SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14 Mei 2026, studi Tiru dilanjutkan ke Suku Baduy Luar pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026. Rombongan yang menginap di The Tavia Heritage Hotel Jakarta Pusat berangkat menunju Baduy Luar sekitar pukul 07.30 WIB setelah sarapan. Waktu tempuh dari Jakarta ke Baduy Luar sekitar 4 jam perjalanan melalui aneka rupa jalan dan aneka moda transportasi. Dari jalan tol yang halus mulus hingga jalan berlubang, dari jalan berbayar elektronik sampai jalan berbayar ala Pak Ogah. Walaupun pungutan tidak resmi, gaya Pak Ogah ini cukup membantu di tengah kroditnya lalu lintas.
Lebih seru dan penuh kejutan adalah penggunaan moda transpotasi yang tidak teragendakan dalam rute perjalanan. Setelah perjalanan sekitar 3,5 jam dari hotel tempat menginap, rombongan tiba di Desa Cibungur. Bus yang kami tumpangi tidak bisa lewat karena sedang perbaikan jalan. Sekitar 30 menit rombongan menepi. Ada yang menyerbu ke warung pinggir jalan, ada juga memilih berteduh di bawah pohon rindang di rumah penduduk yang halamannya luas dan terbuka. Tuan rumah merasa terhormat lalu menyeduhkan kopi pada semua yang mampir. Bahkan tuan rumah tampak pergi ke warung sebelah membeli kopi saset demi pelayanan wisatawan dari Badung Bali.
Setelah berbasa-basi sambil ngopi sesuai permintaan (manis, pahit, sedikit gula), kami meninggalkan jamuan kopi di rumah milik Padaman yang sejuk dan bersahabat. Sesaat menjelang pamit, Padaman pulang dari Sholat Jumat dan menemui rombongan dengan ramah seraya mempersilakan kami menyeruput kopi yang nyaris sudah habis. Kami pun mengabadikan semangat manyama braya ini melalui kamera Hp. I Nyoman Wirayun perwakilan Bandesa Adat Tanjung Benoa menitipkan uang Rp 100.000,00 kepada ibu rumah tangga sebagai tanda terima kasih. “Saya tidak berjualan,” kata ibu rumah pemilik rumah yang ramah. “Saya juga tidak membeli,” kata Wirayun pekerja pariwisata di Tanjung selain sebagai pangayah di Desa Adat.

Nilai positif dari bus tidak bisa masuk ke Baduy Luar adalah bertambahnya persaudaraan dan pertolongan pun dipermudah. Rombongan akhirnya dipecah menuju Baduy Luar mengunakan aneka moda transportasi : truk, pick up, ojek. Sampai di mulut Desa Kanekes Baduy Luar, rombongan berjalan kaki menuju Kantor Desa Adat. Maka, lengkaplah moda transportasi yang kami gunakan. Terbang dengan pesawat dengan ciri khas pantun menyapa penumpang, Citylink dari Denpasar ke Bandara Soekarno-Hatta lalu naik bus menuju Rawamangun – Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Sekitar pukul 11.30 WIB kami sampai di pertigaan menuju pusat Desa Kanekes disambut patung orang tua bersama dua anak. Dari penelusuran kanal berita on line, patung itu menggambarkan Suku Anak Baduy Luar. Patung itu secara verbal bisa diterjemahkan menjadi ; dua anak cukup. Sebuah iklan Kampanye era Orde Baru untuk menyuksekan Program KB. Kini, program itu dikoreksi Gubernur Koster untuk melestarikan KB Bali : 4 anak sehingga Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut tetap lestari.
Di bawah patung bertuliskan, “Selamat Datang di Cibogeger” dengan tulisan lusuh nyaris tak terbaca. Pertanyaannya, “Mengapa tidak menuliskan Selamat Datang di Desa Kanekes?”
Jakim penduduk Kanekes memberikan penjelasan bahwa patung itu berada di perbatasan Baduy Luar tepatnya di Ciboleger Desa Bojong Menteng sebagai desa penyangga batas Baduy Luar. Persimpangan Ciboleger adalah gerbang menuju Desa Kanekes Baduy Luar. Jaraknya tidak jauh. Namun, saya dan beberapa rombongan tampaknya juga dimanfaatkan oleh para pengojek dengan tawaran harga Rp 10.000,00 – 20.000,00 menuju Kantor Adat Kanekes. Ciboleger tampaknya menjadi pusat transaksi luar menuju Desa Kanekes. Sejumlah tukang ojek menawarkan jasa, perempuan-perempuan setengah baya menawarkan tongkat dari kayu sengon dan manium yang ukurannya seragam dan dikelupas bagian ujung pengangannya. Harga tongkatnya Rp 5.000,00 sekali pakai selama menapaki Desa Kanekes yang terus menanjak.
Kami diterima Kepala Adat Kanekes di kantor adat berupa balai terbuka. Para dayang tampak mengintip kami dari jendela gedeg. Saya pikir, mereka perempuan pingitan era R.A. Kartini. Dari tatapan mata gadis yang mengintip ke luar, betapa mereka punya keinginan ke luar dari sangkar adat. Atas nama adat, mereka tunduk pada kepatuhan tetua.
Rombongan Bandesa Adat dari Badung diterima oleh Pak Jarwo petinggi Desa Adat Baduy Luar di gedung berbentuk balai terbuka, mirip ampik rumah Bali tempo doeloe. “Kami bangga atas kedatangan saudara dari Bali. Bali memang luar biasa”, Pak Jarwo memuji.

Rombongan dijamu makan siang dengan duduk bersila khas adat, sedangkan para ibu duduk santai sambil berfoto ria. Balai terbuka yang cukup luas mirip Balai Desa Tenganan di Bali, yang kuat memegang tradisi. Beberapa kain tenun adat menggelantung di Balai-Balai rumah adat menunggu pembeli datang. Tidak ada yang agresif menawarkan seperti pedagang acung pada umumnya.
Selesai makan, semua rombongan disiagakan minuman kopi oleh Kepala Adat. Kepala Adat yang langsung melayani kami, berbeda dengan Desa Adat di Bali pada umumnya, pelayannya para ibu atau gadis perempuan.
Makan siang di rumah adat Suku Baduy Luar adalah sebuah kehormatan. Nasi kotaknya juga dipesankan oleh pihak tuan rumah. Sama sebangun dengan makan malam di Jaba Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Ibarat manyama braya, berbagi dengan braya. Saling menghidupkan dan menghidupi. Serasa mimpi bersama ; menjaga dan meneguhkan adat !
Sejumlah warga Desa Kanekes yang sempat saya tanyakan baik yang muda maupun yang tua, mereka tidak bersekolah. Anehnya, mereka bisa membaca, menulis, dan bermedia sosial. Bahkan putri Bandesa Tengkulung Kuta Selatan bertiktokan dengan sahabat di Baduy. “Anak saya punya teman tiktok dari Baduy Luar”, kata I Gede Eka Surawan Bandesa Tengkulung.

Dari mana mereka bisa membaca dan bermedia sosial? Jawabannya sungguh di luar dugaan. “Kami diajar, bukan belajar. Belajar secara otodidak dengan siapa saja, secara sukarela. Kalau belajar, mesti ada guru dengan jadwal teratur dan sistematis”, kata Jakim yang berjualan aneka kerajinan di rumahnya bersama anak dan istri.
Jawaban itu terasa aneh karena hanya beberapa meter dari Desa Baduy Luar ada Sekolah Dasar Negeri 2 Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Kehadiran SD Negeri dengan Akreditasi B itu seperti ajakan mencerdaskan anak-anak Baduy Luar itu melalui jalur pendidikan formal. Walaupun belum bersambut. kehadiran rombongan Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Kabupaten Badung, Bali ke Baduy Luar mencitrakan pesan berguru. Berguru ke Baduy Luar. Sayangnya, rombongan tidak sampai ke Baduy Dalam sehingga pembelajaran mendalam pun masih gamang. [T]





























