12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
May 22, 2026
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan olokan dibanding sumber optimisme. Arsenal beberapa kali gagal dalam perebutan gelar, bahkan menjadi runner-up liga selama tiga musim berturut-turut. Namun fans mereka terus mengulang satu hal: percaya proses.

Dan kesabaran itu bukan sebentar. Arsenal harus menunggu selama 22 tahun untuk kembali merasakan gelar liga. Dalam rentang waktu itu, mereka melewati pergantian generasi, kegagalan demi kegagalan, hingga menjadi bahan ejekan rival-rivalnya. Banyak fans kecewa, marah, bahkan kehilangan harapan. Namun sebagian tetap percaya bahwa klub mereka sedang membangun sesuatu yang pada akhirnya akan membuahkan hasil.

Di tengah budaya sepak bola modern yang menuntut hasil instan, kesabaran fans Arsenal terasa aneh. Banyak klub memecat pelatih hanya karena satu musim buruk. Namun Arsenal memilih bertahan dengan Mikel Arteta. Mereka memberi waktu, ruang, dan dukungan untuk proyek jangka panjang.

Menariknya, kepercayaan itu tidak lahir dari slogan kosong. Arsenal perlahan menunjukkan bahwa memang ada fondasi yang sedang dibangun. Rekrutmen pemain lebih terarah, identitas permainan mulai terlihat, pemain muda berkembang, dan kultur klub berubah. Bahkan ketika trofi belum datang, publik bisa melihat arah yang jelas. Fans Arsenal tidak percaya karena dijanjikan gelar setiap musim, tetapi karena mereka merasa klub benar-benar bergerak menuju sesuatu.

Dalam politik, logika yang sama sebenarnya berlaku. Publik tidak selalu menuntut hasil instan. Kadang masyarakat bersedia bersabar menghadapi proses panjang, selama mereka percaya bahwa proses itu nyata dan masuk akal. Di Kuba pasca-revolusi Fidel Castro, banyak rakyat tetap mendukung pemerintahan baru meski menghadapi tekanan ekonomi dan embargo karena mereka merasa sedang membangun kedaulatan nasional yang lebih adil melalui reforma agraria, pendidikan massal, layanan kesehatan universal, dan lain-lain.

Hal serupa terjadi di Venezuela pada awal era Hugo Chávez, ketika masyarakat kelas bawah rela memberi waktu bagi proyek politik Chávez karena merasa akhirnya ada negara yang berpihak kepada mereka. Program sosial seperti pendidikan gratis, subsidi pangan, dan layanan kesehatan untuk kelas bawah membangun loyalitas politik yang sangat kuat. Bahkan ketika inflasi mulai naik dan ekonomi menunjukkan masalah struktural, banyak pendukung tetap percaya bahwa proyek Chávez sedang “dikepung” elite lama dan tekanan asing, sehingga membutuhkan kesabaran dan solidaritas rakyat.

Kedua pengalaman itu menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu menuntut hasil instan. Mereka bisa menerima proses panjang, bahkan pengorbanan ekonomi, selama ada keyakinan bahwa pemerintah memiliki arah yang jelas, komunikasi yang jujur, dan keberpihakan yang nyata terhadap rakyat.

Pemerintahan Prabowo Subianto hari ini sebenarnya juga boleh memiliki visi besar dan target jangka panjang. Tidak ada yang salah dengan ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih atau program sosial berskala besar lainnya. Namun seperti Arsenal, visi panjang hanya akan dipercaya jika publik dapat melihat fondasi yang sedang dibangun dari hari ke hari.

Masalahnya, banyak masyarakat hari ini justru merasa jauh dari keyakinan tersebut. Pertanyaan mereka bukan lagi soal jargon besar tentang masa depan, melainkan soal kehidupan sehari-hari yang semakin berat: apakah harga kebutuhan pokok akan stabil? Apakah lapangan kerja benar-benar tersedia? Mengapa pemutusan hubungan kerja terus terjadi di berbagai sektor? Mengapa daya beli melemah sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami tekanan?

Bagi rakyat biasa, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi makro. Itu berarti harga barang naik, biaya hidup meningkat, dan rasa cemas terhadap masa depan semakin besar. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Mereka ingin melihat arah kebijakan yang jelas dan meyakinkan.

Situasi itu diperumit oleh sejumlah persoalan eksternal dan politik luar negeri. Kontroversi terkait Board of Peace (BOP) serta perjanjian ART antara Amerika Serikat dan Indonesia memunculkan pertanyaan tentang posisi Indonesia di tengah rivalitas global. Namun isu-isu tersebut tidak dijelaskan secara memadai kepada publik. Pemerintah terlihat lebih sibuk membangun citra optimistis dibanding menerangkan risiko dan konsekuensi kebijakan secara terbuka.

Padahal kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan. Ia dibangun lewat konsistensi, keterbukaan, dan kemampuan menunjukkan progres yang nyata. Fans Arsenal bisa menerima kegagalan menjadi juara selama mereka melihat klub bergerak ke arah yang benar. Mereka melihat pola permainan, perkembangan pemain muda, dan keputusan-keputusan yang terasa masuk akal.

Pemerintah sebenarnya bisa belajar dari hal yang sama. Rakyat mungkin bersedia menunggu hasil besar, asal mereka melihat fondasi yang jelas dan merasa pemerintah memahami keresahan mereka. Karena pada akhirnya, trust the process bukan sekadar meminta publik untuk sabar. Ia adalah kemampuan menunjukkan bahwa proses itu benar-benar ada, berjalan, dan layak dipercaya.[T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: ArsenalPrabowo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

Next Post

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co