perpustakaan hanya untuk mencari satu referensi.

Ironisnya, kemudahan akses terhadap pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan intensitas pemanfaatannya. Kajian Perpusnas tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan masih relatif rendah. Fakta ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan koleksi, melainkan menghadirkan kembali pengalaman membaca yang mampu menarik perhatian masyarakat di tengah dominasi ruang digital.

Di sinilah posisi buku menjadi unik. Buku sesungguhnya sedang bertarung dalam kompetisi yang tidak seimbang. Ketika seseorang membuka sebuah buku, ia membutuhkan ketenangan, konsentrasi, dan kesediaan untuk mengikuti alur pemikiran penulis secara perlahan. Sebaliknya, media digital menawarkan kepuasan instan. Satu video dapat digantikan oleh video berikutnya hanya dalam hitungan detik. Satu informasi segera disusul informasi lain sebelum sempat direnungkan.

Buku tidak lagi bersaing dengan televisi sebagaimana beberapa dekade lalu. Buku kini bersaing dengan sistem teknologi yang mempekerjakan ribuan insinyur, psikolog perilaku, dan ilmuwan data untuk mempelajari cara paling efektif menarik perhatian manusia. Jika toko buku kehilangan pengunjung, persoalannya bukan karena buku tiba-tiba kehilangan nilai. Persoalannya adalah karena buku harus bersaing dengan mesin yang memang dirancang untuk membuat manusia sulit melepaskan pandangannya dari layar.

Bukan Krisis Membaca

Istilah “rendahnya minat baca” sering kali menyesatkan. Banyak orang masih membaca setiap hari. Mereka membaca pesan WhatsApp, berita daring, unggahan media sosial, komentar, dan berbagai bentuk teks lainnya. Yang berubah bukan aktivitas membaca itu sendiri, melainkan kualitas perhatian yang menyertainya.

Masyarakat modern semakin terbiasa membaca secara cepat, meloncat dari satu informasi ke informasi lain, dan jarang bertahan lama pada satu gagasan. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan terkikis. Padahal kemampuan inilah yang memungkinkan seseorang memahami argumen yang kompleks, melakukan refleksi kritis, dan menghasilkan kebijaksanaan. Jika kondisi ini terus berlangsung, masalah yang kita hadapi bukan sekadar berkurangnya jumlah pembaca buku, melainkan melemahnya kapasitas masyarakat untuk berpikir secara mendalam.

Dalam konteks ini, toko buku dan perpustakaan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat menjual atau meminjam buku. Keduanya merupakan ruang sosial yang mempertahankan kemungkinan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tak berkesudahan. Ketika seseorang berjalan di antara rak-rak buku, ia tidak sedang mengikuti algoritma yang menentukan apa yang harus dilihat berikutnya. Ia sedang memilih secara sadar arah pengetahuannya sendiri.

Karena itu, mempertahankan toko buku dan menghidupkan perpustakaan bukan hanya soal menjaga industri penerbitan atau menyediakan fasilitas pendidikan. Ia merupakan bagian dari upaya mempertahankan otonomi manusia atas perhatiannya. Di tengah dunia yang terus berusaha membeli, menjual, dan mengarahkan perhatian kita, membaca buku menjadi tindakan kebudayaan sebagai upaya merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Di tengah kebisingan digital, buku menawarkan sesuatu yang semakin langka: keheningan. Membaca buku berarti mengambil jarak dari notifikasi, iklan, dan distraksi yang terus berebut perhatian. Itu sebabnya, buku tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan fokus yang semakin mahal nilainya pada zaman sekarang.

Karena itu, persoalan rendahnya minat baca tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan atau kampanye sesaat. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang membuat membaca kembali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekolah harus memperkenalkan buku sebagai jendela pemikiran, bukan sekadar bahan ujian. Kampus perlu menghidupkan kembali budaya literasi yang tidak berhenti pada pengunduhan artikel.

Jika dahulu tantangan terbesar dunia pendidikan adalah menghadirkan buku kepada masyarakat, tantangan hari ini adalah menghadirkan kembali masyarakat kepada buku. Di tengah kelimpahan informasi, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kekurangan perhatian. Nasib toko buku dan perpustakaan senyatanya bukan sekadar soal bisnis atau teknologi. Keduanya merupakan cermin dari kemampuan sebuah bangsa untuk menyediakan ruang hening bagi warganya agar dapat membaca, berpikir, dan merenung secara mendalam. Bagaimanapun, kebijaksanaan tidak lahir dari derasnya informasi, melainkan dari kesediaan memberi waktu bagi pikiran untuk mengolahnya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Next Post

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails
Next Post
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co