17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Wahyu Thoyyib Pambayun by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
in Ulas Musik
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban ---Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Setiawan (Karanganyar) dan Wildan Kibi (Bandung), dengan Reizki Habibullah sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Joko S. Gombloh.

Pertemuan ini menjadi ruang bagi berbagai gagasan yang bergerak di antara tradisi, eksperimentasi bunyi, hingga respons terhadap lanskap sosial kontemporer. BMB sejak lama menjadi ruang yang memperbolehkan karya berada dalam kondisi tak selesai.

Karya-karya yang hadir di dalamnya sering kali bergerak seperti percakapan terbuka: dipertanyakan, diperdebatkan, bahkan kadang ditabrakkan dengan ekspektasi pendengarnya sendiri. Forum ini terasa penting karena memberi tempat bagi gagasan-gagasan untuk diuji langsung di hadapan audiens.

Kraket: Rekat yang tidak lekat

Karya Budi Setiawan dibuka melalui bunyi klunthung yang perlahan membangun atmosfer ruang. Sesudahnya, lapisan permainan gambang mulai masuk dengan karakter resonansi yang terbuka dan menggantung. Budi bergerak dari upaya mereinterpretasikan wiletan gender debyang-debyung gaya Martopangrawit ke dalam medium gambang. Perpindahan ini terasa seperti usaha membongkar ulang tubuh musikal karawitan itu sendiri. Gender yang identik dengan kompleksitas pithetan, ukelan dan gaung yang panjang dihadirkan ulang melalui instrumen gambang yang memiliki gaung pendek.

Eksperimen itu diperluas melalui penggunaan malet marimba yang menghasilkan warna bunyi yang berbeda, hingga penciptaan instrumen bernama klunthung yang terbuat dari baja ulir dengan resonator kaleng susu. Beberapa gambang dengan laras berbeda dimainkan secara bersamaan sehingga seleh menjadi kabur dan pusat gravitasi musikal terasa terus bergeser.

 Lapisan bunyi yang muncul terasa menggantung, seolah karya sengaja menjauh dari keinginan untuk segera menemukan titik selesai. Situasi itu membuat pendengar berada di wilayah ambang: antara mengenali jejak tradisi dan kehilangan pijakan terhadapnya. Karawitan tetap terasa hadir, tetapi arah musikalnya telah bergeser menuju kemungkinan bunyi yang lebih cair.

Memasuki bagian kedua, suasana musikal berubah cukup drastis. Bunyi krek-krek dari tarikan selotip mulai mendominasi. Gerakan menarik, menempel, dan melepaskan lakban membangun pola ritmis yang saling bersahutan seperti jalinan interlocking. Di bagian ini, tubuh para pemain menjadi pusat perhatian. Bunyi lahir dari tindakan-tindakan repetitif yang sederhana, tetapi mampu menghadirkan tegangan ritmis yang padat.

Karya Budi Setiawan | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Di titik ini, karya Budi terasa seperti upaya memperluas pengalaman dengar karawitan melalui material-material sehari-hari yang sebelumnya berada di luar wilayah musikal.

Bagian kedua ini justru menjadi salah satu momen paling menarik dalam karya Budi. Musikalitas bergerak dari wilayah nada menuju gesekan, tekanan, dan energi tubuh di ruang pertunjukan. Selotip tidak terasa sebagai properti tambahan, tetapi berubah menjadi sumber bunyi yang memiliki karakter ritmis dan teatrikal yang kuat.

Bagian kedua ini memiliki potensi untuk berdiri sebagai komposisi mandiri. Eksplorasi bunyi selotip, tubuh, dan pola repetitif yang muncul di dalamnya membuka kemungkinan dramaturgi musikal yang lebih luas. Dibanding bagian-bagian lain yang masih bergerak mencari titik sambung, bagian kedua justru menghadirkan identitas bunyi yang paling kuat.

Pada bagian ketiga, karya kembali bergerak menuju wilayah musikal gambang dan kelonthong. Namun, perpindahan antarbagian masih menyisakan jarak tertentu pada wilayah sambungrapet. Judul Kraket yang mengacu pada makna rekat atau kerapatan terasa menarik ketika dihubungkan dengan bunyi selotip sebagai simbol kerekatan.

Akan tetapi, pada wilayah garap, kerekatan itu belum sepenuhnya terbangun. Peralihan antarbagian masih menyisakan jeda yang cukup renggang sehingga tegangan musikal sesekali kehilangan kontinuitasnya.

Situasi ini membuat gagasan tentang “rekat” justru bergerak dalam paradoksnya sendiri. Bunyi berusaha mendekatkan berbagai lapisan material dan tubuh, tetapi hubungan antarbagian komposisi belum sepenuhnya melekat secara organik. Kraket menghadirkan semacam “rekat yang tidak lekat”; sebuah upaya menyatukan fragmen-fragmen bunyi yang masih memperlihatkan celah di antaranya.

BU 1926: Trial and Error

Wildan Kibi membangun karya dari lanskap sosial urban yang penuh tekanan. Karyanya, BU 1926, lahir dari pengalaman empiris mengenai ruang tunggu di lampu merah Kiaracondong, Bandung. Bagi Kibi, ruang tersebut ialah “persimpangan nasib” yang memperlihatkan berbagai persoalan sosial kota: kesenjangan, diskriminasi, hingga eksploitasi anak di ruang urban.

Karya ini disajikan melalui set panggung yang cukup kompleks. Empat pemain terlibat di dalamnya, dengan tiga pemain telah berada di atas panggung sejak awal pertunjukan. Satu pemain lain masuk perlahan dari luar ruang sambil membawa lembaran seng dan melafalkan kalimat pendek: “aku, tubuh, tabah.” Kehadiran seng yang dibawa masuk dari luar ruang langsung membangun atmosfer industrial sekaligus memberi kesan tekanan psikologis yang berat.

Karya Wildan Kibi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming BMB #111

Set panggung terdiri atas dua kotak transparan yang diisi oleh para pemusik dan disorot menggunakan LCD proyektor. Situasi visual ini membuat para pemain tampak seperti tubuh-tubuh yang dikurung di dalam ruang laboratorium bunyi. Persiapan teknis yang cukup rumit juga terasa sejak awal pertunjukan: tiga laptop, sistem audio reaktif, proyektor, suling Sunda, hingga kecapi modifikasi yang difungsikan seperti noise box improvisatif bekerja dalam satu sistem pertunjukan yang padat.

Berangkat dari gagasan Music in the Expanded Field milik Marco Ciciliani, Kibi memperluas batas musik melalui pertemuan bunyi, tubuh, dan instalasi visual. Noise, distorsi mekanis, suara, angin, serta soundscape jalanan disusun menjadi tekanan psikologis yang menyayat ruang dengar. Penonton diajak masuk ke dalam situasi bunyi yang fluktuatif, keras, dan penuh gangguan.

Yang menarik, Kibi secara terang-terangan menyebut logika TikTok sebagai salah satu cara berpikir dramaturginya: bagaimana memancing perhatian dalam hitungan detik melalui distraksi dan kejutan bunyi. Pernyataan ini terasa penting karena memperlihatkan bagaimana musik kontemporer hari ini mulai bernegosiasi dengan ritme perhatian digital. Struktur karya dibangun melalui ledakan-ledakan kecil yang terus menginterupsi fokus tubuh pendengar.

Keheningan, bunyi tajam, dan ledakan noise bekerja seperti gangguan yang sengaja dirancang untuk menjaga perhatian audiens tetap terjaga. Dalam situasi seperti ini, mendengar menjadi aktivitas tubuh yang melelahkan sekaligus menegangkan. Pendengar dipaksa terus siaga terhadap perubahan intensitas bunyi yang datang tiba-tiba.

Secara musikal, karya Kibi bergerak melalui lapisan noise, distorsi mekanis, suara angin, dan soundscape urban yang saling bertabrakan. Suling Sunda dan kecapi modifikasi sesekali muncul sebagai serpihan melodis di tengah tekanan bunyi elektronik yang kasar. Pada beberapa bagian bahkan terdengar lantunan vokal bernuansa Sunda yang melintas singkat di sela-sela ledakan bunyi.

Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang cukup menarik: mengapa motif-motif musikal Sunda masih terus dihadirkan di tengah lanskap urban dan industrial yang dibangun karya ini? Kehadiran suling, kecapi, dan lantunan Sunda memang memberi identitas kultural tertentu, tetapi hubungan dramaturgisnya dengan gagasan “persimpangan nasib” urban belum sepenuhnya terasa kuat.

Motif-motif tersebut sesekali muncul seperti fragmen identitas yang belum benar-benar melebur dengan dunia noise dan tekanan visual yang dibangun karya. Alih-alih memperkuat tegangan antara tradisi dan urbanitas, beberapa bagian justru menghadirkan kesan bahwa unsur Sunda masih hadir sebagai penanda identitas yang berdiri sendiri. Padahal, apabila dieksplorasi lebih jauh, benturan antara sensibilitas musikal Sunda dan atmosfer industrial urban ini sebenarnya memiliki potensi dramatik yang sangat kuat.

Di tengah intensitas penyajian tersebut, muncul pula persoalan teknis pada wilayah visual. Salah satu perangkat lunak yang seharusnya mengolah respons audio reaktif mengalami kendala dan tidak dapat berjalan saat pementasan berlangsung. Wildan Kibi pun mengonfirmasi bahwa sistem visual yang dirancang untuk merespons dinamika bunyi memang mengalami error teknis di tengah pertunjukan.

Situasi ini membuat visualisasi raut wajah urban yang semestinya berubah mengikuti tekanan bunyi tidak bekerja sepenuhnya sesuai rancangan awal. Akibatnya, hubungan antara lapisan bunyi dan respons visual sesekali terasa terputus sehingga ketegangan dramaturgi yang dibangun melalui media audio-visual belum mencapai intensitas maksimalnya.

Meski demikian, kegagalan teknis tersebut justru menghadirkan kesan laboratorium eksperimental yang cukup kuat. Fluktuasi, ketidaksiapan, dan kemungkinan gagal terasa sejalan dengan semangat karya BU 1926 yang memang bergerak di wilayah ketidakstabilan. Dalam konteks itu, error teknis tidak sepenuhnya melemahkan karya, tetapi memperlihatkan rapuhnya hubungan antara tubuh, teknologi, dan sistem bunyi yang sedang diuji secara langsung di ruang pertunjukan.

Lontaran Pikiran

Reizki Habibullah memantik pertanyaan mengenai kesadaran dan otoritas komponis dalam karyanya. Pertanyaan itu menarik karena kedua komposer menunjukkan cara yang berbeda dalam memosisikan diri terhadap karya mereka sendiri. Budi membuka ruang negosiasi dengan pemain melalui proses workshop yang kolektif, sementara Kibi membangun dramaturgi yang lebih intensional.

Meski bergerak melalui pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa musik hari ini semakin dekat dengan pengalaman peristiwa. Tubuh pemain, material, ruang, dan respons audiens ikut membentuk cara bunyi bekerja. Komposisi tidak lagi terasa sebagai bentuk tertutup yang selesai sebelum dipertunjukkan, tetapi terus berubah ketika dimainkan dan didengar.

Sesi Diskusi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Catatan penting malam itu datang dari Halim HD. Ia menegaskan bahwa ruang seperti BMB penting untuk menampung “lontaran pikiran, betapapun ngawurnya.” Pernyataan itu terasa seperti penanda tentang posisi BMB hari ini. Forum ini tampaknya memang tidak sedang mencari kesempurnaan bentuk. Yang dirawat justru kemungkinan: bunyi yang tak selesai, metode yang masih rapuh, dan gagasan yang terus dilempar ke hadapan tubuh-tubuh yang mendengarnya. [T]

Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole

Tags: musikSurakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kota Tua Tak Pernah Mati

Next Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Wahyu Thoyyib Pambayun

Wahyu Thoyyib Pambayun

Komponis dan Pengajar Gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Related Posts

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails
Next Post
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co