12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022

Salah satu penampilan Peed Aya di Pesta Kesenian Bali

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini dikemas dengan konsep yang lebih mengalir, di mana seluruh kontingen diharapkan terus bergerak sepanjang lintasan pawai tanpa berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan.

Pola tersebut diterapkan untuk menjaga kelancaran arus pawai sekaligus memberikan pengalaman yang lebih merata bagi penonton di sepanjang rute. Dengan demikian, seluruh sajian seni dapat dinikmati secara optimal tanpa menimbulkan antrean panjang maupun penumpukan peserta di satu titik.

“Tahun ini PKB XLVIII mengusung tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha. Karena itu, materi yang ditampilkan dalam Peed Aya diharapkan selaras dengan tema tersebut. Masing-masing kabupaten/kota akan menampilkan garapan tari kreasi baru, karya berbasis tradisi dan kearifan lokal, serta atraksi tematik yang merefleksikan semangat tema PKB tahun ini,” ujar Kurator PKB, Prof. I Made Bandem, saat rapat persiapan bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, dan Prof. I Wayan Dibia, Jumat 5 Juni 2026.

Selama beberapa minggu terakhir tim kurator telah melakukan pendampingan langsung ke seluruh kabupaten/kota untuk memastikan konsep tersebut dapat diterapkan secara optimal. Para pembina dan penggarap juga diminta menyesuaikan pola penyajian agar tetap menarik disaksikan tanpa menghambat jalannya pawai.

Materi wajib yang harus ditampilkan setiap peserta meliputi pembawa papan nama daerah, pasangan Jegeg Bagus, barisan penyaji tari garapan baru sekitar 60 orang sesuai tema Atma Kerthi, barisan uperengga sekitar 20 orang, serta tari garapan tematik masing-masing daerah.

Rapat persiapan Pesta Kesenian Bali 2026 bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali

Peed Aya diawali dari persembahan Pemerintah Provinsi Bali yang akan menampilkan Tari Siwa Nataraja sebagai simbol PKB dengan atraksi tematik Maha Merdangga Kalpa. Selanjutnya iring-iringan akan dimulai dari Bali Barat, yakni Kabupaten Jembrana yang menghadirkan Tari Cepaka Putih, Tari Makepung Massal dan atraksi Bima Swarga.

Kabupaten Karangasem membawakan Tari Rerejangan Tiang Sanga, Daratan Jempana serta Atma Prasangsa. Kabupaten Buleleng menampilkan Tari Kembang Deeng, Baris Suramurti dan Jaratkaru. Kabupaten Bangli menghadirkan Tari Kreasi Tajen Cocongan, Baris Tumbak, Baris Kepet, Baris Mabuang, Rejang Teruna dan atraksi Japatuan. Kabupaten Klungkung menampilkan Damar Kurung, Barong Nongkling dan Dalem Bungkut.

Kabupaten Tabanan membawakan Jayaning Singasana, Barong Bangkal Massal dan Kunti Sraya. Kabupaten Gianyar menampilkan Tari Kreasi Rarejangan, Tari Bebarisan dan Maya Denawa Pengenter. Kabupaten Badung menghadirkan Tamyang Cakra Byuha, Sasmita Surud Ayu dan Dewa Ruci. Sedangkan Kota Denpasar membawakan Tari Palegongan Kreasi, Ritus Sanghyang serta atraksi Sapuh Leger (Kama dan Kala).

“Kami sudah berdiskusi dengan seluruh penggarap di masing-masing daerah. Mereka, kami minta mengambil bagian-bagian puncak dari cerita atau materi yang dibawakan, sehingga dapat tetap ditampilkan sambil bergerak, berjalan. Pawai akan menjadi lebih hidup dan tidak menimbulkan antrean panjang,” papar Prof. Bandem meyakinkan.

Peed Aya benar-benar dikemas sebagai pertunjukan seni berjalan. Tak seperti sebelumnya, masih banyak kontingen yang berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan menampilkan adegan, fragmen dengan cerita secara lengkap. Hal itu, mirip pertunjukan seni di atas panggung. Pola ini menyebabkan antrean panjang peserta, dan jalannya pawai menjadi tersendat dan durasi keseluruhan kegiatan sering melebihi waktu yang telah ditentukan.

“Kami, tim kurator telah turun langsung ke seluruh kabupaten/kota sejak beberapa minggu terakhir. Kami memberikan arahan kepada para pembina dan penggarap agar menyesuaikan konsep garapan, sehingga menjadi tetap menarik ditonton meski ditampilkan sambil berjalan sepanjang lintasan pawai,” ujar budayawan asal Singapadu, Gianyar itu.

Para penggarap diingatkan untuk tidak perlu menampilkan materi secara utuh, seperti sebuah pementasan di panggung. Para penggarap diminta memilih bagian-bagian paling menarik atau bagian puncak dari cerita, sehingga pesan yang ingin disampaikan tetap tersampaikan tanpa membuat rombongan terlalu lama berhenti.

Selama turun ke lapangan, Tim Kurator masih menemukan kontingen yang melampaui batas waktu yang ditentukan panitia. Padahal durasi ideal yang diberikan sekitar 15 menit untuk setiap peserta. “Waktu ideal yang kami tetapkan sekitar 15 menit. Namun sering kali ada yang tampil sampai 18 menit, bahkan lebih. Tahun ini, kami berupaya agar durasi lebih terkendali sehingga seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang seimbang,” tegas Prof. Bandem.

Hal senada juga dikatakan Prof. Dibia, yang menyebutkan perubahan konsep Peed Aya tersebut telah diterapkan sejak tahap latihan. Jika sebelumnya banyak peserta berlatih dengan pola pertunjukan yang dilakukan di satu tempat, tahun ini latihan lebih diarahkan pada pola bergerak sesuai kondisi sebenarnya saat pawai berlangsung. “Prosesi yang ditampilkan akan lebih realistis karena sejak latihan sudah menggunakan pola bergerak di lapangan,” ucapnya.

Tim kurator juga menganjurkan untuk tidak menggunakan dalang maupun dialog panjang yang berpotensi membuat rombongan berhenti terlalu lama. Narasi tetap diperbolehkan sebagai pengantar, namun tidak sampai menghambat jalannya pawai. “Dengan begitu, harapannya pawai ini benar-benar menjadi pertunjukan berjalan, bukan pertunjukan yang berhenti lama di satu titik,” sebutnya.

Jika konsep tersebut dilakukan dengan tertib dan sungguh-sungguh, maka Peed Aya 2026 dapat tampil lebih dinamis dan mengalir. Penonton tetap dapat menikmati esensi cerita, garapan tari baru, tradisi maupun atraksi tematik dari masing-masing daerah tanpa mengurangi kelancaran keseluruhan jalannya pawai.

Panitia juga menyiapkan area penonton tambahan di sisi barat Lapangan Niti Mandala Renon sebagai upaua mengurai kepadatan di depan panggung kehormatan. Di area tersebut juga akan ditampilkan pertunjukan jegog, sehingga sebaran penonton lebih merata. Peed Aya akan dimulai dari simpang Jalan Ir. Juanda dan Jalan Puputan, melewati depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, kemudian bergerak ke arah utara dan berakhir di depan Kantor Kementerian Keuangan Wilayah Bali.

Perkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian

Perubahan konsep Peed Aya tersebut menjadi salah satu pembenahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Bali menjelang pembukaan PKB pada 13 Juni mendatang. Selain penataan pawai, panitia juga memperkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian yang terlibat.

Kadis Alit Suryana mengatakan, persoalan administrasi masih menjadi kendala yang kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni. Tidak sedikit kelompok yang sebenarnya telah siap mendapatkan dukungan pemerintah, namun pencairan dan proses fasilitasi terkendala karena dokumen yang belum lengkap.

“Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disbud Bali akan menerapkan pola pendampingan lebih awal. Kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada tahun berikutnya akan diminta mulai menyiapkan dokumen sejak dini agar proses administrasi berjalan lebih lancar,” paparnya.

Dinas Kebudayaan sudah bisa memetakan kelompok-kelompok yang kemungkinan akan tampil pada tahun berikutnya. “Karena itu, sejak awal kami akan meminta kelengkapan dokumen sehingga ketika proses fasilitasi dimulai semuanya sudah siap. Ini bagian dari inovasi pelayanan kami kepada para seniman dan pekerja budaya,” akunya. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dinas Kebudayaan Balipeed ayaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

Next Post

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co