2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
in Ulas Musik
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ilustrasi dibuat dengan AI

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan iringan harmonium yang meditatif, lagu ini menciptakan suasana kesunyian yang hampir spiritual. Liriknya menggambarkan seseorang yang berjalan di taman, dikelilingi keindahan alam, namun membawa hati yang berat oleh kenangan dan kehilangan.

Jika dibaca melalui pendekatan hermeneutika, lagu ini sebenarnya membuka kemungkinan tafsir lintas budaya. Meskipun lahir dari tradisi rock Inggris awal 1970-an, pengalaman eksistensial yang digambarkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara. Dalam banyak tradisi lokal dari Jawa hingga Sumatra, alam, ingatan, dan kesedihan bukan sekadar pengalaman emosional pribadi, tetapi bagian dari kosmologi kehidupan.

Dengan kata lain, “taman” dalam lagu ini dapat dibaca sejajar dengan ruang-ruang kontemplatif dalam budaya Nusantara: kebun, hutan kecil, pematang sawah, tepian sungai, atau bahkan halaman rumah yang sunyi di sore hari.

Alam sebagai Ruang Kontemplasi dalam Budaya Nusantara

Dalam lirik “The Park”, tokoh berjalan sendirian di antara batu dan pepohonan, mencari ketenangan jiwa. Gambaran ini sangat dekat dengan cara masyarakat Nusantara memaknai alam.

Dalam budaya Jawa misalnya, terdapat konsep “menepi” atau “lelaku sepi” sebuah praktik menyendiri untuk menenangkan batin. Orang pergi ke tempat sunyi: hutan kecil, gunung, atau tepi sungai. Tujuannya bukan sekadar menikmati alam, tetapi mendengarkan suara batin.

Tradisi ini memiliki kemiripan hermeneutik dengan pengalaman tokoh dalam lagu tersebut. Alam bukan sekadar latar, melainkan medium dialog antara manusia dan dirinya sendiri.

Dalam konteks Nusantara, taman dapat dipahami sebagai simbol “pekarangan batin”. Di banyak desa, halaman rumah dipenuhi pohon mangga, jambu, pisang, atau bunga melati. Tempat sederhana itu sering menjadi ruang refleksi: tempat orang tua duduk sore hari, tempat anak-anak bermain, sekaligus tempat seseorang mengenang masa lalu.

Dengan demikian, “taman” dalam lagu ini dapat ditafsirkan secara kultural sebagai ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan waktu, alam, dan kenangan.

Hati yang Berat dan Tradisi Kesunyian Timur

Salah satu simbol utama dalam lagu ini adalah “heavy heart”, hati yang berat. Dalam tradisi Barat modern, kesedihan sering dipahami sebagai pengalaman psikologis individu. Namun dalam kultur Nusantara, kesedihan sering dilihat sebagai bagian dari perjalanan batin.

Dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”, hidup hanyalah singgah untuk minum. Ungkapan ini menunjukkan kesadaran mendalam tentang kefanaan hidup.

Kesedihan dalam konteks ini bukan sekadar penderitaan, tetapi bentuk kesadaran spiritual. Ia membuat manusia lebih peka terhadap makna kehidupan.

Jika lirik “The Park” dibaca melalui perspektif ini, hati yang berat bukan hanya ekspresi duka pribadi, tetapi juga kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Alam yang indah tetap ada, sementara manusia datang dan pergi.

Pandangan ini memiliki resonansi dengan pemikiran hermeneutika eksistensial yang dikembangkan oleh Martin Heidegger, yang melihat manusia sebagai makhluk yang selalu hidup dalam bayang-bayang kefanaan. Namun dalam kultur Nusantara, kesadaran itu tidak selalu melahirkan kecemasan; sering kali ia melahirkan sikap nrimo, penerimaan yang tenang terhadap perjalanan hidup.

Kenangan dan Kehilangan dalam Ingatan Kolektif

Bagian paling menyentuh dari lagu ini adalah pengakuan bahwa “impian saudara saya dulu terbang di sini.” Kalimat ini membuka ruang hermeneutika yang sangat luas.

Dalam budaya Nusantara, hubungan dengan saudara atau keluarga memiliki dimensi emosional dan spiritual yang kuat. Kenangan tentang orang yang telah pergi tidak dianggap sepenuhnya hilang; ia tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Misalnya dalam tradisi ziarah makam di berbagai daerah Indonesia. Orang datang ke makam keluarga bukan sekadar untuk mengenang, tetapi untuk merawat hubungan batin dengan masa lalu.

Jika “taman” dalam lagu ini dibaca melalui perspektif tersebut, maka ia menjadi semacam ruang memori. Tempat itu menyimpan jejak kehidupan yang pernah terjadi di sana.

Di desa-desa Nusantara, pengalaman ini sangat akrab: seseorang kembali ke tempat masa kecilnya, pohon tempat bermain, sungai tempat mandi, atau lapangan tempat berkumpul, dan tiba-tiba merasakan kehadiran kenangan yang begitu kuat.

Dengan demikian, lirik tentang “impian saudara yang pernah terbang” dapat dipahami sebagai metafora universal tentang kehilangan, tetapi sekaligus juga sangat dekat dengan pengalaman budaya Nusantara yang menghargai ingatan sebagai bagian dari kehidupan.

Musik sebagai Ruang Meditasi

Aransemen musik dalam “The Park” juga memiliki kualitas yang sangat kontemplatif. Harmoni yang lambat dan vokal falseto menciptakan suasana meditatif.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Jika didengarkan dalam konteks budaya Nusantara, atmosfer ini memiliki kemiripan dengan musik tradisional yang bersifat reflektif, misalnya tembang Jawa yang dinyanyikan pelan pada malam hari, atau alunan musik yang mengiringi ritual kontemplasi.

Dalam kedua tradisi tersebut, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang batin. Ia membantu manusia memasuki keadaan reflektif.

Karena itu, meskipun lagu ini berasal dari tradisi rock progresif Barat, nuansa musikalnya secara mengejutkan selaras dengan tradisi kontemplatif Timur.

Taman sebagai Metafora Kehidupan Nusantara

Jika dibaca secara menyeluruh, “The Park” dapat dipahami sebagai metafora kehidupan yang sangat dekat dengan pengalaman Nusantara.

Di banyak kota kecil atau desa di Indonesia, kehidupan sering berpusat pada ruang terbuka: lapangan desa, tepi sungai, warung kopi, atau taman kecil. Tempat-tempat ini menjadi saksi perjalanan hidup manusia pertemuan, perpisahan, cinta, dan kehilangan.

Seseorang mungkin duduk di warung kopi pada sore hari, memandang jalan yang lengang, dan tiba-tiba teringat teman lama yang sudah pergi merantau atau bahkan telah meninggal. Pengalaman sederhana ini memiliki resonansi emosional yang sama dengan pengalaman tokoh dalam lagu “The Park”.

Dalam arti ini, taman bukan hanya simbol alam, tetapi simbol kehidupan itu sendiri: tempat manusia datang membawa mimpi, lalu suatu hari meninggalkannya sebagai kenangan.

Resonansi Universal antara Barat dan Nusantara

Melalui pendekatan hermeneutika lintas budaya, “The Park” karya Uriah Heep dapat dipahami sebagai karya yang melampaui batas geografis. Lagu ini memang lahir dari tradisi rock Inggris, tetapi pengalaman emosional yang diungkapkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara.

Alam sebagai ruang kontemplasi, kesedihan sebagai bagian dari perjalanan batin, serta kenangan tentang orang yang telah pergi, semuanya adalah pengalaman universal yang juga hidup dalam tradisi budaya Indonesia.

Dalam lanskap Nusantara, taman itu bisa berubah bentuk: menjadi pematang sawah di desa, halaman rumah yang teduh, tepi sungai yang sepi, atau bangku taman kota pada senja hari.

Di tempat-tempat sederhana itulah manusia sering menemukan dirinya sendiri seperti tokoh dalam lagu “The Park”: berjalan perlahan di antara pepohonan, mendengarkan angin yang membawa kembali gema mimpi-mimpi lama.

Dan mungkin di situlah makna terdalam lagu ini berada: bahwa kesunyian alam sering kali menjadi cermin paling jujur bagi ingatan dan kehidupan manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Next Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co