22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Agung Bawantara by Agung Bawantara
February 22, 2026
in Ulas Rupa
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi. Tiga tangan berada di sisi kiri dan tiga di sisi kanan. Tubuhnya condong ke depan, seolah menguasai ruang di bawahnya.

Di belakang mahkotanya berdiri jam pasir yang terpasang tepat pada sumbu kepala. Ketika kepala bhutakala bergerak sekitar 45 derajat ke kiri dan ke kanan melalui sistem hidrolik, jam pasir ikut berputar mengikuti poros yang sama. Waktu bergerak bersama arah tatapan.

Di bawah figur utama, dua manusia—seorang perempuan dan seorang laki-laki—digambarkan digerakkan melalui benang.

Pada sisi kanan, jari-jari bhutakala terikat benang yang terhubung pada sosok perempuan. Perempuan itu meringis kesakitan dan terjengkang ke belakang. Tubuhnya mengikuti tarikan dari atas, seolah kehilangan kendali atas geraknya sendiri.

Pada sisi kiri, jari-jari tangan lainnya juga terikat benang yang terhubung pada seorang laki-laki. Laki-laki tersebut memegang sapu yang digunakannya untuk memukul istrinya. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ditampilkan secara langsung. Kendali tidak divisualkan sebagai cengkeraman kasar, melainkan sebagai tarikan halus melalui gerak jari.

Empat tangan lainnya masing-masing memegang figur punakawan: Werdah dan Tawalen di satu sisi, serta Sangut dan Delem di sisi lain. Dengan komposisi ini, karya membangun satu sistem makna: manusia dikendalikan, sementara nilai-nilai moral—baik dan buruk—berada dalam genggaman figur utama.

Kalabendu dalam Konsep Zaman

Istilah kalabendu berasal dari khazanah Jawa-Bali. Kala berarti waktu atau zaman, sedangkan bendu berarti kesengsaraan atau malapetaka. Kalabendu merujuk pada periode ketika moralitas runtuh dan tatanan kehidupan terbalik—kebenaran disalahkan, kebohongan dibenarkan.

Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Konsep ini kerap dikaitkan dengan ramalan Jayabaya dan Ronggawarsita dalam gagasan wolak-waliking zaman, perputaran waktu ketika nilai sosial mengalami pembalikan.

Jam pasir di belakang mahkota mempertegas gagasan siklus tersebut. Zaman bergerak, dan setiap periode memiliki ujian moralnya sendiri.

Detail sapu sebagai alat kekerasan memperlihatkan bagaimana kekacauan zaman hadir dalam ruang domestik. Sapu adalah alat sehari-hari untuk merawat rumah. Ketika fungsinya berubah menjadi alat pemukul, terjadi pembalikan nilai.

Di situlah wolak-waliking zaman menjadi konkret. Krisis moral tidak hanya lahir dari kebijakan besar, tetapi juga dari tindakan individu yang tidak dilandasi pertimbangan etis.

Konstruksi dan Sistem Gerak

Secara visual, Bhutakala tampak melayang tanpa pijakan langsung pada dudukan ogoh-ogoh. Titik sambungan struktural hanya berada pada jempol kaki kanan yang terhubung pada pangkal sapu yang dipegang figur laki-laki.

Sambungan ini disamarkan sebagai bagian dari narasi visual. Di dalam tubuh Bhutakala terdapat rangka besi internal yang menjadi poros distribusi beban. Rangka tersebut tersambung secara strategis ke tangan figur laki-laki, sehingga elemen cerita sekaligus menjadi elemen struktural.

Pendekatan ini menciptakan ilusi bebas gravitasi sekaligus menjaga stabilitas. Beban tubuh atas disalurkan melalui satu sistem poros yang diperkuat tanpa mengganggu komposisi visual.

Karya ini juga memanfaatkan mesin hidrolik. Kepala Bhutakala dapat bergerak sekitar 45 derajat ke kiri dan ke kanan. Jam pasir yang terpasang pada rangka kepala ikut bergerak mengikuti rotasi tersebut. Jari-jari yang terikat benang juga dapat bergerak, memperkuat kesan bahwa kendali terhadap manusia benar-benar terjadi.

Gerakan yang dihadirkan bersifat terukur dan sugestif. Dinamika muncul tanpa mengorbankan stabilitas struktur.

Cermin Moral yang Digenggam

Empat punakawan dalam karya ini bukan sekadar pelengkap visual. Dalam tradisi wayang kulit Bali, Werdah dan Tawalen adalah figur abdi yang setia pada tokoh dharma. Mereka kerap menjadi suara kebijaksanaan rakyat, penyeimbang, dan pengingat nilai-nilai kebenaran.

Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

Di sisi lain, Sangut dan Delem sering hadir sebagai representasi kelicikan, oportunisme, dan keberpihakan pada kekuasaan yang salah. Mereka tidak selalu jahat, tetapi sering menampilkan watak yang mudah beradaptasi dengan kepentingan penguasa.

Dalam komposisi Kalabendu, keempat punakawan itu berada dalam genggaman Bhutakala. Ini memberi lapisan makna tambahan: bukan hanya manusia yang dikendalikan, tetapi juga simbol-simbol moral. Kebaikan dan keburukan sama-sama dapat diperalat oleh zaman.

Punakawan dalam tradisi Bali biasanya berfungsi sebagai pengingat dan penyeimbang. Namun di sini, peran itu terbalik. Mereka tidak lagi menjadi suara yang bebas, melainkan bagian dari sistem kendali.

Eling lan Waspada

Dalam tradisi Jawa, Kalabendu tidak berhenti pada gambaran kesengsaraan. Ia selalu disertai nasihat: eling lan waspada—ingat dan waspada.

Tema karya ini menekankan pentingnya pertiwi sebagai pertiwimba, pertimbangan suci dalam setiap tindakan. Pembalikan tatanan dapat dicegah jika manusia menjaga kesadaran dan keseimbangan moralnya.

Kalabendu menempatkan krisis bukan hanya di luar diri, tetapi juga dalam pilihan pribadi. Dalam konteks ekonomi kreatif, ogoh-ogoh seperti ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat menjadi medium refleksi sosial sekaligus ruang inovasi teknik.
Pertanyaannya sederhana: ketika tatanan terbalik, apakah manusia sepenuhnya digerakkan oleh zaman, atau masih memiliki ruang untuk menentukan arah geraknya sendiri? [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat Pecatuogoh-ogohsekaa teruna
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takjil

Next Post

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co