23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Glosarium Krisis Sampah Bali

I Made Sudiana by I Made Sudiana
April 17, 2026
in Bahasa
Glosarium Krisis Sampah Bali

Made Sudiana

BALI sedang berada di titik nadir. Bali sedang tidak baik-baik saja dalam hal sampah. Pulau yang konon disebut The Last Paradise (Surga Terakhir) ini kini berhadap-hadapan dengan onggokan dan gunungan sampah di mana-mana. Ini sebuah ironi Bali: pulau dengan banyak ritual suci dikepung limbah sampah. Untuk memahami darurat sampah ini, saya mencoba mengetengahkan ironi istilah dan jargon wajah krisis sampah Bali.

Ritual Waste (Sampah Upakara)


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, upakara berasal dari bahasa (budaya) Bali. Upakara bermakna ‘perlengkapan atau sarana yang digunakan dalam upacara persembahan, biasanya terbuat dari barang hasil kreativitas tangan; sajen, sesajen’. Dahulu, sisa sesajen berupa janur, bunga, dan kelengkapan upakara itu organik dan akan menjadi organic waste (sampah organik) yang kembali ke tanah. Namun sekarang, sampah upakara telah bermutasi menjadi monster lingkungan karena terkontaminasi oleh single-use plastic (plastik sekali pakai), seperti mika, pita plastik, dan bungkus permen. Inilah ironi pertama, persembahan kepada Tuhan yang berakhir menjadi “pencemar lingkungan” karena kehilangan sifat alaminya, banyak bahan upakaramenggunakan bahan nonorganik.

Source-Based Waste Management (Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber)


Berdasarkan regulasi daerah, jargon ini menuntut setiap rumah tangga dan pelaku usaha untuk menyelesaikan sampahnya sendiri di “hulu”. Istilah kasarnya sampah sendiri, urus sendiri. Namun, kenyataannya pengelolaan sampah berbasis sumberkerap kali hanya menjadi konsep di atas kertas. Kurangnya fasilitas pengolahan di tingkat desa membuat warga terjepit antara kewajiban melakukan waste segregation (pemilahan sampah) dan ketiadaan sistem penjemputan yang memadai dari pemerintah maupun swakelola sampah di lingkungan perumahan.

TPS3-R (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu)

TPS3-R merupakan singkatan dari Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle. Penulisan yang sesuai dengan ejaan adalah TPS3-R, bukan TPS3R. Ditulis demikian karena R-nya yang tiga kali. Ini mirip dengan P-3K (PPPK). Disebut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu karena tempat pengolahan sampah ini mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle) sampah. TPS3-R adalah unit pengolahan sampah skala komunal yang diharapkan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah di tingkat desa. Sayangnya, banyak fasilitas TPS3-R yang mengalami operational failure (kegagalan operasional) karena biaya listrik dan upah pekerja yang tinggi. Alih-alih menjadi solusi, beberapa gedung TPS3-R justru berubah menjadi “monumen” beton yang mangkrak dan menambah pemandangan kumuh di pedesaan.

Teba Modern


Secara tradisional, teba adalah lahan kosong di belakang rumah orang Bali untuk membuang sampah organik. Pemerintah kini menggalakkan Teba Modern, yaitu sistem lubang resapan yang konon lebih higienis untuk mengolah sampah organik. Harapannya adalah melakukan onsite composting (pengomposan di tempat). Namun, di daerah perkotaan yang padat, keterbatasan lahan membuat konsep ini sulit diterapkan, memaksa sampah organik tetap terbuang ke pinggir jalan.

Residual Waste (Sampah Residu)


Istilah ini menjadi sangat krusial dalam kebijakan terbaru. Pemerintah kini menerapkan aturan ketat, truk yang membawa mixed waste (sampah campuran) akan dipulangkan paksa dari tempat pembuangan. Sampah residu—sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang lagi—adalah satu-satunya yang boleh masuk ke pembuangan akhir. Aturan ini menciptakan kepanikan di berbagai kalangan karena banyak orang yang belum siap mengolah limbah mereka secara mandiri.

Landfill Capacity (Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir)


Tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung, gunung sampah di Denpasar Selatan, telah mencapai titik overcapacity (kelebihan beban). Upaya untuk melakukan landfill closure (penutupan tempat pembuangan) terus dilakukan demi menjaga citra pariwisata. Ironinya, penghentian operasional ini sering kali memicu fenomena illegal dumping (pembuangan sampah sembarangan) di lahan kosong atau sungai karena masyarakat kehilangan akses pembuangan utama mereka.

Marine Debris (Sampah Kiriman)


Marine Debris secara harfiah bermakna ‘sampah laut’. Namun, istilah yang lebih sering digunakan adalah sampah kiriman. Ini adalah eufemisme untuk ratusan ton plastik yang terdampar di pantai ikonik, seperti Kuta dan Seminyak saat musim angin barat. Bali seolah-olah “dihukum” oleh polusi samudera, meskipun produksi sampah internalnya sendiri sudah sangat masif. Fenomena ini merusak citra surga dan memaksa pemerintah melakukan emergency cleanup (pembersihan darurat) yang seringkali hanya bersifat kosmetik demi kenyamanan wisatawan semata.

Refuse Derived Fuel/RDF (Bahan Bakar dari Sampah)


Bali kini bertaruh besar pada teknologi RDF, yang memproses sampah menjadi pelet bahan bakar untuk industri. Meskipun digadang-gadang sebagai silver bullet (solusi instan), teknologi ini menghadapi tantangan besar: sampah Bali memiliki high moisture content (kadar air tinggi) yang seringkali menghambat proses pengolahan mesin dan meningkatkan emisi gas buang.

Circular Economy (Ekonomi Sirkular)


Banyak pihak mendorong penerapan Circular Economy, sampah plastik diolah kembali menjadi produk baru bernilai tinggi melalui proses upcycling (pendaurulangan kreatif). Namun, tanpa investasi pada waste collection system (sistem pengumpulan sampah) yang kuat dari tingkat rumah tangga, ide ekonomi sirkular ini hanya akan menjadi tren di kalangan elit tanpa dampak signifikan pada ribuan ton sampah yang masih meluber di jalanan.

Glosarium ini bukan sekadar daftar istilah teknis, melainkan cermin kegagalan kita dalam menjaga kesucian Bali. Sebutan “Pulau Surga” terasa sangat getir saat kita melihat sampah-sampah plastik berserakan di pinggir jalan raya atau tumpukan tas kresek teronggok di sudut-sudut gang/jalan, tak jarang pula bungkusan sampah tas kresek menyumbat aliran air/sungai-sungai kita. Bali butuh lebih dari sekadar jargon mentereng; Bali butuh keberanian untuk kembali ke prinsip keselarasan alam secara fisik, bukan hanya melalui simbol ritual yang kini sayangnya dibungkus oleh plastik. [T]

Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasabaliSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makassar yang Sempat Terabaikan

Next Post

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails

Duri Akar dan “Sungga”

by Komang Berata
June 24, 2026
0
Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

Read moreDetails

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

by I Made Sudiana
June 23, 2026
0
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

Read moreDetails

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co