23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Glosarium Krisis Sampah Bali

I Made Sudiana by I Made Sudiana
April 17, 2026
in Bahasa
Glosarium Krisis Sampah Bali

Made Sudiana

BALI sedang berada di titik nadir. Bali sedang tidak baik-baik saja dalam hal sampah. Pulau yang konon disebut The Last Paradise (Surga Terakhir) ini kini berhadap-hadapan dengan onggokan dan gunungan sampah di mana-mana. Ini sebuah ironi Bali: pulau dengan banyak ritual suci dikepung limbah sampah. Untuk memahami darurat sampah ini, saya mencoba mengetengahkan ironi istilah dan jargon wajah krisis sampah Bali.

Ritual Waste (Sampah Upakara)


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, upakara berasal dari bahasa (budaya) Bali. Upakara bermakna ‘perlengkapan atau sarana yang digunakan dalam upacara persembahan, biasanya terbuat dari barang hasil kreativitas tangan; sajen, sesajen’. Dahulu, sisa sesajen berupa janur, bunga, dan kelengkapan upakara itu organik dan akan menjadi organic waste (sampah organik) yang kembali ke tanah. Namun sekarang, sampah upakara telah bermutasi menjadi monster lingkungan karena terkontaminasi oleh single-use plastic (plastik sekali pakai), seperti mika, pita plastik, dan bungkus permen. Inilah ironi pertama, persembahan kepada Tuhan yang berakhir menjadi “pencemar lingkungan” karena kehilangan sifat alaminya, banyak bahan upakaramenggunakan bahan nonorganik.

Source-Based Waste Management (Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber)


Berdasarkan regulasi daerah, jargon ini menuntut setiap rumah tangga dan pelaku usaha untuk menyelesaikan sampahnya sendiri di “hulu”. Istilah kasarnya sampah sendiri, urus sendiri. Namun, kenyataannya pengelolaan sampah berbasis sumberkerap kali hanya menjadi konsep di atas kertas. Kurangnya fasilitas pengolahan di tingkat desa membuat warga terjepit antara kewajiban melakukan waste segregation (pemilahan sampah) dan ketiadaan sistem penjemputan yang memadai dari pemerintah maupun swakelola sampah di lingkungan perumahan.

TPS3-R (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu)

TPS3-R merupakan singkatan dari Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle. Penulisan yang sesuai dengan ejaan adalah TPS3-R, bukan TPS3R. Ditulis demikian karena R-nya yang tiga kali. Ini mirip dengan P-3K (PPPK). Disebut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu karena tempat pengolahan sampah ini mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle) sampah. TPS3-R adalah unit pengolahan sampah skala komunal yang diharapkan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah di tingkat desa. Sayangnya, banyak fasilitas TPS3-R yang mengalami operational failure (kegagalan operasional) karena biaya listrik dan upah pekerja yang tinggi. Alih-alih menjadi solusi, beberapa gedung TPS3-R justru berubah menjadi “monumen” beton yang mangkrak dan menambah pemandangan kumuh di pedesaan.

Teba Modern


Secara tradisional, teba adalah lahan kosong di belakang rumah orang Bali untuk membuang sampah organik. Pemerintah kini menggalakkan Teba Modern, yaitu sistem lubang resapan yang konon lebih higienis untuk mengolah sampah organik. Harapannya adalah melakukan onsite composting (pengomposan di tempat). Namun, di daerah perkotaan yang padat, keterbatasan lahan membuat konsep ini sulit diterapkan, memaksa sampah organik tetap terbuang ke pinggir jalan.

Residual Waste (Sampah Residu)


Istilah ini menjadi sangat krusial dalam kebijakan terbaru. Pemerintah kini menerapkan aturan ketat, truk yang membawa mixed waste (sampah campuran) akan dipulangkan paksa dari tempat pembuangan. Sampah residu—sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang lagi—adalah satu-satunya yang boleh masuk ke pembuangan akhir. Aturan ini menciptakan kepanikan di berbagai kalangan karena banyak orang yang belum siap mengolah limbah mereka secara mandiri.

Landfill Capacity (Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir)


Tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung, gunung sampah di Denpasar Selatan, telah mencapai titik overcapacity (kelebihan beban). Upaya untuk melakukan landfill closure (penutupan tempat pembuangan) terus dilakukan demi menjaga citra pariwisata. Ironinya, penghentian operasional ini sering kali memicu fenomena illegal dumping (pembuangan sampah sembarangan) di lahan kosong atau sungai karena masyarakat kehilangan akses pembuangan utama mereka.

Marine Debris (Sampah Kiriman)


Marine Debris secara harfiah bermakna ‘sampah laut’. Namun, istilah yang lebih sering digunakan adalah sampah kiriman. Ini adalah eufemisme untuk ratusan ton plastik yang terdampar di pantai ikonik, seperti Kuta dan Seminyak saat musim angin barat. Bali seolah-olah “dihukum” oleh polusi samudera, meskipun produksi sampah internalnya sendiri sudah sangat masif. Fenomena ini merusak citra surga dan memaksa pemerintah melakukan emergency cleanup (pembersihan darurat) yang seringkali hanya bersifat kosmetik demi kenyamanan wisatawan semata.

Refuse Derived Fuel/RDF (Bahan Bakar dari Sampah)


Bali kini bertaruh besar pada teknologi RDF, yang memproses sampah menjadi pelet bahan bakar untuk industri. Meskipun digadang-gadang sebagai silver bullet (solusi instan), teknologi ini menghadapi tantangan besar: sampah Bali memiliki high moisture content (kadar air tinggi) yang seringkali menghambat proses pengolahan mesin dan meningkatkan emisi gas buang.

Circular Economy (Ekonomi Sirkular)


Banyak pihak mendorong penerapan Circular Economy, sampah plastik diolah kembali menjadi produk baru bernilai tinggi melalui proses upcycling (pendaurulangan kreatif). Namun, tanpa investasi pada waste collection system (sistem pengumpulan sampah) yang kuat dari tingkat rumah tangga, ide ekonomi sirkular ini hanya akan menjadi tren di kalangan elit tanpa dampak signifikan pada ribuan ton sampah yang masih meluber di jalanan.

Glosarium ini bukan sekadar daftar istilah teknis, melainkan cermin kegagalan kita dalam menjaga kesucian Bali. Sebutan “Pulau Surga” terasa sangat getir saat kita melihat sampah-sampah plastik berserakan di pinggir jalan raya atau tumpukan tas kresek teronggok di sudut-sudut gang/jalan, tak jarang pula bungkusan sampah tas kresek menyumbat aliran air/sungai-sungai kita. Bali butuh lebih dari sekadar jargon mentereng; Bali butuh keberanian untuk kembali ke prinsip keselarasan alam secara fisik, bukan hanya melalui simbol ritual yang kini sayangnya dibungkus oleh plastik. [T]

Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasabaliSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makassar yang Sempat Terabaikan

Next Post

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co