26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
in Esai
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya dipenuhi mahasiswa yang sibuk membandingkan buku, guru yang mencari referensi, dan pembaca yang larut menelusuri rak demi rak. Tak jarang seseorang datang dengan niat membeli satu buku, tetapi pulang membawa tiga atau empat judul sekaligus.

Kini suasananya berbeda. Rak-rak buku masih berdiri rapi. Sampul-sampul baru masih dipajang di etalase depan. Namun pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Kasir tampak lebih sering menunggu daripada melayani. Beberapa sudut yang dulu ramai kini terasa lengang. Kesunyian perlahan menggantikan keramaian yang dahulu menjadi ciri khasnya. Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya: benarkah masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan buku?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dalam beberapa tahun terakhir sejumlah jaringan toko buku nasional menutup sejumlah gerainya akibat perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian menutup cabang. Sebagian mengecilkan ruang usaha. Sebagian lagi menyerah setelah bertahun-tahun berusaha bertahan menghadapi perubahan zaman.

Banyak orang kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah rendahnya minat baca masyarakat. Generasi muda dianggap malas membaca. Mereka dituduh lebih senang menatap layar ponsel daripada membuka halaman buku. Membaca dianggap kalah menarik dibanding menggulir media sosial selama berjam-jam.

Perhatian yang Diperebutkan

Akan tetapi, data terbaru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 poin, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 66,77 poin. Pada saat yang sama, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga naik menjadi 73,52 poin. Data ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak sesederhana tuduhan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Sebaliknya, akses terhadap bahan bacaan dan aktivitas membaca justru menunjukkan tren yang membaik.

Pada saat yang sama, ruang digital semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total penduduk. Selain itu, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial yang aktif pada awal 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa besar porsi kehidupan masyarakat yang kini berlangsung di ruang digital. Buku tidak lagi bersaing dengan sesama buku, melainkan dengan arus konten yang hadir tanpa henti di layar gawai.

Bayangkan seorang mahasiswa yang baru bangun pagi lalu membuka telepon genggamnya. Belum sempat berpikir, ia sudah disambut berita, video pendek, promosi produk, meme, gosip selebritas, kutipan motivasi, hingga tren terbaru yang datang silih berganti. Informasi mengalir begitu deras tanpa memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Akibatnya, membaca sepuluh halaman buku sering terasa lebih berat daripada menonton seratus video pendek.

Bukan tersebab generasi muda tidak cerdas. Bukan pula gegara mereka membenci buku. Melainkan karena perhatian mereka setiap hari diperebutkan oleh begitu banyak hal. Di sinilah senyatanya letak persoalan yang sedang kita hadapi. Kita bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita mengalami ledakan informasi. Yang semakin langka adalah kemampuan untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.

Era digital telah melahirkan kebiasaan membaca cepat tetapi miskin kedalaman. Orang membaca judul tanpa membaca isi. Orang membagikan kutipan tanpa memahami konteksnya. Orang merasa mengetahui banyak hal hanya karena menyimpan ratusan artikel PDF di laptopnya, meskipun sebagian besar tidak pernah selesai dibaca. Pengetahuan perlahan berubah menjadi koleksi, bukan pemahaman.

Fenomena yang sama juga terjadi di banyak perguruan tinggi. Sejumlah kampus mulai beralih ke perpustakaan digital. Ribuan buku elektronik, jurnal ilmiah, dan basis data internasional kini dapat diakses dari mana saja. Dari sisi efisiensi, perubahan ini tentu merupakan kemajuan. Mahasiswa tidak perlu lagi datang ke perpustakaan hanya untuk mencari satu referensi.

Ironisnya, kemudahan akses terhadap pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan intensitas pemanfaatannya. Kajian Perpusnas tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan masih relatif rendah. Fakta ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan koleksi, melainkan menghadirkan kembali pengalaman membaca yang mampu menarik perhatian masyarakat di tengah dominasi ruang digital.

Di sinilah posisi buku menjadi unik. Buku sesungguhnya sedang bertarung dalam kompetisi yang tidak seimbang. Ketika seseorang membuka sebuah buku, ia membutuhkan ketenangan, konsentrasi, dan kesediaan untuk mengikuti alur pemikiran penulis secara perlahan. Sebaliknya, media digital menawarkan kepuasan instan. Satu video dapat digantikan oleh video berikutnya hanya dalam hitungan detik. Satu informasi segera disusul informasi lain sebelum sempat direnungkan.

Buku tidak lagi bersaing dengan televisi sebagaimana beberapa dekade lalu. Buku kini bersaing dengan sistem teknologi yang mempekerjakan ribuan insinyur, psikolog perilaku, dan ilmuwan data untuk mempelajari cara paling efektif menarik perhatian manusia. Jika toko buku kehilangan pengunjung, persoalannya bukan karena buku tiba-tiba kehilangan nilai. Persoalannya adalah karena buku harus bersaing dengan mesin yang memang dirancang untuk membuat manusia sulit melepaskan pandangannya dari layar.

Bukan Krisis Membaca

Istilah “rendahnya minat baca” sering kali menyesatkan. Banyak orang masih membaca setiap hari. Mereka membaca pesan WhatsApp, berita daring, unggahan media sosial, komentar, dan berbagai bentuk teks lainnya. Yang berubah bukan aktivitas membaca itu sendiri, melainkan kualitas perhatian yang menyertainya.

Masyarakat modern semakin terbiasa membaca secara cepat, meloncat dari satu informasi ke informasi lain, dan jarang bertahan lama pada satu gagasan. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan terkikis. Padahal kemampuan inilah yang memungkinkan seseorang memahami argumen yang kompleks, melakukan refleksi kritis, dan menghasilkan kebijaksanaan. Jika kondisi ini terus berlangsung, masalah yang kita hadapi bukan sekadar berkurangnya jumlah pembaca buku, melainkan melemahnya kapasitas masyarakat untuk berpikir secara mendalam.

Dalam konteks ini, toko buku dan perpustakaan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat menjual atau meminjam buku. Keduanya merupakan ruang sosial yang mempertahankan kemungkinan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tak berkesudahan. Ketika seseorang berjalan di antara rak-rak buku, ia tidak sedang mengikuti algoritma yang menentukan apa yang harus dilihat berikutnya. Ia sedang memilih secara sadar arah pengetahuannya sendiri.

Karena itu, mempertahankan toko buku dan menghidupkan perpustakaan bukan hanya soal menjaga industri penerbitan atau menyediakan fasilitas pendidikan. Ia merupakan bagian dari upaya mempertahankan otonomi manusia atas perhatiannya. Di tengah dunia yang terus berusaha membeli, menjual, dan mengarahkan perhatian kita, membaca buku menjadi tindakan kebudayaan sebagai upaya merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Di tengah kebisingan digital, buku menawarkan sesuatu yang semakin langka: keheningan. Membaca buku berarti mengambil jarak dari notifikasi, iklan, dan distraksi yang terus berebut perhatian. Itu sebabnya, buku tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan fokus yang semakin mahal nilainya pada zaman sekarang.

Karena itu, persoalan rendahnya minat baca tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan atau kampanye sesaat. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang membuat membaca kembali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekolah harus memperkenalkan buku sebagai jendela pemikiran, bukan sekadar bahan ujian. Kampus perlu menghidupkan kembali budaya literasi yang tidak berhenti pada pengunduhan artikel.

Jika dahulu tantangan terbesar dunia pendidikan adalah menghadirkan buku kepada masyarakat, tantangan hari ini adalah menghadirkan kembali masyarakat kepada buku. Di tengah kelimpahan informasi, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kekurangan perhatian. Nasib toko buku dan perpustakaan senyatanya bukan sekadar soal bisnis atau teknologi. Keduanya merupakan cermin dari kemampuan sebuah bangsa untuk menyediakan ruang hening bagi warganya agar dapat membaca, berpikir, dan merenung secara mendalam. Bagaimanapun, kebijaksanaan tidak lahir dari derasnya informasi, melainkan dari kesediaan memberi waktu bagi pikiran untuk mengolahnya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Next Post

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co