23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
in Ulas Musik
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ilustrasi dibuat dengan AI

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan iringan harmonium yang meditatif, lagu ini menciptakan suasana kesunyian yang hampir spiritual. Liriknya menggambarkan seseorang yang berjalan di taman, dikelilingi keindahan alam, namun membawa hati yang berat oleh kenangan dan kehilangan.

Jika dibaca melalui pendekatan hermeneutika, lagu ini sebenarnya membuka kemungkinan tafsir lintas budaya. Meskipun lahir dari tradisi rock Inggris awal 1970-an, pengalaman eksistensial yang digambarkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara. Dalam banyak tradisi lokal dari Jawa hingga Sumatra, alam, ingatan, dan kesedihan bukan sekadar pengalaman emosional pribadi, tetapi bagian dari kosmologi kehidupan.

Dengan kata lain, “taman” dalam lagu ini dapat dibaca sejajar dengan ruang-ruang kontemplatif dalam budaya Nusantara: kebun, hutan kecil, pematang sawah, tepian sungai, atau bahkan halaman rumah yang sunyi di sore hari.

Alam sebagai Ruang Kontemplasi dalam Budaya Nusantara

Dalam lirik “The Park”, tokoh berjalan sendirian di antara batu dan pepohonan, mencari ketenangan jiwa. Gambaran ini sangat dekat dengan cara masyarakat Nusantara memaknai alam.

Dalam budaya Jawa misalnya, terdapat konsep “menepi” atau “lelaku sepi” sebuah praktik menyendiri untuk menenangkan batin. Orang pergi ke tempat sunyi: hutan kecil, gunung, atau tepi sungai. Tujuannya bukan sekadar menikmati alam, tetapi mendengarkan suara batin.

Tradisi ini memiliki kemiripan hermeneutik dengan pengalaman tokoh dalam lagu tersebut. Alam bukan sekadar latar, melainkan medium dialog antara manusia dan dirinya sendiri.

Dalam konteks Nusantara, taman dapat dipahami sebagai simbol “pekarangan batin”. Di banyak desa, halaman rumah dipenuhi pohon mangga, jambu, pisang, atau bunga melati. Tempat sederhana itu sering menjadi ruang refleksi: tempat orang tua duduk sore hari, tempat anak-anak bermain, sekaligus tempat seseorang mengenang masa lalu.

Dengan demikian, “taman” dalam lagu ini dapat ditafsirkan secara kultural sebagai ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan waktu, alam, dan kenangan.

Hati yang Berat dan Tradisi Kesunyian Timur

Salah satu simbol utama dalam lagu ini adalah “heavy heart”, hati yang berat. Dalam tradisi Barat modern, kesedihan sering dipahami sebagai pengalaman psikologis individu. Namun dalam kultur Nusantara, kesedihan sering dilihat sebagai bagian dari perjalanan batin.

Dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”, hidup hanyalah singgah untuk minum. Ungkapan ini menunjukkan kesadaran mendalam tentang kefanaan hidup.

Kesedihan dalam konteks ini bukan sekadar penderitaan, tetapi bentuk kesadaran spiritual. Ia membuat manusia lebih peka terhadap makna kehidupan.

Jika lirik “The Park” dibaca melalui perspektif ini, hati yang berat bukan hanya ekspresi duka pribadi, tetapi juga kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Alam yang indah tetap ada, sementara manusia datang dan pergi.

Pandangan ini memiliki resonansi dengan pemikiran hermeneutika eksistensial yang dikembangkan oleh Martin Heidegger, yang melihat manusia sebagai makhluk yang selalu hidup dalam bayang-bayang kefanaan. Namun dalam kultur Nusantara, kesadaran itu tidak selalu melahirkan kecemasan; sering kali ia melahirkan sikap nrimo, penerimaan yang tenang terhadap perjalanan hidup.

Kenangan dan Kehilangan dalam Ingatan Kolektif

Bagian paling menyentuh dari lagu ini adalah pengakuan bahwa “impian saudara saya dulu terbang di sini.” Kalimat ini membuka ruang hermeneutika yang sangat luas.

Dalam budaya Nusantara, hubungan dengan saudara atau keluarga memiliki dimensi emosional dan spiritual yang kuat. Kenangan tentang orang yang telah pergi tidak dianggap sepenuhnya hilang; ia tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Misalnya dalam tradisi ziarah makam di berbagai daerah Indonesia. Orang datang ke makam keluarga bukan sekadar untuk mengenang, tetapi untuk merawat hubungan batin dengan masa lalu.

Jika “taman” dalam lagu ini dibaca melalui perspektif tersebut, maka ia menjadi semacam ruang memori. Tempat itu menyimpan jejak kehidupan yang pernah terjadi di sana.

Di desa-desa Nusantara, pengalaman ini sangat akrab: seseorang kembali ke tempat masa kecilnya, pohon tempat bermain, sungai tempat mandi, atau lapangan tempat berkumpul, dan tiba-tiba merasakan kehadiran kenangan yang begitu kuat.

Dengan demikian, lirik tentang “impian saudara yang pernah terbang” dapat dipahami sebagai metafora universal tentang kehilangan, tetapi sekaligus juga sangat dekat dengan pengalaman budaya Nusantara yang menghargai ingatan sebagai bagian dari kehidupan.

Musik sebagai Ruang Meditasi

Aransemen musik dalam “The Park” juga memiliki kualitas yang sangat kontemplatif. Harmoni yang lambat dan vokal falseto menciptakan suasana meditatif.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Jika didengarkan dalam konteks budaya Nusantara, atmosfer ini memiliki kemiripan dengan musik tradisional yang bersifat reflektif, misalnya tembang Jawa yang dinyanyikan pelan pada malam hari, atau alunan musik yang mengiringi ritual kontemplasi.

Dalam kedua tradisi tersebut, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang batin. Ia membantu manusia memasuki keadaan reflektif.

Karena itu, meskipun lagu ini berasal dari tradisi rock progresif Barat, nuansa musikalnya secara mengejutkan selaras dengan tradisi kontemplatif Timur.

Taman sebagai Metafora Kehidupan Nusantara

Jika dibaca secara menyeluruh, “The Park” dapat dipahami sebagai metafora kehidupan yang sangat dekat dengan pengalaman Nusantara.

Di banyak kota kecil atau desa di Indonesia, kehidupan sering berpusat pada ruang terbuka: lapangan desa, tepi sungai, warung kopi, atau taman kecil. Tempat-tempat ini menjadi saksi perjalanan hidup manusia pertemuan, perpisahan, cinta, dan kehilangan.

Seseorang mungkin duduk di warung kopi pada sore hari, memandang jalan yang lengang, dan tiba-tiba teringat teman lama yang sudah pergi merantau atau bahkan telah meninggal. Pengalaman sederhana ini memiliki resonansi emosional yang sama dengan pengalaman tokoh dalam lagu “The Park”.

Dalam arti ini, taman bukan hanya simbol alam, tetapi simbol kehidupan itu sendiri: tempat manusia datang membawa mimpi, lalu suatu hari meninggalkannya sebagai kenangan.

Resonansi Universal antara Barat dan Nusantara

Melalui pendekatan hermeneutika lintas budaya, “The Park” karya Uriah Heep dapat dipahami sebagai karya yang melampaui batas geografis. Lagu ini memang lahir dari tradisi rock Inggris, tetapi pengalaman emosional yang diungkapkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara.

Alam sebagai ruang kontemplasi, kesedihan sebagai bagian dari perjalanan batin, serta kenangan tentang orang yang telah pergi, semuanya adalah pengalaman universal yang juga hidup dalam tradisi budaya Indonesia.

Dalam lanskap Nusantara, taman itu bisa berubah bentuk: menjadi pematang sawah di desa, halaman rumah yang teduh, tepi sungai yang sepi, atau bangku taman kota pada senja hari.

Di tempat-tempat sederhana itulah manusia sering menemukan dirinya sendiri seperti tokoh dalam lagu “The Park”: berjalan perlahan di antara pepohonan, mendengarkan angin yang membawa kembali gema mimpi-mimpi lama.

Dan mungkin di situlah makna terdalam lagu ini berada: bahwa kesunyian alam sering kali menjadi cermin paling jujur bagi ingatan dan kehidupan manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Next Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co