14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
February 24, 2026
in Ulas Rupa
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Celeng Ngelumbar karya Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana alam. Tepatnya, adalah ‘bencana ekologis’.

Ini merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya perubahan ‘tatanan ekologi’ oleh ‘kerakusan manusia’ selaku ‘predator hutan’ hingga terjadi ganguan atas beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia, makluk hidup dan kondisi alam.

Saya ingin mengkaitan problema tersebut dengan orasi ilmiah Wayan Setem pada acara inagurasi dan sapa publik guru besar anyar di ISI Bali, Denpasar – beberapa waktu yang lalu. Ia, membacakan orasi ilmiahnya yang bertajuk : “Seni Ekologis Sebagai Media Kampanye Kreatif Ekosistem Menuju Lingkungan Berkelanjutan”.

Setem menganalisis soal bencana ekologis tersebut sebagai akibat proses alam maupun (terutama) aktivitas manusia. Itu, menurut Setem, yang menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan budaya yang luas. Di Bali, Setem mencontohkan – problema itu sangatlah nyata, diantaranya degradasi sungai, alih fungsi subak, dan dampak ‘overtourism’.

Dari pemikiran Setem tersebut dapat disimpulan bahwa bencana ekologis adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengganggu keseimbangan lingkungan sehingga mengancam kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Memang hampir sama dengan becana alam namun berbeda, karena faktor pemicu bencana ekologis lebih disebabkan oleh factor antropogenik dari pada alamiah.

Seperti kita ketahui, Bencana alam adalah peristiwa merusak yang terutama dipicu oleh proses alam (gempa, tsunami, badai), sedangkan bencana ekologis muncul dari gangguan keseimbangan ekosistem yang seringkali diperparah atau dipicu oleh aktivitas manusia (deforestasi, penambangan eksploitatif, polusi, dan semacamnya). 

Seperti diungkapkan Setem di atas – di Bali/Denpasar contoh bencana ekologis tidak hanyameliputi degradasi sungai, alih fungsi subak, dan dampak ‘overtourism’. Tapi juga  ‘komodifikasi’ ruang sakral yang mengikis ‘fungsi ekologis’ dan sosial budaya setempat. Ini, menyebabkan datangnya bencana banjir yang cukup besar, di beberapa wilayah di Bali. Terutama Denpasar.

Yang menarik dari asumsi Wayan Setem, adalah tentang ‘Overtourism’. Memang, realitanya Denpasar/Bali menghadapi ‘degradasi ekologis’ nyata akibat overtourism, alih fungsi subak, pencemaran sungai, dan penambangan pasir – adalah persoalan yang mesti dipikirkan.

Menurut pendapat Setem pada teks orasi ilmiahnya, ‘seni ekologis’ berbasis komunitas dapat menjadi alat ‘advokasi efektif’ melalui proyek ‘partisipatif’, pendidikan kreatif, dan kolaborasi kebijakan lokal.

Untuk itu, Setem pernah menggelar seni pertunjukan/instalasi bertajuk “Celeng Ngelumbar”  di desanya, selat – karangasem. Ini adalah judul sebuah karya seni disertasi doktoral karya  Setem saat studi di ISI Surakarta. Tajuk ini bisa berarti “Babi Mengamuk/Menggila” dan digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan penambangan pasir yang eksploitatif dan dampaknya terhadap sosial-ekonomi masyarakat, sering kali dengan kritik terhadap keserakahan dan kehancuran lingkungan yang terjadi. 

Menurut Setem, keterlibatan audiens dalam ‘seni ekologis’ harus dibangun sebagai ‘praktik dialogis’ yang hidup, bukan sekadar pertunjukan satu arah. Ketika karya ditempatkan langsung di situs krisis – misalnya areal bekas tambang – ia tidak hanya menjadi ‘objek visual’, melainkan cermin yang memaksa masyarakat lokal, pelaku tambang, dan perangkat desa untuk menyaksikan kembali tindakan mereka dalam bentuk ‘metafora’.

Menempatkan karya di ‘galeri alam’, seperti di penambangan pasir yang ada di desa Setem, yang sarat konflik dan memori  – tentu ini menggeser ‘pengalaman estetis’ dari ‘ruang steril’ ke ruang yang kompleks dengan persoalan. Di sana, seni menjadi medium yang membuka ruang pertemuan antara pengalaman ‘empiris’ dan ‘refleksi kolektif’.

Demikian pula ketika karya tersebut dibawa ke sekolah misalnya, ia berubah fungsi menjadi alat pendidikan yang merangsang rasa ingin tahu dan empati generasi muda, menanamkan kesadaran ekologis sejak dini melalui pengalaman langsung dan diskusi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, menurut Setem, presentasi karya tidak boleh pasif. Karya yang efektif dilengkapi dengan rangkaian kegiatan partisipatif: diskusi terbuka, lokakarya kreatif seperti pembuatan patung dari sampah, serta aksi nyata seperti revegetasi.

Kombinasi antara aksi simbolis dan aksi pemberdayaan ini menciptakan komunikasi dua arah yang sejati. “Seni tidak lagi mendikte makna, melainkan menjadi pemicu dialog di mana makna dikonstruksi bersama” Setem menjelaskan.

Ketika warga diajak ikut membuat karya, menyumbangkan cerita, atau terlibat dalam proses restorasi, posisi mereka bergeser dari penonton menjadi ko-kreator. Proses kolaboratif semacam ini memperkaya makna karya sekaligus memperkuat kapasitas komunitas untuk bertindak atas isu yang dihadapi.

Transformasi paling nyata terjadi ketika simbol-simbol artistik berhasil memicu aksi kolektif yang konkret. Proyek seperti “Celeng Ngelumbar”, tandas Setem – menunjukkan bagaimana keterlibatan dapat berlanjut dari apresiasi estetis ke tindakan nyata.

Tindakan nyata tersebut, misalnya menanam pohon di lahan tandus bekas penambangan, menjalankan kampanye pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce-reuse-recycle, dan melakukan pendampingan komunitas untuk membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan.

Aksi-aksi ini bukan sekadar pelengkap estetika – Setem menandaskan, mereka adalah bagian integral dari strategi pemulihan yang menghubungkan pengalaman simbolik dengan perubahan material di lapangan. Dengan demikian, seni menjadi jembatan antara ‘imajinasi kritis’ dan ‘praktik restoratif’.

Akhirnya, keterlibatan ‘dialogis’ yang berujung pada ‘aksi kolektif’ menegaskan bahwa perubahan ‘sosial-ekologis’ memerlukan lebih dari sekadar kampanye informasi. Ia, ujar Setem,  memerlukan pengalaman bersama yang mengubah identitas dan kapasitas komunitas.

Seni ekologis, kata Setem – ketika dirancang sebagai proses ‘partisipatif’,  memang mampu memfasilitasi perubahan tersebut dengan cara yang sensitif terhadap konteks lokal, menghormati pengetahuan tradisional, dan membuka ruang bagi inovasi bersama.

Dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kreatif dan restoratif, seni tidak hanya merepresentasikan krisis, tetapi menjadi alat transformasi yang nyata – mengubah rasa menjadi tindakan, simbol menjadi praktik, dan penonton menjadi agen perubahan.

Perubahan ekologis, tambah Setem –  bukan fenomena abstrak bagi banyak komunitas. Ia adalah kenyataan yang mengubah cara hidup, relasi sosial, dan struktur budaya. Di desa-desa maupun kawasan perkotaan, lingkungan hidup berubah dari waktu ke waktu sehingga memaksa masyarakat merevisi praktik sehari-hari dan makna ritual yang selama ini menjadi penopang identitas.

Krisis ini bersifat ‘multidimensi’ – ia merombak sistem pengetahuan, mengguncang nilai-nilai kebudayaan, dan menuntut pendekatan ‘transdisipliner’ yang melibatkan akademisi, praktisi, pemerintah, serta seniman.

Dalam kerangka tersebut, seni tidak lagi sekadar soal keindahan teknis – ia menjadi sistem pengetahuan etis yang mampu merefleksikan, mengkritik, dan menawarkan ‘imaji alternatif’ untuk pemulihan relasi antara manusia dan alam.

Bali sebagai ‘situs ekologis’ dan kultural menanggung beban historis yang kompleks. Pulau ini, yang selama berabad-abad dibentuk oleh praktik agraris, ritual religius, dan jaringan sosial seperti subak, kini menghadapi tekanan hebat dari ‘arus globalisasi’ dan ‘ekspansi’ pariwisata masif.

Alih fungsi lahan subak menjadi hotel, vila, dan lapangan golf bukan sekadar perubahan penggunaan ruang – ia meruntuhkan jaringan sosial dan ritual yang mengikat ‘komunitas agraris’.

Lebih lanjut Setem menambahkan – tukad yang dahulu menjadi sumber kehidupan, irigasi, dan pusat ‘ritus spiritual’ mengalami ‘degradasi’ akibat pencemaran ‘limbah domestik’ dan ‘eksploitasi pasir’, sehingga ‘fungsi ekologis’ dan ‘makna kulturalnya’ tergerus.

Transformasi ruang hidup ini memunculkan kontradiksi tajam antara ‘logika kapitalistik’ yang ‘linier’ dan orientasi ‘agraris-religius’ yang ‘siklis’. Ruang sakral seperti pura, subak, dan tukad tergusur oleh ruang ekonomi yang profane – waktu ritual bertabrakan dengan waktu produksi.

Menurut Setem – akibatnya, masyarakat merasakan kehilangan kendali atas ruang dan waktu hidup mereka sendiri, sementara investasi global menggeser otoritas tradisional dan menempatkan warga lokal pada posisi marginal dalam pengambilan keputusan yang menyangkut lingkungan mereka. Alienasi ruang hidup ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal hilangnya makna, solidaritas, dan kapasitas komunitas untuk mereproduksi kehidupan secara berkelanjutan.

Manifestasi krisis ekosistem terlihat jelas dalam praktik-praktik ‘ekstraktif’ seperti penambangan pasir di sepanjang aliran sungai. Dampaknya berlapis – perubahan topografi, hilangnya vegetasi penahan erosi, pendangkalan sungai, dan menurunnya daya serap air tanah yang mengikis fungsi ‘ekologis’ sungai sebagai habitat dan penyimpan air.

Secara sosial-ekonomi, masyarakat kehilangan akses terhadap air bersih, sumber protein, dan material bangunan tradisional; sumber air suci mengering sehingga ritual yang bergantung pada tirta kehilangan konteksnya.

Secara budaya, hubungan emosional dan spiritual dengan alam terputus, sehingga makna ritual dan praktik kolektif melemah. Lahan yang ditinggalkan tanpa reklamasi berubah menjadi area tandus dan menjadi beban bagi generasi berikutnya, menegaskan bahwa ekonomi ekstraktif gagal membangun relasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.

Pembahasan orasi ilmiah Setem ini, menurut saya – menegaskan bahwa seni ekologis bukan sekadar wacana estetis, melainkan jalan praktis menuju keberlanjutan yang menggabungkan pemikiran, rasa, dan tindakan. Melalui siklus dinamis yang melibatkan krisis, refleksi, simbol, dan k eterlibatan – seni mampu menerjemahkan kompleksitas kerusakan ekologis menjadi pengalaman yang menyentuh dan memobilisasi.

Seni membuka banyak pintu masuk bagi publik: ada yang tersentuh lewat pemahaman faktual tentang krisis, ada yang tersentuh lewat refleksi personal dan budaya, ada yang tergerak oleh simbol-simbol yang menghidupkan makna, dan ada yang akhirnya bertindak melalui keterlibatan langsung. Keterlibatan inilah yang mengubah wacana menjadi praksis, menjadikan karya seni bukan sekadar representasi tetapi juga alat perubahan sosial-ekologis. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekologiI Wayan SetemlingkunganSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Viral, Emosi, dan Narasi yang Membesar

Next Post

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co