1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022

Salah satu penampilan Peed Aya di Pesta Kesenian Bali

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini dikemas dengan konsep yang lebih mengalir, di mana seluruh kontingen diharapkan terus bergerak sepanjang lintasan pawai tanpa berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan.

Pola tersebut diterapkan untuk menjaga kelancaran arus pawai sekaligus memberikan pengalaman yang lebih merata bagi penonton di sepanjang rute. Dengan demikian, seluruh sajian seni dapat dinikmati secara optimal tanpa menimbulkan antrean panjang maupun penumpukan peserta di satu titik.

“Tahun ini PKB XLVIII mengusung tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha. Karena itu, materi yang ditampilkan dalam Peed Aya diharapkan selaras dengan tema tersebut. Masing-masing kabupaten/kota akan menampilkan garapan tari kreasi baru, karya berbasis tradisi dan kearifan lokal, serta atraksi tematik yang merefleksikan semangat tema PKB tahun ini,” ujar Kurator PKB, Prof. I Made Bandem, saat rapat persiapan bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, dan Prof. I Wayan Dibia, Jumat 5 Juni 2026.

Selama beberapa minggu terakhir tim kurator telah melakukan pendampingan langsung ke seluruh kabupaten/kota untuk memastikan konsep tersebut dapat diterapkan secara optimal. Para pembina dan penggarap juga diminta menyesuaikan pola penyajian agar tetap menarik disaksikan tanpa menghambat jalannya pawai.

Materi wajib yang harus ditampilkan setiap peserta meliputi pembawa papan nama daerah, pasangan Jegeg Bagus, barisan penyaji tari garapan baru sekitar 60 orang sesuai tema Atma Kerthi, barisan uperengga sekitar 20 orang, serta tari garapan tematik masing-masing daerah.

Rapat persiapan Pesta Kesenian Bali 2026 bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali

Peed Aya diawali dari persembahan Pemerintah Provinsi Bali yang akan menampilkan Tari Siwa Nataraja sebagai simbol PKB dengan atraksi tematik Maha Merdangga Kalpa. Selanjutnya iring-iringan akan dimulai dari Bali Barat, yakni Kabupaten Jembrana yang menghadirkan Tari Cepaka Putih, Tari Makepung Massal dan atraksi Bima Swarga.

Kabupaten Karangasem membawakan Tari Rerejangan Tiang Sanga, Daratan Jempana serta Atma Prasangsa. Kabupaten Buleleng menampilkan Tari Kembang Deeng, Baris Suramurti dan Jaratkaru. Kabupaten Bangli menghadirkan Tari Kreasi Tajen Cocongan, Baris Tumbak, Baris Kepet, Baris Mabuang, Rejang Teruna dan atraksi Japatuan. Kabupaten Klungkung menampilkan Damar Kurung, Barong Nongkling dan Dalem Bungkut.

Kabupaten Tabanan membawakan Jayaning Singasana, Barong Bangkal Massal dan Kunti Sraya. Kabupaten Gianyar menampilkan Tari Kreasi Rarejangan, Tari Bebarisan dan Maya Denawa Pengenter. Kabupaten Badung menghadirkan Tamyang Cakra Byuha, Sasmita Surud Ayu dan Dewa Ruci. Sedangkan Kota Denpasar membawakan Tari Palegongan Kreasi, Ritus Sanghyang serta atraksi Sapuh Leger (Kama dan Kala).

“Kami sudah berdiskusi dengan seluruh penggarap di masing-masing daerah. Mereka, kami minta mengambil bagian-bagian puncak dari cerita atau materi yang dibawakan, sehingga dapat tetap ditampilkan sambil bergerak, berjalan. Pawai akan menjadi lebih hidup dan tidak menimbulkan antrean panjang,” papar Prof. Bandem meyakinkan.

Peed Aya benar-benar dikemas sebagai pertunjukan seni berjalan. Tak seperti sebelumnya, masih banyak kontingen yang berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan menampilkan adegan, fragmen dengan cerita secara lengkap. Hal itu, mirip pertunjukan seni di atas panggung. Pola ini menyebabkan antrean panjang peserta, dan jalannya pawai menjadi tersendat dan durasi keseluruhan kegiatan sering melebihi waktu yang telah ditentukan.

“Kami, tim kurator telah turun langsung ke seluruh kabupaten/kota sejak beberapa minggu terakhir. Kami memberikan arahan kepada para pembina dan penggarap agar menyesuaikan konsep garapan, sehingga menjadi tetap menarik ditonton meski ditampilkan sambil berjalan sepanjang lintasan pawai,” ujar budayawan asal Singapadu, Gianyar itu.

Para penggarap diingatkan untuk tidak perlu menampilkan materi secara utuh, seperti sebuah pementasan di panggung. Para penggarap diminta memilih bagian-bagian paling menarik atau bagian puncak dari cerita, sehingga pesan yang ingin disampaikan tetap tersampaikan tanpa membuat rombongan terlalu lama berhenti.

Selama turun ke lapangan, Tim Kurator masih menemukan kontingen yang melampaui batas waktu yang ditentukan panitia. Padahal durasi ideal yang diberikan sekitar 15 menit untuk setiap peserta. “Waktu ideal yang kami tetapkan sekitar 15 menit. Namun sering kali ada yang tampil sampai 18 menit, bahkan lebih. Tahun ini, kami berupaya agar durasi lebih terkendali sehingga seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang seimbang,” tegas Prof. Bandem.

Hal senada juga dikatakan Prof. Dibia, yang menyebutkan perubahan konsep Peed Aya tersebut telah diterapkan sejak tahap latihan. Jika sebelumnya banyak peserta berlatih dengan pola pertunjukan yang dilakukan di satu tempat, tahun ini latihan lebih diarahkan pada pola bergerak sesuai kondisi sebenarnya saat pawai berlangsung. “Prosesi yang ditampilkan akan lebih realistis karena sejak latihan sudah menggunakan pola bergerak di lapangan,” ucapnya.

Tim kurator juga menganjurkan untuk tidak menggunakan dalang maupun dialog panjang yang berpotensi membuat rombongan berhenti terlalu lama. Narasi tetap diperbolehkan sebagai pengantar, namun tidak sampai menghambat jalannya pawai. “Dengan begitu, harapannya pawai ini benar-benar menjadi pertunjukan berjalan, bukan pertunjukan yang berhenti lama di satu titik,” sebutnya.

Jika konsep tersebut dilakukan dengan tertib dan sungguh-sungguh, maka Peed Aya 2026 dapat tampil lebih dinamis dan mengalir. Penonton tetap dapat menikmati esensi cerita, garapan tari baru, tradisi maupun atraksi tematik dari masing-masing daerah tanpa mengurangi kelancaran keseluruhan jalannya pawai.

Panitia juga menyiapkan area penonton tambahan di sisi barat Lapangan Niti Mandala Renon sebagai upaua mengurai kepadatan di depan panggung kehormatan. Di area tersebut juga akan ditampilkan pertunjukan jegog, sehingga sebaran penonton lebih merata. Peed Aya akan dimulai dari simpang Jalan Ir. Juanda dan Jalan Puputan, melewati depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, kemudian bergerak ke arah utara dan berakhir di depan Kantor Kementerian Keuangan Wilayah Bali.

Perkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian

Perubahan konsep Peed Aya tersebut menjadi salah satu pembenahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Bali menjelang pembukaan PKB pada 13 Juni mendatang. Selain penataan pawai, panitia juga memperkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian yang terlibat.

Kadis Alit Suryana mengatakan, persoalan administrasi masih menjadi kendala yang kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni. Tidak sedikit kelompok yang sebenarnya telah siap mendapatkan dukungan pemerintah, namun pencairan dan proses fasilitasi terkendala karena dokumen yang belum lengkap.

“Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disbud Bali akan menerapkan pola pendampingan lebih awal. Kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada tahun berikutnya akan diminta mulai menyiapkan dokumen sejak dini agar proses administrasi berjalan lebih lancar,” paparnya.

Dinas Kebudayaan sudah bisa memetakan kelompok-kelompok yang kemungkinan akan tampil pada tahun berikutnya. “Karena itu, sejak awal kami akan meminta kelengkapan dokumen sehingga ketika proses fasilitasi dimulai semuanya sudah siap. Ini bagian dari inovasi pelayanan kami kepada para seniman dan pekerja budaya,” akunya. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dinas Kebudayaan Balipeed ayaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

Next Post

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co