14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Viral, Emosi, dan Narasi yang Membesar

Isran Kamal by Isran Kamal
February 24, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

BEBERAPA hari terakhir, ruang media sosial Indonesia kembali diramaikan oleh satu potongan video yang memantik emosi kolektif. Seorang awardee LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) membagikan momen ketika anaknya memperoleh paspor Inggris, disertai pernyataan yang kemudian viral, “cukup aku saja yang WNI, anakku jangan.”

Kalimat yang mungkin diucapkan dalam konteks personal itu segera meluas maknanya di ruang publik. Dalam hitungan jam, komentar bermunculan, dari kritik tajam, sindiran, hingga seruan agar program LPDP dievaluasi bahkan dihentikan.

Reaksi yang muncul tidak bisa dilepaskan dari konteks. LPDP bukan sekadar beasiswa biasa. LPDP dibiayai melalui dana publik dan sering dipandang sebagai investasi negara untuk masa depan. Maka ketika seorang penerimanya menyampaikan pernyataan yang dianggap merendahkan status kewarganegaraan, publik tidak hanya membaca itu sebagai ekspresi pribadi, tetapi sebagai simbol yang menyentuh identitas kolektif.

Namun di tengah derasnya opini dan emosi, penting untuk berhenti sejenak. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah pernyataan individu otomatis merepresentasikan keseluruhan program? Dan mengapa satu unggahan bisa berkembang menjadi polemik nasional?

Tulisan ini tidak bertujuan membela atau membenarkan pernyataan yang kontroversial tersebut. Sebaliknya, artikel ini mencoba membaca fenomena ini secara lebih jernih dan mencoba memahami fakta yang ada, melihat dinamika psikologis di balik reaksi publik, serta mengajak pembaca membedakan antara ekspresi personal, tanggung jawab publik, dan penilaian terhadap kebijakan secara lebih rasional.

Fakta dan Konteks Objektif

Secara faktual, polemik ini bermula dari unggahan video seorang alumni LPDP berinisial DS yang memperlihatkan paspor Inggris milik anak keduanya yang baru resmi menjadi warga negara Inggris. Dalam keterangan video itu, ia menyampaikan kalimat yang kemudian dinilai kontroversial dan memicu reaksi publik: “cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.” Pernyataan ini viral di media sosial dan memantik kritik luas karena dianggap tidak bijak, apalagi dilontarkan oleh seorang penerima beasiswa negara dari anggaran publik.

Setelah polemik memanas, DS menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui akun media sosialnya. DS mengklarifikasi bahwa ucapannya tidak dimaksudkan untuk merendahkan Indonesia, melainkan muncul dari kondisi emosional pribadi. DS menyadari bahwa kalimatnya dapat disalahtafsirkan dan menimbulkan ketidaknyamanan banyak pihak, terutama terkait identitas kebangsaan.

Respons resmi terhadap kejadian ini juga datang dari berbagai pihak berwenang. LPDP sebagai lembaga penyelenggara beasiswa menegaskan bahwa tindakan individu tersebut tidak mencerminkan nilai dan komitmen semua awardee LPDP. Komisi X DPR bahkan meminta pengawasan pasca-studi diperkuat, mengingat dana LPDP bersumber dari pajak masyarakat dan public trust yang tinggi terhadap program ini.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan respons tegas terhadap kasus ini. Pak Purbaya memastikan bahwa suami DS, yang juga merupakan awardee LPDP, telah menyetujui untuk mengembalikan seluruh dana beasiswa yang diterima beserta bunga kepada negara sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penggunaan dana publik.

Pada kesempatan yang sama, Purbaya menegaskan bahwa pihak yang bersangkutan dapat dicantumkan dalam blacklist sehingga tidak dapat bekerja di lingkungan pemerintahan Indonesia di masa mendatang, sebagai langkah administratif atas tindakan yang dinilai menghina negara.

Pemaparan fakta ini penting agar diskusi publik bisa dibangun atas dasar bukti yang jelas dan konteks yang tepat, bukan sekadar tanggapan emosional terhadap unggahan media sosial. Dengan landasan fakta yang akurat, kita kemudian bisa melihat mengapa respons publik terhadap kasus ini begitu luas dan intens yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya.

Psikologi Publik: Mengapa Reaksi Begitu Besar?

Polemik ini tidak berkembang besar semata karena satu kalimat yang kontroversial. Hal ini membesar karena menyentuh lapisan psikologis yang lebih dalam yakni perihal identitas, moralitas, dan rasa keadilan kolektif. Dalam konteks Indonesia, kewarganegaraan bukan hanya status administratif, melainkan simbol afiliasi, pengorbanan sejarah, dan rasa memiliki. Ketika simbol ini dipersepsikan direndahkan terlebih oleh penerima dana publik, reaksi yang muncul hampir pasti bersifat emosional.

Dalam psikologi moral, reaksi semacam ini sering disebut sebagai moral outrage. Kemarahan yang muncul ketika nilai keadilan atau loyalitas kelompok dirasa dilanggar. Publik tidak hanya menilai isi pernyataan, tetapi juga konteksnya. LPDP dipandang sebagai representasi investasi negara terhadap sumber daya manusia. Maka, setiap ucapan awardee dapat dengan mudah dibaca sebagai refleksi sikap terhadap negara itu sendiri. Di titik ini, respons menjadi lebih dari sekadar kritik personal namun berubah menjadi respons terhadap simbol kolektif.

Selain itu, fenomena negativity bias ikut memperbesar polemik. Secara kognitif, manusia lebih peka terhadap informasi yang dianggap negatif atau mengancam nilai bersama. Satu pernyataan kontroversial lebih mudah viral dibandingkan ribuan kontribusi positif yang mungkin tidak terlihat. Ditambah lagi, ada kecenderungan representativeness heuristic, dimana kita cenderung menggeneralisasi satu contoh mencolok sebagai representasi keseluruhan kelompok. Dari sini muncul narasi yang lebih ekstrem seperti mempertanyakan keseluruhan program LPDP berdasarkan satu kasus individual.

Di sisi lain, kasus ini juga menunjukkan bagaimana dinamika media sosial mempercepat eskalasi emosi. Konsep context collapse menjelaskan bagaimana ekspresi yang mungkin dimaksudkan untuk audiens terbatas tiba-tiba dikonsumsi publik luas dengan interpretasi yang berbeda.

Apa yang diucapkan dalam konteks personal dapat berubah makna ketika berada di ruang publik yang sensitif secara simbolik. Ada pula illusion of audience intimacy, suatu perasaan seolah berbicara santai kepada pengikut sendiri, padahal sebenarnya berada di ruang semi-publik dengan jangkauan luas.

Dalam kasus ini, kebanggaan personal sebagai orang tua bertabrakan dengan sensitivitas identitas kolektif. Media sosial membuat batas antara ranah privat dan publik menjadi kabur. Terlebih bagi individu yang memiliki afiliasi dengan dana atau institusi negara, sensitivitas simbolik menjadi jauh lebih tinggi. Ekspresi personal tidak lagi dibaca semata sebagai cerita keluarga, melainkan sebagai pernyataan sikap.

Semua faktor ini menjelaskan mengapa reaksi publik begitu cepat, masif, dan emosional. Ini bukan sekadar soal satu kalimat, tetapi tentang bagaimana identitas kolektif, persepsi keadilan, dan dinamika digital saling berinteraksi. Memahami dinamika psikologis ini membantu kita melihat polemik secara lebih utuh tanpa mengabaikan kritik yang valid, tetapi juga tanpa terjebak dalam generalisasi yang berlebihan.

LPDP dalam Perspektif Data dan Realitas

Di tengah polemik yang berkembang, penting untuk menempatkan diskusi pada fondasi data yang terverifikasi. Berdasarkan laporan resmi LPDP dan sumber yang merujuk pada data lembaga tersebut, sejak program ini berjalan pada 2013 hingga sekitar 2023, jumlah awardee telah mencapai lebih dari 35.000 penerima beasiswa untuk jenjang magister dan doktor, baik di dalam maupun luar negeri.

Dari jumlah tersebut, data yang tersedia pada tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 413 alumni tercatat tidak kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi tanpa memenuhi kewajiban kontraktualnya. Jika dibandingkan dengan total awardee, angka tersebut berada di kisaran sekitar 1–1,2 persen dari keseluruhan penerima beasiswa selama lebih dari satu dekade. Dengan kata lain, lebih dari 98 persen awardee tidak tercatat dalam kategori pelanggaran kewajiban kembali.

Dalam perkembangan terbaru, laporan audit dan penelusuran internal pada tahun 2026 juga menyebutkan adanya 44 alumni yang masih dalam proses pemantauan atau penindakan administratif, termasuk kewajiban pengembalian dana bagi yang melanggar kontrak. Ini menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan memang berjalan, meskipun tidak selalu terlihat di ruang publik.

Angka-angka ini tidak dimaksudkan untuk menutup mata terhadap pelanggaran. Setiap penyalahgunaan dana publik tetap perlu ditindak. Namun secara proporsional, data menunjukkan bahwa kasus ketidakpatuhan bukanlah pola dominan dalam ekosistem LPDP. Mayoritas alumni kembali dan berkontribusi di berbagai sektor seperti pendidikan tinggi, layanan kesehatan, birokrasi, industri, hingga riset dan inovasi.

Mengapa Data Ini Penting?

Pertama, karena ruang digital cenderung memperbesar kasus yang viral dan mengecilkan gambaran keseluruhan. Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan availability heuristic dimana kita menilai frekuensi suatu fenomena berdasarkan seberapa mudah contoh tersebut muncul di ingatan. Ketika satu kasus ramai dibicarakan, kasus tersebut terasa seperti fenomena umum, meskipun secara statistik mungkin minoritas.

Kedua, tanpa data, kritik mudah bergeser dari evaluasi kebijakan menjadi delegitimasi total. Menuntut perbaikan mekanisme pengawasan adalah hal yang wajar dan sehat dalam demokrasi. Namun menyimpulkan bahwa “program gagal” hanya berdasarkan satu atau beberapa kasus dapat menciptakan bias kolektif yang tidak akurat. Perbedaan antara anekdot dan pola sistemik menjadi krusial di sini.

Ketiga, data membantu memisahkan tiga hal yang sering tercampur dalam polemik seperti, tindakan individu, efektivitas kebijakan, dan persepsi publik. Satu individu bisa melakukan kesalahan komunikasi atau bahkan pelanggaran kontrak, tetapi itu tidak otomatis berarti desain kebijakan secara keseluruhan tidak berfungsi. Evaluasi kebijakan publik seharusnya berbasis tren, proporsi, dan mekanisme koreksi bukan semata reaksi terhadap simbol yang viral.

Dengan fondasi angka yang jelas, diskusi bisa bergerak dari ranah emosional menuju ranah rasional. Kritik tetap sah, bahkan diperlukan. Namun kritik yang proporsional jauh lebih kuat dibanding kritik yang lahir dari generalisasi.

Antara Emosi, Simbol, dan Kedewasaan Publik

Kasus DS memperlihatkan satu hal penting di era digital, batas antara ruang personal dan ruang publik hampir tidak ada. Apa yang mungkin diniatkan sebagai ekspresi kebanggaan pribadi dapat berubah menjadi simbol politik dan identitas kolektif ketika diunggah ke media sosial. Terlebih jika yang berbicara adalah penerima dana publik, sensitivitasnya menjadi berlipat ganda.

Dari sisi individu, peristiwa ini mengingatkan bahwa posisi sebagai awardee bukan hanya status administratif, tetapi juga status simbolik. Ada tanggung jawab moral dan komunikasi yang melekat. Oversharing bukan tindak kriminal, tetapi dalam konteks tertentu bisa menjadi miskalkulasi sosial yang fatal. Di ruang digital, konteks mudah runtuh, audiens melebar, dan interpretasi tak lagi bisa dikendalikan sepenuhnya.

Dari sisi publik, polemik ini juga menjadi cermin. Reaksi emosional adalah wajar, terutama ketika identitas kebangsaan dan dana publik disentuh. Namun kedewasaan kolektif diuji pada kemampuan membedakan antara tindakan individu dan sistem kebijakan. Mengkritik adalah hak. Mengawasi penggunaan dana publik adalah kewajiban warga negara. Tetapi menggeneralisasi satu kasus menjadi vonis terhadap keseluruhan program tanpa melihat data adalah langkah yang kurang adil.

LPDP sendiri bukan program yang kebal kritik. Pengawasan pasca-studi, transparansi data, serta mekanisme evaluasi memang perlu terus diperkuat. Namun berdasarkan data yang tersedia, kasus ketidakpatuhan berada pada proporsi kecil dibanding ribuan alumni yang kembali dan berkontribusi. Fakta ini penting agar diskursus publik tetap berada di jalur rasional.

Pada akhirnya, polemik ini bukan hanya tentang DS atau LPDP. Melainkan tentang bagaimana masyarakat memproses simbol, bagaimana media sosial mempercepat emosi, dan bagaimana kita sebagai warga memilih untuk berpikir. Apakah kita akan membiarkan satu peristiwa viral membentuk kesimpulan besar, atau kita bersedia meluangkan waktu untuk membaca data dan konteks secara utuh?

Kematangan demokrasi tidak diukur dari seberapa keras kita marah, tetapi dari seberapa jernih kita menimbang. Dan mungkin di situlah pelajaran paling berharga dari polemik ini bahwa kritik yang sehat membutuhkan emosi yang terkendali dan pikiran yang disiplin. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: LPDPPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Flow Koplo Rilis ‘Mikir Kidz’, Lagu Gaul tentang Cemburu dan Overthinking

Next Post

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails
Next Post
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

SENI EKOLOGIS ---Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co