26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
February 24, 2026
in Ulas Rupa
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Celeng Ngelumbar karya Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana alam. Tepatnya, adalah ‘bencana ekologis’.

Ini merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya perubahan ‘tatanan ekologi’ oleh ‘kerakusan manusia’ selaku ‘predator hutan’ hingga terjadi ganguan atas beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia, makluk hidup dan kondisi alam.

Saya ingin mengkaitan problema tersebut dengan orasi ilmiah Wayan Setem pada acara inagurasi dan sapa publik guru besar anyar di ISI Bali, Denpasar – beberapa waktu yang lalu. Ia, membacakan orasi ilmiahnya yang bertajuk : “Seni Ekologis Sebagai Media Kampanye Kreatif Ekosistem Menuju Lingkungan Berkelanjutan”.

Setem menganalisis soal bencana ekologis tersebut sebagai akibat proses alam maupun (terutama) aktivitas manusia. Itu, menurut Setem, yang menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan budaya yang luas. Di Bali, Setem mencontohkan – problema itu sangatlah nyata, diantaranya degradasi sungai, alih fungsi subak, dan dampak ‘overtourism’.

Dari pemikiran Setem tersebut dapat disimpulan bahwa bencana ekologis adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengganggu keseimbangan lingkungan sehingga mengancam kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Memang hampir sama dengan becana alam namun berbeda, karena faktor pemicu bencana ekologis lebih disebabkan oleh factor antropogenik dari pada alamiah.

Seperti kita ketahui, Bencana alam adalah peristiwa merusak yang terutama dipicu oleh proses alam (gempa, tsunami, badai), sedangkan bencana ekologis muncul dari gangguan keseimbangan ekosistem yang seringkali diperparah atau dipicu oleh aktivitas manusia (deforestasi, penambangan eksploitatif, polusi, dan semacamnya). 

Seperti diungkapkan Setem di atas – di Bali/Denpasar contoh bencana ekologis tidak hanyameliputi degradasi sungai, alih fungsi subak, dan dampak ‘overtourism’. Tapi juga  ‘komodifikasi’ ruang sakral yang mengikis ‘fungsi ekologis’ dan sosial budaya setempat. Ini, menyebabkan datangnya bencana banjir yang cukup besar, di beberapa wilayah di Bali. Terutama Denpasar.

Yang menarik dari asumsi Wayan Setem, adalah tentang ‘Overtourism’. Memang, realitanya Denpasar/Bali menghadapi ‘degradasi ekologis’ nyata akibat overtourism, alih fungsi subak, pencemaran sungai, dan penambangan pasir – adalah persoalan yang mesti dipikirkan.

Menurut pendapat Setem pada teks orasi ilmiahnya, ‘seni ekologis’ berbasis komunitas dapat menjadi alat ‘advokasi efektif’ melalui proyek ‘partisipatif’, pendidikan kreatif, dan kolaborasi kebijakan lokal.

Untuk itu, Setem pernah menggelar seni pertunjukan/instalasi bertajuk “Celeng Ngelumbar”  di desanya, selat – karangasem. Ini adalah judul sebuah karya seni disertasi doktoral karya  Setem saat studi di ISI Surakarta. Tajuk ini bisa berarti “Babi Mengamuk/Menggila” dan digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan penambangan pasir yang eksploitatif dan dampaknya terhadap sosial-ekonomi masyarakat, sering kali dengan kritik terhadap keserakahan dan kehancuran lingkungan yang terjadi. 

Menurut Setem, keterlibatan audiens dalam ‘seni ekologis’ harus dibangun sebagai ‘praktik dialogis’ yang hidup, bukan sekadar pertunjukan satu arah. Ketika karya ditempatkan langsung di situs krisis – misalnya areal bekas tambang – ia tidak hanya menjadi ‘objek visual’, melainkan cermin yang memaksa masyarakat lokal, pelaku tambang, dan perangkat desa untuk menyaksikan kembali tindakan mereka dalam bentuk ‘metafora’.

Menempatkan karya di ‘galeri alam’, seperti di penambangan pasir yang ada di desa Setem, yang sarat konflik dan memori  – tentu ini menggeser ‘pengalaman estetis’ dari ‘ruang steril’ ke ruang yang kompleks dengan persoalan. Di sana, seni menjadi medium yang membuka ruang pertemuan antara pengalaman ‘empiris’ dan ‘refleksi kolektif’.

Demikian pula ketika karya tersebut dibawa ke sekolah misalnya, ia berubah fungsi menjadi alat pendidikan yang merangsang rasa ingin tahu dan empati generasi muda, menanamkan kesadaran ekologis sejak dini melalui pengalaman langsung dan diskusi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, menurut Setem, presentasi karya tidak boleh pasif. Karya yang efektif dilengkapi dengan rangkaian kegiatan partisipatif: diskusi terbuka, lokakarya kreatif seperti pembuatan patung dari sampah, serta aksi nyata seperti revegetasi.

Kombinasi antara aksi simbolis dan aksi pemberdayaan ini menciptakan komunikasi dua arah yang sejati. “Seni tidak lagi mendikte makna, melainkan menjadi pemicu dialog di mana makna dikonstruksi bersama” Setem menjelaskan.

Ketika warga diajak ikut membuat karya, menyumbangkan cerita, atau terlibat dalam proses restorasi, posisi mereka bergeser dari penonton menjadi ko-kreator. Proses kolaboratif semacam ini memperkaya makna karya sekaligus memperkuat kapasitas komunitas untuk bertindak atas isu yang dihadapi.

Transformasi paling nyata terjadi ketika simbol-simbol artistik berhasil memicu aksi kolektif yang konkret. Proyek seperti “Celeng Ngelumbar”, tandas Setem – menunjukkan bagaimana keterlibatan dapat berlanjut dari apresiasi estetis ke tindakan nyata.

Tindakan nyata tersebut, misalnya menanam pohon di lahan tandus bekas penambangan, menjalankan kampanye pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce-reuse-recycle, dan melakukan pendampingan komunitas untuk membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan.

Aksi-aksi ini bukan sekadar pelengkap estetika – Setem menandaskan, mereka adalah bagian integral dari strategi pemulihan yang menghubungkan pengalaman simbolik dengan perubahan material di lapangan. Dengan demikian, seni menjadi jembatan antara ‘imajinasi kritis’ dan ‘praktik restoratif’.

Akhirnya, keterlibatan ‘dialogis’ yang berujung pada ‘aksi kolektif’ menegaskan bahwa perubahan ‘sosial-ekologis’ memerlukan lebih dari sekadar kampanye informasi. Ia, ujar Setem,  memerlukan pengalaman bersama yang mengubah identitas dan kapasitas komunitas.

Seni ekologis, kata Setem – ketika dirancang sebagai proses ‘partisipatif’,  memang mampu memfasilitasi perubahan tersebut dengan cara yang sensitif terhadap konteks lokal, menghormati pengetahuan tradisional, dan membuka ruang bagi inovasi bersama.

Dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses kreatif dan restoratif, seni tidak hanya merepresentasikan krisis, tetapi menjadi alat transformasi yang nyata – mengubah rasa menjadi tindakan, simbol menjadi praktik, dan penonton menjadi agen perubahan.

Perubahan ekologis, tambah Setem –  bukan fenomena abstrak bagi banyak komunitas. Ia adalah kenyataan yang mengubah cara hidup, relasi sosial, dan struktur budaya. Di desa-desa maupun kawasan perkotaan, lingkungan hidup berubah dari waktu ke waktu sehingga memaksa masyarakat merevisi praktik sehari-hari dan makna ritual yang selama ini menjadi penopang identitas.

Krisis ini bersifat ‘multidimensi’ – ia merombak sistem pengetahuan, mengguncang nilai-nilai kebudayaan, dan menuntut pendekatan ‘transdisipliner’ yang melibatkan akademisi, praktisi, pemerintah, serta seniman.

Dalam kerangka tersebut, seni tidak lagi sekadar soal keindahan teknis – ia menjadi sistem pengetahuan etis yang mampu merefleksikan, mengkritik, dan menawarkan ‘imaji alternatif’ untuk pemulihan relasi antara manusia dan alam.

Bali sebagai ‘situs ekologis’ dan kultural menanggung beban historis yang kompleks. Pulau ini, yang selama berabad-abad dibentuk oleh praktik agraris, ritual religius, dan jaringan sosial seperti subak, kini menghadapi tekanan hebat dari ‘arus globalisasi’ dan ‘ekspansi’ pariwisata masif.

Alih fungsi lahan subak menjadi hotel, vila, dan lapangan golf bukan sekadar perubahan penggunaan ruang – ia meruntuhkan jaringan sosial dan ritual yang mengikat ‘komunitas agraris’.

Lebih lanjut Setem menambahkan – tukad yang dahulu menjadi sumber kehidupan, irigasi, dan pusat ‘ritus spiritual’ mengalami ‘degradasi’ akibat pencemaran ‘limbah domestik’ dan ‘eksploitasi pasir’, sehingga ‘fungsi ekologis’ dan ‘makna kulturalnya’ tergerus.

Transformasi ruang hidup ini memunculkan kontradiksi tajam antara ‘logika kapitalistik’ yang ‘linier’ dan orientasi ‘agraris-religius’ yang ‘siklis’. Ruang sakral seperti pura, subak, dan tukad tergusur oleh ruang ekonomi yang profane – waktu ritual bertabrakan dengan waktu produksi.

Menurut Setem – akibatnya, masyarakat merasakan kehilangan kendali atas ruang dan waktu hidup mereka sendiri, sementara investasi global menggeser otoritas tradisional dan menempatkan warga lokal pada posisi marginal dalam pengambilan keputusan yang menyangkut lingkungan mereka. Alienasi ruang hidup ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal hilangnya makna, solidaritas, dan kapasitas komunitas untuk mereproduksi kehidupan secara berkelanjutan.

Manifestasi krisis ekosistem terlihat jelas dalam praktik-praktik ‘ekstraktif’ seperti penambangan pasir di sepanjang aliran sungai. Dampaknya berlapis – perubahan topografi, hilangnya vegetasi penahan erosi, pendangkalan sungai, dan menurunnya daya serap air tanah yang mengikis fungsi ‘ekologis’ sungai sebagai habitat dan penyimpan air.

Secara sosial-ekonomi, masyarakat kehilangan akses terhadap air bersih, sumber protein, dan material bangunan tradisional; sumber air suci mengering sehingga ritual yang bergantung pada tirta kehilangan konteksnya.

Secara budaya, hubungan emosional dan spiritual dengan alam terputus, sehingga makna ritual dan praktik kolektif melemah. Lahan yang ditinggalkan tanpa reklamasi berubah menjadi area tandus dan menjadi beban bagi generasi berikutnya, menegaskan bahwa ekonomi ekstraktif gagal membangun relasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.

Pembahasan orasi ilmiah Setem ini, menurut saya – menegaskan bahwa seni ekologis bukan sekadar wacana estetis, melainkan jalan praktis menuju keberlanjutan yang menggabungkan pemikiran, rasa, dan tindakan. Melalui siklus dinamis yang melibatkan krisis, refleksi, simbol, dan k eterlibatan – seni mampu menerjemahkan kompleksitas kerusakan ekologis menjadi pengalaman yang menyentuh dan memobilisasi.

Seni membuka banyak pintu masuk bagi publik: ada yang tersentuh lewat pemahaman faktual tentang krisis, ada yang tersentuh lewat refleksi personal dan budaya, ada yang tergerak oleh simbol-simbol yang menghidupkan makna, dan ada yang akhirnya bertindak melalui keterlibatan langsung. Keterlibatan inilah yang mengubah wacana menjadi praksis, menjadikan karya seni bukan sekadar representasi tetapi juga alat perubahan sosial-ekologis. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekologiI Wayan SetemlingkunganSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Viral, Emosi, dan Narasi yang Membesar

Next Post

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co