3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
in Panggung
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Maisie Sum merupakan etnomusikolog dari Conrad Grebel University College University Of Waterloo Canada

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran budaya pada Rabu malam, 20 Mei 2026. Di sayap panggung sisi kanan tampak 16 mahasiswa Warga Shanti dari Conrad Grebel University College, University of Waterloo, Kanada. Mereka mengenakan busana adat Bali sambil memegang panggul gamelan dengan wajah penuh antusias. Sementara di sisi kiri, Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan Desa Adat Buleleng tampil percaya diri sebagai tuan rumah dengan tabuhan khas Bali Utara yang energik dan berwibawa.

Warga Shanti dari Kanada mengawali penampilannya dengan mempersembahkan empat karya dengan pembina tabuhnya Dewa Made Suparta, S.Sn. Pertama adalah Tabuh Gilak, komposisi musik atau tabuh dasar dalam karawitan Bali seperti gong kebyar dan gong gede yang memiliki pola siklus 8 ketukan. Biasanya tabuh ini berfungsi sebagai instrumen pengiring upacara. Tabuh ini memiliki tempo dinamis, bersemangat dan memberikan kesan gembira.

Penampilan itu kemudian dipadukan dengan Tari Pendet, tarian tradisional Bali yang melambangkan penyambutan dan penghormatan kepada dewa-dewi. Gerak tari yang lembut berpadu dengan tabuhan gamelan menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.

Mahasiswa Kanada juga membawakan Tabuh Lelongoran, karya karawitan khas Buleleng yang dikenal mempertahankan unsur gong lelambatan dan memiliki nuansa magis tersendiri.

Associate Professor sekaligus etnomusikolog University of Waterloo, Maisie Sum, mengaku bahwa penampilan ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik untuk ditampilkan.

“Kami sangat antusias membagikan karya khas Bali Utara ini kepada penonton,” ujar Maisie.

Warga Shanti dari University of Waterloo | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Penampilan mereka ditutup dengan Tabuh Kreasi Padurasa, komposisi yang terinspirasi dari konsep gotong royong. Karya tersebut digarap bersama oleh lima mahasiswa University of Waterloo, yakni Sarah, Arden, Hailey, Shalaka, dan Logan.

Bagi Maisie, karya itu menjadi simbol kerja bersama dan proses saling belajar antaranggota kelompok selama berada di Bali.

“Karya ini lahir dari ide bersama para mahasiswa selama kami belajar dan berproses di Bali,” ujarnya.

Banjar Paketan Unjuk Gigi Tradisi Bali Utara

Tidak kalah memukau, Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan juga menampilkan empat repertoar khas Bali dengan pembina tabuhnya I Made Pasca Wirsutha, S.Sn alias Dek Pas.

Pertunjukan dibuka dengan Tari Kembang Deeng. Menurut Ketua Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan, I Ketut Sunada, Tari Kembang Deeng merupakan tarian penyambutan yang terinspirasi dari tradisi padeengan dalam upacara pitra yadnya atau pengabenan dan lahir dari Festival Tari Penyambutan se-Bali dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 1998.

“Tarian ini menggambarkan widyadara dan widyadari yang turun dari kahyangan untuk menyambut sang atma,” tuturnya.

Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Selanjutnya, penampilan Tari Truna Jaya. Tarian ini berasal dari Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Diciptakan sekitar tahun 1915 oleh seniman Pan Wandres, tarian ini menggambarkan dinamika dan emosi seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa, serta biasanya ditarikan dengan gerakan yang lincah dan ekspresif

Sekaa Gong Eka Wakya juga membawakan Tabuh Lelongoran khas Buleleng dan Tabuh Kreasi Dwikora. Tabuh Dwikora yang dimainkan oleh kelompok gong yang telah berdiri sejak 1906 tersebut menggambarkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Kolaborasi Gamelan Bali dan Kanada di Banjar Paketan

I Ketut Sunada, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus pertukaran budaya antara mahasiswa Kanada dengan kelompok gong di Banjar Paketan.

“Kegiatan ini sebenarnya sudah pernah terselenggara sebelumnya, jadi sekarang menjadi lanjutan. Wakil ketua kami, I Made Pasca Wirsutha, S.Sn, memiliki relasi dengan mahasiswa Kanada dari University of Waterloo,” ungkapnya.

Menurut Sunada, para mahasiswa Kanada sebelumnya telah belajar gamelan secara daring bersama Dek Pas. Mereka mempelajari sejumlah tabuh seperti Gilak, Lelambatan, hingga Gong Tua yang di Buleleng dikenal dengan istilah lelongoran dan sekatian.

“Hasil pembelajaran daring itu mereka tampilkan di sini. Mereka juga ingin memastikan permainan gong yang dipelajari sudah sesuai dengan pakem aslinya,” katanya.

Tidak hanya belajar memainkan gamelan, mahasiswa Kanada tersebut juga tertarik meneliti kesenian Gong Tua yang dianggap memiliki keunikan tersendiri, khususnya di Bali Utara.

“Melalui kegiatan ini mereka juga ingin melihat langsung budaya yang ada di Banjar Paketan,” imbuhnya.

Tari Kembang Deeng dari Sekaa Gong Eka Wakya, Banjar Paketan | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Maisie Sum, mengungkapkan ketertarikannya terhadap gamelan Bali telah dimulai sejak 2004. Ketertarikan itu berkembang semakin dalam setelah kampusnya mengundang seniman Bali, Dewa Suparta, sebagai Artist-in-Residence di Conrad Grebel University College.

“Sejak saat itu kami memiliki banyak hubungan dengan Bali,” ujarnya.

Dalam kunjungannya ke Bali, Maisie bersama rombongan mahasiswa menjalani latihan di Sanggar Seni Cundamani, Ubud, selama sekitar satu minggu. Ia mengatakan para mahasiswa yang ikut merupakan peserta yang memiliki ketertarikan besar terhadap musik dan budaya Bali, sehingga ingin merasakan pengalaman belajar secara langsung di Pulau Dewata. Selain itu, mereka juga ingin memperkenalkan nuansa musik Bali Utara melalui repertoar yang dibawakan.

Tari Pendet yang diiring sekaa gong dari Warga Shanti, University of Waterloo | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Maisie menjelaskan proses mempelajari gamelan bagi mahasiswa di Kanada memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam satu semester, mereka menjalani latihan selama 12 minggu dengan durasi sekitar tiga jam setiap pertemuan. Menurutnya, hingga waktu pementasan, mahasiswa biasanya mampu menguasai sekitar tiga karya setelah kurang lebih 30 jam latihan.

“Itu tergantung pada karyanya. Kami tidak berlatih sesering masyarakat Bali biasanya berlatih,” katanya.

Ia juga mengenang salah satu karya pertama yang dipelajarinya, yakni Tari Kebyar Gandrung, yang menurutnya menjadi salah satu komposisi paling sulit untuk dimainkan.

Pertunjukan kolaborasi tersebut dinilai Maisie sebagai pengalaman yang sangat istimewa. Ia menyebut kesempatan berbagi panggung bersama Sekaa Gong Eka Wakya menjadi momen langka sekaligus berharga bagi rombongannya.

“Kami merasa sangat beruntung bisa tampil bersama mereka, menerima masukan mereka, dan berinteraksi secara langsung,” ungkapnya.

Maisie berharap hubungan budaya yang telah terjalin dapat terus berlanjut. Ia bahkan membuka kemungkinan kolaborasi lanjutan antara seniman Kanada dan Bali.

“Kami berharap ke depannya tetap ada kolaborasi, dan saya juga berharap kami bisa kembali lagi ke Bali, khususnya ke Banjar Paketan,” katanya.

Sesi foto bersama | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Tidak banyak hal yang bisa membuat seorang mahasiswa rela terbang dari Kanada hanya untuk memastikan apakah cara mereka memainkan tabuh sudah benar atau belum. Namun, itulah yang dilakukan 16 mahasiswa University of Waterloo malam itu. Mereka datang dari jauh untuk bermain sepenuh hati di hadapan sekaa gong yang telah hidup lebih dari satu abad. Buleleng menyambut mereka, dan gamelan, seperti biasa, tak pernah mempersoalkan dari mana asalmu.[T]

Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Banjar Paketangong kebyarKanadakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Baduy Luar

Next Post

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co