14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Wahyu Thoyyib Pambayun by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
in Ulas Musik
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban ---Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Setiawan (Karanganyar) dan Wildan Kibi (Bandung), dengan Reizki Habibullah sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Joko S. Gombloh.

Pertemuan ini menjadi ruang bagi berbagai gagasan yang bergerak di antara tradisi, eksperimentasi bunyi, hingga respons terhadap lanskap sosial kontemporer. BMB sejak lama menjadi ruang yang memperbolehkan karya berada dalam kondisi tak selesai.

Karya-karya yang hadir di dalamnya sering kali bergerak seperti percakapan terbuka: dipertanyakan, diperdebatkan, bahkan kadang ditabrakkan dengan ekspektasi pendengarnya sendiri. Forum ini terasa penting karena memberi tempat bagi gagasan-gagasan untuk diuji langsung di hadapan audiens.

Kraket: Rekat yang tidak lekat

Karya Budi Setiawan dibuka melalui bunyi klunthung yang perlahan membangun atmosfer ruang. Sesudahnya, lapisan permainan gambang mulai masuk dengan karakter resonansi yang terbuka dan menggantung. Budi bergerak dari upaya mereinterpretasikan wiletan gender debyang-debyung gaya Martopangrawit ke dalam medium gambang. Perpindahan ini terasa seperti usaha membongkar ulang tubuh musikal karawitan itu sendiri. Gender yang identik dengan kompleksitas pithetan, ukelan dan gaung yang panjang dihadirkan ulang melalui instrumen gambang yang memiliki gaung pendek.

Eksperimen itu diperluas melalui penggunaan malet marimba yang menghasilkan warna bunyi yang berbeda, hingga penciptaan instrumen bernama klunthung yang terbuat dari baja ulir dengan resonator kaleng susu. Beberapa gambang dengan laras berbeda dimainkan secara bersamaan sehingga seleh menjadi kabur dan pusat gravitasi musikal terasa terus bergeser.

 Lapisan bunyi yang muncul terasa menggantung, seolah karya sengaja menjauh dari keinginan untuk segera menemukan titik selesai. Situasi itu membuat pendengar berada di wilayah ambang: antara mengenali jejak tradisi dan kehilangan pijakan terhadapnya. Karawitan tetap terasa hadir, tetapi arah musikalnya telah bergeser menuju kemungkinan bunyi yang lebih cair.

Memasuki bagian kedua, suasana musikal berubah cukup drastis. Bunyi krek-krek dari tarikan selotip mulai mendominasi. Gerakan menarik, menempel, dan melepaskan lakban membangun pola ritmis yang saling bersahutan seperti jalinan interlocking. Di bagian ini, tubuh para pemain menjadi pusat perhatian. Bunyi lahir dari tindakan-tindakan repetitif yang sederhana, tetapi mampu menghadirkan tegangan ritmis yang padat.

Karya Budi Setiawan | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Di titik ini, karya Budi terasa seperti upaya memperluas pengalaman dengar karawitan melalui material-material sehari-hari yang sebelumnya berada di luar wilayah musikal.

Bagian kedua ini justru menjadi salah satu momen paling menarik dalam karya Budi. Musikalitas bergerak dari wilayah nada menuju gesekan, tekanan, dan energi tubuh di ruang pertunjukan. Selotip tidak terasa sebagai properti tambahan, tetapi berubah menjadi sumber bunyi yang memiliki karakter ritmis dan teatrikal yang kuat.

Bagian kedua ini memiliki potensi untuk berdiri sebagai komposisi mandiri. Eksplorasi bunyi selotip, tubuh, dan pola repetitif yang muncul di dalamnya membuka kemungkinan dramaturgi musikal yang lebih luas. Dibanding bagian-bagian lain yang masih bergerak mencari titik sambung, bagian kedua justru menghadirkan identitas bunyi yang paling kuat.

Pada bagian ketiga, karya kembali bergerak menuju wilayah musikal gambang dan kelonthong. Namun, perpindahan antarbagian masih menyisakan jarak tertentu pada wilayah sambungrapet. Judul Kraket yang mengacu pada makna rekat atau kerapatan terasa menarik ketika dihubungkan dengan bunyi selotip sebagai simbol kerekatan.

Akan tetapi, pada wilayah garap, kerekatan itu belum sepenuhnya terbangun. Peralihan antarbagian masih menyisakan jeda yang cukup renggang sehingga tegangan musikal sesekali kehilangan kontinuitasnya.

Situasi ini membuat gagasan tentang “rekat” justru bergerak dalam paradoksnya sendiri. Bunyi berusaha mendekatkan berbagai lapisan material dan tubuh, tetapi hubungan antarbagian komposisi belum sepenuhnya melekat secara organik. Kraket menghadirkan semacam “rekat yang tidak lekat”; sebuah upaya menyatukan fragmen-fragmen bunyi yang masih memperlihatkan celah di antaranya.

BU 1926: Trial and Error

Wildan Kibi membangun karya dari lanskap sosial urban yang penuh tekanan. Karyanya, BU 1926, lahir dari pengalaman empiris mengenai ruang tunggu di lampu merah Kiaracondong, Bandung. Bagi Kibi, ruang tersebut ialah “persimpangan nasib” yang memperlihatkan berbagai persoalan sosial kota: kesenjangan, diskriminasi, hingga eksploitasi anak di ruang urban.

Karya ini disajikan melalui set panggung yang cukup kompleks. Empat pemain terlibat di dalamnya, dengan tiga pemain telah berada di atas panggung sejak awal pertunjukan. Satu pemain lain masuk perlahan dari luar ruang sambil membawa lembaran seng dan melafalkan kalimat pendek: “aku, tubuh, tabah.” Kehadiran seng yang dibawa masuk dari luar ruang langsung membangun atmosfer industrial sekaligus memberi kesan tekanan psikologis yang berat.

Karya Wildan Kibi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming BMB #111

Set panggung terdiri atas dua kotak transparan yang diisi oleh para pemusik dan disorot menggunakan LCD proyektor. Situasi visual ini membuat para pemain tampak seperti tubuh-tubuh yang dikurung di dalam ruang laboratorium bunyi. Persiapan teknis yang cukup rumit juga terasa sejak awal pertunjukan: tiga laptop, sistem audio reaktif, proyektor, suling Sunda, hingga kecapi modifikasi yang difungsikan seperti noise box improvisatif bekerja dalam satu sistem pertunjukan yang padat.

Berangkat dari gagasan Music in the Expanded Field milik Marco Ciciliani, Kibi memperluas batas musik melalui pertemuan bunyi, tubuh, dan instalasi visual. Noise, distorsi mekanis, suara, angin, serta soundscape jalanan disusun menjadi tekanan psikologis yang menyayat ruang dengar. Penonton diajak masuk ke dalam situasi bunyi yang fluktuatif, keras, dan penuh gangguan.

Yang menarik, Kibi secara terang-terangan menyebut logika TikTok sebagai salah satu cara berpikir dramaturginya: bagaimana memancing perhatian dalam hitungan detik melalui distraksi dan kejutan bunyi. Pernyataan ini terasa penting karena memperlihatkan bagaimana musik kontemporer hari ini mulai bernegosiasi dengan ritme perhatian digital. Struktur karya dibangun melalui ledakan-ledakan kecil yang terus menginterupsi fokus tubuh pendengar.

Keheningan, bunyi tajam, dan ledakan noise bekerja seperti gangguan yang sengaja dirancang untuk menjaga perhatian audiens tetap terjaga. Dalam situasi seperti ini, mendengar menjadi aktivitas tubuh yang melelahkan sekaligus menegangkan. Pendengar dipaksa terus siaga terhadap perubahan intensitas bunyi yang datang tiba-tiba.

Secara musikal, karya Kibi bergerak melalui lapisan noise, distorsi mekanis, suara angin, dan soundscape urban yang saling bertabrakan. Suling Sunda dan kecapi modifikasi sesekali muncul sebagai serpihan melodis di tengah tekanan bunyi elektronik yang kasar. Pada beberapa bagian bahkan terdengar lantunan vokal bernuansa Sunda yang melintas singkat di sela-sela ledakan bunyi.

Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang cukup menarik: mengapa motif-motif musikal Sunda masih terus dihadirkan di tengah lanskap urban dan industrial yang dibangun karya ini? Kehadiran suling, kecapi, dan lantunan Sunda memang memberi identitas kultural tertentu, tetapi hubungan dramaturgisnya dengan gagasan “persimpangan nasib” urban belum sepenuhnya terasa kuat.

Motif-motif tersebut sesekali muncul seperti fragmen identitas yang belum benar-benar melebur dengan dunia noise dan tekanan visual yang dibangun karya. Alih-alih memperkuat tegangan antara tradisi dan urbanitas, beberapa bagian justru menghadirkan kesan bahwa unsur Sunda masih hadir sebagai penanda identitas yang berdiri sendiri. Padahal, apabila dieksplorasi lebih jauh, benturan antara sensibilitas musikal Sunda dan atmosfer industrial urban ini sebenarnya memiliki potensi dramatik yang sangat kuat.

Di tengah intensitas penyajian tersebut, muncul pula persoalan teknis pada wilayah visual. Salah satu perangkat lunak yang seharusnya mengolah respons audio reaktif mengalami kendala dan tidak dapat berjalan saat pementasan berlangsung. Wildan Kibi pun mengonfirmasi bahwa sistem visual yang dirancang untuk merespons dinamika bunyi memang mengalami error teknis di tengah pertunjukan.

Situasi ini membuat visualisasi raut wajah urban yang semestinya berubah mengikuti tekanan bunyi tidak bekerja sepenuhnya sesuai rancangan awal. Akibatnya, hubungan antara lapisan bunyi dan respons visual sesekali terasa terputus sehingga ketegangan dramaturgi yang dibangun melalui media audio-visual belum mencapai intensitas maksimalnya.

Meski demikian, kegagalan teknis tersebut justru menghadirkan kesan laboratorium eksperimental yang cukup kuat. Fluktuasi, ketidaksiapan, dan kemungkinan gagal terasa sejalan dengan semangat karya BU 1926 yang memang bergerak di wilayah ketidakstabilan. Dalam konteks itu, error teknis tidak sepenuhnya melemahkan karya, tetapi memperlihatkan rapuhnya hubungan antara tubuh, teknologi, dan sistem bunyi yang sedang diuji secara langsung di ruang pertunjukan.

Lontaran Pikiran

Reizki Habibullah memantik pertanyaan mengenai kesadaran dan otoritas komponis dalam karyanya. Pertanyaan itu menarik karena kedua komposer menunjukkan cara yang berbeda dalam memosisikan diri terhadap karya mereka sendiri. Budi membuka ruang negosiasi dengan pemain melalui proses workshop yang kolektif, sementara Kibi membangun dramaturgi yang lebih intensional.

Meski bergerak melalui pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa musik hari ini semakin dekat dengan pengalaman peristiwa. Tubuh pemain, material, ruang, dan respons audiens ikut membentuk cara bunyi bekerja. Komposisi tidak lagi terasa sebagai bentuk tertutup yang selesai sebelum dipertunjukkan, tetapi terus berubah ketika dimainkan dan didengar.

Sesi Diskusi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Catatan penting malam itu datang dari Halim HD. Ia menegaskan bahwa ruang seperti BMB penting untuk menampung “lontaran pikiran, betapapun ngawurnya.” Pernyataan itu terasa seperti penanda tentang posisi BMB hari ini. Forum ini tampaknya memang tidak sedang mencari kesempurnaan bentuk. Yang dirawat justru kemungkinan: bunyi yang tak selesai, metode yang masih rapuh, dan gagasan yang terus dilempar ke hadapan tubuh-tubuh yang mendengarnya. [T]

Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole

Tags: musikSurakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kota Tua Tak Pernah Mati

Next Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Wahyu Thoyyib Pambayun

Wahyu Thoyyib Pambayun

Komponis dan Pengajar Gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Related Posts

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails
Next Post
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co