21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
in Ulas Musik
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ilustrasi gambar dibuat dengan AI

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah gejala sosial, sebuah letupan emosi kolektif yang menemukan medium ekspresinya dalam bentuk lirik sederhana, repetitif, namun sarat makna. Dalam konteks ini, lagu tersebut menjelma menjadi “ruang bicara alternatif” ketika saluran formal dianggap tak lagi cukup menampung kegelisahan publik.

Secara hermeneutik, lirik lagu ini bekerja dalam dua lapisan. Pada lapisan pertama, ia tampak sebagai doa: permohonan kepada Tuhan agar para pelaku narkoba; baik pengguna, bandar, maupun “beking”, mendapat azab bahkan kematian. Namun pada lapisan kedua, yang lebih dalam, ia adalah ekspresi kemarahan sosial yang telah melampaui batas rasionalitas biasa. Ini bukan sekadar doa, melainkan jeritan. Bukan sekadar harapan, melainkan keputusasaan yang dibungkus dalam bahasa religius.

Di sinilah menarik untuk membaca fenomena ini melalui kacamata Jürgen Habermas. Dalam konsep ruang publik, Habermas membayangkan adanya diskusi rasional yang bebas dari dominasi, di mana warga negara dapat berargumentasi secara setara. Namun, realitas ruang digital hari ini justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda: ruang publik yang emosional, fragmentatif, dan sering kali meledak-ledak. Lagu ini viral bukan karena argumentasinya, tetapi karena resonansi emosinya. Ia tidak mengajak diskusi, ia memantik solidaritas kemarahan.

Artinya, ada kegagalan dalam ruang publik formal untuk mengartikulasikan persoalan narkoba secara memadai. Ketika hukum dianggap tumpul, aparat dicurigai, dan jaringan narkoba terasa tak tersentuh, maka masyarakat beralih pada ekspresi simbolik, termasuk doa yang “keras” seperti dalam lirik tersebut. Dalam bahasa Habermas, rasionalitas komunikatif tergeser oleh rasionalitas ekspresif.

Namun, apakah kemarahan ini sah? Ataukah ia justru berbahaya?

Di sinilah kita perlu memanggil Michel Foucault. Dia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui wacana. Lagu ini adalah wacana, dan sebagai wacana, ia membentuk cara kita memandang “yang jahat”. Dalam lirik tersebut, pelaku narkoba direduksi menjadi entitas yang layak dimusnahkan. Tidak ada ruang untuk kompleksitas: tidak ada pembahasan tentang kemiskinan, trauma, atau struktur ekonomi yang melahirkan pengguna dan pengedar. Semua dilebur dalam satu kategori moral: musuh masyarakat.

Di titik ini, kita harus berhati-hati. Kemarahan publik memang memiliki dasar yang nyata, peredaran narkoba di Sumatera Utara dan wilayah lain memang menjadi ancaman serius. Namun ketika kemarahan itu berubah menjadi legitimasi untuk “menghapus” manusia lain, bahkan dalam bentuk doa, kita sedang memasuki wilayah etis yang problematik. Foucault akan menyebut ini sebagai bentuk “biopolitik negatif”: keinginan untuk menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang layak mati.

                                                               ***

Berbeda dengan pendekatan Foucault yang kritis terhadap kekuasaan, tradisi sufisme menawarkan pembacaan yang lebih batiniah. Dalam perspektif sufi, kemarahan adalah api, ia bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa membakar diri sendiri. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa “luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Artinya, kegelisahan sosial yang kita lihat dalam lagu ini sebenarnya adalah pintu menuju kesadaran yang lebih dalam, jika diolah dengan benar.

Sufi tidak menolak keadilan. Mereka juga tidak membenarkan kejahatan. Namun mereka mengingatkan bahwa kebencian yang tak terkendali justru menjauhkan manusia dari sumber keadilan itu sendiri. Dalam konteks lagu ini, doa yang meminta kematian bagi pelaku narkoba bisa dibaca sebagai bentuk “amarah yang belum selesai”, amarah yang belum menemukan jalan transformasi menjadi kebijaksanaan.

Lebih jauh, Al-Ghazali dalam karya-karyanya menjelaskan bahwa marah (ghadhab) adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi harus dikendalikan oleh akal dan hati. Jika tidak, ia akan berubah menjadi kezaliman baru. Dalam kasus ini, masyarakat yang marah pada narkoba berpotensi terjebak dalam logika yang sama dengan yang mereka benci: logika penghancuran.

Namun kita juga tidak bisa begitu saja menghakimi masyarakat yang marah. Kemarahan itu lahir dari pengalaman nyata: rusaknya generasi muda, hancurnya keluarga, dan ketidakberdayaan menghadapi jaringan narkoba yang masif. Lagu ini menjadi semacam katarsis kolektif, pelepasan emosi yang selama ini terpendam.

Di titik ini, kita bisa melihat bahwa lagu “Siti Mawarni Ya Incek” adalah cermin. Ia memantulkan wajah masyarakat yang sedang lelah, marah, dan mencari keadilan. Ia juga menunjukkan bagaimana agama digunakan sebagai bahasa untuk mengekspresikan rasa frustrasi, Tuhan dipanggil bukan hanya sebagai sumber kasih, tetapi juga sebagai hakim yang diharapkan bertindak tegas.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: ke mana arah dari kemarahan ini?

Jika mengikuti Habermas, kemarahan ini perlu ditransformasikan menjadi diskursus yang rasional, menjadi tuntutan kebijakan, reformasi hukum, dan pengawasan institusi. Jika mengikuti Foucault, kita perlu waspada terhadap bagaimana wacana ini bisa melanggengkan kekerasan baru. Dan jika mengikuti para sufi, kita diajak untuk mengolah kemarahan menjadi kesadaran, bahwa kejahatan harus dilawan, tetapi tanpa kehilangan kemanusiaan.

Dengan demikian, tafsir atas lagu ini tidak berhenti pada pro atau kontra terhadap liriknya. Ia harus melampaui itu: menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat merespons krisis, bagaimana emosi kolektif bekerja, dan bagaimana kita menjaga agar kemarahan tidak berubah menjadi kebutaan moral.

Pada akhirnya, lagu ini bukan hanya tentang narkoba. Ia adalah tentang kita, tentang batas antara keadilan dan balas dendam, antara doa dan kutukan, antara kemanusiaan dan kemarahan. Dan di sanalah, barangkali, letak makna terdalamnya. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

Next Post

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Menimbang Ulang 'May Day' Bagi Pekerja Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co