4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
February 24, 2026
in Ulas Rupa
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Celeng Ngelumbar karya Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana alam. Tepatnya, adalah ‘bencana ekologis’.

Ini merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya perubahan ‘tatanan ekologi’ oleh ‘kerakusan manusia’ selaku ‘predator hutan’ hingga terjadi ganguan atas beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia, makluk hidup dan kondisi alam.

Saya ingin mengkaitan problema tersebut dengan orasi ilmiah Wayan Setem pada acara inagurasi dan sapa publik guru besar anyar di ISI Bali, Denpasar – beberapa waktu yang lalu. Ia, membacakan orasi ilmiahnya yang bertajuk : “Seni Ekologis Sebagai Media Kampanye Kreatif Ekosistem Menuju Lingkungan Berkelanjutan”.

Setem menganalisis soal bencana ekologis tersebut sebagai akibat proses alam maupun (terutama) aktivitas manusia. Itu, menurut Setem, yang menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan budaya yang luas. Di Bali, Setem mencontohkan – problema itu sangatlah nyata, diantaranya degradasi sungai, alih fungsi subak, dan dampak ‘overtourism’.

Dari pemikiran Setem tersebut dapat disimpulan bahwa bencana ekologis adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengganggu keseimbangan lingkungan sehingga mengancam kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Memang hampir sama dengan becana alam namun berbeda, karena faktor pemicu bencana ekologis lebih disebabkan oleh factor antropogenik dari pada alamiah.

Seperti kita ketahui, Bencana alam adalah peristiwa merusak yang terutama dipicu oleh proses alam (gempa, tsunami, badai), sedangkan bencana ekologis muncul dari gangguan keseimbangan ekosistem yang seringkali diperparah atau dipicu oleh aktivitas manusia (deforestasi, penambangan eksploitatif, polusi, dan semacamnya). 

Seperti diungkapkan Setem di atas – di Bali/Denpasar contoh bencana ekologis tidak hanyameliputi degradasi sungai, alih fungsi subak, dan dampak ‘overtourism’. Tapi juga  ‘komodifikasi’ ruang sakral yang mengikis ‘fungsi ekologis’ dan sosial budaya setempat. Ini, menyebabkan datangnya bencana banjir yang cukup besar, di beberapa wilayah di Bali. Terutama Denpasar.

Yang menarik dari asumsi Wayan Setem, adalah tentang ‘Overtourism’. Memang, realitanya Denpasar/Bali menghadapi ‘degradasi ekologis’ nyata akibat overtourism, alih fungsi subak, pencemaran sungai, dan penambangan pasir – adalah persoalan yang mesti dipikirkan.

Menurut pendapat Setem pada teks orasi ilmiahnya, ‘seni ekologis’ berbasis komunitas dapat menjadi alat ‘advokasi efektif’ melalui proyek ‘partisipatif’, pendidikan kreatif, dan kolaborasi kebijakan lokal.

Untuk itu, Setem pernah menggelar seni pertunjukan/instalasi bertajuk “Celeng Ngelumbar”  di desanya, selat – karangasem. Ini adalah judul sebuah karya seni disertasi doktoral karya  Setem saat studi di ISI Surakarta. Tajuk ini bisa berarti “Babi Mengamuk/Menggila” dan digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan penambangan pasir yang eksploitatif dan dampaknya terhadap sosial-ekonomi masyarakat, sering kali dengan kritik terhadap keserakahan dan kehancuran lingkungan yang terjadi. 

Menurut Setem, keterlibatan audiens dalam ‘seni ekologis’ harus dibangun sebagai ‘praktik dialogis’ yang hidup, bukan sekadar pertunjukan satu arah. Ketika karya ditempatkan langsung di situs krisis – misalnya areal bekas tambang – ia tidak hanya menjadi ‘objek visual’, melainkan cermin yang memaksa masyarakat lokal, pelaku tambang, dan perangkat desa untuk menyaksikan kembali tindakan mereka dalam bentuk ‘metafora’.

Menempatkan karya di ‘galeri alam’, seperti di penambangan pasir yang ada di desa Setem, yang sarat konflik dan memori  – tentu ini menggeser ‘pengalaman estetis’ dari ‘ruang steril’ ke ruang yang kompleks dengan persoalan. Di sana, seni menjadi medium yang membuka ruang pertemuan antara pengalaman ‘empiris’ dan ‘refleksi kolektif’.

Demikian pula ketika karya tersebut dibawa ke sekolah misalnya, ia berubah fungsi menjadi alat pendidikan yang merangsang rasa ingin tahu dan empati generasi muda, menanamkan kesadaran ekologis sejak dini melalui pengalaman langsung dan diskusi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, menurut Setem, presentasi karya tidak boleh pasif. Karya yang efektif dilengkapi dengan rangkaian kegiatan partisipatif: diskusi terbuka, lokakarya kreatif seperti pembuatan patung dari sampah, serta aksi nyata seperti revegetasi.

Kombinasi antara aksi simbolis dan aksi pemberdayaan ini menciptakan komunikasi dua arah yang sejati. “Seni tidak lagi mendikte makna, melainkan menjadi pemicu dialog di mana makna dikonstruksi bersama” Setem menjelaskan.

Ketika warga diajak ikut membuat karya, menyumbangkan cerita, atau terlibat dalam proses restorasi, posisi mereka bergeser dari penonton menjadi ko-kreator. Proses kolaboratif semacam ini memperkaya makna karya sekaligus memperkuat kapasitas komunitas untuk bertindak atas isu yang dihadapi.

Transformasi paling nyata terjadi ketika simbol-simbol artistik berhasil memicu aksi kolektif yang konkret. Proyek seperti “Celeng Ngelumbar”, tandas Setem – menunjukkan bagaimana keterlibatan dapat berlanjut dari apresiasi estetis ke tindakan nyata.

Tindakan nyata tersebut, misalnya menanam pohon di lahan tandus bekas penambangan, menjalankan kampanye pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce-reuse-recycle, dan melakukan pendampingan komunitas untuk membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan.

Aksi-aksi ini bukan sekadar pelengkap estetika – Setem menandaskan, mereka adalah bagian integral dari strategi pemulihan yang menghubungkan pengalaman simbolik dengan perubahan material di lapangan. Dengan demikian, seni menjadi jembatan antara ‘imajinasi kritis’ dan ‘praktik restoratif’.

Akhirnya, keterlibatan ‘dialogis’ yang berujung pada ‘aksi kolektif’ menegaskan bahwa perubahan ‘sosial-ekologis’ memerlukan lebih dari sekadar kampanye informasi. Ia, ujar Setem,  memerlukan pengalaman bersama yang mengubah identitas dan kapasitas komunitas.

Seni ekologis, kata Setem – ketika dirancang sebagai proses ‘partisipatif’,  memang mampu memfasilitasi perubahan tersebut dengan cara yang sensitif terhadap konteks lokal, menghormati pengetahuan tradisional, dan membuka ruang bagi inovasi bersama.

Dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kreatif dan restoratif, seni tidak hanya merepresentasikan krisis, tetapi menjadi alat transformasi yang nyata – mengubah rasa menjadi tindakan, simbol menjadi praktik, dan penonton menjadi agen perubahan.

Perubahan ekologis, tambah Setem –  bukan fenomena abstrak bagi banyak komunitas. Ia adalah kenyataan yang mengubah cara hidup, relasi sosial, dan struktur budaya. Di desa-desa maupun kawasan perkotaan, lingkungan hidup berubah dari waktu ke waktu sehingga memaksa masyarakat merevisi praktik sehari-hari dan makna ritual yang selama ini menjadi penopang identitas.

Krisis ini bersifat ‘multidimensi’ – ia merombak sistem pengetahuan, mengguncang nilai-nilai kebudayaan, dan menuntut pendekatan ‘transdisipliner’ yang melibatkan akademisi, praktisi, pemerintah, serta seniman.

Dalam kerangka tersebut, seni tidak lagi sekadar soal keindahan teknis – ia menjadi sistem pengetahuan etis yang mampu merefleksikan, mengkritik, dan menawarkan ‘imaji alternatif’ untuk pemulihan relasi antara manusia dan alam.

Bali sebagai ‘situs ekologis’ dan kultural menanggung beban historis yang kompleks. Pulau ini, yang selama berabad-abad dibentuk oleh praktik agraris, ritual religius, dan jaringan sosial seperti subak, kini menghadapi tekanan hebat dari ‘arus globalisasi’ dan ‘ekspansi’ pariwisata masif.

Alih fungsi lahan subak menjadi hotel, vila, dan lapangan golf bukan sekadar perubahan penggunaan ruang – ia meruntuhkan jaringan sosial dan ritual yang mengikat ‘komunitas agraris’.

Lebih lanjut Setem menambahkan – tukad yang dahulu menjadi sumber kehidupan, irigasi, dan pusat ‘ritus spiritual’ mengalami ‘degradasi’ akibat pencemaran ‘limbah domestik’ dan ‘eksploitasi pasir’, sehingga ‘fungsi ekologis’ dan ‘makna kulturalnya’ tergerus.

Transformasi ruang hidup ini memunculkan kontradiksi tajam antara ‘logika kapitalistik’ yang ‘linier’ dan orientasi ‘agraris-religius’ yang ‘siklis’. Ruang sakral seperti pura, subak, dan tukad tergusur oleh ruang ekonomi yang profane – waktu ritual bertabrakan dengan waktu produksi.

Menurut Setem – akibatnya, masyarakat merasakan kehilangan kendali atas ruang dan waktu hidup mereka sendiri, sementara investasi global menggeser otoritas tradisional dan menempatkan warga lokal pada posisi marginal dalam pengambilan keputusan yang menyangkut lingkungan mereka. Alienasi ruang hidup ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal hilangnya makna, solidaritas, dan kapasitas komunitas untuk mereproduksi kehidupan secara berkelanjutan.

Manifestasi krisis ekosistem terlihat jelas dalam praktik-praktik ‘ekstraktif’ seperti penambangan pasir di sepanjang aliran sungai. Dampaknya berlapis – perubahan topografi, hilangnya vegetasi penahan erosi, pendangkalan sungai, dan menurunnya daya serap air tanah yang mengikis fungsi ‘ekologis’ sungai sebagai habitat dan penyimpan air.

Secara sosial-ekonomi, masyarakat kehilangan akses terhadap air bersih, sumber protein, dan material bangunan tradisional; sumber air suci mengering sehingga ritual yang bergantung pada tirta kehilangan konteksnya.

Secara budaya, hubungan emosional dan spiritual dengan alam terputus, sehingga makna ritual dan praktik kolektif melemah. Lahan yang ditinggalkan tanpa reklamasi berubah menjadi area tandus dan menjadi beban bagi generasi berikutnya, menegaskan bahwa ekonomi ekstraktif gagal membangun relasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.

Pembahasan orasi ilmiah Setem ini, menurut saya – menegaskan bahwa seni ekologis bukan sekadar wacana estetis, melainkan jalan praktis menuju keberlanjutan yang menggabungkan pemikiran, rasa, dan tindakan. Melalui siklus dinamis yang melibatkan krisis, refleksi, simbol, dan k eterlibatan – seni mampu menerjemahkan kompleksitas kerusakan ekologis menjadi pengalaman yang menyentuh dan memobilisasi.

Seni membuka banyak pintu masuk bagi publik: ada yang tersentuh lewat pemahaman faktual tentang krisis, ada yang tersentuh lewat refleksi personal dan budaya, ada yang tergerak oleh simbol-simbol yang menghidupkan makna, dan ada yang akhirnya bertindak melalui keterlibatan langsung. Keterlibatan inilah yang mengubah wacana menjadi praksis, menjadikan karya seni bukan sekadar representasi tetapi juga alat perubahan sosial-ekologis. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekologiI Wayan SetemlingkunganSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Viral, Emosi, dan Narasi yang Membesar

Next Post

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co