4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takjil

Ahmadul Faqih Mahfudz by Ahmadul Faqih Mahfudz
February 22, 2026
in Bahasa
Takjil

Gambar adalah ilustrasi | Foto: tatkala.co

MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga orang yang usianya benar-benar tua dengan cekatan sekaligus sumringah menyiapkan dan membagi-bagikan takjil. Dengan sumringah dan cekatan pula jamaah masjid menyambutnya. “Lain lubuk lain ikannya,” ucap pribahasa lama, namun bagi para musafir atau bagi kaum miskin kota seperti pelajar dan mahasiswa, “lain masjid lain takjilnya.”

Takjil berasal dari bahasa Arab, dari suku kata ‘ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan, yang berarti “menyegerakan” atau “bersegera”. Ungkapan yang semula bermakna bersegera dalam melakukan apa saja ini kemudian lebih khusus dimaknai sebagai menyegerakan berbuka puasa ketika azan magrib berkumandang, sebagaimana anjuran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Namun, dalam bahasa kita, takjil mengalami pergeseran makna: yang semula di Arab sana bermakna aktifitas berbuka puasa, di Indonesia justru menjadi menu buka puasa. Yakjil yang semula verba kini popular sebagai nomina. Jadi ungkapan selanjutnya, misalnya, bukan “mari takjil, azan magrib sudah tiba!” namun “di masjidmu, takjilnya apa?”

Bulan Ramadan adalah bulan takjil. Aneka menu takjil disiapkan dan dibagi-bagikan di masjid-masjid pada senja hari bulan ini. Dari sekadar teh manis dan sebungkus nasi bersrlimut goreng telur, hingga es kopyor yang bersanding dengan nasi bersanding ayam goreng, lengkap dengan kurma sebagai penyegarnya.

Mempersiapkan, membagi-bagikan, serta menerima takjil ini pun bukan sekadar urusan selera lidah belaka, namun juga mempertemukan manusia, dari mana pun latar belakangnya, apa pun kelas-kelas sosialnya. Dari mahasiswa, sarjana, pengangguran, dosen, tukang becak, sosialita, pejabat, karyawan, hingga gelandangan dan aparatur negara semuanya menyatu di masjid: menerima dan menyantap takjil bersama.

Inilah satu dari sekian kemuliaan Ramadan yang tampak di mata. Dalam wujud kudapan dan menu buka puasa saja mampu menghilangkan batas-batas sosial yang sebelum Ramadan barangkali kokoh dan tak tergoyahkan. Di bulan Ramadan, manusia dari beragam latar belakang ini tak hanya meninggalkan namun juga menanggalkan atribut-atribut sosialnya. Dengan “komando” azan magrib, semuanya semangat menyambut Ramadan dengan kebahagiaan dan kebersamaaan, lewat rupa-rupa takjil di masjid yang didatanginya.

Pada bulan Ramadan, aneka takjil tumpah-ruah. Siapa pun bisa ambil bagian, siapa pun bisa menyantapnya, berpuasa atau tidak, karena takmir atau panitia takjilan di masjid tak akan menginterogasi jamaah: “Sampean berpuasa atau tidak?” Berkah Ramadan, semua orang diterima, disambut untuk mendapat bagian takjilnya, meski siangnya mungkin dia korupsi seteguk-dua teguk air saat mandi. Ah, sampai di sini, sering aku membatin: “Bagaimana puasa para koruptor? Kalau mereka berani mengambil uang aspal, uang jembatan, uang bencana, uang pengadaan kitab suci, sampai uang kuota haji, apakah mereka sanggup menahan diri untuk tidak menyuapkan sepiring nasi ke mulutnya pada siang hari di bulan Ramadan ini?

Namun kita—terutama kau dan aku—kadang lupa, abai bahkan alpa, bahwa pada bulan mulia ini Allah Ta’ala menghidangkan sekaligus membagi-bagikan takjil berupa pahala, ampunan, rida, bahkan malam teragung yang lebih betapa dari malam-malam pada seribu bulan di luar Ramadan. Pada bulan ini, kebaikan dan kedermawanan-Nya benar-benar memuncak. Kasih dan sayang-Nya tumpah-ruah di hari-hari dan di malam-malamnya.

Atau kau dan aku justru ingat, namun tak benar-benar serius menyambut dan mengambilnya, tak seserius dan tak sesemangat ketika menyambut aneka takjil di masjid menjelang buka puasa. Entahlah, yang jelas, setiap kali berbuka puasa di masjid kemudian menerima takjilan, melintas di lorong-lorong ingatanku sebait puisi berjudul “Sufi” (1995) karangan Subagio Sastrowardoyo:

…

Nikmat perempuan sudah kugantikan
dengan kehangatan menyerah kepadamu, Tuan,
dan lihat napasku bersatu dengan irama cintamu,
sedang bicaraku, ajaib, lahir dari lubuk sanubarimu.

…

Bagi aku-lirik, jangankan makanan dan minuman, nikmat bercinta dengan perempuan pun tak ada apa-apanya bila dibanding bercinta dengan Tu(h)an. Puncak kenikmatan ragawi berupa nikmat perempuan semu belaka andai disejajarkan dengan nikmat bersejiwa dengan-Nya. Tentu saja, kenikmatan ini tak akan pernah dirasakan oleh kau dan aku yang hatinya masih belepotan pada kenikmatan jasmani, serta masih dirundung pilu karena terlampau menjunjung harap pada kenikmatan-kenikmatan bendawi.

Dalam puisi yang ditulis empat bulan menjelang kematiannya itu, Subagio menegaskan, ketika seseorang telah mampu merasakan kenikmatan “bersetubuh” dengan yang Ilahi, menyatukan seluruh dimensi diri dan anasir kemanusiaannya dengan yang Ilahi, musnahlah seluruh kenikmatan ragawi dan kenikmatan-kenikmatan apapun selain-Nya. Yang Ilahi menjadi satu-satunya raja sekaligus kekasih yang bertakhta di kerajaan hati dan jiwanya, di berbagai ruang dan waktunya.

Ketika seseorang telah memenangkan yang Ilahi pada pertempuran akbar nun jauh di kedalaman dirinya, saat itulah ia merasakan napasnya bukan lagi napasnya, namun napas-Nya; cintanya bukan lagi cintanya, melainkan cinta-Nya; dan ungkapan apapun yang terlontar dari bibirnya hanyalah untaian-untaian hikmah dan kearifan yang semata-mata menyembul dari sejuk rimbun taman kasih-Nya.

Inilah kenikmatan hakiki, inilah kenikmatan rohani yang sebenarnya ditawarkan Ramadan kepadamu juga kepadaku. Inilah bulan yang di malam-malamnya Dia memanggil-manggil hatimu dan hatiku yang menggigil, tersebab mengharap karunia berupa ampunan dan rindu pada-Nya yang tak kepalang. Inilah perjamuan sekaligus pesta pora agung yang dipenuhi nampan-nampan mewah berisi takjil rohani.

Pada bulan Ramadan, masjid-masjid membagi-bagikan takjil: dari sekadar teh manis dan nasi bungkusan, hingga es kopyor lengkap dengan berbiji kurma. Pada bulan Ramadan, Allah Ta’ala menghambur-hamburkan takjil rohani: dari sekadar pahala dan tawaran menggiurkan lainnya bagi pemula, hingga karunia rasa yang menggetarkan, yang diburu-buru para salik yang telah lama mabuk dan berdansa karena mengikuti alunan melodi uluhiyyah dan irama rububiyyah-Nya. Pilihannya kemudian ada padamu, dan tentu juga padaku: akan sekadar menyantap takjil jasmani atau berduyun-duyun menyongsong takjil rohani. [T]

Penulis: Ahmadul Faqih Mahfudz
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasaIslamRamadantakjil
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Luh Djelantik dan Ribuan Bibit Pohon: Dari Rumah Aspirasi ke Hutan Desa

Next Post

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Ahmadul Faqih Mahfudz

Ahmadul Faqih Mahfudz

Penyair. Bermukim di Bali

Related Posts

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

by I Made Sudiana
November 1, 2026
0
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

Read moreDetails

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

by I Made Sudiana
October 26, 2026
0
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

Read moreDetails

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu ---Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co