15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takjil

Ahmadul Faqih Mahfudz by Ahmadul Faqih Mahfudz
February 22, 2026
in Bahasa
Takjil

Gambar adalah ilustrasi | Foto: tatkala.co

MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga orang yang usianya benar-benar tua dengan cekatan sekaligus sumringah menyiapkan dan membagi-bagikan takjil. Dengan sumringah dan cekatan pula jamaah masjid menyambutnya. “Lain lubuk lain ikannya,” ucap pribahasa lama, namun bagi para musafir atau bagi kaum miskin kota seperti pelajar dan mahasiswa, “lain masjid lain takjilnya.”

Takjil berasal dari bahasa Arab, dari suku kata ‘ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan, yang berarti “menyegerakan” atau “bersegera”. Ungkapan yang semula bermakna bersegera dalam melakukan apa saja ini kemudian lebih khusus dimaknai sebagai menyegerakan berbuka puasa ketika azan magrib berkumandang, sebagaimana anjuran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Namun, dalam bahasa kita, takjil mengalami pergeseran makna: yang semula di Arab sana bermakna aktifitas berbuka puasa, di Indonesia justru menjadi menu buka puasa. Yakjil yang semula verba kini popular sebagai nomina. Jadi ungkapan selanjutnya, misalnya, bukan “mari takjil, azan magrib sudah tiba!” namun “di masjidmu, takjilnya apa?”

Bulan Ramadan adalah bulan takjil. Aneka menu takjil disiapkan dan dibagi-bagikan di masjid-masjid pada senja hari bulan ini. Dari sekadar teh manis dan sebungkus nasi bersrlimut goreng telur, hingga es kopyor yang bersanding dengan nasi bersanding ayam goreng, lengkap dengan kurma sebagai penyegarnya.

Mempersiapkan, membagi-bagikan, serta menerima takjil ini pun bukan sekadar urusan selera lidah belaka, namun juga mempertemukan manusia, dari mana pun latar belakangnya, apa pun kelas-kelas sosialnya. Dari mahasiswa, sarjana, pengangguran, dosen, tukang becak, sosialita, pejabat, karyawan, hingga gelandangan dan aparatur negara semuanya menyatu di masjid: menerima dan menyantap takjil bersama.

Inilah satu dari sekian kemuliaan Ramadan yang tampak di mata. Dalam wujud kudapan dan menu buka puasa saja mampu menghilangkan batas-batas sosial yang sebelum Ramadan barangkali kokoh dan tak tergoyahkan. Di bulan Ramadan, manusia dari beragam latar belakang ini tak hanya meninggalkan namun juga menanggalkan atribut-atribut sosialnya. Dengan “komando” azan magrib, semuanya semangat menyambut Ramadan dengan kebahagiaan dan kebersamaaan, lewat rupa-rupa takjil di masjid yang didatanginya.

Pada bulan Ramadan, aneka takjil tumpah-ruah. Siapa pun bisa ambil bagian, siapa pun bisa menyantapnya, berpuasa atau tidak, karena takmir atau panitia takjilan di masjid tak akan menginterogasi jamaah: “Sampean berpuasa atau tidak?” Berkah Ramadan, semua orang diterima, disambut untuk mendapat bagian takjilnya, meski siangnya mungkin dia korupsi seteguk-dua teguk air saat mandi. Ah, sampai di sini, sering aku membatin: “Bagaimana puasa para koruptor? Kalau mereka berani mengambil uang aspal, uang jembatan, uang bencana, uang pengadaan kitab suci, sampai uang kuota haji, apakah mereka sanggup menahan diri untuk tidak menyuapkan sepiring nasi ke mulutnya pada siang hari di bulan Ramadan ini?

Namun kita—terutama kau dan aku—kadang lupa, abai bahkan alpa, bahwa pada bulan mulia ini Allah Ta’ala menghidangkan sekaligus membagi-bagikan takjil berupa pahala, ampunan, rida, bahkan malam teragung yang lebih betapa dari malam-malam pada seribu bulan di luar Ramadan. Pada bulan ini, kebaikan dan kedermawanan-Nya benar-benar memuncak. Kasih dan sayang-Nya tumpah-ruah di hari-hari dan di malam-malamnya.

Atau kau dan aku justru ingat, namun tak benar-benar serius menyambut dan mengambilnya, tak seserius dan tak sesemangat ketika menyambut aneka takjil di masjid menjelang buka puasa. Entahlah, yang jelas, setiap kali berbuka puasa di masjid kemudian menerima takjilan, melintas di lorong-lorong ingatanku sebait puisi berjudul “Sufi” (1995) karangan Subagio Sastrowardoyo:

…

Nikmat perempuan sudah kugantikan
dengan kehangatan menyerah kepadamu, Tuan,
dan lihat napasku bersatu dengan irama cintamu,
sedang bicaraku, ajaib, lahir dari lubuk sanubarimu.

…

Bagi aku-lirik, jangankan makanan dan minuman, nikmat bercinta dengan perempuan pun tak ada apa-apanya bila dibanding bercinta dengan Tu(h)an. Puncak kenikmatan ragawi berupa nikmat perempuan semu belaka andai disejajarkan dengan nikmat bersejiwa dengan-Nya. Tentu saja, kenikmatan ini tak akan pernah dirasakan oleh kau dan aku yang hatinya masih belepotan pada kenikmatan jasmani, serta masih dirundung pilu karena terlampau menjunjung harap pada kenikmatan-kenikmatan bendawi.

Dalam puisi yang ditulis empat bulan menjelang kematiannya itu, Subagio menegaskan, ketika seseorang telah mampu merasakan kenikmatan “bersetubuh” dengan yang Ilahi, menyatukan seluruh dimensi diri dan anasir kemanusiaannya dengan yang Ilahi, musnahlah seluruh kenikmatan ragawi dan kenikmatan-kenikmatan apapun selain-Nya. Yang Ilahi menjadi satu-satunya raja sekaligus kekasih yang bertakhta di kerajaan hati dan jiwanya, di berbagai ruang dan waktunya.

Ketika seseorang telah memenangkan yang Ilahi pada pertempuran akbar nun jauh di kedalaman dirinya, saat itulah ia merasakan napasnya bukan lagi napasnya, namun napas-Nya; cintanya bukan lagi cintanya, melainkan cinta-Nya; dan ungkapan apapun yang terlontar dari bibirnya hanyalah untaian-untaian hikmah dan kearifan yang semata-mata menyembul dari sejuk rimbun taman kasih-Nya.

Inilah kenikmatan hakiki, inilah kenikmatan rohani yang sebenarnya ditawarkan Ramadan kepadamu juga kepadaku. Inilah bulan yang di malam-malamnya Dia memanggil-manggil hatimu dan hatiku yang menggigil, tersebab mengharap karunia berupa ampunan dan rindu pada-Nya yang tak kepalang. Inilah perjamuan sekaligus pesta pora agung yang dipenuhi nampan-nampan mewah berisi takjil rohani.

Pada bulan Ramadan, masjid-masjid membagi-bagikan takjil: dari sekadar teh manis dan nasi bungkusan, hingga es kopyor lengkap dengan berbiji kurma. Pada bulan Ramadan, Allah Ta’ala menghambur-hamburkan takjil rohani: dari sekadar pahala dan tawaran menggiurkan lainnya bagi pemula, hingga karunia rasa yang menggetarkan, yang diburu-buru para salik yang telah lama mabuk dan berdansa karena mengikuti alunan melodi uluhiyyah dan irama rububiyyah-Nya. Pilihannya kemudian ada padamu, dan tentu juga padaku: akan sekadar menyantap takjil jasmani atau berduyun-duyun menyongsong takjil rohani. [T]

Penulis: Ahmadul Faqih Mahfudz
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasaIslamRamadantakjil
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

Next Post

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Ahmadul Faqih Mahfudz

Ahmadul Faqih Mahfudz

Penyair. Bermukim di Bali

Related Posts

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails
Next Post
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu ---Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co