23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 2, 2026
in Esai
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu halaman, merapikan sesuatu, membantu tetangga, atau sekadar mencari-cari kesibukan kecil. Diam terlalu lama terasa janggal, seperti ada yang kurang tepat.

Sejak kecil, saya mengenal kata maburuh sebagai sesuatu yang biasa. Ia diucapkan tanpa penjelasan, dipahami tanpa perlu diajarkan. Maburuh berarti bekerja. Sederhana. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kesederhanaan itu seperti menyimpan sesuatu yang lebih dalam.

Orang Bali tidak hanya bekerja untuk hidup. Mereka bekerja agar tetap hadir di dalam kehidupan bersama. Di banjar, keberadaan seseorang terasa dari keikutsertaannya. Tidak aktif, tidak terlihat, atau terlalu lama absen akan menimbulkan rasa tidak enak. Lek bekerja secara halus. Ia bukan sekadar malu, melainkan dorongan agar seseorang tidak keluar dari ritme sosial. Dalam situasi seperti ini, kerja menjadi lebih dari sekadar aktivitas ekonomi. Ia menjadi tanda bahwa seseorang masih terhubung.

Saya mulai merasa bahwa maburuh bukan hanya kata kerja. Ia seperti kebiasaan hidup yang diwariskan tanpa pernah dirumuskan. Gagasan itu menjadi lebih jelas ketika melihat perempuan Bali.

Sebuah laporan dari BBC Indonesia menampilkan perempuan-perempuan yang bekerja sebagai buruh proyek. Mereka mengangkut pasir dan batu, berdiri di bawah matahari, melakukan pekerjaan yang di banyak tempat masih dianggap bukan ranah perempuan. Di Bali, pemandangan itu tidak mengejutkan.

Perempuan bekerja sudah lama menjadi bagian dari keseharian. Di pasar, di ladang, di jalanan, mereka hadir sebagai tenaga ekonomi. Namun kehidupan mereka tidak berhenti di sana. Setelah bekerja, mereka tetap menjalankan kewajiban adat. Menyiapkan sesajen, ikut kegiatan banjar, terlibat dalam berbagai bentuk ngayah. Kerja tidak pernah benar-benar selesai.

Tubuh perempuan menjadi ruang di mana semua itu bertemu. Kerja untuk hidup dan kerja untuk tradisi berjalan bersamaan tanpa banyak dipertanyakan. Di titik ini, maburuh terasa seperti sesuatu yang lebih luas. Ia bukan hanya mencari penghasilan, melainkan cara untuk tidak hilang dari kehidupan sosial.

Namun ketika memasuki awal Mei, saya teringat pada satu hal yang terasa kontras. Di banyak kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau kawasan industri lain, Hari Buruh Internasional sering diwarnai demonstrasi. Jalanan dipenuhi suara tuntutan. Buruh menyuarakan hak mereka, menolak ketidakadilan, meminta upah yang layak.

Di Bali, suasananya cenderung tenang. Tidak banyak teriakan atau kerumunan besar di jalan. Apakah ini berarti tidak ada masalah, Atau orang Bali memang lebih menerima keadaan? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan sederhana.

Kehidupan komunal membuat konflik terbuka sering dihindari. Menyuarakan protes secara keras bisa terasa mengganggu keseimbangan hubungan. Orang lebih memilih jalur yang tidak mencolok. Membicarakan, menegosiasikan, atau bahkan menahan.

Di sisi lain, ekonomi Bali yang sangat bergantung pada pariwisata menciptakan kehati-hatian tersendiri. Stabilitas menjadi penting. Keramaian yang bernada konflik bisa dianggap berisiko. Dalam situasi seperti ini, diam kadang menjadi strategi.

Namun diam tidak selalu berarti tidak ada kegelisahan. Di balik suasana yang tampak tenang, ada kemungkinan bahwa sebagian tuntutan tidak pernah benar-benar diucapkan. Rasa lek yang menjaga harmoni juga bisa menahan suara. Orang tetap bekerja, tetap maburuh, meski tidak semua kebutuhan terpenuhi dengan layak.

Di sinilah maburuh menunjukkan wajahnya yang lain. Ia bisa dibaca sebagai etos kerja yang kuat. Dorongan untuk terus bergerak, terus berkontribusi, tidak membiarkan diri terlepas dari kehidupan bersama. Namun ia juga bisa menjadi cara halus yang membuat seseorang bertahan dalam keadaan yang tidak selalu adil.

Perempuan Bali sekali lagi memperlihatkan hal itu dengan paling jelas. Mereka bekerja di ruang publik, lalu kembali ke ruang adat tanpa jeda yang cukup. Kekuatan mereka nyata. Namun beban yang mereka pikul juga tidak kecil.

Apakah ini kebebasan, atau justru kewajiban yang tidak pernah selesai? Saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Yang terlihat hanyalah kehidupan yang terus bergerak, tanpa banyak ruang untuk berhenti dan bertanya.

Di banyak tempat, orang mencari makna dalam kerja. Di Bali, kerja sering kali sudah menjadi makna itu sendiri. Ia hadir dalam kata yang sederhana, dalam kebiasaan yang tidak banyak dipikirkan.

Maburuh. Kata yang tidak menjelaskan dirinya sebagai kesadaran kerja, tetapi dijalankan seperti itu setiap hari. Dan mungkin, di situlah letak pertanyaan yang jarang diajukan; apakah seseorang masih bisa memilih untuk diam, ketika seluruh hidupnya telah dibentuk untuk terus bekerja?

Selamat Maburuh. Selamat Hari Buruh Internasional. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliburuhHari Buruh Internasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Next Post

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co