5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
in Esai
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya dipenuhi mahasiswa yang sibuk membandingkan buku, guru yang mencari referensi, dan pembaca yang larut menelusuri rak demi rak. Tak jarang seseorang datang dengan niat membeli satu buku, tetapi pulang membawa tiga atau empat judul sekaligus.

Kini suasananya berbeda. Rak-rak buku masih berdiri rapi. Sampul-sampul baru masih dipajang di etalase depan. Namun pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Kasir tampak lebih sering menunggu daripada melayani. Beberapa sudut yang dulu ramai kini terasa lengang. Kesunyian perlahan menggantikan keramaian yang dahulu menjadi ciri khasnya. Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya: benarkah masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan buku?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dalam beberapa tahun terakhir sejumlah jaringan toko buku nasional menutup sejumlah gerainya akibat perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian menutup cabang. Sebagian mengecilkan ruang usaha. Sebagian lagi menyerah setelah bertahun-tahun berusaha bertahan menghadapi perubahan zaman.

Banyak orang kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah rendahnya minat baca masyarakat. Generasi muda dianggap malas membaca. Mereka dituduh lebih senang menatap layar ponsel daripada membuka halaman buku. Membaca dianggap kalah menarik dibanding menggulir media sosial selama berjam-jam.

Perhatian yang Diperebutkan

Akan tetapi, data terbaru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 poin, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 66,77 poin. Pada saat yang sama, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga naik menjadi 73,52 poin. Data ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak sesederhana tuduhan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Sebaliknya, akses terhadap bahan bacaan dan aktivitas membaca justru menunjukkan tren yang membaik.

Pada saat yang sama, ruang digital semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total penduduk. Selain itu, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial yang aktif pada awal 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa besar porsi kehidupan masyarakat yang kini berlangsung di ruang digital. Buku tidak lagi bersaing dengan sesama buku, melainkan dengan arus konten yang hadir tanpa henti di layar gawai.

Bayangkan seorang mahasiswa yang baru bangun pagi lalu membuka telepon genggamnya. Belum sempat berpikir, ia sudah disambut berita, video pendek, promosi produk, meme, gosip selebritas, kutipan motivasi, hingga tren terbaru yang datang silih berganti. Informasi mengalir begitu deras tanpa memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Akibatnya, membaca sepuluh halaman buku sering terasa lebih berat daripada menonton seratus video pendek.

Bukan tersebab generasi muda tidak cerdas. Bukan pula gegara mereka membenci buku. Melainkan karena perhatian mereka setiap hari diperebutkan oleh begitu banyak hal. Di sinilah senyatanya letak persoalan yang sedang kita hadapi. Kita bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita mengalami ledakan informasi. Yang semakin langka adalah kemampuan untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.

Era digital telah melahirkan kebiasaan membaca cepat tetapi miskin kedalaman. Orang membaca judul tanpa membaca isi. Orang membagikan kutipan tanpa memahami konteksnya. Orang merasa mengetahui banyak hal hanya karena menyimpan ratusan artikel PDF di laptopnya, meskipun sebagian besar tidak pernah selesai dibaca. Pengetahuan perlahan berubah menjadi koleksi, bukan pemahaman.

Fenomena yang sama juga terjadi di banyak perguruan tinggi. Sejumlah kampus mulai beralih ke perpustakaan digital. Ribuan buku elektronik, jurnal ilmiah, dan basis data internasional kini dapat diakses dari mana saja. Dari sisi efisiensi, perubahan ini tentu merupakan kemajuan. Mahasiswa tidak perlu lagi datang ke perpustakaan hanya untuk mencari satu referensi.

Ironisnya, kemudahan akses terhadap pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan intensitas pemanfaatannya. Kajian Perpusnas tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan masih relatif rendah. Fakta ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan koleksi, melainkan menghadirkan kembali pengalaman membaca yang mampu menarik perhatian masyarakat di tengah dominasi ruang digital.

Di sinilah posisi buku menjadi unik. Buku sesungguhnya sedang bertarung dalam kompetisi yang tidak seimbang. Ketika seseorang membuka sebuah buku, ia membutuhkan ketenangan, konsentrasi, dan kesediaan untuk mengikuti alur pemikiran penulis secara perlahan. Sebaliknya, media digital menawarkan kepuasan instan. Satu video dapat digantikan oleh video berikutnya hanya dalam hitungan detik. Satu informasi segera disusul informasi lain sebelum sempat direnungkan.

Buku tidak lagi bersaing dengan televisi sebagaimana beberapa dekade lalu. Buku kini bersaing dengan sistem teknologi yang mempekerjakan ribuan insinyur, psikolog perilaku, dan ilmuwan data untuk mempelajari cara paling efektif menarik perhatian manusia. Jika toko buku kehilangan pengunjung, persoalannya bukan karena buku tiba-tiba kehilangan nilai. Persoalannya adalah karena buku harus bersaing dengan mesin yang memang dirancang untuk membuat manusia sulit melepaskan pandangannya dari layar.

Bukan Krisis Membaca

Istilah “rendahnya minat baca” sering kali menyesatkan. Banyak orang masih membaca setiap hari. Mereka membaca pesan WhatsApp, berita daring, unggahan media sosial, komentar, dan berbagai bentuk teks lainnya. Yang berubah bukan aktivitas membaca itu sendiri, melainkan kualitas perhatian yang menyertainya.

Masyarakat modern semakin terbiasa membaca secara cepat, meloncat dari satu informasi ke informasi lain, dan jarang bertahan lama pada satu gagasan. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan terkikis. Padahal kemampuan inilah yang memungkinkan seseorang memahami argumen yang kompleks, melakukan refleksi kritis, dan menghasilkan kebijaksanaan. Jika kondisi ini terus berlangsung, masalah yang kita hadapi bukan sekadar berkurangnya jumlah pembaca buku, melainkan melemahnya kapasitas masyarakat untuk berpikir secara mendalam.

Dalam konteks ini, toko buku dan perpustakaan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat menjual atau meminjam buku. Keduanya merupakan ruang sosial yang mempertahankan kemungkinan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tak berkesudahan. Ketika seseorang berjalan di antara rak-rak buku, ia tidak sedang mengikuti algoritma yang menentukan apa yang harus dilihat berikutnya. Ia sedang memilih secara sadar arah pengetahuannya sendiri.

Karena itu, mempertahankan toko buku dan menghidupkan perpustakaan bukan hanya soal menjaga industri penerbitan atau menyediakan fasilitas pendidikan. Ia merupakan bagian dari upaya mempertahankan otonomi manusia atas perhatiannya. Di tengah dunia yang terus berusaha membeli, menjual, dan mengarahkan perhatian kita, membaca buku menjadi tindakan kebudayaan sebagai upaya merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Di tengah kebisingan digital, buku menawarkan sesuatu yang semakin langka: keheningan. Membaca buku berarti mengambil jarak dari notifikasi, iklan, dan distraksi yang terus berebut perhatian. Itu sebabnya, buku tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan fokus yang semakin mahal nilainya pada zaman sekarang.

Karena itu, persoalan rendahnya minat baca tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan atau kampanye sesaat. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang membuat membaca kembali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekolah harus memperkenalkan buku sebagai jendela pemikiran, bukan sekadar bahan ujian. Kampus perlu menghidupkan kembali budaya literasi yang tidak berhenti pada pengunduhan artikel.

Jika dahulu tantangan terbesar dunia pendidikan adalah menghadirkan buku kepada masyarakat, tantangan hari ini adalah menghadirkan kembali masyarakat kepada buku. Di tengah kelimpahan informasi, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kekurangan perhatian. Nasib toko buku dan perpustakaan senyatanya bukan sekadar soal bisnis atau teknologi. Keduanya merupakan cermin dari kemampuan sebuah bangsa untuk menyediakan ruang hening bagi warganya agar dapat membaca, berpikir, dan merenung secara mendalam. Bagaimanapun, kebijaksanaan tidak lahir dari derasnya informasi, melainkan dari kesediaan memberi waktu bagi pikiran untuk mengolahnya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Next Post

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co