2 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
in Panggung
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Maisie Sum merupakan etnomusikolog dari Conrad Grebel University College University Of Waterloo Canada

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran budaya pada Rabu malam, 20 Mei 2026. Di sayap panggung sisi kanan tampak 16 mahasiswa Warga Shanti dari Conrad Grebel University College, University of Waterloo, Kanada. Mereka mengenakan busana adat Bali sambil memegang panggul gamelan dengan wajah penuh antusias. Sementara di sisi kiri, Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan Desa Adat Buleleng tampil percaya diri sebagai tuan rumah dengan tabuhan khas Bali Utara yang energik dan berwibawa.

Warga Shanti dari Kanada mengawali penampilannya dengan mempersembahkan empat karya dengan pembina tabuhnya Dewa Made Suparta, S.Sn. Pertama adalah Tabuh Gilak, komposisi musik atau tabuh dasar dalam karawitan Bali seperti gong kebyar dan gong gede yang memiliki pola siklus 8 ketukan. Biasanya tabuh ini berfungsi sebagai instrumen pengiring upacara. Tabuh ini memiliki tempo dinamis, bersemangat dan memberikan kesan gembira.

Penampilan itu kemudian dipadukan dengan Tari Pendet, tarian tradisional Bali yang melambangkan penyambutan dan penghormatan kepada dewa-dewi. Gerak tari yang lembut berpadu dengan tabuhan gamelan menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.

Mahasiswa Kanada juga membawakan Tabuh Lelongoran, karya karawitan khas Buleleng yang dikenal mempertahankan unsur gong lelambatan dan memiliki nuansa magis tersendiri.

Associate Professor sekaligus etnomusikolog University of Waterloo, Maisie Sum, mengaku bahwa penampilan ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik untuk ditampilkan.

“Kami sangat antusias membagikan karya khas Bali Utara ini kepada penonton,” ujar Maisie.

Warga Shanti dari University of Waterloo | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Penampilan mereka ditutup dengan Tabuh Kreasi Padurasa, komposisi yang terinspirasi dari konsep gotong royong. Karya tersebut digarap bersama oleh lima mahasiswa University of Waterloo, yakni Sarah, Arden, Hailey, Shalaka, dan Logan.

Bagi Maisie, karya itu menjadi simbol kerja bersama dan proses saling belajar antaranggota kelompok selama berada di Bali.

“Karya ini lahir dari ide bersama para mahasiswa selama kami belajar dan berproses di Bali,” ujarnya.

Banjar Paketan Unjuk Gigi Tradisi Bali Utara

Tidak kalah memukau, Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan juga menampilkan empat repertoar khas Bali dengan pembina tabuhnya I Made Pasca Wirsutha, S.Sn alias Dek Pas.

Pertunjukan dibuka dengan Tari Kembang Deeng. Menurut Ketua Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan, I Ketut Sunada, Tari Kembang Deeng merupakan tarian penyambutan yang terinspirasi dari tradisi padeengan dalam upacara pitra yadnya atau pengabenan dan lahir dari Festival Tari Penyambutan se-Bali dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 1998.

“Tarian ini menggambarkan widyadara dan widyadari yang turun dari kahyangan untuk menyambut sang atma,” tuturnya.

Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Selanjutnya, penampilan Tari Truna Jaya. Tarian ini berasal dari Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Diciptakan sekitar tahun 1915 oleh seniman Pan Wandres, tarian ini menggambarkan dinamika dan emosi seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa, serta biasanya ditarikan dengan gerakan yang lincah dan ekspresif

Sekaa Gong Eka Wakya juga membawakan Tabuh Lelongoran khas Buleleng dan Tabuh Kreasi Dwikora. Tabuh Dwikora yang dimainkan oleh kelompok gong yang telah berdiri sejak 1906 tersebut menggambarkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Kolaborasi Gamelan Bali dan Kanada di Banjar Paketan

I Ketut Sunada, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus pertukaran budaya antara mahasiswa Kanada dengan kelompok gong di Banjar Paketan.

“Kegiatan ini sebenarnya sudah pernah terselenggara sebelumnya, jadi sekarang menjadi lanjutan. Wakil ketua kami, I Made Pasca Wirsutha, S.Sn, memiliki relasi dengan mahasiswa Kanada dari University of Waterloo,” ungkapnya.

Menurut Sunada, para mahasiswa Kanada sebelumnya telah belajar gamelan secara daring bersama Dek Pas. Mereka mempelajari sejumlah tabuh seperti Gilak, Lelambatan, hingga Gong Tua yang di Buleleng dikenal dengan istilah lelongoran dan sekatian.

“Hasil pembelajaran daring itu mereka tampilkan di sini. Mereka juga ingin memastikan permainan gong yang dipelajari sudah sesuai dengan pakem aslinya,” katanya.

Tidak hanya belajar memainkan gamelan, mahasiswa Kanada tersebut juga tertarik meneliti kesenian Gong Tua yang dianggap memiliki keunikan tersendiri, khususnya di Bali Utara.

“Melalui kegiatan ini mereka juga ingin melihat langsung budaya yang ada di Banjar Paketan,” imbuhnya.

Tari Kembang Deeng dari Sekaa Gong Eka Wakya, Banjar Paketan | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Maisie Sum, mengungkapkan ketertarikannya terhadap gamelan Bali telah dimulai sejak 2004. Ketertarikan itu berkembang semakin dalam setelah kampusnya mengundang seniman Bali, Dewa Suparta, sebagai Artist-in-Residence di Conrad Grebel University College.

“Sejak saat itu kami memiliki banyak hubungan dengan Bali,” ujarnya.

Dalam kunjungannya ke Bali, Maisie bersama rombongan mahasiswa menjalani latihan di Sanggar Seni Cundamani, Ubud, selama sekitar satu minggu. Ia mengatakan para mahasiswa yang ikut merupakan peserta yang memiliki ketertarikan besar terhadap musik dan budaya Bali, sehingga ingin merasakan pengalaman belajar secara langsung di Pulau Dewata. Selain itu, mereka juga ingin memperkenalkan nuansa musik Bali Utara melalui repertoar yang dibawakan.

Tari Pendet yang diiring sekaa gong dari Warga Shanti, University of Waterloo | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Maisie menjelaskan proses mempelajari gamelan bagi mahasiswa di Kanada memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam satu semester, mereka menjalani latihan selama 12 minggu dengan durasi sekitar tiga jam setiap pertemuan. Menurutnya, hingga waktu pementasan, mahasiswa biasanya mampu menguasai sekitar tiga karya setelah kurang lebih 30 jam latihan.

“Itu tergantung pada karyanya. Kami tidak berlatih sesering masyarakat Bali biasanya berlatih,” katanya.

Ia juga mengenang salah satu karya pertama yang dipelajarinya, yakni Tari Kebyar Gandrung, yang menurutnya menjadi salah satu komposisi paling sulit untuk dimainkan.

Pertunjukan kolaborasi tersebut dinilai Maisie sebagai pengalaman yang sangat istimewa. Ia menyebut kesempatan berbagi panggung bersama Sekaa Gong Eka Wakya menjadi momen langka sekaligus berharga bagi rombongannya.

“Kami merasa sangat beruntung bisa tampil bersama mereka, menerima masukan mereka, dan berinteraksi secara langsung,” ungkapnya.

Maisie berharap hubungan budaya yang telah terjalin dapat terus berlanjut. Ia bahkan membuka kemungkinan kolaborasi lanjutan antara seniman Kanada dan Bali.

“Kami berharap ke depannya tetap ada kolaborasi, dan saya juga berharap kami bisa kembali lagi ke Bali, khususnya ke Banjar Paketan,” katanya.

Sesi foto bersama | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Tidak banyak hal yang bisa membuat seorang mahasiswa rela terbang dari Kanada hanya untuk memastikan apakah cara mereka memainkan tabuh sudah benar atau belum. Namun, itulah yang dilakukan 16 mahasiswa University of Waterloo malam itu. Mereka datang dari jauh untuk bermain sepenuh hati di hadapan sekaa gong yang telah hidup lebih dari satu abad. Buleleng menyambut mereka, dan gamelan, seperti biasa, tak pernah mempersoalkan dari mana asalmu.[T]

Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Banjar Paketangong kebyarKanadakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Baduy Luar

Next Post

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co