21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
in Esai
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

Gubernur Ida Bagus Mantra membuka PKB I tahun 1979

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan hanyalah satu pertanyaan: siapa yang akan membuka?

Di media sosial, orang-orang sibuk membahas ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto. Pembukaan akhirnya dilakukan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Lalu berbagai tafsir bermunculan.

Sebagian mengaitkannya dengan dinamika politik antara pusat dan daerah. Sebagian lain melihatnya sebagai tanda berkurangnya perhatian pemerintah pusat. Ada pula yang menilainya sebagai kemunduran simbolik bagi Pesta Kesenian Bali (PKB). Padahal sebelum semua tafsir itu lahir, ada pertanyaan yang lebih sederhana: memangnya kenapa kalau dibuka gubernur?

Pertanyaan itu muncul ketika Made Sutama dan Ketut Arsa duduk di sebuah warung kopi dekat lapangan Renon, tempat pawai pembukaan akan berlangsung.

“Kamu lihat berita?” tanya Sutama.

“Yang mana?”

“Presiden tidak datang.”

Arsa mengangguk. “Lalu?”

“Lalu PKB dibuka gubernur.”

“Ya memang seharusnya begitu,” sahut Arsa, agak ketus.

Sutama terdiam.

Jawaban itu terdengar terlalu sederhana untuk sebuah persoalan yang tengah ramai dibicarakan. Namun justru itulah yang menarik.

Sudah beberapa kali penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali berlangsung tanpa kehadiran presiden. Dalam sejarahnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat sebagai kepala negara yang paling konsisten memberi perhatian pada pembukaan PKB, tak pernah absen. Presiden Soeharto juga beberapa kali hadir, meski tidak selalu. Karena itu, sebagian masyarakat terbiasa menganggap kehadiran presiden sebagai bagian penting dari perhelatan tersebut.

Lama-kelamaan muncul kesan seolah-olah nilai PKB ikut ditentukan oleh siapa yang membukanya. Semakin tinggi jabatan pembuka, semakin tinggi pula gengsinya.

Cara berpikir seperti itu sebenarnya tidak hanya terjadi pada PKB. Dalam banyak acara, masyarakat Indonesia sering memberi perhatian lebih besar kepada kursi tamu kehormatan daripada isi acaranya sendiri. Kita kerap lebih sibuk menghitung pejabat yang hadir dibanding memperhatikan apa yang dirayakan.

Akibatnya, substansi kerap tenggelam di balik seremoni. Padahal, Pesta Kesenian Bali tidak lahir untuk memuliakan pejabat, melainkan sebagai ruang ekspresi kebudayaan Bali. PKB adalah panggung bagi para penari yang berlatih berbulan-bulan, para penabuh yang menghabiskan malam-malam panjang menyempurnakan tabuh, serta para perupa, penyair, dalang, perajin, dan pelaku seni lainnya untuk menampilkan karya terbaik mereka. Mereka tetap berkarya dan tampil, siapa pun yang berdiri di podium pembukaan.

Pembukaan PKB 2019│Foto: Sekretariat Negara Republik Indonesia

Menariknya, orang kerap lupa bahwa pembuka pertama Pesta Kesenian Bali bukanlah presiden, melainkan Ida Bagus Mantra, gubernur yang menggagas kelahirannya. Saat itu, tak ada perdebatan tentang siapa yang membuka. Perhatian masyarakat tertuju pada hal yang lebih penting, menyediakan ruang agar kesenian Bali dapat tumbuh, berkembang, dan dirayakan. Namun, lebih dari empat dekade kemudian, fokus itu sesekali bergeser. Kita lebih sering membicarakan siapa yang hadir di panggung kehormatan daripada mengingat alasan PKB dilahirkan sejak awal.

“Itu namanya Pesta Kesenian Bali,” kata Arsa.

“Maksudnya?”

“Ya pesta kesenian masyarakat Bali.”

“Bukan pesta politik?”

“Haha, jelas bukan.”

Ribuan seniman mempersiapkan karya. Puluhan agenda budaya disusun selama berbulan-bulan. Tetapi perhatian publik justru tersedot kepada satu orang yang tidak hadir. Seolah-olah yang paling penting dari pesta kesenian adalah tamu kehormatannya.

Tentu tidak ada yang salah jika masyarakat berharap presiden hadir. Kehadiran kepala negara adalah bentuk penghormatan yang patut diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa kebudayaan mendapat perhatian di tingkat nasional.

Tetapi mengubah ketidakhadiran presiden menjadi ukuran utama keberhasilan PKB juga terasa berlebihan. Karena pada akhirnya, nilai sebuah perayaan budaya tidak terletak pada siapa yang membuka. Namun terletak pada apakah kebudayaan yang dirayakan itu tetap hidup atau tidak.

Menjelang sore, lintasan pawai mulai dipenuhi peserta. Gamelan bertalu, kostum-kostum warna-warni bergerak mengikuti irama, sementara penonton terus berdatangan. Pesta kesenian pun dibuka secara resmi. Sutama memandang keramaian itu dari kejauhan.

“Lalu menurutmu, memang tidak masalah dibuka gubernur?” tanya Sutama.

“Kalau namanya Pesta Kesenian Bali, ya dibuka Gubernur Bali juga tidak ada yang aneh.”

Sebab, yang membesarkan PKB bukanlah sosok yang berdiri di podium pembukaan, melainkan masyarakat Bali yang selama puluhan tahun menjaga api kesenian tetap menyala.[T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

Next Post

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails
Next Post
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co