14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
in Ulas Musik
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ilustrasi dibuat dengan AI

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan iringan harmonium yang meditatif, lagu ini menciptakan suasana kesunyian yang hampir spiritual. Liriknya menggambarkan seseorang yang berjalan di taman, dikelilingi keindahan alam, namun membawa hati yang berat oleh kenangan dan kehilangan.

Jika dibaca melalui pendekatan hermeneutika, lagu ini sebenarnya membuka kemungkinan tafsir lintas budaya. Meskipun lahir dari tradisi rock Inggris awal 1970-an, pengalaman eksistensial yang digambarkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara. Dalam banyak tradisi lokal dari Jawa hingga Sumatra, alam, ingatan, dan kesedihan bukan sekadar pengalaman emosional pribadi, tetapi bagian dari kosmologi kehidupan.

Dengan kata lain, “taman” dalam lagu ini dapat dibaca sejajar dengan ruang-ruang kontemplatif dalam budaya Nusantara: kebun, hutan kecil, pematang sawah, tepian sungai, atau bahkan halaman rumah yang sunyi di sore hari.

Alam sebagai Ruang Kontemplasi dalam Budaya Nusantara

Dalam lirik “The Park”, tokoh berjalan sendirian di antara batu dan pepohonan, mencari ketenangan jiwa. Gambaran ini sangat dekat dengan cara masyarakat Nusantara memaknai alam.

Dalam budaya Jawa misalnya, terdapat konsep “menepi” atau “lelaku sepi” sebuah praktik menyendiri untuk menenangkan batin. Orang pergi ke tempat sunyi: hutan kecil, gunung, atau tepi sungai. Tujuannya bukan sekadar menikmati alam, tetapi mendengarkan suara batin.

Tradisi ini memiliki kemiripan hermeneutik dengan pengalaman tokoh dalam lagu tersebut. Alam bukan sekadar latar, melainkan medium dialog antara manusia dan dirinya sendiri.

Dalam konteks Nusantara, taman dapat dipahami sebagai simbol “pekarangan batin”. Di banyak desa, halaman rumah dipenuhi pohon mangga, jambu, pisang, atau bunga melati. Tempat sederhana itu sering menjadi ruang refleksi: tempat orang tua duduk sore hari, tempat anak-anak bermain, sekaligus tempat seseorang mengenang masa lalu.

Dengan demikian, “taman” dalam lagu ini dapat ditafsirkan secara kultural sebagai ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan waktu, alam, dan kenangan.

Hati yang Berat dan Tradisi Kesunyian Timur

Salah satu simbol utama dalam lagu ini adalah “heavy heart”, hati yang berat. Dalam tradisi Barat modern, kesedihan sering dipahami sebagai pengalaman psikologis individu. Namun dalam kultur Nusantara, kesedihan sering dilihat sebagai bagian dari perjalanan batin.

Dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”, hidup hanyalah singgah untuk minum. Ungkapan ini menunjukkan kesadaran mendalam tentang kefanaan hidup.

Kesedihan dalam konteks ini bukan sekadar penderitaan, tetapi bentuk kesadaran spiritual. Ia membuat manusia lebih peka terhadap makna kehidupan.

Jika lirik “The Park” dibaca melalui perspektif ini, hati yang berat bukan hanya ekspresi duka pribadi, tetapi juga kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Alam yang indah tetap ada, sementara manusia datang dan pergi.

Pandangan ini memiliki resonansi dengan pemikiran hermeneutika eksistensial yang dikembangkan oleh Martin Heidegger, yang melihat manusia sebagai makhluk yang selalu hidup dalam bayang-bayang kefanaan. Namun dalam kultur Nusantara, kesadaran itu tidak selalu melahirkan kecemasan; sering kali ia melahirkan sikap nrimo, penerimaan yang tenang terhadap perjalanan hidup.

Kenangan dan Kehilangan dalam Ingatan Kolektif

Bagian paling menyentuh dari lagu ini adalah pengakuan bahwa “impian saudara saya dulu terbang di sini.” Kalimat ini membuka ruang hermeneutika yang sangat luas.

Dalam budaya Nusantara, hubungan dengan saudara atau keluarga memiliki dimensi emosional dan spiritual yang kuat. Kenangan tentang orang yang telah pergi tidak dianggap sepenuhnya hilang; ia tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Misalnya dalam tradisi ziarah makam di berbagai daerah Indonesia. Orang datang ke makam keluarga bukan sekadar untuk mengenang, tetapi untuk merawat hubungan batin dengan masa lalu.

Jika “taman” dalam lagu ini dibaca melalui perspektif tersebut, maka ia menjadi semacam ruang memori. Tempat itu menyimpan jejak kehidupan yang pernah terjadi di sana.

Di desa-desa Nusantara, pengalaman ini sangat akrab: seseorang kembali ke tempat masa kecilnya, pohon tempat bermain, sungai tempat mandi, atau lapangan tempat berkumpul, dan tiba-tiba merasakan kehadiran kenangan yang begitu kuat.

Dengan demikian, lirik tentang “impian saudara yang pernah terbang” dapat dipahami sebagai metafora universal tentang kehilangan, tetapi sekaligus juga sangat dekat dengan pengalaman budaya Nusantara yang menghargai ingatan sebagai bagian dari kehidupan.

Musik sebagai Ruang Meditasi

Aransemen musik dalam “The Park” juga memiliki kualitas yang sangat kontemplatif. Harmoni yang lambat dan vokal falseto menciptakan suasana meditatif.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Jika didengarkan dalam konteks budaya Nusantara, atmosfer ini memiliki kemiripan dengan musik tradisional yang bersifat reflektif, misalnya tembang Jawa yang dinyanyikan pelan pada malam hari, atau alunan musik yang mengiringi ritual kontemplasi.

Dalam kedua tradisi tersebut, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang batin. Ia membantu manusia memasuki keadaan reflektif.

Karena itu, meskipun lagu ini berasal dari tradisi rock progresif Barat, nuansa musikalnya secara mengejutkan selaras dengan tradisi kontemplatif Timur.

Taman sebagai Metafora Kehidupan Nusantara

Jika dibaca secara menyeluruh, “The Park” dapat dipahami sebagai metafora kehidupan yang sangat dekat dengan pengalaman Nusantara.

Di banyak kota kecil atau desa di Indonesia, kehidupan sering berpusat pada ruang terbuka: lapangan desa, tepi sungai, warung kopi, atau taman kecil. Tempat-tempat ini menjadi saksi perjalanan hidup manusia pertemuan, perpisahan, cinta, dan kehilangan.

Seseorang mungkin duduk di warung kopi pada sore hari, memandang jalan yang lengang, dan tiba-tiba teringat teman lama yang sudah pergi merantau atau bahkan telah meninggal. Pengalaman sederhana ini memiliki resonansi emosional yang sama dengan pengalaman tokoh dalam lagu “The Park”.

Dalam arti ini, taman bukan hanya simbol alam, tetapi simbol kehidupan itu sendiri: tempat manusia datang membawa mimpi, lalu suatu hari meninggalkannya sebagai kenangan.

Resonansi Universal antara Barat dan Nusantara

Melalui pendekatan hermeneutika lintas budaya, “The Park” karya Uriah Heep dapat dipahami sebagai karya yang melampaui batas geografis. Lagu ini memang lahir dari tradisi rock Inggris, tetapi pengalaman emosional yang diungkapkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara.

Alam sebagai ruang kontemplasi, kesedihan sebagai bagian dari perjalanan batin, serta kenangan tentang orang yang telah pergi, semuanya adalah pengalaman universal yang juga hidup dalam tradisi budaya Indonesia.

Dalam lanskap Nusantara, taman itu bisa berubah bentuk: menjadi pematang sawah di desa, halaman rumah yang teduh, tepi sungai yang sepi, atau bangku taman kota pada senja hari.

Di tempat-tempat sederhana itulah manusia sering menemukan dirinya sendiri seperti tokoh dalam lagu “The Park”: berjalan perlahan di antara pepohonan, mendengarkan angin yang membawa kembali gema mimpi-mimpi lama.

Dan mungkin di situlah makna terdalam lagu ini berada: bahwa kesunyian alam sering kali menjadi cermin paling jujur bagi ingatan dan kehidupan manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Next Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails
Next Post
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co