6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
February 24, 2026
in Esai
Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938

Di Bali ada banyak komunitas, ikatan, atau organisasi tradisional.  Antropolog Clifford Geertz terpesona melihat orang Bali terpaut dalam begitu banyak kelompok atau ikatan atau organisasi tradisional seperti ikatan dadia (warga), banjar, dan seka. Ikatan atau seka ini kadang solid kadang juga renggang dengan struktur longgar.

Seka dibentuk sesuai dengan kepentingan anggotanya, diberikan nama sesuai aktivitasnya. Contohnya banyak seperti sekaa manyi (kelompok orang yang anggotanya menerima pekerjaan panen), subak (oranisasi petani berbasis irigasi), seka tuak (komunitas hobi minum tuak), seka semal (penangkap tupai), seka gong (kelompok gamelan), dan banyak lagi.

Sementara seka tradisional berkembang terus, organisasi modern yang belakangan juga disebut dengan organisasi massa (ormas) mulai muncul. Sejak kapankah Bali mulai mengenal ormas? Mengapa dibentuk? Apakah kegiatannya?

Ormas pertama yang muncul di Bali adalah Setiti Bali (Hidup Bali), tahun 1917. Michel Picard (1999) menyebutkan Setiti Bali sebagai ‘organisasi modern’, bolehlah disingkat ormon. Istilah ormon dipakai untuk membedakan dengan organisasi tradisional seperti sekaa-sekaa yang tentu sudah ada sebelum 1917.

Setiti Bali dibentuk dan dipimpin oleh I Gusti Cakra Tenaya, punggawa (Camat) Sukasada, Buleleng. Menurut Picard, Setiti Bali dibentuk untuk mengkonter Sarekat Islam yang mendirikan cabang di Singaraja.

Setiti Bali bubar tahun 1920, dilanjutkan ormon baru Suita Gama Tirta, dipimpin I Gusti Putu Jlantik, keturunan Raja Buleleng dan anggota Raad van Kerta Singaraja.  Lalu, tahun 1923 muncul organisasi Santi (Santy), didirikan bersama oleh Gusti Putu Jlantik, Cakra Tenaya, dan Ktut Nasa. Nama terakhir adalah seorang guru dari Bubunan, Buleleng.

Kehebatan Santi

Prestasi Santi cukup hebat, terbukti ormon ini berhasil mendirikan sekolah perempuan. Saat itu, jumlah perempuan bersekolah amat sedikit. Kehadiran sekolah perempuan Santi, mendorong remaja putri bersekolah.

Selain sekolah, Santi juga memberikan kursus gamelan dan latihan baca lontar dalam rangka memperdalam ajaran Hindu.

Prestasi luar biasa Santi adalah keberhasilannya menerbitkan kalawarta Santi Adnyana, koran pertama di Bali. Dari koran ini muncul penulis/jurnalis yang kelak berkiprah di media massa berikutnya.

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938

Organisasi Santi pecah karena tokoh-tokohnya berbeda pendapat dalam berbagai hal termasuk status kasta (jaba vs triwangsa).  Ktut Nasa, seorang jaba, keluar lalu menerbitkan koran Surya Kanta di bawah organisasi bernama sama Surya Kanta, dominan anggotanya kaum jaba. Sementara itu, I Gusti Cakra Tenaya menerbitkan koran Bali Adnyana, seolah sorong triwangsa. Polemik soal agama dan kasta berlangsung di kedua koran tersebut. Seru!!

Kedua koran ini hidup antara tahun 1924-1929. Yang menonjol dalam era lima tahun itu, bukanlah organisasinya, tetapi korannya. Pemerintah kolonial Belanda tidak khawatir dengan perselisihan pendapat yang sangat tajam di antara kedua kubu karena dapat menganggu stabilitas.

Bulan Mei 1926, pemerintah kolonial mensponsori berdirinya ormon yaitu Catur Wangsa Derya Gama Hindu Bali, sesuai namanya untuk semua wangsa dan menyatukan kelompok bertikai. Ketuanya adalah I Gusti Bagus Djelantik, Raja Karangasem, wakilnya adalah Cokorda Gde Raka Sukawati, punggawa Ubud, sedangkan IG Cakra Tenaya menjadi representatif Buleleng.

Organisasi Pelajar

Tahun 1920-an, murid Bali yang bersekolah di rantau Jawa juga membentuk organisasi pelajar yang disebut HUDVO (entah apa singkatannya, ‘O’-nya ‘onderwijs’). Saat liburan, anggota HUDVO pulang ke Bali menggelar pentas drama/tonil/ stambul di Singaraja dan Denpasar untuk menggali dana beasiswa agar lebih banyak lagi anak Bali bisa bersekolah ke Jawa. Tonil mereka pentas dalam bahasa Belanda atau Melayu atau Bali, tergantung penontonnya.

Tahun 1930-an, pelajar Bali membentuk organisasi Bali Dharma Laksana (BDL), yang kemudian menerbitkan majalah Djatajoe. Cabang BDL juga terbentuk di Yogya, anggotanya antara lain adalah I Gusti Made Djelantik (kemudian menjadi dokter dan kritikus seni) dan I Gusti Ngurah Rai (kemudian pahwalan revolusi). Selain menerbitkan majalah, ormon ini juga mendorong remaja untuk sekolah dan melakukan gerakan pemberantasan buta huruf (PBH).

Tahun 1938, anggota BDL mencapai 505 orang (di Bali dan Jawa), wajib berlangganan Djatajoe. Majalah kebudayaan berbahasa Indonesia ini menjadi wadah komunikasi bagi kaum intelektual waktu itu, para anggota BDL yang suka menulis.

Kalangan remaja putri Bali tak mau ketinggalan. Mereka juga membentuk ormon yang diberi nama Puteri Bali Sadar (PBS). Para pengurus PBS juga banyak yang menjadi anggota BDL, seperti suami/pacar mereka. Dengan mendirikan PBS, mereka bisa lebih fokus membantu nasib kaumnya lewat gerakan PBH.

Ketua PBS I Gusti Ayu Rapeg (istri IGP Merta anggota BDL), lewat tulisannya di Djatajoe mendesak pemerintah Belanda untuk mengeluarkan undang-undang perkawinan agar lelaki Bali tidak sekehendak hati berpoligami.

Ada banyak lagi organisasi modern yang dibentuk dan diikuti oleh kaum terdidik Bali. Tujuannya sebagian besar untuk memajukan pendidikan. Untuk mencapai tujuan itu, mereka aktif menggali dana, lewat jual majalah atau pentas seni.

Ormon Seni

Selain organisasi modern, di Bali juag banyak organisasi seni, seperti Pitamaha yang dibentuk oleh Cokorda Gde Agung Sukawati bersama Walter Spies (Jerman) dan Rudolf Bonnet (Belanda) tahun 1936. Pitamaha antara lain bertujuan memajukan seni rupa Bali. Sesudah kemerdekaan, Cok Sukawati mendirikan Museum Puri Lukisan untuk mewujudkan cita-cita Pitamaha.

Spirit nasionalisme di kalangan pemuda Bali waktu itu masih bersifat kedaerahan atau etnonasionalisme. Spirit nasionalisme yang sesungguhnya baru tampak pada perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Tahun 1950 merupakan tonggak penting kehidupan organisasi modern di Bali. Tanggal 14-17 April 1950, organisasi-organisasi pemuda di Bali menggelar Kongres Pemuda se-Bali di Denpasar. Seperti dilaporkan majalah Merdeka (No. 70, 20 Mei 1950, hlm. 7), delegasi kongres sepakat membentuk Kesatuan Pemuda Nasional Indonesia, yang memperjuangkan persatuan Indonesia sesuai dengan cita-cita UUD 1945 (Lihat ‘Kongres Pertama Pemuda Bali 1950, Seruan Kembali ke NKRI’, Bali Post, Minggu, 20 Maret 2016, p. 4).

Kehadiran organisasi pemuda atau ormas memang ditentukan oleh situasi kondisi saat dibentuk. Dewasa ini, banyak intelektual yang membentuk ormas untuk menjalankan cita-cita mereka, namun kadang citranya terlanjur tampak pragmatis, sampai rela berkelahi bahkan membunuh sesama warga Bali.

Meski ormas-ormas yang ada juga melakukan kegiatan sosial, citra yang lebih menonjol pada mereka adalah kekerasan daripada kegiatan sosialnya. Dalam situasi demikian, rasanya perlu kita bercermin dari ormon di Bali yang ada pada zaman kolonial yang berjuang memajukan pendidikan dengan tulus (I Nyoman Darma Putra). [T]

  • Versi awal tulisan ini dimuat di Bali Post, Minggu, 20 Maret 2016, p. 4, pendamping tulisan Dr. Suryadi berjudul “Kongres Pertama Pemuda Bali 1950: Seruan Kembali ke NKRI”

Penulis: Nyoman Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bali Adnjanaintelektualkolonialorganisasiorganisasi modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Next Post

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co