24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takjil

Ahmadul Faqih Mahfudz by Ahmadul Faqih Mahfudz
February 22, 2026
in Bahasa
Takjil

Gambar adalah ilustrasi | Foto: tatkala.co

MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga orang yang usianya benar-benar tua dengan cekatan sekaligus sumringah menyiapkan dan membagi-bagikan takjil. Dengan sumringah dan cekatan pula jamaah masjid menyambutnya. “Lain lubuk lain ikannya,” ucap pribahasa lama, namun bagi para musafir atau bagi kaum miskin kota seperti pelajar dan mahasiswa, “lain masjid lain takjilnya.”

Takjil berasal dari bahasa Arab, dari suku kata ‘ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan, yang berarti “menyegerakan” atau “bersegera”. Ungkapan yang semula bermakna bersegera dalam melakukan apa saja ini kemudian lebih khusus dimaknai sebagai menyegerakan berbuka puasa ketika azan magrib berkumandang, sebagaimana anjuran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Namun, dalam bahasa kita, takjil mengalami pergeseran makna: yang semula di Arab sana bermakna aktifitas berbuka puasa, di Indonesia justru menjadi menu buka puasa. Yakjil yang semula verba kini popular sebagai nomina. Jadi ungkapan selanjutnya, misalnya, bukan “mari takjil, azan magrib sudah tiba!” namun “di masjidmu, takjilnya apa?”

Bulan Ramadan adalah bulan takjil. Aneka menu takjil disiapkan dan dibagi-bagikan di masjid-masjid pada senja hari bulan ini. Dari sekadar teh manis dan sebungkus nasi bersrlimut goreng telur, hingga es kopyor yang bersanding dengan nasi bersanding ayam goreng, lengkap dengan kurma sebagai penyegarnya.

Mempersiapkan, membagi-bagikan, serta menerima takjil ini pun bukan sekadar urusan selera lidah belaka, namun juga mempertemukan manusia, dari mana pun latar belakangnya, apa pun kelas-kelas sosialnya. Dari mahasiswa, sarjana, pengangguran, dosen, tukang becak, sosialita, pejabat, karyawan, hingga gelandangan dan aparatur negara semuanya menyatu di masjid: menerima dan menyantap takjil bersama.

Inilah satu dari sekian kemuliaan Ramadan yang tampak di mata. Dalam wujud kudapan dan menu buka puasa saja mampu menghilangkan batas-batas sosial yang sebelum Ramadan barangkali kokoh dan tak tergoyahkan. Di bulan Ramadan, manusia dari beragam latar belakang ini tak hanya meninggalkan namun juga menanggalkan atribut-atribut sosialnya. Dengan “komando” azan magrib, semuanya semangat menyambut Ramadan dengan kebahagiaan dan kebersamaaan, lewat rupa-rupa takjil di masjid yang didatanginya.

Pada bulan Ramadan, aneka takjil tumpah-ruah. Siapa pun bisa ambil bagian, siapa pun bisa menyantapnya, berpuasa atau tidak, karena takmir atau panitia takjilan di masjid tak akan menginterogasi jamaah: “Sampean berpuasa atau tidak?” Berkah Ramadan, semua orang diterima, disambut untuk mendapat bagian takjilnya, meski siangnya mungkin dia korupsi seteguk-dua teguk air saat mandi. Ah, sampai di sini, sering aku membatin: “Bagaimana puasa para koruptor? Kalau mereka berani mengambil uang aspal, uang jembatan, uang bencana, uang pengadaan kitab suci, sampai uang kuota haji, apakah mereka sanggup menahan diri untuk tidak menyuapkan sepiring nasi ke mulutnya pada siang hari di bulan Ramadan ini?

Namun kita—terutama kau dan aku—kadang lupa, abai bahkan alpa, bahwa pada bulan mulia ini Allah Ta’ala menghidangkan sekaligus membagi-bagikan takjil berupa pahala, ampunan, rida, bahkan malam teragung yang lebih betapa dari malam-malam pada seribu bulan di luar Ramadan. Pada bulan ini, kebaikan dan kedermawanan-Nya benar-benar memuncak. Kasih dan sayang-Nya tumpah-ruah di hari-hari dan di malam-malamnya.

Atau kau dan aku justru ingat, namun tak benar-benar serius menyambut dan mengambilnya, tak seserius dan tak sesemangat ketika menyambut aneka takjil di masjid menjelang buka puasa. Entahlah, yang jelas, setiap kali berbuka puasa di masjid kemudian menerima takjilan, melintas di lorong-lorong ingatanku sebait puisi berjudul “Sufi” (1995) karangan Subagio Sastrowardoyo:

…

Nikmat perempuan sudah kugantikan
dengan kehangatan menyerah kepadamu, Tuan,
dan lihat napasku bersatu dengan irama cintamu,
sedang bicaraku, ajaib, lahir dari lubuk sanubarimu.

…

Bagi aku-lirik, jangankan makanan dan minuman, nikmat bercinta dengan perempuan pun tak ada apa-apanya bila dibanding bercinta dengan Tu(h)an. Puncak kenikmatan ragawi berupa nikmat perempuan semu belaka andai disejajarkan dengan nikmat bersejiwa dengan-Nya. Tentu saja, kenikmatan ini tak akan pernah dirasakan oleh kau dan aku yang hatinya masih belepotan pada kenikmatan jasmani, serta masih dirundung pilu karena terlampau menjunjung harap pada kenikmatan-kenikmatan bendawi.

Dalam puisi yang ditulis empat bulan menjelang kematiannya itu, Subagio menegaskan, ketika seseorang telah mampu merasakan kenikmatan “bersetubuh” dengan yang Ilahi, menyatukan seluruh dimensi diri dan anasir kemanusiaannya dengan yang Ilahi, musnahlah seluruh kenikmatan ragawi dan kenikmatan-kenikmatan apapun selain-Nya. Yang Ilahi menjadi satu-satunya raja sekaligus kekasih yang bertakhta di kerajaan hati dan jiwanya, di berbagai ruang dan waktunya.

Ketika seseorang telah memenangkan yang Ilahi pada pertempuran akbar nun jauh di kedalaman dirinya, saat itulah ia merasakan napasnya bukan lagi napasnya, namun napas-Nya; cintanya bukan lagi cintanya, melainkan cinta-Nya; dan ungkapan apapun yang terlontar dari bibirnya hanyalah untaian-untaian hikmah dan kearifan yang semata-mata menyembul dari sejuk rimbun taman kasih-Nya.

Inilah kenikmatan hakiki, inilah kenikmatan rohani yang sebenarnya ditawarkan Ramadan kepadamu juga kepadaku. Inilah bulan yang di malam-malamnya Dia memanggil-manggil hatimu dan hatiku yang menggigil, tersebab mengharap karunia berupa ampunan dan rindu pada-Nya yang tak kepalang. Inilah perjamuan sekaligus pesta pora agung yang dipenuhi nampan-nampan mewah berisi takjil rohani.

Pada bulan Ramadan, masjid-masjid membagi-bagikan takjil: dari sekadar teh manis dan nasi bungkusan, hingga es kopyor lengkap dengan berbiji kurma. Pada bulan Ramadan, Allah Ta’ala menghambur-hamburkan takjil rohani: dari sekadar pahala dan tawaran menggiurkan lainnya bagi pemula, hingga karunia rasa yang menggetarkan, yang diburu-buru para salik yang telah lama mabuk dan berdansa karena mengikuti alunan melodi uluhiyyah dan irama rububiyyah-Nya. Pilihannya kemudian ada padamu, dan tentu juga padaku: akan sekadar menyantap takjil jasmani atau berduyun-duyun menyongsong takjil rohani. [T]

Penulis: Ahmadul Faqih Mahfudz
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasaIslamRamadantakjil
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

Next Post

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Ahmadul Faqih Mahfudz

Ahmadul Faqih Mahfudz

Penyair. Bermukim di Bali

Related Posts

Glosarium Krisis Sampah Bali

by I Made Sudiana
April 17, 2026
0
Glosarium Krisis Sampah Bali

BALI sedang berada di titik nadir. Bali sedang tidak baik-baik saja dalam hal sampah. Pulau yang konon disebut The Last Paradise (Surga...

Read moreDetails

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

by I Made Sudiana
April 13, 2026
0
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

DALAM percakapan sehari-hari, kerap kali digunakan kata pelindungan dan perlindungan secara bergantian. Namun, dalam ranah hukum dan kebijakan publik di...

Read moreDetails

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

by I Made Sudiana
April 6, 2026
0
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

SEBAGAI orang sipil, pernahkah Anda mengirim pesan santai dan personal, lalu dibalas dengan kode angka yang terdengar seperti sandi agen...

Read moreDetails

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

by I Made Sudiana
March 18, 2026
0
Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Nyepi merupakan nomina (kata benda) yang bermakna hari suci umat Hindu untuk memperingati...

Read moreDetails

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

by I Made Sudiana
February 14, 2026
0
Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Wira, seorang pegiat TikTok dengan nama Si Bli Wira, melalui konten media sosialnya belakangan ini sering mengungkapkan tabik sugra dalam...

Read moreDetails

Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

by Angga Wijaya
September 15, 2025
0
Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

ESAI “Saling Rujak” karya Dahlan Iskan yang terbit di Disway.id pada Senin, 15 September 2025, berangkat dari suasana Forum GREAT...

Read moreDetails

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

by Ahmad Sihabudin
July 30, 2025
0
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Dalam  tulisan ini yang maksud kedaulatan bahasa adalah, digunakannya suatu bahasa dalam hal ini bahasa Indonesia secara sadar dan bertanggung...

Read moreDetails

Sebaiknya Anak Dipanggil dengan Nama Dirinya

by I Ketut Suar Adnyana
July 21, 2025
0
Sebaiknya Anak Dipanggil dengan Nama Dirinya

MASYARAKAT Bali  pada umumnya berkomunikasi dengan anaknya dengan menggunakan nama diri. Misalnya anak perempuannya bernama  Indah, orang tua akan memanggilnya...

Read moreDetails

Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
0
Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

DESA Pucaksari, yang terletak di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta di wilayah...

Read moreDetails

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
0
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

PERKEMBANGAN bahasa Bali  saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak  dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu ---Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co