- Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang.
Tak pernah ada orang—termasuk seniman—bisa cukup perkasa untuk membuang dari dirinya segala hal yang menghubungkannya dengan masa kanak-kanak dan lingkungannya. Orang dapat, boleh jadi, membuang hal-hal yang cukup dangkal melekat pada kulit luar kesadarannya, tetapi banyak hal meresap terlalu dalam di urat syaraf dan di bawah kesadaran.
– Sanento Yuliman
SENI adalah pernyataan pengalaman. Orang boleh saja melukis pemandangan gunung berkali-kali. Namun cerita, daya tafsir dan kondisi psikologis seseorang telah berhasil mewujud pada tampak lain dari setiap gunung yang pernah dilukiskan. Bagi sebagian, gunung merupa sosok yang membasuh kita dengan kesuburan, namun untuk mereka para penyintas, gunung tak ubahnya rasa was-was yang tiap detiknya merampas ketenangan.
Kita “manusia” tak pernah benar-benar identik dalam memandang sesuatu. Apa yang diungkapkan Sanento dalam pernyataannya menegaskan dengan pasti, bagaimana cara pandang kita—pun seniman, akan selalu berkelindan pada ingatan, pengalaman dan cara hidup yang melekat pada seseorang. Ia tak pernah benar-benar bisa ditutupi dengan kebohongan-kebohongan baru. Endapan itu meresap begitu dalam sampai tak terpisahkan dari cara kita merangkai realitas.
Dalam praktik seni pun, perspektif tak selalu hadir dalam cerita gamblang sebagai cara untuk melihat ruang dan objek secara visual. Ia sejatinya teropong yang memungkinkan kita untuk mencerna sebuah peristiwa dari sudut dan lanskap bermacam. Oleh karenanya muncul berbagai varian persepsi—simpulan dari berbagai rangkaian pengalaman yang membentuk pemahaman atas sesuatu. Jadi bisa saja kebenaran yang kita yakini— bahkan hingga detik kamu membaca tulisan ini—muncul karena ikhwal persepsi. Satu kejadian dapat berdiri utuh sebagai sebuah kenyataan, namun perbedaan cara kita menafsir yang kemudian membentuk cernaan yang nilainya bisa bersifat sangat subjektif.
Melalui perspektif inilah hal-hal biasa yang tampak remeh dan kerap luput dari lensa kecil kita berubah menjadi cermin dan imajinasi yang membawa kita ke dalam kemungkinan makna yang lebih luas. Seni dalam konteks ini menawarkan jembatan yang membuka banyak cara pandang baru yang kadang aneh, asing namun begitu mujarab untuk menyentuh hal-hal yang berjarak oleh kehadiran kita sebelumnya.

Sepuluh seniman yang hadir dalam bingkai pameran ini muncul melalui keluasan cara pandang dan kepekaan yang begitu variatif. Masing-masing dari mereka begitu lihai membawa realitas yang mungkin sekilas mirip, namun tampak benar-benar lain saat kita masuk di dalamnya. Hal itu tercermin dari banyaknya karya yang mencoba bahasa baru dalam menerjemahkan kondisi mereka hari ini.
PERIHAL RUMAH, KESEHARIAN DAN REKOGNISI KETUBUHAN
Pada praktik yang lebih dekat, perspektif diperlakukan sebagai alat baca yang mencerna laku keseharian sebagai bagian fundamental yang membentuk keragaman artistik seorang seniman. Melalui seri ”Random Black”, Surya Subratha mencoba mengunjungi kembali karya-karya lamanya dan melihat bagaimana praktik tersebut justru berhasil menautkannya dengan konteks hari ini.
Semesta Hitam dulu tampak sebagai ruang nir penghakiman bagi bentuk-bentuk spontan di kepalanya, kini bertransformasi sebagai bahasa rupa yang menandai gerak perlahan Surya dalam upaya menggambarkan sesuatu secara jernih, perlahan dan tertata. Perubahan ini bukanlah tanda kemiskinan bentuk, melainkan cerminan dari perjalanan hidup yang kini semakin jauh dan berlapis.
Siluet botol, pola dedaunan dan berbagai pernak-pernik kecil adalah hal yang sungguh melekat dengan dirinya sekarang. Romantisme rumah, keluarga dan halaman di sekitar menghadirkan detail-detail sederhana yang nyaris tak terpisahkan dari setiap bentuk yang ia torehkan. Karya Surya membawa kita untuk melambat dan mengecek kembali perintilan remeh dalam kehidupan kita, namun sesungguhnya membentuk cara kita memahami dunia sebagai manusia seutuhnya.

Jika Surya membaca perspektif melalui pengalaman sehari-hari, maka Sakde Oka bekerja pada area yang lebih transendental, ia punya kedekatan yang lebih pada perspektif kosmologis. Karya sulamnya seperti alat untuk mengenali aspek ketubuhan diri dan alam sekitarnya, seolah medium atas refleksi yang menautkan pengalaman personal dengan lanskap batin yang lebih luas. Di matanya rupa-rupa benang dirangkai garis demi garis. Menjelma bentuk dan komposisi warna yang berwarna lembut serta bernuansa fantasi, menghadirkan dunia visual yang terasa intim sekaligus imajinatif.
Pada karyanya kali ini benang tak berdiri sendiri, ada kain yang terpotong dan menumpuk satu sama lain, membangun fragmen visual yang membentuk kedalaman ruang dan tekstur. Namun peran sulam tak hilang begitu saja, justru berperan sentral sebagai penghubung antar kain dan membentuk pola-pola ritmis yang berulang. Seperti denyut yang menjaga alur kesatuan antar kejadian yang berlangsung pada karya.
Dalam perspektifnya, sulaman Sakde tidak selesai pada fungsi dekoratif, ia memberi bahasa visual yang merangkai fragmen-fragmen material menjadi satu kesatuan naratif yang berkisah layaknya dongeng masa kecil. Kumpulan objek-objek fantasi seperti Unicorn dan burung-burung besar yang ditunggangi manusia, hadir dalam visual medieval yang penuh dengan kejutan dan keajaiban. Kesan tersebut diperdalam oleh penggunaan kain yang mengkilap dan silauan manik-manik yang berpendar manis, turut membangun persepsi di antara alam nyata dan mimpi yang mengambang bebas di dalam kepala. Rasanya sangat surreal. Garis-garis sulamnya adalah cara untuk mengingat kerja-kerja tangan yang lekat dengan proses dan perubahan seorang manusia. Eksistensi makhluk rapuh ini dibangun dari berbagai hal kecil yang saling menimpali, merangkai dan membentuk realitas yang lebih besar. Seperti benang-benang sulam yang kecil namun terjahit sebagai sebuah pola dan gambar yang utuh.
HASRAT DAN EKSPLORASI YANG BELUM SEPENUHNYA USAI
Begitupun dengan makna perspektif yang tidak melulu patuh pada sesuatu yang tampak selesai, bisa jadi ia merupakan jalinan eksplorasi dan pengalaman yang berproses terus menerus. Seperti yang coba dihadirkan oleh Didin Jirot melalui karyanya “Totem of Voice”—sebuah upaya untuk mengaktualisasikan diri melalui kompleksitas bunyi dan bentuk.
Seringkali kita memiliki persepsi keliru terhadap seorang seniman, seolah mereka selalu produktif tanpa mengalami kejenuhan. Tak terkecuali seorang Didin Jirot sekalipun. Pada pameran kali ini, tak ada lipatan plat stainless yang saling menekuk, atau silauan warna yang tampak melalui permukaan karyanya, yang ada hanyalah bermain—sebuah frasa yang terkadang sering kali abai dari polah seniman yang sudah kepalang profesional. Padahal di titik bermain inilah kejutan sering kali muncul dengan tidak terduga, seperti lapisan ketidaktahuan yang menunggu untuk dipecahkan.
Didin menyebut pendekatan ini sebagai Sound Sculpture, sebuah praktik yang menggabungkan minatnya dalam merakit sebuah sistem audio analog, namun melalui sensibilitas sebagai seorang pematung. Ini semacam perluasan dari praktik yang biasa ia geluti dengan objek tri matra. Materialitas kini tak berhenti pada sensasi visual yang hanya bisa dinikmati melalui penglihatan saja, namun juga merambat melalui getaran yang masuk ke lorong-lorong gendang telinga kita.
Bentuk tak lagi sekadar mencari selera estetis, namun juga mewadahi aspek fungsionalnya sebagai sebuah perangkat audio yang membutuhkan ukuran, ruang resonansi, serta komposisi material yang menjadi faktor penting dalam menentukan bagaimana suara dapat mencapai kualitas maksimalnya.
Ketika Didin bercerita kepada saya, ada mata yang berbinar seolah ada sesuatu yang sangat membuatnya antusias. Yap. ‘Ia gila’, seperti seekor kucing yang kegirangan menemukan ikan asin di tengah kejenuhan sampah kota.

Seperti halnya seorang pematung, mengolah teknis dan menaklukkan material adalah lumrah baginya; dari material ukir kayu, lapisan bidang resin maupun stainless yang melekuk, terlihat begitu jinak, tak terkecuali persoalan bunyi-bunyian yang tak luput dari penjelajahan tangannya. Ia mengajak kita untuk mengalami karya melalui sensasi yang terasa sublim namun benar-benar meneror isi kepala kita.
Munculnya istilah Totem pada karyanya berasal dari perbedaan antara panjang gelombang suara akan membentuk tiga lapisan frekuensi yaitu Low, Mid dan High. Yang baginya, Panjang gelombang tersebut membentuk sebuah lapisan Totem—sebuah struktur keseimbangan yang mengingatkan pada kosmologi tiga dunia: alam, manusia, dan para dewa. Praktik sound sculpture yang ditampilkan oleh Didin, menjadi gambaran bagaimana percobaan terhadap hal-hal baru, akan membawa berbagai kemungkinan untuk bisa bertumbuh lebih jauh. Hal itu bisa juga menjadi jalan baru bagi kreatifitas yang jemu, dan bisa jadi pengalaman eksplorasinya ini membawa napas segar terhadap karya-karya sebelumnya.
Di sisi lain Npaaw mencoba untuk menarik lebih jauh batas pemahaman kita tentang bagaimana karya juga dapat dilihat melalui kacamata Open Space—sebagai ruang yang begitu terbuka akan setiap kemungkinan.
Jika dilihat pada lukisannya muncul lapisan warna yang saling menyilang, tertampak oleh lintasan masking tape yang ditumpuk berkali-kali, menciptakan kesan dimensi tanpa batas dan kemungkinan yang tak akan pernah sampai pada kata selesai. Di balik warna-warna tersebut, sesekali menyembul citra gambar yang hanya tersisa siluetnya saja. Kejanggalan yang tampak, mestinya disengaja, seraya kabut yang membuyarkan pandangan kita tentang apa yang sebenarnya hidup di balik lapisan-lapisan partikel warna yang tersemprot.
Sifat masking tape yang tak memiliki ketahanan permanen, merupakan pilihan sadar sang seniman. Melalui medium ini kita diajak untuk memahami jika tak ada yang begitu sama pada detik dan tempat yang berbeda. Seperti kutukan yang senantiasa memaksa sesuatu untuk terus berubah dan mustahil untuk dihentikan. Dalam kondisi tertentu karyanya bisa saja berubah ketika lapisan masking tersebut dicabut dan dilepaskan oleh tangan yang berbeda-beda. Bahkan seiring berubahnya cuaca, perlahan kekuatan lem yang ada pada lapisan kertasnya akan meletek satu demi satu dan mengungkap lapisan yang tak pernah muncul sebelumnya.
Bentuk geometrikal yang saling menumpuk, seraya pixel dalam layar komputer yang mewakili ruang tanpa batas. Dalam konteks yang lebih dalam, Npaaw juga memberikan muatan kritis akan tempat tinggal di sekitarnya. Jauh di bawah warna-warna kontras yang saling memeluk, tersembunyi siluet sawah dan lingkungan pedesaan yang perlahan terus berubah menjadi sesuatu yang lain. Jika tidak dibangun maka dihancurkan, jika tidak ditambah maka akan dikurangi. Pada titik ini, rangkaian laku yang tertuang dalam karyanya tidak hanya berpaku pada eksplorasi visual saja namun juga berelasi dengan cara seniman merespon perubahan lingkungan dan kondisi sosial disekitarnya.
Npaaw, melalui karyanya menegaskan ketidakberpihakan pada karya yang selalu dipandang sebagai artefak sakral yang begitu berjarak dan tak dapat disentuh. Npaaw berjalan sebaliknya; justru tangan-tangan audiens juga punya andil penting, yang membuat karya tersebut tidak pernah setia pada satu titik yang tetap. Ia hadir di ambang kemungkinan, sesuatu yang berada di batas antara proses dan tujuan yang tak pernah sampai. Dikala inilah karyanya berada dalam kondisi terus menjadi.
JEDA YANG REFLEKTIF
Suara lain muncul dari seorang Wicitra Pradnyaratih, sosok yang tersemat oleh banyak sebutan. Di satu waktu ia bisa menjadi anak desain grafis, namun disaat yang bersamaan bisa saja ia menjadi penulis ataupun kurator. Selebihnya ada ranah internal yang ia sangat jaga; area intim sebagai seorang perupa yang identik dengan kerja-kerja artistik terutama sapuan kuas dan bermacam palet warna.

Latar belakangnya sebagai seorang multidisipliner—tanpa sadar—atau memang pernah disadari merupakan satu hal yang kelihatannya begitu kompleks untuk teramu dalam satu tubuh praktik. Namun dalam konteks pameran ini, kehadirannya tentu dibaca dengan pendekatan dari seorang perupa otonom, yang menawarkan cara pandang berbeda dalam melihat dan mengalami proses kreatif dibanding berbagai bidang yang ia juga geluti.
Pada karyanya kali ini, ia justru tampil dengan kedekatan pada sesuatu yang menubuh ke dalam, sebuah gestur akan refleksinya tentang siapa dirinya dan bagaimana kanvas menjadi ruang yang sah akan segala bentuk kesalahan dan ketidaksempurnaan. Melalui warna-warna lembut dan tenang, ia mengisyaratkan tentang bagaimana pentingnya mengambil jeda dalam mencerna sesuatu. Warna-warna itu sudah tentu tidak perlu menghakimi siapa penikmatnya, ia justru menyediakan ruang tunggu yang sejuk namun cukup untuk mengobati segala kepenatan akan dunia yang begitu serampangan.
Pada sapuan kuas yang tertampak, perbedaan muncul pada cara ia membangun citraan visual. Dari kejauhan tampak sebuah lanskap warna yang membentang, namun secara bersamaan lanskap tersebut merupa pada komposisi yang berasal dari objek-objek kecil di sekitarnya—yang kemudian diperbesar sampai tak terlihat utuh bentuk asalnya. Bagi Wicitra lukisan adalah wilayah intim yang hening, dimana waktu dan persepsi mulai bergeser dimana ia bisa dengan telanjang menerima diri seutuhnya.
Komposisi yang menjalin seperti hamparan awan menjadi representasi dari mindscape—ruang batin yang selama ini ia simpan dan endapkan. Sebuah citra visual yang dirawat untuk berada pada ruang antara—sebelum pikiran, sebelum bahasa—dimana merasakan dan mengada menjadi satu.
Begitu pula Rama, yang memaknai jeda dan memori sebagai sesuatu yang memberi rasa utuh dalam diri manusia. Tanpanya, terasa terlalu berani untuk menantang kesibukan dunia yang kian tak manusiawi.
Dalam karya-karyanya, Rama sangat sering memakai aksara dan teks sebagai jangkar kekaryaannya. Hal ini didasari ketertarikannya pada praktik copywriting yang membedah perilaku antara kata dan persepsi audiens. Sebagai contoh, jargon-jargon seperti Paradise Island, Island of God, dan See Bali adalah beberapa kalimat beken yang membentuk imajinasi kita soal Bali hari ini.
Sebagai seseorang yang menetap di Bali, ia turut merasakan perubahan nyata dalam melihat industri pariwisata yang kini sangat cepat. Jargon Slow Living in Bali kini hanya tinggal tagar untuk ajang validasi semata—maknanya menghilang seraya wajah pucat pasi para daily worker. Kondisi ini kemudian memaksa kita untuk pantang memberi istirahat pada tubuh dan pikiran. Di sinilah intermission (baca; ruang jeda) merupakan siasat pasti untuk bertahan dari dunia yang semakin jejal.
Di depan latar biru pucat, ia menghimpit terma intermission dengan dua aksara sederhana dalam bahasa Jawa. Padanya tertulis “Sare, Wungu” yang bermakna tidur bangun, sebuah gestur yang sengaja mendahulukan kata “tidur” sebelum “bangun” karena di situlah kita bisa mengerti pentingnya jeda, untuk kembali melakukan segala sesuatu dengan lebih jernih dan tenang. Tidur tidak semata diartikan sebagai kebutuhan biologis, ia juga bermakna lain, ketika ditempatkan pada konteks yang lebih luas.
Sementara di sebelahnya tampak instalasi ready made object, yang terdiri dari benda-benda personalnya. Seperti helm, peta, dan beberapa sticker perjalanan yang terangkai layaknya arsip pengalaman yang membawanya kembali. Pada memori, pada ruang, pada orang, dan kepada Jawa. Pulau yang mengingatkanya tentang akar—sesuatu yang selama ini telah cukup lama ia tinggalkan. Benda-benda itu semacam etalase yang mengail ingatan di kolam masa silamnya.
Sejalan dengan Rama, secara kebetulan Kania dalam lukisannya juga merayakan tidur sebagai kekayaan yang harus di rayakan, terutama di situasi yang tak menentu ini.
Karyanya menampilkan citra perempuan bergaya anime yang bergerak dalam beragam pose yang terbentang seperti alur cerita yang berjalan linear, dimana ia mencoba menggambarkan bagaimana pada akhirnya seberat atau seaneh apapun kejadian yang kita alami tadi siang, pada semestinya akan diakhiri dengan sepasang kelopak mata yang tertutup. Dua panel dengan bentang warna positif dan negatif, tak semata ingin menunjukan perbedaan siang dan malam, tapi juga membawa transformasi artistik Kania sendiri dalam menerima dan mengeksplorasi kemungkinan visual yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Kondisi hiruk pikuk dan keruwetan dunia sering kali menjadi penyebab utama munculnya gejala kejenuhan. Tak terkecuali hari ini, dimana informasi bertukar secara cepat dan masif, layaknya ribuan anak panah yang berterbangan menancap pada algoritma scrolling kita. Di sinilah kadang kita hanya butuh satu hal untuk kuat melanjutkan hidup, yaitu tidur. Ya, tidur tak pernah sesederhana itu, bagi Kania yang seorang seniman sekaligus pekerja kreatif, tidur menjadi save zone dimana ia bisa mengambil jeda, jarak dan waktu untuk semalam menghilang dalam ruang mimpi dan sejenak tak memikirkan apa-apa.

Pameran ini menjadi ruang segar untuk Kania yang selama beberapa waktu sempat menjeda aktivitas melukisnya. Warna yang lebih jujur dan goresan yang tak lagi merasa bersalah, mewujud tempat bagi Kania beranjak kembali mengenali diri dan segala ketidaksempurnaan yang menyertainya. Dan lewat tidur, ia menyadari setitik perubahan di setiap paginya, seolah tidur menjadi tanda koma yang menunggu sambutan kata baru di esok hari.
IDENTITAS DAN KEPEKAAN PRIMAL MANUSIA
Ketiga seniman selanjutnya kemudian melihat perspektif melalui kacamata dasar lahiriah seorang manusia, yaitu kepekaan untuk merasa dan mempertanyakan kembali makna identitas sebagai bagian dari mengenal dan memaknai aspek dasar eksistensial itu sendiri.
Seperti yang tertampak pada karya “Partus Mammal” milik Kuncir yang tak sekadar merespons absurditas, namun masuk dan ikut mengalaminya dari dalam. Dalam komposisi bentuk-bentuk yang berurai dan tak beraturan, Kuncir merekam sebuah ikhwal penting dalam kehidupan seorang manusia, yaitu lahirnya anak kedua dari rahim seorang wanita, yang sudah tentu adalah istrinya.
Arsir pensil yang begitu tipis nan sederhana, mengingatkan kita pada imaji lukisan purba di dinding-dinding gua yang mengalir, jujur dan lahir begitu saja—sebuah dorongan dasar seorang manusia untuk mencatat dan menjaga ingatan penting di kehidupannya. Pada Kuncir garis-garis itu membentuk visual yang intuitif dan naluriah layaknya napas yang mengalir tanpa harus diberi tahu.
Bentuk-bentuk yang terkesan absurd dan tak terjelaskan, menandai dirinya yang begitu kagum pada proses kelahiran yang begitu kompleks, yang diliputi uraian berbagai rasa sakit, takut, cemas sekaligus perasaan bahagia yang bercampur mewujud pada sesuatu yang tak bisa tersampaikan hanya lewat kata. Ia harus diwakilkan dengan gambar, warna, dan proses motorik yang mengalir tanpa intensi sepenuhnya, hanya ingatan yang tersisa sebagian.
Tak terkecuali Aharimu yang datang sebagai representasi nyata dari identitas dasar multi sensorik.Dimana karyanya memadukan praktik seni rupa yang merekam gestur motorik dan persoalan material dengan aktivitas video directing berbasis lensa dan citra digital.
Dalam pameran ini, praktik tersebut hadir melalui sejumlah produksi artistik yang saling bersinggungan. Pada karyanya yang berjudul “Pond” tampak guratan-guratan charcoal pada kertas stensil yang tampak tipis dan menerawang bayangan, ulah pendar cahaya yang bergerak tak beraturan. Sebuah kesepakatan artistik yang seolah menolak menjadi bentuk yang sepenuhnya solid. Sementara karya di sebelahnya menayangkan video sembarang yang merekam komposisi yang lahir dari kebetulan-kebetulan kecil—bayangan, tekstur, dan bentuk yang muncul tanpa intensi berlebih. Meskipun nampak bersebrangan, medium-medium ini tidak saling menegasikan, melainkan berjalan sebagai cara-cara berbeda dalam mendekati pengalaman, ingatan, dan kepekaan terhadap sekitar.
Benang merah yang menautkan kedua wilayah ini adalah dorongan untuk merekam—sebuah gestur purbawi yang tak terhenti pada tindakan dokumentatif semata, tetapi sebagai cara sederhana untuk memahami, merasakan dan merayakan dunia dengan lebih intim.
Pada karyanya, merekam membentuk gestur yang cair: hadir sebagai goresan yang mencoba menangkap sesuatu yang nyaris tak terlihat seperti pergerakan angin, air dan cahaya—sesuatu yang selalu bergerak mengitari tubuh kita. Dalam keterpisahan medium-medium tersebut, karyanya nampak sebagai sebuah keutuhan cara pandang—menjelaskan bahwa pengalaman tak pernah hadir dalam satu bentuk tunggal, melainkan tersebar melalui berbagai sensor indrawi manusia.
Bergeser pada praktik yang lebih eksistensial, Natasha Lubis melihat identitas melalui pendekatan arsip dan bagaimana fenomena sejarah membentuk citra tubuh dan perempuan hari ini.
Lukisannya menghadirkan kolase arsip yang dipadukan dengan sapuan kuas yang menampung warna-warna psychedelic seperti hijau neon, merah nyala, ungu dan berbagai padupadanan warna asing yang muncul seperti mimpi liar di masa kita kecil. Arsip-arsip itu kadang terpotong-potong, seolah ia terpisah dari konteks asli yang menyelimutinya. Figur-figur itu kemudian lahir kembali dalam konteks baru yang ia ciptakan sendiri. Lukisannya bekerja layaknya proses manipulasi visual—mengolah, memindahkan, dan membangun ulang objek—sehingga citra-citra tersebut memperoleh agensi baru, hadir sebagai subjek yang berdiri atas definisinya sendiri.
Latar belakang pendidikan yang dibentuk oleh jarak ribuan kilometer, menjadi pemantik atas kesadaran identitas dan tantangan untuk mempertanyakan ulang pemahaman lampaunya soal diri dan siapa yang sesungguhnya berdaulat atas tubuh itu sendiri? Menyelami dan membongkar kembali foto-foto arsip kolonial yang menampilkan figur perempuan sebagai objek adalah cara paling berani untuk melihat kenyataan tentang bagaimana relasi kuasa—dalam praktiknya—memegang peranan tunggal dalam mendefinisikan perempuan. Dan lukisannya adalah medium paling perkasa untuk menyatakan diri di atas definisi yang diwariskan oleh dunia.
EPILOG
Demikianlah sekelumit seniman dengan segala serba-serbi problematikanya. kita di ajak melambat—masuk dan kembali berkenalan dengan diri, menyadari hal-hal kecil yang telah terlewat oleh sebab dunia yang begitu cepatnya berubah. Terma perspektif dalam pameran ini mungkin tak akan tersimpul dalam pengertian yang sama, bagi tiap seniman satu kata akan membawa ide, pengalaman dan cara mereka mencerna lika liku kehidupan dengan pendekatan yang tidak hanya tunggal tapi berbeda-beda. Ada yang begitu cair dalam gelak tawa, pun ada yang begitu transendental dengan cara padang kosmologisnya.

Melalui Refracted, perspektif tak lagi berumah di atas kepastian, sebaliknya ia melebur dalam medan tafsir yang cair. Setiap karya menjadi medium yang membelokan pengalaman—memecah, kemudian menggesernya pada bentang penuh kemungkinan. Tiap-tiap seniman kemudian terlihat sesekali melompat lalu melampaui batas-batas bentuk yang telah menjadi habitus. Gestur-gestur itu bukan hadir sebagai bentuk pembangkangan, tapi upaya bertahan dalam menerjemahkan sensasi pengalaman yang kini terasa kian cepat berubah. Dari sana kita diajak melambat lalu berdamai dengan jejak hidup yang tak pernah lepas dari perubahan. Sebuah pengingat bahwa ketidakpastian bukan sesuatu yang mesti ditaklukan, namun dilakoni sebagai kenyataan yang senantiasa menyertai, dan dalam banyak hal, rasa ini membentuk persepsi kita dalam melihat, merasakan dan memahami dunia lebih luas.
Pada berakhirnya waktu, kesediaan kita untuk menerima lensa lain di luar diri kita adalah kunci utama dalam menikmati dunia yang begitu luas dan cair. Setiap individu boleh saja berumah pada keyakinan yang mereka Jalani, namun kesepuluh seniman dan karya-karyanya adalah tawaran sederhana untuk mengajak kita lebih peka, mungkin juga berani pada cara-cara baru dalam menikmati apa yang kita miliki sekarang. [T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole




























