Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu halaman, merapikan sesuatu, membantu tetangga, atau sekadar mencari-cari kesibukan kecil. Diam terlalu lama terasa janggal, seperti ada yang kurang tepat.
Sejak kecil, saya mengenal kata maburuh sebagai sesuatu yang biasa. Ia diucapkan tanpa penjelasan, dipahami tanpa perlu diajarkan. Maburuh berarti bekerja. Sederhana. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kesederhanaan itu seperti menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
Orang Bali tidak hanya bekerja untuk hidup. Mereka bekerja agar tetap hadir di dalam kehidupan bersama. Di banjar, keberadaan seseorang terasa dari keikutsertaannya. Tidak aktif, tidak terlihat, atau terlalu lama absen akan menimbulkan rasa tidak enak. Lek bekerja secara halus. Ia bukan sekadar malu, melainkan dorongan agar seseorang tidak keluar dari ritme sosial. Dalam situasi seperti ini, kerja menjadi lebih dari sekadar aktivitas ekonomi. Ia menjadi tanda bahwa seseorang masih terhubung.
Saya mulai merasa bahwa maburuh bukan hanya kata kerja. Ia seperti kebiasaan hidup yang diwariskan tanpa pernah dirumuskan. Gagasan itu menjadi lebih jelas ketika melihat perempuan Bali.
Sebuah laporan dari BBC Indonesia menampilkan perempuan-perempuan yang bekerja sebagai buruh proyek. Mereka mengangkut pasir dan batu, berdiri di bawah matahari, melakukan pekerjaan yang di banyak tempat masih dianggap bukan ranah perempuan. Di Bali, pemandangan itu tidak mengejutkan.
Perempuan bekerja sudah lama menjadi bagian dari keseharian. Di pasar, di ladang, di jalanan, mereka hadir sebagai tenaga ekonomi. Namun kehidupan mereka tidak berhenti di sana. Setelah bekerja, mereka tetap menjalankan kewajiban adat. Menyiapkan sesajen, ikut kegiatan banjar, terlibat dalam berbagai bentuk ngayah. Kerja tidak pernah benar-benar selesai.
Tubuh perempuan menjadi ruang di mana semua itu bertemu. Kerja untuk hidup dan kerja untuk tradisi berjalan bersamaan tanpa banyak dipertanyakan. Di titik ini, maburuh terasa seperti sesuatu yang lebih luas. Ia bukan hanya mencari penghasilan, melainkan cara untuk tidak hilang dari kehidupan sosial.
Namun ketika memasuki awal Mei, saya teringat pada satu hal yang terasa kontras. Di banyak kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau kawasan industri lain, Hari Buruh Internasional sering diwarnai demonstrasi. Jalanan dipenuhi suara tuntutan. Buruh menyuarakan hak mereka, menolak ketidakadilan, meminta upah yang layak.
Di Bali, suasananya cenderung tenang. Tidak banyak teriakan atau kerumunan besar di jalan. Apakah ini berarti tidak ada masalah, Atau orang Bali memang lebih menerima keadaan? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan sederhana.
Kehidupan komunal membuat konflik terbuka sering dihindari. Menyuarakan protes secara keras bisa terasa mengganggu keseimbangan hubungan. Orang lebih memilih jalur yang tidak mencolok. Membicarakan, menegosiasikan, atau bahkan menahan.
Di sisi lain, ekonomi Bali yang sangat bergantung pada pariwisata menciptakan kehati-hatian tersendiri. Stabilitas menjadi penting. Keramaian yang bernada konflik bisa dianggap berisiko. Dalam situasi seperti ini, diam kadang menjadi strategi.
Namun diam tidak selalu berarti tidak ada kegelisahan. Di balik suasana yang tampak tenang, ada kemungkinan bahwa sebagian tuntutan tidak pernah benar-benar diucapkan. Rasa lek yang menjaga harmoni juga bisa menahan suara. Orang tetap bekerja, tetap maburuh, meski tidak semua kebutuhan terpenuhi dengan layak.
Di sinilah maburuh menunjukkan wajahnya yang lain. Ia bisa dibaca sebagai etos kerja yang kuat. Dorongan untuk terus bergerak, terus berkontribusi, tidak membiarkan diri terlepas dari kehidupan bersama. Namun ia juga bisa menjadi cara halus yang membuat seseorang bertahan dalam keadaan yang tidak selalu adil.
Perempuan Bali sekali lagi memperlihatkan hal itu dengan paling jelas. Mereka bekerja di ruang publik, lalu kembali ke ruang adat tanpa jeda yang cukup. Kekuatan mereka nyata. Namun beban yang mereka pikul juga tidak kecil.
Apakah ini kebebasan, atau justru kewajiban yang tidak pernah selesai? Saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Yang terlihat hanyalah kehidupan yang terus bergerak, tanpa banyak ruang untuk berhenti dan bertanya.
Di banyak tempat, orang mencari makna dalam kerja. Di Bali, kerja sering kali sudah menjadi makna itu sendiri. Ia hadir dalam kata yang sederhana, dalam kebiasaan yang tidak banyak dipikirkan.
Maburuh. Kata yang tidak menjelaskan dirinya sebagai kesadaran kerja, tetapi dijalankan seperti itu setiap hari. Dan mungkin, di situlah letak pertanyaan yang jarang diajukan; apakah seseorang masih bisa memilih untuk diam, ketika seluruh hidupnya telah dibentuk untuk terus bekerja?
Selamat Maburuh. Selamat Hari Buruh Internasional. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole





























