6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
in Ulas Musik
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

Ilustrasi dibuat dengan AI

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal falseto lembut dari David Byron dan iringan harmonium yang meditatif, lagu ini menciptakan suasana kesunyian yang hampir spiritual. Liriknya menggambarkan seseorang yang berjalan di taman, dikelilingi keindahan alam, namun membawa hati yang berat oleh kenangan dan kehilangan.

Jika dibaca melalui pendekatan hermeneutika, lagu ini sebenarnya membuka kemungkinan tafsir lintas budaya. Meskipun lahir dari tradisi rock Inggris awal 1970-an, pengalaman eksistensial yang digambarkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara. Dalam banyak tradisi lokal dari Jawa hingga Sumatra, alam, ingatan, dan kesedihan bukan sekadar pengalaman emosional pribadi, tetapi bagian dari kosmologi kehidupan.

Dengan kata lain, “taman” dalam lagu ini dapat dibaca sejajar dengan ruang-ruang kontemplatif dalam budaya Nusantara: kebun, hutan kecil, pematang sawah, tepian sungai, atau bahkan halaman rumah yang sunyi di sore hari.

Alam sebagai Ruang Kontemplasi dalam Budaya Nusantara

Dalam lirik “The Park”, tokoh berjalan sendirian di antara batu dan pepohonan, mencari ketenangan jiwa. Gambaran ini sangat dekat dengan cara masyarakat Nusantara memaknai alam.

Dalam budaya Jawa misalnya, terdapat konsep “menepi” atau “lelaku sepi” sebuah praktik menyendiri untuk menenangkan batin. Orang pergi ke tempat sunyi: hutan kecil, gunung, atau tepi sungai. Tujuannya bukan sekadar menikmati alam, tetapi mendengarkan suara batin.

Tradisi ini memiliki kemiripan hermeneutik dengan pengalaman tokoh dalam lagu tersebut. Alam bukan sekadar latar, melainkan medium dialog antara manusia dan dirinya sendiri.

Dalam konteks Nusantara, taman dapat dipahami sebagai simbol “pekarangan batin”. Di banyak desa, halaman rumah dipenuhi pohon mangga, jambu, pisang, atau bunga melati. Tempat sederhana itu sering menjadi ruang refleksi: tempat orang tua duduk sore hari, tempat anak-anak bermain, sekaligus tempat seseorang mengenang masa lalu.

Dengan demikian, “taman” dalam lagu ini dapat ditafsirkan secara kultural sebagai ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan waktu, alam, dan kenangan.

Hati yang Berat dan Tradisi Kesunyian Timur

Salah satu simbol utama dalam lagu ini adalah “heavy heart”, hati yang berat. Dalam tradisi Barat modern, kesedihan sering dipahami sebagai pengalaman psikologis individu. Namun dalam kultur Nusantara, kesedihan sering dilihat sebagai bagian dari perjalanan batin.

Dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”, hidup hanyalah singgah untuk minum. Ungkapan ini menunjukkan kesadaran mendalam tentang kefanaan hidup.

Kesedihan dalam konteks ini bukan sekadar penderitaan, tetapi bentuk kesadaran spiritual. Ia membuat manusia lebih peka terhadap makna kehidupan.

Jika lirik “The Park” dibaca melalui perspektif ini, hati yang berat bukan hanya ekspresi duka pribadi, tetapi juga kesadaran bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Alam yang indah tetap ada, sementara manusia datang dan pergi.

Pandangan ini memiliki resonansi dengan pemikiran hermeneutika eksistensial yang dikembangkan oleh Martin Heidegger, yang melihat manusia sebagai makhluk yang selalu hidup dalam bayang-bayang kefanaan. Namun dalam kultur Nusantara, kesadaran itu tidak selalu melahirkan kecemasan; sering kali ia melahirkan sikap nrimo, penerimaan yang tenang terhadap perjalanan hidup.

Kenangan dan Kehilangan dalam Ingatan Kolektif

Bagian paling menyentuh dari lagu ini adalah pengakuan bahwa “impian saudara saya dulu terbang di sini.” Kalimat ini membuka ruang hermeneutika yang sangat luas.

Dalam budaya Nusantara, hubungan dengan saudara atau keluarga memiliki dimensi emosional dan spiritual yang kuat. Kenangan tentang orang yang telah pergi tidak dianggap sepenuhnya hilang; ia tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Misalnya dalam tradisi ziarah makam di berbagai daerah Indonesia. Orang datang ke makam keluarga bukan sekadar untuk mengenang, tetapi untuk merawat hubungan batin dengan masa lalu.

Jika “taman” dalam lagu ini dibaca melalui perspektif tersebut, maka ia menjadi semacam ruang memori. Tempat itu menyimpan jejak kehidupan yang pernah terjadi di sana.

Di desa-desa Nusantara, pengalaman ini sangat akrab: seseorang kembali ke tempat masa kecilnya, pohon tempat bermain, sungai tempat mandi, atau lapangan tempat berkumpul, dan tiba-tiba merasakan kehadiran kenangan yang begitu kuat.

Dengan demikian, lirik tentang “impian saudara yang pernah terbang” dapat dipahami sebagai metafora universal tentang kehilangan, tetapi sekaligus juga sangat dekat dengan pengalaman budaya Nusantara yang menghargai ingatan sebagai bagian dari kehidupan.

Musik sebagai Ruang Meditasi

Aransemen musik dalam “The Park” juga memiliki kualitas yang sangat kontemplatif. Harmoni yang lambat dan vokal falseto menciptakan suasana meditatif.

Ilustrasi dibuat dengan AI

Jika didengarkan dalam konteks budaya Nusantara, atmosfer ini memiliki kemiripan dengan musik tradisional yang bersifat reflektif, misalnya tembang Jawa yang dinyanyikan pelan pada malam hari, atau alunan musik yang mengiringi ritual kontemplasi.

Dalam kedua tradisi tersebut, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang batin. Ia membantu manusia memasuki keadaan reflektif.

Karena itu, meskipun lagu ini berasal dari tradisi rock progresif Barat, nuansa musikalnya secara mengejutkan selaras dengan tradisi kontemplatif Timur.

Taman sebagai Metafora Kehidupan Nusantara

Jika dibaca secara menyeluruh, “The Park” dapat dipahami sebagai metafora kehidupan yang sangat dekat dengan pengalaman Nusantara.

Di banyak kota kecil atau desa di Indonesia, kehidupan sering berpusat pada ruang terbuka: lapangan desa, tepi sungai, warung kopi, atau taman kecil. Tempat-tempat ini menjadi saksi perjalanan hidup manusia pertemuan, perpisahan, cinta, dan kehilangan.

Seseorang mungkin duduk di warung kopi pada sore hari, memandang jalan yang lengang, dan tiba-tiba teringat teman lama yang sudah pergi merantau atau bahkan telah meninggal. Pengalaman sederhana ini memiliki resonansi emosional yang sama dengan pengalaman tokoh dalam lagu “The Park”.

Dalam arti ini, taman bukan hanya simbol alam, tetapi simbol kehidupan itu sendiri: tempat manusia datang membawa mimpi, lalu suatu hari meninggalkannya sebagai kenangan.

Resonansi Universal antara Barat dan Nusantara

Melalui pendekatan hermeneutika lintas budaya, “The Park” karya Uriah Heep dapat dipahami sebagai karya yang melampaui batas geografis. Lagu ini memang lahir dari tradisi rock Inggris, tetapi pengalaman emosional yang diungkapkannya memiliki resonansi kuat dengan kultur Nusantara.

Alam sebagai ruang kontemplasi, kesedihan sebagai bagian dari perjalanan batin, serta kenangan tentang orang yang telah pergi, semuanya adalah pengalaman universal yang juga hidup dalam tradisi budaya Indonesia.

Dalam lanskap Nusantara, taman itu bisa berubah bentuk: menjadi pematang sawah di desa, halaman rumah yang teduh, tepi sungai yang sepi, atau bangku taman kota pada senja hari.

Di tempat-tempat sederhana itulah manusia sering menemukan dirinya sendiri seperti tokoh dalam lagu “The Park”: berjalan perlahan di antara pepohonan, mendengarkan angin yang membawa kembali gema mimpi-mimpi lama.

Dan mungkin di situlah makna terdalam lagu ini berada: bahwa kesunyian alam sering kali menjadi cermin paling jujur bagi ingatan dan kehidupan manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

Next Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 5, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co