2 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berguru ke Baduy Luar

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
in Tualang
Berguru ke Baduy Luar

Berguru di Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14 Mei 2026,  studi Tiru dilanjutkan ke Suku Baduy Luar pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026. Rombongan yang menginap di The Tavia Heritage Hotel Jakarta Pusat berangkat menunju Baduy Luar sekitar pukul 07.30 WIB setelah sarapan. Waktu tempuh dari Jakarta ke Baduy Luar sekitar 4 jam perjalanan melalui aneka rupa jalan dan aneka moda transportasi. Dari jalan tol yang halus mulus hingga jalan berlubang, dari jalan berbayar elektronik sampai jalan berbayar ala Pak Ogah. Walaupun pungutan tidak resmi, gaya Pak Ogah ini cukup membantu di tengah kroditnya lalu lintas.

Lebih seru dan penuh kejutan adalah penggunaan moda transpotasi yang tidak teragendakan dalam rute perjalanan. Setelah perjalanan sekitar 3,5 jam dari hotel tempat menginap, rombongan tiba di Desa Cibungur. Bus yang kami tumpangi tidak bisa lewat karena sedang perbaikan jalan. Sekitar 30 menit rombongan menepi. Ada yang menyerbu ke warung pinggir jalan, ada juga memilih berteduh di bawah pohon rindang di rumah penduduk yang halamannya luas dan terbuka. Tuan rumah merasa terhormat lalu menyeduhkan kopi pada semua yang mampir. Bahkan tuan rumah tampak pergi ke warung sebelah membeli kopi saset demi pelayanan wisatawan dari Badung Bali.

Setelah berbasa-basi sambil ngopi sesuai permintaan  (manis, pahit, sedikit gula), kami meninggalkan jamuan kopi di rumah milik Padaman yang sejuk dan bersahabat. Sesaat menjelang pamit, Padaman pulang dari Sholat Jumat dan menemui rombongan dengan ramah seraya mempersilakan kami menyeruput kopi yang nyaris sudah habis. Kami pun mengabadikan semangat manyama braya ini melalui kamera Hp.  I Nyoman Wirayun perwakilan Bandesa Adat Tanjung Benoa menitipkan uang Rp 100.000,00 kepada ibu rumah tangga sebagai tanda terima kasih. “Saya tidak berjualan,” kata ibu rumah pemilik rumah yang ramah. “Saya juga tidak membeli,” kata Wirayun pekerja pariwisata di Tanjung selain sebagai pangayah di Desa Adat.

Istirahat dan bersantap di Baduy Luar

Nilai positif dari bus tidak bisa masuk ke Baduy Luar adalah bertambahnya persaudaraan dan pertolongan pun dipermudah. Rombongan akhirnya dipecah menuju Baduy Luar mengunakan aneka moda transportasi : truk, pick up, ojek. Sampai di mulut Desa Kanekes Baduy Luar, rombongan berjalan kaki menuju Kantor Desa Adat.  Maka, lengkaplah moda transportasi yang kami gunakan. Terbang dengan pesawat dengan ciri khas pantun menyapa penumpang, Citylink dari Denpasar ke Bandara Soekarno-Hatta lalu naik bus menuju Rawamangun – Cibungur, Kecamatan Leuwidamar,  Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Sekitar pukul 11.30 WIB kami sampai di pertigaan menuju  pusat Desa Kanekes disambut patung orang tua bersama dua anak. Dari penelusuran kanal berita on line, patung itu menggambarkan Suku Anak Baduy Luar. Patung itu secara verbal bisa diterjemahkan menjadi ; dua anak cukup. Sebuah iklan Kampanye era Orde Baru untuk menyuksekan Program KB. Kini, program itu dikoreksi Gubernur Koster untuk melestarikan KB Bali : 4 anak sehingga Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut tetap lestari.

 Di bawah patung bertuliskan, “Selamat Datang di Cibogeger” dengan tulisan lusuh nyaris tak terbaca.  Pertanyaannya, “Mengapa tidak menuliskan Selamat Datang di Desa Kanekes?”

Jakim penduduk Kanekes memberikan penjelasan bahwa patung itu berada di perbatasan Baduy Luar tepatnya di Ciboleger Desa Bojong Menteng sebagai desa penyangga batas Baduy Luar. Persimpangan Ciboleger adalah gerbang menuju Desa Kanekes Baduy Luar. Jaraknya tidak jauh. Namun, saya dan beberapa rombongan tampaknya juga dimanfaatkan oleh para pengojek dengan tawaran harga Rp 10.000,00 – 20.000,00 menuju Kantor Adat Kanekes. Ciboleger tampaknya menjadi pusat transaksi luar menuju Desa Kanekes. Sejumlah tukang ojek menawarkan jasa, perempuan-perempuan setengah baya menawarkan tongkat dari kayu sengon dan manium yang ukurannya seragam dan dikelupas bagian ujung pengangannya. Harga tongkatnya Rp 5.000,00 sekali pakai selama menapaki Desa Kanekes yang terus menanjak.

Kami diterima Kepala Adat Kanekes di kantor adat berupa balai terbuka. Para dayang tampak  mengintip kami dari jendela gedeg. Saya pikir, mereka perempuan pingitan era R.A. Kartini. Dari tatapan mata gadis yang mengintip ke luar, betapa mereka punya keinginan ke luar dari sangkar adat. Atas nama adat, mereka tunduk pada kepatuhan tetua.

Rombongan Bandesa Adat dari Badung diterima oleh Pak Jarwo petinggi Desa Adat Baduy Luar di gedung berbentuk balai terbuka, mirip ampik rumah Bali tempo doeloe. “Kami bangga atas kedatangan saudara dari Bali. Bali memang luar biasa”, Pak Jarwo memuji.

Istirahat dan bersantap di Baduy Luar

Rombongan dijamu makan siang dengan duduk bersila khas adat, sedangkan para ibu duduk santai sambil berfoto ria. Balai terbuka yang cukup luas mirip Balai Desa Tenganan di Bali, yang kuat memegang tradisi. Beberapa kain tenun adat menggelantung di Balai-Balai rumah adat menunggu pembeli datang. Tidak ada yang agresif menawarkan seperti pedagang acung pada umumnya.

  Selesai makan, semua rombongan disiagakan minuman kopi oleh  Kepala Adat. Kepala Adat yang langsung melayani kami, berbeda dengan  Desa Adat di Bali pada umumnya, pelayannya para ibu atau gadis perempuan.

Makan siang di rumah adat Suku Baduy Luar adalah sebuah kehormatan. Nasi kotaknya juga dipesankan oleh pihak tuan rumah. Sama sebangun dengan makan malam di Jaba Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Ibarat manyama braya, berbagi dengan braya. Saling menghidupkan dan menghidupi. Serasa mimpi bersama ; menjaga dan meneguhkan adat !

Sejumlah warga Desa Kanekes yang sempat saya tanyakan baik yang muda maupun yang tua, mereka tidak bersekolah. Anehnya, mereka bisa membaca, menulis, dan bermedia sosial. Bahkan putri Bandesa Tengkulung Kuta Selatan bertiktokan dengan sahabat di Baduy. “Anak saya punya teman tiktok dari Baduy Luar”, kata I Gede Eka Surawan Bandesa Tengkulung.

Berfoto di Ciboleger

 Dari mana mereka bisa membaca dan bermedia sosial? Jawabannya sungguh di luar dugaan. “Kami diajar, bukan belajar. Belajar secara otodidak dengan siapa saja, secara sukarela. Kalau belajar, mesti ada guru dengan jadwal teratur dan sistematis”, kata Jakim yang berjualan aneka kerajinan di rumahnya bersama anak dan istri.

Jawaban itu terasa aneh karena hanya beberapa meter dari  Desa Baduy Luar ada Sekolah Dasar Negeri 2 Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar  Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Kehadiran SD Negeri dengan Akreditasi B itu seperti ajakan mencerdaskan anak-anak Baduy Luar itu melalui jalur pendidikan formal. Walaupun belum bersambut. kehadiran rombongan Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Kabupaten Badung, Bali ke Baduy Luar mencitrakan pesan berguru. Berguru ke Baduy Luar. Sayangnya, rombongan tidak sampai ke Baduy Dalam sehingga pembelajaran mendalam pun masih gamang. [T]

Tags: desa adatmasyarakat adatpariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku BaduySuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Besar Cerita, Besar Berita

Next Post

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails
Next Post
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co