26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Wahyu Thoyyib Pambayun by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
in Ulas Musik
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban ---Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Setiawan (Karanganyar) dan Wildan Kibi (Bandung), dengan Reizki Habibullah sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Joko S. Gombloh.

Pertemuan ini menjadi ruang bagi berbagai gagasan yang bergerak di antara tradisi, eksperimentasi bunyi, hingga respons terhadap lanskap sosial kontemporer. BMB sejak lama menjadi ruang yang memperbolehkan karya berada dalam kondisi tak selesai.

Karya-karya yang hadir di dalamnya sering kali bergerak seperti percakapan terbuka: dipertanyakan, diperdebatkan, bahkan kadang ditabrakkan dengan ekspektasi pendengarnya sendiri. Forum ini terasa penting karena memberi tempat bagi gagasan-gagasan untuk diuji langsung di hadapan audiens.

Kraket: Rekat yang tidak lekat

Karya Budi Setiawan dibuka melalui bunyi klunthung yang perlahan membangun atmosfer ruang. Sesudahnya, lapisan permainan gambang mulai masuk dengan karakter resonansi yang terbuka dan menggantung. Budi bergerak dari upaya mereinterpretasikan wiletan gender debyang-debyung gaya Martopangrawit ke dalam medium gambang. Perpindahan ini terasa seperti usaha membongkar ulang tubuh musikal karawitan itu sendiri. Gender yang identik dengan kompleksitas pithetan, ukelan dan gaung yang panjang dihadirkan ulang melalui instrumen gambang yang memiliki gaung pendek.

Eksperimen itu diperluas melalui penggunaan malet marimba yang menghasilkan warna bunyi yang berbeda, hingga penciptaan instrumen bernama klunthung yang terbuat dari baja ulir dengan resonator kaleng susu. Beberapa gambang dengan laras berbeda dimainkan secara bersamaan sehingga seleh menjadi kabur dan pusat gravitasi musikal terasa terus bergeser.

 Lapisan bunyi yang muncul terasa menggantung, seolah karya sengaja menjauh dari keinginan untuk segera menemukan titik selesai. Situasi itu membuat pendengar berada di wilayah ambang: antara mengenali jejak tradisi dan kehilangan pijakan terhadapnya. Karawitan tetap terasa hadir, tetapi arah musikalnya telah bergeser menuju kemungkinan bunyi yang lebih cair.

Memasuki bagian kedua, suasana musikal berubah cukup drastis. Bunyi krek-krek dari tarikan selotip mulai mendominasi. Gerakan menarik, menempel, dan melepaskan lakban membangun pola ritmis yang saling bersahutan seperti jalinan interlocking. Di bagian ini, tubuh para pemain menjadi pusat perhatian. Bunyi lahir dari tindakan-tindakan repetitif yang sederhana, tetapi mampu menghadirkan tegangan ritmis yang padat.

Karya Budi Setiawan | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Di titik ini, karya Budi terasa seperti upaya memperluas pengalaman dengar karawitan melalui material-material sehari-hari yang sebelumnya berada di luar wilayah musikal.

Bagian kedua ini justru menjadi salah satu momen paling menarik dalam karya Budi. Musikalitas bergerak dari wilayah nada menuju gesekan, tekanan, dan energi tubuh di ruang pertunjukan. Selotip tidak terasa sebagai properti tambahan, tetapi berubah menjadi sumber bunyi yang memiliki karakter ritmis dan teatrikal yang kuat.

Bagian kedua ini memiliki potensi untuk berdiri sebagai komposisi mandiri. Eksplorasi bunyi selotip, tubuh, dan pola repetitif yang muncul di dalamnya membuka kemungkinan dramaturgi musikal yang lebih luas. Dibanding bagian-bagian lain yang masih bergerak mencari titik sambung, bagian kedua justru menghadirkan identitas bunyi yang paling kuat.

Pada bagian ketiga, karya kembali bergerak menuju wilayah musikal gambang dan kelonthong. Namun, perpindahan antarbagian masih menyisakan jarak tertentu pada wilayah sambungrapet. Judul Kraket yang mengacu pada makna rekat atau kerapatan terasa menarik ketika dihubungkan dengan bunyi selotip sebagai simbol kerekatan.

Akan tetapi, pada wilayah garap, kerekatan itu belum sepenuhnya terbangun. Peralihan antarbagian masih menyisakan jeda yang cukup renggang sehingga tegangan musikal sesekali kehilangan kontinuitasnya.

Situasi ini membuat gagasan tentang “rekat” justru bergerak dalam paradoksnya sendiri. Bunyi berusaha mendekatkan berbagai lapisan material dan tubuh, tetapi hubungan antarbagian komposisi belum sepenuhnya melekat secara organik. Kraket menghadirkan semacam “rekat yang tidak lekat”; sebuah upaya menyatukan fragmen-fragmen bunyi yang masih memperlihatkan celah di antaranya.

BU 1926: Trial and Error

Wildan Kibi membangun karya dari lanskap sosial urban yang penuh tekanan. Karyanya, BU 1926, lahir dari pengalaman empiris mengenai ruang tunggu di lampu merah Kiaracondong, Bandung. Bagi Kibi, ruang tersebut ialah “persimpangan nasib” yang memperlihatkan berbagai persoalan sosial kota: kesenjangan, diskriminasi, hingga eksploitasi anak di ruang urban.

Karya ini disajikan melalui set panggung yang cukup kompleks. Empat pemain terlibat di dalamnya, dengan tiga pemain telah berada di atas panggung sejak awal pertunjukan. Satu pemain lain masuk perlahan dari luar ruang sambil membawa lembaran seng dan melafalkan kalimat pendek: “aku, tubuh, tabah.” Kehadiran seng yang dibawa masuk dari luar ruang langsung membangun atmosfer industrial sekaligus memberi kesan tekanan psikologis yang berat.

Karya Wildan Kibi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming BMB #111

Set panggung terdiri atas dua kotak transparan yang diisi oleh para pemusik dan disorot menggunakan LCD proyektor. Situasi visual ini membuat para pemain tampak seperti tubuh-tubuh yang dikurung di dalam ruang laboratorium bunyi. Persiapan teknis yang cukup rumit juga terasa sejak awal pertunjukan: tiga laptop, sistem audio reaktif, proyektor, suling Sunda, hingga kecapi modifikasi yang difungsikan seperti noise box improvisatif bekerja dalam satu sistem pertunjukan yang padat.

Berangkat dari gagasan Music in the Expanded Field milik Marco Ciciliani, Kibi memperluas batas musik melalui pertemuan bunyi, tubuh, dan instalasi visual. Noise, distorsi mekanis, suara, angin, serta soundscape jalanan disusun menjadi tekanan psikologis yang menyayat ruang dengar. Penonton diajak masuk ke dalam situasi bunyi yang fluktuatif, keras, dan penuh gangguan.

Yang menarik, Kibi secara terang-terangan menyebut logika TikTok sebagai salah satu cara berpikir dramaturginya: bagaimana memancing perhatian dalam hitungan detik melalui distraksi dan kejutan bunyi. Pernyataan ini terasa penting karena memperlihatkan bagaimana musik kontemporer hari ini mulai bernegosiasi dengan ritme perhatian digital. Struktur karya dibangun melalui ledakan-ledakan kecil yang terus menginterupsi fokus tubuh pendengar.

Keheningan, bunyi tajam, dan ledakan noise bekerja seperti gangguan yang sengaja dirancang untuk menjaga perhatian audiens tetap terjaga. Dalam situasi seperti ini, mendengar menjadi aktivitas tubuh yang melelahkan sekaligus menegangkan. Pendengar dipaksa terus siaga terhadap perubahan intensitas bunyi yang datang tiba-tiba.

Secara musikal, karya Kibi bergerak melalui lapisan noise, distorsi mekanis, suara angin, dan soundscape urban yang saling bertabrakan. Suling Sunda dan kecapi modifikasi sesekali muncul sebagai serpihan melodis di tengah tekanan bunyi elektronik yang kasar. Pada beberapa bagian bahkan terdengar lantunan vokal bernuansa Sunda yang melintas singkat di sela-sela ledakan bunyi.

Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang cukup menarik: mengapa motif-motif musikal Sunda masih terus dihadirkan di tengah lanskap urban dan industrial yang dibangun karya ini? Kehadiran suling, kecapi, dan lantunan Sunda memang memberi identitas kultural tertentu, tetapi hubungan dramaturgisnya dengan gagasan “persimpangan nasib” urban belum sepenuhnya terasa kuat.

Motif-motif tersebut sesekali muncul seperti fragmen identitas yang belum benar-benar melebur dengan dunia noise dan tekanan visual yang dibangun karya. Alih-alih memperkuat tegangan antara tradisi dan urbanitas, beberapa bagian justru menghadirkan kesan bahwa unsur Sunda masih hadir sebagai penanda identitas yang berdiri sendiri. Padahal, apabila dieksplorasi lebih jauh, benturan antara sensibilitas musikal Sunda dan atmosfer industrial urban ini sebenarnya memiliki potensi dramatik yang sangat kuat.

Di tengah intensitas penyajian tersebut, muncul pula persoalan teknis pada wilayah visual. Salah satu perangkat lunak yang seharusnya mengolah respons audio reaktif mengalami kendala dan tidak dapat berjalan saat pementasan berlangsung. Wildan Kibi pun mengonfirmasi bahwa sistem visual yang dirancang untuk merespons dinamika bunyi memang mengalami error teknis di tengah pertunjukan.

Situasi ini membuat visualisasi raut wajah urban yang semestinya berubah mengikuti tekanan bunyi tidak bekerja sepenuhnya sesuai rancangan awal. Akibatnya, hubungan antara lapisan bunyi dan respons visual sesekali terasa terputus sehingga ketegangan dramaturgi yang dibangun melalui media audio-visual belum mencapai intensitas maksimalnya.

Meski demikian, kegagalan teknis tersebut justru menghadirkan kesan laboratorium eksperimental yang cukup kuat. Fluktuasi, ketidaksiapan, dan kemungkinan gagal terasa sejalan dengan semangat karya BU 1926 yang memang bergerak di wilayah ketidakstabilan. Dalam konteks itu, error teknis tidak sepenuhnya melemahkan karya, tetapi memperlihatkan rapuhnya hubungan antara tubuh, teknologi, dan sistem bunyi yang sedang diuji secara langsung di ruang pertunjukan.

Lontaran Pikiran

Reizki Habibullah memantik pertanyaan mengenai kesadaran dan otoritas komponis dalam karyanya. Pertanyaan itu menarik karena kedua komposer menunjukkan cara yang berbeda dalam memosisikan diri terhadap karya mereka sendiri. Budi membuka ruang negosiasi dengan pemain melalui proses workshop yang kolektif, sementara Kibi membangun dramaturgi yang lebih intensional.

Meski bergerak melalui pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa musik hari ini semakin dekat dengan pengalaman peristiwa. Tubuh pemain, material, ruang, dan respons audiens ikut membentuk cara bunyi bekerja. Komposisi tidak lagi terasa sebagai bentuk tertutup yang selesai sebelum dipertunjukkan, tetapi terus berubah ketika dimainkan dan didengar.

Sesi Diskusi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Catatan penting malam itu datang dari Halim HD. Ia menegaskan bahwa ruang seperti BMB penting untuk menampung “lontaran pikiran, betapapun ngawurnya.” Pernyataan itu terasa seperti penanda tentang posisi BMB hari ini. Forum ini tampaknya memang tidak sedang mencari kesempurnaan bentuk. Yang dirawat justru kemungkinan: bunyi yang tak selesai, metode yang masih rapuh, dan gagasan yang terus dilempar ke hadapan tubuh-tubuh yang mendengarnya. [T]

Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole

Tags: musikSurakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kota Tua Tak Pernah Mati

Next Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Wahyu Thoyyib Pambayun

Wahyu Thoyyib Pambayun

Komponis dan Pengajar Gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Related Posts

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails
Next Post
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co