11 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
in Ulas Musik
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ilustrasi gambar dibuat dengan AI

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah gejala sosial, sebuah letupan emosi kolektif yang menemukan medium ekspresinya dalam bentuk lirik sederhana, repetitif, namun sarat makna. Dalam konteks ini, lagu tersebut menjelma menjadi “ruang bicara alternatif” ketika saluran formal dianggap tak lagi cukup menampung kegelisahan publik.

Secara hermeneutik, lirik lagu ini bekerja dalam dua lapisan. Pada lapisan pertama, ia tampak sebagai doa: permohonan kepada Tuhan agar para pelaku narkoba; baik pengguna, bandar, maupun “beking”, mendapat azab bahkan kematian. Namun pada lapisan kedua, yang lebih dalam, ia adalah ekspresi kemarahan sosial yang telah melampaui batas rasionalitas biasa. Ini bukan sekadar doa, melainkan jeritan. Bukan sekadar harapan, melainkan keputusasaan yang dibungkus dalam bahasa religius.

Di sinilah menarik untuk membaca fenomena ini melalui kacamata Jürgen Habermas. Dalam konsep ruang publik, Habermas membayangkan adanya diskusi rasional yang bebas dari dominasi, di mana warga negara dapat berargumentasi secara setara. Namun, realitas ruang digital hari ini justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda: ruang publik yang emosional, fragmentatif, dan sering kali meledak-ledak. Lagu ini viral bukan karena argumentasinya, tetapi karena resonansi emosinya. Ia tidak mengajak diskusi, ia memantik solidaritas kemarahan.

Artinya, ada kegagalan dalam ruang publik formal untuk mengartikulasikan persoalan narkoba secara memadai. Ketika hukum dianggap tumpul, aparat dicurigai, dan jaringan narkoba terasa tak tersentuh, maka masyarakat beralih pada ekspresi simbolik, termasuk doa yang “keras” seperti dalam lirik tersebut. Dalam bahasa Habermas, rasionalitas komunikatif tergeser oleh rasionalitas ekspresif.

Namun, apakah kemarahan ini sah? Ataukah ia justru berbahaya?

Di sinilah kita perlu memanggil Michel Foucault. Dia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui wacana. Lagu ini adalah wacana, dan sebagai wacana, ia membentuk cara kita memandang “yang jahat”. Dalam lirik tersebut, pelaku narkoba direduksi menjadi entitas yang layak dimusnahkan. Tidak ada ruang untuk kompleksitas: tidak ada pembahasan tentang kemiskinan, trauma, atau struktur ekonomi yang melahirkan pengguna dan pengedar. Semua dilebur dalam satu kategori moral: musuh masyarakat.

Di titik ini, kita harus berhati-hati. Kemarahan publik memang memiliki dasar yang nyata, peredaran narkoba di Sumatera Utara dan wilayah lain memang menjadi ancaman serius. Namun ketika kemarahan itu berubah menjadi legitimasi untuk “menghapus” manusia lain, bahkan dalam bentuk doa, kita sedang memasuki wilayah etis yang problematik. Foucault akan menyebut ini sebagai bentuk “biopolitik negatif”: keinginan untuk menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang layak mati.

                                                               ***

Berbeda dengan pendekatan Foucault yang kritis terhadap kekuasaan, tradisi sufisme menawarkan pembacaan yang lebih batiniah. Dalam perspektif sufi, kemarahan adalah api, ia bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa membakar diri sendiri. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa “luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Artinya, kegelisahan sosial yang kita lihat dalam lagu ini sebenarnya adalah pintu menuju kesadaran yang lebih dalam, jika diolah dengan benar.

Sufi tidak menolak keadilan. Mereka juga tidak membenarkan kejahatan. Namun mereka mengingatkan bahwa kebencian yang tak terkendali justru menjauhkan manusia dari sumber keadilan itu sendiri. Dalam konteks lagu ini, doa yang meminta kematian bagi pelaku narkoba bisa dibaca sebagai bentuk “amarah yang belum selesai”, amarah yang belum menemukan jalan transformasi menjadi kebijaksanaan.

Lebih jauh, Al-Ghazali dalam karya-karyanya menjelaskan bahwa marah (ghadhab) adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi harus dikendalikan oleh akal dan hati. Jika tidak, ia akan berubah menjadi kezaliman baru. Dalam kasus ini, masyarakat yang marah pada narkoba berpotensi terjebak dalam logika yang sama dengan yang mereka benci: logika penghancuran.

Namun kita juga tidak bisa begitu saja menghakimi masyarakat yang marah. Kemarahan itu lahir dari pengalaman nyata: rusaknya generasi muda, hancurnya keluarga, dan ketidakberdayaan menghadapi jaringan narkoba yang masif. Lagu ini menjadi semacam katarsis kolektif, pelepasan emosi yang selama ini terpendam.

Di titik ini, kita bisa melihat bahwa lagu “Siti Mawarni Ya Incek” adalah cermin. Ia memantulkan wajah masyarakat yang sedang lelah, marah, dan mencari keadilan. Ia juga menunjukkan bagaimana agama digunakan sebagai bahasa untuk mengekspresikan rasa frustrasi, Tuhan dipanggil bukan hanya sebagai sumber kasih, tetapi juga sebagai hakim yang diharapkan bertindak tegas.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: ke mana arah dari kemarahan ini?

Jika mengikuti Habermas, kemarahan ini perlu ditransformasikan menjadi diskursus yang rasional, menjadi tuntutan kebijakan, reformasi hukum, dan pengawasan institusi. Jika mengikuti Foucault, kita perlu waspada terhadap bagaimana wacana ini bisa melanggengkan kekerasan baru. Dan jika mengikuti para sufi, kita diajak untuk mengolah kemarahan menjadi kesadaran, bahwa kejahatan harus dilawan, tetapi tanpa kehilangan kemanusiaan.

Dengan demikian, tafsir atas lagu ini tidak berhenti pada pro atau kontra terhadap liriknya. Ia harus melampaui itu: menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat merespons krisis, bagaimana emosi kolektif bekerja, dan bagaimana kita menjaga agar kemarahan tidak berubah menjadi kebutaan moral.

Pada akhirnya, lagu ini bukan hanya tentang narkoba. Ia adalah tentang kita, tentang batas antara keadilan dan balas dendam, antara doa dan kutukan, antara kemanusiaan dan kemarahan. Dan di sanalah, barangkali, letak makna terdalamnya. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

Next Post

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Menimbang Ulang 'May Day' Bagi Pekerja Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan
Esai

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

by Chandra Manikan
June 10, 2026
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan
Panggung

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan
Esai

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co