23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
in Panggung
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Gamelan Sekar Mas ketika mengiringi suatu upacara│Foto: Dok. Putu Budi

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang, dan perangkat gamelan lainnya dimainkan dengan ritme yang hidup, mengiringi sebuah upacara dengan khidmat.

Sekelompok anak muda itu, dikenal dengan nama Sekar Mas. Seka serbabisa.

Kelompok ini seluruhnya beranggotakan anak-anak muda. Mereka bisa memainkan lebih dari satu jenis gamelan, bahkan hampir semua, seperti baleganjur, semar pegulingan, gong kebyar, gender, rindik, selonding, gong suling, hingga musik kontemporer berbasis gamelan. Meskipun tak semua dari gamelan itu mereka miliki, tapi ketika ada yang mengundang, mereka akan berupaya mencari bersama.

Sekar Mas tak sekadar pentas untuk ngayah (tampil secara ikhlas). Mereka juga sering tampil di acara desa, upacara adat, hingga festival seni. Pendiri sekaligus penggeraknya adalah I Putu Budi Artawan (22). Ia melihat peluang di tengah tantangan. “Anak muda sekarang itu sebenarnya kreatif, tinggal bagaimana membuat mereka merasa memiliki wadah. Dan Sekar Mas, adalah wadah itu,” ujar Tu Budi, sapaan akrabnya.

Gamelan Sekar Mas ketika mengiringi suatu upacara│Dok. Putu Budi

Komunitas ini lahir bukan dari perencanaan besar, melainkan dari sebuah kebetulan. Pada 1 Juni 2021, ketika sebuah upacara besar membutuhkan pengisi bagian gamelan yang kosong karena satu sanggar berhalangan hadir, Tu Budi mengajak teman-temannya untuk mengisi kekosongan itu. Dari situ, tanpa seremoni, Sekar Mas pun terbentuk.

Tu Budi mengungkapkan, anggota awalnya sekitar 25 orang, mayoritas teman satu sekolah di SMK. Mereka berkumpul karena kesamaan minat dan kedekatan usia. Tidak ada batas tegas antara pelatih dan anggota. Semua belajar bersama, saling mengisi.

“Di sini tidak ada ketua atau anak buah. Semua keluarga. Begitu prinsip kami sejak awal,” katanya.

Namun, perjalanan menuju titik itu tidaklah instan, terutama bagi Tu Budi sendiri. Ia bukan berasal dari keluarga seniman. Ayahnya seorang satpam, ibunya penjahit. Bahkan, sejak kecil, ia sempat tidak mendapat dukungan untuk menekuni seni. Keinginannya masuk sekolah seni pun ditentang, diarahkan untuk mengambil jalur yang dianggap lebih pasti, yakni pariwisata.

Ia mengikuti arahan itu. Akhirnya, pada 2019, ia masuk SMKN 2 Sukawati di jurusan perhotelan. Kendati demikian, kecintaannya pada gamelan tidak pernah benar-benar padam.

Tu Budi tetap belajar, bahkan dengan cara yang tidak mudah. Pernah ia harus menunggak biaya sanggar demi tetap bisa ikut latihan. Ia bekerja sejak kecil hanya untuk membayar uang kursus, karena memang tidak dibiayai oleh orang tua, alias tidak sanggup membayarkan. Di tengah keterbatasan itu, ia terus bertahan.

Pandangan yang ia terima saat itu pun tidak selalu ramah. Ada anggapan bahwa seseorang yang bukan berasal dari keluarga seniman sulit untuk benar-benar bisa hidup dari seni. Namun, justru dari situ muncul tekadnya.

“Saya ingin membuktikan bahwa seni bisa dipelajari oleh siapa saja, selama mau belajar,” ucapnya.

Kelompok Sekar Mas perempuan saat bermain gamelan selonding di sebuah upacara│Foto: Dok. Putu Budi

Momentum besar datang saat pandemi. Ketika banyak aktivitas terhenti, ia justru memanfaatkan waktu untuk belajar lebih luas. Ia mendatangi berbagai tempat, seperti Pejeng, Batubulan, dan wilayah lain di Gianyar untuk menyerap gaya dan karakter permainan gamelan yang berbeda-beda.

Dari pengalaman itulah ia mulai merangkai pemahamannya sendiri tentang seni karawitan. Ia tidak ingin terpaku pada satu pakem saja. Bagi Tu Budi, seni harus hidup, berkembang, dan bisa disesuaikan dengan ruang serta kebutuhan. Prinsip itu kemudian ia bawa ke dalam Sekar Mas.

Di komunitas ini, setiap anggota tidak dibiarkan terpaku pada satu alat musik. Sistem rotasi diterapkan. Seseorang yang hari ini memainkan suling, besok bisa mencoba gender atau kendang. Tujuannya sederhana, agar setiap anggota memahami keseluruhan, bukan hanya satu bagian.

Pendekatan ini tidak hanya membangun kemampuan teknis, tetapi juga karakter. Anggota belajar untuk tidak cepat puas, berani mencoba hal baru, dan memahami kerja sama dalam satu kesatuan.

Gamelan Sekar Mas ketika mengiringi suatu upacara│Foto: Dok. Putu Budi

Seiring berjalannya waktu, Sekar Mas pun berkembang. Anggotanya tidak lagi hanya dari lingkaran teman sekolah. Ada yang datang dari berbagai daerah, seperti Ketewel, Sukawati, Guwang, Batubulan, hingga Karangasem. Beberapa di antaranya bahkan merantau hanya untuk bergabung di Sekar Mas.

Tu Budi mengungkapkan, komunitas ini tidak memungut biaya sepersen pun. Ia memilih untuk membagikan ilmu yang ia dapat secara cuma-cuma, sebagaimana ia dulu pernah belajar tanpa biaya.

“Kalau saya dulu diberikan gratis, saya juga ingin memberikan dengan cara yang sama,” bebernya.

Di tengah keterbatasan alat. Bahkan di awal mereka tidak memiliki satu pun perangkat gamelan sendiri, komunitas ini tetap berjalan. Dukungan datang dari masyarakat yang percaya pada semangat mereka. Sedikit demi sedikit, alat mulai terkumpul, meskipun hingga kini masih belum lengkap.

Namun, keterbatasan itu justru menjadi ruang kreativitas. Sekar Mas tidak hanya memainkan repertoar yang sudah ada, tetapi juga menciptakan karya sendiri. Setiap kali mendapat kesempatan tampil, mereka berusaha menghadirkan tabuh baru sebagai ciri khas.

Bagi Tu Budi, menciptakan garapan tidak bisa dipaksakan. Ia mengibaratkan proses itu seperti membuat pakaian: harus diukur terlebih dahulu sebelum dijahit, agar sesuai dengan ‘tubuh’ atau ruang tempat karya itu akan dimainkan.

Eksplorasi itu bahkan melampaui batas lokal. Sekar Mas pernah berkolaborasi dengan seniman dari Jepang, menggabungkan instrumen gamelan dengan unsur musik lain dalam sebuah pertunjukan lintas budaya. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus statis. Ia bisa berdialog dengan dunia luar tanpa kehilangan identitas.

Sekar Mas berkolaborasi dengan musik Jepang│Foto: Dok. Putu Budi

Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam, yaitu waktu dan konsistensi anggota. Sebagian anggota mulai disibukkan dengan pekerjaan, hubungan asmara, dan tanggung jawab lain. Mengatur waktu antara kehidupan pribadi dan komunitas menjadi tantangan tersendiri.

Selain itu, Tu Budi mengatakan, pengakuan masyarakat juga belum sepenuhnya didapat. Komunitas ini masih dipandang ‘labil’ karena digerakkan dan dijalankan oleh anak-anak muda. Namun, hal itu tidak menghentikan langkah mereka.

Bagi sebagian anggota, Sekar Mas bukan hanya tempat belajar musik, tetapi juga ruang untuk menemukan diri. Seorang anggota, I Nyoman Septeyana (23),yang kini bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit mengaku awalnya hanya bisa memainkan suling. Sebelum bergabung dengan Sekar Mas, ia sempat merasa tidak percaya diri berada di lingkungan seniman.

Namun, dorongan untuk berkembang membuatnya terus belajar. Dari yang awalnya terpaksa, ia kemudian menemukan kecintaan baru semenjak bergabung dengan Sekar Mas. Ia bahkan membeli rindik sendiri untuk berlatih.

“Selain ilmu, saya dapat teman dan pengalaman. Lingkungan saya jadi lebih luas. Bahkan, saya juga belajar bagaimana cara mengajar dari Tu Budi,” kata Septeyana.

Selain Septeyana, anggota lain, Made Hari Oma (18), juga merasakan manfaatnya. “Di Sekar Mas saya bisa belajar, bisa tampil, bisa merasa jadi bagian dari tradisi, dan menambah teman,” ujarnya.

Dari pengakuan beberapa anggota itu, Sekar Mas seolah menjadi semacam ‘laboratorium kreatif’ yang menjembatani antara tradisi dan eksplorasi bagi anak-anak muda pecinta seni di Bali, khususnya Gianyar.

Cerita seperti itu bukan satu dua. Tu Budi mengungkapkan, banyak anggota yang datang dengan kemampuan terbatas, lalu tumbuh bersama komunitas ini. Mereka belajar tidak hanya tentang teknik, tetapi juga tentang disiplin, kerja sama, dan rasa tanggung jawab.

Kelompok Sekar Mas perempuan saat bermain gamelan selonding di sebuah upacara│Foto: Dok. Putu Budi

 

Gamelan Sekar Mas ketika pentas mengiringi suatu pertunjukan│Foto: Dok. Putu Budi

Di tengah derasnya arus teknologi yang sering membuat anak muda larut dalam dunia digital, Sekar Mas menjadi alternatif. Sebuah ruang nyata, di mana interaksi terjadi secara langsung, di mana proses tidak instan, dan di mana nilai-nilai kebersamaan dibangun.

Tu Budi menyadari betul tantangan ini. Ia melihat bagaimana teknologi mengubah cara anak muda berinteraksi. Karena itu, ia berharap kehadiran Sekar Mas bisa menjadi wadah yang bermanfaat bagi banyak orang. Tidak hanya sebagai komunitas, tetapi juga sebagai sanggar atau bahkan sekolah seni yang bisa diakses siapa saja.

“Saya ingin seni tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif atau hanya milik kalangan tertentu. Seni, menurut saya, adalah ruang belajar yang terbuka untuk siapa pun,” tegasnya.

“Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, saya berharap Sekar Mas dapat dikenang sebagai tempat di mana anak muda bisa tumbuh. Tidak hanya sebagai penabuh, tetapi juga individu yang memiliki karakter,” pungkas Tu Budi.

Di tengah dunia yang bergerak kian cepat, keberadaan komunitas seperti Sekar Mas menjadi penting. Mereka bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali dengan cara yang relevan.

Pada akhirnya, Sekar Mas bukan sekadar komunitas. Ia adalah proses, perjalanan Panjang, dan bagi banyak anak muda, ia adalah ruang untuk bekreativitas dan bertumbuh. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa KetewelGianyarkesenian baliSekaa Sekar Mas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

Next Post

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
0
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

Read moreDetails

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co