2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022

Salah satu penampilan Peed Aya di Pesta Kesenian Bali

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini dikemas dengan konsep yang lebih mengalir, di mana seluruh kontingen diharapkan terus bergerak sepanjang lintasan pawai tanpa berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan.

Pola tersebut diterapkan untuk menjaga kelancaran arus pawai sekaligus memberikan pengalaman yang lebih merata bagi penonton di sepanjang rute. Dengan demikian, seluruh sajian seni dapat dinikmati secara optimal tanpa menimbulkan antrean panjang maupun penumpukan peserta di satu titik.

“Tahun ini PKB XLVIII mengusung tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha. Karena itu, materi yang ditampilkan dalam Peed Aya diharapkan selaras dengan tema tersebut. Masing-masing kabupaten/kota akan menampilkan garapan tari kreasi baru, karya berbasis tradisi dan kearifan lokal, serta atraksi tematik yang merefleksikan semangat tema PKB tahun ini,” ujar Kurator PKB, Prof. I Made Bandem, saat rapat persiapan bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, dan Prof. I Wayan Dibia, Jumat 5 Juni 2026.

Selama beberapa minggu terakhir tim kurator telah melakukan pendampingan langsung ke seluruh kabupaten/kota untuk memastikan konsep tersebut dapat diterapkan secara optimal. Para pembina dan penggarap juga diminta menyesuaikan pola penyajian agar tetap menarik disaksikan tanpa menghambat jalannya pawai.

Materi wajib yang harus ditampilkan setiap peserta meliputi pembawa papan nama daerah, pasangan Jegeg Bagus, barisan penyaji tari garapan baru sekitar 60 orang sesuai tema Atma Kerthi, barisan uperengga sekitar 20 orang, serta tari garapan tematik masing-masing daerah.

Rapat persiapan Pesta Kesenian Bali 2026 bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali

Peed Aya diawali dari persembahan Pemerintah Provinsi Bali yang akan menampilkan Tari Siwa Nataraja sebagai simbol PKB dengan atraksi tematik Maha Merdangga Kalpa. Selanjutnya iring-iringan akan dimulai dari Bali Barat, yakni Kabupaten Jembrana yang menghadirkan Tari Cepaka Putih, Tari Makepung Massal dan atraksi Bima Swarga.

Kabupaten Karangasem membawakan Tari Rerejangan Tiang Sanga, Daratan Jempana serta Atma Prasangsa. Kabupaten Buleleng menampilkan Tari Kembang Deeng, Baris Suramurti dan Jaratkaru. Kabupaten Bangli menghadirkan Tari Kreasi Tajen Cocongan, Baris Tumbak, Baris Kepet, Baris Mabuang, Rejang Teruna dan atraksi Japatuan. Kabupaten Klungkung menampilkan Damar Kurung, Barong Nongkling dan Dalem Bungkut.

Kabupaten Tabanan membawakan Jayaning Singasana, Barong Bangkal Massal dan Kunti Sraya. Kabupaten Gianyar menampilkan Tari Kreasi Rarejangan, Tari Bebarisan dan Maya Denawa Pengenter. Kabupaten Badung menghadirkan Tamyang Cakra Byuha, Sasmita Surud Ayu dan Dewa Ruci. Sedangkan Kota Denpasar membawakan Tari Palegongan Kreasi, Ritus Sanghyang serta atraksi Sapuh Leger (Kama dan Kala).

“Kami sudah berdiskusi dengan seluruh penggarap di masing-masing daerah. Mereka, kami minta mengambil bagian-bagian puncak dari cerita atau materi yang dibawakan, sehingga dapat tetap ditampilkan sambil bergerak, berjalan. Pawai akan menjadi lebih hidup dan tidak menimbulkan antrean panjang,” papar Prof. Bandem meyakinkan.

Peed Aya benar-benar dikemas sebagai pertunjukan seni berjalan. Tak seperti sebelumnya, masih banyak kontingen yang berhenti terlalu lama di depan panggung kehormatan menampilkan adegan, fragmen dengan cerita secara lengkap. Hal itu, mirip pertunjukan seni di atas panggung. Pola ini menyebabkan antrean panjang peserta, dan jalannya pawai menjadi tersendat dan durasi keseluruhan kegiatan sering melebihi waktu yang telah ditentukan.

“Kami, tim kurator telah turun langsung ke seluruh kabupaten/kota sejak beberapa minggu terakhir. Kami memberikan arahan kepada para pembina dan penggarap agar menyesuaikan konsep garapan, sehingga menjadi tetap menarik ditonton meski ditampilkan sambil berjalan sepanjang lintasan pawai,” ujar budayawan asal Singapadu, Gianyar itu.

Para penggarap diingatkan untuk tidak perlu menampilkan materi secara utuh, seperti sebuah pementasan di panggung. Para penggarap diminta memilih bagian-bagian paling menarik atau bagian puncak dari cerita, sehingga pesan yang ingin disampaikan tetap tersampaikan tanpa membuat rombongan terlalu lama berhenti.

Selama turun ke lapangan, Tim Kurator masih menemukan kontingen yang melampaui batas waktu yang ditentukan panitia. Padahal durasi ideal yang diberikan sekitar 15 menit untuk setiap peserta. “Waktu ideal yang kami tetapkan sekitar 15 menit. Namun sering kali ada yang tampil sampai 18 menit, bahkan lebih. Tahun ini, kami berupaya agar durasi lebih terkendali sehingga seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang seimbang,” tegas Prof. Bandem.

Hal senada juga dikatakan Prof. Dibia, yang menyebutkan perubahan konsep Peed Aya tersebut telah diterapkan sejak tahap latihan. Jika sebelumnya banyak peserta berlatih dengan pola pertunjukan yang dilakukan di satu tempat, tahun ini latihan lebih diarahkan pada pola bergerak sesuai kondisi sebenarnya saat pawai berlangsung. “Prosesi yang ditampilkan akan lebih realistis karena sejak latihan sudah menggunakan pola bergerak di lapangan,” ucapnya.

Tim kurator juga menganjurkan untuk tidak menggunakan dalang maupun dialog panjang yang berpotensi membuat rombongan berhenti terlalu lama. Narasi tetap diperbolehkan sebagai pengantar, namun tidak sampai menghambat jalannya pawai. “Dengan begitu, harapannya pawai ini benar-benar menjadi pertunjukan berjalan, bukan pertunjukan yang berhenti lama di satu titik,” sebutnya.

Jika konsep tersebut dilakukan dengan tertib dan sungguh-sungguh, maka Peed Aya 2026 dapat tampil lebih dinamis dan mengalir. Penonton tetap dapat menikmati esensi cerita, garapan tari baru, tradisi maupun atraksi tematik dari masing-masing daerah tanpa mengurangi kelancaran keseluruhan jalannya pawai.

Panitia juga menyiapkan area penonton tambahan di sisi barat Lapangan Niti Mandala Renon sebagai upaua mengurai kepadatan di depan panggung kehormatan. Di area tersebut juga akan ditampilkan pertunjukan jegog, sehingga sebaran penonton lebih merata. Peed Aya akan dimulai dari simpang Jalan Ir. Juanda dan Jalan Puputan, melewati depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, kemudian bergerak ke arah utara dan berakhir di depan Kantor Kementerian Keuangan Wilayah Bali.

Perkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian

Perubahan konsep Peed Aya tersebut menjadi salah satu pembenahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Bali menjelang pembukaan PKB pada 13 Juni mendatang. Selain penataan pawai, panitia juga memperkuat pelayanan administrasi bagi seniman dan kelompok kesenian yang terlibat.

Kadis Alit Suryana mengatakan, persoalan administrasi masih menjadi kendala yang kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni. Tidak sedikit kelompok yang sebenarnya telah siap mendapatkan dukungan pemerintah, namun pencairan dan proses fasilitasi terkendala karena dokumen yang belum lengkap.

“Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disbud Bali akan menerapkan pola pendampingan lebih awal. Kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada tahun berikutnya akan diminta mulai menyiapkan dokumen sejak dini agar proses administrasi berjalan lebih lancar,” paparnya.

Dinas Kebudayaan sudah bisa memetakan kelompok-kelompok yang kemungkinan akan tampil pada tahun berikutnya. “Karena itu, sejak awal kami akan meminta kelengkapan dokumen sehingga ketika proses fasilitasi dimulai semuanya sudah siap. Ini bagian dari inovasi pelayanan kami kepada para seniman dan pekerja budaya,” akunya. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dinas Kebudayaan Balipeed ayaPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

Next Post

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co