13 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
in Tualang
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

Oleh-oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, ibarat membaca buku novel yang dimulai dari halaman pertama sudah menyajikan menu pembuka yang menarik dan gurih. Lidah tak sabar lagi merasakan petualangan rasa pada halaman-halaman berikutnya. Halaman pertama tampaknya mulai dari kisah bus yang tidak bisa lewat karena perbaikan jalan persis ketika rombongan tiba di Desa Cibungur. Di sini rombongan pecah menjadi dua. Ada yang memilih mampir di warung sambil minum dan ada yang memilih mampir ke rumah penduduk.

Mereka yang memilih mampir di warung pakrimik. Begitu juga yang memilih mampir berteduh di rumah penduduk dengan halaman luas. Pakrimik adalah bentuk protes para rombongan yang merasakan ketidaknyaman. Lebih ekstrem lagi, ketika pulang dari Baduy Luar, mendung dengan gerimis tipis. Rombongan merasa harap-harap cemas jadi teringat pantun yang disampaikan awak pesawat Citylink saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. “Hujan-hujan bajuku basah, sudah dijemur tidak kering-kering/para penumpang selamat berpisah/Terima kasih sudah terbang bersama Citylink”.

Gerimis tipis memang tidak jadi deras sehingga tidak basah. Namun, perangai sopir truk yang kami tumpangi rada ngebut dengan tanjakan, turunan, dan pengkolan yang tiba-tiba membuat hati kesiab-kesiab.  Saya berdoa dengan penuh seluruh ala Chairil Anwar : Tuhanku, di pintu-Mu, aku mengetuk…

Begitulah serunya, sesampai kembali ke bus, semua pengalaman terjal itu justru menjadi kisah seru dan menarik. Panyarikan Madya MDA Kabupaten Badung, I Ketut Nuridja nyeletuk, “Justru pengalaman ekstrem itulah pada akhirnya menjadi kenangan membekas bagi para peserta Study Tiru ke Baduy Luar”. Celetukan itu benar adanya.

Penulis di Pos Jaga Baduy Luar

Semua pengunjung apalagi para peserta Study Tiru ke Baduy Luar di Desa Kanekes wajib lapor di Pos Jaga yang disebut Saung Jaga dengan senantiasa menjaga kebersihan,  tatatertib, etika, dan budaya.  Dari Study Tiru ini banyak hal yang dapat ditimba dan  dikomparasikan dengan tradisi di Desa Adat di Bali, yang terkenal dengan semangat desa, kala, patra. Dari obrolan dengan Jakim, di emper rumahnya yang dijadikan tempat berjualan aneka kerajinan, saya jadi tahu bahwa tradisi menanam ari-ari bagi bayi lahir juga dilakukan oleh Suku Baduy Luar. Saat menanam ari-ari, ada ritual nyirih yang berintikan daun sirih, buah jambe muda, gambir apu. Tradisi nyirih bagi orang Bali adalah nginang. Dari sini bisa ditarik kedekatan budaya Bali dan Baduy.

 Orang Bali menanam ari-ari di pekarangan rumah, Suku Baduy Luar menanam ari-ari di kebun yang tidak menyatu dengan rumah. Tujuh hari setelah lahir, bayi diberikan nama. Berbeda dengan di Bali, pemberian nama secara adat, pada saat bayi berusia 3 bulan kalender Bali (105 hari), saat upacara ‘Sambutan’. Selama tiga bulan itu, ibu si bayi dinyatakan cuntaka. Praktis, Ibu si bayi dilarang memasuki areal suci (merajan, Pura). Urusan ritual ke Merajan menjadi tanggung Jawab ayah si bayi setelah upacara kepus pusar.

Lain dulu lain sekarang. Kini, anak Bali begitu lahir sudah diberikan nama oleh oragtuanya untuk memenuhi syarat administrasi kependudukan dalam pencatatan Akte Kelahiran. Bagi ASN, itu menjadi syarat mengusulkan tunjangan anak. Sangat birokratis dan sangat administratif.

Jika Suku Baduy Luar memberi nama anak seminggu setelah kelahiran, maka orang Bali Kuno memberi nama setelah upacara Sambutan. Jika memperhatikan hari dalam sepekan yang disebut Sapta Wara, maka pemberian nama itu persis pada hari kelahiran juga. Entah seminggu setelah kelahiran, entah 105 setelah kelahiran. Hari menurut Saptawaranya sama.

Selain itu, anak yang baru lahir dibuatkan ayunan pada usia 7 hari. Sementara itu, di Bali, anak dibuatkan ayunan bersamaan dengan upacara Sambutan (105 hari). Jadi ayunan bagi bayi Baduy bersamaan dengan pemberian nama. Begitu juga bayi Bali, ayunan bersamaan dengan pemberian nama. Kemiripan budaya Baduy dengan Bali mencitrakan sumber keyakinan yang sama. Jika menarka Suku Baduy yang berada di Provinsi Banten memang identik dengan Bali yang artinya Wali. Wali juga artinya banten.

Sebagai sebuah suku yang terisolasi, Baduy mencitrakan suku yang merawat tanah air dan lingkungan agar tidak ternoda. Menurut I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra mantan Bandesa Jimbaran yang pernah menginap di Baduy Dalam, kesederhanaan diimani dengan memuliakan alam lingkungan. Bagi Suku Baduy Dalam, Trihita Karana ala Bali diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tri Hita Karana dijalankan dalam laku hidup bukan dalam baliho atau spanduk yang ramai merusak alam lingkungan. Limbah spanduk sering menjadi pengotor lingkungan dan sulit terurai.

Ngopi di rumah Padaman di Cibungur sambil menunggu angkutan desa seperti truk, pick up, ojek

Sesanthi Suku Baduy sederhana tetapi diimani bersama.  “Ingat pesan puhun dari dahulu. Yang panjang jangan dipotong, yang pendek tidak usah disambung,” tambah Gusti Made Rai Dirga yang pernah berkesempatan ke Baduy Dalam bersama temannya dari Sunda yang fasih berbahasa dengan Suku Baduy. Sesanthi sederhana itu mengingatkan saya pada lontar Taru Pramana di Bali. Lontar ini menjelaskan bahwa pohon pun bisa berbicara dengan lengkap menyatakan diri bisa menyembuhkan penyakit. 

“Bila menebang kayu, pantang bagi mereka menebang sembarangan, sebagaimana manusia Bali tempo doeloe. Ada hari-hari tertentu yang disebut dewasa ayu (hari baik) menebang kayu. Maksud penggunaan kayu yang ditebang harus jelas. Setelah ditebang, kayu diberikan tanda  yang disebut ceciren atau sawen dalam Bahasa Bali,” kata I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra, yang kini menjabat Bandesa Alitan MDA Kuta Selatan.

Hal lain yang perlu diperhatikan jika ke Baduy Dalam adalah membawa gapgapan berupa garam atau ikan laut yang memang tidak ada di Baduy Dalam. Ini juga mengingatkan kita pada pepatah lama, “Garam di laut asam di gunung bertemu dalam kuali peradaban”. Begitulah peradaban dibentuk dan terbentuk ibarat pengalu maurup-urup. Tawar-menawar terjadi dalam bahasa persaudaraan universal.

  Namun bagi Suku Baduy Luar keterisolasiannya relatif terbuka menerima pengaruh. Yang sangat kental dipertahankan adalah pakaian serba hitam dengan udeng di kepala warna biru disebut yang disebut romal. Berbeda dengan suku Baduy Dalam, pakaiannya semua serba putih, termasuk udengnya  yang disebut telkung. Baik Suku Baduy Luar maupun Suku Baduy Dalam tidak menggunakan sandal bila bepergian ke mana-mana. Antara Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar, ibarat Utama Mandala dan Madya Mandala dalam tata letak rumah adat di Bali.

Naik pick-up

Seperti juga pada masyarakat tradisional Bali yang tidak mempunyai ruang tamu, begitu juga Suku Baduy Luar. Bila ada orang bertamu, mereka diajak duduk lesehan di emper balai-balai yang terbuka. Di emper Balai Desa Kanekes rombongan dari Bandesa dan Panglingsir dari Desa Adat se-Badung diterima oleh Pemuka Adat, Pak Jarwo. Tampak di dinding gedeg berbagai piagam terpajang sebagai bukti pencapaian prestasi Desa Kanekes. Dialog kebudayaan pun terjadi secara cair setelah makan siang dan minum kopi penuh kehangatan dan kekeluargaan. Selanjutnya, Bandesa Madya MDA Kabupaten Badung, Ida Bagus Gede Widnyana, menyerahkan cendera mata berupa Patung khas Bali kepada Pak Jarwo, pemuka Adat Kanekes.

Pembicaraan antar tetamu di ruang terbuka dan terlihat orang lalu lalang. Itu juga mencitrakan keterbukaan informasi. Namun demikian, pengaruh teknologi juga sudah merambah sampai Suku Baduy Luar. Anak-anak muda juga fasih bermedia sosial walaupun tidak bersekolah. Mereka belajar secara otodidak. Diajar oleh orang-orang yang datang dan mau mengajarinya secara sukarela. Belajar otodidak ini tampaknya atas kesadaran diri, menyenangkan, dan penuh makna. Inilah yang disebut Sekolah Alam tanpa Kurikulum formal tetapi hasilnya sungguh menjanjikan. Dari Baduy Luar kita berguru tentang kesederhanaan, kesungguhan, dan integritas. Inilah oleh-oleh dari Baduy Luar. Kalau Baduy Luar saja sudah luar biasa, bagaimana bila sampai ke Baduy Dalam? [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: pariwisata provinsi bantenSuku BaduySuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Next Post

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co