12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
in Panggung
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Maisie Sum merupakan etnomusikolog dari Conrad Grebel University College University Of Waterloo Canada

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran budaya pada Rabu malam, 20 Mei 2026. Di sayap panggung sisi kanan tampak 16 mahasiswa Warga Shanti dari Conrad Grebel University College, University of Waterloo, Kanada. Mereka mengenakan busana adat Bali sambil memegang panggul gamelan dengan wajah penuh antusias. Sementara di sisi kiri, Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan Desa Adat Buleleng tampil percaya diri sebagai tuan rumah dengan tabuhan khas Bali Utara yang energik dan berwibawa.

Warga Shanti dari Kanada mengawali penampilannya dengan mempersembahkan empat karya dengan pembina tabuhnya Dewa Made Suparta, S.Sn. Pertama adalah Tabuh Gilak, komposisi musik atau tabuh dasar dalam karawitan Bali seperti gong kebyar dan gong gede yang memiliki pola siklus 8 ketukan. Biasanya tabuh ini berfungsi sebagai instrumen pengiring upacara. Tabuh ini memiliki tempo dinamis, bersemangat dan memberikan kesan gembira.

Penampilan itu kemudian dipadukan dengan Tari Pendet, tarian tradisional Bali yang melambangkan penyambutan dan penghormatan kepada dewa-dewi. Gerak tari yang lembut berpadu dengan tabuhan gamelan menciptakan suasana sakral sekaligus hangat.

Mahasiswa Kanada juga membawakan Tabuh Lelongoran, karya karawitan khas Buleleng yang dikenal mempertahankan unsur gong lelambatan dan memiliki nuansa magis tersendiri.

Associate Professor sekaligus etnomusikolog University of Waterloo, Maisie Sum, mengaku bahwa penampilan ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik untuk ditampilkan.

“Kami sangat antusias membagikan karya khas Bali Utara ini kepada penonton,” ujar Maisie.

Warga Shanti dari University of Waterloo | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Penampilan mereka ditutup dengan Tabuh Kreasi Padurasa, komposisi yang terinspirasi dari konsep gotong royong. Karya tersebut digarap bersama oleh lima mahasiswa University of Waterloo, yakni Sarah, Arden, Hailey, Shalaka, dan Logan.

Bagi Maisie, karya itu menjadi simbol kerja bersama dan proses saling belajar antaranggota kelompok selama berada di Bali.

“Karya ini lahir dari ide bersama para mahasiswa selama kami belajar dan berproses di Bali,” ujarnya.

Banjar Paketan Unjuk Gigi Tradisi Bali Utara

Tidak kalah memukau, Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan juga menampilkan empat repertoar khas Bali dengan pembina tabuhnya I Made Pasca Wirsutha, S.Sn alias Dek Pas.

Pertunjukan dibuka dengan Tari Kembang Deeng. Menurut Ketua Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan, I Ketut Sunada, Tari Kembang Deeng merupakan tarian penyambutan yang terinspirasi dari tradisi padeengan dalam upacara pitra yadnya atau pengabenan dan lahir dari Festival Tari Penyambutan se-Bali dalam ajang Pesta Kesenian Bali tahun 1998.

“Tarian ini menggambarkan widyadara dan widyadari yang turun dari kahyangan untuk menyambut sang atma,” tuturnya.

Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Selanjutnya, penampilan Tari Truna Jaya. Tarian ini berasal dari Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Diciptakan sekitar tahun 1915 oleh seniman Pan Wandres, tarian ini menggambarkan dinamika dan emosi seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa, serta biasanya ditarikan dengan gerakan yang lincah dan ekspresif

Sekaa Gong Eka Wakya juga membawakan Tabuh Lelongoran khas Buleleng dan Tabuh Kreasi Dwikora. Tabuh Dwikora yang dimainkan oleh kelompok gong yang telah berdiri sejak 1906 tersebut menggambarkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Kolaborasi Gamelan Bali dan Kanada di Banjar Paketan

I Ketut Sunada, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus pertukaran budaya antara mahasiswa Kanada dengan kelompok gong di Banjar Paketan.

“Kegiatan ini sebenarnya sudah pernah terselenggara sebelumnya, jadi sekarang menjadi lanjutan. Wakil ketua kami, I Made Pasca Wirsutha, S.Sn, memiliki relasi dengan mahasiswa Kanada dari University of Waterloo,” ungkapnya.

Menurut Sunada, para mahasiswa Kanada sebelumnya telah belajar gamelan secara daring bersama Dek Pas. Mereka mempelajari sejumlah tabuh seperti Gilak, Lelambatan, hingga Gong Tua yang di Buleleng dikenal dengan istilah lelongoran dan sekatian.

“Hasil pembelajaran daring itu mereka tampilkan di sini. Mereka juga ingin memastikan permainan gong yang dipelajari sudah sesuai dengan pakem aslinya,” katanya.

Tidak hanya belajar memainkan gamelan, mahasiswa Kanada tersebut juga tertarik meneliti kesenian Gong Tua yang dianggap memiliki keunikan tersendiri, khususnya di Bali Utara.

“Melalui kegiatan ini mereka juga ingin melihat langsung budaya yang ada di Banjar Paketan,” imbuhnya.

Tari Kembang Deeng dari Sekaa Gong Eka Wakya, Banjar Paketan | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Maisie Sum, mengungkapkan ketertarikannya terhadap gamelan Bali telah dimulai sejak 2004. Ketertarikan itu berkembang semakin dalam setelah kampusnya mengundang seniman Bali, Dewa Suparta, sebagai Artist-in-Residence di Conrad Grebel University College.

“Sejak saat itu kami memiliki banyak hubungan dengan Bali,” ujarnya.

Dalam kunjungannya ke Bali, Maisie bersama rombongan mahasiswa menjalani latihan di Sanggar Seni Cundamani, Ubud, selama sekitar satu minggu. Ia mengatakan para mahasiswa yang ikut merupakan peserta yang memiliki ketertarikan besar terhadap musik dan budaya Bali, sehingga ingin merasakan pengalaman belajar secara langsung di Pulau Dewata. Selain itu, mereka juga ingin memperkenalkan nuansa musik Bali Utara melalui repertoar yang dibawakan.

Tari Pendet yang diiring sekaa gong dari Warga Shanti, University of Waterloo | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Maisie menjelaskan proses mempelajari gamelan bagi mahasiswa di Kanada memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam satu semester, mereka menjalani latihan selama 12 minggu dengan durasi sekitar tiga jam setiap pertemuan. Menurutnya, hingga waktu pementasan, mahasiswa biasanya mampu menguasai sekitar tiga karya setelah kurang lebih 30 jam latihan.

“Itu tergantung pada karyanya. Kami tidak berlatih sesering masyarakat Bali biasanya berlatih,” katanya.

Ia juga mengenang salah satu karya pertama yang dipelajarinya, yakni Tari Kebyar Gandrung, yang menurutnya menjadi salah satu komposisi paling sulit untuk dimainkan.

Pertunjukan kolaborasi tersebut dinilai Maisie sebagai pengalaman yang sangat istimewa. Ia menyebut kesempatan berbagi panggung bersama Sekaa Gong Eka Wakya menjadi momen langka sekaligus berharga bagi rombongannya.

“Kami merasa sangat beruntung bisa tampil bersama mereka, menerima masukan mereka, dan berinteraksi secara langsung,” ungkapnya.

Maisie berharap hubungan budaya yang telah terjalin dapat terus berlanjut. Ia bahkan membuka kemungkinan kolaborasi lanjutan antara seniman Kanada dan Bali.

“Kami berharap ke depannya tetap ada kolaborasi, dan saya juga berharap kami bisa kembali lagi ke Bali, khususnya ke Banjar Paketan,” katanya.

Sesi foto bersama | Foto: tatkala.co/Puja Savitri

Tidak banyak hal yang bisa membuat seorang mahasiswa rela terbang dari Kanada hanya untuk memastikan apakah cara mereka memainkan tabuh sudah benar atau belum. Namun, itulah yang dilakukan 16 mahasiswa University of Waterloo malam itu. Mereka datang dari jauh untuk bermain sepenuh hati di hadapan sekaa gong yang telah hidup lebih dari satu abad. Buleleng menyambut mereka, dan gamelan, seperti biasa, tak pernah mempersoalkan dari mana asalmu.[T]

Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Banjar Paketangong kebyarKanadakesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Baduy Luar

Next Post

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
0
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

Read moreDetails

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

Read moreDetails

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
0
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

Read moreDetails

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
0
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

Read moreDetails

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails
Next Post
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co