7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
in Esai
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

Ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya dipenuhi mahasiswa yang sibuk membandingkan buku, guru yang mencari referensi, dan pembaca yang larut menelusuri rak demi rak. Tak jarang seseorang datang dengan niat membeli satu buku, tetapi pulang membawa tiga atau empat judul sekaligus.

Kini suasananya berbeda. Rak-rak buku masih berdiri rapi. Sampul-sampul baru masih dipajang di etalase depan. Namun pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Kasir tampak lebih sering menunggu daripada melayani. Beberapa sudut yang dulu ramai kini terasa lengang. Kesunyian perlahan menggantikan keramaian yang dahulu menjadi ciri khasnya. Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya: benarkah masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan buku?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dalam beberapa tahun terakhir sejumlah jaringan toko buku nasional menutup sejumlah gerainya akibat perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian menutup cabang. Sebagian mengecilkan ruang usaha. Sebagian lagi menyerah setelah bertahun-tahun berusaha bertahan menghadapi perubahan zaman.

Banyak orang kemudian buru-buru menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah rendahnya minat baca masyarakat. Generasi muda dianggap malas membaca. Mereka dituduh lebih senang menatap layar ponsel daripada membuka halaman buku. Membaca dianggap kalah menarik dibanding menggulir media sosial selama berjam-jam.

Perhatian yang Diperebutkan

Akan tetapi, data terbaru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44 poin, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 66,77 poin. Pada saat yang sama, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga naik menjadi 73,52 poin. Data ini menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak sesederhana tuduhan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Sebaliknya, akses terhadap bahan bacaan dan aktivitas membaca justru menunjukkan tren yang membaik.

Pada saat yang sama, ruang digital semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Laporan Digital 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total penduduk. Selain itu, terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial yang aktif pada awal 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa besar porsi kehidupan masyarakat yang kini berlangsung di ruang digital. Buku tidak lagi bersaing dengan sesama buku, melainkan dengan arus konten yang hadir tanpa henti di layar gawai.

Bayangkan seorang mahasiswa yang baru bangun pagi lalu membuka telepon genggamnya. Belum sempat berpikir, ia sudah disambut berita, video pendek, promosi produk, meme, gosip selebritas, kutipan motivasi, hingga tren terbaru yang datang silih berganti. Informasi mengalir begitu deras tanpa memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Akibatnya, membaca sepuluh halaman buku sering terasa lebih berat daripada menonton seratus video pendek.

Bukan tersebab generasi muda tidak cerdas. Bukan pula gegara mereka membenci buku. Melainkan karena perhatian mereka setiap hari diperebutkan oleh begitu banyak hal. Di sinilah senyatanya letak persoalan yang sedang kita hadapi. Kita bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita mengalami ledakan informasi. Yang semakin langka adalah kemampuan untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.

Era digital telah melahirkan kebiasaan membaca cepat tetapi miskin kedalaman. Orang membaca judul tanpa membaca isi. Orang membagikan kutipan tanpa memahami konteksnya. Orang merasa mengetahui banyak hal hanya karena menyimpan ratusan artikel PDF di laptopnya, meskipun sebagian besar tidak pernah selesai dibaca. Pengetahuan perlahan berubah menjadi koleksi, bukan pemahaman.

Fenomena yang sama juga terjadi di banyak perguruan tinggi. Sejumlah kampus mulai beralih ke perpustakaan digital. Ribuan buku elektronik, jurnal ilmiah, dan basis data internasional kini dapat diakses dari mana saja. Dari sisi efisiensi, perubahan ini tentu merupakan kemajuan. Mahasiswa tidak perlu lagi datang ke perpustakaan hanya untuk mencari satu referensi.

Ironisnya, kemudahan akses terhadap pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan intensitas pemanfaatannya. Kajian Perpusnas tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan masih relatif rendah. Fakta ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan koleksi, melainkan menghadirkan kembali pengalaman membaca yang mampu menarik perhatian masyarakat di tengah dominasi ruang digital.

Di sinilah posisi buku menjadi unik. Buku sesungguhnya sedang bertarung dalam kompetisi yang tidak seimbang. Ketika seseorang membuka sebuah buku, ia membutuhkan ketenangan, konsentrasi, dan kesediaan untuk mengikuti alur pemikiran penulis secara perlahan. Sebaliknya, media digital menawarkan kepuasan instan. Satu video dapat digantikan oleh video berikutnya hanya dalam hitungan detik. Satu informasi segera disusul informasi lain sebelum sempat direnungkan.

Buku tidak lagi bersaing dengan televisi sebagaimana beberapa dekade lalu. Buku kini bersaing dengan sistem teknologi yang mempekerjakan ribuan insinyur, psikolog perilaku, dan ilmuwan data untuk mempelajari cara paling efektif menarik perhatian manusia. Jika toko buku kehilangan pengunjung, persoalannya bukan karena buku tiba-tiba kehilangan nilai. Persoalannya adalah karena buku harus bersaing dengan mesin yang memang dirancang untuk membuat manusia sulit melepaskan pandangannya dari layar.

Bukan Krisis Membaca

Istilah “rendahnya minat baca” sering kali menyesatkan. Banyak orang masih membaca setiap hari. Mereka membaca pesan WhatsApp, berita daring, unggahan media sosial, komentar, dan berbagai bentuk teks lainnya. Yang berubah bukan aktivitas membaca itu sendiri, melainkan kualitas perhatian yang menyertainya.

Masyarakat modern semakin terbiasa membaca secara cepat, meloncat dari satu informasi ke informasi lain, dan jarang bertahan lama pada satu gagasan. Akibatnya, kemampuan membaca mendalam (deep reading) perlahan terkikis. Padahal kemampuan inilah yang memungkinkan seseorang memahami argumen yang kompleks, melakukan refleksi kritis, dan menghasilkan kebijaksanaan. Jika kondisi ini terus berlangsung, masalah yang kita hadapi bukan sekadar berkurangnya jumlah pembaca buku, melainkan melemahnya kapasitas masyarakat untuk berpikir secara mendalam.

Dalam konteks ini, toko buku dan perpustakaan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat menjual atau meminjam buku. Keduanya merupakan ruang sosial yang mempertahankan kemungkinan bagi manusia untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tak berkesudahan. Ketika seseorang berjalan di antara rak-rak buku, ia tidak sedang mengikuti algoritma yang menentukan apa yang harus dilihat berikutnya. Ia sedang memilih secara sadar arah pengetahuannya sendiri.

Karena itu, mempertahankan toko buku dan menghidupkan perpustakaan bukan hanya soal menjaga industri penerbitan atau menyediakan fasilitas pendidikan. Ia merupakan bagian dari upaya mempertahankan otonomi manusia atas perhatiannya. Di tengah dunia yang terus berusaha membeli, menjual, dan mengarahkan perhatian kita, membaca buku menjadi tindakan kebudayaan sebagai upaya merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Di tengah kebisingan digital, buku menawarkan sesuatu yang semakin langka: keheningan. Membaca buku berarti mengambil jarak dari notifikasi, iklan, dan distraksi yang terus berebut perhatian. Itu sebabnya, buku tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan fokus yang semakin mahal nilainya pada zaman sekarang.

Karena itu, persoalan rendahnya minat baca tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan atau kampanye sesaat. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang membuat membaca kembali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekolah harus memperkenalkan buku sebagai jendela pemikiran, bukan sekadar bahan ujian. Kampus perlu menghidupkan kembali budaya literasi yang tidak berhenti pada pengunduhan artikel.

Jika dahulu tantangan terbesar dunia pendidikan adalah menghadirkan buku kepada masyarakat, tantangan hari ini adalah menghadirkan kembali masyarakat kepada buku. Di tengah kelimpahan informasi, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kekurangan perhatian. Nasib toko buku dan perpustakaan senyatanya bukan sekadar soal bisnis atau teknologi. Keduanya merupakan cermin dari kemampuan sebuah bangsa untuk menyediakan ruang hening bagi warganya agar dapat membaca, berpikir, dan merenung secara mendalam. Bagaimanapun, kebijaksanaan tidak lahir dari derasnya informasi, melainkan dari kesediaan memberi waktu bagi pikiran untuk mengolahnya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Next Post

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co