12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
in Ulas Musik
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ilustrasi dibuat dengan AI

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan iringan harmonium yang meditatif, lagu ini menciptakan suasana kesunyian yang hampir spiritual. Liriknya menggambarkan seseorang yang berjalan di taman, dikelilingi keindahan alam, namun membawa hati yang berat oleh kenangan dan kehilangan.

Jika dibaca melalui pendekatan hermeneutika, lagu ini sebenarnya membuka kemungkinan tafsir lintas budaya. Meskipun lahir dari tradisi rock Inggris awal 1970-an, pengalaman eksistensial yang digambarkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara. Dalam banyak tradisi lokal dari Jawa hingga Sumatra, alam, ingatan, dan kesedihan bukan sekadar pengalaman emosional pribadi, tetapi bagian dari kosmologi kehidupan.

Dengan kata lain, “taman” dalam lagu ini dapat dibaca sejajar dengan ruang-ruang kontemplatif dalam budaya Nusantara: kebun, hutan kecil, pematang sawah, tepian sungai, atau bahkan halaman rumah yang sunyi di sore hari.

Alam sebagai Ruang Kontemplasi dalam Budaya Nusantara

Dalam lirik “The Park”, tokoh berjalan sendirian di antara batu dan pepohonan, mencari ketenangan jiwa. Gambaran ini sangat dekat dengan cara masyarakat Nusantara memaknai alam.

Dalam budaya Jawa misalnya, terdapat konsep “menepi” atau “lelaku sepi” sebuah praktik menyendiri untuk menenangkan batin. Orang pergi ke tempat sunyi: hutan kecil, gunung, atau tepi sungai. Tujuannya bukan sekadar menikmati alam, tetapi mendengarkan suara batin.

Tradisi ini memiliki kemiripan hermeneutik dengan pengalaman tokoh dalam lagu tersebut. Alam bukan sekadar latar, melainkan medium dialog antara manusia dan dirinya sendiri.

Dalam konteks Nusantara, taman dapat dipahami sebagai simbol “pekarangan batin”. Di banyak desa, halaman rumah dipenuhi pohon mangga, jambu, pisang, atau bunga melati. Tempat sederhana itu sering menjadi ruang refleksi: tempat orang tua duduk sore hari, tempat anak-anak bermain, sekaligus tempat seseorang mengenang masa lalu.

Dengan demikian, “taman” dalam lagu ini dapat ditafsirkan secara kultural sebagai ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan waktu, alam, dan kenangan.

Hati yang Berat dan Tradisi Kesunyian Timur

Salah satu simbol utama dalam lagu ini adalah “heavy heart”, hati yang berat. Dalam tradisi Barat modern, kesedihan sering dipahami sebagai pengalaman psikologis individu. Namun dalam kultur Nusantara, kesedihan sering dilihat sebagai bagian dari perjalanan batin.

Dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”, hidup hanyalah singgah untuk minum. Ungkapan ini menunjukkan kesadaran mendalam tentang kefanaan hidup.

Kesedihan dalam konteks ini bukan sekadar penderitaan, tetapi bentuk kesadaran spiritual. Ia membuat manusia lebih peka terhadap makna kehidupan.

Jika lirik “The Park” dibaca melalui perspektif ini, hati yang berat bukan hanya ekspresi duka pribadi, tetapi juga kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Alam yang indah tetap ada, sementara manusia datang dan pergi.

Pandangan ini memiliki resonansi dengan pemikiran hermeneutika eksistensial yang dikembangkan oleh Martin Heidegger, yang melihat manusia sebagai makhluk yang selalu hidup dalam bayang-bayang kefanaan. Namun dalam kultur Nusantara, kesadaran itu tidak selalu melahirkan kecemasan; sering kali ia melahirkan sikap nrimo, penerimaan yang tenang terhadap perjalanan hidup.

Kenangan dan Kehilangan dalam Ingatan Kolektif

Bagian paling menyentuh dari lagu ini adalah pengakuan bahwa “impian saudara saya dulu terbang di sini.” Kalimat ini membuka ruang hermeneutika yang sangat luas.

Dalam budaya Nusantara, hubungan dengan saudara atau keluarga memiliki dimensi emosional dan spiritual yang kuat. Kenangan tentang orang yang telah pergi tidak dianggap sepenuhnya hilang; ia tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Misalnya dalam tradisi ziarah makam di berbagai daerah Indonesia. Orang datang ke makam keluarga bukan sekadar untuk mengenang, tetapi untuk merawat hubungan batin dengan masa lalu.

Jika “taman” dalam lagu ini dibaca melalui perspektif tersebut, maka ia menjadi semacam ruang memori. Tempat itu menyimpan jejak kehidupan yang pernah terjadi di sana.

Di desa-desa Nusantara, pengalaman ini sangat akrab: seseorang kembali ke tempat masa kecilnya, pohon tempat bermain, sungai tempat mandi, atau lapangan tempat berkumpul, dan tiba-tiba merasakan kehadiran kenangan yang begitu kuat.

Dengan demikian, lirik tentang “impian saudara yang pernah terbang” dapat dipahami sebagai metafora universal tentang kehilangan, tetapi sekaligus juga sangat dekat dengan pengalaman budaya Nusantara yang menghargai ingatan sebagai bagian dari kehidupan.

Musik sebagai Ruang Meditasi

Aransemen musik dalam “The Park” juga memiliki kualitas yang sangat kontemplatif. Harmoni yang lambat dan vokal falseto menciptakan suasana meditatif.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Jika didengarkan dalam konteks budaya Nusantara, atmosfer ini memiliki kemiripan dengan musik tradisional yang bersifat reflektif, misalnya tembang Jawa yang dinyanyikan pelan pada malam hari, atau alunan musik yang mengiringi ritual kontemplasi.

Dalam kedua tradisi tersebut, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang batin. Ia membantu manusia memasuki keadaan reflektif.

Karena itu, meskipun lagu ini berasal dari tradisi rock progresif Barat, nuansa musikalnya secara mengejutkan selaras dengan tradisi kontemplatif Timur.

Taman sebagai Metafora Kehidupan Nusantara

Jika dibaca secara menyeluruh, “The Park” dapat dipahami sebagai metafora kehidupan yang sangat dekat dengan pengalaman Nusantara.

Di banyak kota kecil atau desa di Indonesia, kehidupan sering berpusat pada ruang terbuka: lapangan desa, tepi sungai, warung kopi, atau taman kecil. Tempat-tempat ini menjadi saksi perjalanan hidup manusia pertemuan, perpisahan, cinta, dan kehilangan.

Seseorang mungkin duduk di warung kopi pada sore hari, memandang jalan yang lengang, dan tiba-tiba teringat teman lama yang sudah pergi merantau atau bahkan telah meninggal. Pengalaman sederhana ini memiliki resonansi emosional yang sama dengan pengalaman tokoh dalam lagu “The Park”.

Dalam arti ini, taman bukan hanya simbol alam, tetapi simbol kehidupan itu sendiri: tempat manusia datang membawa mimpi, lalu suatu hari meninggalkannya sebagai kenangan.

Resonansi Universal antara Barat dan Nusantara

Melalui pendekatan hermeneutika lintas budaya, “The Park” karya Uriah Heep dapat dipahami sebagai karya yang melampaui batas geografis. Lagu ini memang lahir dari tradisi rock Inggris, tetapi pengalaman emosional yang diungkapkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara.

Alam sebagai ruang kontemplasi, kesedihan sebagai bagian dari perjalanan batin, serta kenangan tentang orang yang telah pergi, semuanya adalah pengalaman universal yang juga hidup dalam tradisi budaya Indonesia.

Dalam lanskap Nusantara, taman itu bisa berubah bentuk: menjadi pematang sawah di desa, halaman rumah yang teduh, tepi sungai yang sepi, atau bangku taman kota pada senja hari.

Di tempat-tempat sederhana itulah manusia sering menemukan dirinya sendiri seperti tokoh dalam lagu “The Park”: berjalan perlahan di antara pepohonan, mendengarkan angin yang membawa kembali gema mimpi-mimpi lama.

Dan mungkin di situlah makna terdalam lagu ini berada: bahwa kesunyian alam sering kali menjadi cermin paling jujur bagi ingatan dan kehidupan manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Next Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co