23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Besar Cerita, Besar Berita

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 21, 2026
in Esai
Besar Cerita, Besar Berita

Ilustrasi tatkala.co

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang mereka berikan bahkan kepada saudara sendiri.  Kadang yang dibesar-besarkan bukan jumlah bantuannya, melainkan ceritanya. Peristiwanya kecil, tetapi gaungnya dibuat besar. Seolah-olah sebuah pertolongan baru terasa sah jika diketahui banyak orang.

Misalnya saja ada seorang keponakan yang sejak kecil dekat dengan bibinya. Mereka punya hubungan yang hangat. Sang bibi sering datang ke rumah, membantu menjaga, menemani tumbuh dewasa, menjadi tempat bercerita.  Waktu berjalan. Keponakan itu kini sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Sementara sang bibi mulai menua dan sedang mengalami kesulitan ekonomi. Suatu hari, sang bibi meminta bantuan uang kepada sang keponakan itu.

Jika dilihat dari kacamata yang normal, hal itu sebenarnya amat manusiawi. Dalam hubungan keluarga, meminta bantuan bukan sesuatu yang aneh. Bukankah sejak kecil manusia memang hidup dari pertolongan orang lain?  Namun oleh ayah si keponakan yang tidak lain adalah kakak dari sang bibi sendiri, peristiwa itu berubah menjadi sesuatu yang sangat besar. Ceritanya menyebar ke mana-mana. Menjadi bahan pembicaraan keluarga.

Seolah-olah ada kejadian luar biasa karena adiknya meminta bantuan kepada anaknya. Padahal, ia dikenal sebagai orang yang berkecukupan. Saya sedih mendengar peristiwa tersebut. Saya membayangkan betapa malunya sang bibi jika mengetahui bahwa permintaan bantuannya berubah menjadi “berita keluarga”. Padahal mungkin ia meminta dengan berat hati. Tidak semua orang mudah meminta bantuan, apalagi kepada keluarga sendiri. Ada orang yang harus melawan gengsi, rasa malu, dan perasaan tidak enak hanya untuk mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan.

Namun di masyarakat kita, bantuan sering tidak berhenti sebagai bantuan. Ia berubah menjadi cerita. Dan ketika cerita itu berpindah dari satu mulut ke mulut lain, ia perlahan berubah menjadi panggung moral. Ada orang yang diam-diam menikmati posisi sebagai pihak yang menolong.

Saya jadi teringat sebuah ajaran agama yang sangat sederhana tetapi terasa sulit dipraktikkan manusia. Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Artinya, kebaikan seharusnya tidak perlu diumumkan ke mana-mana. Tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab ketika pertolongan berubah menjadi tontonan sosial, yang tersisa kadang bukan lagi ketulusan, melainkan kebutuhan untuk diakui sebagai orang baik.

Dan manusia, tampaknya, memang sangat menyukai pengakuan itu. Di Bali, budaya kekeluargaan memang sangat kuat. Orang saling membantu ketika ada upacara, kematian, pernikahan, atau musibah. Ada semangat gotong royong yang masih hidup di banyak tempat. Dalam kehidupan banjar, orang datang membantu tanpa harus dipanggil berkali-kali. Ada tradisi ngayah, urunan, dan kebiasaan saling menopang yang membuat masyarakat Bali bertahan sebagai komunitas komunal selama bertahun-tahun.

Namun semakin dewasa, saya mulai melihat sisi lain yang jarang dibicarakan. Di balik budaya saling membantu itu, tersimpan pula tekanan sosial yang tidak kecil. Pertolongan sering datang bersama kewajiban moral yang panjang. Orang yang menerima bantuan tidak hanya diharapkan berterima kasih, tetapi juga diharapkan terus mengingat, menghormati, dan kadang-kadang tunduk.

Di masyarakat seperti Bali, hampir tidak ada cerita yang benar-benar berhenti di satu rumah. Cerita bergerak cepat. Dari dapur ke dapur, dari bale banjar ke warung kopi, dari percakapan keluarga ke percakapan keluarga lain. Kadang yang menyebar bukan fitnah, melainkan cerita tentang kebaikan. Tetapi bahkan kebaikan pun bisa terasa menyakitkan ketika diumumkan terus-menerus.

Saya pernah melihat seseorang diungkit bertahun-tahun hanya karena dulu pernah “ditampung” keluarga saat belum bekerja. Ada pula yang setiap keputusan hidupnya terus diintervensi karena merasa tidak enak terhadap orang yang pernah membantunya. Bahkan dalam beberapa keluarga, bantuan berubah menjadi semacam sertifikat moral yang memberi seseorang hak untuk mengatur hidup orang lain. Yang menarik, semua itu sering dianggap wajar.

Kita hidup dalam budaya yang sangat menjunjung utang budi. Sejak kecil, kita diajarkan agar tidak menjadi “kacang lupa kulit”. Kita diminta tahu diri, tahu balas jasa, tahu berterima kasih. Nilai-nilai itu sebenarnya tidak salah. Masalah muncul ketika rasa terima kasih berubah menjadi alat kontrol emosional.

Dalam banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia, pemberian memang hampir tidak pernah bersifat netral. Antropolog Prancis Marcel Mauss pernah menulis bahwa hadiah atau pemberian selalu membawa kewajiban sosial. Orang yang menerima hadiah bukan hanya menerima benda atau bantuan, tetapi juga menerima hubungan moral. Ada tuntutan untuk mengingat dan suatu hari membalasnya.

Barangkali karena itulah masyarakat kita sangat sensitif terhadap persoalan jasa. Bantuan bukan sekadar tindakan kemanusiaan, melainkan investasi sosial. Orang yang membantu merasa memiliki “saham moral” dalam hidup orang lain.

Fenomena ini terasa sangat dekat dalam kehidupan keluarga Indonesia. Orang tua merasa pengorbanannya memberi hak moral untuk menentukan masa depan anak. Kakak merasa jasanya membiayai adik membuatnya pantas dihormati tanpa syarat. Saudara yang lebih mapan ekonomi merasa punya posisi lebih tinggi dibanding anggota keluarga lain yang pernah dibantu.

Tidak jarang, hubungan keluarga akhirnya berubah menjadi hubungan patron dan klien. Ada pihak yang selalu merasa sebagai penyelamat, dan ada pihak yang terus-menerus ditempatkan sebagai orang yang berutang.

Dalam situasi seperti itu, bantuan memiliki nilai sosial yang besar. Membantu orang lain bisa meningkatkan kehormatan sosial seseorang. Namun di sisi lain, orang yang dibantu juga bisa membawa beban psikologis yang tidak ringan. Ia merasa harus terus menjaga hubungan baik, tidak boleh mengecewakan, dan tidak boleh terlihat melawan. Kadang-kadang, bantuan bahkan terasa seperti kontrak yang tidak pernah ditandatangani tetapi harus dipatuhi seumur hidup.

Saya juga melihat perubahan menarik pada generasi muda hari ini. Banyak anak muda mulai menjaga jarak dari lingkungan sosial yang terlalu gemar mengungkit jasa. Mereka memilih hidup mandiri meski serba pas-pasan. Ada yang merantau jauh, tinggal di kamar kos kecil, bekerja tanpa hari libur, atau menanggung beban hidup sendirian hanya agar tidak terus-menerus merasa berutang secara emosional.

Barangkali ini salah satu alasan mengapa hubungan keluarga modern terasa semakin renggang. Bukan semata karena anak muda menjadi individualistis, melainkan karena mereka lelah hidup di bawah tekanan moral yang tidak selesai-selesai.

Di Bali sendiri, situasi seperti ini sering bertemu dengan beban adat dan ekonomi sekaligus. Banyak orang harus tetap terlihat “baik” di depan keluarga dan lingkungan meskipun sebenarnya kelelahan secara finansial maupun mental. Mereka membantu urunan, hadir dalam berbagai kegiatan sosial, ikut ngayah, menjaga relasi kekeluargaan, tetapi diam-diam memendam kecemasan tentang biaya hidup yang makin mahal.

Harga tanah naik. Biaya upacara tidak murah. Lapangan kerja tidak selalu pasti. Banyak orang hidup pas-pasan sambil tetap mempertahankan citra bahwa semuanya baik-baik saja. Dalam situasi seperti itu, bantuan akhirnya menjadi sesuatu yang sensitif. Orang merasa pengorbanannya besar karena hidup mereka sendiri sebenarnya juga tidak mudah. Mungkin karena itu pula sebagian orang menjadi sangat ingin diingat atas pertolongannya.

Saya kira banyak orang Indonesia pernah mengalami situasi semacam ini. Mereka memilih diam ketika disakiti keluarga karena merasa “masih punya utang budi”. Mereka sulit menolak permintaan orang lain karena pernah dibantu. Mereka takut dianggap tidak tahu diri. Akibatnya, hubungan sosial berjalan bukan karena kedekatan yang sehat, melainkan karena rasa tidak enak. Budaya sungkan memang membuat masyarakat Indonesia tampak sopan. Namun pada saat yang sama, rasa sungkan juga sering menjadi alat kekuasaan yang tidak disadari.

Yang menarik, orang yang suka mengungkit bantuan sering tetap merasa dirinya tulus. Mereka tidak merasa sedang memanipulasi. Mereka benar-benar percaya bahwa jasa mereka layak diingat selamanya. Dalam logika budaya kolektif, pengorbanan memang dianggap memiliki nilai moral tinggi. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang. Banyak orang membantu bukan dari kelebihan, tetapi dari kekurangan. Karena itu, bantuan terasa sangat besar bagi pemberinya. Ketika pengorbanan itu tidak mendapatkan penghargaan sesuai harapan, lahirlah kekecewaan.

Di titik ini, pertolongan menjadi bercampur dengan ego. Kita mungkin bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang menceritakan terus-menerus bagaimana ia membantu saudaranya dulu, menyebut nominal bantuan berulang kali dalam setiap pertengkaran, atau diam-diam menikmati posisi sebagai “orang paling berjasa” dalam keluarga. Bantuan akhirnya tidak lagi memerdekakan, melainkan menciptakan ketergantungan emosional.

Fenomena ini menjadi semakin aneh di era media sosial. Hari ini, kebaikan tidak hanya perlu dilakukan, tetapi juga perlu dipertontonkan. Orang merekam dirinya memberi sedekah kepada orang miskin. Bantuan keluarga dipamerkan lewat unggahan. Donasi menjadi konten. Bahkan ada orang yang tampaknya lebih menikmati pengakuan sebagai penolong daripada benar-benar peduli pada orang yang ditolong.

Kita hidup di zaman ketika citra sebagai “orang baik” memiliki nilai sosial yang tinggi. Akibatnya, batas antara ketulusan dan pertunjukan menjadi kabur. Tentu tidak semua bantuan seperti itu. Banyak orang tetap membantu diam-diam tanpa berharap balasan apa pun. Ada orang tua yang berkorban untuk anak tanpa pernah mengungkit jasa, sahabat yang membantu tanpa menjadikan bantuan itu alat kuasa, atau ada juga keluarga yang benar-benar hadir sebagai tempat pulang, bukan tempat menagih utang emosional.

Namun justru karena pengalaman yang baik itu ada, kita menjadi lebih mudah mengenali mana pertolongan yang tulus dan mana yang sebenarnya menyimpan kebutuhan untuk dihormati. Saya sering merasa bahwa sebagian masyarakat kita sebenarnya tidak hanya ingin membantu, tetapi juga ingin dikenang sebagai orang yang membantu. Ada kebutuhan psikologis untuk merasa penting dalam hidup orang lain. Dan mungkin itu sangat manusiawi. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari ego.

Tetapi masalah muncul ketika kebutuhan untuk diakui lebih besar daripada kepedulian itu sendiri. Sebab pertolongan yang terus diungkit perlahan kehilangan makna kemanusiaannya. Ia berubah menjadi alat untuk mempermalukan, mengendalikan, atau menjaga hierarki. Orang yang menerima bantuan akhirnya tidak merasa ditolong. Ia merasa disandera oleh rasa berutang

Barangkali itu sebabnya banyak orang kini memilih berjuang sendirian meskipun hidup susah. Mereka takut bantuan datang bersama penghinaan di masa depan. Mereka lebih rela bekerja berlebihan daripada mendengar kalimat, “Kalau bukan karena saya, kamu bukan siapa-siapa.”

Kalimat semacam itu mungkin terdengar biasa dalam budaya kita. Namun bagi sebagian orang, ia meninggalkan luka yang panjang. Luka karena merasa harga dirinya terus-menerus diukur dari bantuan yang pernah diterima.

Di tengah masyarakat yang gemar berbicara tentang kekeluargaan, kita jarang membicarakan luka-luka seperti ini.Kita terlalu sering memuliakan pengorbanan, tetapi lupa menjaga martabat orang yang menerima pertolongan. Padahal bantuan yang baik seharusnya memulihkan martabat seseorang, bukan mempermalukannya diam-diam.

Saya kembali membayangkan sang bibi tadi. Mungkin ia tidak meminta banyak dan hanya sedang berada dalam fase hidup yang sulit. Namun permintaan sederhana itu berubah menjadi cerita besar dalam keluarga. Besar cerita, besar berita. Dan mungkin, yang paling menyakitkan dari kesulitan hidup bukan semata-mata kekurangan uang, melainkan ketika kerentanan seseorang berubah menjadi bahan percakapan orang lain. Ketika bantuan yang seharusnya meringankan justru menambah rasa malu. Sebab pada akhirnya, pertolongan yang paling manusiawi bukanlah pertolongan yang paling keras diumumkan, melainkan pertolongan yang mampu menjaga harga diri orang yang menerimanya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

Next Post

Berguru ke Baduy Luar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Berguru ke Baduy Luar

Berguru ke Baduy Luar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co